Ada sebuah beban yang sering diam-diam dipikul oleh banyak pemimpin rohani.
Beban untuk menyelamatkan semua orang.
Beban untuk memastikan tidak ada yang pergi.
Tidak ada yang kecewa.
Tidak ada yang meninggalkan gereja.
Tidak ada yang menjauh.
Dan tanpa sadar…
banyak pemimpin akhirnya hidup dalam kelelahan emosional yang mendalam,
karena mencoba memikul tanggung jawab yang bahkan Tuhan sendiri tidak pernah ambil sepenuhnya.
Yesus adalah Gembala yang baik.
Tetapi menariknya, Yesus tidak memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.
Ada domba yang hilang yang Dia cari.
Ada anak yang hilang yang Dia biarkan pergi.
Dan mengetahui perbedaannya adalah bagian dari hikmat dalam menggembalakan manusia.
Domba yang Hilang dan Anak yang Hilang
Dalam Lukas 15, Yesus memberikan dua gambaran yang sangat berbeda.
Yang pertama adalah domba yang hilang.
Domba tersesat bukan karena pemberontakan.
Ia tersesat karena kebingungan.
Karena kelemahan.
Karena tidak tahu arah.
Karena rentan.
Itulah sebabnya sang gembala meninggalkan 99 ekor untuk mencari yang satu.
Karena domba yang hilang biasanya ingin ditemukan.
Mereka terluka.
Mereka lelah.
Mereka terisolasi.
Mereka membutuhkan pertolongan.
Mereka tidak sedang melawan gembala.
Mereka hanya tidak tahu jalan pulang.
Dan Yesus berkata:
“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
— Lukas 19:10
Tetapi anak yang hilang berbeda.
Ia pergi dengan sadar.
Ia meminta warisan.
Ia memilih meninggalkan rumah.
Ia menginginkan kebebasan tanpa otoritas sang ayah.
Dan menariknya—
sang ayah tidak mengejarnya ke negeri yang jauh.
Bukan karena ia berhenti mengasihi anaknya.
Tetapi karena kasih tidak selalu berarti memaksa seseorang tetap tinggal.
Ada orang-orang yang hanya bisa belajar melalui konsekuensi.
Anak bungsu itu “menyadari keadaannya” justru ketika berada di kandang babi.
Kelaparan menjadi alat pewahyuan.
Kesakitan menjadi ruang kesadaran.
Kadang-kadang penderitaan mengajarkan apa yang tidak bisa diajarkan oleh nasihat.
Tidak Semua Orang yang Pergi Sedang Tersesat
Ini adalah discernment yang penting bagi para pemimpin.
Tidak semua orang yang meninggalkan komunitas adalah “lost sheep.”
Sebagian memang terluka dan perlu dipulihkan.
Sebagian sedang lelah dan perlu dirangkul.
Sebagian sedang bingung dan perlu diarahkan.
Tetapi sebagian lain memang memilih pergi.
Mereka menolak koreksi.
Menolak hikmat.
Menolak otoritas.
Menolak dibentuk.
Dan pemimpin yang tidak memiliki discernment akan menghabiskan bertahun-tahun mengejar orang yang sebenarnya tidak ingin ditolong.
Akibatnya?
Energi habis.
Damai sejahtera hilang.
Fokus pelayanan terganggu.
Dan 99 domba lainnya justru tidak tergembalakan dengan baik.
Tidak semua orang yang menjauh membutuhkan rescue.
Sebagian membutuhkan revelation.
Satu sedang menangis minta tolong.
Yang lain sedang melawan pertolongan.
Satu perlu digendong pulang.
Yang lain harus memutuskan sendiri untuk pulang.
Yesus Mengundang, Tetapi Tidak Memaksa
Lihat bagaimana Yesus memperlakukan orang muda yang kaya.
“Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya.”
(Markus 10:21)
Yesus mengasihi dia.
Yesus berkata jujur kepadanya.
Yesus mengundangnya.
Tetapi ketika orang itu pergi dengan sedih…
Yesus tidak mengejarnya.
Yesus tidak menurunkan standar supaya dia tetap tinggal.
Karena transformation tidak bisa dipaksakan.
Tuhan sendiri memberi manusia kehendak bebas.
Dan salah satu kedewasaan terbesar dalam kepemimpinan adalah menyadari: Kita bukan Roh Kudus.
Tugas kita adalah:
mengasihi,
mengajar,
mengundang,
menegur,
mendoakan,
dan tetap setia.
Tetapi conviction adalah pekerjaan Roh Kudus.
Perubahan hati adalah pekerjaan Tuhan.
Ada titik di mana seorang pemimpin harus berhenti mencoba “mengontrol hasil.”
Banyak Pemimpin Burnout Karena Salah Membawa Beban
Banyak pemimpin kelelahan bukan karena terlalu banyak bekerja,
tetapi karena terlalu banyak mencoba menyelamatkan orang yang tidak ingin berubah.
Mereka terus mengejar.
Terus membujuk.
Terus memaksa.
Terus mencoba menjaga hubungan yang sebenarnya sudah ditolak oleh pihak lain.
Dan perlahan,
pelayanan berubah menjadi emotional exhaustion.
Padahal bahkan Yesus sendiri membiarkan beberapa orang pergi.
Dalam Yohanes 6,
setelah pengajaran yang keras,
banyak murid meninggalkan Yesus.
Dan Yesus tidak mengejar mereka.
Sebaliknya Dia bertanya kepada dua belas murid:
“Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
— Yohanes 6:67
Ada ketenangan dalam hati Yesus.
Karena identitas-Nya tidak dibangun di atas kebutuhan untuk mempertahankan semua orang.
Postur Sang Ayah
Tetapi melepaskan bukan berarti berhenti mengasihi.
Inilah keindahan hati sang ayah dalam Lukas 15.
Ia tidak mengejar anaknya ke negeri jauh.
Tetapi ia tetap menunggu.
Tetap berharap.
Tetap membuka pintu.
Tetap memiliki hati seorang ayah.
Ketika anak itu pulang,
sang ayah berlari menyambutnya.
Artinya:
boundaries bukan bitterness.
Melepaskan seseorang bukan berarti menolak mereka.
Kadang itu justru bentuk kasih yang paling dewasa.
Karena hubungan yang sehat tidak bisa dibangun dengan paksaan.
Gembalakan Mereka yang Mau Dibentuk
Pada akhirnya, seorang pemimpin harus belajar fokus pada orang-orang yang lapar akan Tuhan.
Orang-orang yang mau belajar.
Mau dibentuk.
Mau dikoreksi.
Mau bertumbuh.
Yesus tidak pernah memohon orang untuk tetap tinggal.
Dia mengundang.
Dia mengasihi.
Dia berkata benar.
Lalu Dia membiarkan manusia memilih.
Dan mungkin salah satu kalimat paling membebaskan bagi seorang pemimpin adalah ini:
“Tidak semua orang ditugaskan untuk kita pertahankan.”
Sebagian orang adalah divine assignment.
Sebagian lainnya hanyalah distraksi yang menyamar sebagai loyalitas.
Pergilah mencari domba yang hilang.
Doakan anak yang hilang.
Tetapi jangan meninggalkan 99 hanya demi memaksa seseorang pulang sebelum waktunya.
Karena pada akhirnya,
kepemimpinan yang dewasa berkata:
“Inilah jalannya.
Mari berjalan bersama kami jika engkau mau.”