Why marriage grows—or deteriorates—not by emotion, but by value.
“What we intentionally treasure will beautifully grow.”
Apa yang kita hargai dan rawat dengan sengaja akan bertumbuh dengan indah.
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
— Matius 6:21
Hampir semua pernikahan dimulai dengan perasaan yang kuat. Kita ingin selalu bersama, menyediakan waktu untuk berbicara, memperhatikan hal-hal kecil, dan dengan senang hati melakukan sesuatu untuk membahagiakan pasangan. Pada masa itu, memberi perhatian terasa mudah karena hati kita memang sedang tertuju kepadanya.
Namun seiring berjalannya waktu, kehidupan terus berubah. Kesibukan bertambah, pekerjaan semakin menyita perhatian, anak-anak membutuhkan waktu dan energi, dan tanggung jawab pun semakin banyak. Hal-hal yang dahulu kita lakukan dengan mudah dan spontan untuk pasangan, sekarang sering kali harus kita lakukan dengan sengaja.
Bukan berarti cinta sudah hilang. Namun untuk terus bertumbuh, pernikahan tidak bisa hanya bergantung pada perasaan. Perasaan mungkin membuat dua orang jatuh cinta dan ingin hidup bersama, tetapi untuk membangun pernikahan yang tetap kuat dan bertumbuh dari waktu ke waktu, dibutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perasaan: VALUE—seberapa berharganya pernikahan itu bagi kita.
Kita perlu terus melihat pasangan dan pernikahan kita sebagai sesuatu yang BERHARGA.
Karena ketika sesuatu berharga bagi kita, dengan sendirinya kita akan memberikan waktu, perhatian, dan usaha untuk menjaganya. Demikian juga dengan pernikahan. Ketika kita benar-benar menghargai pasangan dan pernikahan kita, kita tidak akan membiarkan hubungan itu berjalan begitu saja. Kita akan menyediakan waktu untuk bersama, memberi perhatian, menjaga komunikasi, dan terus belajar memahami satu sama lain. Apa yang kita hargai akan kita rawat, dan apa yang terus kita rawat akan bertumbuh.
What we intentionally treasure will beautifully grow.
1. TREASURE DIRECTS THE HEART
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
— Matius 6:21
Melalui perkataan ini, Yesus mengajarkan sebuah prinsip kehidupan yang sangat penting: apa yang kita anggap berharga akan menarik hati kita ke sana. Kita sering berpikir bahwa hati selalu datang lebih dahulu—ketika kita menyukai atau mencintai sesuatu, barulah kita memberikan waktu dan perhatian kepadanya. Namun Yesus justru menunjukkan bahwa apa yang kita pilih untuk kita hargai dan tempatkan sebagai sesuatu yang penting juga akan mengarahkan hati kita.
Itulah sebabnya apa yang kita hargai akan memengaruhi ke mana perhatian, waktu, dan energi kita diberikan. Apa yang kita anggap berharga akan mendapatkan perhatian kita; apa yang kita jadikan prioritas akan menentukan arah hidup kita. Dengan kata lain, hati kita akan semakin tertuju kepada sesuatu yang terus kita hargai dan investasikan.
What you treasure directs your heart.
What you value gets your attention.
What you prioritize shapes your life.
Prinsip yang sama juga berlaku dalam pernikahan. Ketika pernikahan benar-benar berharga bagi kita, hal itu akan terlihat dari cara kita menjalaninya. Kita menyediakan waktu untuk pasangan, memberi perhatian pada apa yang sedang ia alami, menjaga komunikasi, berusaha memahami kebutuhannya, dan dengan sengaja terus membangun kedekatan satu sama lain.
Masalahnya, sesuatu yang sudah lama kita miliki mudah sekali mulai kita anggap biasa. Kita masih mencintai pasangan, tetapi mungkin tidak lagi memberikan perhatian seperti dahulu. Kita masih menganggap pernikahan penting, tetapi tanpa disadari, hal-hal lain mulai mendapatkan waktu dan energi terbaik kita. Bukan karena kita sengaja memutuskan bahwa pernikahan tidak lagi penting, tetapi perlahan-lahan pernikahan yang seharusnya menjadi prioritas mulai menjadi sekadar salah satu dari sekian banyak hal penting dalam hidup kita.
Ketika itu terjadi, arah hati kita pun perlahan bergeser, dan apa yang dahulu menjadi prioritas mulai kehilangan tempatnya. Waktu bersama semakin sedikit, percakapan semakin terbatas, dan hal-hal kecil yang dahulu kita lakukan untuk menjaga kedekatan mulai terabaikan. Tidak selalu ada masalah besar yang menjadi penyebabnya; kedekatan dapat berkurang ketika sesuatu yang dahulu begitu berharga tidak lagi mendapatkan tempat yang sama dalam hati dan prioritas hidup kita.
Marriage does not always drift because love disappears. Sometimes it drifts because value quietly shifts.
2. WHAT WE VALUE, WE INVEST IN
Salah satu cara paling sederhana untuk mengetahui apa yang benar-benar kita hargai adalah dengan melihat ke mana kita memberikan waktu, perhatian, dan energi kita.
Kita selalu berinvestasi pada sesuatu yang kita anggap penting.
Kalau pekerjaan penting, kita menyediakan waktu untuk bekerja. Kalau kesehatan penting, kita mulai memperhatikan makanan dan berolahraga. Kalau pendidikan anak penting, kita memikirkan sekolah dan masa depan mereka.
Hal yang sama berlaku dalam pernikahan. Ketika pernikahan benar-benar berharga bagi kita, kita akan dengan sengaja menyediakan waktu, perhatian, komunikasi, kasih sayang, dan pengampunan untuk menjaganya. Hal-hal sederhana yang terus kita lakukan inilah yang dari waktu ke waktu akan memperkuat persahabatan, menumbuhkan kepercayaan, memperdalam keintiman, dan menjaga kedekatan sebagai suami istri.
Sebaliknya, ketika kita mulai merasa bahwa pernikahan akan selalu baik-baik saja tanpa perlu banyak dirawat, tanpa sadar kita mulai semakin sedikit memberikan diri untuk hubungan itu. Kita tetap tinggal bersama, menjalankan tanggung jawab, mengurus rumah dan anak-anak, bekerja, serta menyelesaikan berbagai urusan sehari-hari. Dari luar semuanya mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi perlahan hubungan kita dapat berubah menjadi sekadar menjalani hidup bersama, bukan lagi membangun kehidupan bersama.
Percakapan pun perlahan lebih banyak berisi urusan sehari-hari: siapa yang menjemput anak, apa yang perlu dibeli, tagihan apa yang harus dibayar, atau bagaimana mengatur jadwal minggu depan. Tentu tidak ada yang salah dengan membicarakan semua itu. Namun pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar mengatur kehidupan bersama; kita juga perlu terus menjaga kedekatan satu sama lain.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya masih mencintai pasangan saya?” Tanyakan juga kepada diri sendiri, “Apakah saya masih berinvestasi dalam hubungan ini?” Investasi dalam pernikahan berarti dengan sengaja memberikan waktu, perhatian, energi, dan usaha untuk terus membangun hubungan dengan pasangan. Bentuknya sering kali sangat sederhana: menyediakan waktu untuk berbicara tanpa terganggu oleh handphone, makan atau pergi berdua, mendengarkan ketika pasangan bercerita, menunjukkan kasih sayang, mengucapkan terima kasih, membantu ketika ia lelah, atau segera menyelesaikan kesalahpahaman sebelum menjadi semakin besar. Sebab kita dapat mengatakan bahwa pernikahan itu penting, tetapi seberapa berharganya pernikahan bagi kita akan terlihat dari seberapa besar kita bersedia berinvestasi di dalamnya.
What we truly value will eventually show up in how we live.
Ya. Ini justru dapat membuat Point 3 lebih dalam secara teologis: value menjelaskan mengapa kita menjaga pernikahan, covenant commitment menjelaskan mengapa kita tetap menjaganya ketika feelings berubah. Saya akan memasukkannya tanpa membuat point ini berubah menjadi pembahasan panjang tentang covenant.
3. LOVE BEYOND FEELINGS
Perasaan adalah bagian yang indah dari sebuah pernikahan. Kita tentu ingin tetap merasakan cinta, kedekatan, dan kebahagiaan bersama pasangan. Namun kita juga perlu menyadari bahwa perasaan tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Ada masa ketika kita merasa sangat dekat dan menikmati setiap kebersamaan, tetapi ada juga masa ketika kesibukan, tekanan, atau berbagai persoalan hidup membuat hubungan terasa lebih biasa.
Perasaan kita mudah dipengaruhi oleh keadaan. Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, kesehatan, kelelahan, perubahan dalam keluarga, bahkan kurang tidur dapat memengaruhi suasana hati dan cara kita berhubungan dengan pasangan. Karena itu, kalau cara kita memperlakukan pasangan hanya ditentukan oleh apa yang sedang kita rasakan, kualitas hubungan kita pun akan mudah berubah mengikuti keadaan.
Di sinilah pentingnya melihat pernikahan sebagai sesuatu yang BERHARGA. Ketika kita tahu bahwa sesuatu berharga, kita tidak menjaganya hanya ketika kita sedang ingin atau merasa senang melakukannya. Kita menjaganya karena kita tahu NILAINYA. Demikian juga dalam pernikahan. Kita tetap menyediakan waktu sekalipun sedang sibuk, tetap berusaha mendengarkan sekalipun sedang lelah, tetap belajar memahami ketika ada perbedaan, dan tetap menunjukkan kasih sekalipun perasaan kita tidak selalu sekuat ketika pertama kali jatuh cinta.
Namun bagi orang percaya, pernikahan adalah sesuatu yang bernilai karena pernikahan merupakan sebuah COVENANT—perjanjian. Maleakhi 2:14 menyebut istri sebagai “teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.” Pernikahan bukan hanya dibangun di atas perasaan cinta, tetapi juga di atas komitmen yang telah kita buat di hadapan Tuhan dan satu sama lain. Karena itu, kita tidak menjaga pernikahan hanya ketika pasangan membuat kita merasa bahagia atau ketika hubungan sedang berjalan dengan baik. Kita menjaganya karena kita menyadari betapa berharganya covenant yang telah kita buat dan memilih untuk tetap setia kepadanya sekalipun perasaan berubah.
Inilah salah satu bentuk kedewasaan dalam pernikahan. Cinta tidak lagi hanya berkata, “I love you because of what I feel,” tetapi bertumbuh menjadi, “I choose to love you because of what I value and what I have committed to.” Bukan berarti perasaan tidak penting. Justru ketika komitmen membuat kita terus menyediakan waktu, memberi perhatian, mengampuni, dan membangun kedekatan, kita menciptakan ruang bagi perasaan cinta untuk terus dipelihara dan bertumbuh.
Justru karena komitmen itulah kita terus menyediakan waktu, memberi perhatian, mengampuni, dan membangun kedekatan sehingga perasaan cinta memiliki ruang untuk terus dipelihara dan bertumbuh.
Karena itu, ketika kita benar-benar menghargai pernikahan dan memahami arti COVENANT yang telah kita buat, kita tidak akan membiarkan hubungan itu berjalan begitu saja. Kita akan dengan sengaja menjaganya dan terus berinvestasi di dalamnya. Investasi yang kita lakukan dari hari ke hari inilah yang menciptakan ruang bagi kasih untuk terus bertumbuh.
Pada akhirnya, perasaan memang dapat berubah mengikuti musim kehidupan. Tetapi pernikahan tidak dibangun hanya di atas apa yang kita rasakan hari ini. Kita menjaga apa yang kita hargai, dan kita tetap setia kepada apa yang telah kita janjikan.
DON’T TAKE FOR GRANTED WHAT IS PRECIOUS
Setelah bertahun-tahun menikah, tantangannya mungkin bukan kita berhenti mencintai pasangan, tetapi kita mulai terbiasa dengan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga. Orang yang dahulu begitu kita nantikan kehadirannya sekarang selalu ada di dekat kita. Percakapan yang dahulu bisa berlangsung berjam-jam sekarang mudah tergantikan oleh kesibukan atau layar di tangan kita. Tanpa disadari, sesuatu yang dahulu begitu kita hargai perlahan mulai kita anggap biasa.
The danger of familiarity is that we start taking for granted what we once treasured.
Karena itu, pernikahan perlu terus dijaga dengan sengaja. Jangan hanya mengingat mengapa dahulu kita jatuh cinta, tetapi teruslah menghargai orang yang hari ini masih berjalan bersama kita. Jangan hanya mengatakan bahwa pernikahan adalah prioritas; biarkan waktu, perhatian, dan investasi kita menunjukkan betapa berharganya pernikahan itu bagi kita.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya, “Do I still love my spouse?” tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Does the way I live show that I still treasure my marriage?”
Apa yang kita hargai akan mendapatkan perhatian kita. Apa yang kita perhatikan akan kita rawat dan investasikan. Dan apa yang terus kita rawat memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh.
What we intentionally treasure will beautifully grow.
REFLECTION FOR COUPLES
- Apa yang mendapatkan energi terbaik kita setiap minggu—dan apa yang hanya mendapatkan sisanya?
- Kalau seseorang melihat kalender dan kebiasaan kita, apakah ia akan melihat bahwa pernikahan kita benar-benar bernilai bagi kita?
- Kapan terakhir kali kita memberikan perhatian kepada pasangan bukan karena ada masalah, tetapi hanya karena we treasure them?
- Apa satu hal sederhana yang dapat kita lakukan minggu ini untuk kembali menginvestasikan diri dalam pernikahan kita?