You are not doing life alone.
Banyak dari kita memahami grace terutama dalam hubungannya dengan keselamatan. Kita diselamatkan karena kasih karunia Tuhan, bukan karena kita cukup baik, berhasil memenuhi standar-Nya, atau layak menerimanya. Justru gracediberikan karena kita tidak dapat memperolehnya dengan usaha kita sendiri. Grace adalah kebaikan Tuhan yang tidak dapat kita usahakan atau kita tuntut, tetapi Tuhan berikan dengan cuma-cuma karena kasih-Nya kepada kita.
Namun grace tidak berhenti pada keselamatan. Kasih karunia yang menyelamatkan kita adalah kasih karunia yang juga menopang kehidupan kita setiap hari. Berkat-Nya, penyertaan-Nya, pertolongan-Nya, kekuatan yang Dia berikan, bahkan cara Tuhan bekerja di tengah keadaan yang tidak kita mengerti—semuanya adalah bentuk grace dalam kehidupan kita. Kita mengalaminya bukan karena setiap hari kita selalu cukup baik atau melakukan semuanya dengan benar, tetapi karena Tuhan tetap setia mengasihi kita. Karena itu, grace bukan hanya bagaimana kita memulai kehidupan bersama Kristus; grace adalah bagaimana kita menjalani kehidupan bersama-Nya setiap hari.
Kita membutuhkan grace dalam setiap bagian kehidupan: ketika menjalankan pekerjaan dan bisnis, mengambil keputusan penting, mengelola keuangan, membangun pernikahan, membesarkan anak, menghadapi perubahan, maupun ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang kita rencanakan. Di tengah kemampuan kita yang terbatas dan banyaknya hal yang berada di luar kendali kita, kita belajar hidup dengan kesadaran bahwa kita tidak hanya bergantung pada apa yang mampu kita lakukan, tetapi juga pada apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.
Hidup dalam grace berarti menyadari bahwa kita tidak menjalani semua itu sendirian dan tidak harus mengandalkan kekuatan kita sendiri.
Paulus mengatakan, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang… aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10).
Paulus bekerja keras. Ia tidak pasif dan tidak menggunakan kasih karunia sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab. Tetapi di tengah semua yang dilakukannya, Paulus sadar bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan dan usahanya sendiri: kasih karunia Allah yang menyertainya.
Grace doesn’t remove effort. Grace removes self-reliance.
Kita tetap bekerja keras. Kita tetap membuat perencanaan. Kita tetap belajar, membangun, menabung, berinvestasi, menjaga keluarga, dan memberikan yang terbaik. Tetapi kita tidak lagi hidup dengan keyakinan bahwa semuanya bergantung kepada kita.
Grace is not only how we enter the Christian life; grace is how we live the Christian life.
WHEN EVERYTHING DEPENDS ON YOU
Ketika kita tidak sungguh-sungguh menyadari bahwa ada grace Tuhan yang menopang hidup kita, tanpa terasa kita mulai menjalani kehidupan seolah-olah semuanya bergantung kepada kita. Kita merasa harus memastikan semuanya berjalan baik, setiap masalah menemukan jalan keluar, dan masa depan tetap aman. Sedikit demi sedikit, kita mulai memikul hal-hal yang sebenarnya berada di luar kemampuan dan kendali kita. Kita bukan lagi sekadar melakukan bagian kita dengan setia, tetapi mulai merasa bahwa seluruh hasil kehidupan bergantung pada kekuatan kita sendiri.
Akibatnya, hati kita sulit benar-benar tenang. Kita mudah khawatir terhadap hal-hal yang belum terjadi, gelisah ketika sesuatu berjalan di luar rencana, dan sulit melepaskan apa yang tidak dapat kita kendalikan. Pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah berhenti bekerja. Kita bisa memiliki banyak hal untuk disyukuri, tetapi sulit menikmatinya karena perhatian kita selalu tertuju pada apa yang masih harus dibereskan atau apa yang mungkin akan terjadi. Ketika kita merasa harus memegang semuanya, tanpa sadar semuanya mulai memegang kita.
Dalam bisnis, kita merasa harus memastikan perusahaan terus bertumbuh, cash flow tetap sehat, pelanggan tidak pergi, investasi berhasil, dan setiap keputusan selalu tepat. Dalam keluarga, kita merasa harus memastikan anak-anak berhasil, pernikahan selalu baik, kebutuhan keluarga tercukupi, dan masa depan semuanya aman. Semua itu memang penting dan merupakan bagian dari tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita. Namun tanggung jawab dapat perlahan berubah menjadi striving ketika kita mulai merasa bahwa semuanya bergantung kepada kita.
Tanpa kesadaran akan grace, kita mulai mengandalkan kekuatan sendiri, berusaha mengontrol segala sesuatu, dan mengkhawatirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi. Kita sulit menerima bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita ketahui, tidak dapat kita ubah, dan tidak dapat kita kendalikan. Semakin kita merasa semuanya bergantung kepada kita, semakin sulit bagi kita untuk melepaskan kendali.
Akhirnya kita tidak pernah benar-benar bisa berhenti. Tubuh kita mungkin sudah berada di rumah, tetapi pikiran masih berada di kantor. Kita sedang makan bersama keluarga, tetapi kepala terus memikirkan pekerjaan. Kita sedang berlibur, tetapi tidak pernah benar-benar beristirahat. Bahkan ketika tidak ada masalah, kita sudah mengkhawatirkan masalah yang mungkin terjadi.
Di sinilah grace mengubah cara kita menjalani hidup. Grace menyadarkan kita bahwa kita tidak pernah dimaksudkan untuk menghadapi semuanya dengan kekuatan kita sendiri. Ada Tuhan yang berjalan bersama kita, ada tangan-Nya yang tetap memegang hidup kita, dan ada karya-Nya yang terus berlangsung bahkan ketika kita belum melihat atau memahami apa yang sedang Dia kerjakan. Karena itu, kita dapat melakukan bagian kita dengan setia, tanpa harus memikul beban seolah-olah semuanya bergantung kepada kita.
I NEVER HAVE TO CARRY IT ALONE—HIS GRACE IS ALWAYS ENOUGH.
Hidup dalam kasih karunia dimulai dari sebuah kesadaran sederhana: kita tidak menjalani kehidupan ini sendirian.Tuhan tidak hanya memberikan kasih karunia dari jauh; Dia hadir bersama kita, menyertai perjalanan kita, dan memberikan kekuatan ketika kekuatan kita sendiri tidak lagi cukup. Karena itu, kasih karunia bukan hanya sesuatu yang kita terima dari Tuhan. Kasih karunia adalah pertolongan Tuhan yang nyata di tengah keterbatasan kita.
Sering kali kita berharap kasih karunia Tuhan terlihat melalui keadaan yang berubah: masalah selesai, pintu terbuka, doa dijawab, atau jalan keluar ditemukan. Dan memang ada saat ketika Tuhan bekerja dengan cara demikian. Tetapi kasih karunia tidak selalu berarti Tuhan segera mengubah apa yang ada di sekitar kita. Kadang kasih karunia berarti Tuhan menopang kita di tengah keadaan yang belum berubah.
Paulus mengalami hal itu. Ketika ia meminta Tuhan mengambil “duri dalam dagingnya”, Tuhan tidak langsung mengubah keadaannya. Tuhan justru berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Korintus 12:9). Jawaban Tuhan bukan pertama-tama perubahan keadaan, tetapi kasih karunia yang cukup untuk menjalaninya. Paulus belajar bahwa kekuatan Tuhan dapat dinyatakan justru di tengah kelemahannya.
Kita pun dapat mengalami kasih karunia dengan cara yang sama. Ada saat Tuhan mengangkat beban kita, tetapi ada saat Dia memberikan kekuatan untuk memikulnya. Ada saat Dia menenangkan badai, tetapi ada saat Dia memberikan ketenangan kepada kita di tengah badai. Ada saat Dia membuka jalan keluar, tetapi ada saat Dia memberikan kekuatan untuk terus berjalan sampai jalan itu terbuka. Dalam semuanya itu, kasih karunia Tuhan cukcup untuk menopang kita.
Karena itu, ketika menghadapi sesuatu yang berat, kita tidak harus langsung memikul semuanya sendiri dan bertanya, “Bagaimana saya bisa menyelesaikan semua ini?” Kita dapat memulainya dengan keyakinan yang lebih mendasar: “Saya tidak menghadapi semua ini sendirian. Tuhan bersama saya, dan kasih karunia-Nya cukup untuk membawa saya melewatinya.”
We don’t know what tomorrow holds, but we know God will be there—and His grace will be enough.
THERE IS ALWAYS GRACE FOR WHAT IS BEYOND OUR CONTROL
Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat kita kendalikan. Kita dapat membuat strategi bisnis yang baik, tetapi tidak dapat mengendalikan keadaan ekonomi. Kita dapat memberikan proposal terbaik, tetapi tidak dapat menentukan keputusan orang lain. Kita dapat menjaga kesehatan, tetapi tidak dapat mengendalikan semua yang terjadi pada tubuh kita. Kita dapat mendidik anak-anak dengan sungguh-sungguh, tetapi pada akhirnya mereka akan membuat keputusan mereka sendiri. Seberapa pun baiknya kita merencanakan kehidupan, akan selalu ada hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Hidup dalam kasih karunia membuat kita berani menerima kenyataan bahwa kita tidak harus mengendalikan semuanya. Ada hal-hal yang menjadi bagian kita untuk dikerjakan, tetapi ada juga hal-hal yang berada di luar jangkauan dan kemampuan kita. Justru di situlah kita belajar percaya: ada kasih karunia Tuhan untuk apa yang tidak dapat kita kendalikan, untuk apa yang tidak dapat kita jangkau, dan untuk apa yang berada di luar kemampuan kita.Keterbatasan kita bukanlah keterbatasan Tuhan.
Karena itu, kasih karunia mengajar kita untuk melepaskan. Bukan menyerah karena putus asa, tetapi menyerahkan karena percaya. Apa yang dapat kita kerjakan, kita kerjakan dengan setia. Apa yang tidak dapat kita kendalikan, kita serahkan kepada Tuhan. Kita tidak harus menggenggam setiap rencana terlalu erat atau memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan kita, karena kita percaya bahwa apa yang berada di luar kendali kita tidak pernah berada di luar kendali Tuhan.
There is grace for what I cannot control, strength for what is beyond my ability, and God over it all.
Di situlah kita menemukan rest. Bukan karena semua persoalan sudah selesai atau masa depan sudah dapat kita pastikan, tetapi karena kita tidak lagi merasa harus memegang semuanya. Saya tidak harus mengetahui semua yang akan terjadi. Saya tidak harus mengantisipasi setiap kemungkinan. Saya tidak harus mempunyai jawaban untuk setiap persoalan. Ada kasih karunia Tuhan untuk hal-hal yang berada di luar kemampuan saya, dan ada tangan Tuhan yang tetap memegang apa yang tidak dapat saya kendalikan. Karena itu, saya dapat melakukan bagian saya, melepaskan selebihnya, dan beristirahat dalam keyakinan bahwa Tuhan tetap memegang kendali.
I don’t have to fear what I cannot control. There is always grace for what is beyond my reach and beyond my ability. I can let go and trust that God is in control.
GRACE REDEEMS WHAT WE CANNOT CHANGE
Ada hal-hal dalam kehidupan yang masih dapat kita perbaiki, tetapi ada juga hal-hal yang tidak dapat kita ubah lagi. Kehilangan yang tidak dapat dikembalikan, kesempatan yang sudah lewat, perlakuan orang lain yang meninggalkan luka, ketidakadilan yang pernah kita alami, atau sebuah musim kehidupan yang tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Semua itu sudah menjadi bagian dari perjalanan kita. Kita dapat belajar darinya, tetapi kita tidak dapat kembali ke masa lalu dan menulis ulang apa yang sudah terjadi.
Hidup dalam kasih karunia berarti kita percaya bahwa apa yang tidak dapat kita ubah masih dapat Tuhan pakai. Kasih karunia tidak menghapus kenyataan bahwa sesuatu pernah terjadi, tetapi kasih karunia membuat masa lalu tidak harus menentukan bagaimana cerita kita berakhir. Tuhan sanggup mengambil bagian kehidupan yang tidak pernah kita pilih, bahkan bagian yang kita sesali, dan tetap mengerjakan sesuatu yang baik melaluinya.
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah baik. Ada hal-hal yang memang salah, menyakitkan, dan tidak seharusnya terjadi. Tetapi tidak ada satu pun dari semuanya itu yang berada di luar jangkauan kasih karunia Tuhan.
Yusuf adalah gambaran yang sangat kuat. Ia tidak dapat mengubah kenyataan bahwa saudara-saudaranya pernah mengkhianatinya. Ia tidak dapat mengambil kembali tahun-tahun yang dihabiskannya sebagai budak dan tahanan. Apa yang terjadi kepadanya tetap merupakan kejahatan. Namun bertahun-tahun kemudian Yusuf dapat berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”(Kejadian 50:20).
Yusuf tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi Tuhan mengubah apa yang lahir dari apa yang telah terjadi. Pengkhianatan tidak menjadi akhir ceritanya. Penjara tidak menjadi identitasnya. Masa lalu tidak mempunyai kuasa untuk membatalkan maksud Tuhan atas hidupnya.
Mungkin ada bagian kehidupan kita yang hari ini masih kita sesali atau tidak kita mengerti. Kita tidak dapat kembali dan mengubahnya. Tetapi kita dapat menyerahkannya kepada Tuhan dan percaya bahwa kasih karunia-Nya masih dapat bekerja melalui apa yang tidak dapat kita ubah. Masa lalu kita mungkin menjadi bagian dari cerita, tetapi masa lalu tidak harus menentukan akhir cerita.
We cannot change what happened, but grace can change what comes from it.
GRACE MEANS FAILURE IS NOT FINAL
Ada saat ketika masalah yang kita hadapi bukan disebabkan oleh keadaan, orang lain, atau sesuatu yang berada di luar kendali kita. Kadang kita sendiri yang gagal. Kita membuat keputusan yang salah, mengatakan sesuatu yang kita sesali, tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, atau gagal menjadi pribadi yang kita tahu seharusnya kita menjadi.
Kegagalan seperti ini sering kali lebih sulit kita hadapi karena kita tidak dapat menyalahkan siapa pun. Kita tahu kita seharusnya bisa melakukan yang lebih baik. Dari sana mudah muncul rasa bersalah, kecewa terhadap diri sendiri, bahkan perasaan bahwa kita sudah merusak terlalu banyak hal untuk dapat memulai kembali. Kita mulai membiarkan kegagalan bukan hanya menjadi sesuatu yang pernah kita lakukan, tetapi menjadi cara kita melihat siapa diri kita.
Di sinilah kita kembali membutuhkan kasih karunia. Grace tidak mengatakan bahwa kesalahan kita tidak penting atau bahwa tidak ada konsekuensi dari keputusan kita. Kasih karunia membuat kita berani mengakui kesalahan, bertobat, memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki, dan belajar darinya. Tetapi pada saat yang sama, kasih karunia tidak membiarkan kegagalan menjadi akhir dari cerita kita.
Petrus mengalaminya. Sebelum Yesus disalibkan, Petrus dengan penuh keyakinan berkata bahwa ia siap mengikuti Yesus bahkan sampai mati. Tetapi hanya beberapa jam kemudian, ketika tekanan datang, Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Ini bukan kegagalan kecil. Petrus gagal justru dalam sesuatu yang sebelumnya ia yakini tidak akan pernah ia lakukan.
Namun setelah kebangkitan-Nya, Yesus menemui Petrus kembali. Dalam Yohanes 21, Yesus tidak berpura-pura seolah-olah kegagalan itu tidak pernah terjadi. Tiga kali Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan kemudian kembali mempercayakan kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Petrus yang pernah gagal tetap dipanggil, dipulihkan, dan kembali dipercayakan sebuah tanggung jawab.
Inilah kasih karunia. Tuhan tidak hanya mengampuni masa lalu Petrus; Dia masih mempunyai masa depan bagi Petrus. Kegagalannya menjadi bagian dari ceritanya, tetapi kegagalannya tidak menjadi akhir dari ceritanya. Orang yang pernah menyangkal Yesus kemudian menjadi salah satu pemimpin penting dalam gereja mula-mula.
Kita pun perlu belajar melihat kegagalan melalui kasih karunia. Kita mungkin tidak dapat mengubah apa yang sudah kita lakukan, tetapi kita dapat bertobat, belajar, bertumbuh, dan melangkah kembali bersama Tuhan. Selama kasih karunia masih bekerja, kegagalan tidak harus menjadi akhir.
“My failure does not disqualify me from God’s grace and future.”
Jangan biarkan satu keputusan yang salah mendefinisikan seluruh hidup kita. Jangan biarkan satu musim kegagalan membuat kita berpikir bahwa Tuhan tidak dapat memakai kita lagi. Kasih karunia memberi ruang untuk pertobatan, pemulihan, pertumbuhan, dan kesempatan untuk memulai kembali.
Grace doesn’t let failure have the final word.
MAKE ROOM FOR GOD’S FAVOR
Di dalam kasih karunia Tuhan, kita juga mengalami apa yang Alkitab gambarkan sebagai favor atau perkenanan Tuhan. Jika kasih karunia berbicara tentang kebaikan Tuhan yang menyelamatkan, menopang, menyertai, dan memampukan kita, maka favor adalah salah satu cara kebaikan itu nyata dalam perjalanan hidup kita—ketika Tuhan membuka jalan, memberikan kesempatan, mempertemukan kita dengan orang yang tepat, atau menyediakan sesuatu yang tidak dapat kita hasilkan hanya dengan kemampuan kita sendiri.
Ada banyak hal yang memang dapat kita capai melalui kerja keras. Karena itu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Ada kemampuan yang dapat kita kembangkan melalui belajar. Karena itu, teruslah belajar. Ada kesempatan yang membutuhkan persiapan. Karena itu, persiapkan diri dengan baik. Kasih karunia dan perkenanan Tuhan tidak pernah menjadi alasan untuk hidup sembarangan atau berhenti melakukan bagian kita.
Namun semakin lama kita menjalani kehidupan, semakin kita menyadari bahwa tidak semuanya dapat kita hasilkan sendiri. Kita dapat mempersiapkan diri, tetapi tidak dapat menciptakan setiap kesempatan. Kita dapat mengetuk pintu, tetapi tidak dapat memaksa setiap pintu terbuka. Kita dapat melakukan yang terbaik, tetapi tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain merespons kita.
Ada saat ketika Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang pada waktu yang tepat. Ada kesempatan yang terbuka dengan cara yang tidak pernah kita rencanakan. Ada jalan keluar yang sebelumnya tidak kita lihat. Ada hikmat yang datang tepat ketika kita membutuhkannya. Bahkan ada kalanya sesuatu yang sangat kita inginkan justru tidak terjadi, lalu bertahun-tahun kemudian kita melihat bahwa Tuhan ternyata sedang mengarahkan atau melindungi kita. Di situlah kita belajar bahwa dalam perjalanan hidup, ada kebaikan Tuhan yang melampaui apa yang dapat kita usahakan sendiri.
There are things hard work can produce, and there are things only God’s favor can provide.
Yusuf mengalaminya. Ia bekerja dengan setia dan melakukan apa yang dipercayakan kepadanya dengan baik, tetapi ada sesuatu yang tidak dapat ia ciptakan sendiri: perkenanan. Kejadian 39:4 mencatat bahwa Yusuf mendapat kasih dari Potifar sehingga kepadanya dipercayakan rumah dan segala miliknya. Bahkan ketika Yusuf kemudian berada di penjara, Kejadian 39:21 mengatakan bahwa Tuhan tetap menyertainya dan membuatnya mendapat kasih dari kepala penjara. Keadaan Yusuf belum berubah, tetapi perkenanan Tuhan tetap bekerja di tengah keadaan itu.
Karena itu, favor tidak selalu berarti semua yang kita inginkan akan terjadi. Kadang perkenanan Tuhan terlihat melalui pintu yang dibukakan, tetapi ada kalanya kita baru memahami kebaikan-Nya melalui pintu yang tidak dibukakan. Kadang Tuhan memberikan apa yang kita harapkan; di waktu lain Dia mengarahkan kita kepada sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Itulah sebabnya kita perlu menjalani kehidupan dengan dua sikap sekaligus: lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, tetapi sisakan ruang bagi Tuhan untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Jangan membatasi masa depan hanya pada kemampuan, koneksi, sumber daya, atau kemungkinan yang dapat kita lihat hari ini. Bekerjalah, belajarlah, persiapkan diri, dan lakukan yang terbaik—tetapi tetaplah percaya bahwa Tuhan dapat membuka jalan yang tidak dapat kita buka sendiri.
Do your best, but always make room for God’s favor.
FROM STRIVING TO REST
Ketika kita benar-benar percaya bahwa ada kasih karunia Tuhan yang bekerja dalam hidup kita, cara kita menjalani kehidupan mulai berubah. Kita menyadari bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya hanya dengan kekuatan sendiri, karena kasih karunia-Nya memampukan kita melakukan apa yang secara alami sulit kita lakukan: mengampuni ketika hati terluka, menerima keadaan yang tidak berjalan sesuai keinginan, tetap berdiri ketika mengalami kegagalan, menemukan kekuatan ketika kita merasa tidak sanggup lagi, dan tetap memiliki pengharapan ketika jalan di depan belum terlihat jelas. Kasih karunia tidak selalu mengubah keadaan di sekitar kita, tetapi kasih karunia memberi kita kekuatan untuk menjalani keadaan itu dengan cara yang berbeda. Kita tetap dapat merasa lemah, kecewa, atau tidak mengerti, tetapi kita tahu bahwa di tengah keterbatasan kita selalu ada kasih karunia Tuhan yang cukup untuk menopang dan membawa kita terus berjalan.
Kita menjalani hidup dengan keyakinan, bukan karena semua rencana pasti berhasil, tetapi karena kita tahu siapa yang berjalan bersama kita. Kita memiliki ketenangan, karena setelah melakukan bagian kita, kita dapat menyerahkan kepada Tuhan apa yang berada di luar kendali kita. Kita memiliki keberanian, karena ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita percaya bahwa Tuhan belum selesai bekerja. Kita dapat hidup dengan kemurahan hati, karena kita tahu Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Dan pada akhirnya, hidup kita menjadi lebih berbuah, karena tenaga dan pikiran kita tidak lagi terkuras untuk mengendalikan segala sesuatu, tetapi dapat kita gunakan untuk mengerjakan dengan setia apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Mungkin hari ini ada sesuatu yang terus memenuhi pikiran kita—bisnis yang sedang menghadapi tantangan, pekerjaan yang belum menemukan jalan keluar, keadaan keuangan, pernikahan, anak-anak, kesehatan, atau masa depan yang masih belum jelas. Lakukan apa yang memang menjadi bagian kita. Ambil keputusan dengan bijaksana, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, selesaikan apa yang dapat diselesaikan, dan perbaiki apa yang masih dapat diperbaiki. Tetapi setelah kita melakukan bagian kita, belajarlah percaya dan bergantung pada kasih karunia-Nya. Kita tidak harus mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir untuk dapat hidup dengan tenang, karena ketenangan kita tidak berasal dari kepastian bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita, tetapi dari keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, kasih karunia Tuhan akan selalu cukup untuk membawa kita melewatinya.
Whatever tomorrow brings, God’s grace will be there—and it will be enough.