TUJUH KESALAHAN SEORANG PEMIMPIN

Krisis yang sedang kita alami (2020) menunjukkan betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin yang menjalankan kepemimpinan dengan baik. Hal ini ditunjukkan di level negara, dimana keputusan-keputusan Presiden bagaimana kita menghadapi Covid.19 sangat menentukan apakah kita akan survive atau tidak sebagai suatu negara, menghadapi Covid-19 dan krisis ekonomi. Di level perusahaan juga sama, kita berada di saat dimana kepemimpinan seorang CEO menentukan apakah perusahaan tersebut akan survive atau tidak.

Dalam kesempatan ini kita akan membahas tujuh kesalahan yang menghambat pertumbuhan kepemimpinan seseorang.

#1. RASA TIDAK AMAN (insecurity)

Saya melihat banyak hubungan antara pimpinan dan bawahan, hubungan antar generasi, hubungan dalam sebuah tim pelayanan rusak (tidak sehat) karena masalah insecurity. Wujudnya antara lain tuduhan-tuduhan pemberontakan, ketersinggungan (baper), potensi yang terpangkas, ketidak effektif-an, kesalahpahaman dll.

“Dunia tidak membutuhkan pemimpin yang masuk dalam permainan membandingkan dan iri hati.” – JR

Tanda-tanda seorang pemimpin yang mengalami insecurity:

  • Sulit mengakui kelemahan / kesalahan
  • Bereaksi (instead of meespon)
  • Mencari kesalahan orang
  • Berprasangka buruk kepada orang
  • Menganggap potensi pada orang lain sebagai ancaman

Hubungan baik Saul dan Daud:

1Sam.18:1 Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. (2) Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya. (3) Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. (4) Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya. (5) Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul.

Apa yang terjadi pada Saul?

1Sam.18:6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, (7) dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; (8) Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” (9) Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Hubungan yang dimulai dengan baik, kemudian menjadi rusak: Saul menjadi membenci Daud. Apa yang terjadi?

1. Mulai membandingkan diri dengan orang lain.

  • Para wanita memuji pencapaian Daud yang lebih besar dari pencapaian Saul
  • Lebih-lebih yang membandingkan para wanita (jangan suka membandingkan pencapaian suamimu dengan orang lain.)
  • Saul mulai membandingkan diri dengan Daud.

“Comparison is the thief of joy.” – Theodore Rosevelt.

2. Perkataan-perkataan itu menyebalkan hatinya, lalu bangkitlah amarah Saul.

  • Perkataan orang mulai “masuk” ke dalam perasaan Saul
  • Dia mulai “sebal” lalu berujung pada “kemarahan”

3. Saul kehilangan perspektif yang benar

  • Bukankah seharusnya Saul senang, karena menemukan orang yang bisa menggantikannya sebagai Raja?

Lesson learned:

  1. Jangan ijinkan insecurity merusak panggilan kita di dalam Tuhan, merusak pelayanan, merusak hubungan. Bangun gambar diri yang baik di dalam Tuhan, dengan mengenal diri kita, potensi, panggilan Tuhan.
  2. Kita tidak perlu terlibat dalam permainan membandingkan diri; jangan merasa terancam oleh pemimpin-pemimpin lain.
  3. Seandainya Saul punya pikiran generational, maka dia akan melihat dari perspektif yang berbeda.

#2. TIDAK FOKUS

  • Ingin melakukan terlalu banyak hal
  • Ingin mendapatkan pengakuan
  • Kesuksesan dapat membuat orang kehilangan fokus.
  • Sebenarnya yang membuat dia mengalami kesuksesan adalah karena sebelumnya sangat fokus kepada satu atau sedikit hal saja.
  • Ketika resorces dan perhatian mulai terbagi ke banyak hal, maka tingkat ekselensi mulai menurun, ada banyak standar yang telah mengalami penurunan.

Salah satu kunci untuk kita selalu dapat fokus, adalah mengendalikan AMBISI dalam hidup kita. Ambisi tidak selalu negative, banyak orang ingin melakukan hal-hal yang baik karena merasa “terpanggil”. Ada lebih dari seribu hal baik yang kita dapat lakukan dalam kepemimpinan ataupun pelayanan, tetapi tidak mungkin semua dapat kita lakukan pada saat yang sama. Memaksakan diri melakukan terlalu banyak hal akan membuat energi kita terpecah, dan semua yang kita lakukan TIDAK EKSELEN. Karena itu kita harus memilih dan FOKUS pada beberapa hal yang menghasilkan buah yang maksimal.

1Kor.3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus mengajarkan bahwa kita tidak mungkin melakukan semua pelayanan sendiri. Karena itu tidak boleh ada persaingan dan iri hati diantara para pelayanan Tuhan.  Untuk itu kita harus mengenal “kasih karunia” yang Tuhan anugerahkan, sehingga kita tahu batasan-batasan ruang lingkup kepemimpinan dan pelayanan sesuai dengan anugrah yang Tuhan berikan.

Batasan-batasan itu dapat berupa:

  • Talenta (perumpamaan talenta)
  • Karunia Rohani
  • Intelligence: Baik secara kognitive maupun emotional (contoh kemampuan menghadapi tekanan)

Dengan kita mengenal diri sendiri – kekuatan dan kelemahan – maka kita akan tahu batasan kemampuan kita sehingga kita dapat FOKUS pada hal-hal yang dapat kita lakukan dengan ekselen. Jangan ijinkan perhatian terpecah kepada terlalu banyak hal yang counter-productive.

Bagaimana dengan anda? apakah anda masih terus terfokus kepada hal-hal penting yang menjadi tujuan utama?

#3. INGIN MENYENANGKAN SEMUA ORANG

  • Salah satu tugas penting seorang pemimpin adalah membuat keputusan. Seringkali tugas ini tidak mudah karena dalam sebuah organisasi (gereja) dengan begitu banyak orang / pemimpin tentu sangat mungkin bahwa akan ada banyak pendapat yang berbeda-beda tentang sesuatu. Sebenarnya kita sadar sangat sulit / tidak mungkin untuk semua orang setuju atas semua hal yang harus dipilih / diputuskan.

Apa akibatnya jika seorang pemimpin ingin menyenangkan semua orang?

  1. Kehilangan fokus / arah dari organisasi, karena banyak pendapat / usulan yang berbeda-beda untuk apa yang sebaiknya dilakukan.
  2. Kehilangan kebenaranian untuk mengambil keputusan. Dia cenderung menunda-nunda keputusan (demi tidak “melukai” orang yang berbeda pendapat), bahkan membuat keputusan yang bertentangan dengan keyakinannya akan apa yang terbaik untuk gereja, hanya demi menyenangkan orang-orang tententu.
  3. Kehilangan ketajaman: Gagal untuk memutuskan apa yang terbaik baik bagi organisasi karena mengikuti pendapat-pendapat terlalu banyak orang.

Bagaimana seorang pemimpin dapat tetap membuat keputusan-keputusan yang baik?

  1. Setia pada misi, visi dan nilai-nilai. Tetaplah fokus pada misi dan misi organisasi, membuat keputusan yang membawa organissi mendekati misi dan visinya tentu adalah hal yang baik. Tetaplah berpegang kepada nilai-nilai yang anda percaya atau menjadi budaya dari organisasi. Nilai-nilai menentukan apa yang dianggap baik, atau apa yang dianggap tidak baik bagi sebuah organiasi. Berpegang kepada nilai-nilai ini memudahkan kita membuat penilaian mana yang paling baik dari semua pilihan-pilihan yang tersedia, dan untuk memilih apa yang terbaik bagi organisasi.
  2. Percaya pada intuisi anda. Pengalaman mempertajam intuisi seorang pemimpin, terutama pada saat krisis atau tidak tersedia data yang jelas untuk sebuah pengambilan keputusan. Pengalaman terdiri dari kegagalan di masa lampau ataupun juga keberhasilan-keberhasilan. Sebenarnya semua pemimpin pasti pernah melakukan kesalahan, yang penting mereka mau mengevaluasi diri dan belajar dari kesalahan itu, untuk tidak membuat kesalahan yang sama di masa depan.
  3. Mendengar masukan dari orang-orang yang dapat dipercaya. Inilah pentingnya seorang pemimpin memiliki orang-orang yang dapat dipercaya disekitarnya, orang-orang yang dapat memberikan masukan secara jujur dan tidak menjerumuskan. Seorang pemimpin pasti mendapat masukan dari banyak orang, tetapi telinganya memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang dia percaya. Di sini juga penting untuk seorang pemimpin memiliki seorang mentor tempat dia bertanya pada saat harus mebuat keputusan-keputusan penting.
  4. Memuliakan Tuhan. Ini menjadi ukuran penting dalam pengambilan keputusan. Walaupun saya letakkan di urutan paling akhir, tetapi sebenarnya ini harus menjadi pertimbangan paling utama bagi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan.

#4. TIDAK DAPAT MENERIMA PERBEDAAN PENDAPAT

  • Seperti yang saya kemukakan di atas, dalam sebuah organisasi / apalagi sebuah gereja, sangat mungkin ada banyak pendapat berbeda untuk suatu hal yang harus dipilih / diputusakan.
  • Di sini diperlukan kedewasaan seorang pemimpin, untuk dapat mengerti bahwa orang bisa saja punya pendapat yang berbeda. Bahkan seringkali perbedaan-perbedaan ini adalah sesuatu yang baik / sehat dalam sebuah organisasi, dibanding dengan jika orang-orang enggan untuk memberikan pemikirannya.
  • Tugas seorang pemimpin adalah mengelola perbedaan-perbedaan itu, supaya dapat diambil sebuah keputusan, sambil menghormati semua pendapat. Setelah keputusan diambil, maka semua orang dalam organisasi itu harus sehati mendukung keputusan itu, tidak peduli mereka setuju atau tidak setuju.

#5. TIDAK MENGEMBANGKAN BAWAHAN dan TIDAK MENDELEGASIKAN DENGAN BAIK  (atau mendelegasikan kepada orang yang salah)

  • Ada orang-orang tertentu oleh karena karisma dan talenta yang extraordinary,  mereka mencapai sukses yang luar biasa. Sisi negativenya seringkali mereka seperti tidak tergantikan dalam sebuah organisasi.
  • Pemimpn seperti ini cenderung tidak mengembangkan orang-orang dibawahnya, melainkan hanya “memakai” mereka untuk mendukung visi dari si pemimpin. Mereka punya banyak follower, tapi tidak punya banyak pemimpin lain di sekitar mereka.
  • Akibatnya semua keputusan-keputusan bahkan tindakan selalu dilakukan si pemimpin. Dalam gereja seringkali kita menjumpai seorang gembala sidang yang melakukan hampir semua pelayanan di gereja itu, mulai berkotbah di kebaktian Mingggu, sampai peghiburan dan ulang tahun anak sekolah minggu. Akibatnya sebenarnya si pemimpin (gembala) menjadi bottle-neck dari pengembangan organisasi, karena menghambat pertumbuhan pemimpin-pemimpin baru di gereja itu.
  • Di sisi lain, seringkali seorang pemimpin melakukan delegasi tetapi kepada orang-orang yang salah, yaitu orang-orang yang dipilih bukan atas dasar kapasitasnya, tetapi hanya karena pandai memikat hati si pemimpin. Akibatnya dia dikelilingi orang-orang dengan kapasitas rendah.

#6. TIDAK MEMBANGUN SISTEM

  • Ketika gereja masih kecil, segala sesuatu sangat mudah dikoordinasikan dan diselaraskan. Namun seiring dengan bertumbuhnya organisasi, maka diperlukan adanya sebuah SISTEM yang baik untuk menunjang operasi gereja/organisasi.
  • Jika tidak dibangun sistem yang baik, maka akan sering terjadi mis-komunikasi, pemborosan sumber daya ataupun efektifitas yang rendah.
  • Yang saya maksudkan dengan sistem dimulai dengan menentukan visi, misi dan sasaran-sarangn jangka panjang dan jangka pendek yang jelas; sehingga semua orang yang terlibat dapat memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan dari organisasi.
  • Memilih model organisasi yang tepat (sesuai dengan tahapan pertumbuhan organisasi) sangat penting, sehingga organisasi masih bisa lincah dan efektif. Diikuti dengan menampatkan orang-orang yang tepat dan berfungsi.
  • Satu hal yang penting — tapi sering diabaikan — adalah BUDAYA. Kita tidak dapat mengecilkan pentingnya budaya sebuah organisasi terhadap kesehatan gereja. Membangun budaya dimulai dengan menentukan nilai-nilai yang dipercaya. Nilai-nilai yang secara konsisten ditunjukkan oleh seorang pemimpin akan menjadi budaya di organisasi tersebut.
  • Sistem yang baik juga harus diturunkan sampai SOP yang jelas dan rapi.

#7. TIDAK MAU BELAJAR DAN BERUBAH

  • Dunia sedang berubah dengan cepat. Gereja juga harus mengalami perubahan agar dapat terus relevan dengan dunia kita dan dapat menjadi terang dan garam bagi dunia.
  • Untuk itu kita harus dapat membedakan antara model dan mission. Mission kita tidak akan pernah berubah, yaitu “connect people with God, and make them disciples of Jesus Christ.” Tapi model pelayanan kita harus terus berubah mengikuti perkembangan jaman.
  • Perubahan ini harus dimulai dari seorang pemimpin yang mau terus belajar dan berubah. Kita harus terus mengisi diri kita sendiri sehingga memiliki pengetahuan yang dalam dan luas. Tanpa pemimpin yang mau berubah, maka organisasi / gereja juga tidak akan berbah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s