God is not looking for a perfect life, but an undivided heart.
Kita hidup di zaman yang sangat mudah membuat kehidupan menjadi terfragmentasi. Kita memiliki kehidupan rohani, kehidupan keluarga, kehidupan profesional, kehidupan sosial, dan kehidupan pribadi. Tanpa sadar, kita dapat menjadi satu pribadi di gereja, pribadi yang berbeda di tempat kerja, dan pribadi yang lain lagi ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Kita juga mudah belajar hidup dalam banyak compartments. Ada bagian hidup yang kita serahkan kepada Tuhan, tetapi ada bagian lain yang tetap kita pegang sendiri. Ada nilai yang kita percaya pada hari Minggu, tetapi tidak selalu menentukan keputusan kita pada hari Senin. Ada sesuatu yang kita katakan penting, tetapi cara kita menggunakan waktu, uang, perhatian, dan energi kita menceritakan cerita yang berbeda.
Alkitab mempunyai sebuah kata yang sangat menarik untuk menggambarkan kehidupan yang berbeda dari itu: tamim.
What Does Tamim Mean?
Ketika membaca Kejadian 17, kita menemukan sebuah percakapan penting antara Tuhan dan Abraham. Pada saat itu Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun. Tuhan menampakkan diri kepadanya dan memperkenalkan diri sebagai El Shaddai—Allah Yang Mahakuasa—lalu memberikan sebuah perintah yang singkat tetapi sangat dalam.
Kejadian 17:1 “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.”
Dalam bahasa Ibrani, bagian terakhir ayat ini berbunyi:
Hit’halekh lefanai wehyeh tamim. “Walk before Me and be tamim.”
Kata tamim (תָּמִים) sering diterjemahkan sebagai blameless, atau dalam bahasa Indonesia, “tidak bercela.” Namun kata ini memiliki semantic range yang lebih luas. Tamim dapat membawa pengertian complete, whole, sound, intact, atau without defect. Karena itu, untuk memahami apa yang Tuhan katakan kepada Abraham, kita perlu melihat bagaimana kata ini digunakan dalam bagian-bagian lain Perjanjian Lama.
Salah satu penggunaannya terdapat dalam peraturan mengenai korban yang dipersembahkan kepada Tuhan.
Imamat 22:21 “…haruslah persembahan itu tidak bercela [tamim] supaya berkenan.”
Ketika digunakan untuk seekor binatang yang akan dipersembahkan, tamim tentu tidak berarti binatang itu memiliki moralitas yang sempurna. Tamim menggambarkan sesuatu yang utuh dan tidak bercacat—whole, sound, without defect. Penggunaan ini membantu kita melihat gambaran dasar yang terkandung dalam kata tersebut: sesuatu yang tidak rusak dalam keutuhannya.
Kata yang sama kemudian digunakan bukan hanya untuk korban, tetapi juga untuk manusia. Tentang Nuh, Alkitab mengatakan:
Kejadian 6:9 “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela [tamim] di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”
Menariknya, Alkitab tidak sedang mengatakan bahwa Nuh adalah manusia yang tidak pernah berdosa atau tidak pernah melakukan kesalahan. Kisah Nuh sendiri menunjukkan bahwa ia bukan manusia yang sempurna. Namun ia dapat disebut tamim. Ini memberi kita petunjuk penting bahwa ketika tamim digunakan untuk seseorang, kata tersebut tidak harus berarti sinless perfection.
Hal yang sama menjadi semakin jelas ketika kita kembali kepada Abraham. Tuhan memerintahkannya, “be tamim,”tetapi Abraham yang menerima perintah itu jelas bukan seseorang dengan perjalanan iman tanpa kegagalan. Ia pernah meninggalkan tanah yang Tuhan tunjukkan dan pergi ke Mesir ketika terjadi kelaparan. Ia pernah takut akan keselamatannya dan meminta Sara mengatakan bahwa ia adalah saudaranya. Ia juga telah mengambil Hagar dan mencoba mendapatkan keturunan melalui caranya sendiri ketika janji Tuhan belum juga digenapi.
Justru setelah semua perjalanan itulah Tuhan datang kepadanya dan berkata:
“Walk before Me and be tamim.”
Karena itu, menerjemahkan tamim sebagai “tidak bercela” tidak seharusnya membuat kita langsung menyimpulkan bahwa Tuhan sedang menuntut Abraham menjadi manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ada sesuatu yang lebih dalam dalam panggilan tersebut. Tuhan memanggil Abraham untuk menjalani kehidupan yang whole, complete, dan fully oriented toward Him.
Ada satu hal lain yang sangat penting. Dalam Kejadian 17:1, tamim tidak berdiri sendiri. Tuhan tidak sekadar berkata, “Be tamim.” Ia berkata, “Walk before Me and be tamim.” Dengan demikian, tamim ditempatkan dalam konteks sebuah kehidupan yang dijalani di hadapan Tuhan. Keutuhan yang dimaksud bukan sekadar keutuhan karakter menurut standar manusia, tetapi keutuhan seseorang yang seluruh perjalanan hidupnya berlangsung di hadapan Allah.
Di sinilah kita mulai melihat perbedaan antara perfection dan wholeness. Perfection membuat kita membayangkan seseorang yang tidak pernah gagal. Wholeness berbicara tentang seseorang yang hidupnya tidak terbagi—seluruh dirinya diarahkan kepada Tuhan. Abraham masih harus bertumbuh, masih akan belajar percaya, dan masih memiliki perjalanan panjang bersama Tuhan. Tetapi Tuhan memanggil seluruh dirinya untuk berjalan di hadapan-Nya.
Ini mengubah cara kita membaca Kejadian 17:1. Tuhan bukan sedang berkata kepada Abraham, “Mulai sekarang jangan pernah membuat kesalahan lagi.” Tuhan sedang memanggil Abraham kepada sebuah kehidupan yang utuh di hadapan-Nya—tidak setengah hati, tidak terbagi antara Tuhan dan pusat kehidupan yang lain.
Tamim does not primarily describe a life that never fails, but a life that is whole before God.
From Wholeness to an Undivided Heart
Pada bagian pertama kita melihat bahwa kata tamim membawa pengertian whole, complete, sound, blameless. Ketika Tuhan berkata kepada Abraham, “Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kejadian 17:1), kata yang digunakan adalah tamim. Karena itu, secara leksikal kita perlu berhati-hati untuk tidak langsung menerjemahkan tamim sebagai undivided. Itu bukan arti literal katanya.
Namun ketika tema wholeness before God ini ditelusuri lebih jauh melalui keseluruhan Alkitab, kita menemukan sebuah theological movement yang sangat menarik. Keutuhan yang Tuhan kehendaki bukan hanya berbicara tentang integritas moral, tetapi juga tentang totality of devotion—sebuah kehidupan yang sepenuhnya diarahkan kepada-Nya.
Dengan kata lain, wholeness membawa kita kepada wholeheartedness.
Tamim → Wholeness → Wholeheartedness → Undivided Heart.
Karena itu, undivided heart bukan lexical definition dari tamim, tetapi theological interpretation dari biblical idea of wholeness. Kita tidak sedang mengatakan bahwa tamim berarti “undivided” dalam kamus bahasa Ibrani. Kita sedang melihat bagaimana tema keutuhan di hadapan Tuhan berkembang menjadi panggilan untuk mengasihi dan mengikuti Tuhan dengan hati yang tidak terbagi.
One Heart, One Direction
Salah satu ayat yang paling indah untuk memahami hal ini terdapat dalam doa Daud:
“Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.”
— Mazmur 86:11
Kalimat “bulatkanlah hatiku” sangat penting. Dalam bahasa Ibrani, Daud menggunakan kata kerja yāḥad, yang membawa gagasan to unite, join together. Daud seolah-olah menyadari bahwa persoalan terbesar hatinya bukan hanya kemungkinan melakukan sesuatu yang salah, tetapi kemungkinan memiliki hati yang terpecah ke berbagai arah.
Karena itu ia tidak hanya berdoa, “Tuhan, tunjukkan jalan-Mu.” Ia juga berdoa, “Tuhan, satukan hatiku.”
Sebab mengetahui jalan Tuhan belum tentu berarti seluruh hati kita ingin berjalan di dalamnya. Kita dapat mengetahui apa yang benar tetapi sekaligus menginginkan sesuatu yang lain. Kita dapat mengasihi Tuhan tetapi juga sangat membutuhkan approval manusia. Kita dapat menginginkan kehendak Tuhan tetapi pada saat yang sama tidak mau kehilangan kenyamanan kita.
Daud mengerti bahwa ia membutuhkan lebih dari sekadar direction. Ia membutuhkan an undivided heart untuk berjalan dalam direction tersebut.
We don’t only need God to show us the right way.
We need Him to unite our hearts to walk in it.
Wholehearted Love
Tema yang sama terlihat sangat kuat dalam Shema, salah satu pengakuan iman yang paling mendasar bagi umat Israel:
“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
— Ulangan 6:5
Perhatikan kata yang terus diulang: segenap.
Tuhan tidak hanya menghendaki kasih. Dia menghendaki kasih dengan seluruh keberadaan kita. Bukan karena Tuhan membutuhkan perhatian kita secara posesif, tetapi karena covenant relationship dengan Tuhan memang menuntut sebuah allegiance yang utuh. Tuhan tidak dimaksudkan menjadi salah satu pusat kehidupan yang harus berbagi tempat dengan banyak pusat lainnya.
Inilah mengapa wholeheartedness lebih dalam daripada sekadar berkata, “Saya mengasihi Tuhan.” Pertanyaannya bukan hanya apakah kita mengasihi Tuhan, tetapi apakah hati kita memiliki loyalty lain yang terus bersaing dengan-Nya.
Kita dapat sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan tetap sangat dikendalikan oleh keinginan untuk diterima orang lain. Kita dapat percaya kepada Tuhan tetapi membiarkan ketakutan menentukan keputusan. Kita dapat ingin menaati Tuhan selama ketaatan itu tidak terlalu mengganggu rencana kita. Kita dapat menyerahkan banyak bagian kehidupan kepada Tuhan tetapi mempertahankan beberapa ruangan yang tidak ingin kita serahkan kepada-Nya.
Di sinilah kita mulai melihat bahwa lawan dari wholeheartedness tidak selalu rebellion. Kadang-kadang lawannya adalah divided loyalty.
The opposite of a whole heart is not always a wicked heart.
Sometimes, it is simply a divided heart.
The Danger of a Divided Heart
Yakobus menggambarkan kondisi ini dengan istilah yang sangat kuat:
“Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”
— Yakobus 1:8
Kata Yunani yang digunakan adalah dipsychos, secara harfiah membawa gambaran double-souled—seolah-olah seseorang memiliki dua arah di dalam dirinya. Ia ingin percaya kepada Tuhan, tetapi sekaligus mempertahankan alternatif lain sebagai tempat bersandar. Ia ingin berjalan dalam kehendak Tuhan, tetapi ada bagian dirinya yang terus ditarik oleh sesuatu yang lain.
Inilah yang membuat divided heart begitu berbahaya: seseorang tidak harus meninggalkan Tuhan untuk memiliki hati yang terbagi.
Tuhan masih ada di dalam kehidupannya. Ia masih berdoa. Ia masih beribadah. Ia masih percaya. Tetapi Tuhan bukan lagi satu-satunya pusat gravitasi yang menentukan arah kehidupannya. Ada pusat-pusat lain yang ikut menarik keputusan, prioritas, identitas, dan emosinya.
Karena itu seseorang dapat berkata, “Saya percaya Tuhan,” tetapi keputusan akhirnya ditentukan oleh fear. Ia dapat berkata, “Saya ingin menyenangkan Tuhan,” tetapi hidupnya terus dikendalikan oleh approval. Ia dapat berkata, “Kehendak Tuhan yang terutama,” tetapi ketika kehendak Tuhan bertabrakan dengan kenyamanan, kenyamananlah yang menang.
Masalahnya bukan bahwa Tuhan tidak ada. Masalahnya adalah Tuhan harus berbagi pusat dengan sesuatu yang lain.
Not Perfection, but Integration
Di sinilah konsep tamim menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita. Tuhan tidak sedang memanggil kita kepada kehidupan tanpa kelemahan, pergumulan, atau kegagalan. Abraham sendiri, yang menerima panggilan untuk hidup tamim, jelas bukan manusia tanpa kesalahan.
Yang Tuhan kehendaki adalah kehidupan yang semakin integrated—kehidupan di mana iman, nilai, keputusan, relationships, pekerjaan, keuangan, ambisi, dan masa depan tidak bergerak dalam arah yang saling bertentangan.
Kita sering membagi kehidupan menjadi compartments. Ada kehidupan rohani, pekerjaan, keluarga, keuangan, relationship, ambition, dan personal dreams. Tanpa sadar kita dapat memberikan Tuhan akses penuh kepada beberapa bagian, tetapi hanya akses terbatas kepada bagian lainnya.
Namun kehidupan yang whole tidak memiliki dua sistem nilai: satu untuk hari Minggu dan satu untuk hari Senin; satu untuk pelayanan dan satu untuk bisnis; satu ketika berada di depan orang lain dan satu ketika tidak ada yang melihat.
Wholeness is when every part of our life begins to move in the same direction.
Bukan berarti semuanya sudah sempurna. Tetapi semuanya sedang diarahkan kepada pusat yang sama.
Tuhan tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan kita. Dia menjadi pusat yang menyatukan seluruh bagian kehidupan kita.
The Battle for the Heart
Karena itu, persoalan terbesar kita sering kali bukan memilih antara Tuhan dan sesuatu yang jelas-jelas jahat. Pilihan seperti itu relatif mudah dikenali. Pergumulan yang lebih halus terjadi ketika hati kita harus memilih antara Tuhan dan sesuatu yang sebenarnya baik.
Career bukan sesuatu yang jahat. Family bukan sesuatu yang jahat. Financial security bukan sesuatu yang jahat. Achievement, comfort, reputation, ministry, bahkan keinginan untuk diterima dan dihargai bukanlah sesuatu yang pada dirinya selalu salah.
Tetapi sesuatu yang baik dapat mulai membagi hati kita ketika ia memperoleh loyalty yang seharusnya hanya dimiliki Tuhan.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya, “Apakah ada sesuatu yang salah dalam hidup saya?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Is there anything competing with God for my heart?”
Mungkin itulah salah satu cara terbaik memahami panggilan untuk hidup tamim. Bukan kehidupan yang tidak pernah gagal, tetapi kehidupan yang terus dibawa kembali kepada wholeness before God. Hati yang mungkin pernah tercerai-berai oleh fear, approval, ambition, comfort, atau control, tetapi terus mengizinkan Tuhan menyatukannya kembali.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak hanya menghendaki sebagian dari kehidupan kita yang terlihat rohani.
He wants a whole life flowing from a whole heart.
Tamim memanggil kita kembali kepada one heart, one center, one allegiance.
A divided heart produces a fragmented life.
An undivided heart produces a centered life.
What Does an Undivided Life Look Like?
1. Be the Same Person Everywhere
Wholeness berarti semakin tidak ada jarak antara apa yang kita percaya, apa yang kita katakan, dan bagaimana kita hidup. Inilah salah satu cara terbaik untuk memahami integrity. Integrity bukan sekadar tidak berbohong atau tidak melakukan sesuatu yang salah. Integrity adalah kehidupan yang utuh—ketika bagian-bagian kehidupan kita tidak saling bertentangan.
Daud berkata: Mazmur 101:2 “Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.”
Menarik bahwa Daud berbicara tentang bagaimana ia hidup di dalam rumahnya. Rumah adalah tempat di mana tidak ada panggung, tidak ada audience yang harus dibuat terkesan, dan tidak ada reputasi yang harus dipertahankan. Karena karakter kita yang sesungguhnya sering kali paling terlihat bukan ketika banyak orang memperhatikan kita, tetapi ketika tidak ada seorang pun yang perlu kita impress.
Yesus juga berulang kali menegur kehidupan yang memiliki jarak besar antara bagian luar dan bagian dalam.
Matius 23:27–28 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”
Masalahnya bukan sekadar mereka melakukan sesuatu yang salah. Ada ketidaksatuan antara external appearance dan internal reality. Apa yang terlihat dari luar tidak lagi menceritakan keadaan yang sebenarnya di dalam.
Kita pun dapat mengalami hal yang sama dalam bentuk yang lebih halus. Kita dapat berbicara tentang generosity tetapi sebenarnya dikuasai oleh uang. Kita dapat berbicara tentang pentingnya keluarga tetapi terus memberikan sisa waktu kepada keluarga. Kita dapat berbicara tentang trusting God tetapi membiarkan setiap keputusan dikendalikan oleh ketakutan. Kita dapat berbicara tentang humility tetapi sangat membutuhkan recognition.
Tamim memanggil kita untuk terus memperkecil jarak itu. Apa yang kita percaya semakin terlihat dalam cara kita hidup. Apa yang kita katakan semakin sama dengan apa yang kita lakukan. Siapa kita di depan orang semakin sama dengan siapa kita ketika tidak ada orang yang melihat.
Integrity is when your public life and private life tell the same story.
2. Give God Every Room
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani adalah menjadikan Tuhan hanya sebagai salah satu bagian dari kehidupan kita. Kita memiliki God compartment: kita beribadah, berdoa, membaca Firman, melayani, dan datang ke gereja. Tetapi kemudian ada bagian lain—business, money, ambition, relationships, sexuality, leisure, decisions—yang tanpa sadar kita jalankan dengan aturan kita sendiri.
Kita tidak meninggalkan Tuhan. Kita tetap percaya kepada-Nya dan mungkin bahkan tetap aktif melayani-Nya. Kita hanya membatasi wilayah-Nya. Tuhan boleh berbicara tentang kehidupan rohani kita, tetapi kita belum tentu mengizinkan Dia berbicara tentang cara kita menjalankan bisnis, memperlakukan orang, menggunakan uang, menentukan prioritas, atau mengejar ambisi.
Namun Alkitab tidak mengenal spiritualitas yang terfragmentasi seperti itu.
Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
Yesus kemudian mengutip ayat yang sama sebagai hukum yang terutama.
Markus 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Perhatikan kata yang terus berulang: segenap. Bukan sebagian hati. Bukan sebagian kehidupan. Bukan hanya spiritual side kita. Wholeheartedness berarti tidak ada ruangan dalam kehidupan kita yang kita tutup sambil berkata, “God, stay out.”
Tuhan hadir dalam cara kita bekerja. Tuhan memiliki suara dalam cara kita menggunakan uang. Tuhan menentukan bagaimana kita memperlakukan pasangan dan keluarga. Tuhan berbicara ke dalam ambisi kita. Tuhan hadir dalam keputusan yang tidak pernah dilihat siapa pun. Bukan berarti setiap aktivitas harus terlihat religius. Justru sebaliknya, aktivitas yang sangat biasa sekalipun menjadi bagian dari kehidupan kita bersama Tuhan.
God does not want to be a part of your life. He wants to be the center that holds every part together.
3. Give God Your Whole Heart
Alkitab berulang kali menggunakan bahasa whole heart ketika berbicara tentang hubungan dengan Tuhan. Tuhan tidak hanya menghendaki obedience dalam tindakan, tetapi hati yang sepenuhnya berpaut kepada-Nya.
Ulangan 10:12 “…apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”
Yosua 22:5 “…mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti-Nya, berpegang pada perintah-perintah-Nya dan berpaut pada-Nya serta beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”
Ketika Salomo mulai memimpin Israel, Daud juga memberikan nasihat yang sangat penting kepadanya.
1 Tawarikh 28:9 “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati…”
Yang Tuhan cari bukan sekadar aktivitas rohani yang semakin banyak, tetapi hati yang semakin sepenuhnya menjadi milik-Nya. Kita dapat melakukan banyak hal untuk Tuhan tanpa sepenuhnya hidup bagi Tuhan. Kita dapat melayani tetapi diam-diam mengejar recognition. Kita dapat memberi tetapi ingin dikagumi. Kita dapat memimpin tetapi sebenarnya sedang membangun nama sendiri. Kita bahkan dapat melakukan sesuatu yang kelihatannya sangat spiritual sementara hati kita perlahan menjauh dari Tuhan.
Itulah sebabnya Alkitab sering memberikan perhatian bukan hanya kepada apa yang dilakukan seseorang, tetapi kepada keadaan hatinya. Tentang Asa, misalnya, Alkitab memberikan penilaian yang menarik.
2 Tawarikh 15:17 “Namun demikian, hati Asa tulus ikhlas sepanjang umurnya.”
Asa bukan pemimpin yang sempurna. Perjalanan hidupnya memiliki kelemahan dan kegagalan. Namun Alkitab memperhatikan arah hatinya. Hal yang sama muncul ketika Alkitab menggambarkan apa yang Tuhan cari di seluruh bumi.
2 Tawarikh 16:9 “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.”
Tuhan bukan hanya melihat apa yang kita lakukan. Dia melihat siapa yang memiliki hati kita ketika kita melakukannya.
Wholeheartedness is not doing more for God. It is holding less of yourself back from God.
4. Live Before God
Ketika Tuhan berkata kepada Abraham, “Walk before Me and be tamim,” ada satu bagian yang tidak boleh kita lewatkan: walk before Me. Tamim bukan pertama-tama sebuah proyek self-improvement. Tamim adalah kehidupan yang dijalani di hadapan Allah.
Kesadaran bahwa kita hidup coram Deo—before the face of God—mengubah cara kita menjalani kehidupan. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang akan orang pikirkan?” tetapi mulai bertanya, “Apakah ini berkenan kepada Tuhan?”Kita tidak hanya menjaga reputasi; kita menjaga hati. Kita tidak hanya melakukan yang benar ketika ada accountability; kita belajar hidup dengan kesadaran bahwa seluruh kehidupan kita terbuka di hadapan-Nya.
Daud menangkap kehidupan seperti ini dalam salah satu doanya yang paling personal.
Mazmur 139:23–24 “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
Ini adalah doa seseorang yang tidak ingin menyembunyikan ruangan apa pun dari Tuhan. Search me. Lihat semuanya—motivasi saya, ambisi saya, ketakutan saya, kebiasaan saya, relasi saya, penggunaan uang saya, kehidupan pribadi saya, bagian yang diketahui orang dan bagian yang tidak diketahui siapa pun.
Wholeness dimulai ketika kita berhenti menyembunyikan bagian-bagian kehidupan kita dari Tuhan. Kita tidak lagi hanya mengundang Tuhan masuk ke bagian kehidupan yang sudah rapi. Kita memberikan kepada-Nya akses kepada seluruh kehidupan kita, termasuk bagian yang masih berantakan dan sedang Dia bentuk.
A whole life begins with a fully open heart.
Live Undivided
Mungkin challenge terbesar dari tamim bukanlah untuk melakukan lebih banyak, menjadi lebih sibuk secara rohani, atau berusaha terlihat semakin sempurna. Challenge-nya adalah memiliki keberanian untuk membawa seluruh kehidupan kita ke hadapan Tuhan dan bertanya apakah masih ada bagian yang kita pertahankan untuk diri sendiri.
Is there any part of my life that I am still keeping from God?
Mungkin kita sudah memberikan hari Minggu kepada Tuhan, tetapi belum memberikan pekerjaan kita. Mungkin kita sudah memberikan pelayanan kita, tetapi belum memberikan ambisi kita. Mungkin kita mempercayakan masa depan kepada-Nya, tetapi masih memegang erat keuangan kita. Mungkin orang melihat kehidupan rohani yang baik, tetapi ada bagian pribadi yang kita tahu belum sungguh-sungguh diserahkan kepada-Nya.
Jangan mencoba terlihat sempurna di hadapan Tuhan. Datanglah dengan seluruh kehidupan kita—termasuk bagian yang belum selesai, kelemahan yang masih sedang kita perjuangkan, pertanyaan yang belum terjawab, dan area yang masih membutuhkan perubahan. Karena Tuhan tidak memanggil kita untuk berpura-pura sempurna; Dia memanggil kita untuk hidup dengan hati yang tidak terbagi.
Mungkin itulah langkah pertama menuju kehidupan yang tamim: bukan menjadi seseorang yang tidak pernah gagal, tetapi berhenti menjalani kehidupan yang terbagi. Bukan memberikan kepada Tuhan bagian terbaik dari kehidupan kita, tetapi memberikan kepada-Nya seluruh kehidupan kita.
One heart. One life. One Lord.
God is not looking for a perfect life, but an undivided heart.