LABOR & PURPOSE: More Than What You Do

Hari ini kita memulai sebuah seri baru yang berjudul LABOR AND PURPOSE—sebuah seri tentang pekerjaan, keberhasilan, dan tujuan yang lebih besar dari kehidupan kita.

Mengapa kita perlu berbicara tentang pekerjaan di gereja? Karena pekerjaan bukan bagian kecil dari kehidupan kita. Sebagian besar dari kita menghabiskan bagian yang sangat besar dari hidup untuk bekerja. Kita bangun pagi, pergi ke kantor, menjalankan bisnis, memimpin perusahaan, mengurus keluarga, melayani, membangun sesuatu, menyelesaikan berbagai tanggung jawab, dan memikirkan masa depan. Bahkan ketika kita sedang tidak bekerja, pikiran kita sering kali masih memikirkan pekerjaan.

Tetapi ada alasan yang lebih dalam daripada sekadar karena pekerjaan mengambil banyak waktu kita. Pekerjaan adalah bagian dari rancangan Tuhan bagi manusia. Bahkan sebelum dosa masuk ke dalam dunia, Tuhan sudah memberikan kepada manusia sesuatu untuk dikerjakan. Dalam Kejadian 2:15, Tuhan menempatkan manusia di taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Jadi pekerjaan bukanlah akibat dari kejatuhan manusia. Dosa membuat pekerjaan menjadi berat dan penuh dengan toil, tetapi pekerjaan itu sendiri sudah ada sebelum kejatuhan.

Artinya, pekerjaan bukan hanya kebutuhan ekonomi. Kita tidak bekerja hanya supaya dapat membayar tagihan, memenuhi kebutuhan keluarga, atau mempersiapkan masa depan. Melalui pekerjaan, kita mengembangkan apa yang Tuhan percayakan, menghasilkan sesuatu yang berguna, melayani orang lain, dan mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Karena itu, Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk mengganggap enteng pekerjaan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk bekerja dengan rajin, bertanggung jawab, dan memberikan yang terbaik dalam apa yang kita kerjakan. Pekerjaan bukan sekadar bagian dari kehidupan yang harus kita jalani; apa yang kita kerjakan dan bagaimana kita mengerjakannya penting di mata Tuhan.

Namun justru karena pekerjaan begitu penting dan mengambil bagian yang begitu besar dalam kehidupan kita, ada sebuah bahaya: sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari hidup kita dapat perlahan-lahan menjadi pusat dari hidup kita.

Kita mulai mengukur hidup dari pekerjaan kita. Kita merasa berharga ketika berhasil dan merasa kehilangan nilai diri ketika gagal. Kita mengejar posisi berikutnya, pencapaian berikutnya, angka berikutnya, dan tingkat keberhasilan berikutnya. Tanpa sadar, kita dapat menjadi begitu sibuk membangun kehidupan yang berhasil sehingga tidak pernah berhenti untuk bertanya:

Untuk apa sebenarnya saya membangun semua ini?

Pertanyaan itulah yang akan kita bicarakan sepanjang seri Labor and Purpose.

Kita semua bekerja, membangun, mengejar kemajuan, dan ingin melihat hasil dari apa yang kita kerjakan. Kita membangun karier, bisnis, keluarga, pelayanan, keamanan finansial, dan masa depan. Semua itu baik dan penting.

Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa keberhasilan adalah sesuatu yang salah. Kita melihatnya dengan jelas dalam kehidupan Yakub. Setelah bertahun-tahun bekerja untuk Laban, Kejadian 30:43 mengatakan bahwa harta Yakub “sangatlah bertambah-tambah.” Tuhan menyertai Yakub dan memberkati apa yang dikerjakannya.

Tetapi kisah Yakub juga memperlihatkan sesuatu yang lebih besar. Ketika Yakub sudah berhasil membangun kehidupan, keluarga, dan kekayaannya di Haran, Tuhan berkata kepadanya, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu…” (Kejadian 31:3). Haran adalah tempat Yakub membangun kekayaan, tetapi Haran bukan tujuan akhir kehidupannya. Tuhan mempunyai purpose yang jauh lebih besar melalui hidup Yakub.

Yakub sedang membangun rumah tangganya. Tuhan sedang membangun sebuah bangsa.

Di sinilah kita mulai melihat perbedaan antara labor dan purpose. Labor berbicara tentang apa yang kita kerjakan dan bangun dengan tangan kita. Purpose membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar: Untuk apa Tuhan mempercayakan pekerjaan, kemampuan, kesempatan, keberhasilan, dan seluruh kehidupan ini kepada kita?

HIDUP BUKAN HANYA TENTANG APA YANG BERHASIL KITA BANGUN, TETAPI JUGA UNTUK APA KITA MEMBANGUNNYA.

Karena itu, sepanjang seri ini ada satu gagasan besar yang akan terus menyertai kita:

DON’T JUST BUILD A SUCCESSFUL LIFE. BUILD A LIFE THAT SERVES A GREATER PURPOSE.

Dan hari ini kita memulainya dari sesuatu yang sangat mendasar: identitas kita.

Kita akan melihat kehidupan Yakub pada akhir dua puluh tahun masa kerjanya bersama Laban. Yakub sedang menjelaskan apa yang telah ia kerjakan, bagaimana ia bekerja, apa yang telah ia korbankan, dan bagaimana Tuhan menyertainya.

Kejadian 31:38–42
(38) Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. (39) Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. (40) Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. (41) Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku. (42) Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.

Dari perkataan Yakub ini kita akan menemukan tiga hal penting tentang pekerjaan dan identitas kita—bagaimana kita memberikan yang terbaik dalam pekerjaan tanpa membiarkan pekerjaan menentukan siapa diri kita, dan bagaimana kita melihat Tuhan sebagai sumber nilai serta makna hidup kita.


1. GIVE YOUR BEST TO WHAT YOU DO

Yakub menghabiskan dua puluh tahun bekerja untuk Laban. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Sebagian besar kehidupan dewasanya sampai saat itu dijalani sebagai pekerja Laban. Ia menggembalakan ternak, menjaga milik Laban, bekerja dalam panas siang dan dingin malam, bahkan menanggung sendiri kerugian ketika ternak hilang.

Kejadian 31:38–40
(38) Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. (39) Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. (40) Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.

Perkataan Yakub ini memperlihatkan bagaimana ia menjalani pekerjaannya selama dua puluh tahun. Yakub bukan seorang yang malas. Ia adalah seorang hard worker. Ia bekerja dengan diligence dan responsibility. Ia menjaga dengan serius apa yang dipercayakan kepadanya, bahkan ketika pekerjaan itu menuntut pengorbanan yang tidak sedikit.

Dan hasilnya terlihat. Kehadiran dan pekerjaan Yakub membawa value bagi tempat ia bekerja. Bahkan Laban sendiri mengakuinya:

Kejadian 30:27
“TUHAN memberkati aku karena engkau.”

Ada sesuatu yang sangat indah di sini. Laban bukan orang yang selalu memperlakukan Yakub dengan benar, tetapi Yakub tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Artinya, kualitas pekerjaan kita seharusnya tidak hanya ditentukan oleh kualitas orang yang memimpin kita. Kita mungkin tidak selalu dapat memilih lingkungan kerja, atasan, keadaan, atau perlakuan yang kita terima, tetapi kita tetap dapat memilih bagaimana kita menjalankan apa yang dipercayakan kepada kita.

DON’T LET SOMEONE ELSE’S CHARACTER DETERMINE THE QUALITY OF YOUR WORK.

Ini penting karena Alkitab tidak pernah merendahkan pekerjaan. Bahkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah memberikan pekerjaan kepada manusia.

Kejadian 2:15
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Jadi, pekerjaan bukanlah akibat dosa. Pekerjaan sudah ada di dalam rancangan Tuhan sebelum kejatuhan manusia. Dosa membuat pekerjaan menjadi berat dan penuh pergumulan, tetapi pekerjaan itu sendiri merupakan bagian dari rancangan Tuhan bagi kehidupan manusia.

WORK IS NOT JUST SOMETHING WE HAVE TO DO; WORK IS PART OF GOD’S DESIGN FOR HUMAN LIFE.

Perhatikan juga bahwa Adam ditempatkan di sebuah taman yang sudah Tuhan ciptakan, tetapi kemudian Tuhan memintanya untuk “mengusahakan dan memelihara” taman itu. Adam menerima sesuatu yang baik dari Tuhan, lalu diberikan tanggung jawab untuk mengembangkan dan menjaganya. Di sinilah kita menemukan salah satu cara yang sehat untuk melihat pekerjaan: work is stewardship.

Pekerjaan bukan hanya tentang making a living. Melalui pekerjaan, kita mengelola apa yang Tuhan percayakan kepada kita—kemampuan, kesempatan, waktu, resources, pengaruh, ide, dan tanggung jawab. Kita menciptakan sesuatu, memecahkan masalah, memenuhi kebutuhan, melayani orang lain, dan mengembangkan sesuatu sehingga menjadi lebih baik daripada ketika pertama kali dipercayakan kepada kita.

Karena itu, pertanyaan kita bukan hanya, “Apa yang saya dapatkan dari pekerjaan ini?” tetapi juga, “Apa yang menjadi lebih baik karena pekerjaan saya?”

Apakah perusahaan menjadi lebih baik karena kita bekerja di sana? Apakah client mendapatkan pelayanan yang lebih baik? Apakah orang-orang yang bekerja bersama kita bertumbuh? Apakah masalah terselesaikan? Apakah sesuatu yang dipercayakan kepada kita berkembang?

Yakub dapat melihat kembali dua puluh tahun kehidupannya dan berkata, “Saya memberikan yang terbaik kepada apa yang dipercayakan kepada saya.”

Inilah excellence yang Alkitabiah. Excellence bukan berarti kita harus sempurna. Excellence berarti kita tidak memperlakukan dengan sembarangan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita. We give our best to what God has placed in our hands.

Namun ada satu hal yang sangat penting. Kita tidak bekerja dengan excellence supaya pekerjaan membuat kita lebih berharga. Nilai diri kita tidak naik ketika kita berhasil dan tidak turun ketika kita gagal. Identitas dan nilai kita berakar pada siapa kita di dalam Tuhan. Justru karena itu, kita tidak perlu menggunakan pekerjaan untuk membuktikan diri; kita dapat menggunakan pekerjaan untuk mengekspresikan siapa diri kita dan menjadi berkat.

WE DON’T WORK WITH EXCELLENCE TO INCREASE OUR VALUE; WE WORK WITH EXCELLENCE TO EXPRESS WHO WE ARE IN GOD.

Karena itu, apa pun yang ada di tangan kita hari ini—business, profession, ministry, study, atau responsibility—jangan kerjakan dengan sembarangan. Berikan perhatian. Terus belajar. Bertumbuh dalam kemampuan. Jadilah dapat dipercaya. Selesaikan apa yang kita mulai. Biarlah kehadiran kita membawa value, dan biarlah sesuatu menjadi lebih baik karena pernah dipercayakan ke dalam tangan kita.

YOUR IDENTITY IS BIGGER THAN YOUR WORK, BUT THAT SHOULD NEVER BECOME AN EXCUSE FOR CARELESS WORK.


2. DON’T LET WHAT YOU DO DEFINE WHO YOU ARE

Kejadian 31:41
“Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.”

Ada satu detail menarik dalam perkataan Yakub: “engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.” Ungkapan “sepuluh kali” di sini kemungkinan besar merupakan ungkapan idiomatis untuk sesuatu yang terjadi berulang kali. Jadi tekanan Yakub bukan terutama pada jumlahnya, tetapi pada kenyataan bahwa selama bertahun-tahun Laban terus mengubah ketentuan pekerjaannya.

Bayangkan kalau selama dua puluh tahun itu Yakub meletakkan identitasnya pada pekerjaannya untuk Laban. Setiap kali Laban mengubah upah, kesepakatan, atau kondisi pekerjaannya, perubahan itu tidak lagi hanya berdampak pada pekerjaannya—tetapi juga pada cara Yakub melihat dirinya sendiri. Ketika pekerjaannya berjalan baik, ia merasa dirinya berarti; ketika pekerjaannya terguncang, identitasnya ikut terguncang.

Inilah bahayanya ketika kita membiarkan apa yang kita kerjakan menentukan siapa diri kita.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama tanpa menyadarinya. Kita membiarkan perusahaan tempat kita bekerja, salary yang kita terima, title yang kita miliki, posisi yang kita pegang, angka penjualan yang kita capai, jumlah orang yang kita pimpin, atau pengakuan yang kita terima menjadi ukuran tentang siapa diri kita.

Masalahnya bukan karena semua itu tidak penting. Masalahnya adalah ketika sesuatu yang seharusnya hanya menjadi bagian dari kehidupan kita mulai menjadi dasar identitas kita.

DON’T LET WHAT YOU DO DEFINE WHO YOU ARE.

Jangan pernah memberikan kepada pekerjaan kuasa untuk menentukan identitas kita.

Menariknya, salah satu pertanyaan pertama yang sering muncul ketika kita bertemu seseorang adalah, “What do you do?” Apa pekerjaan Anda? Lalu kita menjawab: entrepreneur, doctor, teacher, manager, professional, pastor, student, atau homemaker. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Pekerjaan memang merupakan bagian penting dari kehidupan kita.

Apa yang kita kerjakan dapat menjelaskan banyak hal tentang kehidupan kita—profesi yang kita jalani, tanggung jawab yang kita pikul, kemampuan yang kita kembangkan, bahkan kontribusi yang kita berikan kepada orang lain. Dalam pengertian itu, pekerjaan adalah bagian yang penting dari kehidupan kita dan dapat menjadi salah satu cara kita mengekspresikan karunia, panggilan, dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Tetapi pekerjaan tidak boleh menjadi dasar yang menentukan siapa diri kita dan seberapa bernilainya hidup kita. Ada perbedaan antara pekerjaan sebagai expression of who we are dan pekerjaan sebagai source of who we are. Apa yang kita kerjakan dapat mengungkapkan sebagian dari diri kita, tetapi tidak pernah cukup untuk mendefinisikan keseluruhan diri kita. Our work can express our identity, but it should never become the source of our identity.

Masalahnya muncul ketika tanpa kita sadari, apa yang kita kerjakan perlahan-lahan berubah menjadi siapa diri kita. Kita tidak lagi sekadar berkata, “Inilah yang saya kerjakan,” tetapi mulai membangun nilai diri kita di atas pekerjaan, jabatan, pencapaian, dan keberhasilan kita.

YOUR WORK MATTERS, BUT NEVER GIVE IT THE POWER TO DEFINE YOUR IDENTITY.

Work matters. Apa yang kita kerjakan mempunyai nilai. Pekerjaan kita dapat menghasilkan sesuatu yang berguna, menyediakan kebutuhan keluarga, membuka lapangan pekerjaan, melayani orang lain, membangun organisasi, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat. Karena itu, kita harus menghargai pekerjaan dan memberikan yang terbaik dalam mengerjakannya.

Pekerjaan kita mempunyai value, tetapi pekerjaan kita tidak menentukan our value. Achievement dapat menjadi sesuatu yang patut kita syukuri, tetapi achievement bukan ukuran nilai diri kita. Position dapat memberikan responsibilitydan influence, tetapi position tidak menentukan seberapa berharganya hidup kita. Title dapat menjelaskan fungsi kita, tetapi title tidak dapat mendefinisikan seluruh diri kita.

WHAT YOU DO HAS VALUE, BUT IT DOES NOT DETERMINE YOUR VALUE.

Kita bekerja, tetapi kita bukan pekerjaan kita. Kita memiliki achievement, tetapi kita bukan achievement kita. Kita memegang position, tetapi kita bukan position kita. Kita mempunyai title, tetapi kita bukan title kita.

Semua itu adalah sesuatu yang kita kerjakan, capai, atau miliki, tetapi semuanya bukan keseluruhan dari siapa diri kita.

DON’T GIVE YOUR JOB THE POWER TO DECIDE YOUR WORTH.

Karena ketika nilai diri kita bergantung pada sesuatu yang dapat berubah, kita akan ikut berubah bersama dengannya. Ketika posisi naik, kita merasa lebih berarti. Ketika posisi turun, kita merasa lebih rendah. Ketika berhasil, kita merasa berharga. Ketika gagal, kita mulai mempertanyakan diri kita sendiri.

Pekerjaan tidak pernah dirancang untuk memikul beban sebesar itu.

Our work can carry responsibility, but it was never meant to carry our identity.

Karena itu, kita dapat menghargai pekerjaan tanpa menjadikannya identitas. Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa menjadikan keberhasilan sebagai harga diri. Kita dapat memegang posisi dengan penuh tanggung jawab tanpa membutuhkan posisi itu untuk mengetahui bahwa hidup kita bernilai.

Bahaya ketika pekerjaan, posisi, dan pencapaian menjadi sumber identitas bukan hanya karena semuanya dapat berubah. Bahaya yang lebih dalam adalah apa yang kita izinkan mendefinisikan diri kita pada akhirnya akan mengarahkan hidup kita. Ketika title, pencapaian, dan keberhasilan menjadi ukuran siapa diri kita, tanpa sadar kita mulai mengatur hidup untuk mendapatkan dan mempertahankan semuanya itu. Waktu, energi, perhatian, bahkan apa yang rela kita korbankan perlahan-lahan diarahkan kepada apa yang membuat kita merasa berhasil dan berharga. Kita menjadi sangat sibuk membangun apa yang terlihat dari luar, tetapi kurang memperhatikan siapa yang sedang terbentuk di dalam diri kita. Alkitab mengingatkan bahwa manusia cenderung melihat apa yang kelihatan, sedangkan Tuhan melihat jauh lebih dalam (1 Samuel 16:7). Bahkan Yesus mengajukan pertanyaan yang jauh lebih radikal: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Dengan kata lain, kita dapat memperoleh banyak hal yang dunia sebut keberhasilan, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih bernilai dalam hidup kita.

BE CAREFUL WHAT YOU ALLOW TO DEFINE YOU, BECAUSE IT WILL EVENTUALLY DECIDE WHAT YOU PURSUE, WHAT YOU VALUE, AND WHAT YOU ARE WILLING TO SACRIFICE.

Itulah sebabnya persoalan identitas bukan sekadar persoalan bagaimana kita melihat diri sendiri; identitas menentukan arah hidup. Ketika achievement menjadi ukuran utama kehidupan, kita akan terus mengarahkan hidup kepada apa yang menghasilkan lebih banyak achievement. Ketika position menentukan nilai diri, kita akan terdorong mempertahankan position. Ketika pengakuan menjadi sumber identitas, pendapat orang lain mulai mempunyai kuasa yang terlalu besar atas keputusan kita. Tanpa sadar, kita dapat menjadi sangat berhasil dalam karier tetapi kehilangan arah dalam kehidupan. Karena itu pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “What have I achieved?”, tetapi “Who am I becoming?” Bukan hanya “Seberapa jauh saya sudah berhasil?”, tetapi “Apakah hidup yang sedang saya bangun selaras dengan siapa saya seharusnya menjadi dan untuk apa saya menjalani hidup ini?”

YOUR WORK MATTERS, BUT IT DOES NOT DEFINE YOUR WORTH.


3. LET GOD, NOT YOUR WORK, DEFINE YOUR WORTH

Kejadian 31:42
“Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah…”

Yakub baru saja menceritakan apa yang ia kerjakan, apa yang ia korbankan, apa yang ia kehilangan, dan apa yang ia alami selama dua puluh tahun. Semua itu adalah bagian nyata dari perjalanan hidupnya. Tetapi ketika Yakub sampai pada kesimpulan, ia tidak menjadikan semua itu sebagai realitas terbesar tentang dirinya. Kesimpulannya sederhana, tetapi sangat dalam: “ALLAH MENYERTAI AKU.”

Dan kalimat itu sebenarnya tidak dimulai ketika Yakub sudah berhasil. Kalimat itu dimulai dua puluh tahun sebelumnya.

Ketika Yakub sedang dalam perjalanan menuju Haran, sebelum ia bekerja satu hari pun untuk Laban, sebelum mempunyai ternak, kekayaan, atau pencapaian apa pun, Tuhan menemuinya di Betel. Pada saat Yakub belum tahu seperti apa masa depannya, Tuhan sudah lebih dahulu memberikan sebuah janji:

Kejadian 28:15
“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi…”

Dua puluh tahun kemudian, setelah melewati begitu banyak hal—kerja keras, keberhasilan, kehilangan, ketidakadilan, panas pada siang hari dan dingin pada malam hari—Yakub melihat ke belakang dan menyadari bahwa di tengah semua yang berubah, ada satu hal yang tetap: Tuhan menyertainya.

Ini juga penting bagi kita. Tanpa sadar kita sering menghubungkan nilai diri dengan apa yang kita kerjakan dan capai. Ketika pekerjaan berjalan baik, kita merasa berharga. Ketika bisnis berkembang, posisi meningkat, dan orang menghargai kita, kita merasa hidup kita berarti. Tetapi ketika semua itu berubah, nilai diri kita ikut terguncang.

Padahal our worth was never meant to rise and fall with our achievements.

Apa yang kita kerjakan dapat berubah. Apa yang kita capai dapat datang dan pergi. Apa yang kita miliki dapat hilang. Apa yang kita alami dapat mengecewakan. Tetapi nilai hidup kita tidak harus naik dan turun bersama semuanya itu.

MY WORTH IS NOT ULTIMATELY DEFINED BY WHAT I DO,
WHAT I ACHIEVE, WHAT I LOSE, OR WHAT I EXPERIENCE.
MY LIFE IS ROOTED IN THE GOD WHO IS WITH ME.

Karena itu kita tetap bekerja keras. Kita tetap mengejar excellence. Kita tetap memberikan yang terbaik kepada apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Tetapi kita tidak bekerja untuk membuktikan bahwa kita berharga.

Kita bekerja dari sebuah fondasi yang jauh lebih dalam: Tuhan menyertai kita.

Closing:

Mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang minggu ini bukan hanya, “Apa pekerjaanmu?”, tetapi pertanyaan yang lebih dalam: “Siapakah dirimu terlepas dari apa yang kamu kerjakan?”

Kalau suatu hari jabatan kita tidak lagi ada, bisnis kita berubah, pencapaian kita tidak lagi dibicarakan, kita memasuki masa pensiun, atau musim kehidupan kita berganti—siapakah diri kita ketika semua itu tidak lagi melekat pada kita?

Yakub bekerja selama dua puluh tahun untuk Laban. Tetapi Laban tidak menentukan siapa Yakub dan seberapa berharga hidupnya. Sebelum Laban mengenalnya sebagai pekerja, Tuhan sudah mengenalnya. Sebelum Laban memberikan pekerjaan kepadanya, Tuhan sudah memberikan janji kepadanya. Sebelum Yakub membangun kekayaan, Tuhan sudah mempunyai tujuan bagi hidupnya. Dan melalui semua perubahan yang dialaminya, ada satu hal yang tetap: Tuhan menyertai Yakub.

Di situlah Yakub menemukan dasar yang lebih kokoh bagi nilai hidupnya. Nilainya tidak ditentukan oleh bagaimana Laban memperlakukannya, seberapa besar hasil pekerjaannya, atau seberapa banyak kekayaan yang berhasil dikumpulkannya. Nilai hidupnya berakar pada hubungannya dengan Tuhan—ia dikenal oleh Tuhan, dikasihi oleh Tuhan, dan disertai oleh Tuhan.

Demikian juga dengan kita. Pekerjaan kita penting. Karier kita penting. Bisnis kita penting. Pencapaian kita penting. Kerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh dan berikan yang terbaik. Tetapi semua itu terlalu kecil untuk menentukan nilai diri kita.

Our worth is not ultimately determined by what we do, achieve, lose, or experience. Our worth is rooted in the God who knows us, loves us, and is with us.

CAREER CAN CHANGE.
POSITION CAN CHANGE.
SEASONS CAN CHANGE.
BUT WHO GOD CREATED YOU TO BE IS BIGGER THAN ANY TITLE YOU CARRY.

Karena itu, jangan berhenti bekerja keras, bertumbuh, membangun, dan mengejar excellence. Tetapi jangan meminta pekerjaan memberikan sesuatu yang hanya Tuhan dapat berikan: identity, worth, and ultimate purpose.

Dan mungkin hari ini kehidupan tidak berjalan seperti yang Anda harapkan. Ada orang yang mengecewakan, merugikan, bahkan menipu Anda. Business yang sudah Anda bangun tidak berjalan baik. Kesempatan hilang. Posisi berubah. Sesuatu yang sangat berarti bagi Anda harus dilepaskan.

Jangan biarkan semua itu mendefinisikan Anda.

Yakub juga mengalami ketidakadilan. Upahnya berkali-kali diubah. Ia bekerja dalam panas siang dan dingin malam. Tetapi ketika melihat kembali dua puluh tahun kehidupannya, Yakub tidak membiarkan Laban mempunyai kata terakhir atas ceritanya.

Ia berkata, Kejadian 31:42 “Seandainya Allah ayahku… tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa…”

Seakan-akan Yakub berkata, “Apa yang Laban lakukan kepadaku bukan definisi hidupku. Apa yang aku alami bukan seluruh ceritaku. Ada satu realitas yang lebih besar dari semuanya: Allah menyertai aku.”

Kita tidak dapat mengontrol semua yang terjadi dalam hidup kita—bagaimana orang memperlakukan kita, apakah bisnis selalu berhasil, atau apakah semua yang kita bangun berjalan sesuai rencana. Tetapi kita dapat memilih apa yang kita jadikan dasar identitas dan nilai diri kita.

Karier dapat berubah, pencapaian dapat dilupakan, kekayaan dapat bertambah dan berkurang, dan musim kehidupan akan berganti. Jangan membangun identitas kita di atas sesuatu yang dapat berubah. Bangunlah hidup kita di atas satu realitas yang tetap: ada Tuhan dalam hidup kita.

Biarlah satu kalimat ini mendefinisikan siapa kita: “ALLAH MENYERTAI AKU.”

Aku pernah berhasil—Allah menyertai aku.
Aku pernah gagal—Allah menyertai aku.
Aku pernah mendapatkan banyak, dan aku pernah kehilangan—Allah menyertai aku.

Tinggalkan komentar