Setiap tanggal 31 Oktober, Halloween dirayakan di berbagai negara dan kini semakin populer di Indonesia. Kita dapat melihat pesta Halloween diselenggarakan di sekolah, pusat perbelanjaan, restoran, bahkan dalam acara-acara komunitas. Orang-orang mengenakan berbagai kostum, menghias ruangan dengan dekorasi menyeramkan, dan menikmati berbagai permainan.
Bagi sebagian orang, Halloween hanyalah sebuah pesta yang menyenangkan. Tidak ada ritual keagamaan, tidak ada pemanggilan arwah, dan tentu saja tidak ada maksud untuk menyembah iblis. Namun, apakah karena Halloween hanya dianggap sebagai hiburan, berarti orang Kristen patut ikut merayakannya?
APA SEBENARNYA HALLOWEEN?
The World Book Encyclopedia mengatakan bahwa jika ditelusuri, asal-usul Halloween berhubungan dengan Samhain, yaitu ”hari raya kuno yang dirayakan oleh orang Kelt lebih dari 2.000 tahun yang lalu”. Buku itu juga mengatakan, ”Orang Kelt, yang menyembah dewa-dewi, percaya bahwa selama [Samhain], orang mati bisa berada di antara orang yang masih hidup dan orang yang masih hidup bisa bergaul dengan orang mati.”
Terus terang, saya belum menemukan satu sumber yang secara langsung mengkaitkan perayaan Halloween dengan ritual sihir atau okultisme. Namun, ada sesuatu yang tetap menonjol dalam perayaan Halloween, yaitu penggunaan simbol-simbol yang berkaitan dengan hantu, arwah, penyihir, setan, tengkorak, dan kematian. Berbagai simbol tersebut digunakan dalam kostum, dekorasi, maupun suasana pesta Halloween.
Pertanyaannya, mengapa sebagai orang Kristen kita patut ikut merayakan sesuatu yang menjadikan simbol-simbol tersebut sebagai daya tarik utamanya?
Mungkin ada yang berpendapat bahwa mengenakan kostum Halloween atau menghadiri pesta Halloween tidak berarti seseorang sedang menyembah iblis. Saya setuju bahwa kita tidak dapat menyimpulkan seseorang sedang melakukan penyembahan hanya karena ia menghadiri sebuah pesta.
Namun, persoalannya bukan hanya apakah kita sedang melakukan ritual penyembahan atau tidak. Persoalannya adalah apakah perayaan tersebut merupakan sesuatu yang patut kita ikuti sebagai pengikut Kristus.
APA YANG ALKITAB KATAKAN?
Ula.18:9 “Apabila kamu sudah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu, janganlah meniru kejahatan yang dilakukan bangsa-bangsa yang ada di situ. (10) Di antara kamu janganlah ada yang mempersembahkan anak-anaknya sebagai kurban bakaran. Dan janganlah seorang pun menjadi tukang ramal, mencari pertanda-pertanda, memakai jampi-jampi atau (11) ilmu sihir, atau mengadakan hubungan dengan roh-roh orang mati.( 12) Orang yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat itu dibenci oleh TUHAN Allahmu, dan itulah sebabnya bangsa-bangsa itu disingkirkan-Nya dari hadapanmu. (13) Jadi hendaklah kamu mengabdi kepada TUHAN Allahmu dengan sepenuh hatimu.” (BIS)
Ayat-ayat ini merupakan peringatan Tuhan kepada bangsa Israel ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian. Mereka akan hidup di tengah bangsa-bangsa yang memiliki berbagai kepercayaan dan praktik spiritual yang bertentangan dengan kehendak Allah, seperti ramalan, sihir, dan komunikasi dengan roh orang mati. Tuhan tidak hanya melarang umat-Nya melakukan praktik-praktik tersebut, tetapi juga memperingatkan mereka agar tidak meniru kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya. Umat Tuhan dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda, bukan sekadar mengikuti apa yang dianggap biasa atau diterima oleh masyarakat di sekeliling mereka.
Deu.18:9 (NLT)“When you enter the land the Lord your God is giving you, be very careful not to imitate the detestable customs of the nations living there.
Kata detestable dalam bahasa Inggris berarti menjijikkan, sangat dibenci, atau sangat tidak disukai karena dianggap jahat atau tercela secara moral. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah to’evah (תּוֹעֵבָה), yang sering diterjemahkan sebagai abomination. Kata ini menggambarkan sesuatu yang dianggap sangat tercela atau tidak berkenan di hadapan Allah, khususnya dalam konteks penyembahan berhala dan praktik-praktik yang bertentangan dengan kekudusan-Nya.
Melalui firman ini, Tuhan mengingatkan umat-Nya untuk tidak begitu saja mengikuti setiap kebiasaan atau tradisi yang berkembang di sekitar mereka, melainkan belajar menilainya dengan bijaksana berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.
Yang menarik, setelah Tuhan melarang bangsa Israel meniru praktik-praktik spiritual bangsa-bangsa di sekitarnya, perikop ini ditutup dengan perintah dalam Ulangan 18:13 (BIS): “Jadi hendaklah kamu mengabdi kepada TUHAN Allahmu dengan sepenuh hatimu.” Dalam bahasa Ibrani, kata tamim yang digunakan dalam ayat ini mengandung pengertian utuh, tidak terbagi, dan tidak bercela. Dengan demikian, larangan Tuhan dalam ayat 9–12 bukan sekadar tentang praktik-praktik yang harus dijauhi, melainkan juga tentang kesetiaan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Tuhan. Bangsa Israel tidak boleh mencampurkan penyembahan kepada Allah dengan praktik spiritual bangsa-bangsa lain karena mereka dipanggil untuk hidup dalam pengabdian yang utuh kepada-Nya.
WHEN IN DOUBT, CHOOSE FAITHFULNESS OVER PARTICIPATION.
Ketika kita ragu apakah sesuatu berkenan kepada Tuhan, lebih bijaksana untuk tidak melakukannya daripada mengambil risiko mengkompromikan kesetiaan kita kepada-Nya.
Efesus 5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, (9) karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, (10) dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. (11) Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
Melalui ayat-ayat ini, Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita telah menerima identitas yang baru di dalam Kristus. Dahulu kita adalah kegelapan, tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan. Karena itu, kehidupan kita seharusnya mencerminkan siapa kita di dalam Kristus. Paulus menjelaskan bahwa hidup sebagai anak-anak terang berarti menghasilkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran, serta belajar menguji apa yang berkenan kepada Tuhan.
Perhatikan bahwa dalam ayat 10, Paulus berkata, “Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” Artinya, kita tidak seharusnya menerima atau mengikuti begitu saja setiap kebiasaan dan kegiatan yang dianggap wajar oleh masyarakat, tetapi belajar menilainya berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Kemudian dalam ayat 11, Paulus melanjutkan dengan perintah agar kita tidak turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan. Kedua ayat ini saling berkaitan: kita dipanggil bukan hanya untuk menjauhi apa yang jelas-jelas bertentangan dengan kehendak Tuhan, tetapi juga untuk secara aktif memilih apa yang berkenan kepada-Nya.
Kita memahami bahwa banyak orang mengikuti pesta Halloween semata-mata untuk bersenang-senang, tanpa maksud spiritual atau keterlibatan dalam praktik okultisme. Namun, sebagai anak-anak terang, kita tetap perlu mempertimbangkan apakah simbol-simbol hantu, arwah, setan, dan kuasa kegelapan yang ditonjolkan dalam perayaan tersebut merupakan sesuatu yang pantas kita rayakan. Kita tidak perlu menghakimi orang lain yang memiliki pandangan berbeda, tetapi kita juga perlu memiliki keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan keyakinan iman kita.
Standar kehidupan Kristen bukan sekadar menghindari apa yang berdosa, melainkan memilih apa yang berkenan kepada Tuhan.
JADI, BOLEHKAH ORANG KRISTEN IKUT MERAYAKAN HALLOWEEN?
Menurut saya, orang Kristen tidak patut ikut merayakan Halloween, sekalipun perayaan tersebut hanya berupa pesta kostum, dekorasi, dan hiburan tanpa ritual okultisme. Mungkin seseorang berkata, “Saya hanya ikut pesta Halloween untuk bersenang-senang. Saya tidak percaya kepada hantu atau roh-roh jahat.”
Tetapi sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk mempertimbangkan apakah kegiatan yang kita ikuti itu baik, membangun, dan selaras dengan nilai-nilai iman kita. Kita memahami bahwa banyak orang mengikuti pesta Halloween semata-mata untuk bersenang-senang, tanpa bermaksud menghormati roh jahat atau terlibat dalam praktik okultisme. Namun, kita tetap perlu bijaksana dalam menyikapi simbol-simbol hantu, arwah, setan, penyihir, dan kematian yang menjadi bagian dari perayaan tersebut. 1 Korintus 10:31 (TB) mengingatkan kita, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Firman Tuhan mengajarkan bahwa setiap aspek kehidupan kita, termasuk hiburan dan perayaan yang kita ikuti, seharusnya menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Sebagai orang Kristen, pertanyaan kita seharusnya bukan hanya, “Apakah ini dosa?”, tetapi juga, “Apakah yang saya lakukan ini membangun kehidupan iman saya dan memuliakan Tuhan?”
Sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak-anak agar bertumbuh dengan nilai-nilai yang berakar pada Firman Tuhan. Halloween justru dapat menjadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana menilai apa yang patut dan tidak patut dilakukan sebagai pengikut Kristus. Kita perlu menjelaskan bahwa tidak semua yang terlihat lucu, menarik, atau menyenangkan merupakan sesuatu yang baik untuk diikuti. Simbol-simbol Halloween yang berkaitan dengan hantu, arwah, setan, dan kuasa kegelapan bukanlah sesuatu yang memuliakan Tuhan. Karena itu, anak-anak perlu belajar mengambil keputusan berdasarkan iman dan nilai-nilai yang mereka yakini, bukan sekadar mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya.
Dalam praktiknya, ketika anak-anak mendapat undangan pesta Halloween dari sekolah atau teman-temannya, gunakan kesempatan tersebut untuk berdialog dengan mereka. Tanyakan apa yang mereka ketahui tentang Halloween, jelaskan mengapa keluarga kita memilih untuk tidak merayakannya, dan ajak mereka memikirkan apakah kegiatan tersebut sesuai dengan nilai-nilai iman Kristen. Jika mereka memutuskan untuk tidak ikut, bantu mereka menyampaikan keputusan itu dengan sopan tanpa merendahkan teman-teman yang merayakannya. Kita juga dapat menyediakan kegiatan alternatif yang menyenangkan agar mereka memahami bahwa tidak mengikuti Halloween bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang. Ajarkan kepada mereka bahwa tidak apa-apa menjadi berbeda, dan mereka tidak perlu takut atau malu untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan iman mereka. Justru keberanian untuk melakukan apa yang benar, sekalipun berbeda dari orang lain, merupakan bagian penting dari pertumbuhan iman dan kedewasaan mereka.
Kita tidak perlu takut terhadap Halloween, tetapi kita juga tidak perlu ikut merayakannya. Inilah yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak. Kita tidak ingin mereka bertumbuh dengan ketakutan terhadap hantu, roh jahat, atau simbol-simbol Halloween, seolah-olah semua itu memiliki kuasa yang lebih besar daripada Tuhan. Sebaliknya, kita ingin mereka mengenal Yesus Kristus yang telah menang atas kuasa kegelapan dan percaya bahwa mereka berada dalam pemeliharaan-Nya. Jelaskan kepada anak-anak bahwa kita memilih untuk tidak merayakan Halloween bukan karena takut, melainkan karena kita mengasihi Tuhan dan ingin melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Kita ingin mereka belajar mengambil keputusan berdasarkan iman, bukan ketakutan; berdasarkan keyakinan, bukan tekanan dari teman-teman. Dengan demikian, mereka dapat bertumbuh menjadi pribadi yang berani mempertahankan nilai-nilai imannya, sekaligus tetap mengasihi dan menghormati orang lain yang memiliki pilihan berbeda.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan sekadar mengajarkan anak-anak untuk mengatakan tidak kepada Halloween, melainkan membentuk generasi yang mengenal Tuhan, mengasihi kebenaran, dan memiliki keberanian untuk hidup berdasarkan imannya. Mereka tidak harus mengikuti semua yang dilakukan teman-temannya untuk merasa diterima, dan mereka tidak perlu merendahkan orang lain untuk mempertahankan keyakinannya. Biarlah mereka belajar bahwa menjadi pengikut Kristus terkadang berarti berani mengambil jalan yang berbeda, tetapi selalu dengan hati yang penuh kasih.
Our goal is not just to raise children who know what to avoid, but children who know what to stand for.