“Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.”
— Amsal 14:4
Kita semua menyukai sesuatu yang bersih, rapi, teratur, dan mudah dikelola. Dalam pekerjaan kita menginginkan sistem yang berjalan lancar. Dalam organisasi kita menginginkan orang-orang yang mudah bekerja sama. Dalam keluarga kita menginginkan hubungan tanpa banyak persoalan. Bahkan dalam pelayanan, kita berharap semuanya dapat berjalan sesuai rencana.
Tetapi kehidupan tidak selalu seperti itu. Semakin banyak yang kita kerjakan, semakin banyak hal yang harus kita kelola. Semakin banyak orang yang kita libatkan, semakin besar kemungkinan munculnya perbedaan. Semakin kita bertumbuh, semakin banyak kompleksitas yang harus kita hadapi.
Amsal 14:4 menggambarkan realitas ini dengan sangat sederhana. Kandang tanpa lembu memang lebih mudah dijaga tetap bersih. Tidak ada kotoran yang harus dibersihkan dan tidak ada hewan yang harus dirawat. Tetapi ada satu masalah: tidak ada lembu berarti tidak ada kekuatan tambahan untuk mengerjakan ladang.
Sebaliknya, ketika ada lembu, kandang menjadi lebih kotor dan pekerjaan bertambah. Tetapi dengan kekuatan lembu, hasil panen dapat menjadi jauh lebih besar.
Di balik gambaran sederhana ini terdapat sebuah prinsip kehidupan yang penting:
If you want the harvest, you must be willing to handle the mess that comes with growth.
1. PRODUCTIVITY COMES WITH MESS
Kandang yang kosong adalah kandang yang paling mudah dijaga tetap bersih.
Tetapi clean tidak selalu berarti productive.
Pada zaman Amsal ditulis, lembu merupakan aset produktif yang sangat penting. Tenaganya dipakai untuk membajak dan mengolah tanah. Memiliki lembu berarti memiliki kapasitas untuk menghasilkan lebih banyak. Namun kapasitas itu juga membawa pekerjaan tambahan—lembu harus diberi makan, dirawat, dan kandangnya harus dibersihkan.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita. Ketika sebuah bisnis bertumbuh, jumlah persoalan yang harus diselesaikan juga bertambah. Ketika sebuah organisasi berkembang, koordinasi menjadi semakin kompleks. Ketika sebuah gereja menjangkau semakin banyak orang, kebutuhan pelayanan juga semakin beragam. Ketika kita mulai membangun sebuah tim, kita harus menghadapi perbedaan karakter, cara berpikir, kemampuan, dan bahkan konflik.
Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap setiap ketidakrapian sebagai tanda bahwa sesuatu sedang berjalan salah. Ada kekacauan yang memang harus diperbaiki, tetapi ada juga ketidakrapian yang muncul karena sesuatu sedang hidup dan bertumbuh.
Sometimes mess is not a sign that something is wrong. It is a sign that something is growing.
2. DON’T CHOOSE CONVENIENCE OVER FRUITFULNESS
Ada pilihan tersembunyi dalam Amsal 14:4.
Kita dapat memiliki kandang yang bersih tanpa lembu, atau menerima pekerjaan tambahan karena memiliki lembu yang menghasilkan panen.
Kadang-kadang tanpa sadar kita memilih apa yang paling mudah dikelola daripada apa yang paling menghasilkan buah.
Seorang pemimpin mungkin berkata, “Lebih gampang kalau saya kerjakan sendiri.” Memang benar. Pekerjaan mungkin selesai lebih cepat, kesalahan lebih sedikit, dan hasilnya lebih sesuai dengan keinginannya. Tetapi jika semuanya terus dikerjakan sendiri, tidak pernah ada orang lain yang dibangun.
Kita juga dapat menghindari mencoba sesuatu yang baru karena tidak ingin membuat kesalahan. Kita mempertahankan cara lama karena sudah familiar dan mudah dikendalikan. Semuanya mungkin terlihat aman dan rapi, tetapi lama-kelamaan kita berhenti berkembang.
Convenience selalu menggoda kita untuk mempertahankan apa yang mudah. Wisdom mengajar kita melihat apa yang menghasilkan buah.
Karena itu jangan hanya bertanya, “Mana yang lebih mudah?” Bertanyalah juga, “Mana yang akan menghasilkan lebih banyak?”
Don’t sacrifice fruitfulness just to keep everything comfortable and clean.
3. CAPACITY HAS A COST
Bagian kedua dari Amsal 14:4 mengatakan: “…tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.”
Lembu memberikan sesuatu yang tidak dimiliki petani jika ia hanya mengandalkan tenaganya sendiri: greater capacity.
Tetapi greater capacity selalu datang bersama greater responsibility.
Semakin besar organisasi, semakin banyak komunikasi yang dibutuhkan. Semakin besar tim, semakin banyak orang yang harus dikembangkan. Semakin besar pelayanan, semakin banyak sistem yang perlu dibangun. Semakin banyak kesempatan yang Tuhan percayakan, semakin banyak keputusan yang harus kita buat.
Kita sering berdoa meminta MORE—lebih banyak kesempatan, lebih banyak pengaruh, lebih banyak orang, lebih banyak pertumbuhan. Tetapi kita perlu menyadari bahwa more harvest usually means more to manage.
Jangan hanya menginginkan hasil dari kapasitas yang lebih besar. Bersiaplah juga menanggung tanggung jawab yang menyertainya. Kalau kita menginginkan lebih banyak orang, kita harus siap memimpin dan memperhatikan lebih banyak orang. Kalau kita menginginkan kesempatan yang lebih besar, kita harus siap menghadapi tuntutan dan keputusan yang lebih besar. Kalau kita menginginkan hasil yang lebih banyak, kita juga harus siap membangun sistem, kemampuan, dan kedewasaan untuk mengelolanya. Growth does not only increase what we receive; it also increases what we are responsible for.
The capacity that increases your harvest will also increase what you have to manage.
4. WISDOM KNOWS WHICH MESS IS WORTH IT
Namun Amsal 14:4 tentu tidak sedang mengajarkan bahwa semua kekacauan harus dibiarkan.
Kandang yang memiliki lembu tetap harus dibersihkan.
Ada perbedaan antara productive mess dan unnecessary mess. Ada kerumitan yang memang muncul sebagai bagian dari pertumbuhan, tetapi ada juga kekacauan yang sebenarnya terjadi karena sesuatu tidak dikelola dengan baik.
Kesalahan yang terjadi karena seseorang sedang belajar dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Tetapi kesalahan yang terus berulang karena tidak mau belajar perlu dikoreksi. Perbedaan pendapat dalam sebuah tim dapat menghasilkan ide yang lebih baik. Tetapi konflik yang muncul karena ego, komunikasi yang buruk, atau sikap tidak saling menghormati harus diselesaikan.
Kita harus belajar membedakan mana kompleksitas yang memang harus kita terima karena pertumbuhan, dan mana kekacauan yang sebenarnya harus kita perbaiki.
Wisdom is knowing which mess comes with growth and which mess needs to be fixed.
MAKE IT PERSONAL
Amsal 14:4 bukan hanya berbicara tentang bagaimana kita mengelola pekerjaan, organisasi, atau pelayanan. Prinsip ini juga mengajak kita melihat kembali bagaimana kita merespons ketidaknyamanan dalam kehidupan kita sendiri. Kadang-kadang kita terlalu cepat mengeluh ketika hidup menjadi lebih sibuk, lebih rumit, atau membutuhkan lebih banyak perhatian, tanpa menyadari bahwa sebagian dari kerumitan itu datang bersama hal-hal baik yang kita miliki.
Rumah yang berantakan karena anak-anak tentu membutuhkan tenaga untuk dibereskan, tetapi itu juga berarti ada kehidupan di dalam rumah itu. Hubungan yang dekat membutuhkan waktu, percakapan, kesabaran, dan kadang-kadang penyelesaian konflik. Memiliki lebih banyak tanggung jawab dalam pekerjaan berarti lebih banyak tekanan, tetapi bisa juga berarti kita sedang mendapatkan kepercayaan yang lebih besar. Bertumbuh dalam kapasitas berarti kita harus belajar hal-hal baru, menghadapi kelemahan kita, dan melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita lakukan.
Karena itu, ketika sesuatu mulai terasa messy, jangan langsung bertanya, “Bagaimana saya bisa keluar dari situasi ini?” Berhentilah sejenak dan tanyakan, “Apakah ini masalah yang harus saya hilangkan, atau bagian dari pertumbuhan yang harus saya belajar kelola?” Tidak setiap ketidaknyamanan harus dihindari. Ada ketidaknyamanan yang justru sedang membentuk kapasitas kita.
Secara konkret, ketika pekerjaan bertambah, jangan hanya mengeluh bahwa kita semakin sibuk—belajarlah mengatur prioritas dan waktu dengan lebih baik. Ketika hubungan mengalami gesekan, jangan langsung menjauh—belajarlah berkomunikasi dan menyelesaikan konflik dengan lebih dewasa. Ketika tanggung jawab semakin besar, jangan hanya berharap semuanya kembali seperti dulu—tingkatkan kemampuan kita untuk mengelolanya. Dan ketika sesuatu yang kita bangun mulai membutuhkan lebih banyak perhatian, jangan terlalu cepat menyerah hanya karena ternyata pertumbuhan itu tidak senyaman yang kita bayangkan.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri adalah:
What “mess” in my life am I complaining about that may actually be connected to something I once prayed for?
Mungkin kita pernah berdoa meminta pekerjaan, lalu sekarang mengeluh karena pekerjaan itu menuntut banyak dari kita. Kita pernah berdoa meminta keluarga, tetapi kemudian merasa lelah dengan tanggung jawab keluarga. Kita pernah meminta kesempatan yang lebih besar, tetapi sekarang merasa tertekan oleh tuntutan yang datang bersamanya. Kita pernah meminta Tuhan memperbesar kapasitas kita, tetapi tidak menyangka bahwa prosesnya akan membuat kehidupan menjadi lebih kompleks.
Bersyukurlah untuk hasil yang kita terima, tetapi belajarlah juga mengelola kerumitan yang datang bersamanya. Jadwal yang semakin padat perlu diatur, komunikasi yang semakin kompleks perlu diperbaiki, orang-orang yang semakin banyak perlu diperhatikan, perbedaan pendapat perlu diselesaikan, dan keputusan yang semakin banyak perlu dibuat dengan bijaksana. Growth requires us to grow too. Karena itu, ketika apa yang dipercayakan kepada kita bertambah, tingkatkan juga kemampuan kita untuk mengelolanya. A greater harvest requires a greater capacity to manage it.
Some of the mess you are dealing with today may be connected to the growth you once prayed for.
CLOSING — DON’T BE AFRAID OF THE MESS
Mungkin ada masa ketika kehidupan terasa lebih rumit daripada sebelumnya. Pekerjaan bertambah. Orang yang harus kita layani semakin banyak. Persoalan yang harus diselesaikan semakin kompleks. Kita mungkin melihat ke belakang dan berpikir, “Dulu semuanya jauh lebih sederhana.”
Mungkin memang benar.
Tetapi jangan lupa: dulu kandangnya mungkin lebih bersih karena lembunya lebih sedikit.
Jangan selalu merindukan kehidupan yang lebih sederhana kalau kompleksitas yang kita hadapi hari ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari kapasitas, kesempatan, dan pertumbuhan yang dahulu kita doakan.
Belajarlah membersihkan kandangnya. Perbaiki sistemnya. Bangun orangnya. Selesaikan konfliknya. Tingkatkan kemampuan kita untuk mengelolanya. Tetapi jangan membuang lembunya hanya karena kita tidak menyukai kotorannya.
Karena terkadang hal yang membuat hidup kita lebih sulit untuk dikelola adalah hal yang sama yang Tuhan pakai untuk membuat hidup kita lebih berbuah.
Don’t be so afraid of the mess that you miss the harvest.