Ketika kita memikirkan dosa-dosa yang dapat menghancurkan kehidupan seorang pria Kristen, biasanya kita memikirkan dosa yang besar dan terlihat: perselingkuhan, pornografi, kecanduan alkohol atau obat-obatan, kemarahan, atau skandal keuangan. Semua itu memang dapat meninggalkan kehancuran yang besar. Namun ada satu bahaya yang jauh lebih tenang dan sering kali tidak terlihat, tetapi perlahan dapat merusak kehidupan banyak pria Kristen: passivity. Passivity menjadi dosa ketika kita mengetahui apa yang Tuhan kehendaki dan tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada kita, tetapi kita memilih untuk tidak bertindak.
Passivity bukan berarti memiliki kepribadian yang tenang, tidak agresif, atau selalu mengambil waktu sebelum bertindak. Ada waktunya menunggu justru merupakan bentuk hikmat. Passivity yang berbahaya adalah ketika kita mulai berhenti mengambil tanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Kita melihat sesuatu yang perlu dibangun, tetapi tidak membangunnya. Kita mengetahui sesuatu perlu diperbaiki, tetapi terus menundanya. Kita mengetahui langkah yang benar, tetapi tidak pernah mengambilnya.
Itulah sebabnya passivity begitu mudah tidak disadari. Kita merasa baik-baik saja karena tidak sedang melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah. Tetapi Alkitab mengingatkan bahwa kehidupan bersama Tuhan bukan hanya tentang menghindari yang salah; kita juga dipanggil untuk melakukan yang benar.
Yakobus 4:17 (TB) “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
Ada dosa yang terjadi karena kita melakukan sesuatu yang salah—sering disebut sin of commission. Tetapi ada juga dosa yang terjadi karena kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan—sin of omission. Passivity menjadi sangat berbahaya ketika ketidakbertindakan kita mulai membawa kita ke wilayah ini: kita tahu apa yang benar, kita tahu apa yang menjadi tanggung jawab kita, tetapi kita terus memilih untuk tidak bertindak.
Inilah mengapa passivity begitu berbahaya. Kita dapat merasa baik-baik saja karena tidak sedang melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah, sementara pada saat yang sama kita sedang mengabaikan sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita.
Passivity rarely destroys a man in one dramatic moment. It slowly allows what God has entrusted to him to deteriorate.
Passivity tidak terlihat berbahaya karena biasanya tidak membuat seseorang langsung jatuh. Tidak ada skandal. Tidak ada sesuatu yang dramatis. Kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Tetapi perlahan-lahan seorang pria mulai berhenti melakukan apa yang sebenarnya Tuhan panggil untuk ia lakukan.
The sin of passivity can become a silent killer of Christian men.
1. What Passivity Looks Like
Passivity jarang terlihat dramatis. Justru karena itu, kita sering tidak menyadari ketika passivity mulai masuk ke dalam kehidupan kita.
Passivity terjadi ketika kita mulai menjadi penonton dalam area kehidupan yang sebenarnya membutuhkan kehadiran, perhatian, dan tanggung jawab kita. Kita masih ada di sana, tetapi perlahan berhenti mengambil inisiatif untuk membangun apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Passivity dapat terlihat seperti seorang suami yang perlahan berhenti mengejar hati istrinya. Ia masih menikah, masih tinggal dalam rumah yang sama, tetapi tidak lagi secara sengaja membangun kedekatan dengan istrinya.
Passivity dapat terlihat seperti seorang ayah yang menyerahkan pembentukan rohani anak-anaknya kepada orang lain. Ia berharap gereja, sekolah, atau pelayanan anak akan mengajarkan mereka mengenal Tuhan, tetapi dirinya sendiri semakin sedikit terlibat.
Passivity dapat terlihat seperti seseorang yang setia datang ke gereja setiap minggu dan mendengarkan Firman Tuhan, tetapi bertahun-tahun hanya menjadi penerima tanpa mulai melayani, memuridkan, atau membangun kehidupan orang lain.
Dan passivity dapat terlihat seperti seseorang yang sebenarnya sudah mengetahui langkah yang perlu ia ambil, tetapi terus menundanya.
Masalahnya, passivity sering menyamar di balik alasan yang terdengar sangat masuk akal.
- “Saya terlalu sibuk.”
- “Saya sedang lelah.”
- “Saya ingin berhati-hati.”
- “Saya sedang menunggu waktu yang tepat.”
Ada waktunya semua alasan itu memang benar. Menunggu tidak selalu berarti pasif; terkadang menunggu justru merupakan bentuk hikmat dan ketaatan. Tetapi kita perlu belajar membedakan antara menunggu dengan bijaksana dan menghindari tanggung jawab.
Passivity is being present, but no longer taking responsibility.
2. Passivity in the Garden
Kita menemukan gambaran yang sangat awal tentang kegagalan seorang pria dalam menjalankan tanggung jawab sejak Taman Eden. Sebelum Hawa diciptakan, Tuhan telah menempatkan Adam di taman dan memberinya tanggung jawab.
Kejadian 2:15 (TB) “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Adam tidak ditempatkan di Eden hanya untuk menikmati apa yang Tuhan ciptakan. Ia diberi tanggung jawab untuk mengusahakan dan memeliharanya. Ia juga menerima langsung perintah Tuhan mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:16–17).
Jadi Adam memiliki dua hal: responsibility dan revelation. Ia mengetahui apa yang Tuhan percayakan kepadanya dan ia mengetahui apa yang Tuhan firmankan kepadanya.
Kemudian datanglah ular. Hawa tertipu, mengambil buah itu dan memakannya. Kejadian 3:6 mengatakan bahwa ia kemudian memberikan buah itu kepada suaminya “yang bersama-sama dengan dia,” dan Adam pun memakannya.
Kita perlu berhati-hati untuk tidak mengatakan lebih daripada yang dikatakan teks. Alkitab tidak memberikan seluruh detail mengenai apa yang Adam lakukan selama percakapan Hawa dengan ular. Namun satu hal sangat jelas: Adam mengetahui perintah Tuhan, tetapi ketika tiba waktunya untuk hidup berdasarkan perintah itu, ia tidak melakukannya.
Paulus bahkan memberikan detail yang penting:
1 Timotius 2:14 (TB) “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.”
Hawa tertipu. Adam tidak. Adam telah menerima perintah Tuhan dan mengetahui apa yang benar, tetapi pada saat yang menentukan ia tetap memilih untuk ikut makan.
Dan di sinilah kita melihat bahaya passivity. Mengetahui apa yang benar tetapi tidak mengambil tanggung jawab untuk melakukan apa yang benar. Seorang pria dapat mengetahui Firman Tuhan, mengetahui tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah, bahkan mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan—tetapi tetap tidak mengambil tindakan.
“Passivity is being present, but no longer taking responsibility.”
Adam mengingatkan kita bahwa kehadiran saja tidak cukup. Hadir dalam pernikahan tidak otomatis berarti kita sedang membangunnya. Hadir bersama anak-anak tidak otomatis berarti kita sedang membentuk mereka. Datang ke gereja tidak otomatis berarti kita sedang bertumbuh.
Passivity begins when we stop taking responsibility for what God has entrusted to us.
3. When Passivity Becomes a Pattern
Passivity jarang berhenti pada satu area kehidupan. Ketika seorang pria mulai pasif dalam kehidupan rohaninya, pola yang sama perlahan dapat masuk ke dalam area lainnya. Hubungannya dengan Tuhan mulai kehilangan kedalaman. Ia semakin lemah dalam menghadapi dosa. Pernikahannya tidak lagi secara sengaja dibangun. Kehadirannya dalam kehidupan anak-anak semakin berkurang. Bahkan di gereja, ia dapat terus hadir tetapi tidak pernah mengambil bagian dalam melayani, memuridkan, dan membangun orang lain.
Bukan berarti ia sudah tidak peduli. Ia bahkan mungkin tetap memiliki good intentions. Ia ingin menjadi suami yang baik, ayah yang baik, dan bertumbuh dalam Tuhan. Tetapi semakin jarang ada langkah nyata. Ia melihat sesuatu perlu dibangun, diperbaiki, atau dilakukan, tetapi terbiasa menunggu—menunggu keadaan berubah, menunggu orang lain mengambil inisiatif, atau menunggu sampai dirinya merasa siap.
Inilah bahayanya: semakin lama kita hidup dalam passivity, semakin normal passivity terasa. Apa yang dahulu mengganggu kita perlahan tidak lagi terasa mendesak. Apa yang dahulu ingin segera kita lakukan mulai terbiasa kita tunda. Tanpa disadari, passivity bukan lagi sekadar respons terhadap satu keadaan; passivity telah menjadi sebuah pola hidup.
“Passivity tolerated in one area can quietly become a pattern in every area.”
4. Passivity Has a Cost
Setiap kali kita meninggalkan sebuah tanggung jawab, kita meninggalkan sebuah ruang kosong. Dan ruang kosong tidak akan selamanya kosong. Ketika kita tidak secara sengaja membangun sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita, sesuatu yang lain perlahan akan mengambil tempatnya.
Jika seorang ayah tidak secara sengaja membentuk kehidupan anak-anaknya, bukan berarti mereka berhenti dibentuk. Teman, media, budaya, dan lingkungan di sekitar mereka akan ikut membentuk cara mereka berpikir dan menjalani kehidupan. Jika seorang suami tidak secara sengaja merawat pernikahannya, hubungan itu tidak akan tetap berada di tempat yang sama—jarak perlahan dapat bertumbuh. Jika kita tidak menjaga kehidupan rohani, hal-hal lain dengan mudah mengambil perhatian dan ruang yang seharusnya diberikan kepada Tuhan.
Inilah salah satu alasan passivity begitu berbahaya: harganya tidak langsung terlihat. Pernikahan tidak menjadi jauh dalam satu malam. Hubungan ayah dan anak tidak hilang dalam satu minggu. Kehidupan rohani tidak menjadi kering dalam satu hari. Semuanya biasanya terjadi perlahan—sedikit demi sedikit, melalui apa yang terus-menerus kita abaikan.
Karena itu, kita dapat merasa semuanya masih baik-baik saja hanya karena belum ada sesuatu yang dramatis terjadi. Padahal passivity sedang menciptakan ruang bagi sesuatu yang lain untuk bertumbuh. What we leave unattended does not necessarily remain unchanged.
Inilah yang membuat passivity menjadi silent killer. Kita sering baru menyadari harganya ketika jarak sudah semakin jauh, kesempatan sudah berlalu, atau sesuatu yang dahulu berharga menjadi jauh lebih sulit untuk dipulihkan.
Karena itu, jangan menunggu sampai sesuatu rusak untuk mulai merawatnya. Be intentional with what matters. Rawat pernikahanmu. Hadirlah dalam kehidupan anak-anakmu. Bangun kehidupan rohanimu. Ambil tanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan kepadamu.
“Passivity leaves what matters unattended. Intentionality builds what God has entrusted to us.”
5. From Passivity to Responsibility
Passivity membuat kita perlahan mundur dari apa yang seharusnya kita bangun dan rawat. Karena itu, keluar dari passivity dimulai ketika kita kembali melangkah masuk ke dalam tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita.
Namun mengambil tanggung jawab bukan berarti kita harus mengendalikan segala sesuatu. Seorang suami tidak dapat mengendalikan respons istrinya. Seorang ayah tidak dapat menentukan setiap pilihan anak-anaknya. Seorang pemimpin tidak dapat memastikan semua orang akan melakukan apa yang benar. Responsibility is not about controlling outcomes; it is about being faithful with what is ours to do.
Karena itu, daripada terus melihat apa yang seharusnya dilakukan orang lain, belajarlah bertanya, “What is my part?”Mungkin kita tidak dapat memperbaiki seluruh pernikahan sendirian, tetapi kita dapat mulai mendengarkan, meminta maaf, dan kembali membangun kedekatan. Kita tidak dapat menentukan masa depan anak-anak kita, tetapi kita dapat hadir, berbicara, berdoa, dan menjadi teladan bagi mereka. Kita tidak dapat mengubah seluruh gereja, tetapi kita dapat mulai melayani dan membangun orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.
Inilah perbedaan antara responsibility dan passivity. Passivity menunggu orang lain berubah terlebih dahulu. Responsibility bertanya apa yang dapat saya lakukan sekarang. Passivity melihat masalah dan mencari siapa yang harus disalahkan. Responsibility melihat keadaan dan bertanya apa bagian yang Tuhan percayakan kepada saya.
Tetapi panggilan ini bukan sekadar ajakan untuk try harder. Di sinilah Injil memberikan kita pengharapan. Adam gagal menjalankan tanggung jawabnya, tetapi Kristus datang sebagai Adam yang terakhir. Di mana Adam tidak taat, Kristus taat. Roma 5:19 menunjukkan bahwa melalui ketaatan Kristus kita menerima kehidupan yang baru. Kita tidak mengambil tanggung jawab untuk membuktikan bahwa kita adalah pria yang baik; kita mengambil tanggung jawab karena Kristus sedang membentuk kita menjadi pria yang hidup dalam ketaatan kepada-Nya.
Kita mungkin tidak bertanggung jawab atas semua yang terjadi di sekitar kita, tetapi kita bertanggung jawab atas bagaimana kita merespons apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Karena itu, berhentilah menunggu keadaan menjadi sempurna atau orang lain mengambil langkah pertama. Mulailah dari bagian yang memang menjadi bagian kita.
“Passivity avoids what is ours to do. Responsibility steps forward and owns it.
Start Where You Are
Salah satu alasan kita tetap terjebak dalam passivity adalah karena kita melihat terlalu banyak hal yang harus diperbaiki sekaligus. Pernikahan mungkin sudah lama kehilangan kedekatan. Hubungan dengan anak-anak mungkin mulai renggang. Kehidupan rohani mungkin sudah lama tidak bertumbuh. Ketika semuanya terasa terlalu besar, kita tidak tahu harus mulai dari mana—dan akhirnya kita tidak mulai sama sekali.
Tetapi keluar dari passivity tidak selalu membutuhkan sebuah tindakan besar. Sering kali perubahan dimulai dengan satu langkah kecil yang benar.
Mulailah percakapan yang selama ini kita hindari. Sediakan waktu untuk istri dan anak-anak. Minta maaf jika memang kita salah. Buka kembali Alkitab. Mulailah berdoa. Ambil bagian dalam pelayanan. Hubungi seseorang yang dapat menolong kita bertumbuh. Lakukan satu hal yang sebenarnya sudah lama kita tahu perlu dilakukan.
Kita mungkin tidak dapat memperbaiki semuanya hari ini. Bahkan tidak semua hasil berada dalam kendali kita. Tetapi selalu ada sesuatu yang menjadi bagian kita untuk dilakukan. Responsibility begins when we stop waiting for everything to change and start doing what is ours to do.
Dan setelah mengambil satu langkah, ambillah langkah berikutnya. Kehidupan tidak berubah melalui satu tindakan heroik, tetapi melalui keputusan-keputusan kecil untuk terus hadir, terus membangun, dan terus mengambil tanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Mungkin bagi kita itu berarti kembali mengejar hati istri. Mungkin hadir lebih sungguh-sungguh dalam kehidupan anak-anak. Mungkin membangun kembali kehidupan bersama Tuhan. Mungkin mulai melayani, memuridkan seseorang, atau mengambil tanggung jawab yang selama ini kita hindari.
Apa pun itu, jangan menunggu sampai semuanya sempurna.
Start where you are. Take responsibility for what God has entrusted to you. And take the next right step.
“Passivity says, ‘Someday.’ Responsibility says, ‘I will take the next step today.’”