Ada orang yang ketika melihat masalah langsung berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?” Namun ada juga yang melihat masalah yang sama dan berpikir, “Kita lihat saja nanti bagaimana.” Ada orang yang melihat sesuatu perlu dikerjakan lalu mengambil inisiatif. Ada yang menunggu sampai diminta. Ada yang melihat kesempatan lalu bergerak. Ada juga yang terus menunggu keadaan menjadi lebih baik.
Perbedaannya sering kali bukan pada kemampuan, kecerdasan, atau bahkan pengalaman. Perbedaannya terletak pada cara seseorang merespons kehidupan. Orang yang pasif cenderung menunggu sesuatu terjadi. Orang yang proaktif menyadari bahwa sekalipun tidak dapat mengendalikan semua yang terjadi, ia tetap dapat menentukan apa yang akan dilakukannya.
Passive people wait for something to happen. Proactive people ask what they can make happen.
Menariknya, kecenderungan untuk pasif sebenarnya sangat manusiawi. Menunggu terasa lebih aman daripada mengambil langkah. Mengikuti lebih mudah daripada memulai. Mengeluh tentang keadaan lebih ringan daripada mengambil tanggung jawab untuk mengubah sesuatu.
Lalu, mengapa banyak orang menjadi pasif?
1. Kita Takut Salah atau Gagal
Salah satu penghambat terbesar dari inisiatif adalah ketakutan akan kegagalan.
Ketika mengambil tindakan, kita membuka kemungkinan untuk salah. Ide kita mungkin ditolak. Keputusan kita mungkin dikritik. Usaha kita mungkin tidak berhasil. Karena itu, tanpa sadar kita memilih jalan yang terasa lebih aman: tidak melakukan apa-apa.
Selama kita tidak mencoba, kita tidak akan gagal. Selama kita tidak mengusulkan sesuatu, ide kita tidak akan ditolak. Selama kita tidak mengambil keputusan, kita tidak dapat disalahkan atas keputusan tersebut.
Masalahnya, kehidupan tidak bergerak maju melalui orang-orang yang hanya berusaha menghindari kesalahan. Hampir setiap pertumbuhan membutuhkan keberanian untuk mencoba sesuatu yang hasilnya belum sepenuhnya kita ketahui.
Proaktif bukan berarti bertindak sembarangan. Proaktif berarti memiliki keberanian untuk mengambil langkah yang bertanggung jawab sekalipun tidak ada jaminan bahwa semuanya akan berjalan sempurna.
The fear of making mistakes often produces the bigger mistake of doing nothing.
2. Kita Terbiasa Menunggu Instruksi
Sejak kecil banyak dari kita dibentuk untuk menjadi good followers. Kita belajar mengerjakan apa yang diminta, mengikuti petunjuk, dan memenuhi ekspektasi.
Semua itu tentu penting. Kemampuan mengikuti instruksi adalah bagian dari kedisiplinan. Namun masalah muncul ketika kita hanya mampu bergerak ketika ada seseorang yang memberi perintah.
Di tempat kerja, misalnya, seseorang dapat menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan baik, tetapi tidak pernah bertanya, “Apa lagi yang dapat saya lakukan?” Ia menjadi sangat baik dalam following instructions, tetapi tidak berkembang dalam taking initiative.
Padahal semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin sedikit ia dapat bergantung pada instruksi.
Seorang pemimpin tidak selalu memiliki seseorang di atasnya yang berkata, “Sekarang lakukan ini.” Ia harus mampu melihat kebutuhan, membaca situasi, menemukan masalah, dan mengambil langkah.
Maturity begins when we stop asking only, “What am I supposed to do?” and start asking, “What needs to be done?”
3. Kita Tidak Memiliki Ownership
Ada perbedaan besar antara mengerjakan sebuah pekerjaan dan merasa memiliki pekerjaan tersebut.
Ketika kita hanya merasa sebagai pelaksana, kita akan berpikir, “Saya sudah mengerjakan bagian saya.” Namun ketika memiliki ownership, pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang seharusnya terjadi?”
Bayangkan seseorang berjalan melewati sebuah ruangan dan melihat sampah di lantai. Orang yang tidak memiliki ownership mungkin berpikir, “Itu bukan tugas saya.” Orang yang memiliki ownership berpikir, “Ini tempat kita,” lalu mengambilnya.
Perbedaannya sederhana, tetapi sangat menentukan budaya sebuah keluarga, perusahaan, gereja, maupun organisasi.
Orang dengan ownership tidak terlalu sibuk menentukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Ia melihat sesuatu yang dapat diperbaiki dan bertanya apa yang dapat ia lakukan.
4. Kita Tidak Menyadari Bahwa Kita Selalu Memiliki Pilihan
Orang yang pasif biasanya berfokus pada hal-hal yang tidak dapat dikendalikannya.
Ekonomi sedang sulit. Atasan tidak mendukung. Tim kurang bagus. Kompetitor semakin banyak. Kesempatan belum datang. Orang lain belum berubah. Semua itu mungkin benar. Namun ketika seluruh perhatian kita diberikan kepada hal-hal yang berada di luar kendali, perlahan-lahan kita kehilangan kemampuan untuk melihat apa yang sebenarnya masih dapat kita lakukan.
Orang proaktif tidak menyangkal kenyataan. Ia hanya menolak memberikan seluruh kendali hidupnya kepada kenyataan tersebut. Ia bertanya: “Apa yang masih berada dalam kendali saya?” Saya mungkin tidak dapat mengubah ekonomi, tetapi saya dapat meningkatkan kualitas pekerjaan saya. Saya mungkin tidak dapat mengubah orang lain, tetapi saya dapat memperbaiki cara saya berkomunikasi. Saya mungkin tidak dapat menciptakan kesempatan besar hari ini, tetapi saya dapat mempersiapkan diri ketika kesempatan itu datang.
Kita mungkin tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita selalu memiliki ruang untuk memilih bagaimana kita meresponsnya.
You cannot prevent the birds from flying over your head, but you can prevent them from building nests in your hair.
5. Kita Menghindari Tanggung Jawab
Proaktif selalu membawa konsekuensi: responsibility. Begitu kita mengambil inisiatif, kita juga harus bersedia mempertanggungjawabkan hasilnya.
Karena itu jauh lebih aman mengatakan, “Saya hanya menjalankan instruksi.” Jika hasilnya buruk, kita dapat mengatakan bahwa keputusan tersebut bukan keputusan kita.
Seseorang tidak harus memiliki jabatan untuk mulai berpikir seperti pemimpin. Leadership dimulai ketika seseorang bersedia mengambil tanggung jawab terhadap sesuatu yang sebenarnya bisa saja ia abaikan.
RESPONSIBILITY BEGINS WITH ME
6. Kita Menunggu Sampai Keadaan Memaksa Kita Bergerak
Banyak orang sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan.
Kita tahu harus mulai menjaga kesehatan. Kita tahu harus memperbaiki hubungan. Kita tahu ada sistem dalam pekerjaan yang perlu diperbaiki. Kita tahu harus belajar sesuatu yang baru. Kita tahu ada percakapan penting yang harus dilakukan.
Tetapi kita menundanya.
Mengapa? Karena belum cukup mendesak.
Kita sering baru berubah ketika rasa sakit karena tidak berubah menjadi lebih besar daripada ketidaknyamanan untuk berubah.
Kesehatan memburuk, baru kita mulai menjaga tubuh. Hubungan hampir rusak, baru kita mulai berkomunikasi. Bisnis mulai tertinggal, baru kita melakukan inovasi. Masalah sudah besar, baru kita mencari solusi.
Orang proaktif belajar bergerak sebelum keadaan memaksanya bergerak.
Don’t wait for a crisis to do what wisdom has already told you to do.
HOW TO BECOME PROACTIVE
Kabar baiknya, proaktif bukanlah personality yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Seseorang tidak harus ekstrovert, agresif, cepat berbicara, atau selalu berada di depan untuk menjadi proaktif.
Proaktif adalah mindset dan kebiasaan yang dapat dikembangkan.
Salah satu gambaran menarik tentang sikap ini dapat kita temukan dalam kehidupan bani Isakhar.
“Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik, sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel…”
1 Tawarikh 12:32 (TB)
Ayat ini muncul ketika berbagai suku Israel datang kepada Daud di Hebron. Israel sedang berada dalam sebuah masa transisi penting. Saul telah meninggal dan kepemimpinan Daud sedang diteguhkan. Dalam situasi seperti itu, bani Isakhar disebut secara khusus sebagai orang-orang yang memahami zaman dan mengetahui apa yang harus dilakukan Israel.
Ada dua kemampuan yang berjalan bersama: Mereka memahami apa yang sedang terjadi, dan mereka mengetahui apa yang harus dilakukan.
Proaktif membutuhkan kemampuan untuk melihat, memahami, lalu bertindak.
Proactive is not about moving fast. It’s about seeing what others miss, understanding what others overlook, and acting while others wait.
Bagaimana kita dapat mengembangkan pola hidup seperti ini?
1. Fokus pada Apa yang Dapat Kita Kendalikan
Salah satu penyebab terbesar sikap pasif adalah terlalu banyak memberikan perhatian kepada hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Kita tidak dapat mengendalikan keadaan ekonomi. Kita tidak dapat mengendalikan keputusan orang lain. Kita tidak dapat memastikan bahwa setiap rencana berjalan sesuai harapan. Bahkan kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Tetapi selalu ada sesuatu yang masih dapat kita kendalikan: respons kita, sikap kita, persiapan kita, keputusan kita, dan langkah berikutnya yang kita ambil.
Karena itu, ketika menghadapi keadaan yang sulit, daripada terus berfokus pada mengapa hal itu terjadi atau mengapa orang lain tidak melakukan sesuatu, arahkan perhatian kita kepada apa yang masih dapat kita lakukan dalam keadaan tersebut. Pergeseran sederhana ini membawa kita keluar dari posisi sebagai korban keadaan dan menolong kita mengambil tanggung jawab atas respons serta langkah yang masih dapat kita ambil.
We cannot control everything around us, but we can always take responsibility for what is within us.
2. Jangan Menunggu Disuruh
Biasakan melihat apa yang perlu dilakukan tanpa selalu menunggu seseorang memberikan instruksi.
Jika melihat masalah, pikirkan solusinya. Jika melihat sesuatu yang dapat diperbaiki, usulkan perbaikan. Jika mengetahui ada pekerjaan yang perlu diselesaikan dan kita memiliki kemampuan untuk mengerjakannya, ambillah langkah.
Ini bukan berarti melangkahi otoritas atau bertindak tanpa koordinasi. Proaktif tetap membutuhkan wisdom dan accountability. Tetapi ada perbedaan besar antara menunggu izin untuk setiap hal kecil dan memiliki inisiatif untuk membawa solusi.
Daripada datang kepada pemimpin hanya dengan mengatakan, “Kita punya masalah,” belajarlah mengatakan: “Kita punya masalah. Saya melihat ada beberapa kemungkinan solusi. Menurut saya, kita dapat mulai dari sini.”
Kita sedang berpindah dari sekadar problem reporter menjadi problem solver.
The difference between followers and leaders is often simple: one waits to be told, the other sees what needs to be done.
3. Bangun Ownership
Ownership adalah sikap merasa ikut bertanggung jawab.
Ketika melihat sesuatu yang perlu diperbaiki, orang dengan ownership tidak hanya berpikir, “Siapa yang seharusnya mengurus ini?” Ia memiliki kesadaran, “Saya juga punya bagian untuk membuat keadaan ini lebih baik.”
Karena itu, ownership mengubah cara kita melihat apa yang terjadi di sekitar kita. Ketika melihat pelanggan yang kecewa, kita tidak sekadar melewatinya karena itu bukan bagian kita. Ketika melihat proyek mulai tertinggal, kita tidak hanya menunggu orang lain menyadarinya. Ketika melihat sesuatu yang perlu dibereskan di rumah, kita tidak sibuk menentukan siapa yang seharusnya melakukannya. Kita melihat kebutuhan dan merasa ikut bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu.
Merasa ikut bertanggung jawab bukan berarti kita harus mengerjakan semuanya sendiri. Kadang bagian kita adalah langsung mengambil tindakan. Kadang kita perlu mengajak orang lain. Kadang cukup dengan menyampaikan masalah tersebut kepada orang yang tepat dan memastikan ada tindak lanjut. Yang penting, kita tidak melihat masalah sebagai sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita.
Semakin besar ownership seseorang, semakin besar pula inisiatifnya. Sebab ketika kita merasa ikut memiliki, kita tidak perlu selalu menunggu diminta untuk peduli dan bertindak.
Ownership doesn’t mean everything is your responsibility; it means you care enough to make sure things are as they should be.
4. Ambil Inisiatif untuk Memulai
Salah satu ciri orang proaktif adalah kesediaan untuk mengambil langkah pertama tanpa menunggu orang lain memulainya. Banyak hal sebenarnya sudah diketahui perlu dilakukan, tetapi semua orang menunggu. Menunggu seseorang mengangkat masalahnya, menunggu seseorang mengusulkan idenya, menunggu seseorang memulai percakapannya, atau menunggu seseorang mengambil keputusan.
Inisiatif berarti kita bersedia menjadi orang yang memulai. Ketika melihat sesuatu yang perlu dibicarakan, kita membuka percakapan. Ketika melihat sebuah ide yang layak dikembangkan, kita mulai mencari informasi. Ketika melihat peluang, kita melakukan langkah awal untuk mengeksplorasinya. Ketika sebuah tim membutuhkan arah, kita tidak hanya menunggu, tetapi mulai membantu menggerakkan prosesnya.
Mengambil inisiatif tidak berarti bertindak gegabah atau melangkahi otoritas. Kita tetap membutuhkan wisdom, koordinasi, dan batas kewenangan yang sehat. Namun kita tidak menjadikan semuanya sebagai alasan untuk terus menunggu. Ada saatnya kita berhenti bertanya “Siapa yang akan memulai?” dan bersedia menjadi orang yang mengambil langkah pertama.
Sering kali sebuah perubahan besar tidak dimulai oleh orang yang memiliki semua jawaban, tetapi oleh seseorang yang bersedia mengambil langkah pertama ketika yang lain masih menunggu.
“Initiative is the courage to take the first step while others are still waiting for someone to start.”
5. Bertindak Sebelum Menjadi Mendesak
Salah satu tanda kedewasaan adalah kemampuan melakukan sesuatu sebelum keadaan memaksa kita melakukannya.
Orang pasif biasanya bergerak karena tekanan. Orang proaktif bergerak karena kesadaran.
Kita menjaga kesehatan sebelum sakit. Kita memperbaiki hubungan sebelum rusak. Kita mengembangkan kompetensi sebelum tertinggal. Kita menabung sebelum krisis datang. Kita membangun sistem sebelum masalah menjadi besar.
Inilah salah satu perbedaan penting antara reactive dan proactive. Reactive bertanya, “Apa yang harus kita lakukan sekarang karena masalah sudah terjadi?” Proactive bertanya, “Apa yang perlu kita lakukan sekarang supaya kita siap menghadapi apa yang akan datang?”
Reactive people respond to problems. Proactive people prepare for possibilities.
Jangan menunggu pain menciptakan urgency terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui penting. Secara berkala tanyakan: “Jika saya terus melakukan apa yang saya lakukan sekarang, masalah apa yang kemungkinan akan muncul enam bulan atau satu tahun dari sekarang?”
Choose to Be Proactive
Pada akhirnya, kehidupan akan selalu menghadirkan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Kita tidak dapat menentukan setiap keadaan, keputusan orang lain, atau perubahan yang terjadi di sekitar kita. Tetapi kita selalu dapat menentukan bagaimana kita akan meresponsnya.
Jangan menjalani hidup hanya sebagai penonton yang menunggu keadaan berubah, kesempatan datang, atau seseorang mengambil tindakan lebih dahulu. Jadilah pribadi yang melihat kebutuhan dan memilih untuk peduli, melihat masalah dan mencari apa yang dapat dilakukan, melihat kesempatan dan berani mengambil langkah.
Mungkin kita tidak dapat memperbaiki semuanya. Mungkin kita juga tidak memiliki semua jawaban. Tetapi hampir selalu ada sesuatu yang dapat kita lakukan hari ini. Sebuah langkah kecil. Sebuah percakapan yang perlu dimulai. Sebuah keputusan yang perlu dibuat. Sebuah masalah yang perlu kita bantu selesaikan.
Dunia tidak kekurangan orang yang dapat melihat apa yang salah. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang melihat apa yang perlu dilakukan dan bersedia mengambil bagian untuk membuatnya menjadi lebih baik.
Jadilah seperti bani Isakhar—mampu memahami apa yang sedang terjadi, memiliki wisdom untuk mengetahui apa yang perlu dilakukan, dan keberanian untuk mengambil langkah.
“Don’t just watch what happens. Become someone who helps shape what happens next.”