PENEGUHAN PERNIKAHAN

Peneguhan pernikahan bukanlah pengulangan pemberkatan nikah. Peneguhan pernikahan adalah kesempatan untuk mengingat kembali janji yang pernah diucapkan di hadapan Tuhan, mensyukuri kesetiaan-Nya yang telah menyertai perjalanan rumah tangga, dan memperbarui komitmen untuk tetap setia dalam tahun-tahun yang akan datang.

Dalam Alkitab, pernikahan bukan sekadar ikatan antara seorang pria dan seorang wanita. Pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kudus di hadapan Allah. Karena itu, ketika sebuah pasangan meneguhkan kembali pernikahannya, mereka sedang menyatakan bahwa kasih dan komitmen mereka tidak hanya bertahan karena kekuatan manusia, tetapi karena anugerah Tuhan yang menopang mereka hari demi hari.

1. Mengingatkan kembali bahwa Pernikahan Adalah Rancangan Allah

Alkitab berkata dalam Kejadian 2:18:

“TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.'”

Kemudian setelah Tuhan menciptakan Hawa dan membawanya kepada Adam, firman Tuhan berkata dalam

Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Tuhan menciptakan satu Adam dan satu Hawa, lalu mempersatukan mereka menjadi suami dan istri. Karena itu pernikahan bukan sekadar hubungan sosial, bukan sekadar kontrak hukum, tetapi sebuah perjanjian kudus yang berasal dari Allah sendiri.

2. Mengingatkan dan meneguhkan komitmen: Suami Dipanggil Mengasihi

Efesus 5:25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

Tanggung jawab utama seorang suami bukan pertama-tama menjadi sukses, melainkan mengasihi.

Kasih yang dimaksud Alkitab bukan hanya perasaan, tetapi komitmen yang rela berkorban.

Mengasihi istri berarti hadir ketika ia membutuhkan kita, mendengarkan ketika ia ingin didengar, menguatkan ketika ia lelah, dan tetap setia ketika keadaan tidak selalu mudah. Mengasihi berarti menyediakan waktu, perhatian, perlindungan, dan dukungan, bukan hanya pada hari-hari yang baik, tetapi juga pada hari-hari yang sulit. Kasih yang Alkitab ajarkan bukan sekadar mengatakan “Aku mencintaimu,” tetapi menunjukkan kasih itu melalui tindakan nyata setiap hari. Sebagaimana Kristus terus mengasihi jemaat-Nya dengan setia, demikian pula seorang suami dipanggil untuk terus mengasihi istrinya sepanjang perjalanan hidup bersama.

3. Mengingatkan dan meneguhkan untuk Istri Menghormati dan Mendukung suami

Efesus 5:22-24 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.”

Efesus 5:33 “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”

Ketundukan dan penghormatan yang Alkitab ajarkan bukanlah tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan tentang sikap hati untuk mendukung, mempercayai, dan berjalan bersama dalam rancangan Tuhan.

  • Menghormati suami berarti menghargainya dalam perkataan maupun tindakan, menjaga kehormatannya, serta memberikan dukungan dan dorongan dalam menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya.
  • Tunduk berarti memilih untuk bekerja sama dengan kepemimpinannya, memberikan masukan dengan kasih dan hikmat, mendoakannya, serta tetap berdiri di sisinya dalam setiap musim kehidupan.
  • Ketundukan bukanlah kehilangan suara atau nilai diri, melainkan menggunakan pengaruh yang Tuhan berikan untuk membangun, menguatkan, dan menolong suami menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki.
  • Dengan demikian, seorang istri menjadi penolong yang sepadan, sahabat yang setia, dan berkat yang Tuhan sediakan bagi keluarganya.

4. Mendorong Tetap Menikmati Pasangan Sampai Hari Tua

Amsal 5:18 “Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu.”

Amsal 5:18 mengajarkan bahwa tujuan pernikahan bukan hanya bertahan sampai hari tua, tetapi menikmati perjalanan sampai hari tua.

  • Seiring berjalannya waktu, kasih suami dan istri seharusnya tidak menjadi semakin hambar, melainkan semakin dalam dan semakin manis, seperti anggur yang baik yang menjadi lebih bernilai seiring bertambahnya usia.
  • Pasangan yang dahulu saling jatuh cinta di masa muda dipanggil untuk terus bertumbuh menjadi sahabat terbaik satu sama lain—orang pertama yang ingin diajak berbagi sukacita, tempat mencurahkan pergumulan, dan teman seperjalanan yang paling dipercaya.
  • Jangan biarkan kesibukan, rutinitas, atau usia mengurangi kehangatan hubungan. Teruslah menyediakan waktu untuk berbicara, tertawa, berdoa, dan menikmati kebersamaan.
  • Jangan hanya hidup bersama, tetapi nikmatilah anugerah Tuhan yang telah berjalan bersama selama bertahun-tahun.

5. Apa yang Dipersatukan Allah Tidak Boleh Diceraikan Manusia

Tuhan Yesus berkata dalam Matius 19:6:

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Inilah inti dari pernikahan Kristen.

Tuhan yang mempersatukan.
Tuhan yang memelihara.
Dan Tuhan yang memberikan anugerah untuk tetap setia.

Hari ini peneguhan pernikahan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga memperbarui komitmen untuk terus berjalan bersama sampai akhir kehidupan yang Tuhan berikan.

Penutup

Peneguhan pernikahan merupakan pengingat bahwa perjalanan rumah tangga tidak dapat dijalani hanya dengan kekuatan, kasih, atau komitmen manusia semata. Setiap musim kehidupan yang telah dilalui menjadi bukti bahwa Tuhanlah yang telah memimpin, menopang, dan memelihara pernikahan tersebut sampai hari ini.

Karena itu, makna utama dari peneguhan pernikahan bukan sekadar memperbarui komitmen kepada pasangan, tetapi juga memperbarui ketergantungan kepada Tuhan. Suami dan istri kembali mengundang Tuhan Yesus untuk menjadi pusat rumah tangga mereka, menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar setiap keputusan, dan mengandalkan kasih karunia-Nya untuk menjalani hari-hari yang akan datang.

Tidak ada suami yang dapat mengasihi dengan sempurna, dan tidak ada istri yang dapat menghormati dengan sempurna tanpa pertolongan Tuhan. Hanya oleh anugerah-Nya suami dimampukan untuk mengasihi, istri dimampukan untuk mendukung dan menghormati, dan keduanya dimampukan untuk tetap setia dalam setiap musim kehidupan.

Oleh sebab itu, doa bagi setiap pernikahan bukanlah agar bebas dari tantangan, melainkan agar selalu dipimpin oleh Tuhan. Ketika kasih karunia Tuhan menjadi fondasi dan penyertaan-Nya menjadi kekuatan, suami dan istri dapat terus bertumbuh dalam kasih, kesetiaan, dan sukacita sampai akhir perjalanan hidup mereka bersama. Sebab pada akhirnya, bukan kekuatan manusia yang mempertahankan sebuah pernikahan, melainkan anugerah Tuhan yang setia dari awal hingga akhir. Amen.

Tinggalkan komentar