Hikmat dalam memilih orang dan mendelegasikan

“Siapa mengirim pesan dengan perantaraan orang bebal adalah seperti orang yang mengerat kakinya sendiri dan minum celaka.”
(Amsal 26:6)

“Siapa mempekerjakan orang bebal dan orang-orang yang lewat adalah seperti pemanah yang melukai setiap orang.”
(Amsal 26:10)

Kedua ayat ini memakai gambaran yang keras dan ekstrem karena dampak dari salah mempercayai orang memang bisa sangat besar. Amsal 26:6 mengatakan bahwa mempercayakan pesan kepada orang bebal sama seperti melukai diri sendiri. Artinya, kerusakan itu bukan datang dari musuh, tetapi dari keputusan kita sendiri yang salah dalam memilih orang. Sedangkan Amsal 26:10 menggambarkan seperti seorang pemanah yang menembak tanpa arah dan akhirnya melukai banyak orang. Delegasi kepada orang yang salah seringkali tidak berhenti pada satu kesalahan kecil; dampaknya bisa menyebar kepada banyak orang.

Dalam kitab Amsal, “orang bebal” bukan terutama berbicara tentang IQ atau kemampuan intelektual. Orang bebal adalah orang yang:

  • tidak memiliki hikmat,
  • sulit diarahkan,
  • tidak stabil,
  • tidak dapat dipercaya,
  • tidak mau belajar,
  • dan tidak memiliki takut akan Tuhan.

Karena itu, Alkitab mengajarkan bahwa dasar utama kepercayaan bukan sekadar kompetensi, tetapi karakter.

Seseorang bisa:

  • pintar berbicara,
  • berbakat,
  • kreatif,
  • cepat bekerja,
    tetapi belum tentu siap memegang kepercayaan.

Ada orang yang mampu melakukan tugas, tetapi belum mampu membawa tanggung jawab. Ada yang memiliki skill dan kemampuan yang baik, tetapi belum memiliki kestabilan hati, kedewasaan karakter, dan integritas yang cukup. Bahkan ada orang yang terlihat sangat capable di depan, namun belum siap memegang akses, pengaruh, atau wewenang, karena semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula kedewasaan, hikmat, dan karakter yang dibutuhkan untuk membawanya dengan benar.

“Wisdom in leadership is not merely finding people who are capable, but finding people who are faithful enough to be trusted with responsibility.”

Amsal sedang mengingatkan bahwa salah menempatkan orang yang salah dapat:

  • menciptakan kekacauan,
  • memperlambat visi,
  • melukai banyak orang,
  • merusak budaya,
  • menghancurkan kepercayaan,
  • dan akhirnya melukai pemimpin itu sendiri.

Banyak organisasi, bisnis, pelayanan, bahkan keluarga mengalami masalah besar bukan karena kekurangan orang berbakat atau kurang potensi, tetapi karena salah memberikan akses, kepercayaan, dan wewenang kepada orang yang belum siap secara karakter dan kedewasaan. Ketika akses diberikan kepada orang yang tidak stabil, tidak bertanggung jawab, atau tidak memiliki nilai yang benar, dampaknya bisa sangat luas: keputusan menjadi kacau, budaya rusak, konflik muncul, kepercayaan hancur, dan visi yang baik menjadi terhambat. Karena itu, salah satu bentuk hikmat terbesar dalam kepemimpinan bukan hanya membangun sistem atau menemukan orang yang capable, tetapi mengetahui siapa yang cukup dewasa, setia, dan dapat dipercaya untuk memegang pengaruh dan tanggung jawab dengan benar.

Kadang seorang pemimpin terlalu cepat memberikan kepercayaan karena didorong oleh rasa kasihan, kedekatan emosional, rasa tidak enak hati, loyalitas pribadi, atau karena terlalu terkesan oleh kemampuan, karisma, dan performa luar seseorang. Padahal tidak semua orang yang terlihat capable sudah siap memegang tanggung jawab, akses, atau pengaruh yang besar. Ketika keputusan delegasi lebih didorong oleh perasaan daripada discernment dan hikmat, akibatnya bisa menjadi sumber masalah yang serius: konflik muncul, budaya rusak, kepercayaan hancur, dan visi menjadi terhambat. Karena itu, kitab Amsal mengingatkan bahwa delegasi bukan hanya soal menemukan orang yang bisa bekerja, tetapi tentang mengenali karakter, kestabilan hati, kesetiaan, dan kedewasaan seseorang sebelum memberikan kepercayaan yang lebih besar kepadanya.

“In leadership, capability can be impressive, but true value is found in people who can be trusted.”

Hati-hati dalam memberikan kepercayaan, karena semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula dampak yang dapat ditimbulkan — baik untuk membangun maupun merusak. Namun kehati-hatian ini bukan berarti kita menjadi takut mempercayai orang lain atau menutup kesempatan bagi generasi berikutnya untuk bertumbuh. Kepemimpinan yang sehat tetap harus memberi ruang bagi kaderisasi, regenerasi, dan pembentukan pemimpin baru. Bedanya, kepercayaan diberikan dengan hikmat, proses, dan pembinaan, bukan secara terburu-buru. Karena itu, hikmat kepemimpinan bukan menahan semua kendali untuk diri sendiri, melainkan mengetahui kapan, kepada siapa, dan sejauh mana kepercayaan diberikan, sambil terus membangun karakter, kedewasaan, dan tanggung jawab orang tersebut.

Yesus sendiri sangat berhikmat dalam memilih murid-murid-Nya. Ia tidak memilih berdasarkan penampilan luar, status sosial, pendidikan, atau pengaruh, tetapi melihat hati dan potensi yang dapat dibentuk. Selama tiga tahun, Yesus berjalan bersama mereka, mengajar, menegur, membentuk karakter, dan melatih kesetiaan mereka terlebih dahulu sebelum akhirnya mempercayakan misi besar untuk memberitakan Injil dan memimpin gereja mula-mula. Ini menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan, pembentukan karakter harus mendahului pemberian tanggung jawab yang besar.

Paulus juga berkata kepada Timotius:

“Apa yang telah engkau dengar daripadaku… percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai…”
(2 Timotius 2:2)

Paulus mengajarkan kepada Timotius bahwa hal-hal yang berharga tidak boleh dipercayakan sembarangan, tetapi kepada orang-orang yang dapat dipercaya. Menariknya, Paulus tidak pertama-tama menekankan talenta, kemampuan, atau karisma, melainkan kesetiaan dan dapat dipercayanya seseorang. Prinsip ini menunjukkan bahwa dalam Kerajaan Allah, faithfulness comes before usefulness — karena orang yang setia akan terus bisa dibentuk, diajar, dan dipakai Tuhan dalam jangka panjang, sedangkan kemampuan tanpa karakter seringkali tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menopang tanggung jawab yang besar.

Dalam Kerajaan Allah, kemampuan penting, tetapi karakter lebih penting. Karena kemampuan dapat membuka pintu, tetapi karakter menentukan apakah seseorang dapat dipercaya memegang kunci.

Hikmat adalah mengetahui:

  • siapa yang cukup dewasa untuk diberi akses,
  • siapa yang cukup stabil untuk memegang tanggung jawab,
  • dan siapa yang cukup setia untuk membawa visi dengan benar.

Reflection:
Tidak semua orang yang tersedia siap dipercaya.
Dan tidak semua orang yang berbakat siap memegang wewenang.

Tinggalkan komentar