RENDAH HATI, BUKAN RENDAH DIRI

Kadang-kadang kita salah memahami kerendahan hati. Kita berpikir bahwa supaya rendah hati, kita harus mengecilkan diri. Ketika dipuji, kita buru-buru berkata, “Ah, saya tidak sebaik itu.” Ketika mendapat kesempatan, kita mundur karena merasa orang lain lebih pantas. Ketika sebenarnya mempunyai kemampuan, kita takut mengakuinya karena khawatir dianggap sombong.

Padahal Tuhan memanggil kita untuk rendah hati, bukan rendah diri.

Rendah diri berkata, “Saya tidak cukup.” Saya tidak cukup mampu. Saya tidak cukup baik. Orang lain lebih pantas. Karena itu, rendah diri membuat kita meragukan apa yang sebenarnya Tuhan sudah taruh dalam diri kita. Kita mengecilkan kemampuan, mundur dari kesempatan, dan kadang tidak berani melakukan sesuatu yang sebenarnya Tuhan sudah mampukan kita untuk lakukan.

Rendah hati berkata, “Saya tahu siapa saya dan saya tahu apa yang Tuhan taruh dalam diri saya.” Kita tahu kekuatan kita dan berani menggunakannya. Kita juga tahu kelemahan kita dan tidak malu mengakuinya. Kita dapat berkata, “Saya mampu melakukan ini,” tanpa merasa lebih hebat, dan “Saya masih perlu belajar dalam hal ini,” tanpa merasa lebih rendah. Kita tidak perlu berpura-pura kecil untuk menjadi rendah hati.

Roma 12:3 “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri…”

Perhatikan bahwa Paulus mengajarkan kita untuk mempunyai penilaian yang sehat tentang diri sendiri. Lihatlah diri kita dengan jujur. Jangan melebih-lebihkan kemampuan, tetapi jangan pula menyangkalnya. Akui kekuatan kita, tetapi tetap sadari keterbatasan kita. Terima keberhasilan tanpa merasa lebih hebat dan hadapi kegagalan tanpa merasa diri tidak berharga.

Kerendahan hati bukan mengecilkan diri. Kerendahan hati adalah menempatkan diri dengan benar.

Humble and Confident

Kalau rendah hati bukan berarti mengecilkan diri, maka kita tidak perlu memilih antara humility dan confidence. Kita dapat memiliki keduanya. Kita dapat mengetahui kemampuan kita tanpa merasa lebih hebat, berani mengambil tanggung jawab tanpa merasa lebih penting, dan berjalan dengan yakin tanpa harus membuktikan diri kepada orang lain.

Confidence membuat kita tidak perlu mengecilkan diri; humility membuat kita tidak perlu membesarkan diri.

Keduanya dapat tumbuh dari akar yang sama: identitas yang sehat dan aman di dalam Tuhan. Kita tahu siapa diri kita, mengenali apa yang Tuhan taruh dalam diri kita, dan berani menggunakannya. Pada saat yang sama, kita sadar bahwa kemampuan, kesempatan, dan pencapaian kita adalah anugerah yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Yesus adalah contoh terbaik.

Yesus berkata bahwa Ia “lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:29). Namun dalam seluruh kehidupan-Nya kita juga melihat pribadi yang sangat secure. Ia tahu siapa diri-Nya dan untuk apa Ia datang. Ia berani berbicara, mengambil keputusan, menghadapi kritik dan penolakan, serta tetap teguh ketika orang lain tidak memahami-Nya. Kerendahan hati-Nya tidak mengurangi keberanian-Nya; keyakinan-Nya tidak mengurangi kerendahan hati-Nya.

Salah satu gambaran terindah terlihat dalam Yohanes 13. Sebelum Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Yohanes menuliskan:

Yohanes 13:3 “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.”

Perhatikan kata “tahu.” Yesus tahu siapa diri-Nya. Ia tahu dari mana Ia datang, ke mana Ia pergi, dan apa yang Bapa percayakan kepada-Nya. Dari rasa aman tentang siapa diri-Nya, Yesus dapat merendahkan diri untuk melayani orang lain.

Jesus knew who He was—and then He served.

Ia tidak harus selalu berada di posisi yang terlihat penting untuk mengetahui bahwa diri-Nya penting. Ia tidak membutuhkan credit untuk mengetahui nilai-Nya. Ia dapat mengambil kain, berlutut, dan membasuh kaki murid-murid-Nya karena posisi seorang pelayan tidak mengurangi siapa diri-Nya.

Inilah salah satu rahasia kerendahan hati yang sehat: the more secure we are, the less we need to prove ourselves.Ketika kita tahu siapa diri kita, kita tidak harus selalu menjadi pusat perhatian, tidak harus selalu mendapatkan credit, dan tidak merasa terancam ketika orang lain berhasil. Kita dapat melayani, memberi ruang kepada orang lain, bahkan mengambil posisi yang tidak terlihat karena nilai diri kita tidak bergantung pada posisi kita.

When you know who you are, you don’t have to prove who you are.

Paulus memberikan gambaran lain tentang bagaimana confidence dan humility dapat hidup bersama:

1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Paulus dapat berkata dengan yakin, “Aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” Ia tidak menyangkal siapa dirinya, apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidupnya, atau apa yang sudah ia capai. Bahkan ia berani berkata, “Aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua.” Tetapi dalam kalimat yang sama ia berkata, “karena kasih karunia Allah” dan “bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Inilah keseimbangannya. Confidence membuat Paulus dapat mengakui dengan jujur siapa dirinya dan apa yang sudah ia kerjakan. Humility membuatnya tidak pernah lupa dari mana semuanya berasal.

Ketika kita aman dengan siapa diri kita, kita dapat tampil tanpa harus menonjolkan diri, berprestasi tanpa harus membuktikan diri, dan menjadi kuat tanpa harus membuat orang lain terlihat kecil.

CONFIDENCE IS NOT JUST SOMETHING YOU FEEL. IT IS SOMETHING YOU BUILD.

Confidence yang sehat tidak dibangun dengan terus-menerus mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita hebat. Ada bagian dari confidence yang lahir karena kita sungguh-sungguh membangun diri. Ketika karakter kita semakin matang, kemampuan kita semakin berkembang, dan isi diri kita semakin kaya, kita tidak perlu berusaha terlihat percaya diri. Kita memiliki fondasi yang membuat kita dapat berdiri dengan tenang.

Menjadi pribadi yang humble and confident karena itu bukan hanya soal bagaimana kita berpikir tentang diri sendiri, tetapi juga tentang siapa yang sedang kita bangun di dalam diri kita. Kerendahan hati menjaga kita agar tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain, sementara pertumbuhan membuat kita tidak perlu merasa lebih rendah daripada orang lain.

Kita tidak perlu mengecilkan diri untuk tetap rendah hati. Sebaliknya, kita perlu terus bertumbuh dan mengembangkan apa yang Tuhan sudah percayakan kepada kita—bukan untuk membuktikan bahwa kita lebih baik daripada orang lain, tetapi supaya kita menjadi pribadi yang semakin matang, mampu, dan bernilai.

Ada tiga fondasi yang perlu terus kita bangun untuk menjadi pribadi yang humble and confident: Character, Competence, dan Content.

CHARACTER — Who You Are

Character adalah kualitas di dalam diri yang menentukan bagaimana kita berpikir, mengambil keputusan, bertindak, dan memperlakukan orang lain. Ia terlihat dalam integritas, kerendahan hati, kesetiaan, disiplin, pengendalian diri, dan keberanian untuk melakukan apa yang benar—bahkan ketika tidak ada yang melihat atau menghargainya.

“Talent is a gift, but character is a choice.” – John C. Maxwell

Character penting karena kemampuan dan kesempatan dapat membawa kita semakin jauh, tetapi karakter menentukan apakah kita mampu membawa keberhasilan itu dengan benar. Semakin besar tanggung jawab, pengaruh, dan kesempatan yang kita miliki, semakin kuat karakter yang dibutuhkan untuk menopangnya. Karena itu, jangan hanya membangun apa yang dapat kita lakukan; bangunlah juga siapa diri kita sedang menjadi.

Your gifts may open doors, but your character determines who you become when those doors open.

COMPETENCE — What You Can Do

Competence adalah kemampuan untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan baik. Ia dibangun melalui pengetahuan, keterampilan, pengalaman, latihan, dan kemauan untuk terus belajar. Competence bukan berarti kita harus mampu melakukan segala sesuatu, tetapi kita terus menjadi lebih baik dalam bidang yang menjadi tanggung jawab dan panggilan kita.

Competence penting karena confidence tanpa kemampuan mudah menjadi sekadar keberanian tanpa dasar. Semakin kita belajar, berlatih, mempersiapkan diri, dan menguasai apa yang kita kerjakan, semakin kita dapat berdiri dengan tenang tanpa harus berpura-pura mampu. Karena itu, kerendahan hati bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru orang yang rendah hati cukup secure untuk berkata, “Saya belum tahu,” lalu belajar; “Saya belum bisa,” lalu berlatih.

“Your attitude cannot substitute for competence.” – John C. Maxwell

CONTENT — What You Carry

Content adalah kekayaan pengetahuan, wawasan, pengalaman, nilai, dan wisdom yang memberi kedalaman pada cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan memberikan kontribusi kepada orang lain. Content tidak terbentuk dalam semalam, tetapi dibangun sepanjang kehidupan melalui membaca, belajar, mendengarkan, mengalami, dan merefleksikan kehidupan. Semakin kaya apa yang kita bangun di dalam diri, semakin bernilai pula apa yang dapat kita bawa dan berikan kepada orang lain.

Content penting karena kita tidak dapat terus-menerus memberikan sesuatu yang tidak kita miliki. Platform dapat memberikan kesempatan untuk berbicara, tetapi content menentukan apakah kita mempunyai sesuatu yang bernilai untuk disampaikan. Karena itu, teruslah mengisi diri: membaca, belajar, mendengarkan, mengalami, merefleksikan kehidupan, dan terutama membangun kehidupan yang berakar dalam firman Tuhan. Jangan hanya memperluas platformperdalamlah apa yang kita bawa ke dalamnya.

“You can’t give away what you don’t have.” – Dallas Willard

HUMBLE BUT CONFIDENT IN EVERYDAY LIFE

Rendah hati dan percaya diri bukan hanya konsep yang kita pahami, tetapi sikap yang harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa terdengar sangat rendah hati ketika berbicara, tetapi sebenarnya sedang merasa rendah diri. Sebaliknya, kita bisa terlihat percaya diri, tetapi tanpa sadar menjadi arogan.

True humility is not thinking less of yourself. It is seeing yourself rightly.

Kita tidak perlu membesarkan diri, tetapi juga tidak perlu mengecilkan diri. Kita belajar melihat diri dengan jujur—mengenali kekuatan tanpa menjadi sombong, mengakui kelemahan tanpa merasa tidak berharga, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang Tuhan percayakan untuk kita menjadi.

Berikut tujuh praktik sederhana untuk hidup dengan humility and confidence.

1. KNOW YOUR STRENGTHS — Kenali Kekuatan Anda

Rendah hati bukan berarti menutup-nutupi kemampuan atau mengecilkan diri supaya tidak dianggap sombong. Kenali apa yang Tuhan taruh dalam diri Anda. Ketahui talenta, kemampuan, pengalaman, dan kekuatan yang Anda miliki, lalu kembangkan dan gunakan semuanya dengan baik.

Paulus berkata, “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” (1 Korintus 15:10). Ia mengenali siapa dirinya dan apa yang dapat ia lakukan, tetapi ia juga menyadari dari mana semuanya berasal.

Karena itu, jangan “malu” mengambil peran yang memang sesuai dengan talenta dan kemampuan Anda. Tidak perlu menyembunyikan kemampuan hanya karena sungkan, takut terlihat menonjol, atau merasa orang lain lebih layak.

Gunakan kemampuan Anda bukan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi untuk memberikan kontribusi terbaik melalui apa yang Tuhan percayakan kepada Anda.

Humility doesn’t hide your strengths; it uses them without needing to prove anything.

“Humility is not denying your strengths; it’s being honest about your weaknesses.” — Rick Warren

2. RECEIVE COMPLIMENTS — Belajar Menerima Pujian

Rendah hati bukan berarti menolak atau mengecilkan apresiasi yang diberikan orang lain. Ketika seseorang memuji pekerjaan, kemampuan, atau kontribusi kita, tidak perlu buru-buru menyangkalnya supaya terlihat rendah hati. Kadang-kadang kita mengira bahwa menyangkal pujian adalah bentuk kerendahan hati, atau takut menerima pujian akan membuat kita menjadi tinggi hati. Padahal, orang yang rendah hati dapat menerima apresiasi tanpa menjadi sombong.

Belajarlah menerimanya dengan sederhana. Misalnya:

“Terima kasih, saya menghargainya.”
“Terima kasih. Saya bersyukur bisa memberikan yang terbaik.”
“Terima kasih. Saya juga banyak dibantu oleh tim yang luar biasa.”
“Terima kasih. Saya bersyukur Tuhan memberi kesempatan untuk melakukannya.”

Tidak perlu selalu menjawab, “Ah, tidak kok, saya biasa saja,” atau mengecilkan apa yang sudah kita kerjakan. Memberikan kredit kepada Tuhan atau kepada orang lain tidak mengharuskan kita menyangkal kontribusi kita sendiri.

Yang perlu dijaga bukan apakah kita menerima apresiasi, tetapi apakah kita membutuhkannya untuk merasa berharga. Kita dapat bersyukur ketika dihargai tanpa menggantungkan harga diri pada pujian orang lain.

3. SPEAK UP — Berani Menyuarakan Pendapat

Rendah hati bukan berarti selalu diam. Ada orang yang sebenarnya mempunyai ide yang baik, melihat sesuatu yang perlu diperbaiki, atau memiliki perspektif yang dapat memberikan kontribusi, tetapi memilih diam karena takut salah, takut dinilai, atau merasa pendapat orang lain pasti lebih baik.

Orang yang rendah hati tidak merasa perlu mendominasi percakapan, tetapi juga tidak takut menyuarakan pendapat. Ia tidak harus menjadi orang yang paling banyak bicara atau selalu membuat pendapatnya diterima. Ia dapat mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menghargai pandangan orang lain, sekaligus menyampaikan apa yang ia pikirkan dengan jelas.

Di sinilah humility dan confidence berjalan bersama. Humility membuat kita bersedia mendengarkan; confidence membuat kita berani berbicara. Kita dapat berkata, “Saya mungkin tidak melihat semuanya, tetapi dari perspektif saya…” atau, “Saya mempunyai pandangan yang sedikit berbeda, boleh saya sampaikan?”

Kita tidak harus merasa paling benar untuk berani memberikan pendapat. Sebaliknya, kita juga cukup secure untuk mendengarkan dan mengubah pendapat kita.

Orang yang secure tidak perlu mendominasi percakapan, tetapi juga tidak takut menyuarakan pendapat.

4. TAKE YOUR PLACE — Berani Mengambil Kesempatan

Rendah hati bukan berarti selalu berada di belakang atau membiarkan kesempatan berlalu. Ketika ada kesempatan yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan kapasitas kita, jangan takut mengambilnya hanya karena khawatir dianggap ambisius atau terlalu percaya diri.

Take your place. Beranilah berkata, “Saya bisa melakukannya.” Ambil tanggung jawab yang memang mampu kita kerjakan, gunakan kemampuan yang kita miliki, dan berikan yang terbaik.

Dalam pekerjaan, mungkin ada posisi baru yang sesuai dengan pengalaman Anda—tidak salah untuk mengajukan diri. Dalam sebuah meeting, ketika dibutuhkan seseorang untuk memimpin sebuah project dan Anda tahu Anda mampu, tidak perlu selalu menunggu orang lain menunjuk Anda. Dalam pelayanan, ketika ada kebutuhan yang sesuai dengan talenta Anda, jangan selalu berkata, “Ah, biar orang lain saja,” hanya karena sungkan atau takut dianggap ingin menonjol. Ada waktunya kita menunggu, tetapi ada waktunya kita perlu melangkah maju.

Tentu kita tidak harus mengambil setiap kesempatan. Kerendahan hati membuat kita tahu batas kemampuan kita, tetapi kepercayaan diri membuat kita tidak mundur dari kesempatan yang memang sesuai dengan kemampuan kita.

Humility knows what you can do. Confidence gives you the courage to step into it.

5. SET BOUNDARIES — Berani Menetapkan Batas

Rendah hati bukan berarti selalu harus menyenangkan semua orang, memenuhi semua permintaan, atau membiarkan orang lain memperlakukan kita sesuka mereka agar dianggap baik. Humility menghargai orang lain, tetapi confidence membuat kita juga menghargai diri sendiri.

Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya lebih penting daripada orang lain. Tetapi orang yang percaya diri juga tidak merasa dirinya kurang penting daripada orang lain. Karena itu, kita dapat menghormati kebutuhan orang lain tanpa selalu mengorbankan batas, nilai, waktu, dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita.

Yesus mengasihi semua orang, tetapi Ia tidak memenuhi semua tuntutan orang. Ada saat Ia melayani orang banyak, ada saat Ia menarik diri. Ada saat Ia berkata yes, tetapi ada juga saat Ia memilih untuk pergi dan melakukan apa yang menjadi panggilan-Nya.

Batas yang sehat dapat terlihat dalam hal-hal sederhana: berani menolak tanggung jawab tambahan ketika kapasitas kita sudah penuh; mengatakan bahwa kita tidak nyaman dengan cara seseorang memperlakukan kita; tidak merasa harus selalu tersedia setiap saat; menjaga waktu untuk keluarga dan istirahat; atau berkata tidak terhadap sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan prioritas kita.

Kita dapat berkata dengan baik, “Terima kasih sudah memikirkan saya, tetapi kali ini saya tidak bisa,” atau, “Saya menghargai hubungan kita, tetapi saya tidak nyaman diperlakukan seperti itu.” Tegas tidak harus kasar, dan baik hati tidak berarti tanpa batas.

Dalam pelayanan pun kita membutuhkan batas yang sehat. Kita tidak harus menerima setiap tanggung jawab hanya karena diminta, selalu tersedia setiap saat hanya karena kita melayani, atau terus melakukan sesuatu ketika kapasitas kita sudah penuh. Kita dapat berkata, “Saat ini saya belum bisa mengambil tanggung jawab itu,” menjaga waktu untuk keluarga dan istirahat, atau meminta orang lain ikut mengambil bagian daripada mengerjakan semuanya sendiri.

Bahkan ketika memimpin, kita dapat mendengarkan kritik dan masukan dengan rendah hati tanpa merasa harus memenuhi setiap keinginan orang. Melayani orang lain bukan berarti hidup kita harus dikendalikan oleh ekspektasi orang lain.

Humility respects others. Confidence respects healthy boundaries.

Menetapkan batas bukan berarti kita merasa lebih penting daripada orang lain. Itu berarti kita tidak merasa kurang penting daripada orang lain.

6. STOP COMPARING — Berhenti Membandingkan Diri

Membandingkan diri dengan orang lain dapat membawa kita ke dua ekstrem: merasa superior ketika kita lebih baik, atau merasa inferior ketika orang lain lebih baik. Humility and confidence membebaskan kita dari keduanya.

Humility berkata, “Saya tidak harus lebih baik daripada orang lain untuk menjadi berarti.” Kita dapat melihat orang lain lebih berhasil, lebih berbakat, atau lebih berpengalaman dan dengan tulus mengakui, “Dia memang lebih baik daripada saya dalam hal ini.” Kita dapat belajar darinya, mengaguminya, bahkan merayakan keberhasilannya tanpa merasa terancam.

Confidence berkata, “Ketika orang lain lebih baik, itu tidak membuat saya menjadi kurang berharga.” Kelebihan orang lain tidak mengurangi apa yang Tuhan taruh dalam diri kita. Karena itu, kita tidak perlu iri, minder, atau mengecilkan diri ketika berada di tengah orang-orang yang lebih hebat.

Sebaliknya, ketika kita memang lebih mampu atau lebih berhasil dalam suatu hal, kita juga tidak perlu merasa lebih penting daripada mereka.

Humility keeps you from feeling superior. Confidence keeps you from feeling inferior.

Kita tidak perlu menjadi lebih besar daripada orang lain, dan kita juga tidak perlu merasa lebih kecil daripada orang lain. Kita cukup menjadi versi terbaik dari diri yang Tuhan percayakan kepada kita.

“Comparing makes you either feel superior or inferior. Neither honors God.” — Craig Groeschel

7. HAVE THE COURAGE TO ASK — Berani Meminta

Kadang-kadang kita sungkan meminta karena takut dianggap merepotkan, tidak tahu diri, atau terlalu ambisius. Akibatnya, kita memilih diam dan berharap orang lain mengetahui apa yang kita butuhkan. Padahal, rendah hati bukan berarti kita tidak boleh meminta.

Kalau membutuhkan bantuan, mintalah bantuan. Kalau membutuhkan kejelasan, bertanyalah. Kalau membutuhkan feedback, mintalah masukan. Bahkan ketika ada kesempatan yang sesuai dengan kemampuan kita, tidak salah untuk menyampaikan ketertarikan dan bertanya apakah kita dapat mengambil bagian.

Di sinilah humility and confidence berjalan bersama. Humility membuat kita tidak merasa berhak mendapatkan semua yang kita minta. Confidence membuat kita tidak sungkan untuk meminta.

Humility doesn’t demand. Confidence isn’t afraid to ask.

Jangan biarkan rasa sungkan membuat kita kehilangan bantuan, kejelasan, kesempatan, atau pertumbuhan yang sebenarnya dapat kita peroleh hanya karena kita tidak pernah berani meminta.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” — Matius 7:7

CLOSING — HUMBLE AND CONFIDENT

Pada akhirnya, kita tidak harus memilih antara menjadi rendah hati atau percaya diri. Kita dipanggil untuk menjadi keduanya.

Mungkin selama ini kita mengira kerendahan hati berarti harus mengecilkan diri—menyembunyikan kemampuan, menolak apresiasi, takut menyampaikan pendapat, sungkan mengambil kesempatan, atau selalu menempatkan diri di belakang. Tetapi rendah hati bukan berarti rendah diri.

Kerendahan hati yang sehat justru lahir dari rasa aman tentang siapa diri kita. Kita tidak perlu merasa lebih tinggi daripada orang lain untuk merasa berharga, tetapi kita juga tidak perlu merasa lebih rendah agar terlihat rendah hati.

Karena itu, berhentilah mengecilkan diri, tetapi berhentilah juga membesarkan diri. Kenali siapa diri Anda. Syukuri apa yang Tuhan taruh dalam diri Anda. Kembangkan kemampuan Anda. Gunakan suara Anda. Ambil kesempatan yang dipercayakan kepada Anda. Dan lakukan semuanya tanpa kebutuhan untuk membuktikan bahwa Anda lebih hebat daripada orang lain.

Masuklah ke setiap ruangan bukan dengan pikiran, “Bagaimana saya bisa membuat orang terkesan?” dan bukan pula, “Apakah saya cukup baik untuk berada di sini?” Tetapi dengan keyakinan:

“Saya tahu siapa saya. Saya tahu apa yang Tuhan percayakan kepada saya. Saya tidak harus menjadi lebih besar atau lebih kecil daripada siapa saya sebenarnya.”

Itulah kebebasan yang lahir ketika humility dan confidence berjalan bersama.

Be humble enough not to think you are better than others.
Be confident enough not to think you are less than others.

Jangan mengecilkan diri dari siapa Tuhan menciptakan Anda, dan jangan membesarkan diri untuk membuktikan siapa Anda. Berjalanlah dengan rendah hati, berdirilah dengan percaya diri, gunakan semua yang Tuhan taruh dalam diri Anda, dan jadilah sepenuhnya pribadi yang Tuhan ciptakan untuk Anda menjadi.

Walk humbly. Stand confidently. And become all that God created you to be.

Tinggalkan komentar