MENABUR DI TENGAH MUSIM KEKERINGAN

Kej.26:1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. –Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. (2) Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. (3) Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.

Kej.26:12–13 (TB) “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”

Ada sesuatu yang menarik dari kisah Ishak dalam Kejadian 26. Ia menabur bukan ketika keadaan sedang ideal, tetapi justru ketika negeri itu sedang mengalami kelaparan.

Secara manusia, kelaparan bukanlah waktu yang masuk akal untuk menabur. Tanah kering, air terbatas, dan hasil panen tidak dapat dipastikan. Dalam keadaan seperti itu, pilihan yang paling aman adalah menunggu. Simpan benih. Kurangi risiko. Jangan melakukan apa-apa sampai keadaan membaik.

Tetapi Ishak melakukan sesuatu yang berbeda.

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu…”

Ishak tidak dapat mengendalikan musim, tetapi ia dapat menentukan responsnya terhadap musim tersebut. Ia tidak dapat membuat hujan turun, tetapi ia dapat menabur. Ia tidak membiarkan keadaan yang tidak ideal membuatnya berhenti melakukan apa yang masih dapat ia lakukan.

Kisah ini memberikan kepada kita sebuah prinsip penting: kita mungkin tidak dapat menentukan musim kehidupan, tetapi kita dapat menentukan apa yang kita lakukan di dalam musim tersebut.

1. Menabur Adalah Sebuah Keputusan

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu…”

Kelaparan adalah keadaan yang tidak dipilih Ishak, tetapi menabur adalah keputusan yang dibuat Ishak.

Ishak tidak dapat menghentikan kelaparan, membuat hujan turun, atau memastikan keadaan segera membaik. Tetapi ia tetap dapat menentukan bagaimana ia akan merespons keadaan tersebut. Ia dapat menyimpan benihnya dan menunggu sampai keadaan lebih aman, atau ia dapat mengambil risiko dan menabur. Ishak memilih untuk menabur.

Dalam kehidupan, kita juga akan menghadapi banyak keadaan yang tidak dapat kita pilih. Kita tidak dapat menentukan keadaan ekonomi, perubahan pasar, keputusan orang lain, atau berbagai situasi yang tiba-tiba terjadi. Tetapi sekalipun kita tidak dapat memilih setiap keadaan yang kita hadapi, kita tetap dapat memilih keputusan apa yang akan kita ambil di dalamnya.

Pengkhotbah 11:4 (BIS) berkata, “Siapa menunggu sampai angin dan cuaca sempurna, tak akan menanam dan tidak pula memetik hasilnya.”

Sering kali kita menunda sebuah keputusan karena menunggu keadaan menjadi ideal. Kita menunggu sampai lebih siap, lebih aman, lebih pasti, atau lebih mudah. Padahal jika kita terus menunggu kondisi yang sempurna, kita mungkin tidak pernah mulai menabur.

Banyak hal dalam kehidupan tidak terjadi dengan sendirinya. Pertumbuhan tidak terjadi hanya karena kita menginginkannya. Masa depan tidak berubah hanya karena kita berharap sesuatu akan menjadi lebih baik. Pada titik tertentu, keinginan harus berubah menjadi keputusan.

Kita harus memutuskan untuk mulai belajar jika ingin bertumbuh. Memutuskan untuk mengelola keuangan dengan lebih baik jika ingin membangun masa depan. Memutuskan untuk mengambil kesempatan ketika kesempatan itu datang. Memutuskan untuk memperbaiki hubungan ketika hubungan mulai menjauh. Bahkan terkadang kita harus memutuskan untuk memulai sesuatu yang sudah terlalu lama hanya menjadi rencana.

Dan keputusan itu sering kali harus dibuat sebelum kita mengetahui bagaimana hasil akhirnya. Ketika Ishak menabur, ia belum tahu bahwa ia akan mendapat hasil seratus kali lipat. Tetapi satu hal pasti: kalau ia tidak menabur, tidak akan ada yang dapat dituai.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang ingin saya tuai?” Tanyakan juga, “Keputusan apa yang harus saya buat hari ini untuk mulai menabur ke arah itu?”

Sebab setiap panen mempunyai sebuah titik awal: sebuah keputusan untuk menabur.

The harvest we want tomorrow begins with the decision to sow today.

2. Menabur Adalah Tentang Bekerja Keras

Menabur bukan hanya sebuah keputusan. Menabur membutuhkan kerja keras.

Di zaman Ishak, menabur berarti turun ke ladang, mempersiapkan tanah, membawa benih, menyebarkannya, merawat tanaman, dan terus bekerja sampai waktunya panen. Apalagi Ishak melakukannya di tengah kelaparan, ketika sumber daya terbatas dan hasil sama sekali tidak dapat dipastikan.

Kita sering tertarik kepada bagian akhir kisah Ishak:

“…dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat…”

Tetapi sebelum Alkitab berbicara tentang hasil seratus kali lipat, ada satu kalimat yang tidak boleh kita lewatkan:

“Maka menaburlah Ishak…”

Sebelum ada panen, selalu ada musim menabur.

Kita tidak akan menuai dari apa yang tidak pernah kita tabur. Tidak peduli seberapa besar kita menginginkan panen, keinginan tidak dapat menggantikan proses menabur. Seorang petani dapat membayangkan panen yang besar, berdoa untuk panen yang besar, bahkan mempersiapkan lumbung untuk panen yang besar. Tetapi kalau tidak ada benih yang ditaburkan ke tanah, tidak akan ada sesuatu yang dapat dituai.

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan. Kita tidak dapat mengharapkan kompetensi yang tidak pernah kita bangun, keberhasilan dari pekerjaan yang tidak pernah kita kerjakan, kesehatan finansial tanpa disiplin mengelola uang, atau hubungan yang kuat tanpa waktu dan perhatian yang kita investasikan.

Banyak orang ingin menuai, tetapi tidak mau menabur.

Inilah salah satu tantangan ketika kita bertumbuh dalam keadaan yang serba berkecukupan. Ketika kita terbiasa menikmati hasil yang sudah tersedia, kita dapat kehilangan pemahaman bahwa di balik setiap panen selalu ada seseorang yang pernah menabur dan bekerja keras.

Akibatnya, kita ingin cepat berhasil tanpa menjalani proses. Kita ingin posisi tanpa memulai dari bawah, penghasilan besar tanpa membangun kompetensi, kesempatan tanpa terlebih dahulu membuktikan diri dapat dipercaya. Kita ingin menikmati apa yang telah dibangun generasi sebelumnya, tetapi tidak memiliki etos kerja yang membuat mereka mampu membangunnya.

Jangan menginginkan keberhasilan, tanpa mau bekerja keras.

Jangan sampai kemudahan yang kita terima membuat kita kehilangan kemampuan untuk bekerja keras dan berjuang.

The world celebrates instant success. God teaches a timeless principle: what you sow, you will reap.

3. Menabur Adalah Tindakan Iman

Ishak tidak menabur di musim yang ideal. Ia menabur di tengah kelaparan. Inilah yang membuat tindakannya bukan sekadar kerja keras, tetapi sebuah tindakan iman.

Kelaparan mengatakan tanah ini tidak menjanjikan. Keadaan mengatakan risikonya terlalu besar. Logika manusia mungkin mengatakan lebih baik simpan benih dan tunggu sampai keadaan berubah. Tetapi Ishak tetap menabur.

Mengapa?

Karena Ishak percaya bahwa yang menentukan masa depannya bukanlah musim yang sedang ia hadapi, tetapi Tuhan yang memegang hidupnya.

Sebelumnya Tuhan telah berkata kepadanya, “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau” (Kejadian 26:3, TB). Jadi ketika Ishak menabur, ia tidak sedang bertindak berdasarkan keadaan yang dilihatnya, tetapi berdasarkan Tuhan yang dipercayainya.

Iman membuat kita berani menabur sekalipun keadaan belum berubah.

Ketika seorang petani menabur, ia melakukan apa yang menjadi bagiannya, tetapi ia juga menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak berada dalam kendalinya. Ia dapat mempersiapkan tanah dan menaburkan benih, tetapi ia tidak dapat memerintahkan hujan turun atau membuat benih itu bertumbuh.

Demikian juga dengan kehidupan. Kita dapat membuat perencanaan, bekerja keras, membangun bisnis, mengembangkan karier, mendidik anak-anak, dan mengelola keuangan dengan sebaik mungkin. Kita bertanggung jawab melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Tetapi kita tidak pernah memegang kendali atas semuanya.

Di situlah iman menjadi penting.

Iman bukanlah keyakinan bahwa semua keadaan akan berjalan seperti yang kita inginkan. Iman adalah keyakinan bahwa sekalipun kita tidak memegang kendali atas keadaan, Tuhan tetap memegang kendali atas hidup kita.

Karena itu, kita tetap dapat menabur ketika keadaan belum ideal. Kita tetap dapat melangkah ketika masa depan belum sepenuhnya jelas. Kita tetap dapat melakukan apa yang benar ketika hasilnya belum terlihat. Bukan karena kita yakin kepada keadaan, tetapi karena kita percaya kepada Tuhan.

Ishak menabur di tengah kelaparan karena ia tahu: kelaparan bukanlah penentu terakhir dari hidupnya. Tuhanlah yang memegang kendali.

The world is ruled by circumstances. Faith is anchored in the God who rules over them.

Penutup:

Kej.26:12–13 (TB) “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”

Susunan yang sangat menarik: “Dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat…” lalu, “…bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”

Tetapi di antara kedua pernyataan keberhasilan itu, Alkitab menempatkan sebuah kalimat yang sangat penting: “…sebab ia diberkati TUHAN.”

Ishak memang menabur.
Ishak mengambil inisiatif.
Ishak bekerja keras.
Ishak melangkah dengan iman.

Tetapi Alkitab menjelaskan mengapa semua itu menghasilkan keberhasilan yang luar biasa, Alkitab membawa perhatian kita kembali kepada Tuhan:

“…sebab ia diberkati TUHAN.”

Ini menjaga kita dari dua ekstrem. Kita tidak menjadi pasif dengan berkata, “Kalau Tuhan mau memberkati, saya tidak perlu melakukan apa-apa.” Tetapi kita juga tidak menjadi sombong dengan berkata, “Semua ini terjadi karena kemampuan dan kerja keras saya.”

  • Kita menabur karena itu tanggung jawab kita.
  • Kita bekerja keras karena itu bagian kita.
  • Kita mengambil inisiatif karena kita tidak mau hidup pasif.
  • Kita melangkah dengan iman karena kita percaya Tuhan memegang kendali.

Tetapi ketika panen itu akhirnya datang, jangan pernah lupa dari mana berkat itu berasal.

Kemampuan kita adalah pemberian Tuhan. Kesempatan yang terbuka adalah pemberian Tuhan. Orang-orang yang menolong perjalanan kita adalah pemberian Tuhan. Kesehatan, kekuatan, hikmat, timing, bahkan banyak hal yang tidak pernah kita lihat di balik keberhasilan kita—semuanya adalah anugerah Tuhan.

Karena itu, keberhasilan seharusnya tidak membuat kita semakin merasa hebat. Keberhasilan seharusnya membuat kita semakin bersyukur dan semakin rendah hati.

Kita tetap harus menabur.
Kita tetap harus bekerja.
Kita tetap harus mengambil inisiatif.
Kita tetap harus melangkah dengan iman.

Tetapi ketika panen datang, ingatlah: kita menabur, tetapi Tuhanlah yang memberi pertumbuhan.

Work as though sowing is our responsibility. Live knowing that the harvest is ultimately God’s grace.

Tinggalkan komentar