YOU ARE NOT ALONE

Ps Kenny Goh

Kita hidup pada zaman ketika manusia memiliki lebih banyak cara untuk terhubung daripada sebelumnya. Kita memiliki smartphone, social media, group chats, communities, dan berbagai teknologi yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan siapa pun hampir setiap saat. Namun ironisnya, di tengah dunia yang semakin connected, semakin banyak orang justru merasa kesepian.

WHO Commission on Social Connection melaporkan bahwa sekitar 1 dari 6 orang di dunia mengalami loneliness. Kesepian bukan hanya persoalan emosional. Dampaknya dapat menyentuh kesehatan fisik, mental, bahkan kesejahteraan manusia secara keseluruhan. WHO memperkirakan loneliness berkaitan dengan sekitar 871.000 kematian setiap tahun—sekitar 100 kematian setiap jam. Kesepian telah menjadi sebuah krisis global.

Menariknya, hal ini juga terjadi di tengah budaya seperti Indonesia yang dikenal ramah dan komunal. Kita dapat mempunyai banyak teman, banyak relasi, berada dalam banyak komunitas, tetapi tetap merasa kesepian. Karena ternyata memiliki banyak koneksi tidak selalu berarti memiliki kedekatan.

Connection is not the same as intimacy.

Kita dapat connected dengan banyak orang tanpa memiliki seseorang yang benar-benar mengenal kita. Intimacy bukan sekadar berada dekat atau sering bertemu dengan seseorang. Intimacy terjadi ketika seseorang melihat kita sebagaimana diri kita sebenarnya, mengenal kita, dan tetap menerima kita.

Intimacy is being seen and known for who you truly are.

Manusia memang diciptakan untuk diterima, dihargai, dihormati, dan dikasihi. Dan bukan hanya sebagai penerima; kita juga diciptakan untuk memberikan penerimaan, penghargaan, penghormatan, dan kasih kepada orang lain. Kebutuhan akan relasi bukan sebuah kelemahan manusia. Sejak awal, manusia memang dirancang untuk hidup dalam relasi.

Created for Intimacy

Sejak awal penciptaan, Tuhan tidak merancang manusia untuk hidup sendirian. Setelah menciptakan Adam, Tuhan mengatakan bahwa ada sesuatu yang “tidak baik” di tengah seluruh ciptaan yang sebelumnya berulang kali disebut-Nya baik: manusia seorang diri.

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”
— Kejadian 2:18 TB

Tuhan kemudian memberikan Hawa kepada Adam. Alkitab menggambarkan Adam dan Hawa telanjang tetapi tidak merasa malu. Ini bukan hanya berbicara mengenai keadaan fisik, tetapi juga memberikan gambaran tentang keterbukaan. Tidak ada yang perlu disembunyikan, tidak ada kepura-puraan, dan tidak ada ketakutan untuk diketahui. Mereka dapat saling melihat dan mengenal tanpa rasa malu.

They were fully known and fully accepted.

Tetapi ketika dosa masuk, semuanya berubah. Adam dan Hawa mulai merasa malu. Mereka menutupi tubuh mereka, dan ketika Tuhan datang, mereka bersembunyi. Ketika Tuhan bertanya, mereka mulai saling menyalahkan. Dosa bukan hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga merusak intimacy antara manusia dengan sesamanya.

Sejak saat itu manusia mempunyai kecenderungan yang sama. Kita menutupi kesalahan kita, menyembunyikan kelemahan kita, menyembunyikan dosa kita, dan menyembunyikan bagian-bagian kehidupan yang kita takut diketahui orang lain.

We hide what we fear will make us rejected.

Adam dan Hawa mencoba menutupi rasa malu mereka dengan daun ara. Tetapi kemudian Tuhan sendiri membuat pakaian dari kulit binatang untuk mereka. Ada sebuah gambaran penting di sana: manusia mencoba menutupi dirinya sendiri, tetapi pada akhirnya Tuhanlah yang menyediakan covering. Gambaran ini membawa kita kepada karya Kristus—Allah sendiri yang menyediakan jalan bagi dosa manusia untuk diampuni dan relasi manusia dengan-Nya dipulihkan.

Alone in the Crowd

Dalam Markus 5, kita menemukan sebuah kisah yang memperlihatkan hati Tuhan terhadap seseorang yang hidup dalam kesendirian. Yesus baru saja menyeberangi Danau Galilea ketika seorang pemimpin rumah ibadat bernama Yairus datang kepada-Nya. Anak perempuannya sedang sakit parah dan hampir mati. Yairus tersungkur di kaki Yesus dan memohon supaya Dia datang ke rumahnya.

Yesus pun pergi bersama Yairus. Situasinya sangat urgent. Seorang ayah sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan anaknya. Banyak orang mengikuti Yesus sampai mereka berdesak-desakan di sekitar-Nya. Tetapi di tengah crowd itu ada seorang perempuan. Namanya bahkan tidak disebutkan. Yang kita ketahui hanyalah bahwa ia sudah dua belas tahun mengalami pendarahan.

Menurut Imamat 15:25–30, kondisi pendarahan berkepanjangan membuat seorang perempuan berada dalam keadaan najis secara ritual. Kondisi tersebut mempunyai konsekuensi bukan hanya terhadap tubuhnya, tetapi juga terhadap kehidupan sosial dan keagamaannya. Bayangkan menjalani keadaan seperti itu selama dua belas tahun. Bukan dua belas hari. Bukan dua belas bulan. Dua belas tahun.

Selama dua belas tahun penyakit itu menjadi bagian dari kehidupannya. Selama dua belas tahun ia hidup dengan stigma, rasa malu, dan berbagai keterbatasan yang ditimbulkan oleh kondisinya. Ia dapat berada di tengah banyak orang, tetapi tetap merasa sangat sendirian.

You can be surrounded by people and still feel completely alone.

Penderitaan perempuan itu bahkan lebih dalam. Markus mengatakan bahwa ia sudah berulang kali berobat kepada berbagai tabib dan menghabiskan semua yang dimilikinya, tetapi bukannya membaik, keadaannya justru semakin buruk.

“Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.”
— Markus 5:26 TB

Secara fisik ia sakit. Secara finansial ia kehilangan semuanya. Secara sosial ia hidup dengan stigma. Secara emosional, sangat mungkin ia sudah berada pada titik ketika hampir tidak ada lagi yang dapat diharapkan. Tetapi kemudian ia mendengar tentang Yesus.

Saat itu belum ada buku mengenai Yesus. Tidak ada YouTube, podcast, atau rekaman khotbah. Ia hanya mendengar bahwa ada seseorang bernama Yesus yang menyembuhkan orang sakit. Tetapi apa yang didengarnya cukup untuk menumbuhkan sebuah pengharapan.

One Touch

Perempuan itu kemudian masuk ke tengah kerumunan dan mengikuti Yesus dari belakang. Ia percaya bahwa kalau saja ia dapat menyentuh jubah Yesus, ia akan sembuh.

“Dia sudah mendengar tentang Yesus. Jadi dia mengikuti-Nya dari belakang di tengah orang banyak dan menyentuh jubah Yesus, karena pikirnya, ‘Kalau aku menyentuh ujung jubah-Nya saja, aku pasti sembuh.’”
— Markus 5:27–28 TSI

Setelah dua belas tahun mencoba berbagai jalan, perempuan itu mengambil sebuah keputusan: ia harus sampai kepada Yesus.

I have to get to Jesus.

Ia menerobos crowd, mendekati Yesus dari belakang, kemudian menyentuh jubah-Nya. Seketika itu juga pendarahannya berhenti. Tubuhnya mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi. Ia sudah sembuh.

Seharusnya kisahnya dapat selesai di sana. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia dapat diam-diam meninggalkan crowd tanpa seorang pun mengetahui siapa dirinya. Tetapi Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Jesus stopped.

Jesus Saw a Person

Yesus mengetahui ada kuasa yang keluar dari diri-Nya. Dia berhenti, berbalik, lalu bertanya siapa yang telah menyentuh jubah-Nya. Para murid kebingungan karena begitu banyak orang berdesak-desakan di sekitar Yesus. Semua orang mungkin menyentuh-Nya.

“Siapa yang baru saja menyentuh jubah-Ku?”
— Markus 5:30 TSI

Tetapi Yesus mengetahui bahwa ada sebuah sentuhan yang berbeda. Ada seseorang di dalam crowd itu yang datang kepada-Nya dengan iman dan pengharapan. Yesus terus melihat sekeliling untuk mencari orang tersebut.

Bayangkan situasinya. Anak Yairus sedang hampir mati. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Setiap menit sangat berharga. Tetapi di tengah keadaan se-urgent itu, Yesus berhenti untuk mencari satu orang.

Crowd saw a problem. Jesus saw a person.

Bagi orang lain, perempuan itu mungkin hanya satu orang tanpa nama di tengah kerumunan. Tetapi bagi Yesus, kehidupannya cukup penting untuk membuat-Nya berhenti. Yesus bukan hanya mengetahui bahwa seseorang telah menyentuh-Nya. Dia ingin melihat siapa orang tersebut.

Ini menunjukkan sesuatu tentang hati Tuhan. Kita hidup dalam dunia yang sibuk. Semua serba scheduled. Kita mempunyai agenda, appointments, target, pekerjaan, pelayanan, dan banyak hal yang harus diselesaikan. Ketika sesuatu menginterupsi schedule kita, kita mudah merasa terganggu. Tetapi Yesus menunjukkan cara hidup yang berbeda. Kadang Tuhan menempatkan seseorang di tengah perjalanan kita dan meminta kita untuk berhenti—melihat, mendengarkan, dan hadir.

“Daughter”

Akhirnya perempuan itu maju. Markus mengatakan bahwa ia datang dengan takut dan gemetar, tersungkur di hadapan Yesus, lalu menceritakan seluruh kebenaran. Orang yang selama bertahun-tahun mungkin hidup dengan rasa malu sekarang berdiri di hadapan Yesus tanpa lagi bersembunyi.

Kemudian Yesus berkata:

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”
— Markus 5:34 TB

Perhatikan bagaimana Yesus memanggilnya: “Hai anak-Ku.” Daughter.

Selama bertahun-tahun kehidupan perempuan itu mungkin didefinisikan oleh satu label: najis. Orang melihat kondisinya. Orang melihat masalahnya. Orang melihat sesuatu yang membuat mereka harus menjaga jarak. Tetapi Yesus memberikan kepadanya identitas yang berbeda.

Jesus removed the label “unclean” and called her “Daughter.”

Ia bukan lagi sekadar “perempuan yang mengalami pendarahan.” Ia bukan masalah yang harus diselesaikan. Ia bukan seseorang yang harus dijauhi. Di hadapan seluruh crowd, Yesus menyebutnya, “My daughter.”

Perempuan itu datang mencari kesembuhan, tetapi Yesus memberikan sesuatu yang lebih dalam daripada kesembuhan fisik. Dia memulihkan identity, dignity, dan belonging. Ia datang sebagai seseorang yang merasa terbuang dan pulang sebagai daughter. Ia datang dengan shame dan pulang dengan dignity. Ia datang sendirian dan pulang mengetahui bahwa ia mempunyai tempat.

Jesus didn’t only heal her body. He restored her identity.

Tentu perempuan itu datang dengan harapan untuk sembuh. Tetapi Yesus melihat kebutuhan yang lebih dalam. Dia melihat hati perempuan yang selama bertahun-tahun hidup dalam kesepian dan penolakan. Yesus bukan hanya jawaban bagi tubuhnya yang sakit. Yesus adalah jawaban bagi hati yang kesepian.

From Far Away to Beloved Children

Apa yang Yesus lakukan kepada perempuan itu memberikan gambaran yang lebih besar tentang apa yang Allah lakukan kepada kita melalui Kristus. Dosa membuat manusia jauh dari Allah, tetapi melalui Kristus mereka yang jauh dibawa kembali menjadi dekat.

“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.”
— Efesus 2:13 TB

Kita yang dahulu jauh dibawa menjadi dekat. Kita yang berdosa menerima pengampunan. Kita yang terpisah diperdamaikan. Melalui karya Kristus, Allah bukan hanya menyelesaikan persoalan dosa kita, tetapi membawa kita masuk kembali ke dalam relasi dengan-Nya.

Paulus kemudian menggunakan bahasa yang sangat indah untuk menggambarkan identitas baru tersebut. Kita bukan sekadar orang yang dosanya sudah diampuni. Kita disebut anak-anak yang dikasihi.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”
— Efesus 5:1–2 TB

Inilah perspektif yang perlu berubah. Kita sering mendefinisikan diri berdasarkan kegagalan, masa lalu, dosa, kekurangan, penolakan, atau apa yang dikatakan orang tentang kita. Tetapi Injil memberikan identitas yang baru.

Change your perspective. You are God’s beloved children.

Identitas kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang pernah terjadi kepada kita, tetapi oleh apa yang Kristus telah lakukan bagi kita. Dan karena kita adalah anak-anak yang dikasihi, Paulus mengatakan, “Hiduplah di dalam kasih.” Orang yang sudah menerima kasih dipanggil untuk memberikan kasih. Orang yang sudah diterima dipanggil untuk menerima orang lain. Orang yang sudah dibawa dekat kepada Tuhan dipanggil untuk membawa orang lain mendekat kepada-Nya.

Become a Safe Place

Karena itu, Rumah Tuhan seharusnya menjadi sebuah tempat yang aman. Gereja bukan hanya tempat orang datang untuk menghadiri ibadah. Kita ingin membangun sebuah community di mana seseorang yang kesepian, sedang mempunyai masalah, terluka, atau malu dengan kehidupannya dapat merasa cukup aman untuk terbuka.

Kita ingin menciptakan sebuah lingkungan di mana seseorang tidak harus berpura-pura semuanya baik-baik saja. Orang yang jatuh tidak langsung diberi label berdasarkan kegagalannya. Orang yang terluka menemukan seseorang yang mau mendengarkan. Orang yang kesepian menemukan sebuah komunitas yang membuatnya menyadari bahwa ia tidak sendirian.

Karena terkadang sebelum seseorang membutuhkan jawaban, ia membutuhkan seseorang yang mau hadir. Sebelum membutuhkan nasihat, ia membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Sebelum masalahnya diselesaikan, mungkin hatinya perlu terlebih dahulu mengetahui bahwa ada seseorang yang peduli.

Help the person before solving the problem.

Kita perlu belajar membedakan antara pribadinya dan masalahnya. Keduanya membutuhkan respons yang berbeda.

The person needs Jesus. The problem needs a solution.

Sering kali dengan niat yang baik kita terlalu cepat ingin solve the problem. Ketika seseorang mempunyai masalah, pikiran kita langsung bekerja mencari jawaban. Padahal mungkin sebelum membutuhkan solusi, orang tersebut membutuhkan seseorang yang mau melihat dan mengenalnya sebagai pribadi.

Mengarahkannya kepada Yesus bukan hanya memberikan ayat atau nasihat rohani. Kita memperkenalkan kepada mereka seperti apa pribadi dan respons Yesus: hadir, mendengarkan, menerima, menemani, mengingatkan akan anugerah, dan mengarahkan pengharapan kembali kepada Firman-Nya.

Solusi terhadap sebuah masalah dapat ditemukan dari banyak tempat. Seseorang dengan masalah keuangan mungkin membutuhkan budgeting, restrukturisasi utang, perubahan gaya hidup, tambahan penghasilan, atau pertolongan profesional. Semua itu penting karena problem needs solution. Tetapi mungkin di balik masalah tersebut ada seseorang yang merasa nilai dirinya ditentukan oleh uang, keberhasilan, atau apa yang dimilikinya. Kita tidak hanya ingin membantunya keluar dari utang. Kita ingin membantunya mengenal bahwa nilai dirinya ditemukan di dalam Kristus.

Hal yang sama berlaku dalam pernikahan. Ada banyak buku, seminar, counseling, dan prinsip yang dapat membantu pasangan memperbaiki pernikahan. Semua itu penting. Tetapi di balik konflik terdapat dua pribadi yang juga membutuhkan kasih karunia. Ketika seseorang menyadari betapa besar dirinya sudah diampuni oleh Kristus, ia mempunyai dasar untuk belajar mengampuni pasangannya. Ketika seseorang mengalami penerimaan Tuhan, ia belajar menerima. Ketika seseorang mengalami kasih karunia, ia belajar memberikan kasih karunia.

The person needs Jesus. The problem needs solution. These are two different things.

Stop for Someone

Kita hidup di dunia yang sangat sibuk. Kita mempunyai schedule, pekerjaan, keluarga, pelayanan, target, dan banyak hal yang harus diselesaikan. Kita tidak suka diinterupsi. Tetapi mungkin salah satu cara paling nyata untuk meniru Yesus adalah belajar berhenti untuk seseorang.

Yesus sedang menuju rumah Yairus. Ada sesuatu yang sangat urgent menunggu-Nya. Tetapi Dia berhenti untuk satu perempuan yang selama bertahun-tahun mungkin merasa tidak terlihat. Dia melihat seseorang yang tidak dilihat orang lain.

Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan semua masalah seseorang, tetapi kita dapat hadir. Kita dapat mendengarkan. Kita dapat menghubungi seseorang yang sudah lama tidak terlihat. Kita dapat makan bersama mereka. Kita dapat duduk bersama seseorang yang sedang terluka. Kita dapat menciptakan ruang yang cukup aman sehingga seseorang berani menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidupnya.

Mungkin kita tidak mempunyai jawaban terhadap semua persoalan mereka. Tetapi melalui cara kita hadir, mereka dapat mulai melihat seperti apa kasih Yesus.

Sometimes the greatest gift we can give someone is not an answer, but our presence.

You Are Not Alone

Ada banyak orang di sekitar kita yang tampaknya baik-baik saja. Mereka tersenyum, bekerja, datang ke gereja, melayani, mempunyai keluarga, mempunyai banyak teman, bahkan mungkin terlihat sangat berhasil. Tetapi jauh di dalam hati, mereka mungkin sedang bertanya, “Does anybody really see me?”

Perempuan dalam Markus 5 berada di tengah crowd, tetapi Yesus melihatnya. Dia berhenti. Dia mendengarkan. Dia menerima. Dia memulihkan. Dan kemudian Dia memanggilnya, “Daughter.”

Itulah kabar baik Injil. Di dalam Kristus, kita tidak lagi harus bersembunyi. Kita yang dahulu jauh sudah dibawa dekat. Kita yang dahulu didefinisikan oleh dosa dan kegagalan sekarang disebut anak-anak yang dikasihi.

Dan setelah kita mengalami kasih seperti itu, Tuhan memanggil kita untuk membawa kasih tersebut kepada orang lain. Jangan hanya menjadi orang yang pandai memberikan solusi. Be someone who sees people. Jangan hanya bertanya apa masalah mereka. Kenali pribadinya. Jangan hanya memperbaiki keadaan mereka. Bantu mereka menemukan Yesus di tengah keadaan mereka.

Karena mungkin ada seseorang di sekitar kita yang tidak membutuhkan khotbah panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang berhenti, melihat, mendengarkan, menerima, dan hadir. Seseorang yang melalui kehidupannya membuat mereka dapat berkata:

“Saya tidak sendirian.”

Karena itu, jadilah orang seperti itu. Di rumah, di tempat kerja, di gereja, di komunitas, bahkan di tengah schedule kita yang padat, belajarlah melihat orang sebagaimana Yesus melihat mereka.

Jadilah orang yang membuat orang lain merasa, “Saya tidak sendirian.”

Dan ketika kita sendiri berada pada musim ketika tidak seorang pun sepertinya memahami apa yang sedang kita alami, ingatlah perempuan tanpa nama dalam Markus 5. Di tengah crowd, Yesus melihatnya. Di tengah kesepiannya, Yesus berhenti untuknya. Di tengah label yang diberikan kehidupan kepadanya, Yesus memanggilnya, “Daughter.”

You are seen. You are known. You are loved. You are not alone.

Tinggalkan komentar