Setelah seorang muda yang kaya datang kepada Yesus dan kemudian pergi dengan sedih karena ia memiliki banyak harta, Yesus memandang murid-murid-Nya dan memberikan sebuah peringatan yang sangat serius:
Yesus memperhatikan dia pergi, kemudian memandang sekeliling-Nya dan berkata kepada murid-murid-Nya, “Sukar sekali orang kaya masuk Kerajaan Allah.”— Markus 10:23, FAYH
Pernyataan ini tentu mengundang pertanyaan. Mengapa orang kaya lebih sulit masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah kekayaan itu salah? Apakah Tuhan tidak ingin kita diberkati? Apakah semakin banyak yang kita miliki, semakin jauh kita dari Tuhan?
Tentu bukan itu maksud Yesus. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa memiliki kekayaan adalah dosa. Abraham adalah orang yang sangat kaya. Daud memiliki kekayaan yang besar, dan Salomo diberkati Tuhan dengan kekayaan yang luar biasa. Jadi, persoalannya bukan pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada tempat yang diberikan kepada harta itu di dalam hati kita. Kekayaan menjadi persoalan ketika sesuatu yang kita miliki mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh Tuhan.
WHAT IS THE KINGDOM OF GOD? — Apa Itu Kerajaan Allah?
Kerajaan Allah bukan hanya berbicara tentang ke mana kita akan pergi setelah meninggal. Kerajaan Allah juga merupakan realitas yang dapat kita alami sekarang—ketika Tuhan menjadi Raja dan kehendak-Nya memerintah atas seluruh kehidupan kita.
Menjadi bagian dari Kerajaan Allah berarti kita tidak lagi hidup hanya menurut apa yang kita inginkan, tetapi belajar hidup menurut apa yang Tuhan kehendaki. Kita mengakui bahwa Dia adalah Raja, dan hidup kita adalah milik-Nya. Karena itu, semakin kita hidup dalam Kerajaan Allah, semakin banyak bagian kehidupan kita yang kita izinkan untuk dipimpin dan diatur oleh kehendak-Nya.
God’s Kingdom is not just where we go. It is where God rules.
Karena itu, masuk dan hidup dalam Kerajaan Allah berarti semakin menyerahkan setiap bagian kehidupan kita kepada pemerintahan Tuhan: waktu kita, pekerjaan kita, keluarga kita, keputusan kita, masa depan kita—termasuk uang dan harta kita.
THE TREASURE TEST — Ujian Harta
Bagaimana kita mengetahui apakah hati kita sungguh berada dalam Kerajaan Allah? Bagaimana kita mengetahui apakah Yesus benar-benar memerintah atas hidup kita?
Salah satu tes yang Yesus berikan sangat sederhana: lihat di mana harta kita berada.
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
— Matius 6:21, TB2
Yesus menunjukkan bahwa harta dan hati memiliki hubungan yang sangat dekat. Di mana kita menempatkan harta kita, di situlah hati kita berada. Karena itu, salah satu cara untuk mengetahui apa yang benar-benar penting bagi kita adalah dengan melihat ke mana uang kita pergi dan untuk apa harta kita digunakan.
Kita dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah yang terutama dalam hidup kita. Kita dapat mengatakan bahwa kita hidup untuk Kerajaan Allah. Tetapi cara kita memperlakukan uang sering kali memperlihatkan siapa dan apa yang sesungguhnya memerintah hati kita.
Karena itu, salah satu ujian apakah kita sungguh hidup di bawah pemerintahan Tuhan adalah dengan bertanya: Apakah harta kita juga berada di bawah pemerintahan-Nya?
Apakah Tuhan hanya berhak menentukan bagaimana kita beribadah dan melayani, atau Dia juga berhak menentukan bagaimana kita memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan memberikan uang kita?
Apakah kita melihat kekayaan sebagai sesuatu yang sepenuhnya milik kita untuk digunakan sesuka hati, atau sebagai sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dikelola sesuai dengan kehendak-Nya?
Sebab jika Yesus sungguh menjadi Raja atas hidup kita, pemerintahan-Nya tidak berhenti sebelum menyentuh uang dan harta kita.
Living in God’s Kingdom means putting everything under the King—including our money.
THE DANGER OF HAVING MORE
Memiliki lebih banyak bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi semakin banyak yang kita miliki, semakin besar kemungkinan hati kita melekat kepada apa yang kita miliki. Kita mulai merasa sulit melepaskannya, takut kehilangannya, dan tanpa disadari memberikan tempat yang semakin besar bagi harta dalam hati kita.
Inilah bahaya kekayaan yang diperingatkan Yesus. Persoalannya bukan pada berapa banyak yang ada di tangan kita, tetapi pada seberapa besar tempat yang diberikan kepadanya di dalam hati kita. Harta yang seharusnya kita miliki dan kelola dapat perlahan-lahan menjadi sesuatu yang justru menguasai kita.
Itulah yang terjadi pada orang muda yang kaya. Ia memiliki banyak harta, tetapi ketika Yesus memintanya untuk melepaskannya, terlihat bahwa hartanya memiliki tempat yang begitu besar dalam hatinya. Ia ingin mengikuti Yesus, tetapi ada sesuatu yang tidak sanggup ia serahkan.
The danger is not that we have wealth, but that wealth has our heart.
WHEN MORE DOESN’T MAKE US MORE GENEROUS
Ada anggapan yang sering kita dengar: semakin kaya seseorang, semakin sulit baginya untuk memberi. Salah satu alasannya adalah karena semakin banyak yang kita miliki, semakin sulit bagi kita untuk melepaskannya. Alih-alih menggunakan hartanya untuk Kerajaan Allah, tanpa disadari seseorang dapat membiarkan hartanya semakin menguasai hatinya. Nominal yang diberikan mungkin semakin besar, tetapi secara persentase justru semakin kecil.
Ketika seseorang hanya memiliki sedikit, memberi Rp1 juta mungkin merupakan sebuah pengorbanan besar. Ketika kekayaannya meningkat berkali-kali lipat, ia mungkin sekarang memberi Rp5 juta. Secara nominal ia memberi lebih banyak, tetapi dibandingkan dengan apa yang dimilikinya, sebenarnya ia memberi lebih sedikit.
WHO REALLY GAVE MORE?
Suatu hari Yesus duduk berhadapan dengan peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalamnya. Banyak orang kaya memberikan jumlah yang besar. Kemudian datang seorang janda miskin yang memasukkan dua uang logam yang nilainya sangat kecil.
Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan:
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.”
— Markus 12:43, TB2
Menarik bahwa Yesus mengamati CARA orang MEMBERI, bukan hanya jumlah yang mereka berikan. Dan setelah melihat semuanya, Yesus justru mengatakan bahwa janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang kaya yang memberi dalam jumlah besar.
Bagaimana mungkin?
Secara nominal, tentu orang-orang kaya itu memberikan lebih banyak. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa memiliki lebih banyak dan memberi lebih banyak belum tentu berarti lebih murah hati. Ia kemudian menjelaskan:
“Sebab, mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
— Markus 12:44, TB2
Orang-orang kaya itu memiliki lebih banyak dan memberikan jumlah yang lebih besar, tetapi mereka memberi dari kelimpahan mereka. Janda itu memiliki sangat sedikit, tetapi dari yang sedikit itu ia memberikan semuanya. Inilah mengapa Yesus dapat berkata bahwa janda itu memberi lebih banyak daripada mereka semua.
Dengan kata lain, more wealth does not automatically produce more generosity. Seseorang dapat memiliki jauh lebih banyak, memberikan nominal yang jauh lebih besar, tetapi secara proporsional memberikan jauh lebih sedikit dari apa yang dimilikinya.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit dapat menunjukkan kemurahan hati yang jauh lebih besar melalui apa yang rela ia lepaskan.
Having more doesn’t necessarily make us more generous. Generosity is revealed by how willing we are to let go of what we have.
BE RICH IN GOD’S KINGDOM
Yesus tidak sedang mengajarkan kita untuk takut menjadi kaya. Ia sedang memperingatkan kita agar kekayaan tidak membuat hati kita semakin jauh dari Kerajaan Allah.
Jangan sampai dunia menipu kita. Kita mengejar lebih banyak, memiliki lebih banyak, menikmati lebih banyak, tetapi tanpa disadari semakin sulit menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita berhasil menjadi kaya menurut ukuran dunia, tetapi justru semakin jauh dari kehidupan di bawah pemerintahan Sang Raja.
Sungguh disayangkan kalau semakin banyak Tuhan percayakan kepada kita, justru semakin sedikit yang dapat Dia lakukan melalui hidup kita—hanya karena kita tidak sanggup melepaskan apa yang ada di tangan kita.
Karena itu, mari menjadi orang kaya di dalam Kerajaan Allah. Bukan hanya orang yang memiliki banyak, tetapi orang yang semakin banyak dipercayakan, semakin terbuka tangannya; semakin besar berkat yang diterima, semakin besar berkat yang dapat mengalir melalui hidupnya.
Kekayaan tidak harus menjauhkan kita dari Tuhan. Di tangan orang yang hatinya tetap berada di bawah pemerintahan Tuhan, kekayaan dapat menjadi alat untuk melakukan lebih banyak kebaikan, menolong lebih banyak orang, dan mengambil bagian lebih besar dalam pekerjaan Kerajaan Allah.
Closing
Di Markus 10:23 Yesus berkata, “Sukar sekali orang kaya masuk Kerajaan Allah.” Perkataan ini adalah sebuah warning, tetapi sekaligus memberikan petunjuk penting bagi kita yang ingin menjadi kaya dan tetap hidup dalam Kerajaan Allah.
Yesus berkata sukar, bukan tidak mungkin. Artinya, kita perlu dengan sengaja memberikan perhatian kepada keadaan hati kita. Semakin banyak yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin kita perlu menjaga agar hati kita tetap berada dalam Kerajaan Allah—tetap tunduk kepada Tuhan dan hidup di bawah pemerintahan-Nya.
Kita tidak harus memilih antara menjadi kaya atau hidup dalam Kerajaan Allah. Kita dapat menjadi orang yang Tuhan percayakan banyak berkat, tetapi hati kita tetap sepenuhnya berada di bawah pemerintahan-Nya. Kekayaan bertambah, tetapi kekayaan tidak mengambil alih hati kita. Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana menjadi semakin kaya, tetapi bagaimana ketika kita semakin kaya, hati kita tetap berada dalam Kerajaan Allah.
Di Matius 6:21 Yesus berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Ayat ini bukan hanya menolong kita melihat di mana hati kita berada, tetapi juga memberikan sebuah prinsip penting: hati kita akan mengikuti ke mana kita menempatkan harta kita. Karena itu, dengan sengaja kita perlu menempatkan harta kita pada hal-hal yang bernilai bagi Kerajaan Allah.
Ini bukan sekadar tentang berapa banyak yang harus kita berikan kepada gereja. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih besar: uang dan harta kita di bawah kehendak Tuhan dan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya. Cara kita mendapatkan, menikmati, menyimpan, menginvestasikan, memberikan, dan menggunakan kekayaan semuanya berada di bawah pemerintahan Sang Raja.
Dan ketika Tuhan mempercayakan kekayaan yang semakin besar kepada kita, biarlah kontribusi kita bagi Kerajaan Allah juga semakin besar. Jangan puas hanya karena kita sudah memberi. Pertanyaannya bukan sekadar apakah kita memberi, tetapi apakah kemurahan hati kita juga bertumbuh seiring dengan bertambahnya apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Ingat, yang Yesus perhatikan bukan hanya berapa banyak yang diberikan, tetapi CARA orang memberi. Orang-orang kaya memberikan jumlah yang besar, tetapi mereka memberi dari kelimpahan mereka; sementara janda miskin itu memiliki sangat sedikit, tetapi rela memberikan semua yang dimilikinya. Jangan sampai kita menjadi semakin kaya dan nominal pemberian kita semakin besar, tetapi cara kita memberi justru seperti orang-orang kaya yang dilihat Yesus—kelihatannya banyak, tetapi kalah dalam kemurahan hati dari seorang janda miskin. Semakin banyak yang kita miliki seharusnya tidak membuat kita semakin sulit melepaskan, tetapi justru membuka kesempatan bagi kemurahan hati kita untuk semakin bertumbuh.
Jika Tuhan mempercayakan kepada kita secara signifikan, berarti kita juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara signifikan bagi pekerjaan Kerajaan Allah di bumi. Jangan puas hanya dengan berkata, “Saya sudah memberi.” Biarlah bertambahnya kekayaan juga disertai dengan bertambahnya kemurahan hati dan kontribusi kita. Betapa indahnya ketika semakin banyak yang Tuhan tempatkan di tangan kita, semakin banyak pula yang dapat mengalir melalui hidup kita untuk menjadi berkat bagi orang lain dan mengambil bagian dalam apa yang Tuhan kerjakan di bumi.
Don’t just be rich in God’s Kingdom. Use your riches for God’s Kingdom.