Bapa Surgawi,
Terima kasih untuk hari yang baru. Hari ini adalah anugerah dan kesempatan yang Engkau percayakan kepadaku. Ajarlah aku menghitung hari-hariku dengan bijaksana, agar aku tidak sekadar menjalani waktu, tetapi menggunakan setiap kesempatan untuk hidup sesuai dengan kehendak dan tujuan-Mu.
Tuhan, hari ini aku membutuhkan hikmat-Mu, anugerah-Mu, dan pewahyuan dari-Mu. Berikan aku hikmat untuk mengambil keputusan yang benar, anugerah untuk melakukan apa yang Engkau kehendaki, dan pewahyuan agar aku semakin mengenal-Mu dan memahami kebenaran-Mu.
Aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Kuduskan dan murnikan hatiku. Bentuklah hatiku semakin seperti hati-Mu, hati yang penuh kasih, belas kasihan, kerendahan hati, dan ketulusan. Ajarlah aku melihat dan mengasihi orang lain sebagaimana Engkau melihat dan mengasihi mereka.
Aku menyerahkan pikiranku kepada-Mu. Kuduskan dan perbaruilah pikiranku, agar aku memiliki pikiran Kristus. Biarlah cara berpikirku dibentuk oleh firman-Mu, sehingga aku dapat memahami kehendak-Mu dan memandang setiap keadaan dengan hikmat-Mu.
Aku menyerahkan telingaku kepada-Mu. Kuduskan pendengaranku dan jadikan aku peka terhadap suara-Mu. Di tengah begitu banyak suara yang kudengar sepanjang hari, ajarlah aku mengenali kebenaran-Mu, mendengarkan pimpinan Roh Kudus, dan memiliki hati yang siap menaati-Mu.
Aku menyerahkan mataku kepada-Mu. Kuduskan penglihatanku dan terangilah mata hatiku. Bukalah mataku untuk melihat apa yang Engkau ingin aku lihat, termasuk hal-hal yang tidak terlihat oleh mata jasmani. Berikan aku perspektif ilahi dan kekal, agar aku tidak hanya melihat keadaan yang ada di depanku, tetapi juga memahami tujuan-Mu dan hidup dengan visi yang berasal dari-Mu.
Aku menyerahkan mulutku kepada-Mu. Kuduskan perkataanku. Jagalah setiap kata yang keluar dari mulutku, agar perkataanku mencerminkan hati-Mu, menyampaikan kebenaran-Mu, memuliakan nama-Mu, dan menjadi berkat bagi setiap orang yang kutemui.
Tuhan, aku menyerahkan setiap langkahku hari ini kepada-Mu. Pimpinlah setiap keputusan, pertemuan, pekerjaan, dan tanggung jawabku. Luruskan jalanku dan tuntunlah aku untuk berjalan dalam kehendak-Mu.
Penuhi hidupku dengan damai sejahtera dan sukacita yang berasal dari-Mu. Apa pun yang akan kuhadapi hari ini, biarlah hatiku tetap percaya, pikiranku tetap tertuju kepada-Mu, dan hidupku tetap dipenuhi pengharapan.
Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.
Setiap pagi adalah sebuah kesempatan baru yang Tuhan berikan kepada kita. Sebelum kita menghadapi kesibukan, tanggung jawab, berbagai keputusan, dan tantangan yang belum kita ketahui, ada satu hal penting yang dapat kita lakukan: memulai hari dengan datang kepada Tuhan dan menyerahkan kehidupan kita kepada-Nya.
Sering kali, begitu bangun pagi, pikiran kita sudah dipenuhi dengan berbagai hal yang harus dikerjakan. Kita memikirkan jadwal yang padat, pekerjaan yang belum selesai, persoalan yang harus dihadapi, atau kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi hari itu. Tanpa kita sadari, kita sudah mulai menjalani hari dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri.
Itulah sebabnya doa pagi merupakan kebiasaan yang sangat berharga. Bukan karena Tuhan hanya dapat ditemui pada pagi hari, tetapi karena kita dengan sengaja memilih untuk memberikan perhatian pertama kita kepada Tuhan sebelum perhatian kita dipenuhi oleh berbagai tuntutan kehidupan.
Doa di atas adalah panduan doa yang saya gunakan setiap hari. Sederhana, dan kata-katanya tidak selalu persis sama, tetapi urutannya kurang lebih tetap. Saya ingin membagikan dasar Firman Tuhan dari setiap bagian doa ini, dengan harapan dapat memotivasi dan menolong Anda untuk memulai hari dengan menyerahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan, sekaligus memahami dengan benar apa yang sedang kita doakan dan mengapa kita mendoakannya.
1. Awali hari dengan ucapan syukur
“Terima kasih untuk hari yang baru. Hari ini adalah anugerah dan kesempatan yang Engkau percayakan kepadaku. Ajarlah aku menghitung hari-hariku dengan bijaksana, agar aku tidak sekadar menjalani waktu, tetapi menggunakan setiap kesempatan untuk hidup sesuai dengan kehendak dan tujuan-Mu.”
Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Hal pertama yang dapat kita lakukan setiap pagi adalah mengucap syukur kepada Tuhan untuk hari yang baru. Sering kali kita menganggap bangun pagi sebagai sesuatu yang biasa, seolah-olah hari esok selalu tersedia bagi kita. Padahal, setiap hari adalah anugerah Tuhan yang begitu berharga. Hari yang telah berlalu tidak akan pernah dapat kita ulangi, dan hari esok belum tentu menjadi milik kita. Karena itu, setiap pagi adalah kesempatan yang patut kita syukuri.
Dalam Mazmur 90:12, Musa meminta Tuhan mengajarnya menghitung hari-harinya supaya memperoleh hati yang bijaksana. Menghitung hari bukan sekadar menyadari bahwa waktu kehidupan kita terbatas, tetapi memahami betapa berharganya setiap hari yang Tuhan berikan. Kesadaran ini menolong kita memiliki hati yang bijaksana, yang mampu membedakan apa yang benar-benar penting, menentukan pilihan berdasarkan kehendak Tuhan, dan menjalani kehidupan dengan tujuan yang benar.
Ratapan 3:22–23 juga mengingatkan kita bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan dan rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Kita dapat memulai hari dengan pengharapan karena Tuhan yang setia kemarin adalah Tuhan yang sama yang memelihara kita hari ini.
EVERY NEW DAY IS A GIFT. LIVE IT WITH GRATITUDE AND PURPOSE.
Setiap hari yang baru adalah anugerah. Jalanilah dengan ucapan syukur dan tujuan yang benar.
2. Mintalah hikmat, anugerah, dan pewahyuan Tuhan
“Tuhan, hari ini aku membutuhkan hikmat-Mu, anugerah-Mu, dan pewahyuan dari-Mu. Berikan aku hikmat untuk mengambil keputusan yang benar, anugerah untuk melakukan apa yang Engkau kehendaki, dan pewahyuan agar aku semakin mengenal-Mu dan memahami kebenaran-Mu.”
Yakobus 1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Setelah mengucap syukur, mulailah hari dengan mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan. Kita mungkin memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan sumber daya yang cukup untuk menjalankan berbagai tanggung jawab. Namun, semua itu tidak berarti kita tidak lagi membutuhkan pertolongan Tuhan.
Ada tiga hal yang dapat kita minta setiap pagi.
Pertama, hikmat Tuhan (wisdom). Kita membutuhkan hikmat untuk mengambil keputusan yang benar, menentukan prioritas, merespons persoalan, dan mengetahui kapan harus berbicara, bertindak, atau menunggu. Yakobus 1:5 mengundang kita meminta hikmat kepada Allah yang memberikannya dengan murah hati.
Kedua, anugerah Tuhan (grace and favor). Kita membutuhkan kekuatan dan pertolongan Tuhan untuk melakukan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita. Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:10 bahwa oleh kasih karunia Allah ia dapat bekerja dengan sungguh-sungguh. Grace adalah kasih karunia Tuhan yang memampukan kita melakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan dengan kekuatan sendiri, sedangkan favor adalah kemurahan dan perkenanan Tuhan yang menyertai kehidupan kita, termasuk membuka kesempatan, memberikan pertolongan, dan membuat kita mendapat kepercayaan dari orang lain. Kita membutuhkan favor karena tidak semua hal dapat dicapai hanya melalui kemampuan dan usaha kita sendiri. Namun, favor Tuhan bukan berarti semua jalan akan selalu mudah atau setiap keinginan kita akan terpenuhi, melainkan bahwa dalam kemurahan-Nya, Tuhan bekerja menolong kita menggenapi kehendak dan tujuan-Nya.
Ketiga, pewahyuan Tuhan (revelation). Dalam Efesus 1:17, Paulus berdoa agar orang percaya menerima Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk menerangi pengertian kita sehingga semakin mengenal Tuhan, memahami firman-Nya, dan mengetahui bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Pewahyuan bukan sekadar mengetahui sesuatu yang tersembunyi tentang masa depan, tetapi terutama semakin mengenal Allah dan kebenaran-Nya.
GOD’S WISDOM TO GUIDE ME. GOD’S GRACE TO STRENGTHEN ME. GOD’S TRUTH TO ENLIGHTEN ME.
Hikmat-Nya menuntunku, anugerah-Nya menguatkanku, dan kebenaran-Nya menerangi hidupku.
3. Minta Tuhan menguduskan hati kita
“Aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Kuduskan dan murnikan hatiku. Bentuklah hatiku semakin seperti hati-Mu, hati yang penuh kasih, belas kasihan, kerendahan hati, dan ketulusan. Ajarlah aku melihat dan mengasihi orang lain sebagaimana Engkau melihat dan mengasihi mereka.”
Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Salah satu bagian terpenting dalam doa pagi adalah menyerahkan hati kita kepada Tuhan. Mengapa hati begitu penting? Karena apa yang ada di dalam hati akan memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Maz.51:12 Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!
Dalam Mazmur 51:12, Daud berdoa agar Allah menciptakan hati yang tahir di dalam dirinya. Kata tahir berasal dari bahasa Ibrani tahor (טָהוֹר), yang berarti bersih, murni, atau tidak tercemar. Dalam konteks doa pertobatan Daud, hati yang tahir bukan sekadar hati yang bebas dari pikiran atau keinginan yang salah, tetapi hati yang telah dibersihkan dan dipulihkan dalam hubungannya dengan Tuhan. Menariknya, Daud menggunakan kata bara (בָּרָא), yang berarti “menciptakan”, untuk menunjukkan bahwa perubahan hati yang sejati membutuhkan karya Allah, bukan sekadar usaha manusia memperbaiki diri. Karena itu, setiap pagi kita dapat datang kepada Tuhan dan meminta-Nya memurnikan hati kita dari kesombongan, kepahitan, iri hati, kemarahan, motivasi yang salah, dan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada-Nya, supaya hati kita semakin selaras dengan hati-Nya.
Matius 9:36 menceritakan bahwa ketika Yesus melihat orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Yesus tidak hanya melihat orang banyak sebagai kerumunan. Dia melihat kebutuhan dan pergumulan mereka. Ketika bertemu seseorang yang sulit, kita belajar memahami sebelum menghakimi. Ketika melihat seseorang membutuhkan pertolongan, kita tergerak untuk peduli. Ketika ada orang yang mengecewakan kita, kita belajar merespons dengan kasih dan kebenaran.
Periksalah hati kita di hadapan Tuhan. Apakah ada kepahitan yang masih disimpan? Apakah ada orang yang sulit kita ampuni? Apakah kita sedang dikuasai kecemasan, kesombongan, atau ambisi yang salah? Bawalah semuanya kepada Tuhan. Kemudian, mintalah satu hal yang sangat penting: hati yang penuh belas kasihan seperti hati Yesus.
GIVE ME A HEART THAT SEES PEOPLE THE WAY YOU SEE THEM AND LOVES PEOPLE THE WAY YOU LOVE THEM.
Berikan aku hati yang melihat orang lain sebagaimana Engkau melihat mereka dan mengasihi mereka sebagaimana Engkau mengasihi mereka.
4. Menyerahkan Pikiran Kita Kepada Tuhan
“Aku menyerahkan pikiranku kepada-Mu. Kuduskan dan perbaruilah pikiranku, agar aku memiliki pikiran Kristus. Biarlah cara berpikirku dibentuk oleh firman-Mu, sehingga aku dapat memahami kehendak-Mu dan memandang setiap keadaan dengan hikmat-Mu.”
Setiap hari, begitu banyak hal berusaha memengaruhi pikiran kita. Berita, media sosial, pendapat orang lain, tuntutan pekerjaan, pengalaman masa lalu, dan berbagai kekhawatiran dapat membentuk cara kita melihat kehidupan. Tanpa disadari, kita dapat mulai berpikir berdasarkan ketakutan, tekanan, atau nilai-nilai dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu menyerahkan pikiran kepada Tuhan setiap pagi.
1Kor.2:16 Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.
Paulus berkata bahwa kita memiliki pikiran Kristus. Ini bukan berarti kita mengetahui segala sesuatu seperti Tuhan, tetapi bahwa melalui Roh Kudus kita dapat memahami kebenaran yang dinyatakan Allah dan belajar memandang kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.
Ketika kita memiliki pikiran yang semakin selaras dengan Kristus, kita tidak lagi menilai segala sesuatu hanya berdasarkan keuntungan pribadi, perasaan sesaat, atau keadaan yang terlihat. Kita belajar berpikir dengan kebenaran, kasih, kerendahan hati, dan perspektif kekal.
Bagaimana mempraktikkannya?
Perhatikan pikiran yang mendominasi kita ketika bangun pagi. Apakah kita sedang dipenuhi kekhawatiran? Apakah kita sudah membayangkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi? Apakah kita sedang memikirkan seseorang dengan kemarahan atau prasangka?
Bawalah pikiran-pikiran tersebut kepada Tuhan. Jangan menerima setiap pikiran seolah-olah semuanya benar. Belajarlah mengujinya dengan Firman Tuhan dan menggantikan pola pikir yang salah dengan kebenaran-Nya.
LET GOD’S TRUTH SHAPE YOUR THINKING BEFORE THE WORLD SHAPES YOUR DAY.
Biarlah kebenaran Tuhan membentuk pikiran kita sebelum berbagai pengaruh dunia memenuhi hari kita.
5. Menyerahkan pendengaran kita, supaya kita mendengar Tuhan berbicara
“Aku menyerahkan telingaku kepada-Mu. Kuduskan pendengaranku dan jadikan aku peka terhadap suara-Mu. Di tengah begitu banyak suara yang kudengar sepanjang hari, ajarlah aku mengenali kebenaran-Mu, mendengarkan pimpinan Roh Kudus, dan memiliki hati yang siap menaati-Mu.”
1 Samuel 3:10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan suara. Setiap hari ada begitu banyak informasi, pendapat, tuntutan, dan nasihat yang berusaha mendapatkan perhatian kita. Namun, di antara semua suara tersebut, suara siapa yang paling memengaruhi keputusan dan arah kehidupan kita?
Mendengarkan Tuhan bukan berarti setiap pagi kita harus mendengar suara yang dapat ditangkap oleh telinga jasmani. Tuhan terutama berbicara melalui firman-Nya, dan Roh Kudus menolong kita memahami, mengingat, serta menerapkan kebenaran itu dalam kehidupan.
Yesus berkata dalam Yohanes 10:27 bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia. Perhatikan bahwa mendengarkan selalu berkaitan dengan kesediaan untuk mengikuti. Karena itu, tujuan mendengarkan Tuhan bukan sekadar memperoleh informasi atau pengalaman rohani, tetapi memiliki hati yang bersedia menaati kehendak-Nya.
Bagaimana mempraktikkannya?
Sediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Jangan terburu-buru. Setelah membaca, tanyakan dalam doa: “Tuhan, apa yang Engkau ingin ajarkan kepadaku melalui firman ini? Adakah sesuatu yang perlu kuubah atau kutaati hari ini?”
Belajarlah juga memberi ruang untuk diam di hadapan Tuhan. Tidak setiap keheningan harus diisi dengan kata-kata. Namun, jangan menganggap setiap pikiran atau kesan yang muncul sebagai suara Tuhan. Ujilah semuanya berdasarkan Kitab Suci dan dengan pertimbangan yang bijaksana.
BEFORE YOU LISTEN TO THE WORLD, MAKE ROOM TO LISTEN TO GOD.
Sebelum mendengarkan begitu banyak suara dunia, sediakan ruang untuk mendengarkan Tuhan.
6. Mintalah perspektif ilahi dan visi yang kekal
“Aku menyerahkan mataku kepada-Mu. Kuduskan penglihatanku dan terangilah mata hatiku. Bukalah mataku untuk melihat apa yang Engkau ingin aku lihat, termasuk hal-hal yang tidak terlihat oleh mata jasmani. Berikan aku perspektif ilahi dan kekal, agar aku tidak hanya melihat keadaan yang ada di depanku, tetapi juga memahami tujuan-Mu dan hidup dengan visi yang berasal dari-Mu.”
Efesus 1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya …
Apa yang kita lihat sangat memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.
Ketika kita hanya melihat persoalan, kita mudah kehilangan pengharapan. Ketika kita hanya melihat keterbatasan, kita mudah merasa tidak mampu. Ketika kita hanya melihat keberhasilan orang lain, kita dapat kehilangan rasa syukur atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Dalam Efesus 1:18, Paulus berdoa agar mata hati orang percaya diterangi sehingga mereka memahami pengharapan yang terkandung dalam panggilan Allah. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan untuk melihat kehidupan bukan hanya berdasarkan apa yang tampak, tetapi juga berdasarkan kebenaran dan janji-Nya.
Dalam 2 Raja-raja 6:15–17, pelayan Elisa menjadi takut ketika melihat pasukan musuh mengepung kota. Namun Elisa berdoa agar Tuhan membuka mata pelayannya. Tuhan kemudian memperlihatkan bahwa ada pasukan surgawi yang jauh lebih besar di sekeliling mereka.
Apa yang menarik dari kisah tersebut? Keadaan yang mereka hadapi tidak langsung berubah, tetapi pelayan Elisa memperoleh pemahaman baru tentang kenyataan yang sebelumnya tidak dapat dilihatnya. Kita tidak harus mengharapkan pengalaman penglihatan yang sama. Namun, kita dapat meminta Tuhan menerangi mata hati kita agar melihat keadaan dengan iman, hikmat, dan pengharapan yang berakar pada firman-Nya.
Kita juga membutuhkan perspektif kekal. Dalam 2 Korintus 4:18, Paulus mengingatkan bahwa apa yang kelihatan bersifat sementara, sedangkan yang tidak kelihatan bersifat kekal. Artinya, kita tidak boleh membiarkan hal-hal yang mendesak hari ini membuat kita melupakan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan.
Bagaimana mempraktikkannya?
Pikirkan keadaan yang sedang kita hadapi. Apakah ada persoalan yang terlihat terlalu besar? Apakah kita sedang kehilangan arah? Apakah perhatian kita terlalu banyak tertuju pada keberhasilan, materi, atau hal-hal sementara? Mintalah Tuhan menolong kita melihat keadaan tersebut dari perspektif firman-Nya. Belajarlah melihat orang lain dengan kasih, melihat tantangan dengan iman, dan melihat masa depan dengan pengharapan.
Mintalah juga visi kehidupan yang benar: bukan sekadar apa yang ingin kita capai, tetapi apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui kehidupan kita.
LORD, OPEN MY EYES TO SEE BEYOND WHAT IS VISIBLE AND LIVE FOR WHAT IS ETERNAL.
Tuhan, bukalah mataku untuk melihat melampaui apa yang terlihat dan hidup bagi apa yang bernilai kekal.
7. Menyerahkan Perkataan Kita kepada Tuhan
“Aku menyerahkan mulutku kepada-Mu. Kuduskan perkataanku. Jagalah setiap kata yang keluar dari mulutku, agar perkataanku mencerminkan hati-Mu, menyampaikan kebenaran-Mu, memuliakan nama-Mu, dan menjadi berkat bagi setiap orang yang kutemui.”
Setiap hari kita menggunakan perkataan untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan keluarga, rekan kerja, sahabat, maupun orang-orang yang kita temui. Namun, sering kali kita tidak menyadari betapa besar pengaruh perkataan kita. Kata-kata yang kita ucapkan dapat menguatkan, menghibur, membangun, dan memulihkan hubungan. Sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat melukai, merendahkan, bahkan merusak hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Yesaya 6:5–7
(5) Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” (6) Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. (7) Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”
Ketika Nabi Yesaya berhadapan dengan kekudusan Tuhan, dia menyadari keadaan dirinya dan berseru, “Celakalah aku! … Sebab aku ini seorang yang najis bibir.” Menariknya, di hadapan Allah yang kudus, Yesaya secara khusus menyadari kenajisan bibirnya. Kemudian seorang serafim mengambil bara dari mezbah dan menyentuh mulut Yesaya sebagai tanda bahwa kesalahan dan dosanya telah dihapus. Setelah mengalami penyucian itu, Yesaya menerima panggilan Tuhan untuk menjadi utusan-Nya.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa sebelum bibir kita dipakai untuk menyampaikan kebenaran Tuhan, kita sendiri membutuhkan karya penyucian-Nya. Dalam konteks Yesaya, penyucian tersebut berkaitan dengan pengampunan dosa dan panggilannya sebagai nabi. Namun, ada prinsip yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari: perkataan kita perlu dipersembahkan kepada Tuhan agar digunakan sesuai dengan kehendak-Nya.
Inilah salah satu bagian penting dari Daily Consecration. Setiap pagi, kita dengan sadar menyerahkan mulut dan perkataan kepada Tuhan. Kita meminta-Nya menguduskan bibir kita, memurnikan hati yang menjadi sumber perkataan kita, dan menolong kita menggunakan kata-kata untuk memuliakan nama-Nya.
Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa perkataan kita seharusnya membangun dan membawa kasih karunia kepada orang yang mendengarnya. Ini bukan berarti kita hanya mengucapkan hal-hal yang menyenangkan. Terkadang kita perlu menegur, mengoreksi, atau menyampaikan kebenaran yang sulit. Namun, semuanya harus dilakukan dengan kasih, bukan dengan kemarahan atau keinginan untuk melukai.
LORD, PURIFY MY LIPS SO THAT MY WORDS MAY GLORIFY YOU.
Tuhan, kuduskanlah bibirku, supaya setiap perkataanku memuliakan-Mu.
8. Serahkan setiap rencana dan langkah kepada Tuhan
“Tuhan, aku menyerahkan setiap langkahku hari ini kepada-Mu. Pimpinlah setiap keputusan, pertemuan, pekerjaan, dan tanggung jawabku. Luruskan jalanku dan tuntunlah aku untuk berjalan dalam kehendak-Mu.”
Amsal 3:5–6 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Ayat ini mengajarkan agar kita mempercayai Tuhan dengan segenap hati dan mengakui Dia dalam segala jalan kita. Artinya, kita tidak menjalani kehidupan seolah-olah Tuhan hanya dibutuhkan ketika rencana kita gagal. Kita melibatkan-Nya sejak awal, dalam setiap keputusan dan langkah.
Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Bagaimana mempraktikkannya?
Sebutkan di hadapan Tuhan rencana dan tanggung jawab yang akan kita jalani. Doakan pertemuan penting, keputusan yang harus dibuat, pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan orang-orang yang akan kita temui. Kemudian, serahkan hasilnya kepada Tuhan. Mintalah agar Dia menolong kita melakukan apa yang benar, bahkan ketika hal itu berbeda dari keinginan atau rencana kita.
I DON’T NEED TO KNOW EVERY STEP AHEAD. I NEED TO TRUST THE ONE WHO LEADS ME.
Aku tidak harus mengetahui setiap langkah di depan. Aku perlu mempercayai Tuhan yang menuntun langkahku.
9. Terima damai sejahtera dan sukacita Tuhan
“Penuhi hidupku dengan damai sejahtera dan sukacita yang berasal dari-Mu. Apa pun yang akan kuhadapi hari ini, biarlah hatiku tetap percaya, pikiranku tetap tertuju kepada-Mu, dan hidupku tetap dipenuhi pengharapan.”
Roma 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.
Sebelum mengakhiri doa pagi, ada satu hal yang indah untuk kita minta: agar Tuhan memenuhi hati kita dengan damai sejahtera dan sukacita-Nya.
Kita tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi sepanjang hari. Mungkin ada kabar baik yang menanti, tetapi mungkin juga ada tantangan, tekanan, atau keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
Namun, kita tidak harus memulai hari dengan kekhawatiran.
Dalam Yohanes 14:27, Yesus berjanji memberikan damai sejahtera yang berbeda dari apa yang diberikan dunia.
Damai sejahtera dari Tuhan tidak berarti kita tidak akan menghadapi persoalan. Damai sejahtera berarti kita dapat tetap mempercayai Tuhan sekalipun keadaan belum berubah.
Demikian juga dengan sukacita. Sukacita dalam Tuhan bukan berarti kita harus selalu merasa senang atau berpura-pura tidak memiliki masalah. Sukacita adalah kekuatan dan pengharapan yang berakar pada hubungan kita dengan Tuhan yang setia.
Roma 15:13 mengingatkan bahwa Allah adalah sumber pengharapan, sukacita, dan damai sejahtera. Kita dapat meminta agar Roh Kudus memenuhi kehidupan kita dengan semuanya itu.
Bagaimana mempraktikkannya?
Sebelum mengakhiri doa, bawalah kekhawatiran yang masih membebani hati kepada Tuhan. Jangan hanya meminta agar masalah segera selesai, tetapi mintalah agar hati kita dipenuhi damai sejahtera dan kepercayaan kepada-Nya. Ingatlah bahwa keadaan mungkin tidak selalu berada dalam kendali kita, tetapi kita dapat memilih untuk tetap mempercayai Tuhan.
PEACE IS NOT THE ABSENCE OF TROUBLE. IT IS THE CONFIDENCE THAT GOD IS WITH US THROUGH IT ALL.
Damai sejahtera bukan berarti tidak ada persoalan, tetapi keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita melewati semuanya.
CLOSING — MAKE EVERY MORNING COUNT
Membangun kebiasaan doa pagi bukan tentang berapa lama kita berdoa atau seberapa indah kata-kata yang kita ucapkan. Yang terpenting adalah hati yang sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, mau mendengarkan firman-Nya, dan bersedia dipimpin oleh-Nya.
Kita tidak perlu menunggu sampai memiliki waktu yang panjang atau suasana yang sempurna. Mulailah dengan waktu yang kita miliki. Lima belas menit yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat menjadi awal yang baik untuk membangun kebiasaan rohani yang akan terus bertumbuh.
Setiap pagi, mulailah dengan ucapan syukur. Mintalah hikmat, anugerah, dan pengertian dari Tuhan. Serahkan hati, pikiran, telinga, mata, dan perkataan kepada-Nya. Bawalah seluruh rencana dan aktivitas kita ke hadapan-Nya. Kemudian, jalani hari dengan damai sejahtera dan sukacita yang berasal dari Tuhan.