YOUR WORDS CREATE YOUR WORLD

Perkataanmu Membentuk Dunia di Sekitarmu

Ada perkataan yang sudah lama diucapkan, tetapi sampai hari ini masih kita ingat. Mungkin nasihat orang tua yang membuat kita berani melangkah, penguatan seorang sahabat ketika kita hampir menyerah, atau ucapan seseorang yang meninggalkan luka.

Kata-kata dapat selesai diucapkan dalam beberapa detik, tetapi pengaruhnya dapat bertahan bertahun-tahun.

Melalui perkataan, kita membangun suasana di rumah, budaya dalam pekerjaan, dan kualitas hubungan dalam pelayanan. Kita dapat membuat orang merasa aman untuk bertumbuh, atau membuat mereka selalu takut melakukan kesalahan. Kita dapat menumbuhkan kepercayaan, atau perlahan menghancurkannya.

Your words create your world. Perkataan kita ikut membentuk kehidupan yang kita jalani bersama orang lain. Karena itu, Alkitab mengajarkan kita untuk memperhatikan sumber perkataan, buah yang dihasilkannya, dan bagaimana menggunakannya dengan bijaksana.

1. YOUR WORDS REVEAL YOUR HEART

Perkataanmu Mengungkapkan Isi Hatimu

Amsal 16:23 (TB) “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan.”

Amsal menghubungkan hati yang bijaksana dengan mulut yang berakal budi. Dalam pemahaman Alkitab, hati bukan hanya pusat perasaan, tetapi juga pusat pikiran, kehendak, dan pertimbangan moral seseorang. Karena itu, perkataan yang berhikmat bukan sekadar hasil keterampilan berbicara, melainkan lahir dari hati yang dibentuk oleh hikmat. Apa yang keluar dari mulut seseorang mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya.

Lukas 6:45 (TB) “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

Yesus memperjelas prinsip ini melalui gambaran tentang perbendaharaan hati. Sebagaimana seseorang mengeluarkan sesuatu dari apa yang tersimpan dalam perbendaharaannya, demikian pula perkataan seseorang bersumber dari apa yang memenuhi hatinya. Hati yang menyimpan kepahitan, iri hati, atau kebencian cenderung menghasilkan perkataan yang melukai. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kasih, kebenaran, dan hikmat akan menghasilkan perkataan yang membangun. Mulut mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan di dalam hati.

Itulah sebabnya, perkataan merupakan salah satu indikator kondisi rohani seseorang. Apa yang kita katakan dalam percakapan sehari-hari—baik di rumah, tempat kerja, komunitas, maupun media sosial—dapat menjadi cerminan dari apa yang memenuhi hati kita. Hati yang dipenuhi kepahitan cenderung menghasilkan perkataan yang melukai, sedangkan hati yang dipenuhi kasih dan hikmat akan menghasilkan perkataan yang membangun.

Our words reveal not only what we know, but also who we are.

Perkataan kita bukan hanya mengungkapkan apa yang kita ketahui, tetapi juga mencerminkan siapa diri kita yang sesungguhnya.

2. YOUR WORDS CAN BUILD OR BREAK

Perkataanmu Dapat Membangun atau Menghancurkan.

Amsal 18:21 (BIMK) “Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus menanggung akibat ucapannya.”

Amsal mengingatkan bahwa perkataan bukanlah sesuatu yang sepele, karena setiap perkataan memiliki pengaruh dan konsekuensi. Melalui perkataan, kita dapat membangun atau merusak hubungan, membangkitkan semangat atau mematahkan harapan, membawa kedamaian atau menimbulkan pertengkaran. Bahkan, perkataan yang diucapkan dalam beberapa detik dapat meninggalkan dampak yang bertahan selama bertahun-tahun. Karena itu, kita perlu menyadari bahwa kita bukan hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, tetapi juga atas apa yang kita katakan.

Yakobus 3:3–6 memperjelas besarnya pengaruh perkataan melalui tiga ilustrasi yang sangat kuat: kekang kecil yang dapat mengendalikan seekor kuda yang besar, kemudi kecil yang dapat menentukan arah sebuah kapal, dan api kecil yang dapat membakar hutan yang luas. Ketiganya menunjukkan bahwa sesuatu yang tampaknya kecil dapat menghasilkan akibat yang sangat besar. Demikian pula dengan lidah kita. Meskipun kecil, perkataan dapat memengaruhi arah kehidupan, menentukan kualitas hubungan, bahkan memicu persoalan yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan. Ukuran sebuah perkataan mungkin kecil, tetapi pengaruhnya bisa jauh melampaui saat perkataan itu diucapkan.

Satu kalimat penghinaan yang diucapkan orang tua dapat membekas dalam hati seorang anak selama bertahun-tahun dan memengaruhi cara ia memandang dirinya sendiri. Perkataan yang diucapkan dalam kemarahan dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, bahkan menghancurkan sebuah hubungan. Sebaliknya, satu perkataan penguatan dapat membangkitkan kembali keberanian seseorang yang hampir menyerah. Kalimat sederhana yang menyatakan penghargaan dapat membuat seseorang merasa diterima, dihargai, dan berarti. Bahkan, perkataan yang diucapkan pada saat yang tepat dapat mengubah cara seseorang melihat masa depan dan memberinya keberanian untuk melangkah kembali. Sering kali kita tidak menyadari betapa besar pengaruh perkataan kita terhadap kehidupan orang lain, bahkan jauh setelah kita sendiri melupakannya.

Perkataan yang terus diulang tidak hanya memengaruhi seseorang, tetapi juga membentuk budaya dalam sebuah keluarga, komunitas, maupun organisasi. Ketika anggota keluarga terbiasa mengucapkan terima kasih, memberikan penghargaan, meminta maaf, dan saling menguatkan, perlahan-lahan tercipta suasana rumah yang penuh kasih, rasa aman, dan saling menghormati. Sebaliknya, ketika sebuah keluarga terbiasa dengan kritik yang menjatuhkan, sindiran, dan kata-kata kasar, hubungan menjadi renggang dan komunikasi kehilangan kehangatannya. Hal yang sama berlaku di tempat kerja dan dalam pelayanan. Ketika sebuah tim terbiasa saling menyalahkan, mengkritik di belakang, atau mencari kesalahan orang lain, orang-orang mulai lebih sibuk melindungi diri daripada bekerja sama. Namun, ketika pemimpin dan anggota tim membiasakan perkataan yang jujur, menghargai, dan membangun, akan tumbuh budaya saling percaya, keterbukaan, dan kerja sama yang sehat. Apa yang terus-menerus kita ucapkan pada akhirnya menjadi bagian dari budaya yang kita ciptakan.

Inilah pengaruh nyata perkataan: kata-kata membentuk cara berpikir, memengaruhi keputusan, dan mengarahkan hubungan. Karena itu, kita perlu memikirkan benih yang sedang kita tabur. Jika cara berbicara ini terus berlanjut, kehidupan seperti apa yang akan bertumbuh di sekitar kita?

Words build. Words break. Be wise.

Perkataan dapat membangun. Perkataan dapat menghancurkan. Karena itu, bijaksanalah dalam berkata-kata.

3. SAY WHAT YOU MEAN. MEAN WHAT YOU SAY.

Katakan Apa yang Sungguh Kamu Maksudkan. Pegang Teguh Apa yang Kamu Katakan.

Amsal 4:24 (BIMK) “Janganlah sekali-kali mengucapkan sesuatu yang tidak benar. Jauhkanlah ucapan-ucapan dusta dan kata-kata yang dimaksud untuk menyesatkan orang.”

Amsal mengingatkan kita bahwa kejujuran bukan hanya berarti tidak berbohong, tetapi juga tidak menggunakan perkataan untuk menyesatkan orang lain. Kita dapat menyesatkan seseorang bukan hanya dengan mengatakan sesuatu yang tidak benar, tetapi juga dengan menyembunyikan sebagian kebenaran, memutarbalikkan fakta, atau memberikan kesan yang keliru demi keuntungan pribadi. Hikmat mengajarkan kita untuk memiliki integritas dalam perkataan, sehingga apa yang kita katakan benar-benar mencerminkan apa yang kita ketahui dan yakini sebagai kebenaran.

Matius 5:37 (TB) “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengajarkan bahwa perkataan kita seharusnya dapat dipercaya tanpa perlu diperkuat dengan sumpah atau berbagai jaminan. Ketika seseorang memiliki integritas, perkataannya memiliki bobot karena orang lain mengetahui bahwa ia berbicara dengan jujur dan menepati apa yang dikatakannya. Sebaliknya, ketika seseorang terbiasa berbohong, melebih-lebihkan, atau mengingkari perkataannya, lambat laun orang lain akan kehilangan kepercayaan kepadanya, bahkan ketika ia sedang mengatakan sesuatu yang benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini berlaku dalam berbagai situasi. Dalam keluarga, kita membangun kepercayaan dengan menepati janji kepada pasangan dan anak-anak. Di tempat kerja, kita menunjukkan integritas dengan menyampaikan informasi secara jujur, mengakui kesalahan, dan tidak membuat janji yang tidak sanggup kita penuhi. Dalam persahabatan dan pelayanan, kita belajar mengatakan kebenaran sekalipun tidak selalu menyenangkan, tetapi tetap menyampaikannya dengan kasih dan kebijaksanaan. Kejujuran mungkin tidak selalu menjadi pilihan yang paling mudah, tetapi merupakan fondasi bagi hubungan yang sehat dan bertahan lama.


Trust is built when we say what we mean and mean what we say.

Kepercayaan dibangun ketika kita berkata dengan jujur dan memegang teguh apa yang kita katakan.

4. LET GOSSIP END WITH YOU

Biarlah Gosip Berhenti Padamu

Amsal 11:13 (TB) “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.”

Amsal mengingatkan kita bahwa salah satu tanda orang yang dapat dipercaya adalah kemampuannya menjaga perkataan dan rahasia orang lain.

Gosip tidak selalu berupa cerita bohong. Bahkan informasi yang benar sekalipun dapat menjadi gosip ketika disampaikan kepada orang yang tidak berkepentingan dan tanpa tujuan yang baik. Sesuatu yang awalnya hanya berupa percakapan ringan dapat berkembang menjadi cerita yang merusak reputasi, menghancurkan kepercayaan, bahkan memisahkan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Mengetahui persoalan, kelemahan, atau kesalahan seseorang bukan berarti kita memiliki hak untuk menceritakannya kepada orang lain. Ketika seseorang mempercayakan cerita pribadinya kepada kita, sesungguhnya ia sedang mempercayakan sesuatu yang berharga, yaitu kepercayaannya. Karena itu, kita perlu memiliki hikmat untuk membedakan antara informasi yang perlu disampaikan demi kebaikan dan persoalan pribadi yang seharusnya dijaga. Jangan sampai keinginan untuk memiliki bahan pembicaraan, menarik perhatian, atau merasa lebih mengetahui kehidupan orang lain membuat kita mengorbankan kepercayaan yang telah diberikan kepada kita. Integritas kita tidak hanya terlihat dari kemampuan mengatakan kebenaran, tetapi juga dari kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menjaga kerahasiaan.

Namun, tanggung jawab kita bukan hanya terhadap apa yang kita katakan, melainkan juga terhadap apa yang bersedia kita dengarkan.

Amsal 26:20 (TB) “Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.”

Seperti api yang membutuhkan kayu untuk terus menyala, gosip membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan, menikmati, dan meneruskannya. Tanpa orang-orang tersebut, gosip akan kehilangan kekuatannya untuk menyebar. Karena itu, ketika seseorang mulai membicarakan kelemahan atau persoalan orang lain, kita memiliki pilihan: ikut menambahkan kayu ke dalam api, atau menghentikannya.

Tentu ada keadaan ketika informasi perlu disampaikan kepada pihak yang tepat, terutama jika menyangkut pelanggaran, keselamatan, atau perlindungan seseorang. Namun, tujuan kita haruslah mencari kebenaran, menyelesaikan persoalan, dan membawa pemulihan, bukan mempermalukan atau menjatuhkan orang lain.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan apa yang orang lain katakan, tetapi kita dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan informasi yang kita dengar. Jangan menjadi mata rantai yang meneruskan gosip. Jadilah orang yang menghentikannya.

Bagaimana Menghentikan Gosip?

Pertama, jangan ikut menikmati gosip. Terkadang kita tidak memulai gosip, tetapi tanpa sadar ikut memeliharanya dengan menunjukkan rasa penasaran, meminta cerita tambahan, atau memberikan tanggapan yang mendorong orang untuk terus bercerita. Belajarlah untuk tidak memberikan ruang bagi percakapan yang hanya membicarakan kelemahan orang lain.

Kedua, arahkan percakapan kepada penyelesaian. Ketika seseorang mulai membicarakan persoalan orang lain, kita dapat bertanya dengan lembut, “Apakah kamu sudah membicarakan hal ini langsung dengan orang yang bersangkutan?” atau “Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu menyelesaikan persoalan ini?” Dengan demikian, kita mengubah arah percakapan dari membicarakan seseorang menjadi mencari solusi.

Ketiga, jangan meneruskan cerita yang kita dengar. Tidak semua informasi yang sampai kepada kita perlu diteruskan kepada orang lain. Bahkan ketika cerita itu benar, kita tetap perlu mempertimbangkan apakah menyebarkannya akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan kerusakan. Jadilah orang yang dapat dipercaya untuk menjaga informasi, bukan orang yang dikenal suka menyebarkannya.

Karena itu, sebelum membicarakan seseorang, belajarlah bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang akan saya katakan benar? Apakah memang perlu disampaikan? Apakah orang yang mendengarnya perlu mengetahui hal ini? Dan apakah saya bersedia mengatakan hal yang sama jika orang tersebut berada di hadapan saya?

Not every story you hear is yours to tell.

Tidak setiap cerita yang kita dengar adalah cerita yang berhak kita sebarkan.

5. CHOOSE YOUR TONE AND TIMING

Perhatikan Cara dan Waktu Berbicara

Amsal 15:1 (BIMK) “Dengan jawaban yang ramah, kemarahan menjadi reda; jawaban yang pedas membangkitkan amarah.”

Cara kita menjawab dapat mengubah arah sebuah percakapan. Ketika seseorang berbicara dengan marah, jawaban yang sama tajamnya mudah membuat keadaan semakin panas. Sebaliknya, jawaban yang ramah dapat memberi ruang bagi kedua pihak untuk kembali mendengar.

Kelemahlembutan membutuhkan penguasaan diri. Kita dapat menyatakan keberatan, menetapkan batas, dan membicarakan kesalahan dengan jelas sambil tetap menjaga penghormatan kepada lawan bicara.

Selain nada, perhatikan waktunya. Amsal 15:23 dan 25:11 menekankan nilai perkataan yang tepat pada waktunya. Teguran yang disampaikan secara pribadi mungkin membuka hati, sedangkan teguran yang sama di depan banyak orang dapat mempermalukan. Penjelasan yang panjang mungkin perlu ditunda ketika seseorang baru menerima kabar duka. Percakapan penting dapat menunggu sampai kedua pihak cukup tenang untuk mendengar.

Sebelum berbicara, pertimbangkan bagaimana perkataan itu akan diterima. Apakah nada saya membantu orang memahami maksudnya? Apakah keadaan orang ini memungkinkan ia mendengar? Apakah sekarang waktu yang tepat?

WISDOM IS KNOWING WHAT TO SAY, WHEN TO SAY IT, AND HOW TO SAY IT.

Saya lebih merekomendasikan versi kedua karena lebih ringkas, mudah diingat, dan inspiratif.

6. THINK BEFORE YOU SPEAK

Pikir Dulu Sebelum Berbicara

Amsal 15:28 Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat.

Amsal mengajarkan bahwa salah satu tanda hikmat adalah kemampuan untuk mempertimbangkan perkataan sebelum mengucapkannya. Orang yang bijaksana tidak terburu-buru memberikan jawaban, mengungkapkan pendapat, atau menanggapi sesuatu yang terjadi. Ia menyadari bahwa tidak semua yang terlintas dalam pikiran harus diucapkan, dan tidak semua yang ingin dikatakan perlu disampaikan. Ada perbedaan besar antara mengatakan apa yang sedang kita pikirkan dan memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita katakan.

Amsal 29:20 Kaulihat orang yang cepat dengan kata-katanya; harapan lebih banyak bagi orang bebal dari pada bagi orang itu.

Peringatan ini menunjukkan betapa berbahayanya kebiasaan berbicara secara impulsif. Perkataan yang diucapkan tanpa pertimbangan dapat menimbulkan kesalahpahaman, melukai perasaan, merusak hubungan, bahkan menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Sering kali persoalannya bukan karena apa yang kita katakan sepenuhnya salah, melainkan karena kita mengatakannya pada waktu yang tidak tepat, dengan cara yang tidak bijaksana, atau dengan motivasi yang keliru. Sesuatu yang benar sekalipun dapat menimbulkan kerusakan ketika disampaikan tanpa hikmat.

Karena itu, sebelum berbicara, biasakan untuk mempertimbangkan beberapa pertanyaan sederhana: Apakah yang akan saya katakan benar? Apakah perlu disampaikan? Apakah ini waktu yang tepat? Apa motivasi saya mengatakannya? Apakah cara saya menyampaikannya akan membangun atau justru melukai? Pertanyaan-pertanyaan ini menolong kita untuk tidak hanya memikirkan isi perkataan, tetapi juga tujuan, waktu, dan dampaknya bagi orang lain.

Terutama ketika emosi sedang tinggi, belajarlah memberikan jeda sebelum merespons. Tidak semua pesan harus segera dibalas, tidak semua komentar harus ditanggapi, dan tidak semua perbedaan pendapat harus diperdebatkan. Terkadang, beberapa saat untuk menenangkan diri, berpikir, dan berdoa dapat menyelamatkan sebuah hubungan dari kerusakan yang tidak perlu. Kita mungkin tidak dapat menarik kembali perkataan yang sudah diucapkan, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk mempertimbangkannya sebelum berbicara.

Namun, berpikir sebelum berbicara bukan berarti kita harus selalu diam atau menghindari percakapan yang sulit. Ada saatnya kita perlu menyampaikan kebenaran, memberikan teguran, atau menyelesaikan persoalan yang tidak boleh dibiarkan. Hikmat bukan hanya menolong kita mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi juga kapan, mengapa, dan bagaimana mengatakannya. Tujuan kita bukan sekadar berbicara lebih sedikit, melainkan berbicara dengan lebih bijaksana.

THINK BEFORE YOU SPEAK. WORDS SPOKEN CANNOT BE UNSPOKEN.

Pikirkan sebelum berbicara, karena perkataan yang sudah diucapkan tidak dapat ditarik kembali.

7. USE YOUR WORDS TO BUILD OTHERS UP

Gunakan Perkataanmu untuk Membangun Orang Lain

Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Paulus mengajarkan bahwa perkataan kita seharusnya tidak hanya terhindar dari hal-hal yang buruk, tetapi juga secara aktif dipergunakan untuk membangun kehidupan orang lain. Tuhan memberikan kita kemampuan berbicara bukan hanya untuk menyampaikan informasi, mengungkapkan pendapat, atau menyatakan perasaan, tetapi juga untuk menguatkan, menghibur, menasihati, dan memberikan pengharapan kepada orang-orang di sekitar kita. Kedewasaan rohani bukan hanya terlihat dari kemampuan kita menahan perkataan yang buruk, tetapi juga dari kesediaan kita menggunakan perkataan untuk menghasilkan sesuatu yang baik.

Menariknya, Efesus 4:29 menekankan bahwa perkataan yang membangun adalah perkataan yang disampaikan “di mana perlu.” Artinya, kita perlu memiliki kepekaan untuk memahami keadaan dan kebutuhan orang yang mendengarnya. Ada orang yang membutuhkan dorongan ketika sedang kehilangan semangat, ada yang membutuhkan penghiburan ketika sedang berduka, ada yang membutuhkan penghargaan atas perjuangannya, dan ada pula yang membutuhkan nasihat atau teguran agar dapat bertumbuh menjadi lebih baik. Perkataan yang membangun bukan selalu perkataan yang menyenangkan untuk didengar, tetapi perkataan yang disampaikan dengan kasih dan bertujuan membawa kebaikan.

Amsal 12:25 Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.

Kita sering tidak mengetahui pergumulan yang sedang dialami seseorang. Di balik senyuman, mungkin ada hati yang sedang terluka. Di balik penampilan yang kuat, mungkin ada seseorang yang sedang berjuang untuk tidak menyerah. Karena itu, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah perkataan yang baik. Ucapan terima kasih yang tulus, penghargaan yang sederhana, kata-kata penghiburan, atau dorongan yang diberikan pada waktu yang tepat dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Mulailah dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Apakah pasangan kita lebih sering mendengar penghargaan atau kritik dari mulut kita? Apakah anak-anak kita lebih sering menerima dorongan atau teguran? Apakah rekan kerja dan orang-orang yang kita pimpin merasa dikuatkan atau justru direndahkan melalui perkataan kita? Jangan sampai kita begitu mudah memberikan kata-kata yang baik kepada orang lain, tetapi lupa membangun orang-orang yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Setiap hari Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menjadi berkat melalui perkataan. Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi seseorang, tetapi kita dapat memberikan kekuatan untuk menghadapi persoalan tersebut. Kita mungkin tidak dapat mengubah keadaan seseorang, tetapi perkataan kita dapat menolongnya melihat keadaan itu dengan perspektif yang baru. Jadikan perkataan kita sebagai sarana untuk menghadirkan kasih, pengharapan, dan anugerah Tuhan dalam kehidupan orang lain.

Pada akhirnya, jangan hanya berhenti pada keputusan untuk tidak menyakiti, tidak menghakimi, atau tidak menjatuhkan orang lain melalui perkataan kita. Melangkahlah lebih jauh dengan secara sengaja menggunakan perkataan untuk menguatkan yang lemah, menghibur yang terluka, membangkitkan yang kehilangan pengharapan, dan membangun kehidupan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Jangan hanya menghindari perkataan yang merusak; jadilah seseorang yang perkataannya membawa kehidupan.

WORDS CAN BUILD. WORDS CAN BREAK. CHOOSE TO BUILD.

CLOSING — BUILD YOUR WORLD WITH YOUR WORDS

Perkataan kita bukan sekadar rangkaian kata-kata atau sarana untuk berkomunikasi. Ada kekuatan dalam setiap perkataan yang kita ucapkan. Perkataan dapat membangun atau menghancurkan, menguatkan atau melemahkan, menghadirkan pengharapan atau menimbulkan keputusasaan. Melalui perkataan, kita sedang memengaruhi kehidupan kita sendiri, membentuk hubungan, dan menciptakan suasana di sekitar kita.

Karena itu, jadilah bijaksana dalam menggunakan perkataan. Jangan hanya berusaha menghindari perkataan yang buruk, sia-sia, atau menyakitkan, tetapi secara sengaja gunakanlah perkataan kita untuk membangun kehidupan yang ingin kita lihat bertumbuh. Jika kita menginginkan hubungan yang penuh kasih, ucapkanlah kata-kata yang membangun kasih. Jika kita menginginkan keluarga yang penuh damai, gunakanlah perkataan yang membawa kedamaian. Jika kita ingin melihat orang-orang di sekitar kita bertumbuh, ucapkanlah kata-kata yang menguatkan dan memberikan pengharapan. Biarlah perkataan kita menjadi sarana untuk menghadirkan kebenaran, kasih, dan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita.

YOUR WORDS CREATE YOUR WORLD. BUILD IT WITH WISDOM, TRUTH, AND LOVE.

Tinggalkan Balasan