Take Care of Your People

Dalam setiap organisasi, termasuk gereja, kita membutuhkan orang-orang untuk membuat semuanya berjalan. Ada yang memimpin, menyanyi, bermain musik, mengajar anak, menyambut jemaat, mengoperasikan kamera, mengatur acara, dan mengerjakan begitu banyak hal yang sering kali tidak terlihat. Tanpa mereka, banyak hal yang kita kerjakan tidak mungkin dapat dilakukan.

Karena kita bekerja bersama untuk mencapai sebuah tujuan, sangat wajar jika kita berbicara tentang tanggung jawab, performance, commitment, dan excellence. Kita membutuhkan orang-orang yang dapat diandalkan dan memberikan yang terbaik. Semua itu penting.

Namun ada satu bahaya yang harus terus dijaga oleh setiap pemimpin: jangan sampai karena terlalu fokus kepada apa yang sedang kita bangun, kita lupa memperhatikan orang-orang yang membangunnya bersama kita.

Tanpa sadar, hubungan kita dengan orang dapat menjadi sangat fungsional. Kita menghubungi mereka ketika membutuhkan sesuatu. Kita memperhatikan mereka ketika ada tugas yang harus diselesaikan. Kita mengenal kemampuan mereka, mengetahui jadwal pelayanan mereka, dan mengevaluasi performance mereka—tetapi belum tentu mengetahui bagaimana keadaan mereka sebenarnya.

Seseorang dapat terus hadir, terus melayani, bahkan terus memberikan yang terbaik, tetapi perlahan merasa bahwa dirinya lebih needed daripada valued. Ia merasa dicari ketika ada sesuatu yang perlu dikerjakan, tetapi belum tentu merasa diperhatikan sebagai seorang pribadi.

Di sinilah leadership membutuhkan perspektif yang berbeda.

Volunteer bukan sekadar orang yang membantu kita menjalankan program, mengisi posisi, atau mencapai target. Mereka adalah orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Karena itu, tanggung jawab kita bukan hanya memastikan mereka serve well, tetapi juga memastikan mereka are well.

Don’t just ask, “Are they serving well?” Ask, “Are they doing well?”

Take good care of your people. Don’t just use their gifts—invest in their lives.

Taking care of people berarti melihat mereka lebih dari apa yang dapat mereka kerjakan. Kita menghargai mereka lebih dari kontribusinya, peduli terhadap kehidupan mereka, menolong mereka melewati musim yang sulit, dan menginvestasikan diri kita agar mereka dapat bertumbuh.

Inilah salah satu tanggung jawab terbesar seorang pemimpin: bukan hanya membangun sesuatu bersama orang-orang kita, tetapi menjaga orang-orang yang sedang membangunnya bersama kita.

1. Care for the Person, Not Just the Role

Dalam sebuah organisasi, termasuk gereja, sangat mudah tanpa sadar melihat orang berdasarkan fungsi. Kita mengenal seseorang karena ia bisa menyanyi, bermain musik, memimpin kelompok, mengajar anak, mengoperasikan kamera, mengelola administrasi, atau memimpin sebuah tim. Perlahan-lahan, cara kita berhubungan dengan mereka pun dapat menjadi sangat fungsional: kita menghubungi ketika membutuhkan bantuan, berbicara ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan mengevaluasi mereka berdasarkan seberapa baik mereka menjalankan tanggung jawabnya.

Tidak ada yang salah dengan menghargai kontribusi seseorang. Kita membutuhkan orang-orang yang kompeten, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab. Namun kepemimpinan mulai kehilangan sisi manusianya ketika kita lebih mengenal apa yang seseorang dapat lakukan daripada apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.

Orang yang kita pimpin bukanlah sekadar resources untuk menjalankan visi. Mereka adalah manusia dengan kehidupan yang jauh lebih besar daripada peran yang mereka jalankan. Mereka memiliki keluarga, pergumulan, tekanan, impian, ketakutan, kelelahan, dan musim kehidupan yang mungkin tidak pernah terlihat ketika mereka sedang menjalankan tugasnya dengan baik.

Karena itu, taking care of our people dimulai dengan sebuah perubahan sederhana dalam cara kita melihat mereka: from seeing the role to seeing the person.

  • Kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana pelayanannya?” tetapi juga, “Bagaimana hidupmu?”
  • Bukan hanya, “Apakah semuanya sudah siap?” tetapi juga, “Apakah kamu baik-baik saja?”
  • Bukan hanya memperhatikan ketika performanya menurun, tetapi mengenalnya cukup dekat sehingga kita dapat menyadari ketika ada sesuatu yang sedang ia alami.

Ini penting karena terkadang seseorang tidak membutuhkan kesempatan yang lebih besar. Ia membutuhkan seseorang yang mendengarkan. Terkadang ia tidak membutuhkan tanggung jawab baru. Ia membutuhkan waktu untuk beristirahat. Terkadang ia tidak membutuhkan coachingIa hanya perlu mengetahui bahwa ketika ia tidak dapat memberikan apa-apa sekalipun, ia tetap berharga bagi kita.

Pemimpin yang baik tentu memperhatikan pekerjaan. Tetapi pemimpin yang sungguh-sungguh peduli juga memperhatikan orang yang mengerjakan pekerjaan itu. Sebab pada akhirnya, visi memang penting, pelayanan penting, dan hasil juga penting—tetapi kita tidak boleh mencapai semuanya dengan mengorbankan orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.

People should never feel that their value to us rises and falls with their usefulness to us.

Take good care of your people. Before developing what they can do, care about who they are.

2. Care About Their Well-Being

Care about how they are doing, not only what they are doing.

Taking care of our people berarti kita peduli bukan hanya apakah pekerjaan berjalan dengan baik, tetapi juga apakah orang yang mengerjakannya baik-baik saja.

Dalam kesibukan sebuah organisasi, perhatian kita mudah tertuju pada hal-hal yang terlihat: apakah target tercapai, pelayanan berjalan, deadline selesai, atau masalah berhasil diselesaikan. Semua itu penting. Tetapi seorang pemimpin perlu belajar melihat lebih jauh dari pekerjaan yang sedang dilakukan dan memperhatikan keadaan orang yang melakukannya.

  • Bagaimana keadaan mereka secara emosional?
  • Apakah mereka sedang berada di bawah tekanan?
  • Bagaimana keadaan keluarga mereka?
  • Apakah pekerjaan utama mereka sedang sangat demanding?
  • Apakah mereka masih menikmati apa yang mereka lakukan atau mulai kehilangan sukacita?
  • Apakah mereka mendapatkan cukup waktu untuk beristirahat?
  • Apakah kehidupan rohani mereka tetap sehat?

Taking care means paying attention.

Sering kali orang tidak datang kepada kita dan berkata, “Saya sedang tidak baik-baik saja.” Mereka tetap datang, tetap tersenyum, tetap mengerjakan tanggung jawab, bahkan tetap menghasilkan pekerjaan yang baik. Karena itu, pemimpin yang peduli tidak hanya menunggu sampai seseorang meminta pertolongan. Ia belajar memperhatikan perubahan-perubahan kecil—kelelahan yang mulai terlihat, sukacita yang berkurang, tekanan yang meningkat, atau kehidupan yang mulai kehilangan keseimbangan.

Dan ketika kita melihatnya, jangan selalu merespons dengan tuntutan untuk perform better. Mungkin yang mereka perlukan adalah percakapan. Mungkin kita perlu membantu menyelesaikan sebuah masalah. Mungkin bebannya perlu dibagi dengan orang lain. Mungkin ekspektasi perlu disesuaikan. Dan terkadang, mereka memang perlu berhenti sejenak dan beristirahat.

Care is not merely feeling concerned about people; care is responding to what they need.

Kita tidak selalu dapat menyelesaikan setiap masalah dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin. Dan itu juga bukan tanggung jawab kita. Tetapi kita dapat membangun sebuah lingkungan di mana mereka mengetahui bahwa mereka tidak harus mengorbankan dirinya untuk tetap memiliki tempat dalam tim kita.

Kita ingin pekerjaan berjalan dengan baik. Tetapi kita juga ingin orang-orang yang mengerjakannya tetap baik.

Protect Them From Burnout

Ironisnya, orang-orang yang paling committed sering kali justru paling mudah mengalami burnout. Mereka bertanggung jawab, sulit mengecewakan orang lain, dan hampir selalu bersedia ketika dibutuhkan. Ketika ada kekurangan, mereka maju. Ketika ada masalah, mereka membantu. Ketika diminta melakukan lebih banyak, mereka kembali berkata, “Yes.”

Karena itu, jangan salah mengartikan willingness sebagai unlimited capacity.

Hanya karena seseorang bersedia melakukan lebih banyak bukan berarti ia selalu harus melakukannya. Jangan menjadikan commitment seseorang sebagai alasan untuk terus menambah bebannya. Terkadang justru orang-orang yang paling committed perlu paling kita jaga karena mereka sendiri jarang mengetahui kapan harus berhenti.

Pemimpin yang hanya berorientasi pada hasil akan terus bertanya, “Can you do more?” Pemimpin yang peduli juga berani bertanya, “Are you carrying too much?”

Ketika kita melihat seseorang mulai membawa terlalu banyak, care harus menghasilkan tindakan. Mungkin bebannya perlu dibagi. Mungkin ekspektasi perlu disesuaikan. Mungkin ia perlu mengatakan no terhadap beberapa hal. Dan terkadang kita perlu menjadi orang yang berkata, “Untuk musim ini, lakukan lebih sedikit. Jaga dirimu dan keluargamu. Beristirahatlah. We’ll be okay.”

Kita perlu membangun rhythm yang sehat antara serving and resting, giving and receiving, pouring out and being filled again. Jangan menciptakan budaya seolah-olah orang yang selalu tersedia adalah orang yang paling committed. Ada musim untuk memberikan lebih banyak, tetapi ada juga musim untuk mengurangi tanggung jawab dan memulihkan diri.

Tujuan kita bukan hanya membuat pekerjaan terus berjalan. Kita ingin orang-orang yang mengerjakannya tetap sehat sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dan panggilan mereka untuk jangka panjang.

Don’t burn good people to build a great organization.

A healthy organization doesn’t just care about the health of the work. It cares about the health of the people doing the work.

3. Appreciate Their Contribution

Never take faithful people for granted.

Salah satu hal yang mudah terjadi ketika seseorang sudah lama bersama kita adalah kita mulai terbiasa dengan kontribusinya. Kita tahu ia akan datang tepat waktu. Kita tahu tugasnya akan selesai. Kita tahu ketika ada kebutuhan, ia akan membantu. Sesuatu yang dahulu membuat kita sangat bersyukur perlahan menjadi sesuatu yang kita anggap biasa.

Padahal di balik setiap kontribusi selalu ada sesuatu yang diberikan. Ada waktu, tenaga, pikiran, persiapan, dan sering kali pengorbanan yang tidak kita lihat. Seseorang mungkin harus mengatur ulang jadwalnya, meninggalkan kenyamanan, menggunakan waktu bersama keluarga, atau tetap hadir ketika sebenarnya ia sedang lelah. Apa yang bagi kita terlihat seperti “semuanya berjalan seperti biasa” sering kali terjadi karena ada orang-orang yang dengan setia terus memberikan yang terbaik.

Karena itu, taking care of our people juga berarti tidak menganggap kontribusi mereka sebagai sesuatu yang otomatis.

Belajarlah untuk memperhatikan dan mengucapkan terima kasih. Bukan hanya ketika seseorang melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi juga untuk hal-hal sederhana yang dilakukan dengan setia. Hargai konsistensi, attitude, kerelaan membantu, kemauan belajar, pekerjaan yang dilakukan di belakang layar, dan kesediaan melakukan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah mendapatkan perhatian.

Celebrate faithfulness, not only excellence.

Excellence memang penting dan kita perlu terus membangun standar yang tinggi. Tetapi jangan sampai standar yang tinggi membuat kita hanya melihat apa yang masih kurang. Ada pemimpin yang sangat cepat menemukan kesalahan, tetapi sangat lambat memberikan penghargaan. Ketika sesuatu berjalan salah, mereka langsung berbicara. Ketika semuanya berjalan baik, mereka menganggap itulah yang memang seharusnya terjadi.

Jika seseorang hanya mendengar dari kita ketika ia melakukan kesalahan, lama-kelamaan ia dapat merasa bahwa semua yang telah dilakukannya dengan benar tidak pernah terlihat.

Karena itu, buatlah apresiasi menjadi sesuatu yang personal dan spesifik. Jangan hanya berkata, “Good job,” tetapi katakan apa yang kita hargai: “Thank you sudah selalu dapat diandalkan,” “Saya melihat bagaimana kamu tetap memberikan yang terbaik meskipun minggu ini sangat sibuk,” atau “Apa yang kamu lakukan mungkin tidak banyak terlihat, tetapi itu sangat berarti bagi tim ini.”

Apresiasi juga tidak harus menunggu acara khusus. Sebuah pesan singkat, percakapan setelah pelayanan, ucapan terima kasih di depan tim, merayakan sebuah milestone, atau sekadar berhenti sejenak untuk mengatakan, “I appreciate what you do,” dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.

Appreciation should not merely be a program. It should become a culture.

Orang-orang perlu mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan terlihat, dihargai, dan berarti. Jangan menunggu sampai seseorang berhenti, pindah, atau tidak lagi bersama kita baru kita menyadari betapa besar kontribusinya.

Never let someone’s consistency make you forget the cost of their contribution.

4. Invest in Their Growth

Develop them, not just deploy them.

Ada perbedaan antara deploying people dan developing people.

Deploying bertanya, “Di mana orang ini dapat kita tempatkan supaya ia dapat membantu pekerjaan kita?” Kita melihat kemampuan seseorang, menemukan kebutuhan yang sesuai, lalu memberinya tanggung jawab. Itu penting. Setiap organisasi perlu menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.

Tetapi developing mengajukan pertanyaan yang berbeda: “Who can this person become?”

Ketika kita sungguh-sungguh peduli kepada orang-orang yang dipercayakan kepada kita, kita tidak hanya memikirkan apa yang dapat mereka berikan kepada organisasi, tetapi juga apa yang dapat kita investasikan ke dalam kehidupan mereka.

Karena itu, jangan hanya memberikan pekerjaan. Berikan kesempatan untuk bertumbuh. Ajarkan apa yang kita ketahui. Berikan coaching dan feedback. Libatkan mereka dalam percakapan yang dapat memperluas cara berpikir mereka. Berikan exposure kepada pengalaman baru. Percayakan tanggung jawab yang sedikit lebih besar dari kemampuan mereka saat ini sehingga mereka harus belajar dan berkembang.

Dan jangan hanya mengembangkan skill yang berguna bagi organisasi. Investasikan sesuatu yang akan tetap mereka bawa bahkan ketika suatu hari mereka tidak lagi bekerja atau melayani bersama kita.

Bantu mereka menjadi pemimpin yang lebih baik. Bangun karakter dan integritas mereka. Ajarkan bagaimana mengambil keputusan dengan bijaksana. Dorong mereka membangun keluarga yang sehat. Tolong mereka mengelola kehidupan dengan baik. Dan terutama dalam konteks pelayanan, bantu mereka semakin mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam kehidupan rohani mereka.

True development makes the person better, not merely the organization stronger.

Ini membutuhkan waktu. Jauh lebih cepat memberikan pekerjaan kepada orang yang sudah mampu daripada membangun seseorang sampai ia mampu. Lebih mudah mengerjakan sesuatu sendiri daripada mendampingi seseorang belajar melakukannya. Development membutuhkan percakapan, kesabaran, kesempatan, koreksi, dan terkadang membiarkan seseorang melakukan kesalahan.

Tetapi di situlah investasi seorang pemimpin terlihat. Kita bukan hanya sedang menyelesaikan pekerjaan hari ini. Kita sedang membangun orang untuk masa depan.

Suatu hari orang-orang yang kita pimpin mungkin tidak lagi berada dalam tim kita. Mereka mungkin pindah kota, berganti pekerjaan, membangun organisasi sendiri, atau memasuki musim kehidupan yang berbeda. Tetapi apa yang telah kita investasikan dalam kehidupan mereka dapat terus mereka bawa ke mana pun Tuhan membawa mereka.

Itulah salah satu ukuran terbaik dari kepemimpinan: bukan hanya apa yang berhasil kita bangun melalui people, tetapi apa yang berhasil kita bangun di dalam people.

Don’t just find a place for people to serve. Help them become the person God has called them to be.

5. Care Even When They Cannot Contribute

The real test of care comes when someone has nothing to offer.

Mungkin salah satu ujian terbesar untuk mengetahui apakah kita benar-benar peduli kepada seseorang adalah melihat bagaimana kita memperlakukannya ketika ia tidak lagi dapat memberikan sesuatu kepada kita.

Selama seseorang aktif, produktif, dan dapat diandalkan, sangat mudah untuk tetap dekat dengannya. Kita sering bertemu, berkomunikasi, melibatkannya dalam berbagai kegiatan, dan membutuhkan kontribusinya. Tetapi keadaan dapat berubah.

Seseorang bisa sakit. Pekerjaannya mungkin memasuki musim yang sangat sibuk. Ia mungkin perlu memberikan lebih banyak perhatian kepada keluarga. Ia mungkin mengalami kelelahan dan membutuhkan waktu untuk beristirahat. Performanya mungkin menurun. Atau sederhana saja, musim kehidupannya berubah sehingga ia tidak lagi dapat melayani seperti sebelumnya.

Apa yang terjadi dengan hubungan kita ketika itu terjadi?

Apakah kita masih menghubunginya ketika tidak ada jadwal yang perlu diisi? Apakah kita masih menanyakan kabarnya ketika tidak ada pekerjaan yang perlu diselesaikan? Apakah kita tetap mengajaknya hadir ketika ia tidak lagi memegang posisi? Apakah ia masih merasa menjadi bagian dari keluarga ketika untuk sementara waktu ia tidak dapat memberikan kontribusi apa pun?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena tanpa sadar hubungan dapat dibangun di sekitar function rather than relationship. Ketika fungsi berhenti, hubungan pun perlahan berhenti.

Dan orang dapat merasakannya.

Mereka tahu perbedaan antara seseorang yang menghubungi karena membutuhkan mereka dan seseorang yang menghubungi karena merindukan dan mempedulikan mereka. Mereka tahu apakah mereka dihargai sebagai pribadi atau hanya dihargai selama masih berguna.

Karena itu, ketika seseorang perlu berhenti melayani, jangan membuatnya merasa bersalah. Ketika seseorang memasuki musim yang berbeda, jangan membuatnya merasa telah mengecewakan kita. Ketika seseorang tidak lagi dapat memberikan seperti dahulu, jangan biarkan perhatian kita ikut menghilang.

Justru dalam musim seperti itulah care menjadi paling berarti.

Kunjungi ketika mereka sakit. Hubungi ketika mereka sedang beristirahat. Tetap libatkan mereka dalam hubungan sekalipun tidak dalam tanggung jawab. Rayakan kehidupan mereka, bukan hanya pelayanan mereka. Biarkan mereka mengetahui bahwa mereka tidak harus terus menghasilkan sesuatu untuk tetap memiliki tempat di antara kita.

Inilah yang membedakan relationship dari sekadar transaction. Transaction bertahan selama kedua pihak masih saling membutuhkan. Relationship dapat tetap bertahan bahkan ketika untuk sementara waktu tidak ada sesuatu yang dapat diberikan.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak mengetahui seberapa tulus kita menghargai seseorang ketika ia sedang memberikan banyak kepada kita. Kita mengetahuinya ketika ia tidak lagi dapat memberikan apa-apa—dan kita tetap memilih untuk hadir, peduli, dan berjalan bersamanya.

We discover how much we truly value people when they have nothing to offer us.

Make Care a Culture

Pada akhirnya, taking care of our people tidak terjadi melalui sebuah program. Itu terjadi melalui relationship.

Karena itu, mulailah dengan sungguh-sungguh mengenal orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan hanya tahu kapan mereka bertugas, apa kemampuan mereka, atau tanggung jawab apa yang mereka pegang. Kenali kehidupan mereka. Ketahui keluarganya. Tanyakan bagaimana pekerjaannya. Dengarkan pergumulannya. Rayakan sukacitanya. Ketahui musim kehidupan yang sedang mereka jalani.

Dan jangan hanya mengenal mereka dari kejauhan. Hadir dalam hidup mereka. Ada saatnya sebuah pesan singkat sudah cukup. Tetapi ada saatnya kita perlu menyediakan waktu untuk duduk dan mendengarkan, makan bersama, datang ketika mereka sakit, hadir dalam momen penting keluarga mereka, atau menemani ketika mereka sedang melewati masa yang sulit. Care becomes meaningful when people experience our presence.

Tetapi semua itu harus lahir dari ketulusan. Orang dapat merasakan perbedaan antara perhatian yang dilakukan karena kewajiban kepemimpinan dan perhatian yang lahir karena kita sungguh-sungguh peduli. Jangan membangun relationship hanya supaya orang tetap committed kepada organisasi. Jangan peduli kepada mereka supaya mereka semakin loyal kepada kita. Care is not a leadership technique. Care is a genuine concern for people.

Dan jangan biarkan care hanya bergantung pada beberapa pemimpin yang memang secara alami relational. Jadikan care sebagai budaya. Ajarkan setiap leader untuk mengenal orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Bangun kebiasaan untuk bertanya, mendengarkan, memperhatikan, menghargai, dan hadir. Biarkan orang-orang yang masuk ke dalam tim kita merasakan, “Di sini saya bukan hanya dibutuhkan. Saya dikenal. Saya diperhatikan. Saya dihargai.”

Kita memang mempunyai sebuah mission untuk dikerjakan. Kita ingin membangun sesuatu yang besar dan berarti. Tetapi di tengah semua yang sedang kita bangun, jangan sampai kita kehilangan orang-orang yang Tuhan percayakan untuk berjalan bersama kita.

Build the mission, but take good care of the people who are building it with you.

Karena pada akhirnya, salah satu tanda terbaik dari budaya yang sehat bukan hanya seberapa banyak yang berhasil kita capai bersama, tetapi apakah orang-orang dapat berkata:

“I came here to serve, but somewhere along the way, I found people who genuinely cared about my life.”

Tinggalkan komentar