FEELINGS ARE REAL, BUT THEY ARE NOT ALWAYS TRUE

Jangan Biarkan Perasaan Menentukan Kebenaran

Ada saat-saat dalam kehidupan ketika apa yang kita rasakan begitu kuat sehingga terasa seperti sebuah kenyataan. Kita merasa tidak dihargai, lalu berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang menghargai kita. Kita merasa gagal, lalu menyimpulkan bahwa seluruh hidup kita telah gagal. Kita merasa sendirian, lalu menganggap tidak ada seorang pun yang peduli. Bahkan ketika kita merasa Tuhan jauh, kita mulai mempertanyakan apakah Dia masih menyertai kita.

Tanpa disadari, perasaan yang seharusnya menjadi bagian dari pengalaman hidup kita justru menjadi dasar untuk menilai seluruh kehidupan. Kita mulai melihat diri sendiri, orang lain, keadaan, bahkan Tuhan, melalui apa yang sedang kita rasakan.

Padahal, apa yang kita rasakan memang nyata, tetapi kesimpulan yang kita tarik dari perasaan itu belum tentu benar.

Kisah Elia dalam 1 Raja-raja 19 memperlihatkan hal ini dengan sangat jelas. Elia baru saja mengalami kemenangan luar biasa di Gunung Karmel. Ia menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doanya dengan api dari langit. Namun, tidak lama kemudian, ancaman Izebel membuatnya ketakutan dan melarikan diri ke padang gurun. Di sana, di bawah sebuah pohon arar, Elia meminta Tuhan mengambil nyawanya.

Bagaimana mungkin seorang nabi yang baru saja menyaksikan kuasa Tuhan yang begitu besar dapat mengalami keputusasaan sedemikian dalam? Kisah Elia mengingatkan kita bahwa orang yang memiliki iman besar pun tetap manusia yang memiliki perasaan. Kita dapat mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap mengalami ketakutan, kekecewaan, kelelahan, dan kesedihan.

Namun, yang menarik bukan hanya apa yang Elia rasakan, melainkan bagaimana Tuhan menolongnya melewati keadaan tersebut. Dari pengalaman Elia, kita dapat belajar tiga pertanyaan penting yang perlu kita ajukan ketika perasaan mulai menguasai hati dan pikiran kita.

1. WHAT AM I FEELING?

Kenali dan Terima Apa yang Sedang Kita Rasakan

1 Raja-raja 19:4 (TB)

“Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: ‘Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.'”

Bayangkan keadaan Elia saat itu. Setelah menghadapi pertentangan yang begitu besar di Gunung Karmel, ia menerima ancaman pembunuhan dari Izebel. Elia melarikan diri, meninggalkan bujangnya di Bersyeba, lalu berjalan seorang diri ke padang gurun. Di bawah sebuah pohon arar, ia akhirnya mengungkapkan apa yang sedang terjadi di dalam hatinya: “Cukuplah itu!”

Kata-kata tersebut memperlihatkan betapa beratnya keadaan yang sedang dialami Elia. Ia bukan sekadar menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga mengalami pergumulan yang mendalam di dalam dirinya. Ketakutan, kelelahan, kekecewaan, dan keputusasaan telah membawanya sampai pada titik ketika ia merasa tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan hidupnya.

Yang menarik, Elia tidak menyembunyikan pergumulannya dari Tuhan. Ia datang dengan keadaan dirinya yang sebenarnya. Ia tidak berpura-pura kuat atau menggunakan kata-kata yang terdengar rohani untuk menutupi apa yang sedang dirasakannya. Ia mengungkapkan isi hatinya dengan jujur di hadapan Tuhan.

Hal ini mengingatkan kita bahwa memiliki iman bukan berarti kita tidak boleh memiliki perasaan yang sulit.Menjadi orang percaya bukan berarti kita tidak pernah takut, sedih, kecewa, atau merasa lemah. Perasaan adalah bagian dari kemanusiaan kita. Bahkan Yesus sendiri mengalami kesedihan dan kegentaran ketika menghadapi penderitaan di Getsemani (Matius 26:37–38).

Masalahnya, terkadang kita tidak memberikan ruang untuk mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hati. Ketika merasa sedih, kita berusaha mengabaikannya. Ketika kecewa, kita menutupinya dengan kesibukan. Ketika takut, kita berpura-pura kuat. Padahal, perasaan yang terus ditekan tidak selalu hilang; terkadang justru memengaruhi sikap, perkataan, dan keputusan kita tanpa kita sadari.

Karena itu, langkah pertama adalah belajar berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan? Apakah saya sedang takut, kecewa, terluka, marah, atau kelelahan? Apa yang membuat saya merasa demikian?

Mengenali perasaan bukan berarti membenarkan setiap respons yang muncul darinya. Kita dapat mengakui bahwa kita sedang marah tanpa harus melampiaskan kemarahan. Kita dapat menerima bahwa kita sedang takut tanpa harus membiarkan ketakutan menguasai keputusan. Kita dapat mengakui bahwa kita sedang kecewa tanpa harus kehilangan pengharapan.

ACKNOWLEDGE YOUR FEELINGS, BUT DON’T LET THEM CONTROL YOU.

Akui apa yang kita rasakan, tetapi jangan biarkan perasaan mengendalikan kehidupan kita.

Kita tidak perlu menyembunyikan perasaan dari Tuhan. Dia mengenal hati kita bahkan sebelum kita mengungkapkannya. Datanglah kepada-Nya dengan jujur, sebab kejujuran di hadapan Tuhan dapat menjadi awal dari proses pemulihan.

2. WHAT IS REALLY TRUE?

Uji Perasaan Kita dalam Terang Kebenaran

1 Raja-raja 19:10 (TB)

“Jawabnya: ‘Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.'”

Ketika Tuhan bertanya kepada Elia apa yang sedang dilakukannya di sana, Elia mengungkapkan isi hatinya. Ia merasa telah berjuang dengan sungguh-sungguh bagi Tuhan, tetapi keadaan tidak berubah seperti yang diharapkannya. Ia merasa ditinggalkan dan sendirian menghadapi ancaman terhadap hidupnya.

Perhatikan salah satu pernyataannya: “Hanya aku seorang dirilah yang masih hidup.”

Itulah yang Elia rasakan. Namun, apakah itu seluruh kenyataannya?

Dalam 1 Raja-raja 19:18, Tuhan menyatakan bahwa masih ada tujuh ribu orang di Israel yang tidak sujud menyembah Baal. Elia merasa sendirian, tetapi ia bukan satu-satunya orang yang tetap setia kepada Tuhan. Apa yang ia rasakan tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang Tuhan ketahui.

Di sinilah kita menemukan sebuah prinsip penting: perasaan kita nyata, tetapi tidak selalu mengatakan seluruh kebenaran.

Perasaan dapat memberi tahu kita tentang apa yang sedang terjadi di dalam hati, tetapi tidak selalu memberikan gambaran yang utuh tentang apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Ketika kita sedang terluka, kita mungkin lebih mudah melihat penolakan daripada penerimaan. Ketika sedang kecewa, kita lebih mudah mengingat apa yang salah daripada apa yang masih baik. Ketika sedang takut, kita dapat membayangkan kemungkinan terburuk seolah-olah hal tersebut pasti akan terjadi.

Itulah sebabnya kita perlu membedakan antara apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang benar-benar kita ketahui. Ketiganya tidak selalu sama.

Ketika merasa tidak dihargai, tanyakan apakah benar tidak ada seorang pun yang menghargai kita, atau apakah ada pengalaman tertentu yang membuat kita merasa demikian. Ketika merasa gagal, tanyakan apakah seluruh kehidupan kita benar-benar gagal, atau kita sedang menghadapi kegagalan dalam satu bagian kehidupan. Ketika merasa Tuhan tidak menyertai, tanyakan apakah Dia sungguh meninggalkan kita, atau kita sedang berada dalam keadaan yang membuat kita sulit merasakan kehadiran-Nya.

DON’T CONFUSE WHAT YOU FEEL WITH WHAT IS TRUE.

Jangan menyamakan apa yang kita rasakan dengan apa yang benar.

Namun, bagi orang percaya, kita tidak berhenti hanya pada pemeriksaan fakta dan keadaan. Kita juga perlu melihat kehidupan dalam terang Firman Tuhan. Ada kebenaran tentang karakter Tuhan, kasih-Nya, dan janji penyertaan-Nya yang tidak berubah sekalipun keadaan dan perasaan kita berubah.

Tuhan yang menjawab doa Elia dengan api di Gunung Karmel adalah Tuhan yang sama yang tetap menyertainya ketika ia melarikan diri ke padang gurun. Ketika Elia merasa semuanya sudah berakhir, Tuhan masih memiliki rencana baginya. Ketika Elia merasa sendirian, Tuhan mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang setia kepada-Nya.

Keadaan Elia berubah. Perasaannya berubah. Tetapi kesetiaan Tuhan tidak berubah.

Demikian pula dalam kehidupan kita. Ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan, kita mungkin sulit melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan. Namun, keterbatasan kita untuk melihat pekerjaan Tuhan tidak berarti Dia telah berhenti bekerja.

WHAT YOU FEEL MAY CHANGE, BUT WHO GOD IS NEVER CHANGES.

Apa yang kita rasakan dapat berubah, tetapi siapa Tuhan tidak pernah berubah.

3. WHAT WILL I CHOOSE TO BELIEVE AND DO?

Biarkan Kebenaran Membentuk Keyakinan dan Memimpin Keputusan

1 Raja-raja 19:15 “Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik …'”

Kisah Elia tidak berakhir di bawah pohon arar. Tuhan tidak membiarkannya berhenti dalam ketakutan dan keputusasaan. Tuhan memelihara kebutuhan fisiknya, memberinya waktu untuk beristirahat, mendengarkan keluhannya, dan kemudian menuntunnya kembali kepada panggilannya.

Perhatikan bahwa Tuhan tidak hanya menolong Elia memahami keadaan yang sebenarnya, tetapi juga memberinya arahan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Elia diperintahkan untuk kembali melanjutkan tugas yang Tuhan percayakan kepadanya.

Inilah langkah penting setelah kita mengenali perasaan dan mengujinya dalam terang kebenaran. Kita perlu memutuskan apa yang akan kita percayai dan bagaimana kita akan meresponsnya.

Kita mungkin tidak selalu dapat memilih perasaan yang muncul dalam hati, tetapi kita dapat belajar memilih bagaimana merespons perasaan tersebut. Ketika merasa takut, kita dapat memilih untuk tetap melangkah dengan iman dan hikmat. Ketika merasa kecewa, kita dapat memilih untuk tidak membiarkan kepahitan menguasai hati. Ketika merasa tidak berharga, kita dapat kembali mengingat siapa diri kita di hadapan Tuhan.

Pilihan tersebut bukan berarti kita mengabaikan perasaan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, kita sedang belajar menempatkan perasaan pada tempat yang benar. Perasaan perlu didengarkan dan dipahami, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya penentu arah kehidupan.

Mazmur 119:105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Pemazmur menggambarkan Firman Tuhan sebagai pelita dan terang yang menuntun langkah kita. Kita membutuhkan terang karena tidak selalu dapat melihat jalan di depan dengan jelas. Demikian pula ketika perasaan mengaburkan cara kita melihat kehidupan, Firman Tuhan menolong kita menemukan kembali arah yang benar.

Namun, hidup berdasarkan kebenaran bukan berarti kita selalu langsung merasa lebih baik. Terkadang ketakutan masih ada ketika kita memilih untuk melangkah. Kesedihan belum sepenuhnya hilang ketika kita memutuskan untuk tetap berharap. Kita mungkin masih memiliki banyak pertanyaan ketika memilih untuk percaya kepada Tuhan.

Iman bukan berarti tidak pernah merasa takut, tetapi belajar tetap mempercayai Tuhan di tengah ketakutan. Ketaatan bukan berarti semua perasaan kita sudah berubah, tetapi memilih melakukan apa yang benar sekalipun perasaan belum sepenuhnya mendukungnya.

DON’T WAIT FOR YOUR FEELINGS TO CHANGE BEFORE YOU CHOOSE TO DO WHAT IS RIGHT.

Jangan selalu menunggu perasaan berubah sebelum memilih untuk melakukan apa yang benar.

Karena itu, ketika menghadapi pergumulan, jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang sedang kita rasakan. Ambillah waktu untuk berdoa, merenungkan Firman Tuhan, mencari nasihat yang bijaksana, dan melihat keadaan dengan lebih jernih. Setelah itu, ambillah langkah yang benar, sekalipun mungkin hanya satu langkah kecil.

Kita tidak harus mengetahui seluruh perjalanan di depan. Yang penting adalah belajar mengambil langkah berikutnya dalam terang kebenaran yang Tuhan telah nyatakan.

CLOSING — LET TRUTH LEAD YOUR LIFE

Kisah Elia mengingatkan kita bahwa bahkan seorang yang memiliki iman besar dapat mengalami ketakutan, kelelahan, dan keputusasaan. Namun, Tuhan tidak meninggalkannya dalam keadaan tersebut. Tuhan mendengarkan keluhannya, memelihara kehidupannya, memperlihatkan kenyataan yang tidak dapat dilihatnya, dan menuntunnya untuk kembali melanjutkan panggilannya.

Mungkin hari ini kita juga sedang menghadapi keadaan yang membuat perasaan begitu kuat. Kita merasa gagal, merasa tidak berharga, merasa sendirian, atau merasa tidak ada lagi harapan. Jangan menyangkal apa yang sedang kita rasakan, tetapi jangan pula terburu-buru mempercayai setiap kesimpulan yang muncul darinya. Ingatlah bahwa apa yang kita rasakan hari ini belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan tentang kehidupan dan masa depan kita.

Belajarlah mengenali apa yang kita rasakan, mengujinya dalam terang kebenaran, kemudian memilih untuk mempercayai dan melakukan apa yang benar. Perasaan adalah bagian dari kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita, tetapi bukan dasar tertinggi untuk menentukan arah kehidupan kita. Firman Tuhanlah yang harus menjadi pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita.

LET YOUR FEELINGS BE HEARD, BUT LET GOD’S TRUTH HAVE THE FINAL WORD.

Berikan ruang bagi perasaan kita untuk didengarkan, tetapi biarlah kebenaran Firman Tuhan yang menentukan keputusan akhir.

FEELINGS ARE REAL, BUT THEY ARE NOT ALWAYS TRUE. LET TRUTH LEAD YOUR LIFE.

Tinggalkan Balasan