Mengapa Kekuasaan Sering Menjadi Awal Kejatuhan
Seorang sejarawan Inggris, Lord Acton, pernah menulis kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal:
“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”
“Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan yang absolut merusak secara absolut.”
Sulit menyangkal kebenaran pernyataan tersebut. Sejarah dunia dipenuhi oleh pemimpin yang memulai dengan idealisme, tetapi berakhir dengan kesombongan. Mereka yang dahulu ingin melayani akhirnya ingin dilayani. Mereka yang dahulu memperjuangkan keadilan akhirnya menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam dunia politik. Hal yang sama dapat terjadi dalam bisnis, keluarga, organisasi, bahkan pelayanan gereja. Ketika seseorang memperoleh posisi, pengaruh, kekayaan, atau otoritas yang lebih besar, muncul godaan untuk menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu.
Kita melihatnya pada para pejabat yang pada awalnya masuk ke dunia pemerintahan dengan keinginan memperbaiki masyarakat, memberantas kemiskinan, dan menegakkan keadilan. Namun ketika kekuasaan semakin besar dan pengawasan semakin kecil, sebagian mulai tergoda menggunakan jabatan untuk memperkaya diri, keluarga, atau kelompoknya. Kekuasaan yang seharusnya dipakai untuk melayani rakyat berubah menjadi alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk kepentingan banyak orang diselewengkan demi kepentingan segelintir orang.
Hal yang sama dapat terjadi pada orang-orang yang berhasil secara finansial. Kekayaan pada dirinya sendiri bukanlah dosa. Banyak tokoh Alkitab diberkati Tuhan dengan kekayaan yang besar. Namun kekayaan memberikan kuasa. Uang memberikan kemampuan untuk memengaruhi keputusan, membuka akses, mengendalikan sumber daya, dan menentukan nasib banyak orang. Ketika hati tidak dijaga, kekayaan dapat melahirkan kesombongan, ketidakpekaan, dan sikap merasa lebih penting daripada orang lain. Orang yang dahulu memahami penderitaan sesamanya dapat berubah menjadi pribadi yang hanya melihat manusia dari nilai ekonominya. Karyawan dipandang sekadar biaya, bukan manusia. Relasi menjadi transaksi. Orang yang lemah dieksploitasi karena dianggap tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
Bahkan dalam pelayanan gereja, godaan yang sama dapat muncul. Seorang pemimpin mungkin memulai pelayanannya dengan kasih yang tulus kepada Tuhan dan kerinduan untuk menolong orang lain. Namun seiring bertambahnya jemaat, pengaruh, reputasi, dan otoritas, motivasi hati dapat berubah secara perlahan. Pelayanan yang dahulu berpusat pada Kristus dapat bergeser menjadi berpusat pada diri sendiri. Yang dahulu berjuang agar nama Tuhan dimuliakan mulai tergoda membangun nama dan kerajaannya sendiri. Kritik tidak lagi diterima sebagai masukan, tetapi dianggap ancaman. Orang-orang tidak lagi dipandang sebagai jiwa yang harus digembalakan, melainkan sebagai sumber dukungan, sumber tenaga, atau bahkan alat untuk mencapai visi pribadi.
Inilah sebabnya kekuasaan begitu berbahaya. Bukan karena kekuasaan itu sendiri jahat, melainkan karena kekuasaan memperbesar kemampuan seseorang untuk mewujudkan apa yang ada di dalam hatinya. Jika hati dipenuhi kasih, kuasa akan memperbesar dampak kasih tersebut. Jika hati dipenuhi keserakahan, kesombongan, atau ambisi yang tidak sehat, kuasa juga akan memperbesar semuanya. Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula dampak dari kondisi hati seseorang—baik untuk membangun maupun untuk merusak.
Namun Alkitab memberikan perspektif yang lebih dalam. Alkitab tidak mengajarkan bahwa kekuasaan adalah masalah utama. Masalah utamanya adalah hati manusia yang berdosa. Kekuasaan hanyalah alat yang memperbesar apa yang sudah ada di dalam hati. Jika hati dipenuhi kerendahan hati dan takut akan Tuhan, kekuasaan menjadi sarana untuk melayani. Tetapi jika hati dipenuhi kesombongan dan ambisi diri, kekuasaan menjadi alat untuk mengendalikan, memanipulasi, dan merusak.
Kekuasaan tanpa takut akan Tuhan cenderung menghasilkan kesombongan, penyalahgunaan wewenang, dan kerusakan moral.
1. Kekuasaan Cenderung Membuat Manusia Lupa Tuhan
Salah satu bahaya terbesar dari kekuasaan adalah ilusi kemandirian. Ketika seseorang memperoleh posisi yang tinggi, pengaruh yang luas, kekayaan yang besar, atau keberhasilan yang terus meningkat, ia dapat perlahan-lahan kehilangan kesadaran bahwa semua yang dimilikinya berasal dari Tuhan. Apa yang dahulu diterima sebagai anugerah mulai dianggap sebagai hasil kemampuan pribadi. Apa yang dahulu mendorongnya bergantung kepada Tuhan kini membuatnya merasa cukup dengan dirinya sendiri.
Inilah peringatan yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel:
“Jangan sampai, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu bertambah banyak serta emas dan perakmu bertambah banyak dan segala yang ada padamu bertambah banyak, lalu engkau tinggi hati dan melupakan TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 8:12-14)
Menariknya, Tuhan tidak memperingatkan Israel tentang bahaya kemiskinan, melainkan tentang bahaya kelimpahan. Dalam masa kesulitan, manusia biasanya lebih mudah menyadari kebutuhannya akan Tuhan. Namun ketika segala sesuatu berjalan baik, muncul godaan untuk berpikir bahwa keberhasilan tersebut terutama merupakan hasil kerja keras, kecerdasan, atau kekuatannya sendiri.
Inilah sebabnya keberhasilan sering kali menjadi ujian yang lebih berat daripada penderitaan. Kesulitan menguji iman kita, tetapi keberhasilan menguji rasa syukur dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Ketika seseorang mulai menikmati hasil tanpa mengingat Sang Pemberi, keberhasilan yang seharusnya menjadi berkat dapat berubah menjadi jebakan.
Kita melihat pola ini berulang kali dalam Alkitab. Ketika Saul pertama kali dipilih menjadi raja, ia menunjukkan kerendahan hati dan merasa dirinya tidak layak. Namun setelah memperoleh kekuasaan, ia mulai lebih takut kehilangan takhta daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Demikian pula Uzia. Selama ia mencari Tuhan, ia mengalami keberhasilan yang luar biasa. Namun Alkitab mencatat, “setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia terjerumus binasa” (2 Tawarikh 26:16).
Kekayaan menghasilkan pengaruh, dan pengaruh adalah bentuk kekuasaan. Karena itu Alkitab memandang kekayaan bukan hanya sebagai berkat, tetapi juga sebagai ujian. Semakin besar kekayaan yang dipercayakan Tuhan, semakin besar pula kuasa yang berada di tangan seseorang. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan umat-Nya agar tidak membiarkan kelimpahan membuat mereka lupa bahwa mereka hanyalah pengelola dari apa yang sebenarnya milik Tuhan. Setelah memperingatkan Israel tentang bahaya kelimpahan, Tuhan berkata:
“Janganlah engkau berkata dalam hatimu: kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.” (Ulangan 8:17)
Sebaliknya, mereka harus mengingat bahwa Tuhanlah yang memberikan kemampuan untuk memperoleh kekayaan (Ulangan 8:18). Kesombongan dimulai ketika manusia mengambil kredit atas apa yang sebenarnya adalah anugerah Tuhan. Kerendahan hati dimulai ketika manusia mengakui bahwa setiap keberhasilan, kesempatan, kemampuan, dan pencapaian pada akhirnya berasal dari Tuhan.
Secara praktis, keberhasilan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur, bukan semakin merasa hebat. Semakin besar posisi yang dimiliki, semakin penting untuk mengingat bahwa tidak ada seorang pun yang berhasil sendirian. Ada Tuhan yang memberi kemampuan, ada orang-orang yang menolong, dan ada banyak keadaan yang berada di luar kendali kita. Orang yang bijaksana memahami bahwa posisi adalah amanah, bukan hak istimewa; pengaruh adalah tanggung jawab, bukan alasan untuk merasa lebih penting dari orang lain.
Semakin besar kuasa, semakin besar godaan untuk menggantikan Tuhan dengan diri sendiri.
2. Banyak Raja dalam Alkitab Rusak Karena Kekuasaan
Salah satu bukti paling kuat bahwa kekuasaan dapat menjadi ujian yang berbahaya adalah catatan sejarah para raja dalam Alkitab. Menariknya, banyak dari mereka tidak memulai dengan buruk. Sebagian bahkan memulai dengan kerendahan hati, hikmat, dan hati yang mencari Tuhan. Namun seiring bertambahnya kuasa, pengaruh, dan kemakmuran, mereka mulai kehilangan kewaspadaan rohani dan moral. Alkitab menunjukkan bahwa kejatuhan seorang pemimpin sering kali bukan terjadi saat ia lemah, tetapi justru ketika ia kuat.
Saul adalah contoh yang jelas. Ketika pertama kali dipilih menjadi raja, ia merasa dirinya kecil dan tidak layak (1 Samuel 9:21). Namun setelah memperoleh kekuasaan, ia menjadi semakin terobsesi mempertahankan posisinya. Ia mulai lebih takut kehilangan takhta daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Ketika Daud mulai mendapatkan dukungan rakyat, Saul dipenuhi kecemburuan, paranoia, dan kemarahan. Ia bahkan beberapa kali berusaha membunuh Daud. Raja yang dahulu rendah hati akhirnya menjadi pemimpin yang dikendalikan oleh rasa takut dan ambisi mempertahankan kekuasaan.
Pelajaran dari Saul sederhana tetapi mendalam: jangan pernah mencintai posisi lebih daripada Tuhan yang memberikan posisi tersebut.
Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan, tetapi bahkan ia tidak kebal terhadap bahaya kekuasaan. Dalam 2 Samuel 11, ketika berada di puncak kejayaan kerajaannya, Daud menyalahgunakan otoritasnya untuk mengambil Batsyeba dan kemudian mengatur kematian Uria untuk menutupi dosanya. Kekuasaan memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa segera ditentang oleh orang lain. Walaupun Daud akhirnya bertobat ketika ditegur nabi Natan, kisah ini mengingatkan bahwa tidak seorang pun begitu rohani sehingga kebal terhadap godaan yang menyertai kekuasaan.
Pelajaran dari Daud adalah bahwa bahaya terbesar dari kekuasaan bukanlah kesempatan untuk berbuat dosa, melainkan ilusi bahwa kita dapat melakukannya tanpa konsekuensi.
Salomo menerima hikmat yang luar biasa dari Tuhan. Tidak ada raja lain yang menyamai hikmat, kekayaan, dan kejayaannya. Namun keberhasilan yang luar biasa ternyata tidak menjamin kesetiaan yang berkelanjutan. Salomo mengumpulkan kekayaan, kekuasaan, dan istri dalam jumlah yang sangat besar—tepat seperti hal-hal yang diperingatkan Tuhan kepada para raja dalam Ulangan 17. Pada akhirnya hati Salomo berpaling dari Tuhan dan mengikuti allah-allah asing (1 Raja-raja 11:1-4). Kisah Salomo mengajarkan bahwa hikmat intelektual tidak selalu menghasilkan ketaatan moral. Seseorang dapat mengetahui apa yang benar, tetapi tetap memilih jalan yang salah ketika hatinya dikuasai oleh kenyamanan, kemewahan, dan kesenangan.
Dari Salomo kita belajar bahwa seseorang dapat memiliki hikmat untuk memimpin orang lain, tetapi tetap gagal memimpin hatinya sendiri.
Rehabeam, putra Salomo, menjadi contoh lain tentang bahaya arogansi dalam kepemimpinan. Ketika rakyat meminta keringanan beban, ia menolak nasihat para penasihat yang lebih tua dan memilih mengikuti teman-teman sebayanya yang mendorong pendekatan yang keras. Dengan arogan ia berkata bahwa dirinya akan lebih keras daripada ayahnya (1 Raja-raja 12:13-14). Akibatnya, sepuluh suku Israel memberontak dan kerajaan terpecah. Dalam satu keputusan yang dipenuhi kesombongan, Rehabeam kehilangan sebagian besar kerajaan yang diwariskan kepadanya.
Dari Rehabeam kita belajar bahwa kesombongan dapat menghancurkan dalam sekejap apa yang dibangun oleh generasi sebelumnya selama puluhan tahun.
Keempat kisah ini menunjukkan pola yang sama. Kekuasaan bukanlah masalah utamanya, tetapi kekuasaan menciptakan lingkungan yang membuat kesombongan, ambisi, nafsu, dan kebodohan menjadi semakin berbahaya. Karena itu Alkitab berulang kali menekankan bahwa karakter lebih penting daripada posisi, dan takut akan Tuhan lebih penting daripada kekuasaan.
Banyak pemimpin gagal bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, tetapi karena mereka tidak memiliki karakter yang cukup kuat untuk menanggung keberhasilan yang mereka terima.
3. Kekuasaan Menyingkapkan Kondisi Hati Manusia yang sesungguhnya
Banyak orang berpikir bahwa kekuasaan mengubah seseorang. Namun Alkitab memberikan perspektif yang berbeda. Kekuasaan sering kali tidak mengubah seseorang; kekuasaan menyingkapkan siapa dirinya yang sebenarnya.
“Hati lebih licik dari pada segala sesuatu.” (Yeremia 17:9)
Selama seseorang memiliki sedikit uang, pengaruh, atau otoritas, kelemahan karakternya mungkin belum terlihat jelas. Namun ketika ia memperoleh kuasa, ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertindak sesuai dengan keinginan hatinya. Pada saat itulah isi hati yang sesungguhnya mulai terlihat.
Kita melihat hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pejabat yang korup biasanya tidak tiba-tiba menjadi serakah setelah menjabat. Kekuasaan hanya menyingkapkan keserakahan yang sebelumnya tersembunyi. Orang kaya yang mengeksploitasi karyawan atau memanipulasi orang lain tidak sedang berubah karena uang; kekayaan hanya memperlihatkan karakter yang sesungguhnya. Bahkan dalam pelayanan, seorang pemimpin yang dahulu tampak melayani dengan tulus dapat mulai membangun kerajaan pribadi ketika pengaruhnya bertambah. Kekuasaan tidak menciptakan masalah tersebut; kekuasaan menyingkapkannya.
Kekuasaan tidak menciptakan karakter; kekuasaan menyingkapkan karakter.
4. Kekuasaan Memperbesar Dampak baik positif maupun negatif
Jika kekuasaan menyingkapkan kondisi hati manusia, maka kekuasaan juga memperbesar dampak dari kondisi hati tersebut. Semakin besar kuasa yang dimiliki seseorang, semakin besar pula pengaruh dari karakter yang ada di dalam dirinya.
Kekuasaan bekerja seperti pengeras suara. Ia membuat apa yang ada di dalam hati terdengar lebih jauh dan dirasakan lebih luas. Integritas menjadi lebih berpengaruh. Kemurahan hati menjadi lebih berdampak. Namun demikian pula keserakahan, kesombongan, dan ambisi yang egois.
Inilah sebabnya seorang pejabat yang korup dapat merugikan jutaan orang. Seorang pemimpin bisnis yang serakah dapat mengeksploitasi ribuan karyawan. Seorang pemimpin gereja yang berpusat pada diri sendiri dapat melukai banyak jiwa. Sebaliknya, seorang pemimpin yang takut akan Tuhan dapat memberkati, melindungi, dan membangun kehidupan banyak orang melalui pengaruh yang dimilikinya.
Masalahnya bukanlah bahwa kekuasaan itu jahat. Kekuasaan adalah pemberian Tuhan yang dapat dipakai untuk tujuan yang mulia. Namun kekuasaan memperbesar kemampuan seseorang untuk mewujudkan apa yang ada di dalam hatinya. Jika hati dipenuhi kasih, integritas, dan takut akan Tuhan, kuasa akan menjadi alat transformasi. Tetapi jika hati dipenuhi kesombongan, keserakahan, dan ambisi diri, kuasa akan menjadi alat eksploitasi dan manipulasi.
Karena itu Tuhan lebih tertarik membentuk karakter sebelum memperbesar pengaruh. Sebab pengaruh tanpa karakter dapat menjadi berbahaya, tetapi pengaruh yang dipimpin oleh karakter yang takut akan Tuhan dapat menjadi saluran berkat yang luar biasa.
Power amplifies what the heart contains.
5. Harta, Tahta, dan Wanita: Tiga Ujian Besar Kekuasaan
Menariknya, jauh sebelum Israel memiliki raja, Tuhan sudah mengetahui godaan yang akan menyertai kekuasaan. Karena itu dalam Ulangan 17:16-20 Tuhan memberikan batasan yang sangat jelas kepada para raja. Mereka tidak boleh mengumpulkan terlalu banyak kuda, emas dan perak, serta istri. Di balik perintah tersebut tersembunyi prinsip yang sangat relevan hingga hari ini: seorang pemimpin harus berhati-hati terhadap godaan harta, tahta, dan wanita.
Tahta berbicara tentang kekuasaan dan pengaruh. Kuda perang adalah simbol kekuatan militer pada zaman itu. Godaannya adalah mulai percaya pada kekuatan sendiri daripada kepada Tuhan. Harta berbicara tentang kekayaan dan kemakmuran. Godaannya adalah menjadikan uang sebagai sumber keamanan dan identitas. Wanita berbicara tentang kenikmatan, nafsu, dan relasi yang tidak terkendali. Dalam kasus para raja, istri yang banyak juga menjadi sarana memperluas pengaruh dan ambisi politik. Ketiga hal ini bukanlah dosa pada dirinya sendiri. Masalahnya muncul ketika hati mulai menjadikan hal-hal tersebut sebagai sumber rasa aman, nilai diri, dan kepuasan hidup.
Yang menarik, kegagalan terbesar Salomo justru terjadi pada ketiga area tersebut. Ia mengumpulkan kekuatan militer, menimbun kekayaan yang luar biasa, dan memiliki ratusan istri serta gundik. Pada akhirnya, hati Salomo menjauh dari Tuhan. Ironisnya, raja yang paling berhikmat dalam sejarah Israel jatuh bukan karena kurang pengetahuan, tetapi karena gagal menjaga hatinya terhadap godaan yang menyertai keberhasilannya.
Prinsip ini sangat relevan bagi kita hari ini. Sebagian besar dari kita tidak memiliki kerajaan, tetapi kita tetap menghadapi godaan yang sama. Kita mengejar tahta dalam bentuk posisi, jabatan, reputasi, dan pengaruh. Kita mengejar harta dalam bentuk uang, aset, investasi, dan kenyamanan hidup. Kita mengejar wanita—atau lebih luas lagi, kenikmatan dan pemuasan diri—dalam berbagai bentuk yang ditawarkan dunia. Ketika hal-hal tersebut menjadi pusat hidup kita, perlahan-lahan hati kita mulai menjauh dari Tuhan.
Menariknya, solusi Tuhan bukanlah melarang kekuasaan, kekayaan, atau kenikmatan sama sekali. Sebaliknya, Tuhan memberikan batasan. Tuhan tahu bahwa manusia yang tidak memiliki batasan pada akhirnya akan diperbudak oleh apa yang dimilikinya. Karena itu pemimpin yang bijaksana tidak hanya membangun keberhasilan, tetapi juga membangun pagar-pagar pengaman di sekeliling hidupnya.
Dalam area harta, kita perlu menetapkan batasan agar uang tetap menjadi alat dan tidak menjadi tuan. Dalam area tahta, kita memerlukan akuntabilitas, kerendahan hati, dan orang-orang yang berani mengatakan kebenaran kepada kita. Dalam area wanita dan kenikmatan, kita perlu menjaga kekudusan, integritas, dan menghindari situasi yang membuka pintu bagi kompromi. Banyak orang jatuh bukan karena kurang mengasihi Tuhan, tetapi karena gagal membangun batasan yang sehat ketika keberhasilan dan pengaruh mereka bertambah.
Orang yang bijaksana tidak menunggu sampai jatuh untuk membangun batasan; ia membangun batasan sebelum godaan datang.
Itulah sebabnya setelah memberikan berbagai batasan kepada raja, Tuhan memerintahkan mereka untuk terus membaca dan merenungkan Firman Tuhan sepanjang hidupnya (Ulangan 17:18-20). Firman Tuhan berfungsi sebagai kompas yang menjaga hati seorang pemimpin tetap rendah hati di hadapan Tuhan. Tuhan mengetahui bahwa peperangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari musuh di luar, melainkan dari godaan di dalam dirinya sendiri.
Karena itu, setiap orang yang memiliki pengaruh, kekayaan, atau kekuasaan perlu secara khusus menjaga hatinya terhadap harta, tahta, dan wanita. Ketiga area ini bukanlah dosa pada dirinya sendiri, tetapi ketiganya memiliki daya tarik yang sangat kuat untuk menggeser pusat hati manusia dari Tuhan kepada diri sendiri. Harta dapat melahirkan keserakahan, tahta dapat melahirkan kesombongan, dan wanita atau kenikmatan dapat melahirkan kompromi moral.
Kita tidak cukup hanya berharap bahwa kita tidak akan jatuh. Kita harus secara sengaja memenangkan peperangan hati terhadap ketiga area ini. Kita perlu memiliki kepekaan untuk mengenali godaan sejak masih kecil, sebelum godaan itu bertumbuh menjadi keterikatan yang menguasai hati. Itulah sebabnya pemimpin yang bijaksana menetapkan batasan yang jelas terhadap uang, kekuasaan, dan kenikmatan. Mereka tidak bermain-main dengan godaan, tetapi membangun pagar pengaman sebelum godaan itu datang.
Kemenangan terbesar seorang pemimpin bukanlah menaklukkan dunia di luar dirinya, melainkan menjaga hatinya dari godaan harta, tahta, dan wanita.
6. Semakin Tinggi Posisi, Semakin Besar Godaannya
Salah satu bahaya terbesar dari kekuasaan adalah bahwa godaannya sering datang secara perlahan dan tidak terasa. Jarang ada pemimpin yang bangun pada suatu pagi dan berkata, “Hari ini saya akan menjadi korup.” Sebaliknya, kejatuhan biasanya dimulai dari kompromi-kompromi kecil yang terus berulang sampai akhirnya menjadi pola hidup.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin mudah baginya untuk membenarkan dirinya sendiri. Ia memiliki lebih banyak akses, lebih banyak hak istimewa, dan lebih sedikit orang yang berani mengoreksinya. Apa yang dahulu dianggap salah perlahan-lahan mulai dianggap wajar. Pelayanan berubah menjadi kepentingan pribadi. Jabatan berubah menjadi alat mempertahankan kekuasaan. Pengaruh berubah menjadi sarana mengendalikan orang lain.
“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12)
Inilah sebabnya Alkitab berulang kali memperingatkan para pemimpin untuk menjaga hati mereka. Orang yang berada di puncak sering kali menghadapi godaan yang tidak dihadapi oleh orang lain: godaan untuk menyalahgunakan wewenang, mengambil keuntungan dari posisi, memperlakukan orang lain sebagai alat, atau merasa dirinya berada di atas aturan yang berlaku bagi orang lain.
Ulangan 17:20 (TB) “supaya jangan ia menganggap dirinya lebih tinggi dari pada saudara-saudaranya dan jangan menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar ia dan anak-anaknya lanjut memerintah atas kerajaan itu di tengah-tengah orang Israel.”
Salah satu tanda awal kerusakan akibat kekuasaan adalah ketika seseorang mulai merasa dirinya berbeda dari orang lain, lebih penting dari orang lain, atau tidak lagi tunduk pada standar yang berlaku bagi orang lain. Karena itu Tuhan memerintahkan raja untuk terus membaca Firman Tuhan agar ia tidak “menganggap dirinya lebih tinggi dari pada saudara-saudaranya” (Ulangan 17:20). .
Karena itu, semakin tinggi seseorang diangkat Tuhan, semakin rendah hati ia harus berjalan. Semakin besar pengaruh yang dimiliki, semakin besar kewaspadaan yang diperlukan.
“Bahaya terbesar dari kekuasaan bukanlah kemampuan untuk mengendalikan orang lain, tetapi kecenderungan untuk berhenti mengendalikan diri sendiri.”
7. Yesus Menawarkan Model Kekuasaan yang Berbeda: Power is for Service
Dunia memandang kekuasaan sebagai sarana untuk mendapatkan lebih banyak kendali, kenyamanan, dan kehormatan. Semakin besar posisi, pengaruh, atau kekayaan seseorang, semakin besar pula kecenderungan untuk mengharapkan orang lain melayani dirinya. Namun Yesus mengajarkan paradigma yang berbeda.
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Markus 10:43)
Yesus tidak menolak kekuasaan, tetapi Ia mendefinisikan ulang tujuan dari kekuasaan. Dalam Kerajaan Allah, kuasa bukanlah alat untuk meninggikan diri sendiri, melainkan sarana untuk melayani orang lain. Power is for service.
Teladan terbesar adalah Yesus sendiri. Ia memiliki seluruh otoritas, tetapi menggunakan kuasa-Nya bukan untuk memperkaya diri atau mencari keuntungan pribadi. Sebaliknya, Ia melayani yang lemah, mengangkat yang tertindas, membasuh kaki murid-murid-Nya, dan akhirnya menyerahkan hidup-Nya bagi orang lain. Semakin besar kuasa yang dimiliki-Nya, semakin besar pula pelayanan yang diberikan-Nya.
Prinsip ini sangat relevan bagi mereka yang memiliki kekayaan dan pengaruh. Kekayaan pada dasarnya adalah bentuk kekuasaan. Uang memberikan kemampuan untuk membuka pintu, memengaruhi keputusan, menciptakan peluang, dan mengubah kehidupan orang lain. Pengusaha yang mengikuti teladan Kristus tidak melihat bisnis hanya sebagai sarana menghasilkan keuntungan, tetapi juga sebagai sarana melayani sesama. Ia menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan karyawan, menyediakan produk atau layanan yang bermanfaat, memperlakukan orang dengan adil, dan menjadi berkat bagi masyarakat. Semakin besar perusahaan yang dipercayakan Tuhan kepadanya, semakin besar pula kesempatan yang dimilikinya untuk menciptakan dampak yang positif bagi banyak orang.
Demikian pula dalam pelayanan. Posisi kepemimpinan, jabatan, pengalaman, atau pengaruh rohani adalah bentuk kuasa yang dipercayakan Tuhan. Godaannya adalah menggunakan pengaruh tersebut untuk membangun nama, reputasi, atau kerajaan pribadi. Namun teladan Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan rohani bukanlah tentang berapa banyak orang yang melayani kita, melainkan berapa banyak orang yang kita layani dan kita tolong bertumbuh.
Dalam dunia, kuasa sering dipakai untuk keuntungan diri sendiri. Dalam Kerajaan Allah, kuasa dipakai untuk kebaikan orang lain.
Semakin besar kekayaan dan pengaruh yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk melayani.
Kesimpulan
Alkitab tidak mengatakan secara eksplisit “power tends to corrupt,” tetapi mengajarkan sesuatu yang bahkan lebih mendasar:
Bukan kekuasaan yang terutama merusak manusia; dosa di dalam hatilah yang merusaknya. Kekuasaan hanya memperbesar dan menyingkapkan apa yang sudah ada di dalam diri seseorang. Di tangan orang yang hatinya tercemar, kekuasaan menjadi alat untuk mengeksploitasi, memanipulasi, dan mengendalikan orang lain. Namun di tangan orang yang takut akan Tuhan, kekuasaan menjadi sarana untuk melayani, memberdayakan, dan membawa berkat bagi banyak orang.
Karena itu solusi Alkitab bukan sekadar membatasi kuasa, tetapi membentuk karakter melalui takut akan Tuhan, kerendahan hati, integritas, dan hati seorang hamba.
Kuasa adalah kemampuan untuk memengaruhi hidup orang lain; karakter menentukan apakah pengaruh itu akan membangun atau menghancurkan.”