Menaruh Nilai yang Tinggi pada Pernikahan dan Menghargai Perjanjian

Pernikahan Itu Sacred

Ibrani 13:4 “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan.”

Di tengah dunia yang semakin memandang pernikahan sebagai sekadar hubungan romantis, kontrak sosial, atau pilihan gaya hidup, Alkitab memberikan perspektif yang sangat berbeda. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati pernikahan. Mengapa? Karena pernikahan adalah sesuatu yang sacred—kudus, mulia, dan terhormat.

Pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua orang yang saling mencintai. Pernikahan adalah institusi yang Allah sendiri dirikan, Allah sendiri kuduskan, dan Allah sendiri hormati.

Sejak awal penciptaan, Allah telah merancang pernikahan sebagai bagian dari desain-Nya bagi manusia.

Kejadian 2:18 “Tuhan Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.'”

Namun makna pernikahan tidak berhenti di sana. Allah juga menjadikan pernikahan sebagai gambaran kasih yang paling indah antara Kristus dan jemaat-Nya.

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”
Efesus 5:31–32

Karena pernikahan adalah sesuatu yang sacred, ada dua sikap yang harus kita miliki: menghormati perjanjiannya dan menaruh nilai yang tinggi terhadap pernikahan itu sendiri.

1. MENGHORMATI PERJANJIAN

Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Inti dari pernikahan bukanlah pesta, bukan pula perasaan, melainkan perjanjian (covenant).

Pernikahan mungkin dimulai dengan cinta. Namun cinta sebagai perasaan akan mengalami pasang surut. Ada musim ketika semuanya terasa mudah, tetapi ada juga masa ketika konflik, kekecewaan, dan kejenuhan datang menghampiri.

Yang membuat sebuah pernikahan bertahan bukanlah karena perasaannya tidak pernah berubah, melainkan karena kedua orang memilih tetap setia kepada janji yang telah mereka ucapkan.

Itulah arti covenant. Sebuah keputusan yang diikuti komitmen untuk tetap memegang janji, bahkan ketika keadaan tidak ideal.

Marriage is sustained not by changing feelings, but by unchanging commitment.

Love is a feeling. Covenant is a decision.

Janji pernikahan bukan diucapkan untuk hari-hari yang mudah, tetapi dipegang teguh pada hari-hari yang susah.

Cinta mungkin dimulai oleh perasaan, tetapi pernikahan dipertahankan oleh kesetiaan.


2. MENGHARGAI PERNIKAHAN

Menaruh nilai yang tinggi pada pernikahan kita.

Cara kita memperlakukan sesuatu sebenarnya menunjukkan seberapa besar nilai yang kita berikan kepadanya.

Sesuatu yang bernilai tinggi akan diperlakukan dengan penuh hormat. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap biasa akan mudah diabaikan.

Jika sebuah karya seni bernilai miliaran rupiah dipajang di rumah, kita akan menjaganya dengan sangat hati-hati. Jika sebuah barang dianggap murah, orang cenderung memperlakukannya sembarangan.

Prinsip yang sama berlaku dalam pernikahan.

Ketika seseorang benar-benar menghargai pernikahannya, ia tidak akan memperlakukannya dengan asal-asalan. Ia akan menjaga perkataannya, mengelola emosinya, menyediakan waktunya, memelihara kepercayaannya, dan terus menginvestasikan kasih kepada pasangannya.

Karena itu Paulus menulis:

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.”
Efesus 5:25

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.”
Efesus 5:29 (TB)

Menghargai pernikahan berarti terus merawatnya.

  • Don’t take your spouse for granted: Jangan sampai kita menghargai orang setelah orangnya tidak ada.
  • Handle your marriage with care: Jagalah perkataan, sikap, dan tindakan, karena hati pasangan jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah pertengkaran. Choose your battle wisely.
  • Keep investing: waktu bersama, bertumbuh bersama, anniversary.

Karena ada satu prinsip kehidupan yang selalu benar: Segala sesuatu yang dirawat akan bertumbuh. Segala sesuatu yang tidak dirawat akan menurun keadaannya.

Pernikahan yang indah bukan terjadi dengan sendirinya. Pernikahan yang indah adalah hasil dari dua orang yang setiap hari memilih untuk menghargai apa yang telah Allah percayakan kepada mereka.

What you value, you protect. What you protect, you cultivate. And what you cultivate, will flourish.

Penutup

Pernikahan bukanlah garis akhir, melainkan garis awal. Hari ini bukanlah tujuan yang telah dicapai, tetapi langkah pertama dari perjalanan seumur hidup. Akan ada musim semi yang penuh sukacita dan musim dingin yang menguji kesetiaan. Namun ketika sebuah pernikahan dibangun di atas perjanjian, dirawat dengan kasih, dan dijalani bersama Tuhan, setiap musim akan menjadi kesempatan untuk bertumbuh semakin serupa Kristus.

Tinggalkan komentar