Wisdom for the Next Generation
Banyak perusahaan lahir.
Banyak perusahaan bertumbuh.
Tetapi hanya sedikit yang mampu bertahan lintas generasi.
“Jika kita mengubah apa yang harus dipertahankan, kita kehilangan identitas. Jika kita mempertahankan apa yang harus diubah, kita kehilangan relevansi. Hikmat adalah kemampuan untuk mengetahui perbedaannya.”
Ini bukan hanya tentang agility, adaptibility dan inovasi, tetapi tentang hikmat.
Apa Itu Hikmat?
“Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.”
— Amsal 24:3–4
Pengetahuan (Knowledge)
Semua fakta yang kita ketahui, semua ilmu pengetahuan yang kita kuasai, infomasi yang ada di tangan kita.
- Data.
- Informasi.
- Mengetahui bagaimana sesuatu bekerja.
Misalnya:
- Membaca tren pasar,
- Membaca dan mengerti laporan keuangan,
- Menguasi teknologi baru,
Pengertian (Understanding)
Memahami Hubungan dan Makna
Pengertian mampu melihat pola dan hubungan sebab akibat, korelasi: Mengapa sesuatu terjadi dan apa konsekuensinya.
Menurut Simon Sinek dalam bukunya Start with Why, orang terinspirasi oleh purpose, bukan sekadar produk.
People don’t buy what you do; they buy why you do it.
Hikmat (Wisdom)
Hikmat adalah kemampuan menerapkan pengetahuan dan pengertian untuk mengambil keputusan yang benar pada waktu yang tepat.
Mengapa Perusahaan Membutuhkan Hikmat?
Perusahaan generasi pertama biasanya berjuang untuk bertahan hidup. Generasi kedua berjuang untuk bertumbuh. Namun ketika sebuah perusahaan memasuki generasi ketiga dan keempat, tantangannya adalah bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.
Di sinilah hikmat menjadi sangat penting. Hikmat menolong kita membedakan apa yang harus tetap dipertahankan karena merupakan bagian dari identitas dan nilai-nilai inti, serta apa yang harus berubah agar tetap mampu menjawab kebutuhan zaman dan menghadapi masa depan.
HONORING THE PAST
- integritas,
- nilai-nilai,
- reputasi,
- karakter,
- kualitas,
- tujuan mulia perusahaan.
EMBRACING THE FUTURE
- teknologi,
- sistem,
- proses,
- strategi,
- model bisnis,
- cara melayani pelanggan.
Mengapa Takut Akan Tuhan Adalah Permulaan Hikmat?
Hikmat adalah dapat membuat keputusan yang benar pada saat yang tepat.
Untuk menjadi orang berhikmat perlu pengetahuan (pendidikan), perlu pengalaman, perlu mentor dll.
Tetapi Amsal mengatakan:
“Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10)
Kata “permulaan” (dalam Ams.9:10) sering disalahpahami sebagai sekadar langkah pertama atau tahap awal. Padahal maknanya jauh lebih dalam.
Kata Ibrani: רֵאשִׁית (reshith)
Yang berarti:
- sumber,
- fondasi,
- prinsip utama,
- bagian yang paling penting,
- dasar yang menentukan segala sesuatu yang mengikutinya.
Hikmat adalah: kemampuan memilih dengan benar sesuai desain dan tujuan Tuhan.
- Karena itu seseorang bisa sangat pintar tetapi tidak berhikmat. Ia mungkin tahu banyak hal. Tetapi tidak tahu mana yang benar.
- Hikmat adalah kemampuan memilih bukan hanya yang baik, lebih daripada itu memilih yang benar.
Takut akan Tuhan bukan berarti takut dihukum.
Kata Ibrani yang digunakan untuk Takut akan Tuhan adalah יִרְאָה (yir’ah), yang mengandung arti:
- hormat yang mendalam,
- kekaguman yang kudus,
- penghargaan yang tinggi,
- kesadaran akan kebesaran dan kekudusan Tuhan,
- serta kerelaan untuk tunduk kepada kehendak-Nya.
Takut akan Tuhan adalah sikap hati yang mengakui otoritas Tuhan dan memilih hidup sesuai dengan jalan-Nya.
“Takut akan Tuhan adalah fondasi hikmat. Pengetahuan dapat membantu kita memahami pasar, pengertian membantu kita membaca perubahan zaman, tetapi takut akan Tuhan menolong kita mengetahui jalan yang benar untuk ditempuh.”
TIGA HIKMAT UNTUK MASA DEPAN
Takut akan Tuhan memberi kita kemampuan untuk membedakan bukan hanya apa yang berhasil, tetapi apa yang benar.
Character over Competence
Lebih baik memiliki karakter yang benar daripada hanya kemampuan yang hebat.
“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”
— Amsal 22:1
Kemampuan dapat membuka pintu kesempatan, tetapi karakter menentukan apakah seseorang dapat dipercaya untuk tetap berada di sana. Banyak orang berbakat, tetapi tidak semua orang dapat dipercaya. Dalam jangka panjang, karakter jauh lebih menentukan daripada kompetensi.
Orang yang takut akan Tuhan memahami bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari apa yang dapat dicapai, tetapi dari siapa dirinya di hadapan Tuhan.
Bagi sebuah perusahaan, teknologi dapat dibeli, keterampilan dapat dipelajari, dan strategi dapat diperbarui. Namun karakter tidak dapat digantikan. Karakterlah yang membangun kepercayaan, menjaga reputasi, dan memungkinkan sebuah warisan bertahan dari generasi ke generasi.
“Kompetensi dapat membawa seseorang ke puncak, tetapi karakter menentukan apakah ia dapat bertahan di sana.”
Integrity over Profit
Lebih baik kehilangan keuntungan daripada kehilangan integritas.
“The integrity of the upright guides them…”
— Amsal 11:3
“Lebih baik sedikit barang dengan disertai kebenaran daripada banyak penghasilan dengan tidak adil.”
— Amsal 16:8
Dalam dunia bisnis selalu ada godaan untuk mengorbankan integritas demi keuntungan yang lebih besar. Namun orang yang takut akan Tuhan memahami bahwa keuntungan yang diperoleh dengan cara yang salah bukanlah berkat. Uang dapat dicari kembali, tetapi integritas yang hilang sering kali sulit dipulihkan.
Karena itu orang berhikmat lebih memilih kehilangan keuntungan daripada kehilangan nama baik dan hati nurani yang bersih di hadapan Tuhan.
“Integrity is not something we use to make a profit; integrity is what keeps profit from destroying us.”
Principles over Pressure
Tetap berpegang pada nilai yang benar meskipun berada di bawah tekanan.
“Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.”
— Amsal 29:25
Tekanan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kepemimpinan dan dunia usaha. Akan selalu ada tekanan untuk berkompromi, mengambil jalan pintas, atau mengorbankan nilai-nilai yang benar demi hasil yang lebih cepat. Namun justru di bawah tekananlah kualitas takut akan Tuhan terlihat dengan jelas.
Orang yang takut akan Tuhan tidak membiarkan tekanan menentukan keputusannya. Ia menjadikan prinsip dan kebenaran sebagai kompas hidupnya. Ia memahami bahwa tekanan bersifat sementara, tetapi konsekuensi dari kompromi dapat bertahan lama.
Perusahaan akan yang bertahan beberapa generasi biasanya bukan perusahaan yang selalu memilih jalan termudah, melainkan perusahaan yang tetap setia pada nilai-nilai yang benar ketika menghadapi masa-masa sulit.
HIKMAT DALAM PEKERJAAN
1. Hikmat Mengajarkan Bahwa Setiap Pekerjaan Adalah Panggilan
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
Salah satu wujud hikmat yang lahir dari takut akan Tuhan adalah kemampuan melihat pekerjaan dari perspektif Tuhan.
Dunia sering membagi hidup menjadi dua kategori: yang rohani (sacred) dan yang duniawi (secular). Gereja dianggap rohani, sementara pabrik, kantor, pasar, dan bisnis dianggap sekuler. Namun orang yang takut akan Tuhan melihat hidup secara berbeda. Ia menyadari bahwa Tuhan bukan hanya Tuhan hari Minggu, tetapi Tuhan atas seluruh kehidupan.
Karena itu pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Apa pekerjaan saya?” melainkan, “Untuk siapa saya bekerja?”
Pekerjaan menjadi sekuler ketika tujuan akhirnya hanya uang, status, keuntungan, atau kepentingan diri sendiri. Tetapi pekerjaan menjadi kudus ketika dilakukan untuk Tuhan dan demi kebaikan sesama.
Orang yang takut akan Tuhan memahami bahwa pekerjaannya adalah bagian dari panggilannya. Ia tidak sekadar membuat produk; ia melayani Tuhan. Ia tidak sekadar memimpin perusahaan; ia mengelola amanah Tuhan. Ia tidak sekadar mencari nafkah; ia sedang menjalankan tujuan Tuhan dalam hidupnya.
Inilah hikmat yang membedakan orang percaya. Ia melihat Tuhan bukan hanya di gereja, tetapi juga di ruang rapat. Ia mencari kehendak Tuhan bukan hanya saat berdoa, tetapi juga saat mengambil keputusan bisnis. Ia ingin memuliakan Tuhan bukan hanya melalui ibadahnya, tetapi juga melalui pekerjaannya.
Seorang pembuat jamu yang bekerja dengan integritas, menjaga kualitas produknya, memperhatikan kesejahteraan karyawannya, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat sedang memuliakan Tuhan sama seperti seorang pengkhotbah yang berdiri di mimbar.
Dan ketika pekerjaan dilakukan untuk Tuhan, tempat kerja menjadi lebih dari sekadar tempat mencari penghasilan.
Workstation becomes a worship station.
Pekerjaan menjadi ibadah.
Karena pada akhirnya, segala sesuatu berasal dari Tuhan, dikerjakan untuk Tuhan, dan ditujukan untuk kemuliaan Tuhan.
2. Hikmat Mengajarkan Bahwa Setiap Berkat Memiliki Tujuan
“Aku akan memberkati engkau… dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2)
Salah satu tanda orang yang takut akan Tuhan adalah ia menyadari bahwa segala sesuatu yang ia miliki pada akhirnya berasal dari Tuhan dan karena itu harus dipakai untuk tujuan Tuhan.
Ketika Tuhan memanggil Abraham, Tuhan tidak hanya menjanjikan berkat. Tuhan juga memberikan tujuan bagi berkat itu. Abraham diberkati agar melalui hidupnya banyak orang mengalami kebaikan Tuhan. Dalam setiap berkat ada tujuan untuk kita menjadi berkat.
Karena itu perusahaan yang dipimpin dengan hikmat tidak hanya bertanya, “Berapa banyak keuntungan yang dapat kami hasilkan?” tetapi juga, “Bagimana kami dapat menjadi berkat?”
Sebuah perusahaan menjadi berkat ketika:
- menciptakan lapangan pekerjaan yang memberi penghidupan bagi banyak keluarga;
- memperlakukan karyawan dengan hormat, adil, dan bermartabat;
- menghasilkan produk yang sungguh bermanfaat bagi masyarakat;
- menjaga integritas dalam setiap proses bisnis;
- menjadi mitra yang dapat dipercaya oleh pelanggan dan pemasok;
- berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa;
- serta menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk membantu sesama yang membutuhkan.
Bagi Jamu Djago, menjadi berkat berarti lebih dari sekadar menjual jamu. Menjadi berkat berarti menghadirkan kesehatan, membuka kesempatan kerja, menopang ribuan keluarga, membangun generasi penerus, dan memberikan kontribusi bagi Indonesia.
Ketika sebuah perusahaan memahami bahwa keberhasilannya adalah amanah dari Tuhan, fokusnya tidak lagi hanya pada apa yang dapat diambil dari masyarakat, tetapi juga pada apa yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Itulah hikmat yang lahir dari takut akan Tuhan.
3. Hikmat Mengajarkan Bahwa Setiap Kekayaan Memiliki Tanggung Jawab
“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberi kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan.” (Ulangan 8:18)
Salah satu tanda orang yang takut akan Tuhan adalah ia tidak pernah melupakan sumber dari keberhasilannya. Ia menyadari bahwa di balik setiap pencapaian, setiap kesempatan, dan setiap pertumbuhan, ada tangan Tuhan yang bekerja.
Ulangan 8:18 tidak berkata bahwa Tuhan memberikan kekayaan. Ayat ini berkata bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan. Tuhan memberikan kreativitas untuk berinovasi, kemampuan untuk memimpin, relasi yang membuka pintu, serta kesempatan yang tidak dimiliki semua orang.
Dengan kata lain, sebelum memberikan panen, Tuhan terlebih dahulu memberikan benih. Sebelum memberikan hasil, Tuhan terlebih dahulu memberikan kemampuan.
Karena itu orang yang takut akan Tuhan tidak memandang kekayaan sebagai bukti kehebatan dirinya, melainkan sebagai anugerah dan amanah dari Tuhan. Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati. Semakin ia berhasil, semakin ia menyadari betapa ia membutuhkan Tuhan. Semakin besar yang dipercayakan kepadanya, semakin ia mencari tuntunan Tuhan.Inilah hikmat yang lahir dari takut akan Tuhan. Orang yang berhikmat tidak hanya bertanya, “Bagaimana saya bisa menghasilkan lebih banyak?” tetapi juga, “Tuhan, bagaimana Engkau ingin saya mengelola dengan setia apa yang telah Engkau percayakan kepada saya?” Sebab ia menyadari bahwa dirinya bukan pemilik, melainkan pengelola dari segala sesuatu yang Tuhan titipkan kepadanya.
Bagi sebuah perusahaan yang telah bertahan selama empat generasi, pertanyaannya bukan hanya bagaimana menjadi lebih besar, tetapi bagaimana tetap setia mengelola apa yang Tuhan percayakan. Bagaimana menciptakan nilai yang bermanfaat, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan banyak keluarga, dan menjadi berkat bagi bangsa.
Hikmat mengingatkan kita bahwa kekayaan bukanlah milik yang mutlak, melainkan titipan yang harus dikelola untuk tujuan Tuhan dan kebaikan sesama.
Closing Quote
“Knowledge tells us what is changing. Understanding tells us why it is changing. Wisdom tells us what to do about it.”
“Wisdom begins when we stop asking only what is profitable, and start asking what is right in the eyes of God.”
“To honor the past and embrace the future, we need more than innovation—we need wisdom to know what must never change and what must continually change.”