Ketika dua atau lebih pilihan sama-sama boleh dan tidak berdosa, tetapi kita tetap harus menentukan mana yang terbaik.
Setiap hari kita membuat keputusan. Ada yang sederhana, ada yang jauh lebih penting. Sebagian hanya memengaruhi hari ini, tetapi sebagian lainnya dapat memengaruhi karakter kita, keluarga kita, pekerjaan kita, bahkan perjalanan iman kita. Karena itu, bagaimana kita mengambil keputusan bukanlah sesuatu yang sepele.
Untuk beberapa hal, Alkitab memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang apa yang benar dan salah. Tetapi tidak semua keputusan yang kita hadapi merupakan pilihan antara benar dan salah. Ada kalanya kita diperhadapkan pada dua atau lebih pilihan yang sama-sama boleh, tidak berdosa, dan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan—tetapi kita tetap harus menentukan pilihan mana yang terbaik.
Haruskah saya menerima pekerjaan dengan penghasilan lebih besar, atau tetap di tempat sekarang karena memberi lebih banyak waktu untuk keluarga? Keduanya tidak salah.
Haruskah saya membeli sesuatu yang mahal ketika saya mampu membelinya, atau menggunakan uang itu untuk tujuan lain? Keduanya mungkin boleh.
Haruskah saya mengambil sebuah kesempatan bisnis yang baik, atau menolaknya karena ada prioritas lain yang lebih penting dalam hidup saya? Tidak ada satu pun yang dengan sendirinya berdosa.
Haruskah saya pindah ke kota lain untuk kesempatan yang lebih besar, atau tetap tinggal karena keluarga, komunitas, dan pelayanan yang sudah saya bangun? Sekali lagi, kita mungkin tidak sedang memilih antara dosa dan ketaatan, tetapi antara dua pilihan yang sama-sama legitimate.
Keputusan seperti inilah yang sering kali justru lebih sulit. Kalau salah satu pilihan jelas berdosa, keputusannya relatif sederhana: jangan lakukan. Tetapi bagaimana kalau keduanya boleh? Bagaimana kalau keduanya mempunyai keuntungan dan konsekuensi masing-masing? Bagaimana kalau tidak ada satu ayat yang secara langsung mengatakan, “Pilih yang ini”?
1. IS IT WISE? — Apakah ini pilihan yang bijaksana?
Ketika dua atau lebih pilihan sama-sama boleh dan tidak berdosa, kita mudah beranggapan bahwa semuanya sama baiknya. Tetapi sama-sama boleh tidak selalu berarti sama-sama bijaksana.
Paulus menulis:
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
— Efesus 5:15–17
Paulus tidak hanya mengajarkan kita untuk menghindari apa yang salah. Ia mengajak kita untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup dan menjalani kehidupan sebagai orang yang bijaksana. Artinya, kehidupan Kristen bukan sekadar menjauhi dosa, tetapi belajar membuat pilihan yang mencerminkan hikmat.
Di sinilah hikmat menjadi sangat penting. Hikmat dibutuhkan bukan hanya ketika kita harus membedakan antara benar dan salah, tetapi justru ketika kita harus memilih di antara beberapa pilihan yang sama-sama benar. Tidak ada yang berdosa, tidak ada yang secara langsung melanggar Firman Tuhan, tetapi bukan berarti setiap pilihan akan membawa hidup kita ke arah yang sama.
Karena itu, ketika Alkitab tidak memberikan perintah “pilih ini” atau larangan “jangan pilih itu,” kita perlu melihat lebih jauh daripada sekadar apa yang diperbolehkan. Pertimbangkan siapa kita, ke mana hidup kita sedang menuju, apa yang menjadi prioritas kita, dan apa yang Tuhan sedang percayakan kepada kita. Pilihan yang bijaksana bagi seseorang belum tentu merupakan pilihan yang sama bagi orang lain, karena keadaan, tanggung jawab, dan musim kehidupan kita dapat berbeda.
Jadi, jangan berhenti pada pertanyaan, “Apakah saya boleh memilih ini?” Ajukan pertanyaan yang lebih dalam: “Di antara pilihan-pilihan yang sama-sama boleh ini, manakah yang paling bijaksana bagi saya dalam musim kehidupan saya sekarang?”
Not everything we are free to do is wise to do.
2. IS IT BENEFICIAL? — Apakah ini membawa kebaikan?
Setelah kita memastikan bahwa sebuah pilihan tidak salah, pertanyaan berikutnya adalah: “Apakah pilihan ini membawa kebaikan bagi hidup saya?”
Paulus mengatakan:
“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna.”
— 1 Korintus 6:12
Kata “berguna” berasal dari bahasa Yunani sympherō, yang berarti membawa manfaat, memberikan keuntungan, atau menghasilkan sesuatu yang baik. Dengan kata lain, Paulus mengingatkan kita bahwa tidak semua yang boleh dilakukan memiliki nilai yang sama bagi kehidupan kita.
Ada hal-hal yang mungkin tidak salah, tetapi juga tidak memberikan banyak manfaat. Ada pilihan yang memberikan kesenangan sesaat, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang berarti dalam jangka panjang. Sebaliknya, ada pilihan yang menolong kita bertumbuh, memperkuat karakter kita, menjaga hubungan kita, menggunakan waktu dan sumber daya dengan lebih baik, serta membawa hidup kita semakin dekat kepada tujuan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Karena itu, ketika dua atau lebih pilihan sama-sama boleh, jangan hanya melihat mana yang paling menarik saat ini. Lihat juga apa yang akan dihasilkan oleh setiap pilihan. Sebuah keputusan tidak berhenti pada saat kita membuatnya; keputusan itu membawa konsekuensi, membentuk kebiasaan, dan sedikit demi sedikit menentukan arah hidup kita.
Inilah sebabnya sesuatu yang baik untuk dinikmati sekarang belum tentu baik untuk kita dalam jangka panjang.Misalnya, kita mungkin mampu membeli sesuatu yang mahal dan tidak ada yang salah dengan menikmatinya. Tetapi hikmat mengajak kita melihat lebih jauh: apakah penggunaan uang itu merupakan pilihan terbaik dalam keadaan kita sekarang? Apakah ada prioritas yang lebih penting? Apakah keputusan itu akan membawa manfaat yang sebanding dengan apa yang kita keluarkan?
Hal yang sama berlaku dalam penggunaan waktu, pekerjaan, hubungan, hiburan, bahkan kesempatan yang datang kepada kita. Tidak semua kesempatan harus diambil hanya karena kesempatan itu terbuka. Tidak semua yang dapat kita lakukan layak mendapatkan waktu, perhatian, energi, dan sumber daya kita.
The wiser choice sering kali bukan pilihan yang memberikan kepuasan terbesar sekarang, tetapi pilihan yang menghasilkan kebaikan yang lebih besar kemudian. Hikmat melihat melampaui apa yang kita inginkan hari ini dan mempertimbangkan ke mana pilihan itu akan membawa hidup kita besok.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah ini boleh?” Tanyakan, “Apa yang akan dihasilkan oleh pilihan ini dalam hidup saya?”
The wiser choice looks beyond what feels good now to what brings greater good later.
3. DOES IT MASTER ME? — Apakah saya menguasainya, atau justru dikuasainya?
Ketika beberapa pilihan sama-sama boleh dan tidak berdosa, kita perlu melihat lebih jauh daripada sekadar bertanya, “Apakah saya boleh melakukannya?” Salah satu cara menentukan the wiser choice adalah dengan mempertimbangkan: Apakah pilihan ini akan tetap berada di bawah kendali saya, atau berpotensi semakin mengendalikan hidup saya?
Paulus memberikan sebuah prinsip yang sangat penting:
“…tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”
— 1 Korintus 6:12
Paulus sedang menunjukkan bahwa kebebasan bukan hanya tentang apa yang boleh kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang tidak boleh kita biarkan menguasai hidup kita. Saya mungkin memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu, tetapi kalau saya tidak lagi memiliki kebebasan untuk meninggalkannya, mungkin saya bukan lagi orang yang memegang kendali.
Ada banyak hal yang pada awalnya hanya merupakan pilihan, tetapi perlahan-lahan dapat berubah menjadi kebiasaan, kemudian menjadi kebutuhan, dan akhirnya memiliki kendali atas hidup kita. Kita mungkin memulainya dengan berkata, “Saya melakukannya karena saya mau,” tetapi tanpa disadari sampai pada keadaan, “Saya melakukannya karena saya merasa harus.”
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya bebas melakukannya?” Ajukan pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah saya juga bebas untuk tidak melakukannya?”
Can I say no?
Pertanyaan sederhana ini dapat mengungkapkan banyak hal. Apakah saya masih bisa berhenti ketika saya memutuskan untuk berhenti? Apakah saya menjadi gelisah ketika tidak mendapatkannya? Apakah pikiran saya terus kembali kepadanya? Apakah semakin banyak waktu, uang, emosi, atau perhatian saya terserap olehnya? Apakah saya mulai membuat alasan untuk mempertahankannya, sekalipun saya tahu bahwa sesuatu sudah tidak sehat?
Sesuatu tidak harus terlihat jahat untuk mendapatkan tempat yang terlalu besar dalam kehidupan kita. Pekerjaan dapat menguasai kita. Uang dapat menguasai kita. Entertainment, shopping, social media, pengakuan orang lain, bahkan sesuatu yang pada dasarnya baik dapat mulai mengendalikan keputusan, perhatian, dan keinginan kita. Masalahnya bukan selalu pada apa yang kita lakukan, tetapi pada seberapa besar kuasa yang kita berikan kepadanya.
Di sinilah kita dapat melihat the wiser choice dengan lebih jelas. Ketika beberapa pilihan sama-sama boleh, pilihan yang lebih bijaksana adalah pilihan yang tidak membuat kita kehilangan kebebasan untuk berkata tidak. Kita tidak perlu menikmati setiap kebebasan yang kita miliki, dan kita tidak perlu memenuhi setiap keinginan yang kita rasakan.
True freedom is not being able to do whatever you want. It is being able to say no to what you want.
4. DOES IT BUILD OTHERS? — Apakah pilihan ini membangun orang lain?
Paulus kemudian membawa pertimbangan kita keluar dari diri sendiri:
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
— 1 Korintus 10:23
Ketika dua pilihan sama-sama diperbolehkan dan tidak ada yang salah secara moral, Paulus memberikan pertimbangan lain untuk menentukan mana yang lebih bijaksana: lihatlah dampaknya terhadap orang lain.
Kehidupan Kristen tidak pernah hanya tentang “saya dan pilihan saya.” Kita hidup di tengah orang lain, dan karena itu keputusan kita tidak pernah sepenuhnya berhenti pada diri kita sendiri. Apa yang kita lakukan dapat memengaruhi pasangan, anak-anak, keluarga, teman, komunitas, bahkan orang-orang yang memperhatikan cara kita menjalani kehidupan.
Karena itu Paulus tidak hanya mempertimbangkan apakah sesuatu diperbolehkan, tetapi apakah sesuatu itu membangun. Dua pilihan mungkin sama-sama boleh, tetapi belum tentu keduanya memberikan dampak yang sama kepada orang lain. Yang satu mungkin menjadi teladan yang baik, sementara yang lain dapat membuat seseorang menganggap ringan sesuatu yang sebenarnya berbahaya baginya. Yang satu dapat menguatkan nilai-nilai yang benar, sementara yang lain perlahan dapat mengaburkan batas yang sedang berusaha dibangun oleh orang lain.
Itulah sebabnya Paulus melanjutkan:
“Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”
— 1 Korintus 10:24
Ayat ini mengubah cara kita mengambil keputusan. Kita tidak lagi hanya mempertimbangkan, “Mana yang lebih baik bagi saya?” tetapi juga, “Pilihan mana yang akan memberikan dampak yang lebih baik bagi orang lain?” Apakah keputusan saya akan membangun atau justru melemahkan mereka? Apakah teladan yang saya berikan layak untuk diikuti oleh anak-anak, keluarga, atau orang-orang yang saya pimpin? Apakah cara saya menggunakan kebebasan akan menolong mereka menjalani kehidupan yang benar, atau justru membuat perjalanan mereka menjadi lebih sulit?
Di sinilah kasih mulai memberi batas kepada kebebasan. Kedewasaan bukan hanya mengetahui apa yang boleh kita lakukan, tetapi juga mengetahui kapan kita sebaiknya memilih untuk tidak melakukannya demi kebaikan orang lain. Paulus berkata, “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (1 Korintus 8:9). Ada kalanya kita sebenarnya boleh, tetapi dengan sadar memilih untuk tidak melakukannya—bukan karena takut atau terikat pada legalisme, tetapi karena kita menyadari bahwa kebebasan kita dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Kita tidak ingin apa yang kita lakukan menjadi batu sandungan, melemahkan keyakinan mereka, atau menjadi contoh yang justru membawa mereka ke arah yang salah. Paulus sendiri bersedia membatasi kebebasan pribadinya demi kebaikan orang lain. Kasih tidak menghilangkan kebebasan kita; kasih mengajar kita menggunakan kebebasan dengan bertanggung jawab.
Ketika beberapa pilihan sama-sama boleh, the wiser choice tidak selalu merupakan pilihan yang memberikan kebebasan terbesar kepada kita. The wiser choice adalah pilihan yang menggunakan kebebasan kita dengan kasih dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
Maturity is not just knowing what you are free to do. It is caring about what your freedom does to others.
5. DOES IT GLORIFY GOD? — Apakah ini memuliakan Tuhan?
Pada akhirnya, Paulus membawa seluruh pembicaraan tentang kebebasan kepada standar yang paling tinggi:
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
— 1 Korintus 10:31
Menarik bahwa Paulus menggunakan sesuatu yang sangat biasa: makan dan minum. Ia tidak sedang berbicara hanya tentang pelayanan, ibadah, atau aktivitas yang kita anggap “rohani.” Justru melalui hal-hal yang sangat sehari-hari, Paulus menunjukkan bahwa bahkan keputusan-keputusan yang biasa dapat diarahkan kepada tujuan yang lebih besar: memuliakan Tuhan.
Inilah yang membawa kita lebih jauh dalam menentukan the wiser choice. Ketika dua pilihan sama-sama diperbolehkan dan tidak ada yang secara langsung melanggar firman Tuhan, kita masih dapat bertanya: Pilihan mana yang lebih mencerminkan siapa saya sebagai pengikut Kristus dan lebih menghormati Tuhan melalui hidup saya?
Memuliakan Tuhan berarti menjalani hidup dengan cara yang mencerminkan siapa Dia, menghormati nilai-nilai-Nya, dan menyenangkan hati-Nya. Karena itu, kebebasan kita bukan hanya kesempatan untuk memilih apa yang kita inginkan, tetapi kesempatan untuk memilih dengan tujuan yang lebih tinggi.
Apakah pilihan ini sesuai dengan siapa saya sebagai pengikut Kristus? Apakah keputusan ini mencerminkan nilai-nilai yang saya percaya? Apakah saya dapat melakukannya dengan hati nurani yang bersih di hadapan Tuhan? Dan mungkin pertanyaan yang paling sederhana tetapi paling dalam: Dapatkah saya membawa keputusan ini ke dalam doa dan dengan sungguh-sungguh berkata, “Tuhan, biarlah Engkau dimuliakan melalui pilihan saya ini”?
Cara berpikir seperti ini mengubah bagaimana kita mengambil keputusan. Kita tidak lagi hanya mencari apa yang masih diperbolehkan, tetapi belajar memilih apa yang lebih menghormati Tuhan. Sebab the wiser choice bukan selalu pilihan yang paling mudah, paling menyenangkan, atau paling menguntungkan bagi kita. Sering kali, pilihan yang lebih bijaksana adalah pilihan yang membuat hidup kita semakin selaras dengan tujuan Tuhan.
THE WISER CHOICE IS THE CHOICE THAT HONORS GOD.
BEYOND WHAT IS GOOD
Tidak semua keputusan membawa kita kepada pilihan antara benar dan salah. Ada kalanya beberapa pilihan sama-sama baik, sama-sama diperbolehkan, dan sama-sama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Justru dalam situasi seperti inilah kita membutuhkan hikmat—bukan hanya untuk memilih yang baik, tetapi untuk mengenali mana yang lebih bijaksana.
Pada akhirnya, The Wiser Choice bukan tentang menemukan formula yang selalu memberikan satu jawaban yang pasti. Ini tentang menjadi pribadi yang semakin dibentuk oleh Firman Tuhan sehingga kita memiliki wisdom untuk membuat keputusan yang bijaksana ketika beberapa pilihan sama-sama baik.
Ketika hati kita semakin ingin menyenangkan Tuhan, pertanyaan kita pun berubah. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apakah ini pilihan yang baik?” tetapi, “Manakah pilihan yang paling sesuai dengan tujuan Tuhan bagi hidup saya dan paling memuliakan-Nya?”
Don’t just choose what is good. Have the wisdom to choose what honors God most.