Knowing What to Do When No One Tells You What to Do
Dari pengalaman saya berinteraksi dan bekerja dengan banyak orang, saya melihat satu persoalan yang cukup sering terjadi dalam dunia kerja. Ada orang-orang yang sebenarnya memiliki kemampuan, pengetahuan, dan potensi yang baik, tetapi dalam pekerjaan sehari-hari masih membutuhkan cukup banyak arahan. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana, mereka cenderung menunggu seseorang memberitahu apa yang harus dilakukan, baru bergerak setelah masalah terjadi, atau kesulitan mencari alternatif ketika cara yang biasa tidak berhasil.
Padahal, salah satu tanda seseorang semakin berkembang dalam pekerjaannya adalah semakin mampu bekerja tanpa harus terus-menerus menunggu arahan. Ia tidak hanya memahami apa yang menjadi tugasnya, tetapi juga mampu membaca keadaan, melihat apa yang perlu dilakukan, dan mengambil inisiatif untuk mengerjakannya. Ia belajar mengantisipasi daripada sekadar menunggu, mencari solusi daripada hanya menunggu perintah, dan melihat berbagai kemungkinan ketika menghadapi persoalan.
Dunia kerja tidak selalu menyediakan petunjuk langkah demi langkah. Ada saat ketika informasi belum lengkap, keadaan berubah, rencana tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau masalah muncul tanpa diduga. Dalam situasi seperti itu, kita perlu mampu membaca situasi, menentukan prioritas, memikirkan beberapa alternatif, dan mengambil tindakan yang tepat. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang harus saya kerjakan?” tetapi mulai berpikir, “Apa yang perlu dilakukan dalam situasi ini?”
Misalnya, ketika melihat sebuah pekerjaan berpotensi terlambat, kita tidak menunggu sampai tenggat waktu terlewati baru bereaksi. Kita mencari tahu apa yang menghambat, menghubungi pihak yang terkait, memikirkan alternatif, dan mengambil langkah untuk mencegah masalah menjadi lebih besar. Kita tidak hanya bereaksi terhadap apa yang sudah terjadi; kita belajar mengantisipasi apa yang mungkin terjadi.
Kemampuan seperti inilah yang sering disebut street smart. Street smart bukan berarti kita harus selalu mengetahui jawabannya. Street smart berarti kita terus mengembangkan kemampuan untuk membaca keadaan, berpikir praktis, mengambil inisiatif, dan menemukan jalan keluar ketika tidak ada seseorang yang memberitahu kita apa yang harus dilakukan.
Kabar baiknya, street smart dapat dipelajari dan dikembangkan oleh setiap orang. Kita dapat melatih diri untuk lebih peka membaca keadaan, lebih cepat mengantisipasi, lebih kreatif melihat pilihan, dan lebih berorientasi pada solusi. Tujuannya bukan supaya kita tidak pernah membutuhkan arahan, tetapi supaya kita terus bertumbuh menjadi pribadi yang semakin dapat dipercaya—mampu melihat apa yang perlu dilakukan dan membuat sesuatu bergerak maju.
Ada tujuh kebiasaan yang dapat kita latih.
1. DON’T WAIT TO BE TOLD — Look for What Needs to Be Done
“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas….”
— Amsal 6:6–8
Salah satu kemampuan penting dalam bekerja adalah tidak selalu menunggu seseorang memberitahu apa yang harus dilakukan. Kita memahami tanggung jawab kita, memperhatikan apa yang sedang terjadi, lalu mulai melihat apa lagi yang perlu dikerjakan. Ini adalah kebiasaan untuk tidak hanya menunggu pekerjaan datang kepada kita, tetapi secara aktif melihat apa yang membutuhkan perhatian kita.
Menariknya, ketika Amsal meminta kita belajar dari semut, salah satu hal yang ditekankan adalah bahwa semut bekerja “biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya.” Tidak ada seseorang yang harus terus-menerus berdiri di belakangnya untuk mengatakan, “Sekarang lakukan ini. Setelah itu lakukan itu.” Semut mengenali apa yang perlu dikerjakan pada musimnya dan mengerjakannya tanpa harus terus-menerus diarahkan.
Dalam dunia kerja, kemampuan seperti ini membuat seseorang semakin dapat dipercaya. Setelah menyelesaikan sebuah tugas, ia tidak langsung berhenti dan menunggu instruksi berikutnya. Ia melihat sekeliling, memperhatikan pekerjaan yang sedang berjalan, dan mulai bertanya, “Apa lagi yang perlu dilakukan? Apa yang membutuhkan perhatian? Di mana saya dapat memberikan kontribusi?” Semakin kita mengenal pekerjaan dan tanggung jawab kita, semakin kita seharusnya mampu melihat apa yang perlu dilakukan tanpa harus selalu diberitahu.
Tentu saja, ada keputusan yang membutuhkan persetujuan, batas kewenangan yang harus dihormati, dan saat ketika kita memang perlu meminta arahan. Mengambil inisiatif bukan berarti bertindak sesuka hati. Kita tetap perlu mengetahui kapan dapat bertindak sendiri dan kapan harus bertanya. Tetapi jangan menjadikan kebutuhan akan arahan sebagai kebiasaan untuk selalu menunggu.
Tiga cara melatih diri
- Jangan hanya menunggu arahan. Biasakan bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya kerjakan sekarang?” sebelum menunggu seseorang memberikan tugas berikutnya.
- Ketika tidak ada pekerjaan yang sedang diberikan, carilah apa yang bisa dikerjakan. Jangan hanya berhenti dan menunggu tugas berikutnya. Biasakan melihat apa yang dapat kita kerjakan tanpa harus selalu menunggu arahan.
- Belajarlah bekerja tanpa harus terus-menerus diawasi. Ketika tidak ada seseorang yang memberi arahan, tetap kerjakan apa yang sudah kita ketahui menjadi tanggung jawab kita dan selesaikan dengan baik.
Tujuannya sederhana: jangan selalu menunggu untuk diberitahu. Latihlah diri untuk melihat apa yang perlu dilakukan dan kerjakan bagian yang memang dapat kita kerjakan.
Don’t wait to be told. Look for what needs to be done.
2. THINK AHEAD — Anticipate, Don’t Just React
“Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”
— Amsal 22:3
Orang yang street smart tidak hanya memikirkan apa yang sedang terjadi sekarang, tetapi juga apa yang kemungkinan akan terjadi berikutnya. Ia belajar melihat ke depan, mengenali kemungkinan, dan mempersiapkan diri sebelum sesuatu menjadi masalah.
Salah satu cara melatih kemampuan ini adalah dengan belajar think two steps ahead. Artinya, jangan hanya memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang, tetapi pikirkan juga apa yang kemungkinan terjadi sebagai akibatnya, lalu apa yang akan dibutuhkan setelah itu. Kita belajar melihat pekerjaan sebagai sebuah rangkaian, bukan sebagai tugas-tugas yang berdiri sendiri.
Think two steps ahead juga berarti memikirkan dampak dari keputusan atau tindakan kita sebelum kita melakukannya. Apakah keputusan ini akan memengaruhi pekerjaan orang lain? Apakah ada orang yang perlu diberi tahu atau diajak berkoordinasi sebelumnya? Apakah tindakan kita berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, keterlambatan, atau masalah baru? Jika ya, pikirkan apa yang dapat kita lakukan sekarang untuk mencegahnya. Jangan hanya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” tetapi juga, “Apa yang mungkin terjadi setelah saya melakukannya?”

Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin penting kemampuan untuk melihat beberapa langkah ke depan. Jangan terus menjadi orang yang baru bergerak setelah masalah terjadi. Belajarlah mengantisipasi apa yang mungkin terjadi dan melakukan sesuatu sebelum terlambat.Tiga cara melatih diri kita
Antisipasi sebelum menjadi masalah. Setelah melihat apa yang mungkin terjadi dan siapa yang mungkin terdampak, lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang. Siapkan informasi yang mungkin dibutuhkan, komunikasikan lebih awal, siapkan alternatif, atau selesaikan sesuatu lebih dahulu. Jangan menunggu masalah muncul untuk mulai memikirkan solusinya.
Tiga cara melatih diri kita
- Pikirkan apa yang terjadi berikutnya. Jangan hanya fokus pada apa yang harus dilakukan sekarang. Biasakan bertanya, “Setelah ini, apa yang akan terjadi?” dan “Apa yang kemungkinan akan dibutuhkan berikutnya?”Latih diri untuk melihat pekerjaan beberapa langkah ke depan.
- Pikirkan dampaknya terhadap orang lain. Setiap keputusan atau tindakan kita dapat memengaruhi pekerjaan orang lain. Biasakan bertanya, “Siapa yang akan terdampak?” “Siapa yang perlu tahu?” dan “Apakah saya perlu berkomunikasi atau berkoordinasi dengan seseorang terlebih dahulu?” Banyak kesalahpahaman dan miskomunikasi dapat dicegah ketika kita memikirkan dampaknya sebelum bertindak.
- Kemampuan think ahead bukan berarti kita dapat mengetahui masa depan. Kita hanya belajar tidak selalu menunggu sesuatu terjadi baru kemudian bereaksi. Semakin kita terbiasa melihat kemungkinan, memikirkan dampaknya, dan mempersiapkan langkah berikutnya, semakin kita mampu bekerja dengan tenang dan mengambil inisiatif.
Think ahead. Don’t wait for a problem to become a problem.
3. PAY ATTENTION — See Where You Can Make a Difference
“Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.”
— Amsal 24:32
Kita tidak mungkin mengetahui apa yang perlu dilakukan kalau kita tidak benar-benar memperhatikan apa yang sedang terjadi.
Dalam Amsal 24, penulis berjalan melewati sebuah ladang. Ia melihat semak duri, tanah yang tertutup rumput liar, dan tembok yang roboh. Tetapi ia tidak sekadar melihat. Ia berhenti, memperhatikan, memikirkan apa yang dilihatnya, lalu menarik pelajaran.
Dua orang dapat melihat situasi yang sama tetapi menangkap hal yang berbeda. Yang satu hanya melihat apa yang ada di depan mata. Yang lain melihat apa yang sedang berubah, apa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Semakin kita melatih perhatian, semakin kita mampu melihat apa yang mungkin tidak dilihat orang lain. Kita mulai mengenali apa yang berubah, menangkap pola, menemukan detail yang terlewatkan, dan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang yang memiliki perhatian yang baik sering kali dapat melihat sesuatu sebelum hal itu menjadi terlalu besar untuk diabaikan.
Tetapi tujuan memperhatikan bukan hanya supaya kita menjadi lebih observant. Perhatian membantu kita melihat di mana kita dapat memberi kontribusi. Ketika kita benar-benar memperhatikan, kita mulai melihat sesuatu yang bisa diperbaiki, pekerjaan yang bisa dibantu, proses yang bisa dibuat lebih baik, kebutuhan yang belum terpenuhi, atau masalah kecil yang bisa diselesaikan sebelum menjadi besar. Sering kali kita tidak perlu menunggu seseorang memberi tahu apa yang harus dilakukan—kita hanya perlu cukup peka untuk melihat di mana kita dapat membuat perbedaan.
Tiga cara melatih diri kita
- Perhatikan apa yang berbeda dari biasanya. Biasakan mengenali perubahan kecil. Apa yang mulai berubah? Apa yang biasanya berjalan baik tetapi sekarang tidak? Apa yang sebelumnya tidak pernah terjadi tetapi mulai muncul?
- Perhatikan apa yang berulang. Satu kejadian mungkin kebetulan, tetapi sesuatu yang terus terjadi bisa menunjukkan sebuah pola. Keluhan yang sama, kesalahan yang berulang, keterlambatan yang terus terjadi, atau angka yang terus bergerak ke arah tertentu layak mendapatkan perhatian lebih.
- Perhatikan apa yang sering terlewatkan. Jangan hanya melihat hal-hal besar dan jelas. Perhatikan detail kecil, kebutuhan yang tidak diucapkan, bagian pekerjaan yang sering diabaikan, atau sesuatu yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Sering kali justru di situlah kita menemukan kesempatan untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik.
Pay attention to what you see every day. There is always something to notice, improve, or do.
4. MAKE GOOD JUDGMENTS — Use Your Common Sense
“Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau.”
— Amsal 2:11
Alkitab tidak mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan tanpa berpikir. Amsal justru berulang kali mendorong kita untuk memiliki hikmat, pengertian, dan pertimbangan yang baik. Kita tidak hanya perlu mengetahui apa yang benar, tetapi juga belajar menilai situasi dan menentukan apa yang tepat untuk dilakukan.
Tidak semua situasi dalam pekerjaan memiliki aturan yang menjelaskan dengan tepat apa yang harus kita lakukan. Ada banyak hal yang tidak tertulis di job description, tidak dibahas dalam SOP, dan tidak selalu sempat ditanyakan kepada atasan. Dalam situasi seperti itu, kita perlu belajar menggunakan pertimbangan yang baik dan common sense.
Common sense adalah kemampuan untuk melihat situasi dan berpikir, “Dalam keadaan seperti ini, apa yang paling masuk akal untuk dilakukan?” Kita menggunakan informasi yang kita miliki, pengalaman yang sudah kita pelajari, memahami konteksnya, lalu mengambil tindakan yang wajar.
Masalahnya, kadang-kadang kita sebenarnya bisa berpikir, tetapi tidak mau repot berpikir. Sedikit menemui situasi yang berbeda, langsung bertanya. Ada informasi yang kurang sedikit, langsung berhenti. Ada persoalan kecil, langsung dilemparkan kepada atasan. Padahal banyak hal sebenarnya dapat diselesaikan kalau kita mau berhenti sebentar, memperhatikan keadaan, dan menggunakan pikiran kita.
Jangan sedikit-sedikit bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya dapat kita pikirkan sendiri. Sebelum bertanya, coba pikirkan: Apa yang sudah saya ketahui? Apa yang biasanya dilakukan dalam situasi seperti ini? Apa pilihan yang paling masuk akal? Apakah saya sebenarnya sudah tahu jawabannya?
Orang yang memiliki good judgment juga tidak menerapkan aturan secara kaku tanpa memahami tujuannya. Rules are important, but rules cannot anticipate every situation. Karena itu kita perlu memahami bukan hanya what the rule says, tetapi juga why the rule exists. Ketika kita memahami tujuan di balik sebuah aturan, kita lebih mampu mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi situasi yang tidak persis sama dengan apa yang tertulis.
Common sense juga berarti mempertimbangkan konsekuensi sederhana dari tindakan kita. Kalau saya melakukan ini, apa yang mungkin terjadi? Apakah ini akan menyelesaikan masalah atau justru menciptakan masalah baru? Apakah keputusan ini masuk akal bagi orang lain yang terdampak? Good judgment tidak hanya melihat apa yang bisa dilakukan, tetapi apa yang sebaiknya dilakukan.
Kedewasaan dalam bekerja terlihat ketika kita tidak hanya mampu follow instructions, tetapi juga mampu exercise good judgment.
Semakin kita berkembang dalam pekerjaan, seharusnya semakin sedikit hal-hal sederhana yang harus terus diputuskan oleh orang lain untuk kita. Bukan berarti kita tidak boleh bertanya. Ada keputusan yang memang perlu dikonsultasikan, terutama ketika menyangkut risiko besar, uang, orang lain, atau hal di luar kewenangan kita. Tetapi kita perlu belajar membedakan kapan kita memang membutuhkan arahan dan kapan kita hanya perlu menggunakan pikiran kita.
Tiga cara melatih diri kita
- Think before you ask. Jangan sedikit-sedikit bertanya hanya karena malas berpikir. Sebelum bertanya, berhenti sejenak dan pikirkan dulu: Apa yang sudah saya ketahui? Apa yang sudah saya coba? Apa kemungkinan jawabannya? Dan ketika memang perlu bertanya, ajukan pertanyaan yang berkualitas—jelas, spesifik, dan menunjukkan bahwa kita sudah menggunakan pikiran kita terlebih dahulu.
- Ask what makes sense. Ketika tidak ada petunjuk yang jelas, gunakan informasi, pengalaman, konteks, dan logika sederhana untuk menentukan tindakan yang paling masuk akal.
- Know when to ask. Common sense bukan berarti melakukan semuanya sendiri. Kalau risikonya besar, dampaknya luas, atau kita memang tidak memiliki cukup informasi dan kewenangan, bertanyalah.
Don’t switch off your brain just because no one told you what to do.
5. BE CREATIVE — Look for What’s Possible
“Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik…”
— Amsal 14:8
“Wisdom lets smart people know what they are doing, but stupid people only think they know.”
— Proverbs 14:8 ERV
Amsal 14:8 mengatakan bahwa hikmat membuat seseorang tahu apa yang sedang dilakukannya. Sebaliknya, “stupid people only think they know”—orang bodoh merasa sudah tahu, sehingga tidak lagi merasa perlu berpikir, bertanya, atau mempertimbangkan kemungkinan lain. Ia mudah terjebak dalam “biasanya memang begini” dan menganggap cara yang selama ini dilakukan adalah satu-satunya cara. Orang berhikmat memiliki pikiran yang lebih terbuka. Ia menggunakan pikirannya, memperhatikan apa yang sedang dihadapi, dan mempertimbangkan apakah ada cara lain yang lebih tepat atau lebih baik. Wisdom doesn’t just follow the usual way. Wisdom thinks about the way.
Dalam pekerjaan, kita tidak selalu mendapatkan petunjuk langkah demi langkah. Ada saat ketika cara yang biasa tidak lagi berhasil, keadaan berubah, atau muncul persoalan yang belum pernah kita hadapi. Misalnya, anggaran untuk sebuah proyek ternyata tidak mencukupi, deadline dimajukan, orang yang biasanya mengerjakan sesuatu sedang tidak tersedia, pelanggan meminta sesuatu yang belum pernah kita lakukan, atau sistem yang biasa digunakan tiba-tiba bermasalah. Dalam situasi seperti ini, jangan langsung berhenti pada “tidak bisa.” Di sinilah kita perlu berpikir kreatif—tidak terpaku pada satu cara, tetapi membuka pikiran, melihat dari sudut yang berbeda, mencari alternatif, dan menemukan kemungkinan yang mungkin belum kita lihat sebelumnya.
Be open-minded. Think outside the box. Jangan terlalu cepat berkata, “Tidak bisa,” “Tidak mungkin,” atau “Biasanya bukan begitu caranya.” Kalimat-kalimat seperti ini sering kali menutup pikiran kita sebelum kita benar-benar mencoba memikirkan kemungkinan yang lain. Open-minded berarti kita bersedia mempertimbangkan bahwa mungkin ada cara lain selain cara yang selama ini kita kenal, sedangkan think outside the box berarti kita berani keluar dari pola, kebiasaan, dan asumsi yang membatasi cara kita berpikir. Cobalah melihat persoalan dari sudut yang berbeda, mempertimbangkan ide yang awalnya terasa tidak biasa, dan bertanya apakah sesuatu dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, lebih efektif, atau sama sekali berbeda. Kadang-kadang kita tidak melihat solusi bukan karena tidak ada jalan, tetapi karena kita hanya melihat satu jalan.
Cobalah melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Apakah ada cara lain? Pendekatan lain? Ide yang belum pernah dicoba? Jangan hanya bertanya, “Bagaimana biasanya kita melakukan ini?” tetapi juga, “Bagaimana kalau kita mencoba cara yang berbeda?”
Tiga cara melatih diri kita
- Keep an open mind. Jangan langsung menolak sesuatu hanya karena berbeda dari cara yang biasa dilakukan.
- Think beyond the usual way. Jangan hanya mengikuti cara yang sudah ada. Tanyakan, “Apakah ada cara lain yang lebih baik?”
- Look for possibilities. Ketika satu cara tidak berhasil, jangan berhenti pada “tidak bisa.” Tanyakan, “What else could we do?”
Creativity begins when we stop asking, “Why can’t it be done?” and start asking, “Why not?”
6. PAY ATTENTION TO DETAILS — Small Details Make a Big Difference
“Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu.”
— Amsal 27:23
Dalam pekerjaan, kita perlu mampu melihat big picture, tetapi kita juga perlu memperhatikan small details. Banyak pekerjaan yang sebenarnya sudah dikerjakan dengan baik akhirnya menghasilkan masalah hanya karena satu detail kecil terlewat: angka yang salah, tanggal yang keliru, nama yang tidak diperiksa, lampiran yang lupa dikirim, informasi yang tidak diteruskan, atau follow-up yang tidak dilakukan. Small details may look small, but their impact can be big.
Amsal 27:23 memberikan prinsip yang sangat sederhana: pay attention to what is under your responsibility. Seorang gembala tidak cukup hanya mengetahui berapa banyak domba yang dimilikinya. Ia perlu mengetahui keadaan mereka. Apakah semuanya ada? Apakah ada yang sakit? Apakah ada yang terluka? Apakah ada yang tertinggal? Big picturemengatakan, “Saya mempunyai kawanan domba.” Attention to detail bertanya, “Bagaimana keadaan setiap bagian dari apa yang dipercayakan kepada saya?”
Prinsip yang sama berlaku dalam pekerjaan. Jangan hanya berpikir, “Yang penting sudah selesai.” Pastikan pekerjaan itu selesai dengan benar dan lengkap. Sebelum mengirim laporan, periksa kembali angkanya. Sebelum mengirim undangan, pastikan nama, tanggal, waktu, dan lokasinya benar. Setelah meeting, pastikan siapa melakukan apa dan kapan harus selesai. Ketika seseorang meminta sesuatu, jangan hanya menjawab, “Siap,” lalu melupakannya—catat dan lakukan follow-up. Ketika mengirim email atau pesan penting, baca sekali lagi sebelum menekan send. Attention to detail means caring enough to check.
Tetapi attention to detail bukan berarti menjadi perfeksionis. Kita tidak harus menghabiskan waktu berlebihan untuk setiap hal kecil. Kita perlu belajar mengenali which details matter—detail yang dapat memengaruhi orang lain, keputusan, waktu, biaya, kualitas pekerjaan, dan hasil akhirnya. Tujuannya bukan membuat semuanya sempurna, tetapi memastikan hal-hal yang penting tidak terlewat.
Yesus berkata dalam Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Cara kita menangani hal-hal kecil menunjukkan bagaimana kita menangani tanggung jawab. Orang yang dapat dipercaya bukan hanya mampu mengerjakan pekerjaan besar. Ia juga dapat dipercaya dengan detail-detail kecil yang membuat pekerjaan besar itu benar-benar selesai dengan baik.
Itulah sebabnya attention to detail membangun trust. Ketika sebuah pekerjaan diberikan kepada orang yang teliti, orang lain tidak perlu terus-menerus memeriksa di belakangnya. Mereka tahu bahwa ia akan memperhatikan angka, tanggal, nama, proses, komunikasi, dan follow-up. Ia bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi memastikan nothing important falls through the cracks.
Tiga cara melatih diri kita
- Pay attention to the details. Jangan hanya melihat gambaran besarnya. Biasakan memperhatikan hal-hal kecil yang dapat memengaruhi hasil: nama, angka, tanggal, urutan, instruksi, dokumen, komunikasi, dan follow-up. What you don’t notice, you cannot manage well.
- Always double-check. Sebelum mengatakan sebuah pekerjaan selesai, periksa sekali lagi. Baca ulang, hitung ulang, cocokkan kembali, dan pastikan tidak ada bagian penting yang terlewat. A second look can prevent a first mistake.
- Verify, don’t assume. Jangan menganggap sesuatu pasti benar hanya karena terdengar benar. Jangan berasumsi orang lain sudah mengerjakannya, informasi yang diterima pasti akurat, atau detail tertentu tidak perlu dikonfirmasi. Untuk hal yang penting, check the facts, confirm the details, and make sure.
Pada akhirnya, kualitas pekerjaan kita tidak hanya terlihat dari kemampuan menangani hal-hal besar, tetapi juga dari kesediaan kita memperhatikan hal-hal kecil yang penting. Karena ketika sesuatu sudah dipercayakan kepada kita, detailnya juga menjadi bagian dari tanggung jawab kita.
If it matters enough to be your responsibility, it matters enough to deserve your attention.
Mind the details. Small details often make a big difference.
7. EXECUTE WELL — Get It Done, and Get It Done Well
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” — Kolose 3:23
Pada akhirnya, kemampuan membaca situasi, berpikir ke depan, menggunakan common sense, dan menemukan solusi kreatif harus menghasilkan satu hal: pekerjaan yang benar-benar selesai dan dikerjakan dengan baik. Kita tidak dinilai hanya dari apa yang kita tahu, apa yang kita pikirkan, atau apa yang kita rencanakan, tetapi juga dari apa yang benar-benar kita hasilkan.
Kolose 3:23 memberikan dasar yang sangat kuat untuk excellence. Paulus mengatakan, “apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu.” Kata Yunani yang diterjemahkan “dengan segenap hati” adalah ek psychēs (ἐκ ψυχῆς), secara harfiah berarti “from the soul”—mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, bukan asal selesai. Standar pekerjaan kita tidak seharusnya berubah hanya karena ada atau tidak ada orang yang melihat, karena pada akhirnya kita bekerja seperti untuk Tuhan.
Excellence bukan berarti perfection. Perfection menuntut semuanya harus sempurna dan tidak boleh ada kesalahan. Excellence berarti memberikan yang terbaik dengan waktu, kemampuan, dan sumber daya yang kita miliki. Ada waktunya sebuah pekerjaan memang harus selesai cepat dan tidak perlu dibuat terlalu rumit. Tetapi “tidak harus sempurna” jangan menjadi alasan untuk bekerja sembarangan.
Di dunia kerja, ada orang yang sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kesulitan membawa pekerjaannya sampai ke hasil akhir. Banyak ide, banyak diskusi, banyak rencana, tetapi eksekusinya lambat. Atau pekerjaan memang selesai, tetapi kualitasnya membuat orang lain harus memperbaiki kembali. Knowing what to do is not enough. We must be able to turn what we know into results.
Karena itu, jangan hanya menjadi orang yang starts well. Jadilah orang yang finishes well. Ketika sebuah pekerjaan dipercayakan kepada kita, ambillah ownership sampai pekerjaan itu benar-benar menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkan. Jangan mudah berhenti ketika muncul kesulitan, jangan membiarkan pekerjaan menggantung, dan jangan menganggap selesai hanya karena kita sudah mengerjakan bagian kita.
Tetapi execute well juga berarti quality matters. Jangan mempunyai mentalitas, “Yang penting sudah.” Sebelum menyerahkan pekerjaan, tanyakan: Apakah ini sudah memenuhi tujuan? Apakah hasilnya cukup baik? Apakah saya sendiri akan puas menerima pekerjaan dengan kualitas seperti ini dari orang lain? Excellence sering kali terlihat bukan dalam pekerjaan yang spektakuler, tetapi dalam kebiasaan sederhana untuk melakukan pekerjaan biasa dengan standar yang tinggi.
Orang yang dapat dipercaya bukan hanya orang yang mempunyai kemampuan, tetapi orang yang ketika diberikan tanggung jawab membuat kita merasa tenang karena kita tahu: it will get done, and it will get done well. Semakin tinggi tanggung jawab seseorang, semakin penting reputasi seperti ini. Kita tidak perlu terus mengejar, mengingatkan, atau memeriksa pekerjaannya karena ia mempunyai standar terhadap dirinya sendiri.
Tiga cara melatih diri kita
- Finish what you start. Biasakan membawa pekerjaan sampai selesai. Jangan terlalu mudah berpindah ke pekerjaan berikutnya sementara pekerjaan sebelumnya masih menggantung. Ketika menemukan hambatan, jangan langsung berhenti—cari apa yang diperlukan untuk membuat pekerjaan itu bergerak lagi.
- Set a standard for your work. Jangan bekerja hanya dengan standar “cukup” atau “yang penting selesai.”Tanyakan kepada diri sendiri, “Seperti apa hasil yang baik untuk pekerjaan ini?” Pahami tujuan, deadline, dan kualitas yang diharapkan sejak awal, lalu kerjakan menuju standar tersebut.
- Deliver, not just do. Jangan mengukur pekerjaan hanya dari berapa banyak usaha yang sudah kita keluarkan, tetapi dari apakah hasil yang dibutuhkan benar-benar sudah tercapai. Busy is not the same as productive. Belajarlah bertanggung jawab bukan hanya atas aktivitas, tetapi atas hasil akhirnya.
Pada akhirnya, excellence adalah sebuah kebiasaan. Kita tidak tiba-tiba menjadi excellent ketika mendapatkan pekerjaan besar. Kita membangunnya melalui cara kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil setiap hari.
Excellence is not about doing extraordinary things. It is about doing ordinary things extraordinarily well.
BE A GOOD STEWARD
Pada akhirnya, work smart bukan hanya tentang bagaimana kita menjadi lebih efektif dalam pekerjaan. Ini juga tentang STEWRADSHIP—bagaimana kita mengelola dengan baik apa yang Tuhan sudah percayakan kepada kita.
Tuhan memberikan kepada setiap kita kemampuan untuk berpikir, belajar, mengamati, menciptakan, dan mengembangkan diri. Ia memberikan pengalaman, kesempatan, tanggung jawab, dan potensi yang berbeda-beda. Pertanyaannya bukan hanya “Apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya?” tetapi “Apa yang saya lakukan dengan semua yang sudah Tuhan berikan?”
Dalam perumpamaan tentang talenta, sang tuan berkata kepada hamba yang mengembangkan apa yang dipercayakan kepadanya:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai HAMBAKU yang BAIK dan SETIA…. Engkau telah SETIA dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”
— Matius 25:21
Menjadi STEWARD yang baik berarti kita tidak hanya menjaga apa yang dipercayakan kepada kita, tetapi mengembangkannya. Jangan puas hanya melakukan apa yang diperintahkan. Jangan selalu menunggu seseorang memberitahu apa yang harus dilakukan. Gunakan pikiran kita. Perhatikan keadaan. Berpikirlah beberapa langkah ke depan. Berani mengambil inisiatif. Ketika satu jalan tertutup, jadilah kreatif dan carilah kemungkinan lain. Dan ketika sesuatu dipercayakan kepada kita, kerjakan sampai tuntas dan kerjakan dengan sebaik-baiknya.
SETIA bukan hanya berarti menjaga atau menyelesaikan apa yang dipercayakan kepada kita. Setia berarti ketika sesuatu dipercayakan ke dalam tangan kita, kita mengelolanya dengan sungguh-sungguh sehingga keadaannya menjadi lebih baik, potensinya semakin berkembang, dan nilainya semakin bertambah. Seorang steward yang baik tidak hanya mengembalikan apa yang dipercayakan kepadanya dalam keadaan yang sama; ia menggunakan kemampuan, kreativitas, dan kesempatan yang dimilikinya untuk membuatnya menghasilkan lebih banyak.
Don’t just do the work entrusted to you. Leave it better than you found it.
Pada akhirnya, jangan puas hanya dengan apa yang sudah kita capai hari ini. Masih ada kemampuan yang dapat dikembangkan, cara berpikir yang dapat dipertajam, dan kapasitas yang dapat diperbesar. Jadilah steward yang baik atas setiap potensi dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan hanya menyelesaikan apa yang dipercayakan kepada kita—buatlah menjadi lebih baik. Dan teruslah bertumbuh, bukan hanya supaya kita dapat bekerja lebih baik atau mencapai lebih banyak, tetapi supaya hidup kita semakin dapat dipakai untuk membawa dampak, menjadi berkat bagi orang lain, dan mengambil bagian dalam tujuan Tuhan yang lebih besar.
Don’t just grow for greater success. Grow for a greater purpose.