OPENING — Kita Membutuhkan Lebih dari Sekadar Pengetahuan
Kita hidup pada zaman ketika pengetahuan sangat mudah diperoleh. Dalam hitungan detik kita dapat menemukan informasi, pendapat, analisis, bahkan jawaban atas hampir semua pertanyaan. Namun memiliki lebih banyak informasi ternyata tidak otomatis membuat kita menjalani hidup dengan lebih baik.
Kita bisa tahu banyak tetapi tetap salah mengambil keputusan. Kita bisa berhasil dalam pekerjaan tetapi gagal dalam hubungan. Kita bisa memiliki banyak kesempatan tetapi tidak tahu mana yang seharusnya kita ambil. Bahkan sering kali masalahnya bukan karena kita tidak mengetahui apa yang benar, tetapi karena kita tidak tahu bagaimana menerapkan apa yang benar dalam situasi yang kita hadapi.
Di situlah kita membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Kita membutuhkan HIKMAT. Pengetahuan menolong kita mengetahui banyak hal, tetapi hikmat menolong kita mengetahui bagaimana menjalani hidup dengan benar.
Itulah sebabnya kitab Amsal menempatkan hikmat sebagai sesuatu yang sangat berharga:
“Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya.”
— Amsal 3:13–15
Mengapa hikmat begitu berharga? Karena kita bisa memiliki banyak hal yang baik, tetapi tanpa hikmat kita mungkin tidak tahu bagaimana menjalaninya dengan baik. Kita bisa memiliki uang tetapi salah mengelolanya, memiliki kesempatan tetapi salah memilihnya, memiliki keluarga tetapi tidak tahu bagaimana merawatnya, bahkan memiliki keberhasilan tetapi kehilangan apa yang sebenarnya paling penting dalam kehidupan.
You can have many good things in life, but you need wisdom to know what to do with them.
Karena itu, belajar tentang hikmat bukan sekadar belajar bagaimana menjadi lebih pintar atau membuat keputusan yang lebih baik. Kita sedang belajar bagaimana menjalani kehidupan sebagaimana Tuhan merancangnya.
Lalu, apa sebenarnya hikmat itu? Bagaimana kita menjadi orang yang berhikmat? Dan pada akhirnya, mengapa Perjanjian Baru membawa kita kepada Yesus sebagai Hikmat Allah?
Itulah yang akan kita pelajari bersama.
1. WHAT IS WISDOM? — Hikmat Adalah Kemampuan Menjalani Hidup dengan Benar
Kata Ibrani yang diterjemahkan hikmat adalah ḥokmâ (חָכְמָה). Kita sering membayangkan hikmat sebagai kecerdasan, pengetahuan yang luas, atau kemampuan memberikan nasihat yang baik. Tetapi penggunaan ḥokmâ dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa pengertiannya jauh lebih praktis.
Menariknya, kata yang sama digunakan untuk menggambarkan keahlian seseorang dalam mengerjakan sesuatu dengan baik. Ketika Tuhan memerintahkan pembangunan Kemah Suci, Tuhan berkata mengenai orang-orang yang akan membuat pakaian imam:
“You shall speak to all the skillful, whom I have filled with a spirit of skill…”
— Exodus 28:3, ESV
Kata yang diterjemahkan “skill” berasal dari ḥokmâ. Jadi ḥokmâ tidak hanya berbicara tentang apa yang seseorang ketahui, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan itu untuk mengerjakan sesuatu dengan tepat dan baik.
Hal yang sama terlihat pada Bezaleel:
“And I have filled him with the Spirit of God, with ability and intelligence, with knowledge and all craftsmanship.”
— Exodus 31:3, ESV
Kata “ability” di sini menerjemahkan ḥokmâ. Bezaleel bukan hanya mengetahui seperti apa Kemah Suci seharusnya dibangun. Ia memiliki kemampuan untuk menerjemahkan rancangan itu menjadi kenyataan.
Gambaran ini membantu kita memahami hikmat dalam kitab Amsal.
“Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.”
— Amsal 2:9
Perhatikan bahwa hikmat membuat kita bukan hanya mengerti “kebenaran, keadilan, dan kejujuran,” tetapi juga “setiap jalan yang baik.” Ada perbedaan antara mengetahui apa yang benar dan mengetahui bagaimana menjalani apa yang benar.
Kita mungkin mengetahui prinsipnya, tetapi kehidupan nyata menuntut kita menerjemahkan prinsip itu menjadi pilihan, perkataan, sikap, dan tindakan yang tepat. Sama seperti Bezaleel membutuhkan ḥokmâ untuk menerjemahkan rancangan Tuhan menjadi sesuatu yang nyata, kita membutuhkan ḥokmâ untuk menerjemahkan kebenaran Tuhan menjadi cara hidup yang nyata.
Di sinilah hikmat menjadi skill for living. Hidup tidak selalu memberikan pilihan sederhana antara benar dan salah. Kadang-kadang dua pilihan sama-sama terlihat baik; yang kita perlukan adalah kemampuan membedakan mana yang lebih tepat, kapan waktunya, bagaimana melakukannya, dan ke mana pilihan itu akan membawa kita. Kita tahu bahwa berkata jujur itu benar, tetapi hikmat menolong kita mengetahui kapan dan bagaimana menyampaikan kebenaran itu. Kita tahu bahwa kemurahan hati itu baik, tetapi hikmat menolong kita membedakan kapan menolong dan bagaimana menolong dengan benar. Kita tahu bahwa keluarga penting, tetapi hikmat menolong kita menerjemahkan keyakinan itu menjadi prioritas dan keputusan yang nyata.
Jadi hikmat bukan hanya membuat kita tahu lebih banyak tentang kehidupan; hikmat memberi kita kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan benar. Kita mengetahui apa yang benar, memahami bagaimana kebenaran itu berlaku dalam situasi yang kita hadapi, lalu menerapkannya melalui keputusan dan tindakan yang tepat.
Knowledge is knowing what is right. Wisdom is knowing how to live it right.
“Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran.”
— Amsal 1:2–3
“To receive instruction in wise dealing, in righteousness, justice, and equity.”
— Proverbs 1:3, ESV
Pertama, Amsal ditulis “untuk mengetahui hikmat dan didikan.” Kata ḥokmâ—hikmat—ditempatkan berdampingan dengan mûsār, yang berarti instruction, discipline, atau correction. Ini menunjukkan bahwa hikmat bukan sesuatu yang otomatis kita miliki; hikmat harus dipelajari dan dibentuk. Menjadi berhikmat berarti bersedia menerima pengajaran, bahkan koreksi, yang membentuk cara kita berpikir dan hidup. Karena itu orang berhikmat dalam Amsal bukanlah orang yang merasa sudah mengetahui semuanya, tetapi orang yang terus bersedia diajar.
Kedua, Amsal bertujuan “untuk mengerti kata-kata yang bermakna.” Kata kerja yang digunakan berhubungan dengan bîn, yaitu kemampuan membedakan, memahami, dan melihat perbedaan dengan tepat—DISCERNMENT. Hikmat karena itu lebih dari sekadar mengetahui sebuah prinsip; kita perlu mampu memahami bagaimana prinsip itu berlaku dalam situasi yang berbeda. Kehidupan tidak selalu hitam-putih. Kita bisa mengetahui bahwa kejujuran itu benar, tetapi tetap membutuhkan hikmat untuk mengetahui apa yang harus dikatakan, kapan mengatakannya, dan bagaimana menyampaikannya. Hikmat membuat kita bukan hanya bertanya, “Apa yang benar?”, tetapi juga, “Apa yang tepat dalam situasi ini?”
Ketiga, tujuan akhirnya adalah “menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran.” ESV menerjemahkannya dengan sangat membantu: “instruction in wise dealing, in righteousness, justice, and equity.” Ungkapan “wise dealing” menerjemahkan kata yang berkaitan dengan śākal, yang membawa gagasan bertindak dengan insight, prudence, dan good sense. Jadi hikmat akhirnya harus terlihat dalam bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Dan Amsal langsung memberikan ukuran bagi kehidupan yang berhikmat: righteousness, justice, and equity—apa yang benar, adil, dan lurus. Dengan demikian, hikmat bukan sekadar membuat kita mengetahui lebih banyak, tetapi membentuk kita menjadi orang yang mampu memahami kehidupan dengan benar, membedakan apa yang tepat, dan kemudian menjalankannya dengan benar di hadapan Tuhan dan terhadap sesama. Itulah skill for living yang dimaksudkan oleh hikmat dalam Amsal.
Wisdom is not measured by how much we know, but by how well we live what we know.
2. HOW DO WE BECOME WISE? — Hikmat Dimulai dengan Takut akan Tuhan
Kalau hikmat begitu penting, pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana kita memperolehnya? Bagaimana kita menjadi orang yang berhikmat?
Kitab Amsal memberikan titik awal yang sangat jelas:
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.”
— Amsal 1:7
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.”
— Amsal 9:10
Jadi perjalanan menuju hikmat tidak dimulai dari seberapa banyak yang kita tahu, tetapi dari bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita.
FEAR THE LORD — Jadikan Tuhan Titik Referensi Kehidupan
Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap Tuhan. Ini adalah sikap hormat, tunduk, dan mengakui otoritas Tuhan—mengakui bahwa Dia adalah Pencipta, bahwa Dia mengetahui apa yang benar dan baik bagi kehidupan kita, dan bahwa jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan kita. Karena itu, takut akan Tuhan bukan sekadar sebuah perasaan terhadap Tuhan, tetapi sebuah postur kehidupan: kesediaan menempatkan Tuhan pada posisi yang seharusnya dan menempatkan diri kita di bawah otoritas-Nya.
Inilah sebabnya hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Untuk menjalani hidup dengan benar, kita terlebih dahulu membutuhkan titik referensi yang benar. Kita membutuhkan sesuatu di luar diri kita yang menentukan apa yang benar, baik, dan bernilai. Kalau diri kita sendiri menjadi titik referensi tertinggi, maka keputusan kita pada akhirnya akan ditentukan oleh apa yang saya pikir benar, apa yang saya rasa baik, atau apa yang saya inginkan. Orang berhikmat menyadari bahwa pengetahuan, pengalaman, dan perspektifnya terbatas. Karena itu ia tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran tertinggi, tetapi bertanya, “Apa yang Tuhan katakan? Apa yang benar di hadapan-Nya? Bagaimana Tuhan ingin saya menjalani kehidupan ini?”
Jadi takut akan Tuhan mengubah pusat pengambilan keputusan dalam hidup kita—dari self-centered menjadi God-centered. Kita tetap menggunakan akal, pengalaman, pertimbangan, dan nasihat orang lain, tetapi semuanya ditempatkan di bawah kebenaran dan kehendak Tuhan. Hikmat dimulai ketika kita berhenti meminta Tuhan menyesuaikan diri dengan apa yang kita anggap benar, dan mulai membiarkan Tuhan membentuk cara kita melihat apa yang benar.Itulah sebabnya sebelum Amsal mengajarkan bagaimana membuat keputusan yang bijaksana, Amsal terlebih dahulu mengajarkan di mana Tuhan harus ditempatkan dalam kehidupan kita.
Wisdom begins when God becomes the reference point of our lives.
SEEK WISDOM — Jadilah Seorang Pembelajar
Namun takut akan Tuhan bukan berarti kita berhenti berpikir dan hanya menunggu Tuhan memberikan jawaban. Justru Amsal menggambarkan orang berhikmat sebagai seseorang yang terus belajar.
“Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.”
— Amsal 1:5
Menariknya, yang diminta untuk terus mendengar dan belajar adalah “orang bijak.” Artinya, salah satu tanda seseorang berhikmat adalah ia tidak pernah merasa sudah mengetahui semuanya.
Wise people remain teachable.
Amsal bahkan menggambarkan pencarian hikmat seperti mencari sesuatu yang sangat berharga:
“Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam…”
— Amsal 2:4
Hikmat tidak datang kepada orang yang pasif. Kita memperolehnya ketika kita mencari, bertanya, membaca, mendengarkan, mengamati, dan belajar.
Kita belajar dari Firman Tuhan.
Kita belajar dari orang lain.
Kita belajar dari pengalaman.
Kita belajar dari kesalahan.
Kita bahkan belajar dari apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Amsal 24 menceritakan seseorang yang melewati ladang seorang pemalas. Ia melihat ladang itu penuh semak duri dan temboknya roboh. Kemudian ia berkata:
“Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.”
— Amsal 24:32
Banyak orang mungkin melihat ladang yang sama. Tetapi orang berhikmat tidak hanya melihat—ia belajar dari apa yang dilihatnya.
Wise people don’t just go through life; they learn from life.
RECEIVE CORRECTION — Miliki Hati yang Dapat Diajar
Amsal juga menunjukkan bahwa salah satu jalan menuju hikmat adalah kesediaan menerima koreksi.
“Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak.”
— Amsal 9:9
Sebaliknya, salah satu karakter orang bodoh dalam Amsal bukan karena ia tidak memiliki kemampuan intelektual, tetapi karena ia tidak mau mendengarkan.
Orang berhikmat masih dapat berkata:
- “Mungkin ada sesuatu yang belum saya lihat.”
- “Mungkin saya perlu mendengarkan.”
- “Mungkin saya salah.”
- “Mungkin ada sesuatu yang harus saya ubah.”
The wise are teachable; the foolish think they have nothing left to learn.
3. WISDOM IS CALLING — Tuhan Tidak Menyembunyikan Hikmat
Ada gambaran yang sangat menarik dalam kitab Amsal. Hikmat tidak digambarkan sebagai sesuatu yang tersembunyi dan hanya dapat ditemukan oleh segelintir orang yang sangat pintar atau berpendidikan. Sebaliknya, hikmat justru digambarkan sedang mencari perhatian kita.
“Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya?”
— Amsal 8:1
Kata “berseru” berasal dari kata Ibrani qārā’ (קָרָא), yang berarti memanggil, menyerukan, atau mengundang seseorang untuk memberikan perhatian. Gambaran ini penting: hikmat bukan sedang berbisik pelan di tempat tersembunyi. Wisdom is calling.
Bahkan ayat berikutnya menjelaskan di mana hikmat berseru:
“Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring.”
— Amsal 8:2–3
Perhatikan tempat-tempatnya: jalan, persimpangan, pintu gerbang, dan jalan masuk kota. Pada dunia kuno, pintu gerbang kota adalah tempat orang bertemu, melakukan transaksi, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan. Dengan kata lain, hikmat berseru di tengah kehidupan nyata.
Hikmat tidak hanya ditemukan ketika kita sedang membaca buku atau duduk di ruang kelas. Kita dapat menemukannya ketika bekerja, membangun keluarga, menghadapi konflik, mengalami kegagalan, menerima kritik, membuat keputusan, melihat kehidupan orang lain, bahkan ketika menghadapi konsekuensi dari keputusan kita sendiri.
Everyday life can become a classroom of wisdom when we have a teachable heart.
Karena itu Amsal 8 memberikan sebuah undangan:
“Hai orang yang tak berpengalaman, tuntutlah kecerdasan, hai orang bebal, mengertilah dalam hatimu.”
— Amsal 8:5
Menariknya, undangan itu diberikan justru kepada orang yang belum memiliki hikmat. Artinya, keadaan kita hari ini tidak harus menentukan keadaan kita selamanya. Kita mungkin pernah salah mengambil keputusan, gagal dalam hubungan, keliru menilai seseorang, atau menyia-nyiakan kesempatan. Tetapi kita masih dapat belajar dan menjadi lebih berhikmat.
You don’t have to know everything to become wise. You just have to remain willing to learn.
Itulah sebabnya salah satu karakter terpenting dari orang berhikmat adalah teachable spirit. Orang berhikmat bukan orang yang selalu benar, tetapi orang yang selalu bersedia belajar. Ia dapat belajar dari Firman Tuhan, dari nasihat orang lain, dari koreksi, dari pengalaman, bahkan dari kesalahannya sendiri.
Amsal kemudian memberikan sebuah janji:
“Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.”
— Amsal 8:17
Kata “tekun mencari” menerjemahkan kata Ibrani shāḥar (שָׁחַר), yang membawa gagasan mencari dengan sungguh-sungguh atau dengan keseriusan. Jadi hikmat tersedia, tetapi kita tetap harus memiliki hati yang mau mencarinya.
Di sinilah paradoksnya: hikmat memanggil kita, tetapi kita tetap harus merespons panggilannya.
Tuhan dapat berbicara melalui Firman-Nya, tetapi kita harus mau membacanya. Seseorang dapat memberikan nasihat, tetapi kita harus mau mendengarkannya. Pengalaman dapat memberikan pelajaran, tetapi kita harus mau merenungkannya. Koreksi dapat menunjukkan kesalahan kita, tetapi kita harus cukup rendah hati untuk menerimanya.
Karena itu masalah terbesar sering kali bukan tidak adanya hikmat, melainkan tidak adanya kemauan untuk mendengarkan.
Kita terlalu sibuk untuk berhenti.
Terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan.
Terlalu yakin bahwa kita sudah benar.
Terlalu defensif ketika dikoreksi.
Atau terlalu keras hati untuk mengakui bahwa mungkin ada sesuatu yang perlu kita ubah.
Amsal menggambarkan tragedi ini dengan sangat jelas:
“Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku.”
— Amsal 1:29–30
Perhatikan: persoalannya bukan karena hikmat tidak pernah berbicara. Hikmat sudah berseru, memberi nasihat, bahkan menegur. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan.
Itulah sebabnya menjadi orang berhikmat dimulai bukan dengan memiliki semua jawaban, tetapi dengan memiliki hati yang mau mendengar.
Mungkin setiap hari hikmat sebenarnya sedang memanggil kita—melalui Firman Tuhan yang kita baca, percakapan dengan seseorang, nasihat yang diberikan kepada kita, kesalahan yang kita lakukan, sesuatu yang kita amati, atau pengalaman yang sedang kita jalani.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah Tuhan sedang memberikan hikmat?” Pertanyaannya adalah: Are we listening?
Wisdom is available everywhere, but only a teachable heart will recognize its voice.
4. JESUS — THE WISDOM OF GOD
Di sinilah perjalanan kita mengenai hikmat mencapai sesuatu yang jauh lebih dalam.
Dalam Amsal 1–9, hikmat sering dipersonifikasikan—digambarkan seperti seorang pribadi yang berbicara, memanggil, mengajar, menegur, dan mengundang manusia untuk datang kepadanya.
“Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya?”
— Amsal 8:1
Kita tentu perlu berhati-hati secara hermeneutis. Personifikasi Hikmat dalam kitab Amsal tidak berarti bahwa setiap kali Amsal berbicara tentang hikmat, penulisnya sedang secara langsung berbicara tentang Yesus. Dalam konteksnya, Amsal sedang menggambarkan hikmat Allah seperti seorang pribadi untuk menunjukkan betapa pentingnya manusia mendengarkan dan mengikutinya.
Namun ketika kita sampai kepada Perjanjian Baru, kita menemukan sesuatu yang luar biasa. Apa yang dalam Amsal digambarkan sebagai hikmat Allah, dalam Perjanjian Baru menemukan kepenuhannya di dalam Kristus.
Paulus menggunakan bahasa yang sangat kuat:
“Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.”
— 1 Korintus 1:24
Paulus tidak sekadar mengatakan bahwa Yesus memiliki hikmat. Ia mengatakan bahwa Kristus adalah “hikmat Allah” — the wisdom of God.
Konteks 1 Korintus 1 membuat pernyataan ini semakin menarik. Manusia mencari hikmat dengan ukuran dunia—apa yang terlihat masuk akal, kuat, menguntungkan, berhasil, dan membawa seseorang naik lebih tinggi. Karena itu, berita tentang Kristus yang disalibkan terlihat seperti kebodohan: bagaimana mungkin kemenangan datang melalui kekalahan, kekuatan melalui kelemahan, dan kehidupan melalui kematian? Tetapi justru di situlah Paulus menunjukkan perbedaan antara human wisdom dan divine wisdom. Apa yang dianggap bodoh oleh dunia ternyata menjadi jalan keselamatan Allah. Melalui salib, Allah sedang memperlihatkan hikmat-Nya—bahwa jalan Tuhan tidak selalu terlihat masuk akal menurut ukuran manusia, tetapi selalu menggenapi tujuan-Nya.
“Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia.”
— 1 Korintus 1:25
Manusia berpikir kemenangan diperoleh melalui kekuatan; Allah menyatakan kemenangan melalui salib. Manusia mengejar kebesaran dengan meninggikan diri; Yesus menunjukkan kebesaran dengan merendahkan diri dan menjadi seorang hamba (Filipi 2:5–8). Manusia cenderung membalas ketika disakiti; Yesus menunjukkan kekuatan melalui pengampunan. Manusia berusaha mempertahankan hidup; Yesus menyerahkan hidup-Nya, dan melalui kematian-Nya membawa kehidupan bagi banyak orang. Manusia berkata, “Utamakan dirimu sendiri,” tetapi Yesus menunjukkan bahwa kehidupan yang berarti justru ditemukan ketika kita mengasihi Allah dan memberikan diri bagi orang lain. Karena itu, ketika kita melihat Yesus, kita sedang melihat hikmat Allah dalam bentuk kehidupan. Cara Dia mengasihi, melayani, mengampuni, menggunakan kuasa, menghadapi penderitaan, dan menaati Bapa menunjukkan kepada kita seperti apa kehidupan yang benar menurut Allah.
Jesus does not merely explain God’s wisdom. He reveals what God’s wisdom looks like.
Itulah sebabnya Paulus melanjutkan:
“Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.”
— 1 Korintus 1:30
Ketika Paulus mengatakan bahwa Kristus “telah menjadi hikmat bagi kita,” ia sedang menunjukkan bahwa hikmat Allah bukan hanya sesuatu yang harus kita pelajari, tetapi sesuatu yang Allah berikan kepada kita di dalam Kristus. Dalam konteks ayat ini, Paulus bahkan melanjutkan bahwa Kristus telah menjadi kebenaran, pengudusan, dan penebusan bagi kita. Artinya, apa yang tidak dapat kita capai melalui kepandaian, usaha, atau hikmat manusia, Allah telah mengerjakannya bagi kita melalui Kristus. Di dalam Dia kita bukan hanya menemukan ajaran tentang bagaimana menjalani hidup, tetapi kita diperdamaikan dengan Allah, dibentuk menjadi manusia yang baru, dan dibawa masuk ke dalam kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, Yesus bukan sekadar sumber good advice yang membantu kita membuat keputusan lebih baik; Dia adalah pemberian Allah yang membawa kita kembali kepada kehidupan yang benar di hadapan-Nya.
Kemudian Paulus menulis:
“Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.”
— Kolose 2:3
Perhatikan kata “segala.” Paulus membawa pusat pencarian hikmat Kristen kepada Kristus. Jika kita ingin mengetahui seperti apa kehidupan yang benar di hadapan Allah, lihatlah kepada Yesus.
Lihat bagaimana Dia memperlakukan orang.
Lihat bagaimana Dia menggunakan kekuasaan.
Lihat bagaimana Dia menghadapi penolakan.
Lihat bagaimana Dia merespons orang berdosa.
Lihat bagaimana Dia berdoa.
Lihat bagaimana Dia mengampuni.
Lihat bagaimana Dia melayani.
Lihat bagaimana Dia taat kepada Bapa.
Di dalam Yesus kita tidak hanya mendengar ajaran tentang hikmat; kita melihat hikmat itu dijalani.
If you want to know what a wise life looks like, look at Jesus.
FROM PRINCIPLES TO A PERSON
Ini mengubah cara kita memahami kehidupan berhikmat. Kita memang perlu mempelajari prinsip-prinsip hikmat. Kita membaca Firman Tuhan, menerima nasihat, belajar dari pengalaman, mengamati kehidupan, dan mengembangkan kemampuan mengambil keputusan dengan baik. Semua itu penting.
Tetapi kekristenan tidak berhenti pada kumpulan principles for successful living.
Karena ada banyak keadaan dalam kehidupan ketika kita tidak memiliki jawaban yang sederhana. Ada keputusan ketika tidak ada ayat yang secara langsung mengatakan, “Pilih A, jangan pilih B.” Ada musim ketika kita sudah berdoa tetapi jalan di depan masih belum jelas. Ada situasi ketika dua pilihan sama-sama terlihat baik. Ada penderitaan yang tidak dapat kita mengerti dan pertanyaan yang tidak langsung mendapatkan jawaban.
Pada saat seperti itu, kita membutuhkan lebih dari sekadar knowing what to do. Kita perlu knowing Who to follow.
Wisdom is not merely knowing what to do; true wisdom begins with knowing Who to follow.
Seorang murid Yesus mungkin tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi di depan, tetapi ia mengetahui siapa yang sedang ia ikuti. Kita belajar mengenal hati-Nya, mendengarkan firman-Nya, mempercayai jalan-Nya, dan membiarkan nilai-nilai-Nya membentuk keputusan kita.
Hikmat Kristus mengubah ukuran yang kita gunakan dalam menjalani kehidupan:
- Choose Christlikeness over personal advantage. Hikmat tidak hanya mengejar apa yang paling menguntungkan, tetapi memilih jalan yang paling mencerminkan Kristus.
- Choose what pleases God over what is merely permissible. Hikmat tidak berhenti pada apa yang boleh dilakukan, tetapi mencari apa yang berkenan kepada Tuhan.
- Choose faithfulness over worldly success. Hikmat tidak hanya mengejar keberhasilan menurut ukuran dunia, tetapi menjalani kehidupan yang setia kepada jalan dan teladan Kristus.
Dan mungkin inilah perbedaan terbesar antara hikmat dunia dan hikmat Kristus. Hikmat dunia terutama bertanya bagaimana kita dapat mendapatkan kehidupan yang kita inginkan; hikmat Kristus mengajar kita bagaimana menjalani kehidupan yang Tuhan kehendaki. Kita tidak lagi hanya mencari Yesus ketika membutuhkan jawaban atas sebuah keputusan. Kita menjadikan Dia pusat yang menentukan bagaimana kita berpikir, apa yang kita nilai, ke mana kita berjalan, dan untuk apa kita hidup.
The measure of wisdom is not simply whether our choices lead to success, but whether our lives become more like Christ.
Saya akan membuatnya lebih seperti undangan kepada pembaca, bukan kesimpulan teologis—lebih hangat dan reflektif.
CLOSING — KNOW WHO TO FOLLOW
Knowing what to do itu penting. Karena itu teruslah belajar. Belajarlah dari Firman Tuhan, dari pengalaman, dari orang-orang di sekitar kita, dari nasihat dan koreksi, bahkan dari kegagalan kita sendiri. Tuhan dapat memakai semuanya untuk membuat kita semakin berhikmat.
Tetapi akan ada saat dalam hidup ketika kita benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika apa yang pernah kita pelajari sepertinya belum cukup untuk menjawab apa yang sedang kita hadapi. Ketika jalan di depan tidak jelas, doa kita belum mendapatkan jawaban, dan kita harus melangkah tanpa mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir.
Pada saat seperti itu, ingatlah: kita mungkin tidak selalu know what to do, tetapi kita dapat know Who to follow.
Mengikuti Yesus lebih penting daripada semua hikmat yang dapat kita pelajari, karena akan ada saat dalam hidup ketika kita benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan—ketika pengalaman kita tidak cukup, prinsip-prinsip yang kita ketahui tidak memberikan jawaban yang jelas, dan kita bahkan tidak lagi dapat mengandalkan hikmat kita sendiri. Pada saat seperti itu, arahkan mata kita kepada Yesus dan tetaplah mengikuti-Nya. Dengarkan suara-Nya melalui Firman-Nya, percayai hati-Nya ketika kita belum memahami jalan-Nya, dan izinkan Dia menentukan langkah kita berikutnya. Kita tidak harus mengetahui seluruh perjalanan untuk dapat terus berjalan; kita hanya perlu tetap dekat dengan Pribadi yang menuntun kita. Keep your eyes on Jesus. Listen to His voice. Trust His heart. Let Him lead you.
“Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup.”
— Amsal 8:35
Dan Yesus berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”
— Yohanes 14:6
Pada akhirnya, inilah yang membuat hikmat Kristen begitu berbeda. Kita tidak hanya memiliki principles to live by; kita memiliki a Person to follow. Dan Pribadi yang kita ikuti adalah Sang Hikmat Allah, yang bukan hanya menunjukkan jalan kepada kita—Dia sendiri adalah Jalan dan Hidup itu.
You may not always know what to do, but you can always know Who to follow. Follow Jesus—the Wisdom of God—and let Him lead you into life.