Fokus Pemuridan pada Mereka yang Mau Dibentuk

Salah satu realita paling sulit dalam pelayanan dan pemuridan adalah menerima bahwa:

Tidak semua orang mau dimuridkan.

Tidak semua orang yang datang ke gereja mau dibentuk.
Tidak semua orang yang dekat dengan pemimpin mau diproses.
Tidak semua orang yang mendengar firman mau berubah.

Dan banyak pemimpin menjadi lelah bukan karena terlalu banyak melayani,
tetapi karena terlalu lama mencoba membentuk orang yang sebenarnya tidak mau dibentuk.

Ada perbedaan besar antara:
orang yang lemah dan orang yang keras hati,
orang yang terluka dan orang yang terus menolak koreksi,
orang yang butuh pertolongan dan orang yang tidak mau diajar.

Jika kita tidak memiliki discernment,
kita akan menghabiskan energi terbesar kepada orang yang resistif,
sementara orang-orang yang lapar justru kurang diperhatikan.

Padahal Yesus sendiri tidak memuridkan semua orang dengan kedalaman yang sama.


Yesus Tidak Memaksa Semua Orang

Yohanes 6 adalah salah satu perikop paling jujur tentang pemuridan.

Setelah Yesus menyampaikan pengajaran yang keras,
Alkitab berkata:

“Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.”
— Yohanes 6:66

Perhatikan: mereka disebut “murid-murid.”

Mereka pernah mengikuti Yesus.
Pernah mendengar pengajaran-Nya.
Pernah berjalan bersama-Nya.

Tetapi ketika pemuridan menuntut surrender,
ketaatan,
dan perubahan,
mereka pergi.

Dan yang mengejutkan—
Yesus tidak mengejar mereka.

Yesus tidak menurunkan standar supaya mereka tetap tinggal.

Sebaliknya, Yesus berkata kepada dua belas murid:

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
— Yohanes 6:67

Lalu Petrus menjawab:

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.”
— Yohanes 6:68

Di sini kita melihat dua jenis orang:

  • mereka yang suka kedekatan dengan Yesus tetapi tidak mau dibentuk oleh Yesus
  • mereka yang tetap tinggal sekalipun prosesnya sulit

Karena pemuridan sejati selalu menuntut willingness.


Tidak Semua Orang yang Hadir Siap Diproses

Banyak orang menyukai:
komunitas,
suasana,
penyembahan,
inspirasi,
atau kenyamanan relasi.

Tetapi pemuridan lebih dari sekadar hadir.

Pemuridan berarti:

  • mau dikoreksi
  • mau diajar
  • mau berubah
  • mau taat
  • mau menyangkal diri
  • mau diproses

Dan tidak semua orang menginginkan itu.

Ada orang yang ingin didukung,
tetapi tidak mau diarahkan.

Ada orang yang ingin diterima,
tetapi tidak mau bertumbuh.

Ada orang yang ingin dekat dengan pemimpin,
tetapi tidak mau tunduk pada proses.

Itulah sebabnya Yesus memiliki banyak crowd,
tetapi sedikit murid yang benar-benar tinggal.


Yesus Fokus Kepada Mereka yang Mau Tinggal

Yesus melayani banyak orang,
tetapi Ia mencurahkan hidup-Nya kepada mereka yang mau dibentuk.

Dari banyak pengikut,
Yesus memilih dua belas.
Dari dua belas,
Ia lebih dekat kepada tiga.

Ini menunjukkan bahwa kedalaman selalu membutuhkan willingness.

Pemuridan tidak dibangun atas dasar jumlah,
tetapi atas dasar kelaparan rohani.

Karena itu pemimpin yang dewasa harus belajar menginvestasikan energi secara bijaksana.

Bukan berarti kita berhenti mengasihi semua orang.
Tetapi kita tidak bisa memberikan kedalaman yang sama kepada orang yang terus menolak proses.

Bahkan Yesus sendiri berkata:

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi…”
— Matius 7:6

Artinya: Harus ada hikmat dalam mengelola investasi rohani.


Banyak Pemimpin Burnout Karena Salah Fokus

Salah satu penyebab burnout dalam pelayanan adalah:
terlalu banyak energi dipakai untuk mengejar orang yang terus melawan pertumbuhan.

Terus dibujuk.
Terus dikejar.
Terus diyakinkan.
Terus dipaksa.

Padahal transformasi tidak bisa dipaksakan.

Pemimpin bukan Roh Kudus.

Kita bisa:
mengajar,
mengasihi,
menegur,
mendoakan,
membimbing.

Tetapi kita tidak bisa membuat seseorang lapar akan Tuhan.

Hanya Roh Kudus yang bisa memberi conviction dalam hati manusia.

Dan salah satu kebebasan terbesar dalam kepemimpinan adalah menyadari:

Saya tidak dipanggil untuk memaksa semua orang berubah.


Fokuslah Pada Mereka yang Mau Dibentuk

Investasikan hidup kepada orang-orang yang:

  • mau diajar
  • mau mendengar
  • mau bertobat
  • mau diproses
  • mau bertumbuh
  • mau tetap tinggal ketika firman terasa keras

Karena di sanalah buah akan lahir.

Paulus berkata kepada Timotius:

“Apa yang telah engkau dengar dariku… percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”
— 2 Timotius 2:2

Perhatikan:
Paulus tidak berkata “kepada semua orang.”

Tetapi kepada orang yang faithful.
Orang yang bisa dipercaya.
Orang yang mau menerima impartasi.

Pemuridan selalu membutuhkan hati yang siap menerima.


Pada Akhirnya…

Tidak semua orang yang datang akan tinggal.
Tidak semua orang yang mulai akan bertahan.
Tidak semua orang yang mendengar firman akan mengizinkan firman mengubah hidup mereka.

Dan itu bukan berarti kita berhenti mengasihi semua orang.
Tetapi sebagai pemimpin, kita perlu memiliki hikmat untuk mengenali kepada siapa kita harus menginvestasikan kedalaman pemuridan.

Yesus mengasihi banyak orang,
tetapi Ia memfokuskan hidup-Nya kepada murid-murid yang mau tinggal,
mau belajar,
mau dibentuk,
dan mau berjalan bersama-Nya.

Karena pemuridan sejati membutuhkan willingness.

Tugas kita bukan memaksa semua orang berubah.
Tugas kita adalah tetap setia menabur firman,
setia mengajar,
setia mengasihi,
dan dengan bijaksana memfokuskan energi, waktu, dan hidup kita kepada orang-orang yang sungguh lapar untuk bertumbuh.

Sebab pelayanan yang sehat bukan dibangun atas dasar mengejar semua orang,
melainkan membangun murid-murid yang benar-benar mau mengikuti Kristus, diproses oleh kebenaran, dan bertumbuh menjadi serupa dengan-Nya.

Tinggalkan komentar