“A good life is not simply a life that feels good, but a life that aligns with God’s design.”
Kita semua ingin memiliki kehidupan yang baik. Kita ingin keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, kesehatan yang baik, dan masa depan yang baik. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa sebenarnya yang dimaksud Alkitab dengan “baik”?
Dalam kisah penciptaan, ada sebuah kata yang terus muncul: tov.
Kejadian 1:31 (TB)
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
Kata “baik” berasal dari bahasa Ibrani tov (טוֹב). Secara sederhana tov berarti good—baik. Namun dalam kisah penciptaan, tov lebih dari sekadar sesuatu yang menyenangkan atau membuat kita merasa nyaman.
Ketika Allah menyebut ciptaan-Nya tov, Ia melihat bahwa apa yang diciptakan-Nya sesuai dengan kehendak dan maksud-Nya. Terang berada pada tempatnya. Laut memiliki batasnya. Tanah menghasilkan tumbuh-tumbuhan. Matahari dan bulan menjalankan fungsinya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan menerima mandat dari-Nya.
Semuanya berjalan sebagaimana Sang Pencipta merancangnya.
Inilah yang memberikan kepada kita perspektif yang berbeda tentang a good life. Dunia sering mendefinisikan kehidupan yang baik berdasarkan apa yang kita rasakan atau miliki: hidup nyaman, berhasil, sehat, memiliki cukup uang, dan dapat melakukan apa yang kita inginkan.
Semua itu tentu dapat menjadi hal yang baik. Tetapi Alkitab membawa kita lebih dalam.
A good life is not simply a life that feels good, but a life that aligns with God’s design.
Karena itu, untuk memahami seperti apa kehidupan yang tov, kita perlu kembali kepada desain awal Allah.
1. Tov Means Living With Purpose
Ketika Allah menyebut ciptaan-Nya tov, segala sesuatu yang diciptakan-Nya memiliki tujuan dan menjalankan fungsi yang diberikan kepadanya.
Terang menerangi. Tanah menghasilkan. Tumbuhan berbuah. Matahari dan bulan mengatur waktu. Tidak ada bagian dari ciptaan yang hadir tanpa maksud.
Demikian juga manusia.
Kejadian 1:27–28 (TB) mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Kemudian Allah memberkati mereka dan memberikan mandat untuk beranak cucu, memenuhi bumi, menaklukkannya, dan berkuasa atas ciptaan.
Dengan kata lain, sebelum manusia menentukan apa yang ingin dilakukan dengan kehidupannya, Allah sudah memberikan purpose kepada kehidupannya.
Di sinilah tov menantang cara kita memandang hidup.
Kita sering bertanya, “Apa yang ingin saya lakukan dengan hidup saya?” Tetapi perspektif Alkitab membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar:
“Untuk apa Tuhan memberikan kehidupan ini kepada saya?”
Pertanyaan itu mengubah cara kita melihat segala sesuatu.
Pekerjaan bukan hanya tempat mencari penghasilan, tetapi tempat menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai. Keluarga bukan sekadar sumber kebahagiaan, tetapi orang-orang yang Tuhan percayakan untuk kita kasihi dan bangun. Uang bukan sekadar sesuatu untuk dinikmati, tetapi sumber daya yang dipercayakan untuk dikelola. Pengaruh bukan sekadar kesempatan untuk dikenal, tetapi kesempatan untuk membawa kebaikan kepada orang lain.
Tov berarti apa yang Tuhan berikan kepada kita digunakan sesuai dengan tujuan untuk apa Ia memberikannya.
A life without purpose asks, “What do I want from life?”
A life with purpose asks, “What does God want to do through my life?”
Hidup yang tov bukan sekadar hidup yang penuh pencapaian. Hidup yang tov adalah hidup yang memenuhi tujuan Allah.
Pada akhirnya, purpose kehidupan tidak berhenti pada apa yang dapat kita capai atau bahkan kontribusi apa yang dapat kita berikan kepada dunia. Tujuan tertinggi kehidupan adalah kembali kepada Dia yang memberikan kehidupan itu sendiri.
Roma 11:36 (TB)
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
Perhatikan tiga arah kehidupan yang Paulus gambarkan: dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.
Dari Dia — hidup kita berasal dari Tuhan. Kita bukan pencipta kehidupan kita sendiri. Kehidupan, kemampuan, kesempatan, sumber daya, dan segala sesuatu yang kita miliki pada akhirnya adalah pemberian-Nya.
Oleh Dia — kita menjalani kehidupan dengan kekuatan, hikmat, dan anugerah yang berasal dari-Nya. Kita tidak hanya membutuhkan Tuhan untuk memulai perjalanan; kita membutuhkan-Nya untuk menjalani seluruh perjalanan.
Kepada Dia — pada akhirnya kehidupan kita diarahkan kembali kepada Tuhan. Keberhasilan, pekerjaan, keluarga, kemampuan, pengaruh, dan semua yang kita bangun seharusnya membawa kemuliaan kepada-Nya.
Di sinilah tov menemukan kedalaman maknanya. Hidup yang baik bukan hanya hidup yang berhasil memenuhi tujuan kita, tetapi hidup yang memenuhi tujuan Sang Pencipta.
Kita tidak menciptakan purpose kita sendiri; kita menerima purpose dari Dia yang menciptakan kita.
Banyak orang membangun purpose hidupnya dari keinginan untuk memberikan kontribusi dan meninggalkan dampak bagi dunia. Mereka ingin membangun sesuatu yang berarti, menolong banyak orang, menciptakan perubahan, meninggalkan warisan, atau membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Semua itu tentu baik. Bahkan kehidupan yang hanya berpusat pada diri sendiri memang terlalu kecil untuk menjadi sebuah purpose.
Namun Alkitab membawa kita satu langkah lebih jauh. Purpose sejati tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang kita berikan kepada dunia, tetapi sampai kepada pertanyaan untuk siapa kita menjalani semuanya itu. Sebab kita dapat melakukan sesuatu yang berarti, memberi dampak kepada banyak orang, bahkan meninggalkan legacy yang besar, tetapi tetap menjadikan diri kita sebagai pusat dari semuanya.
Roma 11:36 mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah “dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.” Artinya, kehidupan bukan hanya berasal dari Tuhan; pada akhirnya kehidupan juga harus kembali kepada Tuhan. Apa yang kita bangun, siapa yang kita pengaruhi, kontribusi yang kita berikan, dan keberhasilan yang kita capai menemukan tujuan tertingginya ketika semuanya membawa kemuliaan kepada Dia yang memberikan kehidupan itu.
Karena itu, pertanyaan akhirnya bukan hanya, “Apakah saya sudah melakukan sesuatu yang berarti dengan hidup saya?”tetapi “Apakah melalui cara saya menjalani hidup ini, Tuhan semakin dimuliakan?”
Impact is not the ultimate purpose of our lives. God’s glory is.
Kita memberikan dampak kepada dunia, tetapi kita hidup untuk kemuliaan Tuhan.
Inilah hidup yang tov: a life received from God, lived with God, and ultimately lived for God.
2. Tov Means Living in the Right Order
Tov juga terlihat dari keteraturan ciptaan Allah.
Kejadian 1 dimulai dengan bumi yang belum berbentuk dan kosong. Kemudian Allah mulai menata. Ia memisahkan terang dari gelap, air dari air, laut dari daratan. Ia menetapkan batas, memberikan tempat, dan menentukan fungsi. Setelah itu Allah memenuhi ruang-ruang tersebut dengan kehidupan.
Allah bukan hanya menciptakan sesuatu yang baik. Allah menempatkan setiap bagian ciptaan pada tempatnya.
Ada tempat untuk laut dan ada tempat untuk daratan. Ada waktu untuk terang dan ada waktu untuk gelap. Tumbuhan menghasilkan sesuai jenisnya. Matahari, bulan, dan bintang menjalankan fungsinya. Semuanya memiliki tempat, batas, dan fungsi dalam desain Allah.
Karena itu, tov bukan hanya berbicara tentang memiliki hal-hal yang baik. Tov juga berbicara tentang menempatkan hal-hal yang baik pada tempat yang benar, dalam batas yang benar, dan dengan proporsi yang benar.
Banyak kekacauan dalam kehidupan sebenarnya bukan terjadi karena kita memilih sesuatu yang sepenuhnya salah. Kadang-kadang masalah muncul ketika sesuatu yang baik mengambil tempat yang tidak seharusnya.
Pekerjaan adalah baik. Kita dipanggil untuk bekerja, berkarya, dan menghasilkan sesuatu yang bernilai. Tetapi ketika pekerjaan terus-menerus mengambil tempat keluarga, sesuatu mulai keluar dari desain.
Uang adalah baik dan berguna. Kita membutuhkannya dan dipercayakan untuk mengelolanya. Tetapi ketika uang menjadi sumber identitas, keamanan, atau ukuran utama keberhasilan, sesuatu telah bergeser.
Ambisi dapat menjadi sesuatu yang baik. Keinginan untuk bertumbuh, maju, dan menghasilkan yang terbaik dapat mendorong kita berkembang. Tetapi ketika keberhasilan menjadi lebih penting daripada integritas, ambisi telah keluar dari tempatnya.
Istirahat juga baik. Tuhan sendiri menetapkan ritme bekerja dan beristirahat. Tetapi ketika keinginan untuk nyaman membuat kita menghindari tanggung jawab, sesuatu yang baik telah kehilangan proporsinya.
Bahkan pelayanan adalah sesuatu yang baik. Tetapi pelayanan tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan hubungan pribadi kita dengan Tuhan atau menjadi alasan untuk mengabaikan keluarga dan bagian kehidupan lain yang Tuhan percayakan kepada kita.
Something can be good and still become destructive when it takes the wrong place in our lives.
Karena itu, right order pertama-tama memang dimulai dengan menempatkan Tuhan pada tempat yang seharusnya.
Yesus berkata: Matius 6:33 (TB)
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Perhatikan kata dahulu.
Yesus sedang berbicara tentang order. Tuhan bukan sekadar salah satu bagian dari kehidupan yang harus kita masukkan ke dalam jadwal. Dia adalah pusat yang menentukan bagaimana seluruh bagian kehidupan lainnya seharusnya ditata.
Namun right order tidak berhenti pada mengatakan, “Tuhan nomor satu.” Ketika Tuhan berada pada tempat yang benar, kita juga mengizinkan Dia menentukan tempat yang benar bagi segala sesuatu yang lain.
When God is in His rightful place, everything else can find its proper place.
Menempatkan Tuhan terutama bukan sekadar membuat urutan: Tuhan nomor satu, keluarga nomor dua, pekerjaan nomor tiga, dan seterusnya. Tuhan bukan hanya yang pertama dalam daftar; Dia adalah pusat yang menentukan bagaimana seluruh bagian kehidupan kita seharusnya ditata. Ketika Tuhan menjadi pusat, kita mulai melihat pekerjaan, keluarga, uang, ambisi, pelayanan, bahkan diri kita sendiri dari perspektif-Nya. Pekerjaan tetap penting, tetapi tidak menjadi identitas kita. Uang tetap diperlukan, tetapi tidak menjadi sumber keamanan kita. Ambisi tetap dapat mendorong kita maju, tetapi tidak boleh mengalahkan integritas. Pelayanan tetap penting, tetapi tidak boleh membuat kita mengabaikan keluarga. Ketika Tuhan berada pada tempat yang benar, kita dapat menempatkan segala sesuatu yang lain pada tempat yang benar.
Right order bukan berarti kehidupan harus dibagi dalam urutan yang kaku—Tuhan nomor satu, keluarga nomor dua, pekerjaan nomor tiga—atau setiap bagian harus selalu mendapatkan porsi waktu yang sama. Right order berbicara tentang setiap bagian kehidupan berada pada tempatnya dan tidak mengambil tempat yang bukan miliknya.Pekerjaan boleh mendapatkan perhatian lebih besar dalam musim tertentu, tetapi tidak boleh menjadi identitas kita atau terus-menerus mengorbankan keluarga. Uang boleh menjadi penting, tetapi tidak boleh menjadi sumber keamanan kita. Keluarga sangat berharga, tetapi bahkan keluarga tidak boleh menggantikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
The issue is not equal time, but proper place.
Di sinilah kita membutuhkan hikmat. Kita perlu mengetahui kapan harus bekerja lebih keras dan kapan harus berhenti. Kapan harus mengejar sebuah kesempatan dan kapan harus berkata cukup. Kapan harus memberikan lebih banyak waktu kepada pekerjaan dan kapan keluarga membutuhkan kehadiran kita. Kapan harus memimpin dan kapan harus melepaskan. Kapan harus berlari dan kapan harus beristirahat.
Hidup yang tov berarti terus mengizinkan Tuhan menata kembali kehidupan kita.
Karena itu, pertanyaan kita bukan hanya: “Apakah Tuhan masih menjadi yang terutama dalam hidup saya?” Tetapi juga: “Apakah setiap bagian kehidupan saya berada pada tempat yang seharusnya?” Apakah pekerjaan berada pada tempatnya? Apakah uang berada pada tempatnya? Apakah ambisi berada pada tempatnya? Apakah keluarga mendapatkan perhatian yang seharusnya? Apakah ada ruang untuk beristirahat? Apakah relasi, kesehatan, pertumbuhan pribadi, dan pelayanan mendapatkan tempat yang tepat?
Sebab sesuatu tidak harus jahat untuk merusak kehidupan kita. Sesuatu yang baik pun dapat merusak ketika kita memberikannya tempat yang salah.
Tov is not only having the right things; it is having the right things in the right place, proportion, and order.
Hidup menurut desain Allah berarti membiarkan Sang Pencipta menentukan bukan hanya apa yang baik, tetapi juga di mana setiap hal yang baik itu seharusnya berada dalam kehidupan kita.
3. Tov Means Living in Right Relationships
Salah satu penggunaan kata tov yang paling menarik justru muncul ketika Allah mengatakan sesuatu “tidak baik.”
Kejadian 2:18 (TB) “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”
Bahasa Ibraninya adalah lo tov — “not good.”
Ini sangat menarik karena sampai titik ini hampir semuanya disebut tov. Tetapi tiba-tiba Allah melihat Adam dan berkata, “lo tov.”
Yang lebih menarik lagi, Adam tidak sedang melakukan dosa. Ia berada di taman yang sempurna. Ia memiliki tempat tinggal. Ia memiliki pekerjaan. Ia memiliki hubungan dengan Allah. Tidak ada dosa, penyakit, konflik, atau masalah ekonomi. Namun Allah berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” Mengapa? Karena meskipun Adam hidup dalam lingkungan yang sempurna, ada bagian dari desain Allah yang belum terpenuhi.
Manusia diciptakan menurut gambar Allah untuk hidup dalam relasi. Kita tidak dirancang untuk menjalani kehidupan sendirian. Ini memperlihatkan dimensi lain dari tov: sesuatu dapat terlihat berhasil secara individual tetapi belum tentu sesuai dengan desain Allah secara relasional. Dunia modern sangat mudah membuat kita mengukur good life berdasarkan pencapaian pribadi: karier, kekayaan, posisi, prestasi, atau pengaruh. Tetapi Alkitab mengingatkan bahwa kita dapat memenangkan banyak hal sekaligus kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
- Apa artinya berhasil dalam pekerjaan tetapi kehilangan kedekatan dengan pasangan?
- Apa artinya membangun bisnis besar tetapi anak-anak tidak lagi memiliki hubungan yang dekat dengan kita?
- Apa artinya dikenal banyak orang tetapi tidak memiliki seorang pun yang benar-benar mengenal kehidupan kita?
Allah tidak merancang manusia hanya untuk achieve. Allah juga merancang kita untuk love, belong, serve, and build together. Karena itu, hidup yang tov berarti sengaja merawat hubungan dengan Tuhan dan dengan orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sometimes the clearest evidence of a good life is not what we have achieved, but the relationships we have faithfully nurtured along the way.
LIVE THE DESIGN
Pada akhirnya, tov bukan hanya sebuah konsep untuk kita pahami, tetapi sebuah kehidupan untuk kita jalani. Pertanyaannya bukan sekadar apakah kita setuju dengan desain Allah, tetapi apakah cara kita hidup hari ini benar-benar selaras dengan desain itu. Sebab sangat mungkin kita percaya kepada Tuhan, tetapi tetap membangun kehidupan berdasarkan definisi kita sendiri tentang apa yang baik.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihat kembali kehidupan yang sedang kita bangun. Apakah saya sedang menjalani tujuan Tuhan, atau hanya mengejar ambisi saya sendiri? Apakah ada sesuatu yang baik yang sudah mengambil tempat yang terlalu besar dalam hidup saya? Apakah saya sedang merawat hubungan-hubungan yang Tuhan percayakan kepada saya? Jangan hanya bertanya apakah hidup sedang berjalan dengan baik. Tanyakan apakah hidup sedang berjalan sesuai dengan desain Allah.
Mungkin ada bagian kehidupan yang perlu ditata kembali. Ada prioritas yang perlu dikoreksi, kebiasaan yang perlu diubah, hubungan yang perlu dirawat kembali, atau keputusan yang selama ini kita tahu harus dibuat tetapi terus kita tunda. Tov mengajak kita bukan sekadar mengagumi desain Allah, tetapi kembali hidup di dalamnya.
Kita tidak harus memperbaiki semuanya sekaligus. Tetapi kita dapat mulai dengan satu pertanyaan sederhana:
“Tuhan, bagian mana dari hidupku yang belum selaras dengan desain-Mu?”
Lalu ketika Tuhan menunjukkannya, ambil satu langkah untuk kembali kepada desain-Nya. Sebab kehidupan yang baik tidak dibangun hanya dengan mengetahui apa yang benar, tetapi dengan terus memilih untuk menyelaraskan hidup kita dengan apa yang Tuhan katakan baik.
Don’t just build the life you want. Build the life God designed.
A good life is not simply a life that feels good, but a life that aligns with God’s design.