WITH POWER COMES RESPONSIBILITY

Semakin Tuhan mempercayakan kepada kita pengaruh, otoritas, sumber daya, dan orang-orang untuk dipimpin, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.

Sering kali kita memahami tanggung jawab terutama dari apa yang harus kita kerjakan—pelayanan yang harus kita bangun, keputusan yang harus kita ambil, dan orang-orang yang harus kita pimpin. Padahal tanggung jawab seorang pemimpin bukan hanya tentang apa yang kita bangun, tetapi juga tentang siapa yang sedang kita bangun di dalam diri kita.

Kita tidak perlu menjadi orang lain ketika pelayanan semakin besar. Kita tetap dapat menjadi diri sendiri, tetapi menjadi autentik bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru semakin besar kepercayaan yang Tuhan berikan, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk terus membangun karakter, kedewasaan, relasi, dan kehidupan yang mampu menopang kepercayaan tersebut.

THE GREATER THE INFLUENCE, THE GREATER THE RESPONSIBILITY.

1. GUARD YOUR RELATIONSHIP WITH GOD

Inilah yang paling mudah terlupakan ketika pelayanan semakin sibuk. Tanpa sadar, hubungan kita dengan Tuhan dapat berubah menjadi hubungan yang fungsional. Kita membaca Alkitab karena harus berkhotbah. Kita berdoa karena harus memimpin doa. Kita mencari Tuhan karena membutuhkan sesuatu untuk diberikan kepada orang lain.

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.”
— Mazmur 27:4

Di tengah begitu banyak tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, Daud masih mempunyai “satu hal” yang paling ia inginkan: berada dekat dengan Tuhan dan menikmati hadirat-Nya. Tuhan bukan hanya Pribadi yang ia butuhkan untuk menjalankan panggilannya; Tuhan adalah Pribadi yang ia nikmati.

NEVER LET YOUR MINISTRY FOR GOD REPLACE YOUR RELATIONSHIP WITH GOD.

Salah satu tanggung jawab terbesar seorang pemimpin rohani adalah memastikan bahwa di tengah begitu banyak suara, kita masih dapat mendengar suara Tuhan dalam hidup kita.

Dalam 1 Raja-raja 19:11–13, Elia sedang berada dalam masa yang sangat berat. Datanglah angin besar dan kuat, kemudian gempa, lalu api. Tetapi berulang kali Alkitab mengatakan, “TUHAN tidak ada di dalam…” semuanya itu. Setelah api itu datanglah “bunyi angin sepoi-sepoi basa”—sebuah suara yang lembut—dan di sanalah Elia kembali berjumpa dengan Tuhan.

Ada sesuatu yang penting di sini: yang paling keras belum tentu yang paling penting untuk kita dengarkan.

Semakin besar pelayanan, semakin banyak suara yang masuk: pujian, kritik, tuntutan, pencapaian, ekspektasi orang, bahkan ambisi dan ketakutan kita sendiri. Semuanya dapat terdengar begitu keras sehingga tanpa sadar menentukan keputusan dan arah kehidupan kita.

Karena itu, semakin besar pengaruh kita, semakin penting kemampuan kita untuk mengenali suara Tuhan di tengah semua suara yang lain.

THE MORE VOICES YOU HEAR, THE MORE IMPORTANT IT IS TO KNOW HIS VOICE.

2. KEEP GROWING

Teruslah bertumbuh menjadi pribadi yang secure, gracious, dan elegant.

Secure berarti kita tidak lagi harus terus-menerus membuktikan diri. Kita tidak mudah terancam oleh keberhasilan orang lain, tidak harus selalu menjadi yang paling benar, dan tidak membutuhkan pujian untuk merasa bernilai. Kita cukup aman dengan siapa diri kita di dalam Tuhan sehingga kita dapat memberikan ruang bagi orang lain untuk bersinar.

Gracious berarti semakin besar otoritas kita, semakin baik kita memperlakukan orang. Kita belajar mendengar, menghargai, memberikan kesempatan kedua, menerima perbedaan, dan mengoreksi tanpa merendahkan. Grace is not weakness; it is strength that knows how to be kind.

Elegant bukan tentang penampilan atau status, tetapi tentang cara kita membawa diri. Kita tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Kita dapat tegas tanpa kasar, berbeda pendapat tanpa kehilangan penghormatan, dan menghadapi tekanan tanpa kehilangan composure. Kita tidak harus memenangkan setiap argumen atau merespons setiap kritik.

3. PROTECT YOUR MARRIAGE AND FAMILY

Salah satu ironi pelayanan adalah kita dapat begitu sibuk membangun keluarga Tuhan sehingga tanpa sadar mengabaikan keluarga yang Tuhan percayakan kepada kita sendiri.

Paulus bahkan menjadikan kehidupan keluarga sebagai salah satu ukuran kedewasaan seorang pemimpin:

“Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?”
— 1 Timotius 3:4–5

Keluarga bukan gangguan terhadap panggilan kita. Keluarga adalah bagian dari panggilan yang Tuhan percayakan kepada kita. Karena itu, keluarga yang sehat tidak terjadi dengan sendirinya. Kita harus dengan sengaja membangun dan melindunginya.

Salah satu caranya adalah dengan membangun boundaries.

Semakin besar pelayanan, semakin banyak orang yang menginginkan waktu, perhatian, dan akses kepada kita. Tidak semua permintaan harus kita penuhi. Tidak semua telepon harus dijawab saat itu juga. Tidak semua pertemuan harus masuk ke kalender kita. Ada saatnya kita harus berkata no kepada sesuatu yang baik supaya dapat berkata yes kepada sesuatu yang lebih penting.

EVERY YES TO SOMETHING IS A NO TO SOMETHING ELSE.

4. MASTER YOUR MONEY BEFORE MONEY MASTERS YOU

Semakin besar pengaruh seseorang, biasanya semakin besar pula sumber daya dan kesempatan yang datang kepadanya. Karena itu, pertumbuhan pelayanan harus disertai pertumbuhan dalam financial maturity.

Yesus berkata:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
— Lukas 16:10

Belajarlah hidup sesuai kemampuan. Bangun tabungan dan investasi. Jangan hidup untuk mempertahankan lifestyle. Bedakan dengan jelas uang pribadi dan uang pelayanan. Hindari konflik kepentingan. Bangun transparansi dan accountability. Jadilah murah hati.

Terutama bagi pemimpin rohani, kita perlu berhati-hati ketika pengaruh mulai memberikan akses kepada hal-hal yang sebelumnya tidak kita miliki.

Kita boleh menikmati berkat Tuhan. Tetapi jangan menggunakan berkat Tuhan untuk membuktikan keberhasilan kita kepada orang lain.

Kebebasan finansial yang sesungguhnya bukan sekadar ketika kita mempunyai banyak uang, tetapi ketika uang tidak lagi mempunyai kuasa untuk menentukan keputusan, identitas, dan integritas kita.

5. JADILAH TELADAN

“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”
— 1 Timotius 4:12

Paulus tidak hanya meminta Timotius untuk mengajar orang percaya, tetapi untuk menjadi teladan bagi orang percaya. Kata teladan (typos) berbicara tentang pola atau contoh yang dapat dilihat dan diikuti. Dengan kata lain, kepemimpinan rohani bukan hanya tentang apa yang kita katakan kepada orang lain, tetapi tentang apa yang mereka lihat dalam kehidupan kita.

Menariknya, Paulus menyebutkan lima area yang sangat praktis.

Dalam perkataan — bagaimana kita berbicara. Bukan hanya apa yang kita katakan di mimbar, tetapi bagaimana kita berbicara kepada pasangan, staf, orang yang berbeda pendapat, bahkan orang yang mengecewakan kita.

Dalam tingkah laku — bagaimana kita menjalani kehidupan. Ada konsistensi antara apa yang kita ajarkan dengan bagaimana kita hidup ketika tidak sedang berada di atas panggung.

Dalam kasih — bagaimana kita memperlakukan orang. Orang bukan sekadar volunteers, resources, atau alat untuk membangun pelayanan. Mereka adalah manusia yang Tuhan percayakan untuk kita kasihi.

Dalam kesetiaan — bagaimana kita tetap dapat dipercaya. Setia kepada Tuhan, panggilan, komitmen, dan orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita, bukan hanya ketika semuanya berjalan baik.

Dalam kesucian — bagaimana kita menjaga kehidupan yang mungkin tidak dilihat banyak orang. Semakin besar pengaruh kita, semakin penting kita menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Inilah sebabnya menjadi teladan bukan berarti menjadi sempurna. Menjadi teladan berarti bersedia terus dibentuk.

Tinggalkan komentar