Banyak orang memasuki pernikahan dengan sebuah harapan: “Ketika saya menemukan orang yang tepat, hidup saya akan menjadi lengkap.” Kita berharap pasangan akan membuat kita bahagia, menghilangkan kesepian, menyembuhkan luka masa lalu, memberikan rasa aman, bahkan membuat kita merasa lebih berharga.
Karena itu kita sering mendengar ungkapan romantis, “You complete me.” Kedengarannya indah, tetapi dapat menjadi beban yang terlalu berat untuk diletakkan di atas pundak seseorang.
Pasangan kita dapat memperkaya hidup kita, tetapi ia tidak diciptakan untuk menjadi sumber keutuhan kita.
Ada dua hal yang penting untuk kita pahami tentang pernikahan: UTUH dan MENJADI SATU. Keutuhan berbicara tentang pribadi yang kita bawa masuk ke dalam pernikahan. Menjadi satu berbicara tentang hubungan yang kita bangun setelah kita menikah.
1. UTUH — DON’T EXPECT MARRIAGE TO COMPLETE YOU
Ada sebuah harapan yang cukup sering dibawa orang ke dalam pernikahan: “Ketika saya menemukan orang yang tepat dan menikah, hidup saya akan menjadi lengkap.” Kita berharap pasangan akan mengisi kekosongan dalam diri kita, membuat kita bahagia, memberikan rasa aman, bahkan menyembuhkan luka masa lalu.
Tetapi marriage will not make us whole. Pernikahan dapat menjadi salah satu bagian terindah dalam kehidupan, tetapi tidak pernah dirancang untuk menjadi sumber keutuhan kita. Karena itu, sebelum mencari seseorang untuk hidup bersama, kita perlu belajar menjadi pribadi yang sehat dan utuh.
Keutuhan bukan berarti kita harus sempurna sebelum menikah. Wholeness berarti kita semakin mengenal dan menerima diri kita, bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, serta tidak menggantungkan identitas dan nilai diri kita kepada orang lain.
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia.”
— Kolose 2:9–10
Paulus mengingatkan bahwa kepenuhan hidup kita ditemukan di dalam Kristus, bukan di dalam orang lain. Kita tidak perlu menunggu sampai seseorang mencintai, menerima, atau menikahi kita untuk merasa bahwa hidup kita lengkap dan berharga. Pasangan dapat mengasihi, menemani, mendukung, dan memperkaya kehidupan kita, tetapi ia tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sumber keutuhan kita.
Marriage is not where we find our wholeness. Our wholeness is found in Christ.
Apa yang belum selesai dalam diri kita juga tidak otomatis selesai ketika kita menikah. Insecurity, luka, kepahitan, atau kebutuhan akan penerimaan dapat ikut masuk bersama kita ke dalam pernikahan. Bahkan tanpa sadar, kita dapat menuntut pasangan untuk menyembuhkan luka yang bukan dia penyebabnya.
Marriage does not automatically heal what we refuse to deal with.
Karena itu, sebelum memasuki pernikahan, belajarlah membangun keutuhan diri. Kenali diri kita, hadapi luka dan insecurity kita, bangun hubungan pribadi dengan Tuhan, belajar mengelola emosi, mengambil keputusan, meminta maaf, mengampuni, dan bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri.
Menjadi utuh bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain. Tetapi kita tidak menikah supaya seseorang melengkapi apa yang kurang dalam diri kita. Kita belajar menjadi pribadi yang utuh supaya kita dapat masuk ke dalam pernikahan dengan lebih sehat dan belajar mengasihi pasangan kita dengan sehat.
Don’t get married to become whole.
Become whole so you can build a healthy marriage.
2. MENJADI SATU — MARRIAGE IS ABOUT ONENESS
Menariknya, Alkitab tidak menggambarkan tujuan pernikahan dengan kata complete, tetapi dengan kata one.
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
— Kejadian 2:24
Yesus mengulangi prinsip yang sama dalam Matius 19:5–6, dan Paulus kembali mengutipnya dalam Efesus 5:31. Sejak awal, rancangan Tuhan bagi pernikahan bukan sekadar dua orang hidup bersama, tetapi dua pribadi yang belajar menjadi satu.
Kita memulai kehidupan dalam fase dependence—bergantung kepada orang lain. Seiring bertambahnya kedewasaan, kita seharusnya masuk ke fase independence—mampu berdiri sendiri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas kehidupan sendiri. Namun usia tidak selalu berarti kedewasaan. Ada orang yang sudah dewasa tetapi masih menggantungkan rasa aman, kebahagiaan, bahkan keputusan hidupnya kepada orang lain.
Masalahnya, seseorang yang belum utuh dapat masuk ke dalam pernikahan dengan harapan pasangannya akan membuatnya utuh. Ia melihat pernikahan seperti 50% + 50% = 100%—you complete me. Akibatnya, ia terus menuntut pasangan untuk memenuhi apa yang dirasanya kurang dalam dirinya.
A healthy marriage is not 50% + 50%. It is 100% + 100%.
Tetapi pernikahan juga tidak boleh berhenti pada independence. Dua orang dapat sama-sama mandiri tetapi tetap hidup sendiri-sendiri: my career, my money, my time, my dreams, my decisions. Fokusnya masih “aku”—apa yang aku inginkan dan apa yang menjadi kepentinganku.
Pernikahan yang sehat membawa dua pribadi yang mandiri menuju interdependence. Saya mampu berdiri sendiri, tetapi saya memilih untuk menyatukan kehidupan saya dengan kehidupanmu. Saya tidak membutuhkan kamu untuk memberikan identitas kepada saya, tetapi saya memilih kamu untuk membangun kehidupan bersama saya.
Inilah oneness. Menjadi satu tidak berarti kehilangan individualitas, tetapi berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat kehidupan. Fokusnya berubah dari “aku” menjadi “kita.”
Dari my life menjadi our life.
Dari my money menjadi our stewardship.
Dari my problem menjadi our problem.
Dari my dream menjadi our future.
Dari what do I want? menjadi what is best for us?
Di sinilah “I” harus semakin mati dan “we” harus semakin hidup. Kita belajar mengalah, mempertimbangkan pasangan, mengambil keputusan bersama, dan bekerja sebagai satu tim. Karena pernikahan yang sehat bukan kompetisi tentang siapa yang menang, tetapi teamwork untuk membangun kehidupan yang lebih berbuah bersama.
Wholeness says, “I can stand on my own.”
Oneness says, “Now I choose to walk with you.”
3. ONENESS IS SOMETHING WE BUILD
Kita menjadi suami dan istri pada hari pernikahan, tetapi menjadi satu adalah proses sepanjang kehidupan. Kejadian 2:24 menggambarkan bagaimana sebuah pernikahan dibangun:
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
— Kejadian 2:24
Ada sebuah proses di dalam ayat ini: meninggalkan, bersatu, lalu menjadi satu daging. Pernikahan menciptakan sebuah hubungan yang baru, tetapi oneness harus terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita meninggalkan pola hidup yang hanya berpusat pada diri sendiri, belajar melekat kepada pasangan, dan membangun kehidupan sebagai “kita.”
Hal ini tidak selalu mudah karena dua orang datang dari dua keluarga dan latar belakang yang berbeda. Cara berkomunikasi berbeda, kebiasaan berbeda, cara menghadapi konflik berbeda. Ekspektasi tentang uang, seks, anak, pekerjaan, keluarga besar, bahkan cara menggunakan waktu bisa berbeda. Karena itu, tinggal bersama tidak otomatis berarti hidup dalam oneness.
Ada pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tetapi perlahan menjalani dua kehidupan yang terpisah di bawah satu atap. Mereka memiliki kesibukan, aktivitas, bahkan dunia emosional masing-masing. Secara status mereka menikah, tetapi secara hubungan mereka semakin jauh.
Itulah sebabnya oneness harus terus dibangun. Kita membangunnya ketika menyediakan waktu satu sama lain, berkomunikasi dengan jujur, belajar mendengarkan, menyelesaikan konflik dengan sehat, membangun keintiman, mengambil keputusan bersama, dan terus belajar mengenal pasangan kita.
Oneness is not automatic. It is intentional.
Kita menikah dalam satu hari, tetapi kita belajar menjadi satu sepanjang kehidupan.
A strong marriage is not something you find.
It is something you build.
CLOSING — UTUH DAN MENJADI SATU
Pernikahan yang sehat tidak dimulai dengan mencari seseorang yang dapat membuat hidup kita lengkap. Marriage will not make us whole. Karena itu, sebelum memasuki pernikahan, belajarlah menjadi pribadi yang utuh—mengenal diri, bertanggung jawab atas kehidupan sendiri, menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, dan menemukan identitas serta kepenuhan kita di dalam Kristus.
Tetapi setelah menikah, perjalanan kita tidak berhenti pada “saya sudah utuh.” Tuhan memanggil dua pribadi yang utuh untuk belajar menjadi satu. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang saya mau?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang terbaik bagi kita?” Kita belajar mengalah, berbagi, menyesuaikan diri, mengambil keputusan bersama, dan membangun kehidupan sebagai satu tim.
Dan ONENESS tidak terjadi dengan sendirinya. Kita menikah dalam satu hari, tetapi kita belajar menjadi satu sepanjang kehidupan. Setiap percakapan, keputusan, pengampunan, pengorbanan, dan waktu yang kita berikan kepada pasangan adalah bagian dari proses membangun kesatuan itu.
Jadi jangan masuk ke dalam pernikahan untuk mencari seseorang yang akan melengkapi hidup kita. Bangunlah keutuhan kita di dalam Kristus, lalu bawalah diri kita sepenuhnya ke dalam pernikahan dan teruslah belajar menjadi satu.
Be whole. Become one.
That is the journey of a healthy marriage.