Tujuan Tertinggi Christian Parenting
Amal 15:33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.
Ayat ini menjadi fondasi tentang pentingnya parenting menurut Kitab Amsal. Tujuan utama pendidikan menurut Alkitab bukan sekadar menghasilkan anak yang pintar, berprestasi, berkarakter baik, atau sukses secara duniawi. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan tertinggi.
Tujuan tertinggi pendidikan Kristen adalah membentuk anak yang hidup dalam takut akan Tuhan.
Dalam Alkitab, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap hukuman-Nya. Takut akan Tuhan berarti menghormati, mengagungkan, mempercayai, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Orang yang takut akan Tuhan akan membenci kejahatan, mencintai kebenaran, dan hidup dalam hikmat.
Karena itu, keberhasilan parenting tidak terutama diukur dari nilai rapor anak, universitas yang dimasukinya, atau karier yang dicapainya, tetapi dari apakah ia mengenal Tuhan dan berjalan bersama-Nya.
1. Orang Tua Harus Terlebih Dahulu Takut Akan Tuhan
Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua berbicara, mengambil keputusan, menghadapi masalah, memperlakukan orang lain, menggunakan uang, mengelola emosi, dan menjalani hubungan mereka dengan Tuhan. Karena itu, pendidikan rohani yang paling kuat bukanlah apa yang diajarkan orang tua, melainkan apa yang mereka hidupi setiap hari.
Ulangan 6:5-7 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu… Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu…”
Menarik bahwa sebelum Tuhan memerintahkan orang tua untuk mengajar anak-anak mereka, Tuhan terlebih dahulu memerintahkan mereka untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati. Urutannya penting. Mengajar anak tentang Tuhan harus mengalir dari kehidupan yang terlebih dahulu mengasihi Tuhan. Orang tua tidak dapat memberikan apa yang mereka sendiri tidak miliki. Sulit mengajarkan gairah rohani jika hati sendiri dingin terhadap Tuhan. Sulit mengajarkan iman jika hidup sendiri tidak bergantung kepada Tuhan.
Anak-anak perlu melihat bahwa Tuhan bukan sekadar topik pembicaraan pada hari Minggu, melainkan Pribadi yang nyata dalam kehidupan keluarga. Mereka perlu melihat orang tuanya berdoa, membaca Firman Tuhan, mengucap syukur, meminta ampun ketika berbuat salah, dan tetap mempercayai Tuhan di tengah kesulitan. Ketika anak melihat bahwa hubungan dengan Tuhan sungguh nyata dalam kehidupan orang tuanya, mereka akan lebih mudah mempercayai bahwa Tuhan juga nyata bagi mereka.
Salah satu tantangan terbesar dalam parenting Kristen adalah kecenderungan untuk menuntut sesuatu dari anak yang belum terlebih dahulu menjadi kenyataan dalam hidup orang tua. Kita ingin anak memiliki disiplin rohani, padahal kita sendiri jarang berdoa. Kita ingin anak mencintai gereja, padahal kita sendiri sering mengeluh tentang gereja. Kita ingin anak menghormati Firman Tuhan, padahal keputusan-keputusan kita lebih dipengaruhi oleh budaya dunia daripada kebenaran Firman. Anak-anak sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara perkataan dan kehidupan.
Karena itu, tugas pertama orang tua bukanlah memperbaiki anak, melainkan terus bertumbuh dalam hubungan mereka sendiri dengan Tuhan. Parenting Kristen pada dasarnya dimulai dari transformasi orang tua. Ketika orang tua hidup dalam takut akan Tuhan, kasih kepada Tuhan, dan ketaatan kepada Firman-Nya, mereka sedang menciptakan lingkungan yang paling subur bagi pertumbuhan iman anak-anak mereka.
“Anak-anak mungkin tidak selalu mengikuti nasihat orang tuanya, tetapi mereka hampir selalu mengikuti teladan orang tuanya.”
Sebelum menjadi guru rohani bagi anak, orang tua harus menjadi murid Kristus terlebih dahulu. Sebab pengaruh terbesar dalam kehidupan anak bukanlah apa yang orang tua katakan tentang Tuhan, melainkan bagaimana mereka hidup bersama Tuhan setiap hari.
2. Perkenalkan Tuhan sebagai Pribadi, Bukan Sekadar Aturan
Salah satu bahaya terbesar dalam parenting Kristen adalah ketika anak mengenal agama, tetapi tidak mengenal Tuhan. Mereka tahu doa sebelum makan, hafal cerita Alkitab, rutin pergi ke gereja, dan memahami banyak aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi belum pernah sungguh-sungguh mengenal Tuhan secara pribadi. Akibatnya, iman menjadi sekadar kebiasaan, bukan hubungan; sekadar kewajiban, bukan kasih.
Alkitab mengajarkan bahwa takut akan Tuhan tidak dimulai dari aturan, tetapi dari pengenalan akan Tuhan.
Amsal 9:10 “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
Perhatikan bahwa takut akan Tuhan dan mengenal Tuhan berjalan bersama. Semakin seseorang mengenal siapa Tuhan itu, semakin ia menghormati, mengagumi, dan takut akan Dia. Sebaliknya, sulit menghormati Pribadi yang tidak dikenal. Karena itu tujuan utama orang tua bukan hanya mengajarkan perintah-perintah Tuhan, tetapi memperkenalkan Pribadi Tuhan di balik perintah-perintah tersebut.
Anak perlu mengenal bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi.
1Yohanes 4:19 “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
Kasih kepada Tuhan lahir sebagai respons terhadap kasih Tuhan yang terlebih dahulu diterima. Jika anak hanya melihat Tuhan sebagai hakim yang selalu marah dan mencari kesalahan, mereka mungkin menjadi takut kepada Tuhan dalam arti yang salah. Namun ketika mereka memahami kasih-Nya, mereka belajar datang kepada-Nya dengan hormat sekaligus dengan kepercayaan. Takut akan Tuhan yang sehat selalu berjalan bersama kasih kepada Tuhan.
Anak juga perlu mengenal bahwa Tuhan adalah Allah yang kudus.
Yesaya 6:3 menggambarkan para serafim berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam.”
Kasih tanpa kekudusan dapat menghasilkan sikap meremehkan Tuhan. Tetapi ketika anak memahami bahwa Tuhan itu kudus, mereka belajar bahwa Tuhan layak dihormati dan ditaati. Mereka belajar bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi sesuatu yang melukai hati Tuhan yang kudus.
Selain itu, anak perlu mengenal bahwa Tuhan adalah Allah yang setia dan dapat dipercaya.
Ulangan 7:9 berkata: “TUHAN, Allahmu, Dialah Allah yang setia…”
Ketika orang tua menceritakan kesetiaan Tuhan dalam kehidupan keluarga, doa-doa yang dijawab, pertolongan yang diterima, dan penyertaan Tuhan dalam masa sulit, anak belajar bahwa Tuhan bukan sekadar tokoh dalam Alkitab. Tuhan adalah Pribadi yang nyata, yang bekerja dan hadir dalam kehidupan mereka hari ini.
Anak juga perlu mengenal bahwa Tuhan itu baik.
Mazmur 34:9 berkata: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu.”
Banyak anak meninggalkan iman karena mereka melihat kekristenan hanya sebagai kumpulan larangan. Mereka tidak pernah melihat keindahan dan kebaikan Tuhan. Karena itu orang tua perlu menunjukkan bahwa mengikuti Tuhan bukanlah kehilangan sukacita, melainkan menemukan sukacita yang sejati. Tuhan memberi perintah bukan untuk merampas kebahagiaan manusia, tetapi untuk melindungi dan membawa manusia kepada kehidupan yang terbaik.
Inilah sebabnya mengapa dalam pelayanan Yesus, Ia tidak hanya mengajarkan hukum Tuhan, tetapi memperkenalkan siapa Bapa itu. Ketika murid-murid semakin mengenal Yesus, mereka semakin mengasihi, menghormati, dan mengikuti-Nya. Hubungan mendahului ketaatan. Pengenalan mendahului penghormatan. Kasih mendahului komitmen.
Dalam konteks parenting, ini berarti orang tua perlu berbicara tentang karakter Tuhan sesering mereka berbicara tentang perintah Tuhan. Ketika anak melihat matahari terbit, ajarkan tentang kebesaran Tuhan. Ketika mereka menerima berkat, ajarkan tentang kebaikan Tuhan. Ketika mereka jatuh dan gagal, ajarkan tentang kasih karunia Tuhan. Ketika mereka takut, ajarkan tentang kesetiaan Tuhan. Setiap momen kehidupan dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan siapa Tuhan itu.
Pada akhirnya, tujuan parenting Kristen bukanlah menghasilkan anak yang sekadar tahu aturan agama, melainkan anak yang mengenal Yesus Kristus secara pribadi. Sebab ketika seorang anak sungguh mengenal Tuhan yang mengasihi, kudus, setia, baik, dan layak dipercaya, takut akan Tuhan akan bertumbuh secara alami di dalam hatinya.
“Anak mungkin dapat dipaksa menaati aturan untuk sementara waktu, tetapi hanya pengenalan akan Tuhan yang dapat menghasilkan takut akan Tuhan yang bertahan seumur hidup.”
3. Jadikan Firman Tuhan Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam parenting Kristen adalah menganggap pendidikan rohani hanya terjadi di gereja, sekolah Kristen, atau saat ibadah keluarga. Padahal Alkitab mengajarkan bahwa pembentukan iman yang paling efektif justru terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak belajar takut akan Tuhan bukan hanya melalui pelajaran yang terjadwal, tetapi melalui ribuan momen sederhana yang mereka alami bersama orang tua setiap hari.
Ulangan 6:6-7 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Perintah ini menunjukkan bahwa pendidikan rohani bukanlah sebuah acara mingguan, melainkan gaya hidup. Tuhan tidak berkata, “Ajarkan anak-anakmu sekali seminggu,” melainkan “bicarakanlah terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.” Dengan kata lain, rumah adalah sekolah rohani yang pertama, dan orang tua adalah guru rohani yang utama.
Di sinilah anak belajar bahwa Tuhan bukan hanya Allah di gereja, tetapi Allah dalam seluruh kehidupan. Saat keluarga duduk bersama di meja makan, orang tua dapat mengajarkan ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan. Ketika sedang dalam perjalanan, mereka dapat mengagumi ciptaan Tuhan dan berbicara tentang kebesaran-Nya. Ketika menghadapi kesulitan keuangan, mereka dapat menunjukkan bagaimana mempercayai Tuhan. Ketika harus mengambil keputusan penting, mereka dapat melibatkan Tuhan melalui doa dan hikmat Firman-Nya.
Momen-momen yang tampaknya biasa sering kali menjadi kesempatan rohani yang paling berharga. Ketika seorang anak gagal dalam ujian, orang tua dapat mengajarkan bahwa nilai tidak menentukan identitas seseorang di hadapan Tuhan. Ketika anak bertengkar dengan saudaranya, orang tua dapat mengajarkan pengampunan dan rekonsiliasi. Ketika anak menerima keberhasilan, orang tua dapat mengajarkan kerendahan hati dan rasa syukur. Dengan cara ini, setiap pengalaman hidup menjadi jendela untuk melihat karakter Tuhan.
Salah satu cara terbaik menumbuhkan takut akan Tuhan adalah membantu anak melihat bahwa Tuhan hadir dalam setiap aspek kehidupan. Jika anak hanya mendengar tentang Tuhan pada hari Minggu, mereka mungkin menganggap Tuhan hanya relevan untuk urusan agama. Namun jika mereka melihat orang tua berdoa ketika menghadapi masalah, bersyukur ketika menerima berkat, meminta hikmat sebelum mengambil keputusan, dan tetap percaya kepada Tuhan di tengah kesulitan, mereka akan belajar bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan, bukan sekadar bagian dari kehidupan.
Hal yang sangat penting adalah bahwa anak tidak hanya mendengar Firman Tuhan, tetapi melihat Firman Tuhan dipraktikkan. Ketika orang tua meminta maaf setelah melakukan kesalahan, anak belajar tentang kerendahan hati. Ketika orang tua mengampuni, anak belajar tentang kasih karunia. Ketika orang tua tetap jujur meskipun harus menanggung kerugian, anak belajar tentang integritas. Dalam semua itu, anak melihat bahwa takut akan Tuhan bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup.
Kitab Amsal sendiri dibangun di atas prinsip ini. Hikmat yang diajarkan Salomo tidak terbatas pada ibadah atau ritual keagamaan, tetapi mencakup pekerjaan, perkataan, keuangan, persahabatan, keluarga, dan keputusan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa takut akan Tuhan harus memengaruhi seluruh kehidupan.
Karena itu, tujuan orang tua bukan hanya membuat anak mengetahui ayat-ayat Alkitab, tetapi membantu mereka melihat hubungan antara Firman Tuhan dan kehidupan nyata. Semakin anak melihat bahwa Tuhan relevan dalam setiap situasi hidup, semakin mereka belajar untuk menghormati-Nya, bergantung kepada-Nya, dan menempatkan-Nya sebagai pusat kehidupan mereka.
“Takut akan Tuhan tidak terutama dibentuk melalui satu jam pelajaran rohani setiap minggu, tetapi melalui ribuan momen kecil ketika anak melihat bahwa Tuhan hadir dan relevan dalam setiap bagian kehidupan.”
4. Ajarkan Bahwa Takut Akan Tuhan Adalah Permulaan Hikmat
Dunia modern sangat menghargai kecerdasan. Anak-anak diajar untuk memperoleh nilai yang tinggi, masuk sekolah terbaik, mengembangkan keterampilan, dan mencapai prestasi sebanyak mungkin. Semua itu baik dan penting. Namun Alkitab mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar daripada kecerdasan, yaitu hikmat. Dan hikmat sejati tidak dimulai dari kemampuan berpikir manusia, melainkan dari takut akan Tuhan.
Amsal 1:7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.”
Amsal 9:10: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.”
Kata “permulaan” di sini bukan sekadar langkah pertama, tetapi fondasi utama. Artinya, tanpa takut akan Tuhan, seseorang mungkin memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki hikmat. Ia bisa mengetahui banyak hal, tetapi tidak tahu bagaimana menjalani hidup dengan benar. Ia bisa pintar secara akademis, tetapi tetap membuat keputusan-keputusan yang merusak dirinya sendiri.
Inilah sebabnya mengapa salah satu tugas terpenting orang tua adalah mengajar anak untuk melihat hidup dari perspektif Tuhan. Anak perlu memahami bahwa keputusan yang benar tidak selalu sama dengan keputusan yang paling mudah, paling menguntungkan, atau paling populer. Dalam banyak situasi, jalan yang benar justru menuntut keberanian, pengorbanan, dan ketaatan kepada Tuhan.
Ketika anak memilih teman, orang tua dapat mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apakah teman tersebut populer, tetapi apakah persahabatan itu membawa mereka semakin dekat kepada Tuhan.
Amsal 13:20 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”
Ketika anak menggunakan media sosial, orang tua dapat mengajarkan bahwa tujuan hidup bukan mencari pengakuan manusia, melainkan hidup berkenan kepada Tuhan. Anak perlu belajar bahwa jumlah “likes” tidak menentukan nilai dirinya; identitas mereka ditemukan di dalam Kristus.
Ketika anak menggunakan uang, mereka perlu belajar bahwa uang bukan tuan yang harus disembah, melainkan alat yang dipercayakan Tuhan untuk dikelola dengan bijaksana. Mereka perlu memahami bahwa takut akan Tuhan memengaruhi cara seseorang memberi, menabung, membelanjakan, dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya.
Ketika anak menghadapi tekanan dari lingkungan, mereka perlu belajar bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas. Sering kali jalan Tuhan berbeda dengan arus dunia. Anak-anak seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjadi teladan bagaimana takut akan Tuhan memberi keberanian untuk tetap berdiri teguh meskipun berbeda dari orang lain.
Ajarkan anak untuk tidak memilih masa depan hanya berdasarkan uang, gengsi, atau status. Pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah, ‘Pekerjaan apa yang paling menghasilkan?’ tetapi, ‘Apa yang Tuhan kehendaki bagi hidup saya?’
Inilah esensi hikmat menurut Alkitab. Hikmat bukan hanya kemampuan memilih yang baik di antara yang buruk. Hikmat adalah kemampuan memilih apa yang berkenan kepada Tuhan, bahkan ketika pilihan lain tampak lebih menarik.
Karena itu, dalam setiap percakapan, keputusan, dan tantangan hidup, orang tua perlu membiasakan anak mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana tetapi sangat mendalam: “Apa yang Tuhan kehendaki?”
Semakin pertanyaan ini tertanam dalam hati anak, semakin takut akan Tuhan menjadi kompas yang mengarahkan seluruh hidup mereka.
Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan hanya membesarkan anak yang cerdas, melainkan anak yang bijaksana. Dunia membutuhkan orang-orang pintar, tetapi Kerajaan Allah membutuhkan orang-orang yang takut akan Tuhan. Sebab kecerdasan dapat membantu seseorang berhasil dalam hidup, tetapi hikmat yang lahir dari takut akan Tuhan akan menolongnya hidup benar, berkenan kepada Tuhan, dan menyelesaikan tujuan yang Tuhan berikan baginya.
“Kecerdasan membantu anak mengetahui apa yang mungkin dilakukan; takut akan Tuhan menolong mereka mengetahui apa yang seharusnya dilakukan.”
5. Bangun Hati yang Takut Akan Tuhan, Bukan Sekadar Perilaku yang Baik
Salah satu jebakan terbesar dalam parenting adalah terlalu fokus pada perilaku dan melupakan hati. Orang tua sering merasa berhasil ketika anak terlihat sopan, disiplin, patuh, berprestasi, dan tidak membuat masalah. Semua itu tentu baik dan perlu dibangun. Namun Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan selalu melihat lebih dalam daripada perilaku lahiriah. Tuhan melihat hati.
Amsal 23:17 “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.”
Perhatikan bahwa Salomo tidak pertama-tama berbicara tentang tindakan, melainkan tentang hati. Ia memahami bahwa akar dari kehidupan yang takut akan Tuhan berada di dalam hati seseorang. Perilaku hanyalah buah yang terlihat; hati adalah akar yang menentukan buah tersebut.
Karena itu, ketika mendidik anak takut akan Tuhan, orang tua tidak boleh hanya berusaha mengoreksi tindakan, tetapi juga membentuk hati. Anak mungkin berkata jujur karena takut dihukum. Anak mungkin patuh karena takut kehilangan hak istimewa. Anak mungkin pergi ke gereja karena diwajibkan orang tua. Semua itu bisa menghasilkan perilaku yang baik, tetapi belum tentu menghasilkan hati yang takut akan Tuhan.
Karena takut akan Tuhan adalah persoalan hati, orang tua perlu belajar melihat lebih dalam daripada sekadar perilaku yang terlihat. Jangan hanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” tetapi juga, “Mengapa kamu melakukannya?” Pertanyaan tentang tindakan membantu memperbaiki perilaku, tetapi pertanyaan tentang motivasi membantu membentuk hati. Melalui percakapan seperti ini, orang tua dapat menolong anak memahami bahwa Tuhan tidak hanya peduli pada apa yang mereka lakukan, tetapi juga pada sikap hati yang mendorong tindakan tersebut.
Ketika anak berkata jujur, bantu mereka memahami bahwa kejujuran menghormati Tuhan yang adalah Allah kebenaran. Ketika anak menaati orang tua, ajarkan bahwa ketaatan adalah bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Ketika anak berbagi dengan sesama, tunjukkan bahwa kemurahan hati mencerminkan karakter Tuhan yang murah hati.
Tujuan parenting Kristen bukan sekadar menghasilkan anak yang berperilaku baik ketika diawasi, tetapi anak yang tetap memilih yang benar karena menghormati Tuhan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Takut akan Tuhan harus menjadi motivasi yang lebih dalam daripada sekadar takut terhadap hukuman atau keinginan untuk mendapat pujian.
Karena itu, keberhasilan parenting tidak terutama diukur dari seberapa baik perilaku anak di depan orang lain, tetapi dari apakah hati mereka semakin mengasihi, menghormati, dan takut akan Tuhan. Sebab pada akhirnya, anak yang takut akan Tuhan akan melakukan yang benar bukan hanya karena ada aturan, melainkan karena ia ingin menyenangkan hati Tuhan.
“Tujuan parenting Kristen bukan hanya membentuk perilaku yang benar, tetapi membentuk hati yang takut akan Tuhan. Sebab ketika hati sudah tertambat kepada Tuhan, perilaku yang benar akan mengikuti.”
Closing
Di tengah dunia yang semakin menekankan prestasi, popularitas, dan pencapaian, orang tua Kristen dipanggil untuk mengingat bahwa keberhasilan terbesar seorang anak bukanlah ketika ia menjadi yang paling pintar, paling kaya, atau paling terkenal, melainkan ketika ia hidup dalam takut akan Tuhan. Gelar, karier, dan keberhasilan duniawi dapat membuka banyak pintu, tetapi hanya takut akan Tuhan yang akan menuntun seseorang berjalan dalam hikmat, karakter, dan tujuan hidup yang benar.
Mendidik anak takut akan Tuhan adalah pekerjaan yang panjang, penuh doa, kesabaran, dan ketekunan. Akan ada musim ketika hasilnya belum terlihat. Akan ada saat-saat orang tua merasa lelah, gagal, atau tidak cukup mampu. Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak meminta orang tua menjadi sempurna; Tuhan meminta mereka setia. Setiap doa yang dinaikkan, setiap Firman yang diajarkan, setiap teladan yang diberikan, dan setiap percakapan rohani yang dilakukan adalah benih yang Tuhan dapat pakai untuk membentuk hati seorang anak.
Pada akhirnya, tugas orang tua bukanlah mengendalikan masa depan anak, melainkan dengan setia mengarahkan hati mereka kepada Tuhan. Dan ketika seorang anak sungguh mengenal, mengasihi, dan berjalan bersama Tuhan, orang tua telah mencapai tujuan tertinggi dari panggilan mereka.
“Warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya bukanlah kekayaan, pendidikan, atau kesuksesan, melainkan hati yang mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan, dan hidup dalam takut akan Tuhan sepanjang hidupnya.”