Ada beberapa kata dalam Alkitab yang begitu kaya sehingga sulit diterjemahkan hanya dengan satu kata. Salah satunya adalah kata Ibrani שָׁלוֹם — shalom.
Kita biasanya menerjemahkan shalom sebagai “damai” atau “damai sejahtera.” Karena itu, ketika mendengar kata shalom, kita cenderung membayangkan hati yang tenang, tidak adanya konflik, atau keadaan ketika semuanya baik-baik saja. Pengertian itu tidak salah, tetapi hanya menangkap sebagian dari kekayaan kata ini.
Dalam Perjanjian Lama, shalom digunakan dalam pengertian yang lebih luas: peace, well-being, welfare, safety, soundness, dan completeness. Jadi shalom tidak hanya berbicara tentang perasaan damai, tetapi tentang keadaan yang baik dan utuh. Bukan sekadar feeling well, tetapi being well.
Shalom is more than feeling at peace.
Shalom is the wholeness and well-being of life.
1. Shalom Is More Than the Absence of Conflict
Salah satu cara terbaik memahami shalom adalah melihat bagaimana kata ini digunakan dalam percakapan sehari-hari di dalam Alkitab.
Ketika Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya di Mesir, ia bertanya mengenai ayah mereka.
“Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: ‘Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?’”
Kejadian 43:27
Kata yang diterjemahkan sebagai “selamat” adalah shalom. Yusuf tentu bukan sedang bertanya, “Apakah ayah kalian sedang merasa damai?” Ia sedang menanyakan keadaan ayahnya secara menyeluruh: Apakah ia baik-baik saja? Apakah keadaannya baik?
Penggunaan serupa muncul ketika Isai mengutus Daud untuk melihat kakak-kakaknya yang sedang berada di medan perang.
“Tanyakanlah apakah kakak-kakakmu selamat…”
1 Samuel 17:18
Sekali lagi, kata yang digunakan adalah shalom. Isai ingin mengetahui keadaan dan kesejahteraan anak-anaknya secara menyeluruh. Apakah mereka aman? Apakah mereka sehat? Apakah keadaan mereka baik?
Dari penggunaan sederhana ini kita mulai memahami bahwa shalom bukan hanya berbicara tentang perasaan damai di dalam hati. Shalom juga menggambarkan keadaan kehidupan secara menyeluruh.
Kedalaman makna ini juga terlihat dari keluarga kata Ibrani yang berhubungan dengan shalom. Kata ini berasal dari akar שׁ־ל־ם (sh-l-m), yang dalam berbagai bentuknya berkaitan dengan gagasan completeness, keutuhan, atau membuat sesuatu menjadi lengkap. Karena itu, shalom dapat membawa nuansa soundness dan wholeness.
Shalom bukan hanya tidak adanya sesuatu yang buruk. Ia juga berbicara tentang hadirnya sesuatu yang baik. Bukan hanya tidak ada konflik, tetapi relationship yang sehat. Bukan hanya tidak kekurangan, tetapi ada well-being. Bukan hanya tidak anxious, tetapi ada ketenangan dan keteraturan di dalam kehidupan.
Shalom is not merely feeling well.
Shalom is being well.
Bayangkan sebuah marriage yang tidak pernah mengalami pertengkaran besar, tetapi suami dan istri sudah lama tidak berbicara dari hati ke hati. Mereka tinggal dalam rumah yang sama dan menjalankan tanggung jawab masing-masing, tetapi intimacy perlahan menghilang. Ada quietness, tetapi belum tentu ada shalom.
Atau seseorang yang career-nya berkembang dengan baik. Penghasilannya meningkat dan secara profesional ia dianggap berhasil. Tetapi pekerjaannya mengambil hampir seluruh waktunya. Ia tidak memiliki ruang untuk family, rest, atau relationship dengan Tuhan. Ada success, tetapi belum tentu ada shalom.
Shalom is not merely a life without trouble.
It is life as it should be.
2. Shalom Is More Than Feeling Fine
Tetapi kemudian muncul pertanyaan penting: Can we feel well when things are actually not well?
Alkitab menjawab: bisa.
Pada zaman Yeremia, bangsa Yehuda masih menjalankan kehidupan sehari-hari dan aktivitas keagamaan. Tetapi di balik semuanya itu terdapat idolatry, injustice, greed, deception, dan ketidaksetiaan kepada Tuhan. Para pemimpin mereka seharusnya menghadapi keadaan tersebut dengan serius. Sebaliknya, mereka memberikan reassurance.
“Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: ‘Damai sejahtera! Damai sejahtera!’, tetapi tidak ada damai sejahtera.”
Yeremia 6:14
Dalam bahasa Ibrani: Shalom, shalom — we’en shalom. “Shalom, shalom—but there is no shalom.”
Mereka berkata semuanya baik-baik saja ketika sebenarnya tidak.
Ada luka yang membutuhkan pengobatan tetapi hanya ditutupi. Ada kehidupan yang membutuhkan repentance tetapi hanya diberikan reassurance. Mereka menginginkan perasaan bahwa semuanya well tanpa menghadapi kenyataan bahwa sesuatu sebenarnya perlu diperbaiki.
Inilah false shalom.
Yeremia menunjukkan sesuatu yang sangat penting: shalom bukan sekadar subjective feeling. Kita tidak dapat menentukan bahwa semuanya well hanya karena kita merasa nyaman atau karena tidak ada crisis.
A life that looks fine is not necessarily a life that is whole.
Kita juga dapat mengatakan “shalom, shalom” terhadap area kehidupan yang sebenarnya tidak well. Marriage tidak bertengkar, kita mengatakan baik-baik saja. Masih dapat membayar semua tagihan, kita mengatakan finances baik-baik saja. Career masih berkembang, kita mengatakan kehidupan baik-baik saja. Masih datang ke gereja dan melayani, kita mengatakan relationship dengan Tuhan baik-baik saja.
Padahal tidak adanya crisis belum tentu berarti semuanya berada sebagaimana seharusnya.
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan justru terjadi ketika kita telah hidup begitu lama dengan sesuatu yang tidak sehat sehingga akhirnya kita menganggapnya normal. Marriage kehilangan intimacy menjadi normal. Hidup terus-menerus exhausted menjadi normal. Tidak memiliki meaningful time dengan anak-anak menjadi normal. Membuat keputusan tanpa sungguh-sungguh mencari Tuhan menjadi normal. Mengejar lebih banyak tanpa pernah merasa cukup menjadi normal.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba runtuh. Tetapi perlahan-lahan kita belajar hidup dengan sesuatu yang sebenarnya perlu dipulihkan.
What we tolerate long enough, we eventually call normal.
Karena itu:
The absence of crisis is not the presence of shalom. Shalom is life as it should be.
3. Shalom Is When Things Are in the Right Place
Kalau perasaan kita bukan ukuran terakhir dari shalom, pertanyaannya adalah: siapa yang menentukan seperti apa kehidupan yang baik dan utuh itu?
Jawabannya adalah Tuhan, Sang Pencipta kehidupan.
Kejadian 1 menggambarkan dunia ketika segala sesuatu masih berada sebagaimana Tuhan maksudkan. Manusia dekat dengan Tuhan, relationship satu sama lain baik, pekerjaan memiliki tujuan, dan ciptaan berada dalam keteraturan. Setelah menciptakan semuanya, Tuhan melihat bahwa semuanya “sungguh amat baik.”
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
Kejadian 1:31
Tov me’od — very good.
Di sinilah Tov dan Shalom saling berhubungan.
Tov describes the goodness of God’s design.
Shalom describes the wholeness of life within God’s design.
Kemudian dosa masuk dan segala sesuatu mulai keluar dari tempatnya. Manusia menjauh dari Tuhan. Adam dan Hawa mulai saling menyalahkan. Pekerjaan menjadi penuh pergumulan. Ketakutan, rasa malu, konflik, dan kematian masuk ke dalam kehidupan manusia. Apa yang Tuhan ciptakan baik mulai mengalami kerusakan.
Karena itu, shalom bukan hanya berarti tidak ada masalah. Shalom berbicara tentang kehidupan yang kembali berada sebagaimana Tuhan maksudkan.
Gambaran ini menjadi semakin jelas ketika Yesaya berbicara tentang Mesias yang akan datang:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”
Yesaya 9:5
Yesus disebut Sar Shalom—Prince of Shalom, Raja Damai.
Menariknya, Dia bukan hanya datang membawa damai. Dia datang sebagai Raja. Artinya, shalom bertumbuh ketika kita memberi Tuhan tempat-Nya yang benar dalam kehidupan kita dan membiarkan-Nya menata kembali apa yang sudah tidak pada tempatnya.
Dan sering kali yang merusak shalom kita bukan sesuatu yang buruk. Sesuatu yang baik pun dapat berada di tempat yang salah.
Pekerjaan itu baik, tetapi menjadi masalah ketika pekerjaan menjadi seluruh hidup kita. Uang itu berguna, tetapi menjadi masalah ketika uang menguasai keputusan kita. Keluarga adalah pemberian Tuhan, tetapi keluarga tidak dapat mengambil tempat Tuhan. Achievement dapat dinikmati, tetapi tidak seharusnya menentukan nilai diri kita. Bahkan ministry adalah sesuatu yang baik, tetapi tidak boleh menggantikan relationship kita dengan Tuhan.
Even good things can disrupt shalom when they take the wrong place in our lives.
Karena itu, kadang-kadang yang kita perlukan bukan lebih banyak, tetapi menata kembali apa yang sudah ada. Tuhan kembali menjadi pusat. Pekerjaan kembali menjadi bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan. Uang kembali menjadi alat, bukan tuan. Relationship kembali mendapat perhatian. Rest kembali memiliki tempat.
Mungkin selama ini kita berdoa meminta Tuhan memberikan peace. Tetapi Tuhan justru ingin menunjukkan apa yang perlu ditata kembali.
Don’t just ask God for peace.
Ask Him what needs to be put back in order.
4. Jesus Himself Is Our Shalom
Tetapi ada masalah yang lebih dalam. Kita tidak selalu mampu memperbaiki sendiri apa yang sudah rusak.
Ada relationship yang sudah terluka. Ada kesalahan yang tidak dapat kita tarik kembali. Ada bagian dalam diri kita yang tidak berubah hanya dengan membuat resolusi baru. Dan yang paling mendasar, dosa telah merusak relationship manusia dengan Tuhan.
Itulah sebabnya kita membutuhkan lebih dari sekadar nasihat tentang bagaimana menjalani kehidupan yang lebih baik. Kita membutuhkan Yesus.
Paulus menulis:
“Karena Dialah damai sejahtera kita…”
Efesus 2:14
Perhatikan bahwa Paulus tidak hanya berkata, “Yesus memberikan damai.” Ia berkata:
“Dialah damai sejahtera kita.”
He Himself is our peace.
Melalui salib, Yesus datang untuk mendamaikan. Dia membawa manusia yang jauh kembali kepada Tuhan, meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia satu dengan yang lain, dan memulai pekerjaan pemulihan dalam kehidupan kita.
Inilah yang membuat shalom berbeda dari sekadar self-improvement. Shalom bukan tentang kita mencoba menjadi orang yang lebih baik sampai akhirnya hidup kita sempurna. Shalom dimulai dari apa yang Kristus kerjakan bagi kita, lalu pekerjaan-Nya mulai mengubah apa yang ada di dalam dan di sekitar kita.
Ketika relationship kita dengan Tuhan dipulihkan, Tuhan mulai menata bagian-bagian kehidupan yang lain. Dia mengubah hati kita, cara kita memperlakukan orang lain, priorities kita, cara kita melihat pekerjaan, uang, keberhasilan, keluarga, bahkan diri kita sendiri.
Pemulihan itu tidak selalu terjadi sekaligus. Ada bagian kehidupan yang membutuhkan proses. Ada luka yang membutuhkan waktu. Ada relationship yang perlu dibangun kembali. Ada pola pikir dan kebiasaan yang perlahan-lahan Tuhan ubah.
Tetapi arahnya jelas:
God is bringing what is broken toward shalom.
Dan suatu hari pekerjaan itu akan menjadi sempurna. Alkitab berakhir dengan sebuah gambaran yang sangat indah:
“Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!”
Wahyu 21:5
Air mata dihapuskan. Kematian tidak ada lagi. Yang rusak diperbarui. Tuhan tinggal bersama umat-Nya.
Itulah tujuan akhir shalom.
Kita belum hidup dalam dunia yang sempurna. Tetapi melalui Kristus, Tuhan sudah mulai membawa kehidupan kita menuju keutuhan yang Dia kehendaki.
Jesus doesn’t just give us peace.
He brings our broken lives toward wholeness.
Living in Shalom
Pada akhirnya, shalom bukan hanya sebuah kata yang indah untuk kita pahami. Shalom adalah invitation untuk melihat kembali bagaimana kita sedang menjalani kehidupan.
Mungkin tidak ada krisis besar dalam hidup kita. Semuanya terlihat baik-baik saja. Tetapi pertanyaannya bukan hanya, “Apakah ada yang salah?” Pertanyaannya adalah, “Apakah hidup saya sedang hidup sebagaimana Tuhan maksudkan?”
Ada hal-hal yang mungkin perlu dikembalikan ke tempatnya. Tuhan yang perlahan bergeser dari pusat. Relationship yang terlalu lama kita abaikan. Pekerjaan yang mengambil terlalu banyak ruang. Ambition yang mulai menguasai kita. Rest yang terus dikorbankan. Luka yang belum dibereskan. Atau kehidupan yang begitu penuh, tetapi tidak lagi terasa utuh.
Jangan menunggu sampai sesuatu menjadi krisis sebelum kita menatanya kembali.
Don’t wait for things to fall apart before putting them back in place.
Berikan Tuhan ruang untuk menunjukkan apa yang tidak lagi berada pada tempatnya. Miliki keberanian untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, melepaskan apa yang perlu dilepaskan, memulihkan apa yang masih dapat dipulihkan, dan membawa kembali setiap bagian kehidupan kita kepada-Nya.
Hidup dalam shalom bukan berarti kita akan memiliki kehidupan tanpa masalah. Kita masih akan menghadapi tekanan, kehilangan, ketidakpastian, dan musim-musim yang sulit. Tetapi di tengah semuanya itu, kita dapat terus membawa kehidupan kita kembali kepada Tuhan dan membiarkan-Nya menata, membentuk, dan memulihkan kita.
Don’t just ask God for peace. Ask Him what needs to be put back in order.
Shalom is more than a life that feels good. Shalom is life as it should be.