Penulisan Tesis S2 di STT Harvest Semarang

Penulisan tesis di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Harvest Semarang merupakan puncak dari proses akademik dan formasi teologis mahasiswa program pascasarjana. Tesis bukan sekadar kewajiban administratif untuk memperoleh gelar magister, tetapi sebuah karya ilmiah yang mencerminkan kedewasaan intelektual, ketajaman analisis, dan kesungguhan rohani. Dalam konteks teologi, penulisan tesis juga menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman akan Firman Tuhan melalui exegesis yang bertanggung jawab, kajian literatur yang komprehensif, serta refleksi kontekstual yang relevan bagi gereja masa kini. Oleh karena itu, tesis di STT Harvest Semarang harus ditulis dengan integritas akademik, kedisiplinan metodologis, serta kepekaan pastoral, sehingga mampu memberi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu teologi dan pelayanan gereja.


CONTOH ISI Bab 1 – Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Bagian ini memaparkan konteks umum dari topik penelitian.

  • Menjelaskan fenomena, fakta, atau realitas yang melatarbelakangi penelitian.
  • Menunjukkan adanya kesenjangan antara teori/ideal dengan praktik/realitas.
  • Menyajikan urgensi mengapa penelitian ini penting dilakukan (signifikansi).
  • Pada bagian akhir biasanya diakhiri dengan kalimat yang mengerucut ke masalah inti penelitian.

2. Identifikasi Masalah

  • Menyajikan daftar isu atau permasalahan yang muncul dari latar belakang.
  • Biasanya berbentuk poin-poin singkat yang diuraikan dari umum ke khusus.
  • Tidak semua masalah akan diteliti, tapi semua masalah yang relevan perlu disebutkan agar pembaca memahami kompleksitasnya.

3. Fokus Penelitian

  • Menunjukkan batasan dari masalah yang akan diteliti.
  • Menjelaskan aspek mana yang menjadi perhatian utama dari peneliti, agar penelitian tidak terlalu melebar.
  • Fokus penelitian harus jelas, spesifik, dan realistis.

4. Rumusan Masalah (dalam bentuk pertanyaan)

  • Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya yang menegaskan apa yang ingin dijawab oleh penelitian.
  • Bisa satu atau beberapa pertanyaan, tergantung lingkup penelitian.
  • Pertanyaan penelitian harus konsisten dengan fokus penelitian.

5. Tujuan Penelitian

  • Menjelaskan secara eksplisit apa yang ingin dicapai melalui penelitian ini.
  • Umumnya tujuan penelitian dibuat dalam bentuk kalimat pernyataan (bukan pertanyaan).
  • Bisa terdiri dari tujuan umum (gambaran besar) dan tujuan khusus (lebih detail, terkait dengan rumusan masalah).

6. Manfaat Penelitian

  • Menyebutkan kontribusi penelitian bagi:
    a. Teori/akademik → memperkaya khazanah ilmu teologi, kepemimpinan, pendidikan Kristen, dsb.
    b. Praktis → manfaat nyata bagi gereja, sekolah teologi, jemaat, atau masyarakat.
  • Kadang juga ditambahkan manfaat pribadi bagi penulis.

7. Metode Penelitian

  • Menjelaskan pendekatan yang dipakai (kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi).
  • Menyebutkan metode pengumpulan data (misalnya wawancara, observasi, studi literatur, survei, analisis teks Alkitab).
  • Menguraikan bagaimana data akan dianalisis.
  • Disampaikan secara ringkas (detail biasanya ada di Bab 3).

8. Sistematika Penulisan

  • Berisi uraian singkat tentang isi tiap bab dalam tesis.
  • Ditulis dalam bentuk deskripsi singkat, bukan hanya daftar.
  • Contoh:
    • Bab 1 menjelaskan latar belakang, identifikasi masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode, dan sistematika penulisan.
    • Bab 2 memaparkan kajian pustaka dan landasan teori…
    • Bab 3 membahas metode penelitian…
    • Bab 4 menyajikan hasil penelitian dan pembahasan…
    • Bab 5 berisi kesimpulan dan saran.

CONTOH BAB 1 – PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kepemimpinan merupakan aspek yang sangat vital dalam kehidupan gereja. Sejak zaman Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, Alkitab menegaskan pentingnya peranan seorang pemimpin dalam mengarahkan umat Allah kepada ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir (Kel. 3:10), Daud menuntun bangsa dalam ibadah kepada Allah (2 Sam. 6:17–19), dan para rasul melayani jemaat mula-mula dengan dasar panggilan Kristus (Kis. 6:2–4). Dalam perkembangan gereja masa kini, kepemimpinan sering kali menghadapi tantangan serius, baik dalam hal integritas, orientasi pelayanan, maupun relevansi terhadap kebutuhan jemaat di tengah perubahan zaman.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit pemimpin gereja yang terjebak pada pola kepemimpinan duniawi, seperti otoritarianisme, pragmatisme, bahkan sekularisme. Pola ini sering kali menghasilkan krisis kepercayaan jemaat, konflik internal, dan penurunan kualitas pertumbuhan rohani. Di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk kembali kepada dasar teologis kepemimpinan gereja yang berakar pada Alkitab dan Kristus sebagai Kepala Gereja (Kol. 1:18). Karena itu, kajian mengenai teologi kepemimpinan gereja bukan hanya penting secara akademik, melainkan juga relevan secara praktis bagi keberlangsungan misi gereja di dunia.


1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, antara lain:

  1. Terjadinya pergeseran paradigma kepemimpinan gereja dari model Kristus-sentris menuju model duniawi yang berorientasi pada kuasa dan popularitas.
  2. Kurangnya pemahaman mendalam tentang dasar teologi kepemimpinan yang berakar pada Alkitab.
  3. Minimnya literatur kontekstual yang mengintegrasikan konsep kepemimpinan teologis dengan realitas kepemimpinan gereja lokal.
  4. Tantangan praktis pemimpin gereja dalam menerapkan prinsip kepemimpinan yang melayani di tengah konteks modern.

1.3 Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada tiga hal utama, yaitu:

  1. Dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Alkitab, khususnya dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip yang menegaskan kepemimpinan sebagai panggilan ilahi dan pelayanan.
  2. Teladan Yesus Kristus dalam kepemimpinan, yang mencerminkan nilai kerendahan hati, pengorbanan, dan pelayanan bagi jemaat sebagai model utama kepemimpinan gereja.
  3. Implikasi teologi kepemimpinan gereja bagi konteks kepemimpinan gereja lokal masa kini, sehingga dapat diaplikasikan secara relevan dalam menghadapi tantangan pelayanan dan perubahan zaman.

1.4 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini dinyatakan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apa dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Alkitab?
  2. Bagaimana Yesus Kristus menjadi teladan dalam konsep kepemimpinan gereja?
  3. Apa implikasi teologi kepemimpinan gereja terhadap praktik kepemimpinan gereja lokal pada masa kini?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  1. Menggali dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Alkitab.
  2. Mendeskripsikan teladan kepemimpinan Yesus Kristus dalam pelayanan-Nya.
  3. Merumuskan implikasi teologi kepemimpinan gereja bagi konteks kepemimpinan gereja lokal masa kini.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya khazanah teologi praktika, khususnya dalam bidang kepemimpinan gereja, dengan menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dasar-dasar biblis dan teologis kepemimpinan.
  2. Secara praktis, penelitian ini memberi kontribusi bagi pemimpin gereja, majelis, dan pelayan jemaat dalam mengembangkan pola kepemimpinan yang sesuai dengan prinsip Kristus.
  3. Secara pribadi, penelitian ini diharapkan menambah wawasan dan memperkuat integritas penulis sebagai calon pemimpin gereja yang mengutamakan nilai-nilai pelayanan Kristus.

1.7 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data dikumpulkan melalui kajian literatur yang mencakup sumber-sumber primer berupa Alkitab, literatur teologi kepemimpinan, serta sumber-sumber sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis), yakni menelaah secara mendalam konsep-konsep teologis dan mengaitkannya dengan realitas kepemimpinan gereja masa kini.


1.8 Sistematika Penulisan

Agar penelitian ini terarah, penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:

  • Bab 1 Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
  • Bab 2 Kajian Pustaka dan Landasan Teori, membahas teori-teori kepemimpinan gereja, kajian literatur terkait, dan landasan biblis-teologis yang mendukung penelitian.
  • Bab 3 Metodologi Penelitian, menjelaskan pendekatan penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.
  • Bab 4 Hasil Penelitian dan Pembahasan, menyajikan hasil kajian teologis kepemimpinan gereja serta analisis implikasinya bagi gereja masa kini.
  • Bab 5 Kesimpulan dan Saran, berisi ringkasan hasil penelitian, jawaban atas rumusan masalah, serta saran praktis bagi gereja dan penelitian lebih lanjut.

CONTOH ISI BAB 2 – KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN LANDASAN ALKITAB

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Kepemimpinan dalam Perspektif Umum

Secara umum, kepemimpinan dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk memengaruhi, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain menuju pencapaian tujuan tertentu. John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai “influence – nothing more, nothing less” (Maxwell, 1998). Artinya, inti dari kepemimpinan adalah pengaruh.

Dalam literatur manajemen modern, dikenal beberapa teori kepemimpinan, antara lain:

  1. Teori Sifat (Trait Theory): menganggap bahwa pemimpin dilahirkan dengan sifat-sifat khusus seperti karisma, keberanian, dan kecerdasan.
  2. Teori Perilaku (Behavioral Theory): menekankan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari melalui pola perilaku, misalnya gaya otoriter, demokratis, atau laissez-faire.
  3. Teori Situasional (Situational/Contingency Theory): menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan ditentukan oleh kesesuaian antara gaya pemimpin dengan situasi yang dihadapi.
  4. Teori Transformasional: menekankan bahwa pemimpin menginspirasi dan mengubah orang lain melalui visi, motivasi, dan keteladanan.

Teori-teori tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika kepemimpinan, namun tidak cukup untuk menjawab kebutuhan gereja yang bersifat rohani, sebab gereja bukan sekadar organisasi sosial, melainkan tubuh Kristus.


2.1.2 Kepemimpinan Gereja dalam Literatur Teologi

Dalam konteks gereja, kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai keterampilan mengelola organisasi, melainkan sebagai panggilan untuk menggembalakan umat Allah. Greenleaf (1977) memperkenalkan konsep servant leadership, yang kemudian banyak diadopsi dalam literatur teologi karena selaras dengan prinsip kepemimpinan Kristus.

Beberapa literatur teologi kepemimpinan menekankan hal berikut:

  1. Kepemimpinan Kristus-sentris: Kristus adalah teladan utama dan Kepala Gereja (Kol. 1:18). Semua kepemimpinan gereja harus berakar dalam teladan-Nya.
  2. Kepemimpinan yang Melayani (Servant Leadership): Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26).
  3. Kepemimpinan yang Berkarakter: Paulus menekankan syarat-syarat penilik jemaat (1 Tim. 3:1–7), yang menekankan integritas, kesetiaan, dan kerendahan hati.

Dengan demikian, kepemimpinan gereja tidak dapat direduksi hanya pada manajemen organisasi, melainkan harus mencerminkan spiritualitas, keteladanan, dan pengabdian kepada Kristus.

2.2 Landasan Teologis Kepemimpinan Gereja

2.2.1 Exegesis Markus 10:42–45

Perikop ini merupakan salah satu teks kunci dalam memahami teologi kepemimpinan gereja. Yesus berkata:

“Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10:42–45).

Konteks historis:
Yesus sedang merespons ambisi Yakobus dan Yohanes yang ingin menduduki posisi terhormat dalam kerajaan Mesias. Dalam konteks dunia Romawi, kepemimpinan identik dengan kekuasaan dan dominasi. Yesus melawan paradigma ini dengan menghadirkan model kepemimpinan baru: melayani dan berkorban.

Analisis teologis:

  • Kepemimpinan dunia = katakurieuousin (κατακυριεύουσιν, “memerintah dengan otoriter”).
  • Kepemimpinan Kristus = diakonos (διάκονος, “pelayan meja”) dan doulos (δοῦλος, “hamba/budak”).
  • Yesus menutup dengan teladan diri-Nya: kepemimpinan sejati adalah pelayanan yang berpuncak pada pengorbanan salib.

Implikasi: Teks ini menegaskan bahwa teologi kepemimpinan gereja harus radikal berbeda dengan model kepemimpinan duniawi. Otoritas pemimpin gereja ditentukan oleh kerendahan hati dan kesediaan melayani, bukan kedudukan atau kuasa.


2.2.2 Word Study Kata Kunci

  1. Diakonos (διάκονος)
    Arti literalnya adalah “pelayan meja” (Yoh. 2:5, 1 Kor. 3:5). Dalam PB, kata ini menggambarkan fungsi pelayanan aktif yang rendah hati. Menjadi pemimpin gereja berarti pertama-tama menjadi pelayan bagi jemaat.
  2. Doulos (δοῦλος)
    Secara literal berarti “budak/hamba.” Paulus menyebut dirinya doulos Christou (hamba Kristus, Rm. 1:1). Konotasi kata ini sangat kuat: bukan sekadar melayani, tetapi menyerahkan hak diri sepenuhnya demi Kristus.
  3. Episkopos (ἐπίσκοπος) – “penilik” (1 Tim. 3:1–7)
    Kata ini menunjukkan fungsi pengawasan dan pemeliharaan jemaat, bukan dominasi. Seorang episkopos harus berintegritas, bijaksana, mampu mengajar, dan menjadi teladan dalam keluarga.
  4. Poimēn (ποιμήν) – “gembala” (1 Ptr. 5:2–4)
    Gambaran kepemimpinan sebagai gembala menekankan relasi personal, kasih, dan tanggung jawab untuk melindungi kawanan. Pemimpin gereja dipanggil menggembalakan dengan sukarela, bukan karena paksaan atau keuntungan pribadi.

2.2.3 Exegesis Ayat Pendukung

  1. 1 Timotius 3:1–7
    Menekankan syarat-syarat pemimpin gereja: tidak bercacat, bijaksana, setia kepada pasangan, hidup tertib, suka memberi tumpangan, pandai mengajar, bukan pemabuk, bukan pemarah, melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang. Syarat ini menunjukkan bahwa karakter lebih penting daripada karisma.
  2. 1 Petrus 5:2–4
    Petrus menegaskan bahwa gembala harus menggembalakan kawanan Allah dengan sukarela, bukan untuk keuntungan, serta menjadi teladan, bukan penguasa. Upahnya adalah mahkota kemuliaan dari Gembala Agung.
  3. Yohanes 13:12–15
    Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai simbol kepemimpinan rendah hati. Aksi ini menekankan bahwa teladan hidup lebih kuat daripada sekadar perkataan.

2.2.4 Sintesis Teologis

Dari exegesis dan word study di atas, dapat disimpulkan beberapa prinsip teologi kepemimpinan gereja:

  1. Kepemimpinan gereja berakar pada teladan Kristus: melayani dan berkorban, bukan mendominasi.
  2. Kepemimpinan gereja menekankan karakter, bukan jabatan: integritas, kerendahan hati, dan kesetiaan lebih utama daripada kemampuan organisasi semata.
  3. Kepemimpinan gereja bersifat relasional: pemimpin adalah gembala yang mengasihi dan merawat, bukan hanya manajer yang mengatur.

Dengan demikian, teologi kepemimpinan gereja memadukan aspek eksistensial (identitas pemimpin sebagai hamba Kristus), etis (karakter dan integritas), serta praktis (fungsi menggembalakan jemaat).

CONTOH BAB 3 – METODOLOGI PENELITIAN (DI TESIS KUALITATIF INI TIDAK WAJIB)

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini tidak berfokus pada pengukuran numerik atau statistik, melainkan pada penggalian makna, konsep, dan prinsip teologis yang terkandung dalam teks Alkitab serta literatur teologi kepemimpinan.

Metode studi pustaka memungkinkan peneliti untuk mengkaji, membandingkan, dan menganalisis berbagai sumber literatur primer maupun sekunder, serta menyintesisnya dalam kerangka teologi kepemimpinan gereja yang berakar pada Alkitab.


3.2 Sumber Data

3.2.1 Sumber Data Primer

  • Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), khususnya teks-teks utama tentang kepemimpinan gereja, seperti Markus 10:42–45, 1 Timotius 3:1–7, 1 Petrus 5:2–4, dan Yohanes 13:12–15.
  • Kamus Alkitab dan leksikon bahasa asli, seperti Strong’s ConcordanceBDAG (Greek-English Lexicon of the New Testament), dan HALOT (Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament) untuk menunjang studi kata (word study).

3.2.2 Sumber Data Sekunder

  • Literatur teologi kepemimpinan (misalnya: John Stott, Christian Leadership; Oswald Sanders, Spiritual Leadership; Henry & Richard Blackaby, Spiritual Leadership).
  • Literatur akademik tentang teori kepemimpinan modern, untuk perbandingan (misalnya: John Maxwell, James MacGregor Burns).
  • Jurnal-jurnal teologi yang membahas ekklesiologi dan kepemimpinan Kristen.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui:

  1. Studi Literatur – membaca, mencatat, dan mengklasifikasi isi buku, artikel, dan jurnal terkait kepemimpinan gereja.
  2. Exegesis Alkitabiah – analisis teks dengan memperhatikan konteks historis, gramatikal, dan teologis.
  3. Word Study – penggalian makna kata kunci dalam bahasa Yunani/Ibrani dari teks utama dan ayat pendukung.
  4. Analisis Komparatif – membandingkan pandangan Alkitab dengan teori kepemimpinan sekuler untuk menemukan kontras dan integrasi.

3.4 Metode Analisis Data

Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis) yang melibatkan:

  1. Identifikasi tema utama dalam teks Alkitab terkait kepemimpinan.
  2. Penguraian makna kata kunci melalui word study.
  3. Penarikan prinsip teologis dari hasil exegesis.
  4. Sintesis dengan literatur teologi kepemimpinan untuk menghasilkan kerangka konseptual yang utuh.
  5. Penerapan prinsip-prinsip tersebut ke dalam konteks kepemimpinan gereja masa kini.

3.5 Validitas Penelitian

Untuk menjaga validitas penelitian, penulis menggunakan:

  • Triangulasi sumber: membandingkan teks Alkitab dengan literatur teologi klasik dan modern.
  • Konsistensi hermeneutik: menafsirkan teks sesuai dengan konteks historis dan gramatikal, bukan berdasarkan asumsi pribadi.
  • Konfirmasi akademik: menggunakan referensi dari jurnal dan literatur teologi yang kredibel.

3.6 Langkah-Langkah Penelitian

  1. Menentukan fokus penelitian berdasarkan masalah kepemimpinan gereja.
  2. Mengumpulkan sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan.
  3. Melakukan exegesis teks utama (Markus 10:42–45, 1 Timotius 3:1–7, 1 Petrus 5:2–4, Yohanes 13:12–15).
  4. Melakukan word study terhadap kata-kata kunci seperti diakonos, doulos, episkopos, poimēn.
  5. Menganalisis literatur teologi kepemimpinan dan membandingkannya dengan teori sekuler.
  6. Menyusun sintesis teologis tentang kepemimpinan gereja.
  7. Menyajikan hasil penelitian dalam bentuk tesis akademik yang sistematis.

CONTOH BAB 4 – HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Dasar Teologi Kepemimpinan Gereja Menurut Alkitab

4.1.1 Kepemimpinan sebagai Panggilan Ilahi

Dalam PL, kepemimpinan selalu berawal dari panggilan Allah, bukan ambisi pribadi. Musa dipanggil di semak yang menyala (Kel. 3:10), Gideon dipanggil dari tengah kelemahan (Hak. 6:14–16), dan Daud dipanggil saat masih muda (1 Sam. 16:11–13). Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan gereja bukan hasil usaha manusia, melainkan panggilan dari Allah.

Dalam PB, Paulus menegaskan bahwa menjadi penilik jemaat adalah pekerjaan mulia (1 Tim. 3:1), namun syaratnya bukan kehebatan lahiriah, melainkan integritas hidup. Dengan demikian, dasar teologis kepemimpinan adalah panggilan Allah dan karakter Kristus, bukan prestise atau posisi sosial.

4.1.2 Kepemimpinan sebagai Amanat Penggembalaan

Istilah episkopos (penilik) dan poimēn (gembala) dalam PB menekankan bahwa pemimpin gereja berfungsi menjaga, membimbing, dan melindungi jemaat. 1 Petrus 5:2–3 menegaskan: “Gembalakanlah kawanan domba Allah… bukan dengan paksa, tetapi dengan sukarela… dan janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”

Artinya, kepemimpinan gereja adalah pelayanan pastoral yang menekankan relasi, kasih, dan keteladanan.


4.2 Teladan Kepemimpinan Yesus Kristus

4.2.1 Yesus dan Paradigma Kepemimpinan yang Terbalik

Markus 10:42–45 menegaskan kontras antara kepemimpinan dunia dan kepemimpinan Kristus. Kata katakurieuousin(κατακυριεύουσιν) menggambarkan dominasi pemimpin dunia. Sebaliknya, Yesus menawarkan paradigma baru: pemimpin sebagai diakonos (pelayan) dan doulos (hamba).

Yesus menutup dengan teladan diri-Nya: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (ay. 45). Artinya, puncak kepemimpinan Yesus adalah salib – kepemimpinan yang berkorban demi keselamatan orang lain.

4.2.2 Yesus sebagai Teladan Kerendahan Hati

Dalam Yohanes 13:12–15, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Dalam budaya Yahudi, itu adalah tugas budak, tetapi Yesus melakukannya untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari kerendahan hati. Word study diakonosmenekankan pelayanan aktif dan rendah hati.

4.2.3 Yesus sebagai Pemimpin Transformasional

Yesus tidak hanya memimpin melalui perkataan, tetapi membentuk murid-murid menjadi pemimpin misi (Mat. 28:19–20). Teladan-Nya mencerminkan kepemimpinan transformasional yang mengubah orang dari dalam untuk menjadi serupa dengan Kristus.


4.3 Implikasi Teologi Kepemimpinan bagi Gereja Masa Kini

4.3.1 Kepemimpinan yang Berakar pada Karakter, Bukan Jabatan

1 Timotius 3:1–7 menegaskan syarat pemimpin gereja lebih menekankan integritas (tak bercacat, setia, bijaksana) daripada kemampuan administratif. Hal ini menantang gereja masa kini yang sering lebih terpesona pada karisma daripada karakter.

4.3.2 Kepemimpinan yang Melayani, Bukan Menguasai

Markus 10:42–45 menunjukkan bahwa kepemimpinan gereja seharusnya berbeda dari kepemimpinan dunia. Gereja perlu membangun budaya kepemimpinan yang melayani jemaat dengan kasih, bukan memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi atau organisasi.

4.3.3 Kepemimpinan yang Relasional dan Pastoral

Metafora poimēn menekankan bahwa pemimpin gereja harus menggembalakan kawanan dengan kasih dan perhatian. Pemimpin bukan hanya manajer struktur, tetapi gembala yang mengenal, menjaga, dan menuntun jemaat menuju kedewasaan rohani.


4.4 Diskusi Teologis

Berdasarkan hasil exegesis dan word study, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Kepemimpinan gereja adalah partisipasi dalam missio Dei. Pemimpin dipanggil bukan sekadar untuk mengatur organisasi, tetapi untuk menjadi wakil Allah dalam misi-Nya di dunia.
  2. Kepemimpinan gereja adalah penyaliban ego. Paradigma kepemimpinan Yesus mengharuskan pemimpin menanggalkan ambisi pribadi, dan menjadikan salib sebagai pusat kepemimpinan.
  3. Kepemimpinan gereja adalah teladan bagi jemaat. Pemimpin bukan hanya mengajar, tetapi menjadi model hidup yang meneladani Kristus (1 Kor. 11:1).

Dengan demikian, teologi kepemimpinan gereja menantang setiap pemimpin gereja masa kini untuk bertransformasi dari pola pikir duniawi menuju pola pikir Kristus, dari mengejar kuasa menuju kerendahan hati, dan dari mementingkan diri menuju pengorbanan demi orang lain.


NOTE: Bab 4 ini berfungsi sebagai jawaban atas rumusan masalah:

  1. Dasar teologi kepemimpinan gereja → panggilan ilahi & penggembalaan.
  2. Teladan Yesus → pelayanan, kerendahan hati, pengorbanan.
  3. Implikasi → karakter, pelayanan, relasi pastoral.

CONTOH BAB 5 – KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, exegesis, word study, dan kajian literatur, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dasar Teologi Kepemimpinan Gereja
    Kepemimpinan gereja memiliki dasar yang kokoh dalam Alkitab. Dari PL hingga PB, kepemimpinan selalu dipahami sebagai panggilan Allah dan amanat untuk menggembalakan umat-Nya. Istilah episkopos (penilik) dan poimēn (gembala) menekankan fungsi pastoral: menjaga, menuntun, dan menjadi teladan bagi jemaat. Dengan demikian, kepemimpinan gereja tidak dapat direduksi pada fungsi manajerial semata, melainkan harus dilihat sebagai pelayanan rohani yang bersumber dari Allah.
  2. Teladan Kepemimpinan Yesus Kristus
    Markus 10:42–45 menegaskan bahwa Yesus menghadirkan paradigma kepemimpinan yang berbeda dari dunia: bukan mendominasi, melainkan melayani. Kata diakonos (pelayan) dan doulos (hamba) menunjukkan hakikat kepemimpinan gereja sebagai pengorbanan diri. Yohanes 13 menekankan kerendahan hati, dan Amanat Agung (Mat. 28:19–20) menegaskan sifat transformasional kepemimpinan Yesus. Dengan demikian, Kristus adalah teladan utama yang wajib diikuti setiap pemimpin gereja.
  3. Implikasi Teologi Kepemimpinan Gereja bagi Masa Kini
    Teologi kepemimpinan gereja menantang gereja masa kini untuk kembali kepada pola kepemimpinan yang menekankan:
    • Karakter di atas jabatan (1 Tim. 3:1–7),
    • Pelayanan di atas kekuasaan (Mrk. 10:42–45),
    • Relasi pastoral di atas struktur organisasi (1 Ptr. 5:2–4).
      Dengan demikian, kepemimpinan gereja masa kini dipanggil untuk mempraktikkan kepemimpinan yang melayani, rendah hati, berintegritas, dan berfokus pada pembentukan murid Kristus.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Gereja

Gereja perlu menekankan proses pembinaan pemimpin yang berakar pada teologi kepemimpinan Kristus, bukan hanya pada manajemen organisasi. Kurikulum pelatihan pemimpin perlu mengintegrasikan studi Alkitab, pembentukan karakter, dan praktik pelayanan yang berorientasi pada penggembalaan.

5.2.2 Bagi Pemimpin Gereja

Pemimpin gereja dipanggil untuk meneladani Kristus dengan mengutamakan kerendahan hati, pelayanan, dan pengorbanan. Pemimpin perlu membangun gaya hidup spiritual yang sehat (doa, firman, integritas pribadi), serta menghindari godaan kekuasaan dan popularitas. Kepemimpinan harus dijalankan bukan untuk diri sendiri, melainkan demi kemuliaan Kristus dan pertumbuhan jemaat.

5.2.3 Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian ini bersifat teologis-konseptual. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan pendekatan empiris, misalnya studi kasus pada gereja lokal untuk melihat bagaimana prinsip kepemimpinan Kristus diterapkan dalam praktik. Selain itu, penelitian interdisipliner yang menggabungkan teologi, psikologi kepemimpinan, dan ilmu manajemen juga dapat memperkaya kajian teologi kepemimpinan gereja.


Catatan: Dengan demikian, penelitian ini menegaskan kembali bahwa kepemimpinan gereja adalah panggilan ilahi yang berakar pada teladan Kristus, yang menuntut kerendahan hati, pelayanan, dan pengorbanan. Hanya dengan cara ini gereja dapat menjalankan misinya dengan setia dan relevan di tengah dunia.

Apa yang membedakan Bab 2 dan Bab 4?

Bab 2 – Kajian Pustaka dan Landasan Teori

📌 Fungsi utama: memberi fondasi akademik sebelum penelitian dilakukan.

  • Isi utamanya:
    1. Kajian pustaka → ringkasan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik. Tujuannya: menunjukkan apa yang sudah diteliti dan di mana letak research gap.
    2. Teori dan konsep → paparan teori-teori utama dari literatur (bisa teori sekuler, manajemen, psikologi, dsb.) yang relevan dengan topik.
    3. Landasan teologi/alkitabiah → dalam konteks STT, biasanya ada exegesis awal, word study, atau doktrin teologi yang menjadi kerangka berpikir.
    4. Kerangka berpikir (conceptual framework) → sintesis teori + teologi yang dipakai sebagai lensa penelitian.

Dengan kata lain, Bab 2 = peta pengetahuan: apa yang sudah ada, apa yang menjadi dasar, dan bagaimana peneliti membangun kerangka berpikir.


Bab 4 – Hasil Penelitian dan Pembahasan

📌 Fungsi utama: menyajikan temuan penelitian + interpretasi.

  • Isi utamanya:
    1. Hasil penelitian → temuan asli dari penelitian (exegesis teks utama, hasil wawancara/observasi jika lapangan, atau analisis dokumen). Disajikan dengan data primer, bukan sekadar teori.
    2. Pembahasan → analisis hasil penelitian dengan menggunakan kerangka teori dari Bab 2.
      • Di sinilah peneliti membandingkan: apakah temuan sesuai, menambah, atau bahkan menantang teori/penelitian sebelumnya.
      • Dalam konteks teologi, pembahasan = mengaitkan hasil exegesis dengan literatur teologi + konteks gereja masa kini.

Dengan kata lain, Bab 4 = kontribusi peneliti: apa yang ditemukan, bagaimana dibandingkan dengan teori, dan apa maknanya bagi bidang teologi & praktik.


Perbandingan Singkat

AspekBab 2 (Kajian Pustaka & Teori)Bab 4 (Hasil & Pembahasan)
WaktuDitulis sebelum penelitian (fondasi teoritis).Ditulis setelah penelitian (temuan nyata).
IsiTeori, literatur, exegesis awal, kerangka konseptual.Data temuan, hasil exegesis detail, analisis lapangan, sintesis dengan teori.
FungsiMenunjukkan apa yang sudah ada dan kerangka berpikir penelitian.Menunjukkan apa yang ditemukan dan kontribusi baru.
SumberLiteratur & penelitian terdahulu (sekunder).Data primer (hasil penelitian) + literatur (untuk diskusi).
OutputLandasan untuk penelitian.Kontribusi penelitian.

Contoh dalam Konteks Teologi Kepemimpinan

  • Bab 2: membahas teori kepemimpinan sekuler (Maxwell, Burns), teologi kepemimpinan (Sanders, Blackaby), exegesis awal Markus 10:42–45, dan kerangka konseptual kepemimpinan pelayan.
  • Bab 4: menyajikan hasil exegesis detail Markus 10:42–45 (word study diakonos, doulos), membandingkan dengan literatur kepemimpinan, lalu membahas implikasinya bagi gereja Indonesia masa kini.

Jadi:

  • Bab 2 = fondasi (peta teori & literatur).
  • Bab 4 = temuan + kontribusi baru (jawaban penelitian).

Contoh outline rinci Bab 2 dan Bab 4 untuk topik tesis Anda:

Judul: Teologi Kepemimpinan Gereja Berdasarkan Exegesis Markus 10:42–45 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Masa Kini


Bab 2 – Kajian Pustaka dan Landasan Teori

Fokus: membangun fondasi teori dan teologi.

2.1 Kajian Pustaka

  • Penelitian terdahulu tentang servant leadership (Greenleaf, Sanders, Blackaby).
  • Studi literatur sekuler: teori kepemimpinan (trait, behavioral, situational, transformational).
  • Penelitian lokal/Indonesia tentang kepemimpinan gereja → menyoroti gap bahwa exegesis Mark. 10:42–45 belum banyak diteliti secara kontekstual.

2.2 Landasan Teori

  • Konsep kepemimpinan umum (definisi, ciri, tujuan).
  • Kepemimpinan dalam gereja (Kristus-sentris, servant leadership, spiritual leadership).
  • Karakter pemimpin gereja menurut 1 Tim. 3:1–7 dan 1 Ptr. 5:2–4.

2.3 Landasan Teologi

  • Kajian awal Markus 10:42–45 (konteks, siapa berbicara kepada siapa, situasi historis).
  • Word study awaldiakonos, doulos, katakurieuousin.
  • Prinsip teologis awal: kepemimpinan Kristen berbeda dengan kepemimpinan duniawi.

2.4 Kerangka Berpikir Penelitian

  • Diagram/kerangka konseptual → bagaimana exegesis teks + teori kepemimpinan + isu kontemporer akan dianalisis.

Bab 4 – Hasil Penelitian dan Pembahasan

Fokus: menyajikan temuan & kontribusi penelitian.

4.1 Hasil Exegesis Markus 10:42–45

  • Analisis historis: konteks ambisi Yakobus & Yohanes, latar belakang dunia Romawi.
  • Analisis gramatikal: arti kata katakurieuousin (memerintah otoriter), diakonos (pelayan), doulos (budak).
  • Makna teologis: kepemimpinan Yesus menekankan pelayanan & pengorbanan.

4.2 Pembahasan Teladan Kepemimpinan Kristus

  • Perbandingan dengan literatur teologi (Sanders: Spiritual Leadership, Blackaby: Spiritual Leadership).
  • Perbandingan dengan teori sekuler (transformational leadership vs kepemimpinan Yesus).
  • Sintesis: keunggulan servant leadership Kristus.

4.3 Implikasi Bagi Pemimpin Gereja Masa Kini

  • Dimensi karakter: integritas di atas karisma (1 Tim. 3:1–7).
  • Dimensi relasional: pemimpin sebagai gembala, bukan bos (1 Ptr. 5:2–4).
  • Dimensi pelayanan: pemimpin sebagai hamba Kristus di tengah jemaat.
  • Respon terhadap krisis integritas pemimpin gereja di Indonesia.

4.4 Diskusi Teologis

  • Kepemimpinan sebagai partisipasi dalam missio Dei.
  • Kepemimpinan sebagai penyaliban ego (Yesus sebagai teladan).
  • Kepemimpinan sebagai teladan hidup bagi jemaat (1 Kor. 11:1).

Perbedaan Inti:

  • Bab 2: membicarakan apa yang sudah ada (literatur, teori, kajian awal Alkitab → fondasi).
  • Bab 4: membicarakan apa yang ditemukan peneliti (exegesis mendalam, sintesis dengan literatur, implikasi → kontribusi).

Dengan outline ini:

  • Bab 2 = teori + literatur + fondasi teologi.
  • Bab 4 = temuan exegesis + pembahasan + aplikasi.

Contoh Proposal Penelitian

Judul: Teologi Kepemimpinan Gereja: Exegesis Markus 10:42–45 dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini


1. Latar Belakang Masalah

Kepemimpinan adalah aspek vital dalam kehidupan gereja. Sejak PL hingga PB, Alkitab menekankan bahwa pemimpin dipanggil Allah untuk menggembalakan umat-Nya (Kel. 3:10; 1 Sam. 16:11–13; Kis. 6:2–4). Namun, dalam realitas masa kini, kepemimpinan gereja sering menghadapi tantangan serius: pergeseran paradigma menuju model duniawi (otoritarianisme, popularitas, pragmatisme), krisis integritas, dan menurunnya relevansi gereja dalam membentuk murid Kristus.

Oleh sebab itu, diperlukan kajian mendalam mengenai teologi kepemimpinan gereja yang berakar pada Alkitab, khususnya melalui exegesis Markus 10:42–45 sebagai teks kunci tentang kepemimpinan yang melayani. Kajian ini diharapkan memberi kontribusi akademik dan praktis bagi gereja dalam membangun kepemimpinan yang sesuai dengan teladan Kristus.


2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, dapat diidentifikasi sejumlah persoalan berikut:

  1. Adanya pergeseran paradigma kepemimpinan gereja dari Kristus-sentris menuju model duniawi yang berorientasi pada kuasa, popularitas, dan prestise.
  2. Minimnya pemahaman mendalam tentang dasar teologi kepemimpinan gereja yang berakar pada Alkitab.
  3. Terbatasnya literatur kontekstual yang menghubungkan exegesis Alkitab dengan praktik kepemimpinan gereja lokal.
  4. Kurangnya pembinaan pemimpin gereja yang menekankan karakter dan spiritualitas, sehingga lebih menonjolkan karisma daripada integritas.
  5. Meningkatnya kecenderungan pemimpin gereja untuk meniru pola kepemimpinan dunia usaha atau politik, tanpa menyaringnya dalam terang teologi.
  6. Tantangan praktis bagi pemimpin gereja dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk arus globalisasi, digitalisasi, dan budaya konsumerisme jemaat.
  7. Belum adanya kerangka teologi kepemimpinan yang komprehensif dan aplikatif untuk menolong pemimpin gereja masa kini meneladani Kristus.

3. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada tiga aspek utama:

  1. Dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Alkitab.
  2. Teladan Yesus Kristus dalam kepemimpinan (berdasarkan Markus 10:42–45 dan ayat pendukung).
  3. Implikasi teologi kepemimpinan gereja bagi praktik kepemimpinan gereja masa kini.

4. Rumusan Masalah

  1. Apa dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Alkitab?
  2. Bagaimana teladan Yesus Kristus menjadi model kepemimpinan gereja?
  3. Apa implikasi teologi kepemimpinan gereja terhadap praktik kepemimpinan gereja lokal pada masa kini?

5. Tujuan Penelitian

  1. Menggali dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Alkitab.
  2. Mendeskripsikan teladan kepemimpinan Yesus Kristus dalam Markus 10:42–45.
  3. Merumuskan implikasi teologi kepemimpinan bagi gereja lokal masa kini.

6. Manfaat Penelitian

  • Teoritis: memperkaya kajian teologi praktika, khususnya tentang kepemimpinan gereja.
  • Praktis: memberi kontribusi bagi pemimpin gereja dalam membangun pola kepemimpinan yang melayani.
  • Personal: memperkuat pemahaman dan integritas penulis sebagai calon pemimpin gereja.

7. Metode Penelitian

7.1 Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research).

7.2 Sumber Data

  • Primer: Alkitab (Mark. 10:42–45; 1 Tim. 3:1–7; 1 Ptr. 5:2–4; Yoh. 13:12–15) dan leksikon Yunani-Ibrani (Strong’s ConcordanceBDAGHALOT).
  • Sekunder: Buku teologi kepemimpinan (Stott, Sanders, Blackaby), literatur kepemimpinan umum (Maxwell, Burns), serta jurnal-jurnal teologi terkait.

7.3 Teknik Pengumpulan Data

  • Studi literatur → pengumpulan referensi primer & sekunder.
  • Exegesis → analisis teks dengan pendekatan historis, gramatikal, dan teologis.
  • Word study → penggalian arti kata kunci (diakonos, doulos, episkopos, poimēn).

7.4 Teknik Analisis Data

Analisis dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis): identifikasi tema, analisis makna kata, penarikan prinsip teologis, sintesis literatur, dan penerapan kontekstual.


8. Sistematika Penulisan

  1. Bab 1 Pendahuluan – Latar belakang, identifikasi masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode, sistematika.
  2. Bab 2 Kajian Pustaka dan Landasan Teologi – Teori kepemimpinan umum, literatur kepemimpinan gereja, exegesis Markus 10:42–45, word study, ayat pendukung.
  3. Bab 3 Metodologi Penelitian – Pendekatan, sumber data, teknik pengumpulan, analisis data.
  4. Bab 4 Hasil Penelitian dan Pembahasan – Hasil exegesis, sintesis teologi kepemimpinan, implikasi bagi gereja.
  5. Bab 5 Kesimpulan dan Saran – Ringkasan temuan dan rekomendasi.

Perbandingan Sistematika Penulisan Tesis

Bab / BagianKualitatifKuantitatifMetode Campuran (Mixed Methods)
Bab 1 – PendahuluanLatar belakang, identifikasi masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode, sistematika.Sama, tetapi rumusan masalah biasanya dinyatakan dalam bentuk hipotesis penelitian.Sama, tetapi memuat alasan mengapa perlu menggabungkan metode kualitatif & kuantitatif.
Bab 2 – Kajian Pustaka / Landasan TeoriTeori-teori relevan, kajian literatur, dasar teologi/Alkitab (jika di STT), kerangka berpikir konseptual.Teori, definisi operasional variabel, hipotesis, model konseptual.Gabungan: teori kualitatif & kuantitatif, termasuk kerangka integratif yang mendasari desain campuran.
Bab 3 – Metodologi Penelitian

– Pendekatan: kualitatif (studi kasus, studi pustaka, fenomenologi, grounded theory, dsb.) 
– Sumber data primer/sekunder 
– Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dokumentasi, exegesis, word study, dll.) 
– Analisis data (analisis isi, tematik, hermeneutik).
– Pendekatan: kuantitatif (eksperimen, survei, korelasional, dll.) 
– Populasi dan sampel 
– Variabel penelitian (independen, dependen, kontrol) 
– Instrumen penelitian (kuesioner, tes) 
– Teknik analisis data (statistik deskriptif, inferensial).

– Desain campuran (sekuensial, konvergen, embedded, dsb.) 
– Populasi/sampel untuk data kuantitatif 
– Sumber data kualitatif 
– Teknik pengumpulan data ganda (survey + wawancara) 
– Analisis kuantitatif (statistik) & kualitatif (tematik), serta integrasi hasil.
Bab 4 – Hasil Penelitian & Pembahasan
Penyajian temuan kualitatif (narasi, tema, kategori), exegesis teks, word study, kutipan wawancara (jika ada), pembahasan teologis.
Penyajian data kuantitatif (tabel, grafik, uji hipotesis, analisis statistik), lalu pembahasan hasil.Penyajian hasil kuantitatif & kualitatif, lalu integrasi temuan untuk saling melengkapi.
Bab 5 – Kesimpulan & Saran
Menjawab rumusan masalah, refleksi teologis, implikasi praktis, saran untuk penelitian lanjut.
Menjawab hipotesis (diterima/ditolak), implikasi praktis/teoretis, rekomendasi.Sintesis hasil kualitatif & kuantitatif, kesimpulan integratif, saran untuk pengembangan lebih lanjut.

Ringkasan Perbedaan Utama

  1. Kualitatif: menekankan makna, pemahaman mendalam, analisis teks atau pengalaman (cocok untuk teologi, biblika, kepemimpinan Kristen).
  2. Kuantitatif: menekankan pengukuran, angka, hubungan antar-variabel, uji hipotesis (lebih umum di pendidikan Kristen, psikologi, manajemen).
  3. Mixed Methods: menggabungkan keduanya; misalnya survei (kuantitatif) untuk mengukur tren + wawancara/exegesis (kualitatif) untuk menggali makna lebih dalam.

Perbedaan Bobot Penulisan & Penelitian: Skripsi, Tesis, dan Disertasi

AspekSkripsi (S1)Tesis (S2)Disertasi (S3)
TujuanLatihan penelitian dasar, menerapkan teori.Analisis & sintesis teori, memberi kontribusi praktis-akademis.Menghasilkan teori/model baru, kontribusi signifikan & orisinal.
Bobot PenelitianCakupan sempit, deskriptif.Lebih mendalam, exegesis + analisis literatur + dialog konteks.Kompleks, multi-sumber (teks, sejarah, konteks, lapangan).
Kedalaman AnalisisDeskripsi & penerapan sederhana.Analisis kritis, dialog dengan teori & konteks.Teori baru, model konseptual, pendekatan orisinal.
OrisinalitasRendah – penerapan teori yang ada.Sedang – ada sintesis & pendekatan baru.
Tinggi – temuan baru, model baru, kerangka teoritis.
Kontribusi IlmiahTerbatas, terutama latihan akademik.Kontribusi praktis bagi gereja/teologi.
Kontribusi besar bagi disiplin ilmu & praktik gereja global.
Metode PenelitianSederhana: studi literatur, analisis teks dasar, survei kecil.
Studi pustaka mendalam, exegesis, word study, analisis kualitatif.
Multi-metode: exegesis, historis, lapangan, interdisipliner.

Ukuran Dokumen
± 60–100 halaman.± 120–200 halaman.200–400+ halaman.
Contoh TopikAnalisis Kepemimpinan Musa dalam Kel. 18:13–27 dan Relevansinya bagi Gereja Lokal.Teologi Kepemimpinan Gereja: Exegesis Markus 10:42–45 dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini.Model Teologi Kepemimpinan Kristen Kontekstual bagi Gereja Asia Tenggara: Suatu Studi Eksposisi, Historis, dan Kontekstual.

Ringkasnya:

  • Skripsi S1: latihan penelitian → penerapan teori
  • Tesis S2: penelitian lebih dalam → analisis & sintesis teori
  • Disertasi S3: penelitian orisinal → membangun atau memperluas teori
  1. Analisis teori → mahasiswa dituntut menguraimengkritisi, dan mengevaluasi berbagai teori/pemikiran/konsep yang relevan dengan topik penelitian. Bukan sekadar “menyebutkan” teori, tetapi menjelaskan bagaimana teori itu bekerja, kelebihan, keterbatasan, serta keterkaitannya dengan fenomena yang diteliti.
  2. Sintesis teori → mahasiswa harus menggabungkan berbagai teori, temuan penelitian, dan konsep Alkitabiah (jika di bidang teologi) untuk menghasilkan kerangka berpikir baru atau model konseptual yang mendasari penelitian. Sintesis ini menunjukkan kontribusi intelektual: bahwa peneliti tidak hanya memakai teori, tetapi juga merumuskan pandangan integratif.
  3. Hasilnya → tesis S2 bukan sekadar “mengulang teori lama”, tetapi memberi kedalaman baru lewat kombinasi antara:
    • kajian literatur,
    • kerangka teologi (jika konteks STT),
    • dan data lapangan,
      sehingga menghasilkan pemahaman baru, model, atau rekomendasi yang bisa digunakan di praktik nyata maupun penelitian lanjutan.

Tesis S2 = penelitian lebih dalam, dengan tuntutan utama: melakukan analisis kritis terhadap teori yang ada, lalu menyintesiskan teori-teori itu untuk melahirkan kerangka konseptual baru yang relevan dengan konteks penelitian.


Dalam konteks STT:

  • Skripsi S1 cukup dengan studi Alkitab atau penelitian lapangan sederhana.
  • Tesis S2 harus ada exegesis mendalam + dialog dengan literatur teologi + implikasi nyata bagi gereja/masyarakat.
  • Disertasi S3 dituntut menghasilkan kontribusi orisinal: misalnya kerangka teologi baru tentang kepemimpinan, metodologi kontekstual untuk Asia, atau integrasi baru antara teologi dan ilmu lain.

Contoh Perbedaan Penelitian dengan Topik yang Sama: Kepemimpinan Gereja

Skripsi S1

Judul: Analisis Kepemimpinan Musa dalam Kitab Keluaran 18:13–27 dan Relevansinya bagi Pemimpin Gereja Lokal

  • Tujuan: Menunjukkan bahwa kepemimpinan Musa (bagi Israel) memiliki prinsip relevan untuk gereja.
  • Metode: Studi pustaka sederhana + analisis teks Alkitab.
  • Bobot: Fokus pada satu tokoh/teks; lebih deskriptif.
  • Kontribusi: Memberi gambaran prinsip dasar kepemimpinan Alkitabiah untuk pemimpin lokal.
  • Output: Penulis memahami teori dasar kepemimpinan Musa & implikasi praktis sederhana.

Tesis S2

Judul: Teologi Kepemimpinan Gereja: Exegesis Markus 10:42–45 dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini

  • Tujuan: Menggali dasar teologi kepemimpinan gereja dari teks Alkitab, menganalisis teladan Yesus, dan merumuskan implikasi bagi gereja masa kini.
  • Metode: Studi pustaka + exegesis mendalam (Mark. 10:42–45) + word study kata kunci (diakonos, doulos, episkopos, poimēn).
  • Bobot: Lebih analitis dan teologis, melibatkan kajian literatur internasional, membandingkan teori sekuler & teologi.
  • Kontribusi: Memberi kerangka teologi kepemimpinan yang lebih mendalam untuk konteks gereja lokal di era modern.
  • Output: Sintesis teologi kepemimpinan yang dapat dipakai sebagai acuan pembinaan pemimpin gereja.

Disertasi S3

Judul: Model Teologi Kepemimpinan Kristen Kontekstual bagi Gereja di Asia Tenggara: Suatu Studi Eksposisi, Historis, dan Kontekstual

  • Tujuan: Menghasilkan model teologi kepemimpinan baru yang kontekstual bagi gereja Asia Tenggara, dengan integrasi hasil exegesis Alkitab, sejarah kepemimpinan gereja, dan realitas sosial-budaya kontemporer.
  • Metode:
    • Exegesis beberapa teks utama (Mark. 10:42–45; 1 Ptr. 5:2–4; Yoh. 13:12–15; 1 Tim. 3:1–7).
    • Studi historis kepemimpinan gereja mula-mula hingga modern.
    • Penelitian lapangan (wawancara, survei, studi kasus) di beberapa gereja di Asia Tenggara.
    • Analisis kontekstual & interdisipliner (teologi + sosiologi + kepemimpinan).
  • Bobot: Sangat kompleks; multi-bab, multi-metode, menghasilkan teori/model baru.
  • Kontribusi: Memberi kontribusi orisinal bagi pengembangan teologi kepemimpinan kontekstual.
  • Output: Model teologi kepemimpinan Kristen yang dapat dipublikasikan secara internasional dan menjadi rujukan akademik & gerejawi.

Ringkasan Perbedaan:

  • Skripsi S1 → deskriptif: menggali satu teks/tokoh → latihan penelitian.
  • Tesis S2 → analitis-sintesis: exegesis mendalam + dialog literatur → kontribusi praktis-akademis.
  • Disertasi S3 → orisinal: penelitian kompleks (teks, sejarah, konteks, lapangan) → melahirkan teori/model baru.

Kebaruan (Novelty) dalam Penelitian Akademik

Skripsi (S1)

  • Harapan kebaruan:tidak terlalu tinggi.
    • Skripsi lebih ke latihan penelitian → membuktikan bahwa mahasiswa mampu menggunakan metode penelitian, membaca literatur, dan menerapkan teori.
    • Kebaruan biasanya hanya berupa:
      • Aplikasi teori yang sudah ada pada konteks baru (misalnya, menerapkan teori kepemimpinan Kristen di sebuah gereja lokal).
      • Interpretasi ulang sederhana atas teks Alkitab yang sudah banyak diteliti.
    • Contoh: Meneliti kepemimpinan Musa di Keluaran 18 → bukan hal baru, tapi kebaruan ada pada penerapannya bagi gereja lokal tertentu.

Tesis (S2)

  • Harapan kebaruan:sedang (intermediate).
    • Tesis harus menunjukkan kemampuan analisis kritis dan sintesis teori.
    • Kebaruan tesis bukan sekadar mengulang, tetapi:
      • Menemukan perspektif baru dari teks melalui exegesis/word study lebih mendalam.
      • Menghubungkan teks Alkitab dengan isu kontemporer (misalnya kepemimpinan gereja di era digital).
      • Menghadirkan kerangka teologis-konseptual baru dari integrasi berbagai literatur.
    • Contoh: Exegesis Markus 10:42–45 → menghasilkan kerangka teologi kepemimpinan yang menekankan servant leadership Kristus dan implikasinya bagi gereja masa kini. Kebaruan ada pada dialog teks Alkitab dengan konteks modern (krisis integritas, gaya kepemimpinan otoriter, dsb.).

Disertasi (S3)

  • Harapan kebaruan:sangat tinggi (orisinal).
    • Disertasi dituntut memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan (teologi, kepemimpinan, pendidikan, dsb.).
    • Kebaruan pada level disertasi mencakup:
      • Penemuan teori atau model baru.
      • Pengembangan kerangka teologi orisinal untuk konteks tertentu.
      • Integrasi interdisipliner yang menghasilkan pendekatan baru (teologi + sosiologi + manajemen).
      • Penemuan data lapangan baru yang mengubah atau memperkaya teori yang ada.
    • Contoh: Menghasilkan Model Teologi Kepemimpinan Kontekstual Asia Tenggara yang memadukan exegesis Alkitab, sejarah kepemimpinan gereja, wawancara lapangan dengan pemimpin gereja, dan analisis budaya Asia. Kebaruan ada pada model teologi kontekstual yang belum pernah diformulasikan sebelumnya.

Ringkasan Perbedaan Kebaruan

LevelKebaruan yang Diharapkan
Skripsi (S1)Aplikasi teori/teks Alkitab pada konteks baru; interpretasi sederhana; latihan penelitian.
Tesis (S2)
Analisis kritis & sintesis teori; perspektif baru dari exegesis/word study; integrasi teks-teks Alkitab dengan isu kontemporer; kerangka konseptual baru.
Disertasi (S3)
Kontribusi orisinal bagi ilmu: teori baru, model teologi baru, pendekatan interdisipliner baru, atau temuan lapangan yang memperluas pemahaman teologi.

 Intinya:

  • Skripsi → latihan penelitian.
  • Tesis → pemikiran kritis & kerangka konseptual baru.
  • Disertasi → kontribusi orisinal & signifikan bagi perkembangan ilmu.

Contoh Perbedaan Kebaruan: Markus 10:42–45

Skripsi (S1)

Judul: Kepemimpinan Hamba Menurut Markus 10:42–45 dan Relevansinya bagi Pelayanan Remaja di Gereja X

  • Kebaruan: sederhana → aplikasi konteks.
  • Fokus: memahami teks Markus 10:42–45 secara deskriptif, lalu menerapkannya dalam satu konteks kecil (pelayanan remaja).
  • Nilai tambah: bukan menafsirkan secara orisinal, tetapi menghubungkan teks dengan kasus praktis yang spesifik.
  • Output: menunjukkan bahwa mahasiswa bisa melakukan penelitian Alkitab & memberi aplikasi nyata.

Tesis (S2)

Judul: Teologi Kepemimpinan Gereja Berdasarkan Exegesis Markus 10:42–45 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Masa Kini

  • Kebaruan: menengah → analisis & sintesis.
  • Fokus: exegesis mendalam Markus 10:42–45 (analisis gramatikal, historis, word study: diakonos, doulos), lalu sintesis dengan literatur kepemimpinan teologi & sekuler.
  • Nilai tambah: ada integrasi baru antara teks Alkitab + teori kepemimpinan + isu kontemporer (misalnya krisis integritas pemimpin gereja modern).
  • Output: menghasilkan kerangka konseptual tentang servant leadership Kristus yang bisa dipakai pemimpin gereja lokal.

Disertasi (S3)

Judul: Model Teologi Kepemimpinan Pelayan Berdasarkan Markus 10:42–45 dalam Konteks Gereja Asia Tenggara: Suatu Studi Eksposisi, Historis, dan Kontekstual

  • Kebaruan: tinggi → kontribusi orisinal.
  • Fokus: bukan hanya exegesis, tetapi:
    • Eksposisi Markus 10:42–45 + teks pendukung (1 Ptr. 5:2–4; Yoh. 13:12–15; 1 Tim. 3:1–7).
    • Studi historis kepemimpinan gereja (abad mula-mula, Reformasi, modern).
    • Studi lapangan: wawancara/survei pemimpin gereja di Asia Tenggara.
    • Analisis kontekstual: budaya hierarkis Asia vs. kepemimpinan pelayan.
  • Nilai tambah: menghasilkan model teologi kepemimpinan kontekstual baru untuk Asia Tenggara → kontribusi global.
  • Output: teori/model baru yang bisa dipublikasikan dalam jurnal internasional & dipakai gereja luas.

Ringkasan Visual

LevelJudul ContohKebaruan
Skripsi (S1)Kepemimpinan Hamba (Mark. 10:42–45) untuk pelayanan remajaAplikasi teks ke konteks lokal kecil.
Tesis (S2)Teologi Kepemimpinan Gereja dari Mark. 10:42–45Analisis exegesis + sintesis teori + isu kontemporer.
Disertasi (S3)Model Teologi Kepemimpinan Pelayan (Mark. 10:42–45) di Asia TenggaraModel baru, orisinal, interdisipliner, kontekstual.

Perbedaan utama kebaruan:

  • Skripsi: aplikasi sederhana.
  • Tesis: analisis & sintesis mendalam.
  • Disertasi: kontribusi orisinal → model baru.

Hubungan antara Research Gap dengan Kebaruan (Novelty) dalam penulisan Tesis S2:

1. Apa itu Research Gap?

  • Research gap = celah, kekosongan, atau masalah dalam penelitian sebelumnya yang belum terjawab.
  • Bisa berupa:
    1. Gap konseptual → ada teori, tapi belum dihubungkan dengan konteks tertentu.
    2. Gap metodologis → penelitian sebelumnya pakai metode tertentu, tapi belum diuji dengan pendekatan lain.
    3. Gap kontekstual → penelitian banyak dilakukan di luar negeri, tapi belum di konteks Indonesia/Asia/Gereja lokal.
    4. Gap praktis → teori sudah ada, tapi belum diterapkan dalam praktik.

2. Hubungan Research Gap dengan Novelty

  • Novelty = jawaban atas research gap.
  • Dengan kata lain, kebaruan lahir karena peneliti berhasil menemukan celah dari penelitian sebelumnya.
  • Jika gap tidak jelas, maka kebaruan juga akan lemah.

3. Dalam Penulisan Tesis S2

Untuk level S2, kebaruan (novelty) yang diharapkan tidak harus menciptakan teori baru, tetapi cukup dengan:

✅ Mengisi gap penelitian yang nyata dan relevan.

Contohnya:

a) Gap Konseptual → Novelty Tesis

  • Gap: Banyak literatur tentang servant leadership, tapi jarang dikaji langsung dari exegesis Markus 10:42–45.
  • Novelty: Tesis menyoroti teks itu secara eksklusif dengan analisis teologi mendalam.

b) Gap Kontekstual → Novelty Tesis

  • Gap: Servant leadership sering dikaji di konteks Barat, tapi belum dihubungkan dengan konteks gereja lokal di Indonesia.
  • Novelty: Tesis menekankan relevansinya untuk kepemimpinan gereja di Indonesia.

c) Gap Praktis → Novelty Tesis

  • Gap: Banyak buku kepemimpinan gereja bersifat normatif, tapi kurang aplikatif untuk pembinaan pemimpin muda.
  • Novelty: Tesis merumuskan implikasi praktis bagi pembinaan pemimpin muda gereja.

4. Contoh dalam Tesis S2 Teologi Kepemimpinan Gereja

  • Research Gap:
    • Studi tentang kepemimpinan gereja sudah banyak, tetapi masih dominan memakai literatur sekuler (Maxwell, Burns, dsb.).
    • Belum banyak penelitian teologi kepemimpinan yang berbasis pada exegesis Markus 10:42–45 dalam konteks gereja Indonesia.
  • Novelty:
    • Penelitian ini mengisi gap dengan membangun kerangka teologi kepemimpinan berdasarkan exegesis Markus 10:42–45 (dan ayat pendukung), lalu menghubungkannya dengan praktik gereja masa kini di Indonesia.

5. Ringkasannya

  • Research gap = pertanyaan yang belum dijawab.
  • Novelty = jawaban yang ditawarkan peneliti.
  • Dalam tesis S2, novelty biasanya berbentuk perspektif baru, pendekatan baru, atau aplikasi baru yang muncul karena peneliti menemukan gap konseptual, metodologis, atau kontekstual dari studi-studi sebelumnya.

Contoh Paragraf Latar Belakang (dengan research gap & novelty)

Kajian mengenai kepemimpinan gereja telah banyak dilakukan, baik dalam literatur teologi maupun kepemimpinan umum. Penulis-penulis populer seperti John Maxwell menekankan pentingnya pengaruh (influence) sebagai inti kepemimpinan, sementara Oswald Sanders menekankan aspek rohani dalam Spiritual Leadership. Namun, sebagian besar penelitian dan literatur tersebut masih cenderung menggunakan kerangka konseptual Barat, dan tidak selalu berakar pada eksposisi teks Alkitab tertentu. Hal ini menimbulkan kesenjangan (gap) dalam kajian teologi kepemimpinan, khususnya dalam konteks gereja di Indonesia, di mana realitas kepemimpinan sering dipengaruhi oleh budaya hierarkis dan model kepemimpinan duniawi.

Markus 10:42–45 adalah salah satu teks kunci yang memberikan paradigma radikal tentang kepemimpinan sebagai pelayanan. Meski teks ini sering dikutip dalam khotbah atau buku kepemimpinan Kristen, penelitian teologis yang mendalam melalui exegesis dan word study terhadap teks ini relatif jarang dilakukan dalam konteks Indonesia. Dengan demikian, terdapat research gap dalam menghubungkan pemahaman eksegetis teks Markus 10:42–45 dengan praktik kepemimpinan gereja masa kini.

Penelitian ini berusaha mengisi celah tersebut dengan menghadirkan kajian teologis yang berakar pada exegesis Markus 10:42–45, ditopang oleh ayat-ayat pendukung seperti 1 Timotius 3:1–7, 1 Petrus 5:2–4, dan Yohanes 13:12–15. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada usaha membangun kerangka teologi kepemimpinan gereja yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif bagi pemimpin gereja di Indonesia masa kini, sehingga mampu menolong gereja mengembangkan pola kepemimpinan yang Kristus-sentris, melayani, dan relevan dengan tantangan zaman.

Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa terdapat kesenjangan dalam kajian teologi kepemimpinan, khususnya dalam menghubungkan exegesis teks Markus 10:42–45 dengan praktik kepemimpinan gereja di Indonesia. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menawarkan kerangka teologi kepemimpinan yang berakar pada teks Alkitab, diperdalam melalui word study, serta diaplikasikan dalam konteks gereja masa kini. Kebaruan penelitian ini terletak pada penekanan terhadap paradigma kepemimpinan Kristus-sentris yang melayani dan berkorban, sebagai jawaban atas kecenderungan kepemimpinan duniawi yang masih mewarnai gereja. Dengan demikian, penelitian ini penting tidak hanya bagi pengembangan teologi praktika, tetapi juga bagi pembinaan pemimpin gereja agar mampu memimpin dengan integritas, kerendahan hati, dan orientasi pelayanan sesuai teladan Kristus.


Dengan paragraf ini:

  • Bagian pertama → menunjukkan literatur existing (apa yang sudah ada).
  • Bagian kedua → menyoroti gap (apa yang belum diteliti secara mendalam).
  • Bagian ketiga → menawarkan novelty (apa kontribusi baru dari tesis ini).
  • Bagian empat: jembatan dari latar belakang menuju bagian berikutnya: identifikasi masalah, fokus penelitian, dan rumusan masalah.

Contoh Research gap dan novelty untuk tesis S2 dengan judul:

“Teologi Kepemimpinan Gereja Berdasarkan Exegesis Markus 10:42–45 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Masa Kini.”


Research Gap

  1. Gap Teologis
    • Banyak literatur kepemimpinan gereja berbicara tentang servant leadership (Greenleaf, Sanders, Blackaby), tetapi sebagian besar hanya normatif, tanpa landasan exegesis teks Alkitab tertentu.
    • Markus 10:42–45 sering dikutip dalam khotbah atau buku populer, tetapi belum banyak diteliti secara eksegetis dan gramatikal dengan fokus kata kunci seperti diakonos dan doulos.
  2. Gap Konseptual
    • Teori kepemimpinan sekuler (Maxwell, Burns, Bass) menekankan pengaruh, transformasi, dan karisma. Namun, masih sedikit penelitian yang membandingkan secara kritis teori kepemimpinan sekuler dengan konsep kepemimpinan Kristus dalam Markus 10:42–45.
    • Tidak ada kerangka integratif yang memperlihatkan keunggulan kepemimpinan Kristus atas model duniawi.
  3. Gap Kontekstual
    • Krisis integritas pemimpin gereja di Indonesia (otoritarianisme, penyalahgunaan kuasa, kepemimpinan berorientasi popularitas) menunjukkan bahwa teori kepemimpinan yang ada belum cukup diinternalisasi dalam praktik gereja lokal.
    • Belum ada penelitian eksegetis yang mengaitkan langsung Markus 10:42–45 dengan konteks gereja Indonesia masa kini.

Novelty (Kebaruan Penelitian)

  1. Pendekatan Eksegetis yang Mendalam
    • Penelitian ini bukan hanya mengutip Markus 10:42–45, tetapi melakukan analisis gramatikal, historis, dan word study (diakonos = pelayan meja, doulos = budak, katakurieuousin = memerintah dengan otoriter) untuk menggali makna teologis kepemimpinan Kristus.
    • Ini memberikan dasar teologi yang lebih kuat dibanding literatur populer atau sekadar normatif.
  2. Sintesis Teologi dan Teori Kepemimpinan Sekuler
    • Penelitian ini menempatkan hasil exegesis dalam dialog dengan literatur kepemimpinan sekuler dan teologi praktis.
    • Kebaruan terletak pada integrasi baru: memperlihatkan kontras sekaligus titik temu antara kepemimpinan Kristus dan teori modern (misalnya, membandingkan transformational leadership dengan kepemimpinan Yesus yang transformatif).
  3. Aplikasi Kontekstual bagi Gereja Indonesia
    • Penelitian ini tidak berhenti pada level teori, tetapi memberi implikasi praktis bagi pemimpin gereja lokal yang menghadapi krisis integritas, budaya hierarkis, dan tuntutan zaman modern.
    • Kebaruan: menghasilkan kerangka konseptual servant leadership Kristus yang aplikatif untuk pembinaan pemimpin gereja di Indonesia.

Nilai Tambah Penelitian (Value Added)

  • Penelitian ini tidak hanya mengisi research gap, tetapi juga memberi kontribusi berupa:
    1. Kerangka konseptual teologi kepemimpinan Kristus berbasis exegesis Markus 10:42–45.
    2. Dialog kritis antara teks Alkitab, literatur teologi, dan teori kepemimpinan sekuler.
    3. Implikasi praktis yang relevan dengan krisis kepemimpinan gereja masa kini, khususnya di Indonesia.

Output yang Diharapkan

  • Tersusunnya kerangka konseptual servant leadership Kristus yang bisa dipakai sebagai acuan:
    • Dalam pembinaan pemimpin gereja lokal.
    • Sebagai koreksi atas model kepemimpinan duniawi yang masih memengaruhi gereja.
    • Sebagai literatur tambahan dalam bidang teologi praktika di STT.

Dengan demikian:

Research gap = belum ada kajian eksegetis Markus 10:42–45 yang mendalam dan aplikatif untuk kepemimpinan gereja Indonesia.

Novelty = tesis ini menghadirkan analisis eksegetis + integrasi teori kepemimpinan + aplikasi kontekstual → menghasilkan kerangka konseptual servant leadership Kristus.

Contoh Paragraf Latar Belakang (Research Gap → Novelty)

Kajian tentang kepemimpinan gereja telah banyak dilakukan, baik dalam literatur populer maupun akademik. John Maxwell, misalnya, menekankan pengaruh sebagai inti kepemimpinan, sementara Oswald Sanders menyoroti dimensi rohani seorang pemimpin. Namun, mayoritas kajian tersebut masih berakar pada kerangka konseptual Barat dan bersifat normatif, tanpa berfokus pada eksposisi mendalam terhadap teks Alkitab tertentu. Markus 10:42–45 sering dikutip dalam diskursus kepemimpinan gereja, tetapi sejauh ini lebih banyak dipakai secara deskriptif daripada diteliti secara eksegetis. Hal ini menimbulkan research gap dalam hal pemahaman gramatikal, historis, dan teologis dari teks tersebut, khususnya berkaitan dengan istilah kunci diakonos dan doulos yang mendefinisikan ulang paradigma kepemimpinan menurut Kristus.

Selain itu, meskipun teori kepemimpinan sekuler seperti transformational leadership atau servant leadership banyak digunakan dalam literatur, belum ada sintesis yang komprehensif antara hasil exegesis Markus 10:42–45 dengan teori-teori tersebut, khususnya dalam konteks kepemimpinan gereja Indonesia. Padahal, realitas menunjukkan adanya krisis integritas pemimpin gereja, kecenderungan otoritarianisme, serta pengaruh budaya hierarkis yang kuat dalam kehidupan bergereja. Kekosongan inilah yang menunjukkan adanya research gap kontekstual: perlunya kerangka kepemimpinan Kristus-sentris yang mampu menjawab tantangan kepemimpinan gereja di Indonesia masa kini.

Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan melakukan exegesis mendalam Markus 10:42–45, didukung dengan word study pada kata-kata kunci, serta dialog kritis dengan literatur teologi kepemimpinan dan teori sekuler. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi antara hasil eksegesis teks Alkitab, kajian literatur kepemimpinan, dan konteks kontemporer, sehingga menghasilkan sebuah kerangka konseptual servant leadership Kristus yang aplikatif. Kerangka ini diharapkan dapat menolong pemimpin gereja Indonesia mengembangkan pola kepemimpinan yang rendah hati, melayani, dan relevan dengan tantangan zaman, sekaligus memperkaya khazanah teologi praktika di Indonesia.


Dengan paragraf ini, alurnya jelas:

  1. Apa yang sudah ada → literatur kepemimpinan (Maxwell, Sanders, dsb.).
  2. Apa yang belum ada (research gap) → exegesis mendalam Markus 10:42–45 dan aplikasinya di Indonesia.
  3. Apa yang ditawarkan (novelty) → kerangka konseptual servant leadership Kristus berbasis eksegesis & kontekstual.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Markus 10:42–45 sering dikutip dalam diskursus kepemimpinan gereja, tetapi jarang dikaji melalui exegesis dan word study yang mendalam.
  2. Istilah kunci diakonos dan doulos belum banyak dieksplorasi untuk menegaskan paradigma kepemimpinan Kristus yang berbeda dari model duniawi.
  3. Literatur kepemimpinan teologi maupun sekuler masih jarang ditempatkan dalam dialog kritis dengan teks Markus 10:42–45.
  4. Terdapat kecenderungan pemimpin gereja mengadopsi model kepemimpinan duniawi yang otoriter atau pragmatis.
  5. Krisis integritas dan masalah moral di kalangan pemimpin gereja menunjukkan bahwa prinsip kepemimpinan Kristus-sentris belum sepenuhnya diinternalisasi.
  6. Belum ada kerangka konseptual yang memadukan hasil exegesis Markus 10:42–45 dengan teori kepemimpinan modern, khususnya dalam konteks gereja Indonesia.

Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada tiga aspek utama:

  1. Menggali dasar teologi kepemimpinan gereja melalui exegesis Markus 10:42–45, khususnya kata kunci diakonosdan doulos.
  2. Mendeskripsikan teladan kepemimpinan Yesus Kristus sebagaimana tercermin dalam Markus 10:42–45 dan teks pendukung.
  3. Merumuskan implikasi praktis teologi kepemimpinan gereja bagi pemimpin gereja masa kini di Indonesia.

Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus di atas, pertanyaan penelitian yang dirumuskan adalah:

  1. Apa dasar teologi kepemimpinan gereja menurut Markus 10:42–45?
  2. Bagaimana teladan Yesus Kristus dalam Markus 10:42–45 dapat dipahami sebagai paradigma kepemimpinan yang melayani?
  3. Apa implikasi hasil exegesis Markus 10:42–45 bagi pengembangan kepemimpinan gereja di Indonesia masa kini?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menggali dan menjelaskan dasar teologi kepemimpinan gereja melalui analisis eksegetis Markus 10:42–45.
  2. Mendeskripsikan teladan kepemimpinan Yesus Kristus yang menekankan pelayanan dan pengorbanan diri.
  3. Merumuskan implikasi praktis kepemimpinan Kristus-sentris yang dapat menjadi acuan bagi pemimpin gereja lokal dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan struktur ini, Bab 1 akan terasa runtut:

  • Latar belakang masalah:  research gap → novelty → menegaskan urgensi penelitian.
  • Identifikasi Masalah → menunjukkan kompleksitas isu.
  • Fokus Penelitian → mempersempit ruang lingkup.
  • Rumusan Masalah → pertanyaan penelitian yang jelas.
  • Tujuan Penelitian → jawaban yang ingin dicapai.

Penutup

Akhirnya, penulisan tesis yang baik di STT Harvest Semarang bukan hanya soal memenuhi standar akademik, tetapi juga tentang menghadirkan sebuah karya ilmiah yang bernilai teologis, relevan, dan aplikatif. Tesis yang ditulis dengan ketekunan, kejujuran, dan kesungguhan rohani akan menjadi bukti nyata bahwa penelitian teologi tidak terpisah dari kehidupan iman, melainkan justru memperkaya iman dan pelayanan gereja. Dengan demikian, setiap mahasiswa diharapkan menjadikan tesisnya bukan hanya sebagai tugas akhir studi, tetapi juga sebagai sumbangsih intelektual dan spiritual bagi gereja, masyarakat, dan dunia akademik.

Tinggalkan komentar