Dalam kehidupan iman, ada ketegangan yang tidak bisa dihindari: kita hidup di tengah kenyataan, tetapi kita dipanggil untuk berjalan oleh iman. Pertanyaannya bukan apakah kita melihat realita, melainkan bagaimana kita melihatnya.
Dalam Kitab Kejadian 13:14–15, setelah Abram berpisah dari Lot dan tampaknya kehilangan bagian terbaik tanah itu, Tuhan berfirman kepadanya: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah…”
Perintah itu sederhana, tetapi sangat dalam. Tuhan tidak langsung mengubah situasi Abram. Tanah itu belum menjadi miliknya. Ia belum memiliki keturunan. Orang Kanaan masih diam di negeri itu. Secara objektif, tidak ada yang berubah.
Namun justru di tengah realita itulah Tuhan berbicara tentang penglihatan.
Ini menunjukkan bahwa iman Alkitab bukanlah penyangkalan terhadap kenyataan. Tuhan tidak menyuruh Abram menutup mata. Ia menyuruhnya mengangkat mata. Ada perbedaan besar antara menghindari realita dan memandangnya dengan perspektif yang diperbarui oleh janji Allah.
Memandang berarti berani melihat keadaan apa adanya.
Melihat dengan iman berarti menangkap maksud Allah di balik keadaan itu.
Artikel ini akan menelusuri bagaimana Kejadian 13 mengajarkan kita untuk hidup dalam ketegangan yang sehat: jujur terhadap kenyataan, tetapi tidak dibatasi oleh kenyataan; sadar akan situasi, tetapi digerakkan oleh janji; berdiri di tanah yang belum kita miliki, tetapi melihatnya sebagai warisan yang Tuhan sudah tetapkan.
1️⃣ “Pandanglah” — Mengangkat Perspektif
Dalam Kejadian 13:14, Tuhan berkata kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah…”
Kata “pandanglah” (Ibrani: nāśā’ ‘ênêkā) secara harfiah berarti mengangkat mata.
Ini bukan sekadar melihat secara fisik, tetapi:
- Mengangkat pandangan dari keadaan sekarang
- Mengalihkan fokus dari keterbatasan
- Keluar dari perspektif manusia menuju perspektif ilahi
Pada saat itu, Abraham baru saja berpisah dari Lot. Secara logika, ia tampak “kehilangan” bagian terbaik tanah itu. Secara manusia, ia mungkin merasa dirugikan.
Tetapi sebelum Tuhan memperluas wilayahnya,
Tuhan terlebih dahulu memperluas visinya.
Sebelum Tuhan mengubah keadaan, Dia sering mengubah cara kita memandang.
“Pandanglah” adalah undangan untuk:
- Tidak terjebak pada apa yang hilang
- Tidak terpaku pada konflik
- Tidak membiarkan situasi membatasi iman
Secara rohani: Iman selalu dimulai dari perspektif.
2️⃣ “Lihatlah” — Melihat dengan Keyakinan Iman
Kata “lihatlah” (Ibrani: rā’āh) berarti melihat dengan persepsi, memahami, menangkap realitas.
Dalam Kitab Kejadian 15:5 Tuhan membawa Abraham keluar dan berkata: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang itu…”
Di sini Tuhan bukan hanya menyuruh Abraham mengangkat mata,
tetapi membayangkan masa depan yang belum terlihat secara nyata.
Ini adalah penglihatan iman.
Ada perbedaan:
- “Pandanglah” → arahkan matamu.
- “Lihatlah” → tangkap dengan iman apa yang Aku janjikan.
Seseorang bisa memandang tanpa benar-benar melihat.
Bisa melihat secara fisik, tetapi tidak menangkap makna rohani.
Itulah sebabnya banyak orang hadir dalam kebaktian — tetapi tidak melihat apa yang Tuhan sedang lakukan.
Pandanglah dan Lihatlah — Dua Cara Melihat yang Berbeda
(Refleksi dari Kitab Kejadian 13:14–15)
Dalam Kejadian 13:14, Tuhan berkata kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah…”
Perintah ini sederhana, tetapi sangat dalam. Dua kata itu menunjukkan bahwa ada dua cara melihat dalam kehidupan iman.
Bukan dua objek yang berbeda,
tetapi dua dimensi dalam melihat hal yang sama.
1️⃣ “Pandanglah” — Angkat Matamu dan Hadapi Kenyataan
Kata Ibrani yang dipakai adalah nāśā’ ‘ênêkā — secara harfiah berarti “angkatlah matamu.”
Abraham melihat hamparan tanah yang kosong, tapi itulah tanah yang dijanjikan Tuhan.
“Pandanglah” adalah undangan untuk:
- Berani milihat realitas
- Tidak lari dari situasi
- Tidak hidup dalam penyangkalan
Orang yang memiliki visi besar tidak takut menghadapi realitas. Mereka tidak membangun masa depan di atas ilusi. Mereka selalu mulai dari kondisi yang sebenarnya.
Banyak orang tidak mengalami kemajuan karena mereka menghindari kenyataan. Mereka menunda keputusan, menyalahkan keadaan, atau berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Tetapi iman yang sehat selalu dimulai dengan kejujuran.
Kita tidak bisa bertumbuh jika kita tidak berani melihat di mana kita berdiri hari ini.
2️⃣ “Lihatlah” — Tafsirkan Kenyataan Melalui Janji Tuhan
Setelah Abram mengangkat matanya dan melihat tanah itu, Tuhan berkata:
“Seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu…” (Kej. 13:15)
Inilah dimensi kedua: melihat dengan iman.
Jika “pandanglah” berarti menghadapi realitas,
maka “lihatlah” berarti melihat realitas itu melalui janji Tuhan.
Secara fisik, Abram melihat tanah kosong.
Secara iman, ia melihat warisan.
Secara fisik, ia melihat keterbatasan.
Secara iman, ia melihat masa depan.
Ia bisa membayangkan:
- Perkampungan dan kota
- Ladang pertanian, bendungan
- Pelabuhan, sekolah
- Sebuah bangsa, seperti yang Tuhan janjikan
Closing
Hidup akan selalu menghadapkan kita pada kenyataan. Ada musim di mana kita melihat tanah yang masih kosong, janji yang belum terjadi, hasil yang belum terlihat. Di titik itulah kita membutuhkan dua cara melihat yang benar.
Kita harus berani pandanglah — angkat mata dan menghadapi kenyataan dengan jujur. Tidak lari. Tidak menyangkal. Tidak menyalahkan keadaan. Pertumbuhan selalu dimulai dari keberanian melihat posisi kita yang sebenarnya.
Tetapi kita juga harus belajar lihatlah — melihat kenyataan itu melalui janji Tuhan. Tanah kosong bukan akhir cerita. Situasi sulit bukan penentu terakhir. Apa yang hari ini terlihat biasa, di tangan Tuhan bisa menjadi masa depan yang luar biasa.
Tanpa “pandanglah,” kita hidup dalam ilusi.
Tanpa “lihatlah,” kita hidup dalam keputusasaan.
Iman yang dewasa adalah kemampuan untuk memegang keduanya sekaligus: jujur terhadap realita, tetapi penuh pengharapan terhadap janji.
Karena pada akhirnya, bukan hanya apa yang kita lihat yang menentukan hidup kita, tetapi bagaimana kita melihatnya.
Maka ketika Tuhan berkata, “Pandanglah dan lihatlah,” Ia sedang mengajar kita cara hidup oleh iman — berdiri di tanah yang nyata, tetapi melihat masa depan yang dijanjikan.