TREASURE AND GROW #2: LOVE IS AN ACTION

Why What We Do Can Shape What We Feel

Dalam sebuah hubungan, kita sering berpikir bahwa perasaan datang lebih dahulu, kemudian tindakan mengikuti. Ketika merasa dekat, kita ingin menghabiskan waktu bersama. Ketika merasa romantis, kita lebih mudah menunjukkan kasih sayang. Ketika merasa dimengerti, kita pun lebih mudah membuka diri.

Tetapi bagaimana kalau perasaan itu sedang tidak ada? Bagaimana kalau setelah bertahun-tahun menikah, kita masih mengasihi pasangan, tetapi tidak selalu merasakan kedekatan seperti dahulu? Kesibukan, kelelahan, tekanan hidup, atau musim yang sedang tidak mudah dapat membuat apa yang kita rasakan terhadap pasangan tidak selalu sama.

Di sinilah kita mudah terjebak untuk menunggu perasaan berubah sebelum mulai melakukan sesuatu. Kita menunggu merasa dekat untuk mulai mendekat. Menunggu merasa hangat untuk menunjukkan kasih. Bahkan kadang kita menunggu pasangan berubah sebelum kita sendiri mulai berubah.

Padahal hubungan antara perasaan dan tindakan tidak hanya berjalan satu arah. Memang ada saatnya perasaan kasih menggerakkan kita untuk bertindak. Tetapi ada juga saatnya tindakan kasih yang kita pilih untuk terus lakukan justru membentuk apa yang kita rasakan dan membawa hati kita kembali mendekat.

1. ACTION CAN LEAD EMOTION

Matius 6:21 — “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Ada sesuatu yang menarik dalam urutan perkataan Yesus. Kita mungkin berpikir bahwa hati datang lebih dahulu, kemudian tindakan mengikuti—karena hati kita tertarik kepada sesuatu, maka kita mulai memberikan waktu, perhatian, dan apa yang kita miliki kepadanya. Tetapi Yesus tidak berkata, “Di mana hatimu berada, di situ hartamu berada.” Ia justru mengatakan, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Artinya, ketika kita memilih untuk menempatkan sesuatu yang berharga—waktu, perhatian, tenaga, atau sumber daya kita—pada sesuatu, hati kita pun semakin tertuju ke sana. Jadi bukan hanya hati yang memengaruhi apa yang kita lakukan; apa yang kita lakukan juga dapat ikut mengarahkan hati kita.

Prinsip ini sangat relevan dalam sebuah hubungan. Kita tidak selalu menyediakan waktu karena sedang merasa dekat; kadang-kadang kita merasa semakin dekat karena terus menyediakan waktu. Kita tidak selalu menunjukkan perhatian karena sedang merasakan kasih yang kuat; kadang-kadang melalui perhatian yang terus kita berikan, hati kita kembali terlibat dan kedekatan mulai bertumbuh.

Tentu ini bukan berarti kita dapat memaksa perasaan. Perasaan tidak bekerja seperti tombol yang dapat kita nyalakan kapan saja. Tetapi kita dapat memilih apa yang kita lakukan, dan apa yang terus kita lakukan dapat ikut membentuk apa yang kita rasakan. Ketika kita memilih untuk tetap hadir, menyediakan waktu, memberikan perhatian, dan menunjukkan kasih sayang, kita menciptakan kesempatan untuk terus terhubung dengan pasangan. Dari kebersamaan itulah kita kembali berbicara, saling memahami, menikmati satu sama lain, dan perlahan-lahan kedekatan pun dapat bertumbuh kembali. Kita memang tidak dapat memaksa hati untuk merasakan sesuatu, tetapi kita dapat terus melakukan hal-hal yang membuat hati kembali dekat.

Karena itu, ketika perasaan sedang tidak sekuat dahulu, jangan langsung berhenti melakukan hal-hal yang selama ini membangun kedekatan. Tetap hadir. Tetap menunjukkan perhatian. Tetap melakukan tindakan kasih. Bukan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi karena tindakan kasih dapat menciptakan ruang bagi hati untuk kembali mendekat.

You cannot force a feeling, but you can choose actions that give the feeling room to grow.

2. CLOSENESS GROWS THROUGH SMALL ACTIONS

Kalau tindakan dapat ikut membentuk apa yang kita rasakan, pertanyaannya adalah: tindakan seperti apa yang dapat menjaga dan menumbuhkan kedekatan? Kita mungkin membayangkan sesuatu yang besar—liburan berdua, makan malam romantis, hadiah istimewa, atau sebuah momen yang membuat hubungan kembali terasa seperti dahulu. Semua itu tentu baik. Tetapi sering kali kedekatan tidak dibangun melalui beberapa momen besar, melainkan melalui banyak tindakan kecil yang terus dilakukan.

Hadir ketika pasangan membutuhkan kita. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Memberikan rasa aman untuk berbicara dengan jujur. Tetap menunjukkan perhatian sekalipun respons yang kita terima belum seperti yang kita harapkan. Terus mendekat dengan lembut tanpa memaksa. Semua ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika terus dilakukan, perlahan-lahan akan membentuk suasana dalam sebuah hubungan.

Kedekatan bertumbuh ketika kita hadir dan memberikan perhatian penuh kepada pasangan; ketika kita menciptakan rasa aman sehingga ia dapat menjadi dirinya sendiri dan berbicara dengan jujur; ketika perhatian dan kasih kita diberikan dengan konsisten, bukan hanya pada saat suasana hati sedang baik; dan ketika kita terus mendekat dengan lembut, tanpa menuntut atau memaksa respons tertentu. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika terus dilakukan, perlahan-lahan membangun rasa percaya, membuka hati, dan membuat dua orang semakin terhubung satu sama lain.

Dari tindakan-tindakan kecil seperti inilah kedekatan dipelihara. Pasangan merasa diperhatikan, didengarkan, diterima, dan diyakinkan bahwa ia masih penting bagi kita. Dan ketika pengalaman seperti ini terus berulang, hati pun semakin terbuka dan kedekatan semakin bertumbuh.

Menariknya, penelitian juga menunjukkan hubungan antara kebiasaan sederhana menyediakan waktu berdua dengan kualitas pernikahan. National Marriage Project menganalisis survei terhadap 2.000 orang menikah berusia 18–55 tahun di Amerika Serikat. Pasangan yang melakukan date night secara rutin—sekitar satu atau dua kali sebulan atau lebih—jauh lebih sering menggambarkan pernikahan mereka sebagai “very happy.” Angkanya mencapai 83% pada istri dan 84% pada suami, dibandingkan 68% dan 70% pada mereka yang jarang atau tidak melakukan date night. Mereka yang rutin melakukan date night juga melaporkan komunikasi, komitmen, dan kepuasan seksual yang lebih baik.

Tentu date night bukan sebuah formula ajaib, dan penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan berarti membuktikan bahwa date night sendirian menyebabkan pernikahan menjadi bahagia. Tetapi temuan ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: menyediakan waktu untuk terus terhubung dengan pasangan matters. Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu yang mahal atau istimewa. Yang penting adalah dengan sengaja menciptakan ruang di tengah kesibukan untuk kembali berbicara, menikmati kebersamaan, dan memberikan perhatian satu sama lain.

Karena itu, jangan meremehkan percakapan singkat di tengah kesibukan, sentuhan sederhana ketika berpapasan, ucapan terima kasih, beberapa menit bersama tanpa handphone, atau kebiasaan kecil yang terus dilakukan berdua. Mungkin tidak ada satu pun yang terasa luar biasa pada saat dilakukan, tetapi ketika menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, hal-hal kecil itulah yang perlahan-lahan membentuk kualitas sebuah hubungan.

Temuan dari The Gottman Institute juga menunjukkan pentingnya hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika mereka melakukan follow-up terhadap pasangan yang pernah mengikuti workshop The Art and Science of Love, pasangan yang hubungannya terus membaik ternyata bukan melakukan perubahan yang dramatis. Mereka hanya memberikan sekitar enam jam tambahan setiap minggu untuk hubungan mereka melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana: berbicara ketika kembali bertemu setelah menjalani aktivitas masing-masing, menunjukkan apresiasi dan kasih sayang, menyediakan waktu untuk date night, serta melakukan weekly relationship check-in. Prinsip yang mereka tekankan sederhana: small things often.

Hal yang sama terlihat dalam temuan Gottman tentang 5:1 ratio. Dalam interaksi ketika terjadi konflik, pasangan yang stabil dan bahagia menunjukkan sekitar lima atau lebih interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif. Interaksi positif itu tidak harus sesuatu yang besar—mendengarkan, menunjukkan pengertian, memberikan sentuhan, mengucapkan terima kasih, membantu, atau tetap menunjukkan kasih sayang di tengah perbedaan. Semua ini kembali menunjukkan bahwa kualitas sebuah hubungan tidak hanya dibentuk oleh momen-momen besar, tetapi oleh pola interaksi kecil yang terus kita bangun setiap hari.

Closeness is rarely built in a moment. It is usually built in a pattern.

3. DON’T WAIT FOR THE FEELING

Salah satu jebakan yang mudah terjadi dalam sebuah hubungan adalah menjadikan perasaan sebagai syarat untuk mulai bertindak. Kita berkata dalam hati, “Nanti kalau hubungan kami sudah lebih baik, saya akan mulai mencoba lagi.” “Kalau dia mulai menunjukkan perhatian, saya juga akan melakukannya.” Atau, “Kalau saya sudah merasa dekat lagi, saya akan mulai membuka diri.”

Kedengarannya masuk akal. Tetapi tanpa disadari, kita sedang menunggu hasil sebelum melakukan hal-hal yang justru dapat membantu menghasilkan perubahan itu. Kita menunggu kedekatan sebelum mulai mendekat. Kita menunggu kehangatan sebelum menunjukkan kehangatan. Kita menunggu perasaan berubah sebelum mulai melakukan tindakan kasih.

If you keep waiting for the feeling to change your actions, you may miss how your actions can help change the feeling.

Di sinilah kasih membutuhkan sebuah keputusan. Kita mungkin tidak selalu dapat menentukan apa yang kita rasakan, tetapi kita tetap dapat memilih bagaimana kita bertindak. Kita dapat memilih untuk tetap hadir, berbicara dengan baik, menunjukkan perhatian, menyediakan waktu, dan mengambil langkah untuk mendekat—bahkan ketika perasaan kita belum sepenuhnya mengikuti.

Tentu ini tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ada persoalan dalam pernikahan yang perlu dibicarakan dengan jujur, ada luka yang perlu dipulihkan, dan ada keadaan yang membutuhkan perubahan dari kedua belah pihak atau pertolongan orang lain. Tetapi jangan sampai apa yang belum kita rasakan membuat kita berhenti melakukan apa yang masih dapat kita lakukan.

Love is not only expressed when we feel it. Sometimes love is expressed because we choose it.

Justru di sinilah prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati menjadi penting. Jangan menunggu hubungan menjadi dingin baru mulai menghangatkannya. Jangan menunggu jarak menjadi jauh baru mulai mendekat. Terus lakukan hal-hal kecil yang menjaga kedekatan selagi hubungan masih baik.

Pada akhirnya, kasih tidak berarti kita akan merasakan hal yang sama setiap hari. Ada kalanya perasaan menggerakkan kita untuk melakukan tindakan kasih. Tetapi ada juga kalanya kita memilih untuk tetap melakukan tindakan kasih, dan melalui apa yang terus kita lakukan, hati kita perlahan-lahan menemukan jalannya untuk kembali mendekat.

Don’t wait to feel close before you move closer. Sometimes moving closer is how we begin to feel close again.

KEEP LOVE ALIVE

Justru di sinilah prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati menjadi penting. Jangan menunggu hubungan menjadi dingin baru mulai menghangatkannya. Jangan menunggu jarak menjadi jauh baru mulai mendekat. Jangan menunggu ada sesuatu yang salah baru mulai melakukan sesuatu yang benar. Terus lakukan hal-hal kecil yang menjaga kedekatan selagi hubungan masih baik.

Pada akhirnya, kasih tidak berarti kita akan merasakan hal yang sama setiap hari. Ada saatnya perasaan kasih dengan mudah menggerakkan kita untuk bertindak. Tetapi ada juga saatnya perasaan tidak sekuat dahulu, dan pada saat seperti itulah kasih menjadi sebuah pilihan yang kita nyatakan melalui tindakan. Kita tetap hadir, tetap memberikan perhatian, tetap menyediakan waktu, dan tetap mengambil langkah untuk mendekat.

Kita memang tidak dapat memaksa hati untuk merasakan sesuatu. Tetapi seperti yang sudah kita lihat, apa yang kita lakukan dapat ikut membentuk apa yang kita rasakan. Ketika kita terus memilih tindakan kasih, kita terus memberi kesempatan kepada kedekatan untuk bertumbuh dan hati untuk kembali terhubung.

Love is an action. Keep doing the things that keep love alive.

REFLECTION FOR COUPLES

Lengkapi dan bagikan kepada pasangan:

“I feel most loved when you…”

“One small habit that helps me stay connected to you is…”

Tinggalkan komentar