Bukan Sekadar Datang ke Gereja, Tetapi Menjadi Serupa Kristus dan Membawa Orang Lain Kepada-Nya
Banyak orang datang ke gereja, mengikuti ibadah, bahkan terlibat dalam pelayanan. Tetapi pertanyaan terpentingnya adalah: apakah hidup kita sedang bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus? Kekristenan bukan hanya tentang percaya kepada Yesus, tetapi tentang mengikuti Yesus setiap hari. Inilah yang disebut kemuridan.
Namun perjalanan tidak berhenti pada menjadi murid. Tuhan juga memanggil setiap orang percaya untuk memuridkan orang lain. Karena itu, kemuridan dan pemuridan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kita dipanggil untuk bertumbuh, dan sekaligus menolong orang lain bertumbuh.
IFGF sendiri memiliki misi:
“People is Our Mission. Connect with God and Make Disciples.”
Artinya, gereja bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat di mana orang diproses menjadi murid Kristus yang dewasa dan kemudian memuridkan orang lain.
Edmund Chan mendefinisikan pemuridan dengan sangat kuat:
“Pemuridan adalah proses membawa orang ke dalam hubungan yang benar dengan Tuhan, membangun mereka kepada kedewasaan penuh dalam Kristus, melalui strategi pertumbuhan yang disengaja, sehingga mereka bisa memultiplikasi seluruh proses ini di dalam diri orang lain juga.”
— Edmund Chan
Pemuridan bukan program singkat. Pemuridan adalah proses hidup.
Yesus sendiri memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya:
“Matius 28:18-19 Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.’”
Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata “jadikan semua bangsa pengunjung gereja,” tetapi “jadikan murid.” Fokus Yesus adalah transformasi hidup.
Kemuridan berbicara tentang menjadi seorang murid Kristus.
Pemuridan berbicara tentang proses memuridkan orang lain.
Seseorang tidak bisa memuridkan orang lain jika ia sendiri tidak sedang hidup sebagai murid Kristus. Karena itu pemuridan selalu dimulai dari kehidupan pribadi dengan Tuhan.
Dasar kemuridan adalah disiplin rohani. Seorang murid belajar membangun kehidupan doa dan firman Tuhan. Ia belajar berjalan bersama Tuhan secara pribadi, bukan hanya mengenal Tuhan secara teori.
Ada sebuah pernyataan yang sangat menarik:
“The practice that impacts the health and growth of a small group the most is the prayer life of the leader.”
— Jim Egli & Dwight Marable
Kualitas kehidupan rohani seorang pemimpin akan menentukan atmosfer kelompok yang dipimpinnya. Pemimpin yang hidup dekat dengan Tuhan akan membawa kehidupan. Tetapi pemimpin yang kering secara rohani akan sulit membawa pertumbuhan sejati.
Menjadi murid Kristus berarti menjadi murid dari firman Kristus. Kekristenan bukan sekadar mendengar firman, tetapi melakukan firman. Karena itu, pemuridan tidak berhenti pada pengetahuan Alkitab, tetapi harus menghasilkan transformasi hidup.
Seorang pemurid bukan hanya mengajar teori, tetapi mencontohkan kehidupan. Pemuridan terjadi melalui teladan. Orang belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari bagaimana kita hidup.
Itulah sebabnya Paulus berkata:
“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
— 1 Korintus 11:1
Pemuridan selalu berbicara tentang reproduksi kehidupan.
Karena itu, tindak lanjut dari kemuridan adalah melakukan firman Tuhan, sedangkan tindak lanjut dari pemuridan adalah mempersiapkan pemurid berikutnya.
Kerajaan Tuhan bertumbuh melalui multiplikasi kehidupan.
“We don’t find good leaders, we grow them.”
Banyak gereja mencari pemimpin instan, padahal pola Kerajaan Allah adalah membangun dan memuridkan orang sedikit demi sedikit sampai bertumbuh dewasa.
Andy Stanley mengatakan:
“Your greatest contribution to the kingdom of God may not be something you do, but someone you raise.”
— Andy Stanley
Warisan terbesar seseorang mungkin bukan gedung yang dibangun, bisnis yang didirikan, atau pelayanan yang dijalankan, tetapi orang-orang yang dibesarkan dan diperlengkapi untuk meneruskan iman.
Ada dua parameter sederhana tetapi sangat penting untuk melihat keberhasilan sebuah komunitas atau kelompok kecil.
Yang pertama adalah terjadinya perubahan hidup.
Paulus berkata:
“1 Korintus 3:6-7
‘Pekerjaan saya ialah menanam benih dalam hati Saudara dan pekerjaan Apolos ialah menyiraminya, tetapi Allah, dan bukan kami, yang menumbuhkannya. Orang yang menanam atau menyirami tidak begitu penting, tetapi Allah yang penting, sebab Dialah yang menumbuhkan.’”
Tugas kita adalah menanam dan menyiram. Tuhanlah yang memberi pertumbuhan. Tetapi ketika seseorang sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan, hidupnya seharusnya berubah.
“PERUBAHAN HIDUPMU ADALAH KESAKSIAN TERKUATMU AKAN KASIH DAN KARYA TUHAN.”
Kesaksian terbesar bukan hanya kata-kata kita, tetapi kehidupan kita.
Parameter kedua adalah lahirnya pemurid-pemurid baru.
Yesus berkata:
“Markus 1:17
‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’”
Mengikut Yesus dan membawa orang lain kepada Yesus adalah satu kesatuan. Murid sejati akan menghasilkan murid baru.
Karena itu, kemuridan dan pemuridan tidak boleh dipisahkan. Kita bukan hanya dipanggil untuk bertumbuh secara pribadi, tetapi juga dipanggil menjadi saluran pertumbuhan bagi orang lain.
Kabar baiknya, Tuhan tidak pernah meminta kita melakukan semuanya dengan kekuatan sendiri.
“Matius 28:18,20b
‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi… Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”
Kata “kuasa” di sini memakai kata Yunani exousia, yang berarti otoritas dan kuasa yang didelegasikan.
Artinya, ketika Tuhan memanggil kita memuridkan orang lain, Tuhan juga memberikan otoritas, kemampuan, dan penyertaan-Nya.
Karena itu, yang Tuhan cari bukan orang yang paling hebat, tetapi orang yang tersedia.
“Our greatest ability is our availability.”
Sering kali Tuhan bekerja melalui orang biasa yang bersedia dipakai-Nya.
Rasul Petrus berkata:
“1 Peter 4:11 (AMP)
‘Whoever serves [the congregation] is to do so as one who serves by the strength which God [abundantly] supplies, so that in all things God may be glorified through Jesus Christ.’”
Pada akhirnya, pemuridan bukan tentang membangun nama kita, tetapi tentang memuliakan Kristus.
Gereja yang sehat bukan hanya gereja yang penuh, tetapi gereja yang menghasilkan murid. Gereja yang kuat bukan hanya memiliki program yang baik, tetapi memiliki orang-orang yang bertumbuh dewasa, hidupnya berubah, dan kemudian memuridkan orang lain lagi.
Karena Kekristenan sejati bukan sekadar datang kepada Yesus.
Kekristenan sejati adalah mengikuti Yesus, menjadi serupa dengan-Nya, dan membawa orang lain berjalan bersama-Nya juga.