AVODAH — Work as Worship

God never intended our work and our worship to become two separate worlds.

Bagi banyak orang Kristen, tanpa sadar kehidupan terbagi menjadi dua dunia. Ada dunia yang kita anggap rohani: gereja, doa, membaca Alkitab, worship, pelayanan, dan berbagai aktivitas yang secara langsung berhubungan dengan iman. Kemudian ada dunia yang kita anggap sekuler: pekerjaan, bisnis, meeting, target, profit, pelanggan, investasi, deadline, dan berbagai tanggung jawab profesional lainnya.

Akibatnya, hari Minggu terasa seperti hari untuk Tuhan, sementara Senin sampai Sabtu adalah hari untuk bekerja. Ketika berada di gereja kita merasa sedang melakukan sesuatu yang rohani, tetapi ketika kembali ke kantor atau bisnis, kita merasa kembali kepada kehidupan “biasa.” Bahkan tanpa disadari kita dapat menganggap bahwa berkhotbah, memimpin worship, atau melayani di gereja adalah aktivitas rohani, sementara memimpin perusahaan, mengajar, merawat pasien, menjual produk, atau mengelola investasi adalah aktivitas sekuler.

Tetapi ada sebuah kata dalam Perjanjian Lama yang menantang pemisahan tersebut: avodah (עֲבוֹדָה). Avodah berasal dari akar kata Ibrani avad (עָבַד). Yang menarik, keluarga kata ini dapat digunakan untuk bekerjamelayani, dan melayani Allah. Satu keluarga kata bergerak dari taman Eden, kepada pekerjaan sehari-hari, kepada pelayanan di hadapan Tuhan.

Ini bukan berarti bahwa setiap pekerjaan otomatis menjadi worship. Tetapi penggunaan kata tersebut memberi kita sebuah jendela untuk melihat bahwa dalam cara pandang Alkitab, work, service, dan worship tidak harus hidup dalam tiga dunia yang terpisah.

Avodah brings work, service, and worship into one integrated life before God.

1. Avad in the Garden — Work Is Part of God’s Design

Pertama kali konsep ini menjadi sangat penting adalah di taman Eden. Sebelum ada dosa, sebelum ada kutuk, bahkan sebelum ada gereja, Israel, imam, atau Kemah Suci, manusia sudah diberikan pekerjaan oleh Tuhan.

Kejadian 2:15 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Kata yang diterjemahkan “mengusahakan” adalah bentuk dari kata avad—akar kata dari avodah. Adam ditempatkan Tuhan di taman untuk avad tanah yang Tuhan percayakan kepadanya.

Ini memberikan sebuah revelation yang penting: work existed before the Fall. Pekerjaan bukan akibat dosa. Dosa membuat pekerjaan menjadi berat, penuh frustrasi, dan menghasilkan toil, tetapi pekerjaan itu sendiri merupakan bagian dari desain Allah.

Adam tidak hanya ditempatkan di Eden untuk menikmati apa yang Tuhan ciptakan. Ia diberikan tanggung jawab untuk mengusahakan dan memeliharanya. Tuhan menciptakan sesuatu yang baik, lalu mempercayakannya kepada manusia untuk dikelola, dikembangkan, dan dirawat.

Prinsip avad ini masih sangat relevan dengan pekerjaan kita sekarang. Kita semua menerima sesuatu untuk “diusahakan”—kemampuan, pengetahuan, kesempatan, resources, relationships, bahkan masalah yang perlu diselesaikan. Seorang entrepreneur melihat kebutuhan atau kesempatan lalu membangun bisnis yang menciptakan value. Seorang engineer menghadapi masalah lalu menghasilkan solusi. Seorang guru melihat potensi dalam seorang anak lalu membantu mengembangkannya. Seorang leader menerima orang dan resources yang dipercayakan kepadanya lalu menolong semuanya bertumbuh dan berfungsi semakin baik.

Karena itu, pekerjaan bukan sekadar cara kita mendapatkan penghasilan. Work is what we do with what God has placed in our hands. Kita menerima sesuatu, lalu melalui pekerjaan kita mengelolanya, mengembangkannya, memperbaikinya, atau membuatnya menghasilkan sesuatu yang berguna. Dalam pengertian inilah pekerjaan menjadi bagian dari avadmengusahakan dengan baik apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Before work became a way to make a living, it was already part of God’s design for living.

2. Avad in Exodus — We Are Set Free to Serve God

Penggunaan akar kata yang sama menjadi semakin menarik ketika kita masuk ke kitab Keluaran. Israel hidup sebagai budak di Mesir. Mereka avad—mereka bekerja dan melayani Firaun. Tetapi ketika Tuhan memanggil Musa untuk membawa Israel keluar dari Mesir, Tuhan menggunakan kata yang sama untuk menjelaskan tujuan pembebasan mereka.

Keluaran 3:12 “Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”

Kata yang diterjemahkan “beribadah” atau “serve/worship” di sini berasal dari akar kata yang sama: avad.

Ini sangat menarik. Israel sebelumnya avad kepada Firaun. Sekarang Tuhan membebaskan mereka supaya mereka dapat avad kepada-Nya. Tema ini bahkan berulang kali muncul dalam konfrontasi Musa dengan Firaun: “Let My people go, that they may serve Me.”

Karena itu, Keluaran bukan sekadar cerita tentang Israel yang dibebaskan dari kerja paksa di Mesir. Tuhan tidak hanya mengubah keadaan mereka, tetapi juga arah kehidupan mereka. Mereka dibebaskan dari master yang memperbudak supaya dapat hidup bagi Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. Freedom did not mean serving no one; it meant being free to serve the right Master

Firaun memperlakukan mereka sebagai budak dan menggunakan pekerjaan mereka untuk kepentingannya sendiri. Tuhan membebaskan mereka dari master yang memperbudak itu dan membawa mereka kepada diri-Nya. Karena itu, kebebasan dalam Alkitab bukan berarti “sekarang saya bebas melakukan apa saja yang saya mau,” melainkan kebebasan untuk hidup bagi Tuhan dan menggunakan kehidupan kita sesuai dengan tujuan-Nya.

God did not simply free Israel from serving. He freed them to serve the right Master.

Prinsip yang sama membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam tentang pekerjaan. Avodah tidak hanya berbicara tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga siapa yang sesungguhnya kita layani melalui pekerjaan itu. Sebab pekerjaan tidak pernah hanya tentang aktivitas; di balik cara kita bekerja selalu ada sesuatu yang kita kejar, kita hargai, dan akhirnya kita layani.

Kita mungkin bekerja untuk sebuah perusahaan, tetapi sebenarnya hidup untuk mendapatkan approval. Kita mungkin membangun bisnis, tetapi tanpa sadar uang menjadi tujuan utama. Kita mungkin mengejar karier, tetapi sebenarnya yang kita cari adalah status dan pengakuan. Bahkan success dapat menjadi seperti “Firaun” baru—selalu menuntut lebih banyak waktu, tenaga, perhatian, bahkan keluarga dan integritas kita.

Di sinilah avodah menolong kita menempatkan pekerjaan pada tempat yang benar. Kita boleh bekerja keras, membangun sesuatu yang besar, mengejar excellence, dan menikmati keberhasilan. Tetapi pekerjaan yang seharusnya kita layani tidak boleh berubah menjadi sesuatu yang kita sembah. Pekerjaan adalah servant yang baik, tetapi master yang buruk. Hanya Tuhan yang layak menjadi pusat dan tujuan akhir dari seluruh pekerjaan kita.

We are called to serve God through our work, not to serve our work as our god.

We were not created to worship our work. We were created to worship God through our work.

3. Avodah in the Tabernacle — Ordinary Tasks Can Become Sacred Service

Kemudian kita menemukan kata avodah digunakan berulang kali untuk pekerjaan orang Lewi di Kemah Suci. Salah satu contoh yang sangat jelas terdapat dalam Bilangan 4.

Bilangan 4:47 “Semua orang yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai lima puluh tahun, yakni semua orang yang wajib melakukan pekerjaan pelayanan dan pekerjaan pengangkutan di Kemah Pertemuan.”

Di sini teks menggunakan kata avodah untuk pelayanan yang dilakukan orang Lewi. Menariknya, banyak pekerjaan mereka sangat praktis. Mereka mengangkat, membawa, menjaga, memasang, membongkar, dan mengurus berbagai perlengkapan Kemah Suci. Avodah dipakai untuk pelayanan mereka, termasuk pekerjaan yang sangat konkret dan fisik.

Bayangkan seseorang sedang mengangkat perlengkapan Kemah Suci. Dari luar, ia hanya sedang carrying something. Tetapi Alkitab menyebutnya avodah.

Di sinilah kita menemukan prinsip yang sangat penting: sesuatu tidak harus terlihat spektakuler untuk menjadi sacred. 

Yang membuat pekerjaan itu memiliki makna bukan hanya jenis aktivitasnya, tetapi kepada siapa pekerjaan itu dipersembahkan dan untuk tujuan apa pekerjaan itu dilakukan.

Prinsip ini mengubah cara kita melihat pekerjaan sehari-hari. Sebagian besar kehidupan profesional kita tidak spektakuler. Kita membalas email, membuat laporan, menghadiri meeting, menyusun budget, memeriksa angka, menyelesaikan masalah pelanggan, mengatur jadwal, atau memastikan sistem berjalan dengan baik.

Tetapi avodah mengingatkan kita bahwa pekerjaan yang kelihatannya ordinary dapat memiliki sacred significance ketika dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita.

It is not the visibility of the task that makes it sacred, but the One to whom it is offered.

4. Avad with All Your Heart — Work Reveals Who We Serve

Akar kata avad juga muncul berulang kali dalam kitab Ulangan ketika Israel diperintahkan untuk melayani Tuhan. Salah satu teks yang sangat kuat adalah Ulangan 10:12.

Ulangan 10:12 “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”

Kata “beribadah/melayani” kembali berasal dari avad.

Perhatikan bahwa avad kepada Tuhan tidak dibatasi kepada sebuah aktivitas keagamaan. Tuhan meminta Israel melayani-Nya with all your heart and with all your soul. Artinya, pelayanan kepada Tuhan menuntut keseluruhan kehidupan.

Ini membawa avodah jauh melampaui pertanyaan mengenai profesi. Pertanyaannya bukan hanya “Apa pekerjaan saya? “tetapi “Apakah melalui pekerjaan ini hati saya tetap sepenuhnya milik Tuhan?”

Karena pada akhirnya pekerjaan kita akan mengungkap siapa yang sesungguhnya kita layani. Tekanan akan memperlihatkan nilai apa yang tidak mau kita kompromikan. Uang akan memperlihatkan apa yang paling kita hargai. Kekuasaan akan memperlihatkan bagaimana kita memandang orang lain. Kesuksesan akan memperlihatkan di mana kita menaruh identitas.

Karena itu, avodah bukan hanya tentang bringing God into our workAvodah adalah membawa seluruh pekerjaan kita di bawah lordship of God.

Your work does not compete with your worship when your work is surrendered to the One you worship.

5. Avad the Lord — Work Ultimately Has an Audience

Salah satu penggunaan avad yang sangat sederhana tetapi powerful terdapat dalam Mazmur.

Mazmur 100:2Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!”

Kata “beribadahlah/serve” adalah ivdu, bentuk dari akar avad.

Sekali lagi kita menemukan hubungan yang sama. Kata yang dapat menggambarkan manusia bekerja di taman sekarang digunakan untuk mengatakan: serve the LORD.

Ini memberi kita sebuah perspektif yang sangat praktis terhadap pekerjaan. Setiap pekerjaan memiliki audience. Kita bekerja di hadapan boss, client, customer, shareholders, colleagues, atau orang-orang yang kita pimpin. Tetapi bagi orang percaya, di balik semua audience tersebut ada ultimate Audience: TUHAN.

Itulah yang kemudian sejalan dengan prinsip yang dituliskan Paulus:

Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Ketika kita menyadari siapa ultimate Audience kita, cara kita bekerja berubah. Excellence tidak lagi tergantung apakah boss memperhatikan. Integritas tidak lagi tergantung apakah seseorang dapat mengetahui. Faithfulness tidak lagi tergantung apakah kita mendapatkan recognition.

Kita bekerja dengan baik karena pekerjaan kita dilakukan before God.

Inilah salah satu esensi terdalam dari avodah. Pekerjaan yang sebelumnya hanya horizontal—antara kita dan employer, customer, atau company—sekarang mendapatkan dimensi vertikal. Kita mengerjakannya di hadapan Tuhan.

When God becomes the ultimate Audience of our work, ordinary work can become an act of worship.

This Is Avodah

Setelah memahami avodah, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi, “Apa pekerjaan saya?” tetapi, “Bagaimana saya akan mengerjakannya secara berbeda?” Karena kalau pekerjaan benar-benar dapat menjadi bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan, maka iman seharusnya terlihat bukan hanya dari apa yang kita lakukan pada hari Minggu, tetapi dari cara kita menjalani hari Senin.

Besok ketika kita kembali bekerja, lihatlah kembali apa yang ada di tangan kita. Mungkin itu sebuah perusahaan, sebuah profesi, sebuah tim, sebuah posisi, sebuah kesempatan, atau bahkan pekerjaan yang saat ini terasa biasa. Jangan hanya melihatnya sebagai cara mendapatkan penghasilan atau membangun karier. Lihatlah sebagai sesuatu yang Tuhan percayakan untuk kita avad—untuk kita usahakan, kelola, kembangkan, dan kerjakan dengan baik.

Lalu tanyakan kepada diri kita: Siapa yang sesungguhnya saya layani melalui pekerjaan ini? Apakah uang, status, achievement, dan approval perlahan telah menjadi master yang mengendalikan hidup kita? Atau semua itu tetap berada pada tempatnya karena Tuhanlah yang menjadi pusat dan tujuan akhir kehidupan kita?

Dan ketika tidak ada yang memperhatikan, tetaplah bekerja dengan baik. Ketika ada kesempatan mengambil jalan pintas, pilihlah integritas. Ketika Tuhan mempercayakan orang kepada kita, perlakukan mereka dengan dignity. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menciptakan sesuatu, buatlah sesuatu yang membawa value. Ketika keberhasilan datang, jangan biarkan keberhasilan mengambil tempat Tuhan.

Jangan menunggu sampai berada di gereja untuk menyembah Tuhan. Bawalah worship itu ke dalam cara kita bekerja.Biarkan meja kerja, ruang meeting, toko, sekolah, rumah sakit, workshop, dan perusahaan menjadi tempat di mana iman kita menjadi nyata.

Work becomes worship when our everyday work is done before God and for God.

Maka besok pagi, ketika kita mulai bekerja, mulailah dengan kesadaran yang baru: “What I do today, I will do before God and for God.” Kerjakan apa yang Tuhan percayakan dengan sebaik-baiknya. Layani orang melalui apa yang kita kerjakan. Dan persembahkan hasilnya kembali kepada Tuhan.

Work faithfully. Serve people. Worship God.

This is Avodah.

Tinggalkan komentar