Ada sesuatu yang sangat mudah terjadi dalam kehidupan orang percaya, terutama ketika kita sudah lama berada di gereja, terlibat dalam pelayanan, atau memegang tanggung jawab kepemimpinan: kita semakin sibuk melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi tidak selalu semakin mengenal Tuhan.
Kalender pelayanan bertambah penuh. Tanggung jawab semakin besar. Kita semakin banyak memimpin, mengajar, melayani, membangun, memberi, dan mengerjakan sesuatu bagi Kerajaan Allah. Semua itu baik. Tuhan memang memanggil kita untuk melayani, menghasilkan buah, dan melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya bagi kita.
Tetapi ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih dalam:
Apakah semakin banyak yang kita lakukan untuk Tuhan juga membuat kita semakin mengenal Tuhan?
Sebab sangat mungkin seseorang bekerja bagi Tuhan tanpa berjalan semakin dekat dengan Tuhan. Kita bisa mengetahui bagaimana menjalankan pelayanan tanpa semakin mengenal hati-Nya. Kita bisa semakin terampil berbicara tentang Tuhan tanpa semakin menikmati hadirat-Nya. Bahkan sesuatu yang awalnya lahir dari kasih kepada Tuhan perlahan dapat berubah menjadi sekadar tanggung jawab, rutinitas, dan pekerjaan.
Karena itu, pertumbuhan rohani tidak dapat diukur hanya dari how much we do for God, tetapi juga dari how deeply we know God.
God never intended our work for Him to replace our walk with Him.
“Don’t do more for God without knowing more about God.”
— Ps Jeffrey Rachmat
1. We Can Be Busy for God and Still Drift from God
Salah satu peringatan paling kuat mengenai hal ini muncul dalam kisah Marta dan Maria.
Lukas 10:40–42 “Sedang Marta sibuk sekali melayani… Tetapi Tuhan menjawabnya: ‘Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.’”
Masalah Marta bukan karena ia melayani. Melayani adalah sesuatu yang baik. Masalahnya adalah sesuatu yang baik telah mengambil tempat dari sesuatu yang lebih utama. Marta sedang melakukan sesuatu untuk Yesus, sementara Maria sedang duduk bersama Yesus.
Ironisnya, kita dapat begitu sibuk melakukan pekerjaan Tuhan sehingga tidak lagi memiliki cukup ruang untuk menikmati Tuhan sendiri.
Dan bahayanya, keadaan ini tidak selalu langsung terlihat. Dari luar semuanya mungkin tampak baik. Kita masih hadir di gereja. Masih melayani. Masih memimpin. Masih berkhotbah. Masih membaca Alkitab untuk mempersiapkan materi. Bahkan mungkin pelayanan kita sedang bertumbuh.
Tetapi di dalam hati, hubungan kita dengan Tuhan perlahan berubah.
Kita membaca Alkitab terutama karena harus mengajar orang lain, bukan lagi karena kita sendiri lapar akan Firman-Nya. Kita berdoa terutama ketika membutuhkan pertolongan Tuhan untuk menjalankan tanggung jawab. Kita memimpin worship tetapi kehilangan kehidupan penyembahan pribadi. Kita berbicara kepada orang lain tentang Tuhan lebih sering daripada kita berbicara dengan Tuhan.
Itulah sebabnya kesibukan rohani tidak selalu sama dengan kedekatan rohani. Bahkan pelayanan dapat memberikan ilusi bahwa hubungan kita dengan Tuhan baik-baik saja karena kita terus berada di sekitar hal-hal rohani.
Yeremia mengingatkan apa yang sebenarnya bernilai di hadapan Tuhan:
Yeremia 9:23–24 “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku…”
More ministry does not always mean more intimacy with God.
2. Go Deeper, Not Just Further
Ketika Tuhan mempercayakan semakin banyak kepada kita, sangat mudah mengukur pertumbuhan dari seberapa jauh kita telah berjalan. Tanggung jawab bertambah, kapasitas berkembang, pengaruh semakin luas, dan semakin banyak hal yang dapat kita kerjakan. Semua itu adalah bagian yang baik dari pertumbuhan. Tetapi perjalanan bersama Tuhan seharusnya tidak hanya membawa kita further dalam apa yang kita kerjakan. Perjalanan itu seharusnya membawa kita deeper dalam mengenal siapa Tuhan.
“As you go further in what you do for God, go deeper in knowing God.”
Ketika Yesus memanggil kedua belas murid, Markus mencatat sebuah urutan yang sangat penting.
Markus 3:14 “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil.”
Para murid dipanggil untuk menyertai Dia dan kemudian diutus oleh-Nya. Being with Jesus dan being sent by Jesusbukan dua kehidupan yang terpisah. Mereka berjalan bersama Yesus, lalu dari hubungan itulah mereka melakukan apa yang dipercayakan kepada mereka. Bahkan ketika mereka mulai melayani, mereka tetap berada dalam proses mengenal Yesus lebih dalam.
Selama kurang lebih tiga tahun, para murid tidak hanya belajar bagaimana melakukan pekerjaan Yesus. Mereka belajar mengenal Yesus. Mereka melihat bagaimana Dia memperlakukan orang, bagaimana Dia merespons tekanan, bagaimana Dia berdoa kepada Bapa, bagaimana Dia menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang terluka, bagaimana Dia menghadapi penolakan, dan bagaimana Dia tetap taat ketika ketaatan menjadi sangat mahal. Their assignment became part of their journey of knowing Him.
Hal yang sama seharusnya terjadi dalam kehidupan kita. Jangan biarkan apa yang Tuhan percayakan hanya meningkatkan kemampuan kita; biarkan itu juga memperdalam pengenalan kita akan Tuhan. Ketika kita memimpin, kita dapat belajar tentang kesabaran-Nya. Ketika menghadapi tekanan, kita dapat belajar tentang kesetiaan-Nya. Ketika harus menunggu, kita dapat belajar tentang waktu-Nya. Ketika mengalami keterbatasan, kita dapat belajar tentang kecukupan kasih karunia-Nya. Ketika mengalami keberhasilan, kita belajar bahwa semua yang kita miliki berasal dari-Nya.
Every assignment can become an invitation to know God more.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Tuhan, apa yang harus saya lakukan?” Belajarlah juga bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau ajarkan kepada saya tentang diri-Mu melalui semua ini?” Jangan hanya meminta Tuhan memberikan direction untuk langkah berikutnya. Mintalah supaya sepanjang perjalanan itu Dia memberikan revelation tentang siapa Dia.
Musa memberikan gambaran yang sangat indah tentang hal ini. Ia sedang memikul salah satu tanggung jawab terbesar dalam Alkitab—memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah yang Tuhan janjikan. Tetapi di tengah besarnya assignment tersebut, Musa tidak hanya meminta Tuhan menunjukkan apa yang harus ia lakukan.
Keluaran 33:13 “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau…”
Perhatikan kerinduan Musa: “beritahukanlah jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau.” Musa tidak puas hanya mengetahui ke mana Tuhan sedang membawanya. Ia ingin mengenal Tuhan yang sedang memimpinnya. Ia tidak hanya membutuhkan direction from God; ia menginginkan deeper knowledge of God.
Itulah sebabnya Mazmur kemudian memberikan sebuah perbedaan yang menarik antara Musa dan bangsa Israel.
Mazmur 103:7 “Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.”
Israel melihat perbuatan Tuhan, tetapi Musa mengenal jalan-jalan Tuhan. Bangsa Israel melihat laut terbelah, manna turun, air keluar dari batu, dan berbagai mukjizat terjadi. Musa bukan hanya melihat apa yang Tuhan lakukan; melalui perjalanan itu ia semakin mengenal bagaimana Tuhan bekerja, karakter-Nya, kesetiaan-Nya, kesabaran-Nya, dan hati-Nya.
Kita pun dapat mengalami banyak pekerjaan Tuhan tanpa otomatis semakin mengenal Tuhan. Kita dapat melihat pintu terbuka, doa dijawab, pelayanan bertumbuh, kesempatan bertambah, bahkan mengalami keberhasilan yang luar biasa. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah melalui semua yang terjadi itu kita semakin mengenal Dia?
Inilah yang membuat sebuah perjalanan bersama Tuhan bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tujuan. Tuhan bukan hanya tertarik membawa kita ke tempat berikutnya. Dia menggunakan perjalanan itu untuk memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Karena itu, jangan terlalu terburu-buru menuju next assignment, next opportunity, atau next level sampai kita kehilangan apa yang Tuhan ingin tunjukkan tentang diri-Nya di tempat kita berada sekarang.
Paulus memahami hal ini. Setelah bertahun-tahun mengikuti Kristus, memberitakan Injil, mendirikan jemaat, mengalami mukjizat, penderitaan, keberhasilan, dan berbagai pengalaman rohani, kerinduan Paulus bukan menjadi semakin kecil. Ia masih berkata:
Filipi 3:10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia…”
Semakin jauh Paulus berjalan bersama Tuhan, semakin dalam ia ingin mengenal Tuhan. Going further did not replace going deeper.
Itulah pertumbuhan yang sehat. Lima tahun dari sekarang, mungkin kita telah memimpin lebih banyak, membangun lebih banyak, mencapai lebih banyak, dan dipercaya dengan tanggung jawab yang lebih besar. Tetapi kiranya ada sesuatu yang jauh lebih penting yang juga dapat kita katakan: “I know God more than I did five years ago.”
Jangan hanya bertumbuh dalam kemampuan melakukan pekerjaan Tuhan. Bertumbuhlah dalam mengenal hati Tuhan. Jangan hanya semakin mengetahui bagaimana Tuhan bekerja. Kenallah Tuhan yang sedang bekerja. Jangan hanya mengejar apa yang berikutnya; izinkan setiap musim membawa kita semakin dalam bersama-Nya.
“As you go further in what you do for God, go deeper in knowing God.”
3. The More We Know Him, the More We Need Him
Semakin lama kita melakukan sesuatu, biasanya semakin percaya diri kita melakukannya. Pengalaman bertambah, kemampuan berkembang, dan kita mulai mengetahui apa yang berhasil dan apa yang tidak. Hal yang sama terjadi dalam pelayanan. Setelah bertahun-tahun, kita semakin tahu bagaimana memimpin, mempersiapkan khotbah, membangun tim, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan.
Semua itu adalah pertumbuhan yang baik. Tetapi di sinilah muncul sebuah bahaya yang sangat halus: semakin capable kita, semakin mudah kita merasa tidak terlalu membutuhkan Tuhan.
Pada awal perjalanan, kita banyak berdoa karena tidak tahu harus berbuat apa. Kita meminta hikmat karena merasa tidak mampu. Tetapi setelah memiliki pengalaman, tanpa sadar kita mulai mengandalkan apa yang sudah kita ketahui. Apa yang dahulu kita lakukan dengan doa, sekarang kita lakukan dengan pengalaman. Apa yang dahulu membuat kita mencari Tuhan, sekarang kita merasa dapat menanganinya sendiri.
Experience can make us better at what we do, but dangerously less dependent on God.
Justru salah satu tanda bahwa kita semakin mengenal Tuhan adalah kita semakin menyadari betapa kita membutuhkan Dia. Semakin kita mengenal kebesaran-Nya, semakin kita menyadari keterbatasan kita. Semakin kita mengenal hikmat-Nya, semakin kita tidak ingin hanya mengandalkan pengertian sendiri.
The more we know God, the less we rely on ourselves and the more we depend on Him.
Yesus menggambarkan hubungan ini melalui pokok anggur dan ranting.
Yohanes 15:4–5 “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu… Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Ranting dapat menghasilkan buah, tetapi ranting tidak pernah menjadi sumber kehidupan. Semua yang dibutuhkannya untuk menghasilkan buah datang dari pokok tempat ia melekat. Tuhan ingin kita bertumbuh, produktif, mengembangkan kemampuan, dan menghasilkan banyak buah. Kemampuan tetap penting, tetapi kemampuan tidak menggantikan ketergantungan. Pengalaman adalah berkat, tetapi pengalaman tidak menggantikan kepekaan kepada Tuhan. Strategi diperlukan, tetapi strategi tidak menggantikan doa. Preparation penting, tetapi preparation tidak membuat kita tidak lagi membutuhkan kuasa Roh Kudus.
Paulus memahami hal ini. Ia adalah seorang yang terdidik, berpengalaman, dan memiliki kapasitas luar biasa. Tetapi ia berkata:
2 Korintus 3:4–5 “Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.”
Paulus memiliki confidence, tetapi confidence-nya tidak berubah menjadi self-sufficiency. Ia tahu dirinya dipanggil dan diperlengkapi, tetapi ia juga tahu dari mana kesanggupannya berasal: “kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.”
Inilah kedewasaan rohani. Kita dapat menjadi semakin confident tanpa menjadi semakin independent dari Tuhan. Kita dapat semakin skilled tanpa menjadikan skill sebagai sandaran. Bahkan semakin besar sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita, seharusnya semakin besar kesadaran bahwa kita membutuhkan Dia.
Let experience grow your confidence, but never replace your dependence.
Karena itu, teruslah belajar. Bertumbuhlah dalam kemampuan. Bangun pengalaman. Tingkatkan kapasitas. Berikan yang terbaik dalam setiap hal yang Tuhan percayakan. Tetapi jangan pernah membiarkan pertumbuhan dalam competence menghasilkan penurunan dalam dependence.
The more we know Him, the less we rely on what we can do and the more we depend on what He can do.
So, How Do We Know Him More?
Mengenal Tuhan lebih dalam tidak terjadi secara otomatis hanya karena kita sudah lama menjadi orang percaya atau sudah lama melayani. Relationship grows through intentionality. Kita mengenal seseorang karena kita meluangkan waktu bersamanya, mendengarkan, berbicara, dan menjalani kehidupan bersama. Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan.
Kita mengenal Tuhan melalui Firman-Nya, karena di sanalah Dia menyatakan siapa diri-Nya, karakter-Nya, kehendak-Nya, dan jalan-jalan-Nya. Karena itu, jangan hanya membaca Alkitab untuk mencari bahan yang dapat kita sampaikan kepada orang lain. Bacalah untuk bertanya, “God, what are You showing me about who You are?”
Kita mengenal Dia melalui doa yang bukan hanya meminta, tetapi juga membangun relationship—berbicara kepada-Nya, mendengarkan, membawa kehidupan kita apa adanya kepada-Nya, dan menyediakan ruang untuk menikmati kehadiran-Nya.
Dan kita mengenal Tuhan melalui ketaatan dan perjalanan hidup bersama-Nya. Ada bagian dari karakter Tuhan yang baru kita pahami ketika kita mempercayai-Nya dalam ketidakpastian, mengalami kesetiaan-Nya dalam kesulitan, menunggu waktu-Nya, dan melakukan apa yang Dia katakan meskipun tidak selalu mudah.
You don’t know God more simply by knowing more about Him. You know Him more by walking with Him.
Don’t just serve Him more. Know Him more
Jangan biarkan pelayanan kita bertumbuh lebih cepat daripada pengenalan kita akan Tuhan. Semakin banyak yang dipercayakan kepada kita, semakin dalam kita perlu mengenal hati-Nya, jalan-Nya, dan karakter-Nya.
Biarlah apa yang kita lakukan bagi Tuhan selalu lahir dari hubungan kita dengan Tuhan. Ketika tanggung jawab bertambah, go deeper. Ketika kemampuan dan pengalaman bertumbuh, jangan menjadi semakin self-sufficient—deepen your dependence on Him.
Karena tujuan kita bukan hanya suatu hari dapat berkata, “Look at what I have done for God,” tetapi dapat melihat kembali seluruh perjalanan dan berkata, “Through it all, I have come to know Him more.”
Don’t just serve Him more. Know Him more—and let everything you do flow from there.