Kejadian 28:20–22 Lalu bernazarlah Yakub: ‘Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.’
Ketika berbicara tentang persepuluhan, pembicaraan kita sering dengan cepat berpusat pada angka. Apakah harus sepuluh persen? Apakah dihitung dari bruto atau netto? Apakah persepuluhan masih berlaku bagi orang percaya dalam Perjanjian Baru? Semua itu merupakan pertanyaan yang wajar. Tetapi kalau pembicaraan kita hanya berhenti pada angka, kita dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar: apa yang pemberian kita nyatakan tentang hubungan kita dengan Tuhan.
Kejadian 28 memberikan perspektif yang sangat menarik. Jauh sebelum hukum Taurat diberikan kepada Israel, Yakub sudah berbicara tentang memberikan sepersepuluh kepada Tuhan. Bahkan, ini adalah penyebutan kedua tentang sepersepuluh dalam kitab Kejadian setelah Abraham memberikan sepersepuluh kepada Melkisedek dalam Kejadian 14:20.
Yang menarik, dalam Kejadian 28 Tuhan tidak memerintahkan Yakub untuk memberikan sepersepuluh. Yakublah yang mengucapkannya sebagai bagian dari nazarnya setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan di Betel. Karena itu, kekuatan teks ini bukan terutama sebagai sebuah perintah tentang berapa persen yang harus diberikan, tetapi sebagai jendela untuk melihat apa yang terjadi di dalam hati seseorang ketika ia mulai mengenal siapa Tuhan dalam hidupnya.
TITHING IS MORE THAN A PERCENTAGE. IT IS A DECLARATION OF THE HEART.
1. PERSEPULUHAN DIMULAI DARI SIAPA TUHAN BAGI KITA
Persepuluhan Yakub tidak dimulai dengan uang. Semuanya dimulai dengan sebuah encounter with God. Yakub sedang meninggalkan rumahnya, melarikan diri dari Esau dan menuju Haran. Di tengah perjalanan, ketika ia tidur dengan batu sebagai alas kepalanya, Tuhan menjumpainya di Betel. Sebelum Yakub berbicara tentang apa yang akan ia berikan kepada Tuhan, Tuhan terlebih dahulu menyatakan diri-Nya kepada Yakub.
Ketika Tuhan menjumpai Yakub dalam mimpinya, Ia memperkenalkan diri dengan berkata, “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak” (Kejadian 28:13). Perhatikan bagaimana Tuhan memperkenalkan diri: Allah Abraham dan Allah Ishak. Itulah iman yang selama ini diwarisi Yakub dari generasi sebelumnya. Namun di Betel, iman yang diwarisinya mulai menjadi personal encounter. Yakub tidak lagi hanya mendengar tentang Allah Abraham dan Allah Ishak; ia sendiri mulai mengenal siapa Tuhan baginya.
Kejadian 28:21 — “…maka TUHAN akan menjadi Allahku.”
Dalam bahasa Ibrani, YHWH yihyeh li le’Elohim—secara harfiah, “YHWH will be to me as God.” Frasa li le’Elohim, “bagiku sebagai Allah,” memberikan dimensi personal kepada pengakuan Yakub. Allah yang selama ini dikenal sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak mulai dikenal Yakub sebagai “my God.”
Justru di sinilah keindahan kisah Betel. Betel menjadi awal transformasi dari inherited faith menjadi personal faith. Allah Abraham dan Allah Ishak sedang menjadi Allah Yakub. Sebelum malam itu, Yakub telah hidup di tengah warisan iman keluarganya. Ia mengetahui kisah tentang Allah Abraham dan Allah Ishak, tetapi di Betel Tuhan yang selama ini ia kenal melalui generasi sebelumnya menjumpainya secara pribadi. Tuhan berbicara kepadanya, meneguhkan janji-Nya, dan berjanji menyertainya dalam perjalanan hidupnya. Karena itu, Betel bukan sekadar sebuah tempat dalam perjalanan Yakub; Betel adalah tempat di mana pengenalan Yakub akan Tuhan mulai menjadi personal.
Dan menariknya, di Betel pula untuk pertama kalinya Yakub berbicara tentang persepuluhan (Kejadian 28:22). Ini penting, karena sebelum Yakub berbicara tentang apa yang akan ia berikan kepada Tuhan, Tuhan terlebih dahulu menjumpainya. Sebelum ada perkataan, “Sepersepuluh akan selalu kuberikan kepada-Mu,” terlebih dahulu ada suara Tuhan yang berkata, “Aku menyertai engkau.” Sebelum Yakub membuka tangannya untuk memberi, Tuhan terlebih dahulu membuka hatinya untuk mengenal siapa Dia. Malam itu Yakub mengalami bahwa Allah Abraham dan Allah Ishak bukan sekadar Allah yang diceritakan oleh generasi sebelumnya; Tuhan hadir dalam perjalanan hidupnya sendiri.
Perjumpaan di Betel membawa Yakub masuk ke dalam sebuah hubungan yang personal dengan Tuhan. Allah yang sebelumnya ia kenal sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak mulai dikenalnya sebagai “MY GOD.” Tuhan tidak lagi hanya menjadi bagian dari cerita keluarganya atau iman yang diwarisinya dari generasi sebelumnya. Tuhan menjadi Pribadi yang hadir dalam perjalanannya, berbicara kepadanya, menyertainya, dan memegang masa depannya.
Itulah sebabnya persepuluhan tidak seharusnya dimulai dengan sebuah kalkulator, tetapi dengan hati yang pernah berjumpa dengan Tuhan. Ketika kita hanya melihat persepuluhan sebagai persentase, pertanyaan kita akan selalu, “Berapa yang harus saya keluarkan?” Tetapi ketika kita mengingat siapa Tuhan bagi kita—bagaimana Dia menyertai perjalanan kita, memelihara kita dalam musim yang sulit, membuka jalan yang tidak kita lihat, dan membawa kita sampai di tempat kita berada hari ini—pertanyaannya berubah. Kita tidak lagi hanya menghitung apa yang keluar dari tangan kita; kita mulai mengingat Pribadi yang selama ini memegang hidup kita. Dari situlah giving menemukan maknanya yang terdalam: bukan sekadar kewajiban untuk memberikan sesuatu kepada Tuhan, tetapi respons hati kepada Tuhan yang telah lebih dahulu menyatakan diri dan kesetiaan-Nya kepada kita.
Tithing is more than an act of obedience; it is a response that flows from a personal encounter with God.
Karena itu, pembicaraan tentang persepuluhan seharusnya tidak pertama-tama dimulai dengan pertanyaan, “Berapa yang harus saya berikan?” tetapi dengan pertanyaan yang lebih dalam: “Siapa Tuhan bagi saya?” Kalau Tuhan hanya menjadi salah satu bagian dari kehidupan kita, persepuluhan akan mudah terasa sebagai sesuatu yang diambil dari kita. Tetapi ketika Allah Abraham dan Allah Ishak menjadi “my God,” perspektif kita berubah. Kita memberi bukan untuk membuat Tuhan menjadi Allah kita, melainkan karena kita telah mengenal dan mengakui Dia sebagai Allah kita. Betel mengajarkan bahwa sebelum persepuluhan menjadi persoalan tentang apa yang ada di tangan kita, persepuluhan adalah persoalan tentang siapa yang memiliki hati kita.
Sebelum persepuluhan menjadi sebuah angka, persepuluhan adalah sebuah pernyataan hati. Sebelum Yakub berkata, “Sepersepuluh akan kuberikan kepada-Mu,” ia terlebih dahulu berkata, “TUHAN akan menjadi Allahku.” Seolah-olah melalui persepuluhannya Yakub sedang berkata,
“You are my God.”
Dan yang indah, semuanya dimulai bukan dari apa yang Yakub berikan kepada Tuhan, tetapi dari apa yang Tuhan janjikan kepada Yakub. Di saat Yakub sedang meninggalkan rumahnya, menghadapi masa depan yang tidak pasti, dan tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan hidupnya, Tuhan berkata:
“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi…”
(Kejadian 28:15)
Mungkin itulah yang membuat persepuluhan menjadi begitu personal. Setiap kali kita mengembalikan persepuluhan, kita bukan sekadar memberikan sepuluh persen dari penghasilan kita. Kita sedang mengingat kembali siapa Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Di tengah segala perubahan, ketidakpastian, keberhasilan, maupun musim yang sulit, kita kembali berkata, “Tuhan, Engkau adalah Allahku. Engkau yang menyertai aku sampai hari ini. Engkau yang memegang hidup dan masa depanku.”
Tithing is more than giving God a percentage; it is the heart’s declaration: ‘You are MY GOD.’
2. PERSEPULUHAN BUKAN SEKADAR TENTANG BERAPA BANYAK YANG KITA BERIKAN KEPADA TUHAN, TETAPI SEBUAH PERNYATAAN BAHWA TUHAN ADALAH SUMBER DARI SEGALA YANG KITA MILIKI.
Setelah berkata bahwa TUHAN akan menjadi Allahnya, Yakub kemudian mengatakan:
Kejadian 28:22 — “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku…”
Dalam bahasa Ibrani terdapat frasa wekhol asher titten-li—“dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku.” Kata titten berasal dari kata natan, “memberikan.” Yang menarik adalah subjeknya: Engkau. Yakub melihat Tuhan sebagai pemberi dari apa yang kelak berada di tangannya.
Yakub tidak berkata, “Dari segala sesuatu yang aku hasilkan.” Ia berkata, “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku.” Ini bukan berarti Yakub tidak perlu bekerja. Justru perjalanan hidupnya setelah Betel akan dipenuhi kerja keras. Ia akan bekerja selama bertahun-tahun di rumah Laban, menggembalakan ternak dalam panas pada siang hari dan dingin pada malam hari. Yakub bekerja, berstrategi, mengambil keputusan, dan membangun kekayaan.
Tetapi Alkitab tidak mengharuskan kita memilih antara human effort dan divine provision. Musa bahkan memperingatkan bangsa Israel agar ketika mereka telah menikmati keberhasilan, mereka tidak berkata dalam hati, “Kekuasaan dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.” Sebaliknya, mereka harus mengingat, “TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan” (Ulangan 8:17–18). Perhatikan bahwa Tuhan tidak berkata bahwa Israel tidak bekerja atau tidak menghasilkan kekayaan. Yang dikoreksi adalah anggapan bahwa diri mereka sendiri adalah sumber terakhir dari keberhasilan itu. Mereka memang bekerja, tetapi kemampuan untuk bekerja adalah pemberian Tuhan. Mereka mengolah tanah, tetapi tanah dan hujan bukan ciptaan mereka. Mereka membangun, berdagang, dan mengembangkan apa yang ada di tangan mereka, tetapi Tuhanlah yang memberikan kehidupan, kekuatan, kesempatan, dan kemampuan untuk menghasilkan. Our effort is real, but God remains our ultimate Source.
Di sinilah persepuluhan menjadi sebuah tindakan iman yang sangat konkret. Ketika Yakub berkata, “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kejadian 28:22), perhatikan cara Yakub melihat apa yang kelak akan dimilikinya: “yang Engkau berikan kepadaku.” Yakub tetap harus pergi ke Haran, bekerja bertahun-tahun, menggembalakan ternak Laban, menghadapi kesulitan, dan membangun kehidupannya. Namun bahkan sebelum semua itu terjadi, ia menempatkan apa yang kelak akan diperolehnya dalam kerangka divine provision. Persepuluhannya menjadi pengakuan bahwa di balik apa yang akan dihasilkan oleh tangannya, ada Tuhan yang menyertai dan menyediakan baginya. Jadi ketika kita mengembalikan persepuluhan, kita tidak sedang menyangkal bahwa kita telah bekerja keras untuk apa yang kita miliki. Sebaliknya, kita sedang berkata, “Tuhan, saya mengakui bahwa kemampuan saya menghasilkan semuanya ini pun berasal dari apa yang Engkau percayakan kepada saya.”
Inilah sebabnya persepuluhan lebih dari sekadar memberikan sepuluh persen dari penghasilan kita. Persepuluhan melatih hati kita untuk tidak mengubah keberhasilan menjadi self-sufficiency. Semakin berhasil seseorang, semakin mudah ia melihat hasil tanpa lagi mengingat Sumbernya. Kita dapat mulai berkata, “Ini karena kemampuan saya, keputusan saya, bisnis saya, investasi saya.” Persepuluhan secara teratur membawa hati kita kembali kepada kebenaran Ulangan 8: tangan kita memang bekerja, tetapi Tuhanlah yang memberi kekuatan kepada tangan itu. Karena itu, ketika kita mengembalikan persepuluhan, kita sedang membuat sebuah deklarasi: “God is my Source.”
Ketika kita sungguh-sungguh mengenali Tuhan sebagai the Source, perspektif kita tentang giving berubah. Kita tidak lagi melihat persepuluhan terutama dari sudut pandang apa yang berkurang dari tangan kita, tetapi dari kesadaran tentang berapa banyak yang terlebih dahulu telah Tuhan percayakan kepada kita. Giving tidak lagi dimulai dengan perasaan kehilangan, tetapi dengan gratitude. Kita tidak berkata, “Tuhan mengambil sepuluh persen dari apa yang menjadi milik saya,” melainkan, “Tuhan, semua yang ada pada saya berasal dari apa yang terlebih dahulu Engkau percayakan kepada saya.”
When we recognize God as our Source, tithing shifts from obligation to gratitude.
Karena itu, persepuluhan bukan terutama tentang Tuhan mengambil 10% dari kita. Persepuluhan adalah cara kita mengingat bahwa Tuhan telah mempercayakan 100% kepada kita. Sepuluh persen yang kita kembalikan menjadi sebuah deklarasi tentang seratus persen yang kita terima: hidup kita, kemampuan kita, kesempatan kita, pekerjaan kita, dan segala sesuatu yang dapat kita kelola hari ini. Inilah yang mengubah giving dari kewajiban menjadi ucapan syukur—we give not because God has taken something from us, but because we recognize how much He has already entrusted to us.
Persepuluhan bukan tentang Tuhan mengambil 10% dari apa yang kita miliki, tetapi sebuah pengingat bahwa Tuhanlah yang terlebih dahulu memberikan dan mempercayakan kepada kita 100% dari apa yang kita miliki.
3. PERSEPULUHAN BUKAN SEKADAR TENTANG APA YANG KITA MILIKI, TETAPI PERNYATAAN TENTANG SIAPA YANG MEMILIKI HIDUP KITA.
Yakub kemudian menyelesaikan nazarnya dengan mengatakan:
Kejadian 28:22 — “…dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”
Bahasa Ibraninya sangat menarik: ‘asser ‘a‘asserennu lakh. Kata ‘asar berkaitan dengan angka sepuluh, sedangkan kata kerja yang digunakan di sini berarti memberikan sepersepuluh, atau to tithe. Konstruksi Ibraninya memberikan penekanan yang kuat, sehingga ungkapan itu dapat diterjemahkan, “I will surely give a tenth to You.”
Tetapi perhatikan dua kata terakhir dari kalimat Yakub: lakh—“kepada-Mu.” Persepuluhan Yakub mempunyai arah. Ia bukan sekadar memisahkan sepuluh persen dari apa yang akan dimilikinya. Ia sedang mengembalikannya kepada Tuhan. Ada Pribadi di balik pemberiannya. Karena itu, persepuluhan bukan hanya berbicara tentang berapa banyak yang ada di tangan Yakub, tetapi tentang kepada siapa hidup Yakub sekarang diarahkan.
Di sinilah giving bergerak dari source menuju lordship. Mengakui Tuhan sebagai Source berarti berkata, “Apa yang saya miliki berasal dari-Mu.” Tetapi mengakui Tuhan sebagai Lord membawa kita satu langkah lebih jauh: “Karena semuanya berasal dari-Mu, semuanya juga berada di bawah otoritas-Mu.” Tuhan bukan hanya Pribadi yang menyediakan apa yang kita perlukan; Dia adalah Tuhan yang mempunyai hak untuk memimpin bagaimana kita menjalani kehidupan yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
If God is the Source of everything we have, He must also be Lord over everything we have.
Karena itu, lordship tidak berhenti pada kehidupan rohani. Kita tidak dapat berkata, “Tuhan memiliki hari Minggu saya, tetapi saya memiliki hari Senin sampai Sabtu.” Kalau Dia adalah Lord, waktu kita berada di bawah otoritas-Nya. Kemampuan kita berada di bawah otoritas-Nya. Pekerjaan, bisnis, relasi, rencana, masa depan—dan juga keuangan kita—berada di bawah otoritas-Nya. Lordship means there is no area of our lives where we say to God, “This is mine; You have no say here.”
Di sinilah persepuluhan mempunyai makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sepuluh persen. Persepuluhan bukan seperti kita memberikan 10% kepada Tuhan lalu berkata, “Ini bagian-Mu; 90% sisanya milik saya dan saya bebas melakukan apa saja dengannya.” Justru melalui 10% itu kita sedang mengakui sesuatu tentang 100% kehidupan kita: semuanya adalah milik Tuhan, dan kita adalah steward dari apa yang dipercayakan-Nya kepada kita.
PERSEPULUHAN bukan batas kepemilikan Tuhan; sepuluh persen menjadi pengingat akan kepemilikan-Nya atas seluruh hidup kita.
Dan mungkin di sinilah lordship menjadi sangat nyata. Uang bukan sekadar angka. Uang berkaitan dengan rasa aman kita, pilihan kita, kenyamanan kita, rencana kita, bahkan bagaimana kita membayangkan masa depan. Karena itu, ketika kita membawa area finansial kita ke bawah lordship Tuhan, sebenarnya kita sedang membawa jauh lebih dari uang kita. Kita sedang membawa rasa aman, keinginan, rencana, dan masa depan kita kepada-Nya. Persepuluhan menjadi sebuah tindakan surrender—pengakuan bahwa Tuhan mempunyai hak bukan hanya atas apa yang kita berikan, tetapi atas bagaimana kita menjalani seluruh kehidupan yang telah Dia percayakan kepada kita.
Pada akhirnya, pertanyaan persepuluhan bukan hanya, “Berapa banyak yang saya berikan kepada Tuhan?”Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Siapa yang memiliki hidup saya?” Sebab kita dapat memberikan sesuatu kepada Tuhan tanpa sungguh-sungguh menyerahkan hidup kepada-Nya. Tetapi ketika persepuluhan lahir dari lordship, hati kita sedang membuat deklarasi: “You are my Lord. Everything I have—and everything I am—belongs to You.”
Persepuluhan adalah deklarasi hati: “Engkaulah Tuhanku. Segala yang aku miliki, bahkan seluruh hidupku, adalah milik-Mu.”
Closing:
Pada malam itu di Betel, Yakub sebenarnya belum mempunyai banyak hal untuk diberikan kepada Tuhan. Ia sedang meninggalkan rumah hanya dengan apa yang dapat dibawanya. Masa depannya belum jelas, Haran masih jauh di depan, dan ia belum tahu bagaimana kehidupannya akan berjalan. Ia bahkan belum tahu bahwa suatu hari ia akan kembali dengan keluarga yang besar dan harta yang berlimpah. Tetapi sebelum Tuhan menaruh banyak hal di tangannya, sesuatu terlebih dahulu mulai berubah di dalam hatinya.
Allah Abraham dan Allah Ishak mulai menjadi Allahnya sendiri. Yakub mulai mengenal Tuhan secara personal. Ia mulai melihat bahwa apa pun yang kelak ada di tangannya adalah sesuatu yang diterimanya dari Tuhan. Karena itu ia berkata, “…dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”Sebelum Yakub mengetahui berapa banyak yang akan dimilikinya, ia sudah menentukan siapa yang akan menjadi Tuhan atas hidupnya.
Dan yang membuat kisah ini semakin indah adalah apa yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Ketika Yakub akhirnya kembali ke tanah kelahirannya, ia menoleh ke belakang dan berkata kepada Tuhan, “Sebab aku membawa hanya tongkatku ini ketika aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan” (Kejadian 32:10). Yakub yang dahulu meninggalkan rumah dengan sebuah tongkat sekarang kembali dengan begitu banyak yang Tuhan percayakan kepadanya. Di Betel ia belum melihat semuanya, tetapi ia sudah menentukan sikap terhadap berkat Tuhan sebelum berkat itu berada di tangannya.
Mungkin di situlah kita juga perlu berhenti dan melihat perjalanan hidup kita sendiri. Ingatlah bagaimana kita memulai. Ingat pintu-pintu yang pernah Tuhan bukakan, pertolongan yang datang pada waktunya, kemampuan yang Dia berikan, orang-orang yang Dia tempatkan dalam perjalanan kita, dan musim-musim yang tidak pernah kita bayangkan dapat kita lewati. Apa pun yang ada di tangan kita hari ini mungkin juga mempunyai cerita panjang tentang kesetiaan Tuhan. Kita memang bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi ketika melihat ke belakang, kita menyadari: we did not get here by ourselves.
Karena itu, mungkin pembicaraan tentang persepuluhan tidak seharusnya dimulai dengan pertanyaan, “Berapa yang harus saya berikan kepada Tuhan?” Mulailah dengan pertanyaan yang lebih dalam: “Siapakah Tuhan bagi saya? Siapakah yang menjadi sumber kehidupan saya? Dan siapakah yang memiliki hidup saya?” Ketika jawaban kita adalah, “Engkaulah Tuhanku,” persepuluhan tidak lagi sekadar menjadi sebuah angka. Ia menjadi sebuah deklarasi hati.
“Engkaulah Tuhanku. Segala yang aku miliki, bahkan seluruh hidupku, adalah milik-Mu.”
Pada akhirnya, Tuhan tidak sedang mengejar uang kita. He wants our heart. Sebab uang hanyalah salah satu bagian dari kehidupan yang kita letakkan di hadapan-Nya. Persepuluhan menjadi kesempatan untuk kembali mengingat: He is MY God, Tuhan adalah Sumber kita, dan Hidupku milik-Nya.
Jadi pada akhirnya, giving bukan terutama tentang seberapa banyak yang keluar dari tangan kita, tetapi tentang siapa yang memiliki hati kita.
Arti terdalam dari PERSEPULUHAN bukanlah tentang seberapa banyak yang kita berikan, tetapi tentang siapa yang memiliki hati kita.