LABOR AND PURPOSE — WEEK 2: TIRED OF CHASING

INTRODUCTION — THE PRESSURE TO ACHIEVE

Salah satu persoalan yang semakin banyak dialami orang-orang yang bekerja hari ini adalah emotional exhaustion, yaitu kelelahan secara emosional dan mental akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.

Kita hidup dalam dunia pekerjaan yang semakin kompetitif. Tuntutan produktivitas semakin tinggi, target terus meningkat, dan perubahan terjadi semakin cepat. Seorang karyawan harus terus menunjukkan kinerja yang baik. Seorang profesional dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya agar tidak tertinggal. Seorang pengusaha menghadapi persaingan, perubahan pasar, tekanan keuangan, dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang bekerja bersamanya.

Teknologi yang seharusnya mempermudah pekerjaan juga membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Kita dapat dihubungi kapan saja, menerima pesan pekerjaan di luar jam kerja, dan menghadapi persoalan kantor sekalipun sedang berada di rumah. Secara fisik kita mungkin sudah berhenti bekerja, tetapi pikiran kita masih terus bekerja.

Akibatnya, banyak orang mengalami kelelahan yang bukan hanya bersifat fisik. Mereka masih mampu bekerja, memenuhi tanggung jawab, bahkan mencapai target yang ditetapkan, tetapi secara emosional mulai merasa terkuras. Mereka menjadi lebih mudah tersinggung, kehilangan kesabaran, sulit berkonsentrasi, dan tidak lagi memiliki energi untuk menikmati waktu bersama keluarga.

Menariknya, keadaan ini tidak hanya dialami oleh orang-orang yang tidak menyukai pekerjaannya. Justru banyak orang yang mengalami emotional exhaustion adalah orang-orang yang rajin, bertanggung jawab, memiliki dedikasi tinggi, dan sungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik.

WE CAN BE SUCCESSFUL ON THE OUTSIDE AND EXHAUSTED ON THE INSIDE.

Pertanyaannya, apakah untuk menjadi berhasil kita harus terus hidup di bawah tekanan yang menguras energi dan emosi kita? Bagaimana kita dapat tetap bekerja keras, memberikan yang terbaik, dan membangun kehidupan yang berhasil tanpa kehilangan sukacita dan kedamaian?

Hari ini kita akan belajar dari kehidupan Yakub, yang menghabiskan dua puluh tahun bekerja untuk Laban. Yakub bukan seorang yang malas. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, memiliki tanggung jawab yang besar, dan menghasilkan sesuatu yang nyata. Tetapi ia juga mengalami tekanan pekerjaan yang luar biasa.

Setelah dua puluh tahun bekerja, Yakub mengungkapkan pengalaman yang telah dilaluinya.

Kejadian 31:38–42 (TB)

(38) Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan.

(39) Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku.

(40) Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.

(41) Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.

(42) Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.

Perikop ini memperlihatkan tiga hal penting. Yakub bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Ia mengalami tekanan pekerjaan yang berat. Tetapi di tengah semua itu, ia menyadari bahwa Tuhan menyertai dan memelihara kehidupannya.

Dalam konteks aslinya, tekanan yang dialami Yakub terutama berasal dari tuntutan pekerjaan dan perlakuan Laban yang tidak adil. Karena itu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa kelelahan Yakub disebabkan oleh ambisi yang salah. Namun, pengalaman Yakub menolong kita memahami bagaimana menghadapi tekanan pekerjaan dan menjalani kehidupan berdasarkan tujuan Tuhan yang lebih besar.

1. OUR WORK MATTERS, BUT HOW WE DO IT MATTERS MORE.

Kejadian 31:38–40

(38) “Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan.” (39) “Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku.” (40) “Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.”

Dalam ayat-ayat ini, Yakub menceritakan bagaimana ia menjalankan pekerjaannya selama dua puluh tahun. Ia bukan sekadar melakukan apa yang diwajibkan kepadanya, tetapi benar-benar mencurahkan tenaga, waktu, dan perhatiannya untuk menjaga ternak yang dipercayakan kepadanya.

Perhatikan bagaimana Yakub menggambarkan pekerjaannya. Dalam ayat 38, ia menjelaskan bahwa ternak yang dipercayakan kepadanya terpelihara dengan baik. Ia juga tidak mengambil ternak Laban untuk kepentingannya sendiri. Ini memperlihatkan kesungguhan dan integritas Yakub dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dalam ayat 39, Yakub menceritakan bahwa bahkan ketika ada ternak yang hilang atau diterkam binatang buas, ia harus menanggung kerugiannya. 

Dari kesaksian Yakub, kita melihat seseorang yang tidak menganggap enteng pekerjaannya. Ia menjaga apa yang dipercayakan kepadanya, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tidak membiarkan kesulitan menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawabnya.

Pekerjaan kita penting, tetapi bagaimana kita mengerjakannya juga sama pentingnya. Apa pun pekerjaan yang dipercayakan kepada kita, jangan hanya berusaha menyelesaikannya, tetapi milikilah kesungguhan hati untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Jangan puas hanya karena pekerjaan sudah selesai atau kewajiban sudah dipenuhi. Berikan perhatian pada kualitas pekerjaan kita, kerjakan dengan penuh tanggung jawab, dan terus kembangkan kemampuan agar hasil pekerjaan kita semakin baik. Seperti Yakub, kita perlu memiliki komitmen untuk memberikan yang terbaik, sekalipun pekerjaan itu menuntut kerja keras dan menghadapkan kita pada berbagai kesulitan.

Amsal 22:29 “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”

Amsal ini mengingatkan bahwa kecakapan dalam pekerjaan memiliki nilai yang besar. Orang yang terampil, dapat diandalkan, dan menghasilkan pekerjaan berkualitas akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dan kesempatan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Bukan hanya apa yang kita kerjakan yang penting di hadapan Tuhan, tetapi juga bagaimana kita mengerjakannya.

EXCELLENCE IS NOT ABOUT PERFECTION, BUT ABOUT GIVING OUR BEST AND KEEP GETTING BETTER.

Sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya dikenal bukan hanya karena apa yang kita percayai, tetapi juga melalui kesungguhan, kualitas pekerjaan, dan integritas kehidupan kita.

Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

LET THE WAY YOU WORK REFLECT NOT ONLY WHO YOU ARE, BUT ALSO THE GOD YOU SERVE.

Refleksi:
Apakah kita selalu bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas, dan memberikan yang terbaik, sehingga melalui cara kita bekerja, orang lain dapat melihat siapa Tuhan yang kita percayai?

2. DON’T JUST WORK TO BE SUCCESSFUL. WORK TO BE FRUITFUL.

Kejadian 31:41 “Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.”

Selama dua puluh tahun, Yakub bekerja keras bagi Laban. Empat belas tahun ia bekerja untuk mendapatkan Rahel dan Lea sebagai istrinya, dan enam tahun berikutnya untuk memperoleh ternak bagi keluarganya. Perjalanan tersebut tidak mudah. Laban berulang kali mengubah kesepakatan dan memperlakukannya secara tidak adil. Namun, Yakub tetap bekerja dengan tekun dan bertahan menghadapi berbagai kesulitan karena ia tahu apa yang sedang diperjuangkannya. 

Salah satu bahaya dalam dunia kerja adalah ketika kita menjadikan keberhasilan sebagai tujuan utama dari semua yang kita lakukan. Kita bekerja keras untuk membuktikan kemampuan, mendapatkan pengakuan, dan mencapai sesuatu yang lebih besar. Tentu tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berhasil. Namun, keberhasilan tidak pernah cukup untuk menjadi tujuan akhir kehidupan kita. Sebab ketika keberhasilan menjadi tujuan utama, kita akan terus merasa ada sesuatu yang belum kita capai dan masih harus kita kejar.

THE FINISH LINE KEEPS MOVING WHEN “MORE” BECOMES THE GOAL.

Akibatnya, kita dapat terjebak dalam pengejaran yang tidak pernah selesai. Kita terus bekerja, terus berusaha, dan terus mencapai sesuatu, tetapi semakin sulit merasa puas dengan apa yang sudah kita kerjakan.

Kita dapat mengalami emotional exhaustion, bukan semata-mata karena beratnya pekerjaan, tetapi karena kita menjadikan keberhasilan sebagai sesuatu yang harus terus dikejar untuk merasa bahwa kehidupan kita berarti.

IT’S NOT THE HARD WORK THAT EXHAUSTS US, BUT THE FINISH LINE THAT KEEPS MOVING EVERY TIME WE GET CLOSER.

Masalahnya muncul ketika kita menjadikan keberhasilan sebagai ukuran utama dari nilai dan makna kehidupan kita. Kita mulai merasa berharga ketika berhasil, merasa puas ketika mencapai target, dan merasa hidup kita berarti ketika mendapatkan pengakuan. Namun, kepuasan itu sering kali hanya bertahan sementara. Setelah satu keberhasilan tercapai, kita kembali merasa perlu mengejar keberhasilan berikutnya. Akibatnya, kita terus bekerja dan mencapai banyak hal, tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup. Bukan karena keberhasilan itu salah, melainkan karena kita mengharapkan keberhasilan memberikan sesuatu yang tidak mampu diberikannya: tujuan dan makna tertinggi bagi kehidupan kita.

SUCCESS CAN GIVE US A SENSE OF ACHIEVEMENT, BUT IT CANNOT GIVE US OUR ULTIMATE PURPOSE.

Karena itu, kita perlu belajar melihat pekerjaan melampaui keberhasilan pribadi. Keberhasilan memang baik, tetapi keberhasilan bukanlah tujuan akhir dari pekerjaan kita. Ada tujuan yang lebih besar yang Tuhan ingin kerjakan melalui kehidupan dan pekerjaan kita.

Pertama, pekerjaan menjadi ekspresi siapa kita. Kita tidak bekerja untuk membuktikan bahwa diri kita berharga, tetapi melalui pekerjaan kita menyatakan siapa kita dan nilai-nilai yang kita hidupi. Integritas, kesetiaan, tanggung jawab, dan excellence bukan sekadar cara untuk mendapatkan hasil yang baik, tetapi merupakan ekspresi dari karakter yang sedang Tuhan bentuk dalam kehidupan kita.

Yakub tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh meskipun Laban berulang kali memperlakukannya secara tidak adil. Cara Yakub bekerja memperlihatkan bahwa kualitas pekerjaan kita tidak seharusnya hanya ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita.

WE DON’T WORK TO PROVE WHO WE ARE. WE WORK TO EXPRESS WHO WE ARE.

Kedua, pekerjaan menjadi sarana untuk memberikan nilai tambah bagi orang lain. Yakub tidak hanya bekerja untuk mendapatkan upah. Melalui pekerjaannya, Laban juga mengalami berkat dan kemajuan.

Kejadian 30:27 “TUHAN memberkati aku karena engkau.”

Laban sendiri mengakui bahwa Tuhan telah memberkatinya melalui kehadiran Yakub. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Yakub bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi orang lain.

DON’T JUST WORK TO GET PAID. WORK TO ADD VALUE.

Pekerjaan kita seharusnya membawa nilai tambah. Kehadiran kita seharusnya membuat sesuatu menjadi lebih baik. Apa pun tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, jangan hanya berpikir tentang apa yang akan kita dapatkan, tetapi juga tentang kontribusi yang dapat kita berikan.

Bayangkan apabila setiap orang percaya memiliki cara pandang seperti ini. Kita tidak hanya datang ke tempat kerja untuk menyelesaikan tugas dan menerima upah, tetapi juga untuk membuat lingkungan kerja menjadi lebih baik, membantu orang lain berkembang, menyelesaikan persoalan, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

SUCCESS IS ABOUT WHAT YOU ACHIEVE. FRUITFULNESS IS ABOUT WHAT YOU CONTRIBUTE.

Ketiga, pekerjaan menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Inilah tujuan yang melampaui keberhasilan pribadi maupun kontribusi kita kepada orang lain.

Roma 11:36 (TB) “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Paulus mengingatkan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, berlangsung oleh Tuhan, dan pada akhirnya ditujukan bagi kemuliaan Tuhan. Prinsip ini juga mengubah cara kita memandang pekerjaan. Kemampuan, kesempatan, sumber daya, dan keberhasilan yang kita miliki bukan hanya hasil usaha kita sendiri, tetapi juga merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, pekerjaan bukan sekadar sarana untuk mencapai keberhasilan pribadi, melainkan kesempatan untuk menggunakan apa yang Tuhan percayakan bagi kemuliaan-Nya.

EVERYTHING COMES FROM GOD, AND EVERYTHING IS ULTIMATELY FOR HIS GLORY.

Kita memuliakan Tuhan bukan hanya melalui apa yang kita lakukan di gereja, tetapi juga melalui bagaimana kita menjalankan pekerjaan setiap hari. Ketika kita bekerja dengan integritas, memberikan yang terbaik, dan membawa kebaikan bagi orang lain, kita memiliki kesempatan untuk menyatakan karakter Allah melalui kehidupan kita.

SUCCESS IS NOT THE END OF THE JOURNEY. IT IS A RESOURCE FOR A GREATER PURPOSE.

Ketika kita melihat kembali perjalanan hidup Yakub, kita menemukan sesuatu yang luar biasa. Yakub bekerja selama dua puluh tahun untuk membangun keluarganya dan mempersiapkan masa depannya. Tetapi tanpa sepenuhnya memahami apa yang sedang Allah kerjakan, kehidupannya menjadi bagian dari penggenapan janji Allah yang jauh lebih besar daripada apa yang dapat ia bayangkan.

JACOB WAS BUILDING A HOUSEHOLD. GOD WAS BUILDING A NATION.

Demikian juga dengan kehidupan kita. Kita mungkin hanya melihat pekerjaan, tanggung jawab, dan kesempatan yang ada di hadapan kita hari ini. Kita tidak selalu mengetahui bagaimana Tuhan akan memakai semuanya itu dalam rencana-Nya yang lebih besar. Bahkan mungkin ada bagian dari tujuan Tuhan yang baru akan kita pahami jauh di kemudian hari.

Kita tidak harus memahami seluruh rencana Tuhan untuk dapat mengambil bagian di dalamnya. Yang Tuhan kehendaki adalah agar kita tetap setia mengerjakan apa yang dipercayakan kepada kita dan menyediakan diri untuk dipakai-Nya.

Tuhan selalu punya tujuan dan panggilan yang lebih besar dari apa yang kita bisa mengerti.

Karena itu, jangan meremehkan apa yang sedang Tuhan percayakan kepada kita hari ini. Mungkin apa yang kita kerjakan terlihat sederhana, hasilnya belum terlihat besar, atau kita belum memahami ke mana semuanya akan membawa kita. Tetapi kesetiaan dalam perkara yang ada di hadapan kita dapat menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang Tuhan kerjakan.

3. THE WEIGHT OF YOUR WORK IS REAL, BUT YOU DON’T HAVE TO CARRY IT WITHOUT GOD.

Kejadian 31:42 “Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.”

Setelah menceritakan semua yang dialaminya selama dua puluh tahun bekerja bagi Laban, Yakub membuat sebuah pernyataan yang sangat penting: “Seandainya Allah … tidak menyertai aku.”

Yakub telah bekerja keras. Ia menghadapi panas pada siang hari, dingin pada malam hari, kehilangan waktu tidur, dan perlakuan yang tidak adil. Tetapi ketika melihat kembali perjalanan hidupnya, Yakub menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kerja kerasnya sendiri, yaitu penyertaan Tuhan.

Yakub bekerja, tetapi Tuhanlah yang menyertai, memelihara, dan memberkatinya.

Menariknya, jauh sebelum Yakub mulai bekerja bagi Laban, Tuhan sudah memberikan sebuah janji kepadanya di Betel.

Kejadian 28:15 “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Janji penyertaan Tuhan bukan berarti Yakub tidak akan mengalami kesulitan. Tuhan tidak menjanjikan perjalanan yang selalu mudah, tetapi Dia berjanji bahwa Yakub tidak akan menjalaninya sendirian. Tuhan akan menyertai, melindungi, dan memeliharanya di tengah berbagai keadaan.

Dan inilah kebenaran yang juga menjadi sumber pengharapan bagi kita hari ini. Tuhan yang menyertai Yakub adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita sampai hari ini.

Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi dalam pekerjaan, bisnis, atau kehidupan kita di masa depan. Kita tidak tahu tantangan apa yang akan kita hadapi, perubahan apa yang akan terjadi, atau bagaimana hasil dari semua yang sedang kita kerjakan.

Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan kita hadapi, tetapi kita dapat mempercayai Tuhan yang menyertai kita.

Penyertaan Tuhan tidak berarti setiap usaha pasti berhasil sesuai keinginan kita. Tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak mengabaikan jerih payah, pergumulan, dan kehidupan kita. Dia tetap bekerja dalam hidup kita, bahkan ketika kita belum dapat melihat atau memahami apa yang sedang dikerjakan-Nya.

WE DON’T KNOW WHAT THE FUTURE HOLDS, BUT WE KNOW WHO HOLDS OUR FUTURE.

CLOSING

Kita tidak selalu dapat mengendalikan keadaan, menentukan bagaimana orang memperlakukan kita, atau memastikan semua usaha menghasilkan apa yang kita harapkan. Tetapi kita dapat memilih untuk terus bekerja dengan setia dan mengandalkan Tuhan dalam setiap musim kehidupan.

Mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang merasa lelah. Kita sudah bekerja keras, memberikan yang terbaik, tetapi hasilnya belum seperti yang kita harapkan. Ada tanggung jawab yang harus dipikul, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan persoalan yang seolah tidak pernah selesai.

Tetapi ingatlah, kita tidak pernah harus menjalani semuanya sendirian.

Setelah dua puluh tahun bekerja keras, Yakub menyadari bahwa di balik semua yang telah dilaluinya, ada Tuhan yang menyertai, memperhatikan jerih payahnya, dan setia pada janji-Nya.

Tuhan yang sama juga mengenal kehidupan kita. Dia melihat apa yang mungkin tidak dilihat orang lain. Dia mengetahui setiap perjuangan, kesetiaan, bahkan air mata yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.

Penyertaan Tuhan tidak berarti perjalanan kita akan selalu mudah. Tetapi kita memiliki pengharapan bahwa apa pun yang kita hadapi, kita tidak menghadapinya tanpa Tuhan.

Kiranya suatu hari, ketika kita melihat kembali perjalanan hidup kita—semua kerja keras, air mata, tantangan, kegagalan, dan keberhasilan—kita juga dapat berkata seperti Yakub:

“Seandainya Allah tidak menyertai aku…”

Karena pada akhirnya, yang membuat kita mampu melewati semuanya bukan hanya seberapa keras kita bekerja, tetapi Tuhan yang setia menyertai kita.

YOU MAY NOT KNOW WHAT TOMORROW HOLDS, BUT YOU CAN TRUST THE GOD WHO HOLDS YOUR TOMORROW.

Tinggalkan komentar