Leadership That Chooses What Is Right, Regardless of Who Is Involved
Salah satu ujian terbesar dalam kepemimpinan muncul ketika kita harus menentukan apa yang benar dalam situasi yang melibatkan orang-orang yang kita kenal, kita sukai, dan kita percayai.
Lebih mudah bersikap objektif ketika kita tidak memiliki kedekatan pribadi dengan orang yang sedang kita nilai. Namun, bagaimana jika yang melakukan kesalahan adalah orang yang sudah lama berjalan bersama kita—orang yang loyal, banyak berjasa, selalu menunjukkan kinerja yang baik, atau bahkan seorang sahabat?
Sebaliknya, bagaimana jika orang yang berada di pihak yang benar justru seseorang yang sulit bekerja sama dengan kita, pernah mengecewakan kita, atau bukan bagian dari inner circle kita? Apakah kita tetap dapat melihat persoalannya dengan jernih dan menilai berdasarkan apa yang benar, bukan berdasarkan siapa orangnya?
Di sinilah integritas seorang pemimpin diuji.
Amsal memberikan peringatan yang sangat tegas:
“Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.”
— Amsal 17:15
Bagi seorang pemimpin, prinsip ini sangat penting. Semakin besar tanggung jawab yang kita pegang, semakin sering kita harus membuat keputusan tentang orang lain—keputusan yang bahkan dapat memengaruhi masa depan mereka. Karena itu, seorang pemimpin tidak hanya perlu mampu mengambil keputusan yang tepat, tetapi juga memiliki integritas dalam menilai orang dan situasi dengan benar.
1. DON’T JUDGE BY WHO DID IT — Judge by What Is Right
Bayangkan dua orang melakukan kesalahan yang sama. Yang pertama adalah orang yang sudah lama bekerja bersama kita—loyal, dapat dipercaya, dan memiliki hubungan yang dekat dengan kita. Yang kedua adalah orang yang selama ini sering berbeda pendapat dengan kita dan mungkin tidak terlalu kita sukai. Apakah kita akan menilai keduanya dengan standar yang sama?
Sering kali masalahnya bukan karena kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi karena siapa yang melakukannya memengaruhi cara kita melihat apa yang dilakukannya. Ketika orang yang dekat dengan kita melakukan kesalahan, kita cenderung mencari penjelasan: “Mungkin dia tidak bermaksud begitu.” “Saya mengenal dia, sebenarnya dia orang baik.” “Pasti ada alasan di balik tindakannya.” Tetapi ketika orang yang tidak kita sukai melakukan hal yang sama, kita mungkin dengan cepat berkata, “Saya sudah tahu dia memang seperti itu.”
Setiap pemimpin tentu mempunyai orang-orang yang lebih dekat dengannya. Kedekatan seperti itu bukan sesuatu yang salah. Masalahnya muncul ketika kedekatan mulai memengaruhi penilaian kita. Tindakan yang sama akhirnya terlihat berbeda hanya karena dilakukan oleh orang yang berbeda.
Di sinilah Amsal 17:15 memberikan prinsip yang sangat penting. Yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah, siapa pun yang melakukannya. Karena itu, integritas menuntut kita untuk tidak terlebih dahulu bertanya, “Siapa yang melakukannya?” tetapi “Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang benar?”
Kedekatan boleh memengaruhi seberapa besar kita mengasihi seseorang, tetapi jangan sampai mengubah standar kita dalam menilai apa yang benar dan salah.
2. DON’T LET LOYALTY OVERRIDE TRUTH — Love People Without Defending Their Wrong
Sikap PILIH KASIH sering kali tidak dimulai dengan niat untuk berlaku tidak adil. Ia dapat dimulai dari sesuatu yang sebenarnya baik: loyalitas. Kita menghargai seseorang yang sudah lama berjalan bersama kita, mempercayainya, dan merasa perlu berdiri bersamanya. Tetapi tanpa disadari, loyalitas dapat membuat kita mulai membela bukan hanya orangnya, tetapi juga kesalahannya.
Inilah salah satu bentuk dari apa yang diperingatkan Amsal 17:15 sebagai “membenarkan orang fasik.” Kita mungkin melihat bahwa tindakannya salah, tetapi karena hubungan yang kita miliki dengannya, kita mulai mencari alasan untuk membuatnya terlihat benar.
Loyalitas tentu merupakan kualitas yang sangat berharga. Setiap pemimpin membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya dan tetap berjalan bersama dalam masa-masa sulit. Namun justru karena loyalitas begitu berharga, kita perlu menjaganya agar tidak berubah menjadi blind loyalty.
Ada perbedaan antara mendukung seseorang dan membenarkan semua yang dilakukannya. Kita dapat tetap mengasihi, menghormati, dan mendukung seseorang tanpa harus menyetujui setiap tindakannya. Ketika ia melakukan sesuatu yang salah, kasih tidak membuat kita menutup mata. Justru karena kita sungguh-sungguh peduli kepadanya, kita berani mengatakan apa yang benar.
Amsal 27:5–6 berkata: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”
Karena itu, terkadang bentuk loyalitas yang paling sehat bukanlah membela, melainkan berani mengoreksi. Orang yang benar-benar peduli kepada kita bukan hanya orang yang berdiri di pihak kita ketika orang lain menyerang, tetapi juga orang yang cukup mengasihi kita untuk mengatakan kebenaran ketika kita salah.
Prinsip yang sama berlaku ke arah sebaliknya. Jangan sampai kedekatan membuat kita sulit melihat kesalahan seseorang, tetapi jangan pula ketidaksukaan membuat kita sulit mengakui ketika ia melakukan sesuatu yang benar.
Be loyal to people, but always be more loyal to the truth.
3. DON’T JUDGE TOO QUICKLY — Be Careful With the Story You Hear
Sikap PILIH KASIH tidak hanya memengaruhi bagaimana kita menilai tindakan seseorang, tetapi juga cerita siapa yang lebih cepat kita percayai.
Ketika seseorang yang dekat dengan kita datang membawa sebuah persoalan, secara alami kita lebih mudah mempercayainya. Kita mengenalnya, mempunyai sejarah dengannya, dan mungkin sudah bertahun-tahun mempercayai penilaiannya. Tanpa sadar, kita dapat mulai mengambil posisi bahkan sebelum mendengar pihak yang lain.
Di sinilah bagian kedua Amsal 17:15 menjadi sangat relevan. Ayat ini memperingatkan kita agar jangan sampai “mempersalahkan orang benar.” Kita mungkin tidak pernah berniat melakukannya, tetapi kita dapat sampai pada kesimpulan yang salah ketika kita mengambil keputusan sebelum mengetahui seluruh fakta.
Amsal 18:13 berkata: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.”
Lalu Amsal 18:17 memberikan gambaran yang sangat menarik: “Pembicara pertama dalam suatu perkara tampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkara itu.”
Perhatikan kata “tampaknya benar.” Pembicara pertama belum tentu salah. Apa yang disampaikannya mungkin benar, tetapi belum tentu lengkap. Mungkin ada fakta yang belum kita ketahui, konteks yang belum kita pahami, atau sisi lain yang belum kita dengar. Informasi yang benar tetapi tidak lengkap tetap dapat membawa kita kepada kesimpulan yang salah.
Karena itu, seorang pemimpin perlu belajar untuk tidak terlalu cepat mengambil posisi. Dengarkan terlebih dahulu. Ajukan pertanyaan. Periksa apa yang sebenarnya terjadi. Bedakan mana yang merupakan fakta, asumsi, dan interpretasi. Bukan karena kita selalu mencurigai orang yang berbicara kepada kita, tetapi karena kita ingin berlaku adil kepada semua pihak yang terlibat.
Semakin besar dampak sebuah keputusan terhadap kehidupan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memahami persoalannya dengan benar. Jangan sampai karena kita lebih mempercayai seseorang, kita membenarkan orang yang salah atau mempersalahkan orang yang benar.
Don’t let closeness decide whose story you believe. Take time to understand the whole story.
4. DON’T USE DIFFERENT STANDARDS — Be Consistent
Favoritisme atau sikap pilih kasih paling mudah terlihat ketika orang yang berbeda mendapatkan standar yang berbeda.
Kita bisa sangat tegas terhadap kesalahan seseorang, tetapi jauh lebih toleran ketika kesalahan yang sama dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita, orang yang kita sukai, atau orang yang kita anggap penting.
Itulah sebabnya gambaran yang dipakai Amsal 20:10 begitu kuat: “Dua macam batu timbangan, dua macam takaran, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.”
Pada zaman itu, batu timbangan digunakan sebagai ukuran dalam transaksi. Memiliki dua macam batu timbangan memungkinkan seseorang mengubah ukuran sesuai kepentingannya. Standarnya berubah tergantung siapa yang sedang dihadapi.
Tanpa sadar, hal yang sama dapat terjadi dalam leadership. Kita mungkin tidak mengubah prinsip yang kita ucapkan, tetapi kita mengubah cara kita menerapkannya tergantung siapa orangnya.
Ketika seorang top performer berulang kali terlambat menyelesaikan tanggung jawab, kita berkata, “Tidak apa-apa, dia memang sedang sangat sibuk.” Tetapi ketika orang lain melakukan hal yang sama, kita langsung mempertanyakan komitmennya. Ketika seseorang yang dekat dengan kita berbicara kasar, kita menyebutnya “tegas.” Tetapi ketika orang lain berbicara dengan cara yang sama, kita menyebutnya “tidak punya attitude.”
Tentu setiap orang dan setiap situasi mempunyai konteksnya sendiri, sehingga respons kita tidak selalu harus identik. Keadilan bukan berarti memperlakukan semua orang persis sama; keadilan berarti menilai mereka dengan prinsip yang sama.
Karena itu, ketika kita harus menilai tindakan seseorang, tanyakan kepada diri sendiri:
“Seandainya orang lain melakukan hal yang sama, apakah saya akan melihatnya dengan cara yang sama?”
Pertanyaan sederhana ini dapat menyingkap bias yang sering kali tidak kita sadari. Sebab integritas bukan hanya terlihat dari standar yang kita percaya, tetapi dari konsistensi kita menerapkan standar itu—siapa pun orang yang sedang kita hadapi.
Different situations may require different responses, but never different standards of truth.
5. PUT TRUTH ABOVE PERSONAL INTEREST — Have the Courage to Do What Is Right
Favoritisme tidak selalu terjadi karena kita menyukai seseorang. Kadang-kadang kita memihak karena ada kepentingan kita yang ikut terlibat. Orang itu mungkin mempunyai posisi penting, memberikan kontribusi besar, mempunyai pengaruh yang kita butuhkan, atau hubungan dengannya membawa keuntungan tertentu bagi kita. Akibatnya, tanpa sadar kita mulai menoleransi apa yang seharusnya kita koreksi atau membela apa yang sebenarnya kita tahu salah.
Di sinilah Amsal 17:15 menjadi sangat tajam. Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar bukan sekadar poor leadership; Firman Tuhan mengatakan bahwa “kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.” Artinya, Tuhan tidak memberi kita kebebasan untuk mengubah penilaian tentang benar dan salah hanya karena ada sesuatu yang ingin kita pertahankan atau seseorang yang tidak ingin kita kehilangan.
Mikha 6:8 mengatakan: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Favoritisme menjadi semakin sulit dilawan ketika berlaku adil mulai mempunyai harga. Kita mungkin harus mengoreksi seseorang yang kontribusinya sangat kita butuhkan. Kita mungkin harus mengambil tindakan terhadap orang yang mempunyai hubungan dekat dengan kita. Kita mungkin harus berhenti membela seseorang yang selama ini loyal kepada kita. Atau sebaliknya, kita harus berdiri untuk seseorang yang tidak dekat dengan kita karena dalam persoalan itu dialah yang benar.
Justru dalam situasi seperti inilah seorang pemimpin harus berhati-hati. Jangan sampai apa yang kita takut kehilangan menentukan siapa yang kita bela dan siapa yang kita salahkan. Ketika kepentingan pribadi mulai menentukan standar kita, favoritisme mungkin tidak lagi terlihat seperti favoritisme—kita dapat menyebutnya loyalitas, menjaga hubungan, menghargai kontribusi, atau mempertimbangkan kepentingan organisasi. Tetapi kalau alasan-alasan itu membuat kita membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, kita sudah meninggalkan prinsip Amsal 17:15.
Karena itu, melawan favoritisme membutuhkan keberanian untuk melepaskan kepentingan pribadi dari penilaian kita terhadap seseorang. Kita tidak bertanya, “Apa akibat keputusan ini bagi saya?” terlebih dahulu, tetapi “Apa yang benar, dan apakah saya bersedia tetap melakukannya siapa pun orang yang terlibat?”
Pada akhirnya, ujian terbesar terhadap favoritisme datang ketika berlaku adil menuntut sesuatu dari kita. Selama tidak ada yang harus kita korbankan, mudah mengatakan bahwa kita tidak memihak. Tetapi ketika hubungan, keuntungan, kenyamanan, atau orang yang kita butuhkan dipertaruhkan, barulah terlihat apakah kita sungguh-sungguh memilih kebenaran di atas kepentingan pribadi.
Don’t defend what benefits you. Defend what is right.
LEAD WITH WHAT IS RIGHT
Pada akhirnya, orang tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan, tetapi pemimpin yang dapat mereka percaya—pemimpin yang tidak mengubah standar berdasarkan siapa yang sedang dihadapinya.
Kita boleh memiliki orang-orang yang dekat dengan kita. Kita boleh menghargai loyalitas, kontribusi, dan hubungan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Tetapi jangan biarkan semua itu membuat kita kehilangan keberanian untuk melihat dengan jernih, menilai dengan adil, dan berdiri untuk apa yang benar.
Karena kepemimpinan yang berintegritas bukan tentang siapa yang kita bela, tetapi apa yang kita bela. Ketika orang tahu bahwa keputusan kita tidak ditentukan oleh kedekatan, kepentingan, atau favoritisme, kita sedang membangun sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar authority—we build trust.