Setiap hari kita membuat keputusan. Ada keputusan kecil yang segera terlupakan, tetapi ada keputusan yang memengaruhi keluarga, pekerjaan, dan masa depan kita. Kita memilih apa yang akan dikatakan ketika sedang marah, bagaimana merespons ketika diperlakukan tidak adil, dan apa yang akan diperjuangkan ketika tidak semua hal dapat kita miliki.
Dalam mengambil keputusan, kita sering bertanya, “Apa yang paling menguntungkan?” atau “Apa yang paling saya inginkan?” Namun, sesuatu yang menguntungkan belum tentu benar, dan sesuatu yang kita inginkan belum tentu membawa kita kepada kehidupan yang baik. Kita membutuhkan lebih dari informasi dan pengalaman. Kita membutuhkan hikmat.
Hikmat bukan sekadar kemampuan berpikir tajam, melainkan kemampuan menjalani hidup dengan benar di hadapan Tuhan.
Amsal 9 menggambarkan Hikmat dan Kebodohan sebagai dua perempuan yang sama-sama mengundang orang masuk ke rumah mereka. Hikmat mengajak orang meninggalkan kebodohan dan berjalan menuju kehidupan. Kebodohan menawarkan kenikmatan, tetapi menyembunyikan akibat yang membawa kepada kematian.
Gambaran ini dekat dengan kehidupan kita. Ada banyak suara yang menawarkan jalan: keinginan diri, tekanan lingkungan, pendapat orang lain, dan firman Tuhan. Tidak semua suara yang menarik layak diikuti. Karena itu, di tengah kedua undangan tersebut, Amsal 9:10 menunjukkan dari mana kehidupan berhikmat dimulai.
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
— Amsal 9:10 (TB)
1. KEHIDUPAN YANG BERHIKMAT DIMULAI DENGAN MENEMPATKAN TUHAN SEBAGAI TUHAN
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN…”
Inti ayat ini: hidup berhikmat dimulai dari sikap yang benar terhadap Tuhan dan bertumbuh melalui pengenalan akan Dia.
Kata “permulaan” menunjuk pada titik awal. Untuk menjalani kehidupan dengan hikmat, kita perlu memulai dari sikap yang benar terhadap Tuhan. Kita mengakui bahwa Dia adalah Tuhan, dan bahwa keinginan, pemikiran, serta penilaian kita perlu tunduk kepada-Nya.
Ungkapan yirʾat YHWH, “takut akan TUHAN,” mencakup rasa gentar dan hormat di hadapan kekudusan serta otoritas-Nya. Ini lebih dalam daripada sekadar mengagumi Tuhan: kita memandang firman-Nya dengan serius, bersedia dikoreksi, dan tidak memperlakukan dosa sebagai sesuatu yang ringan. Penghormatan ini terlihat dalam keputusan kita sehari-hari.
Dalam pekerjaan, takut akan Tuhan menuntun kita menjaga kejujuran sekalipun ada kesempatan memperoleh keuntungan dengan cara yang salah. Dalam keluarga, takut akan Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga perkataan sekalipun sedang kecewa. Dalam pelayanan, takut akan Tuhan menolong kita tetap setia sekalipun tidak mendapat perhatian atau penghargaan.
Perjalanan menuju hikmat dimulai ketika kita mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan, dan kita bukan pusat serta ukuran terakhir bagi segala sesuatu. Pengetahuan dan pengalaman tetap berharga, tetapi keduanya perlu diarahkan oleh sikap tunduk kepada-Nya.
WISDOM BEGINS WHEN GOD HAS THE FIRST WORD IN OUR CHOICES.
2. SUARA YANG KAMU SUKAI BELUM TENTU SUARA YANG MEMBUATMU BIJAK
Kita cenderung menyukai suara yang membenarkan kita. Namun, untuk bertumbuh dalam hikmat, kita juga perlu mendengarkan nasihat yang benar dan teguran yang menolong kita berubah.
Ams.9:8 Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya, (9) berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.
Ayat sebelum Amsal 9:10 memperlihatkan perbedaan antara pencemooh dan orang bijak. Pencemooh membenci teguran, sedangkan orang bijak menerima teguran dan bertambah bijaksana. Orang bijak masih perlu belajar. Justru kesediaannya untuk belajar memperlihatkan hikmatnya.
Hikmat mengajak orang meninggalkan kebodohan dan hidup; Kebodohan menawarkan kenikmatan yang menyembunyikan jalan menuju kematian. Jadi, persoalannya bukan hanya apa yang kita ketahui, tetapi suara siapa yang kita ikuti.
Di tengah kedua undangan itu, ayat 7–9 membandingkan pencemooh yang menolak teguran dengan orang bijak yang bersedia diajar. Ayat 10 kemudian menyatakan dasar hikmat tersebut: takut akan Tuhan. Dalam alur ini, keterbukaan terhadap koreksi merupakan salah satu wujud kehidupan yang mengakui otoritas Tuhan.
Orang berhikmat bukan orang yang selalu merasa benar. Ia bersedia mengubah langkah ketika menyadari bahwa jalannya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. DIA dapat memakai firman-Nya dan nasihat yang benar untuk menolong kita melihat apa yang selama ini luput dari perhatian. Hati yang mau diajar memberi ruang bagi perubahan tersebut.
Hal ini tidak selalu mudah. Ketika pasangan menyampaikan keluhan, kita mungkin segera membela diri. Ketika rekan kerja memberi masukan, kita mungkin merasa kemampuan kita diragukan. Ketika firman Tuhan menyingkapkan sesuatu dalam hati, kita mungkin mencari alasan untuk tetap melakukan apa yang kita inginkan.
A WISE HEART LISTENS BEYOND WHAT IT WANTS TO HEAR TO WHAT IT NEEDS TO LEARN.
3. KENALI TUHAN, DAN BELAJARLAH MELIHAT HIDUP MELALUI KEBENARAN-NYA
“…dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
Bagian kedua ayat ini memperdalam bagian pertama. Takut akan Tuhan dan mengenal Tuhan saling berkaitan. Kita menghormati Dia, sekaligus belajar memahami karakter dan jalan-Nya.
Kata “mengenal” berasal dari daʿat, “pengetahuan” atau “pengenalan.” Dalam konteks ini, mengenal Tuhan melibatkan pemahaman tentang karakter dan jalan-Nya, serta penerimaan terhadap nilai-nilai-Nya. Mengenal Tuhan melampaui mengetahui banyak hal tentang-Nya. Pengenalan itu membentuk nilai yang kita pegang dan cara kita menjalani kehidupan. Ketika kita mengenal Tuhan yang benar, kita belajar menghargai kejujuran. Ketika kita mengenal Tuhan yang setia, kita belajar memelihara komitmen. Ketika kita mengenal Tuhan yang kudus, kita semakin serius menjaga kehidupan kita.
Kata “pengertian,” binah, menunjuk pada kemampuan memahami dan membedakan. Mengenal Tuhan membentuk kemampuan kita menilai kehidupan: membedakan yang benar dari yang salah, yang sekadar menarik dari yang sungguh baik, dan yang menguntungkan dari yang berkenan kepada-Nya. Mengenal Tuhan menolong kita menilai apa yang sedang terjadi dan memilih respons yang tepat.
Ketika menghadapi konflik, misalnya, kita belajar mempertimbangkan lebih dari keinginan memenangkan perdebatan. Kita juga memikirkan kebenaran, kasih, dan pemulihan hubungan. Ketika mendapat kesempatan baru, kita mempertimbangkan keuntungan sekaligus tanggung jawab dan kesesuaiannya dengan firman Tuhan.
Pengertian ini bertumbuh ketika kita membaca firman dengan hati terbuka, membawa pergumulan dalam doa, dan menaati kebenaran yang sudah kita pahami. Sedikit demi sedikit, pengenalan akan Tuhan membentuk cara kita melihat kehidupan.
KNOWING GOD CHANGES HOW WE SEE LIFE AND HOW WE CHOOSE TO LIVE.
Kita mungkin pernah mengambil keputusan yang salah atau menyadari bahwa selama ini kita terlalu mengikuti keinginan sendiri. Namun, undangan Hikmat dalam Amsal 9 ditujukan kepada mereka yang masih membutuhkan pengertian. Ada kesempatan untuk meninggalkan jalan yang keliru dan belajar berjalan dengan lebih bijaksana.
Hikmat bertumbuh ketika mengenal Tuhan mengubah cara kita menjalani kehidupan.
4. HIKMAT AKAN MEMELIHARA HIDUPMU
“Karena oleh aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah. Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah yang akan menanggungnya.”
— Amsal 9:11–12 (TB)
Mengapa kita perlu mendengarkan hikmat, bahkan ketika nasihatnya tidak nyaman? Karena hikmat menawarkan sesuatu yang lebih berharga daripada kenyamanan sesaat: kehidupan yang terpelihara.
Ungkapan “oleh aku” merujuk kepada Hikmat yang berbicara dalam pasal ini. Ia menjanjikan umur yang diperpanjang dan tahun-tahun kehidupan yang ditambah. Dalam kitab Amsal, panjang umur merupakan berkat yang berharga. Hikmat mengarahkan kita kepada jalan yang menopang kehidupan, sementara kebodohan membawa kita kepada jalan yang menghancurkannya. Ini adalah prinsip umum kehidupan, bukan jaminan bahwa setiap orang bijak pasti berumur panjang.
Namun, daya tarik hikmat bukan hanya terlihat dari bahaya yang dapat kita hindari. Hikmat juga menolong kita membangun kehidupan yang layak dipelihara: hubungan yang bertumbuh dalam kepercayaan, pekerjaan yang dijalani dengan integritas, keuangan yang dikelola dengan tanggung jawab, dan hati yang tidak terus-menerus diperbudak oleh keinginan sesaat. Semua ini merupakan penerapan dari jalan kehidupan yang ditawarkan hikmat.
Bayangkan tahun-tahun yang dapat kita jalani bersama keluarga ketika kita mau belajar mengendalikan amarah. Bayangkan kepercayaan yang dapat bertumbuh ketika kita memilih kejujuran. Bayangkan masa depan yang dapat kita persiapkan ketika kita bersedia menunda keinginan dan mengelola apa yang Tuhan percayakan. Nasihat hikmat mungkin membatasi keinginan kita hari ini, tetapi melalui batas itu, banyak hal yang berharga dapat tetap bertumbuh esok hari.
Karena itu, ketika ayat 12 berkata, “Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri,” kita mendengar sebuah undangan yang penuh kebaikan: kitalah yang akan menikmati manfaat dari hikmat yang kita terima. Tuhan mengajar kita karena kehidupan kita berharga di hadapan-Nya.
Sebaliknya, ketika kita mencemooh hikmat, kita sedang menolak sesuatu yang diberikan untuk kebaikan kita sendiri. Kita mungkin merasa menang karena tidak perlu menerima koreksi, tetapi kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Kita mungkin merasa bebas karena tidak mau dibatasi, tetapi membiarkan keinginan sesaat merusak masa depan.
Mendengarkan hikmat memang tidak membuat hidup bebas dari kesulitan. Tetapi hikmat menolong kita memelihara apa yang berharga di tengah kesulitan, sehingga tahun-tahun yang Tuhan berikan dapat dijalani dengan lebih baik.
A WISE HEART LOOKS BEYOND WHAT FEELS GOOD TODAY TO WHAT KEEPS LIFE GOOD TOMORROW.
Jangan abaikan nasihat yang Tuhan berikan untuk memelihara hidupmu. Apa yang terasa sulit untuk diterima hari ini dapat menjadi sesuatu yang kelak paling kamu syukuri.
Closing
Setiap hari, ada dua suara yang mengundang kita: hikmat dan kebodohan. Keduanya terdengar menjanjikan, tetapi membawa kita menuju akhir yang berbeda.
Ams.9:13 Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu. (14) Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota, (15) dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata: (16) “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya: (17) “Air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya.” (18) etapi orang itu tidak tahu, bahwa di sana ada arwah-arwah dan bahwa orang-orang yang diundangnya ada di dalam dunia orang mati.
Dalam Amsal 9:13–18, kebodohan menawarkan kenikmatan, tetapi menyembunyikan kehancuran. Ia menggoda kita dengan kenyamanan dan jalan pintas, tanpa menunjukkan harga yang akhirnya harus kita bayar. “Air curian manis” membuat sesuatu yang salah terdengar menarik, seolah-olah mendapatkan apa yang kita inginkan lebih penting daripada bagaimana kita mendapatkannya. Namun, apa yang terasa manis sesaat dapat merusak kepercayaan, melukai keluarga, dan menghancurkan masa depan.
Jangan hanya mendengarkan apa yang sebuah suara janjikan; perhatikan ke mana suara itu membawa hidup kita.
Suara hikmat mungkin meminta kita bersabar, menerima koreksi, dan menjaga integritas, bahkan ketika ada jalan yang lebih mudah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak selalu nyaman untuk didengar atau mudah untuk ditaati, tetapi hikmat menuntun kita kepada kehidupan. Ia mengajar kita melihat melampaui kepuasan sesaat dan memelihara apa yang sungguh berharga: hubungan yang sehat, hati nurani yang terjaga, dan hidup yang berkenan kepada Tuhan.
Apa yang terasa membatasi kita hari ini dapat menjadi sesuatu yang melindungi kehidupan kita di kemudian hari.
Kiranya kita memiliki hati yang mau mendengarkan Tuhan dan keberanian untuk menaati-Nya. Jika selama ini kita mengikuti suara yang salah, undangan Hikmat masih terbuka: kita dapat kembali dan mengambil langkah yang berbeda.
Hidup kita terlalu berharga untuk diserahkan kepada suara yang menjanjikan kenikmatan, tetapi membawa kehancuran.