Hampir setiap pernikahan akan mengalami musim-musim yang sulit. Ada saat ketika komunikasi tidak lagi berjalan dengan baik, ketika luka dan kekecewaan menumpuk, ketika harapan tidak terpenuhi, dan ketika seseorang mulai bertanya dalam hatinya, “Apakah aku masih sanggup melanjutkan ini?” Pada saat-saat seperti itu, yang diuji bukan sekadar kekuatan emosi atau kualitas hubungan, melainkan fondasi yang menopang pernikahan itu sendiri. Apa yang membuat dua orang tetap bertahan ketika perasaan mulai melemah? Apa yang menjaga mereka tetap berdiri ketika menyerah tampak lebih mudah daripada bertahan? Jawaban Alkitab adalah covenant.
Budaya modern mengajarkan bahwa hubungan bertahan selama hubungan itu membuat kita bahagia, selama kebutuhan emosional terpenuhi, dan selama pasangan masih memenuhi harapan kita. Namun pernikahan Kristen dibangun di atas sesuatu yang jauh lebih kokoh daripada perasaan. Pernikahan dibangun di atas covenant, yaitu perjanjian yang dibuat di hadapan Tuhan.
Ketika seorang pria dan wanita menikah, mereka tidak sekadar berkata, “Aku mencintaimu hari ini.” Mereka juga berkata, “Aku akan tetap setia kepadamu ketika suatu hari nanti mengasihimu menjadi sulit.” Itulah esensi covenant. Covenant bukanlah janji untuk bertahan selama keadaan baik. Covenant adalah komitmen yang tetap berdiri bahkan ketika keadaan tidak baik.
1. Pernikahan Itu Sakral Karena Tuhan Sendiri yang Menginisiasinya
Pernikahan bukanlah ide manusia. Pernikahan berasal dari hati dan rancangan Allah sendiri. Sebelum ada negara, hukum sipil, atau institusi sosial apa pun, Tuhan telah menciptakan pernikahan di Taman Eden. Karena itu pernikahan memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan romantis atau kontrak sosial. Ketika seorang pria dan wanita menikah, mereka tidak hanya memilih satu sama lain; mereka masuk ke dalam sebuah relasi yang Tuhan sendiri tetapkan dan kuduskan. Pemahaman ini sangat penting karena dunia modern sering memandang pernikahan terutama sebagai sarana kebahagiaan pribadi. Namun Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan pertama-tama adalah sesuatu yang sakral. Apa yang sakral tidak boleh diperlakukan dengan ringan. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan sendiri yang mempersatukan suami dan istri, kita akan memandang pernikahan dengan hormat dan kesungguhan yang jauh lebih besar.
Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
Kejadian 2:24 merupakan salah satu ayat terpenting tentang pernikahan dalam seluruh Alkitab. Menariknya, ayat ini diberikan sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa. Artinya, pernikahan bukanlah ide manusia atau sekadar solusi terhadap kesepian manusia, melainkan bagian dari rancangan Allah sejak semula. Karena berasal dari Allah, pernikahan memiliki sifat yang kudus dan sakral.
Ayat ini menunjukkan tiga aspek penting dari kesakralan pernikahan.
Pertama, pernikahan menciptakan sebuah ikatan yang baru dan utama. Seorang laki-laki “meninggalkan ayahnya dan ibunya.” Ini tidak berarti memutuskan hubungan dengan orang tua, tetapi menunjukkan adanya perubahan prioritas. Setelah menikah, hubungan yang paling utama bukan lagi hubungan dengan orang tua, melainkan hubungan dengan pasangan. Allah sendiri menetapkan bahwa sebuah keluarga baru lahir melalui pernikahan.
Kedua, pernikahan adalah ikatan perjanjian yang permanen. Kata “bersatu” dalam bahasa Ibrani (dabaq) berarti melekat erat, berpegang teguh, atau terikat kuat. Kata yang sama sering digunakan untuk menggambarkan kesetiaan umat kepada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan sekadar kontrak yang dapat dibatalkan ketika salah satu pihak tidak lagi puas, tetapi sebuah covenant yang mengikat dua pribadi untuk hidup dalam kesetiaan. Karena itu Alkitab memandang pernikahan sebagai sesuatu yang kudus dan tidak boleh diperlakukan secara sembarangan.
Ketiga, pernikahan menghasilkan kesatuan yang unik. “Keduanya menjadi satu daging.” Ungkapan ini lebih dalam daripada sekadar kesatuan fisik. Allah menyatukan dua pribadi, dua kehidupan, dua perjalanan hidup menjadi satu kesatuan yang baru. Mereka tetap dua individu yang berbeda, tetapi kini berbagi hidup, tujuan, tanggung jawab, sukacita, dan penderitaan bersama. Apa yang Allah satukan tidak boleh dipisahkan oleh manusia (Mat. 19:6).
Karena itu, kesakralan pernikahan tidak terletak pada kemegahan upacara atau pesta pernikahan, melainkan pada fakta bahwa Allah sendiri adalah pencipta, saksi, dan penopang pernikahan tersebut. Pernikahan adalah covenant yang kudus di hadapan Tuhan, tempat dua orang dipanggil untuk mencerminkan kasih, kesetiaan, dan komitmen Allah yang tidak berubah. Itulah sebabnya pernikahan harus dihormati, dijaga, dan dipelihara dengan penuh kesungguhan sepanjang hidup.
Matius 19:6 “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Ketika Yesus berbicara tentang pernikahan, Ia tidak memulai dengan hukum perceraian, tetapi kembali kepada rancangan Allah sejak penciptaan. Yesus menegaskan bahwa dalam pernikahan, dua orang bukan lagi dua, melainkan satu. Kesatuan ini bukan sekadar hasil keputusan manusia, perasaan cinta, atau kontrak sosial. Yesus berkata bahwa Allah sendiri yang mempersatukan mereka. Dengan kata lain, pernikahan adalah tindakan ilahi. Di balik janji yang diucapkan di hadapan keluarga, gereja, dan para saksi, ada karya Allah yang sedang membentuk sebuah kesatuan yang baru. Karena Allah sendiri yang menjadi penggagas dan pemersatu pernikahan, maka pernikahan memiliki sifat yang kudus dan sakral.
Kalimat, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” menunjukkan bahwa pernikahan tidak boleh diperlakukan secara ringan atau berdasarkan perubahan perasaan semata. Dunia sering memandang pernikahan sebagai hubungan yang dapat dipertahankan selama masih memberikan kebahagiaan. Namun Yesus mengajarkan bahwa pernikahan adalah sebuah ikatan yang berada di bawah otoritas Allah. Karena itu, kesetiaan dalam pernikahan bukan hanya komitmen kepada pasangan, tetapi juga penghormatan kepada Allah yang mempersatukan mereka. Kesakralan pernikahan terletak pada kenyataan bahwa Allah sendiri hadir di dalamnya sebagai pencipta, saksi, dan penjaga covenant tersebut.
Kesetiaan dalam pernikahan bukan hanya komitmen kepada pasangan, tetapi juga penghormatan kepada Allah yang mempersatukan mereka.
2. Janji Pernikahan Adalah Covenant, Bukan Kontrak
Alkitab tidak menggambarkan pernikahan sebagai kontrak, melainkan sebagai covenant. Perbedaan ini sangat penting. Kontrak biasanya didasarkan pada pertukaran hak dan kewajiban: selama kedua pihak memenuhi bagiannya, hubungan berjalan baik. Namun covenant jauh lebih dalam daripada sekadar kesepakatan timbal balik. Dalam covenant, seseorang mengikatkan dirinya kepada orang lain melalui sebuah janji yang disertai komitmen dan kesetiaan. Itulah sebabnya janji pernikahan tidak hanya berlaku ketika keadaan baik, tetapi juga ketika keadaan sulit. Ketika seorang suami dan istri mengucapkan, “Aku akan tetap bersamamu dalam suka maupun duka,” mereka sedang membuat komitmen yang melampaui kenyamanan, perasaan, dan keuntungan pribadi.
Maleakhi 2:14 “TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu … padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.”
Maleakhi 2:14 memberikan gambaran yang sangat kuat tentang bagaimana Tuhan memandang pernikahan. Tuhan sendiri menyebut pasangan hidup sebagai “isteri seperjanjianmu” dan menyatakan bahwa Ia menjadi saksi atas perjanjian tersebut. Ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan romantis yang dibangun atas dasar perasaan, dan bukan pula kontrak sosial yang dapat dibatalkan ketika salah satu pihak tidak lagi puas. Pernikahan adalah covenant yang kudus, dibuat di hadapan Allah dan disaksikan oleh Allah sendiri. Karena itu, ketika seorang pria dan wanita mengucapkan janji pernikahan, mereka tidak hanya berjanji kepada satu sama lain, tetapi juga mengikatkan diri di hadapan Tuhan. Kesetiaan dalam pernikahan pada akhirnya bukan hanya soal menjaga hubungan dengan pasangan, tetapi juga menghormati Allah yang menjadi saksi dan penjaga covenant tersebut.
“A good marriage is not something you find; it is something you make.” – Tim Keller
Perbedaan antara kontrak dan covenant terlihat paling jelas ketika hubungan memasuki masa-masa yang sulit. Kontrak berkata, “Aku akan memenuhi kewajibanku jika engkau memenuhi kewajibanmu.” Fokusnya adalah hak, manfaat, dan syarat yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Sebaliknya, covenant berkata, “Aku tetap berkomitmen kepada janji yang telah kuberikan, bahkan ketika hubungan ini menuntut pengorbanan.” Ini bukan berarti mengabaikan kesalahan atau membenarkan dosa, tetapi menunjukkan bahwa fondasi pernikahan bukanlah keuntungan yang diterima, melainkan janji yang telah diikrarkan di hadapan Tuhan. Karena itu, covenant tetap bertahan ketika perasaan melemah, ketika pengampunan diperlukan, dan ketika kesetiaan diuji. Dalam hal inilah pernikahan mencerminkan kesetiaan Allah sendiri, yang tetap setia kepada umat-Nya bahkan ketika mereka sering kali tidak setia kepada-Nya.
“Covenant is the commitment to remain faithful long after comfort fades, emotions fluctuate, and personal benefits disappear.”
3. Kesetiaan Lebih Penting daripada Kenyamanan atau Perasaan
Budaya saat ini sering mengajarkan bahwa keputusan harus mengikuti perasaan. Jika kita merasa bahagia, kita bertahan. Jika kita merasa tidak bahagia, kita pergi. Namun pernikahan Kristen tidak dibangun di atas fondasi yang rapuh seperti itu. Karena pernikahan adalah sebuah covenant, maka kesetiaan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada kenyamanan atau perasaan yang berubah-ubah. Perasaan adalah anugerah Tuhan dan merupakan bagian yang indah dari pernikahan, tetapi perasaan tidak dirancang untuk menjadi penopang utama sebuah hubungan seumur hidup. Ada hari-hari ketika seorang suami atau istri merasa sangat dekat dan penuh kasih kepada pasangannya, tetapi ada juga hari-hari ketika mereka merasa kecewa, lelah, terluka, atau bahkan tidak dimengerti. Jika pernikahan hanya bergantung pada apa yang dirasakan pada saat tertentu, maka stabilitasnya akan terus mengikuti naik turunnya emosi manusia.
Justru di sinilah keindahan covenant terlihat. Covenant mengingatkan kita bahwa komitmen kita kepada pasangan tidak ditentukan oleh suasana hati pada hari itu, melainkan oleh janji yang telah kita ucapkan di hadapan Tuhan. Kesetiaan berarti memilih untuk tetap mengasihi ketika mengasihi terasa sulit, tetap menghormati ketika perasaan hormat sedang diuji, dan tetap bertahan ketika jalan keluar tampak lebih mudah daripada memperjuangkan hubungan. Kasih yang diajarkan Alkitab bukan hanya sesuatu yang dirasakan, tetapi sesuatu yang dipilih dan dijalankan setiap hari. Perasaan dapat menjadi awal dari sebuah pernikahan, tetapi kesetiaanlah yang memelihara dan menguatkannya sepanjang perjalanan hidup. Pada akhirnya, kedewasaan kasih bukan diukur dari seberapa kuat perasaan kita pada suatu saat, melainkan dari seberapa teguh kita memegang covenant yang telah kita buat di hadapan Allah.
Ratapan 3:22-23 “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu.”
Menariknya, ayat ini ditulis di tengah situasi yang sangat gelap. Yeremia tidak sedang menikmati kenyamanan atau kebahagiaan ketika ia menulisnya. Sebaliknya, ia sedang menyaksikan kehancuran Yerusalem. Namun di tengah penderitaan itu, ia menemukan satu hal yang tidak berubah: kesetiaan Tuhan. Kasih Tuhan tidak bergantung pada keadaan umat-Nya, dan kesetiaan-Nya tidak berubah karena kegagalan mereka. Inilah gambaran covenant. Dalam pernikahan, akan ada musim ketika perasaan tidak sehangat dulu dan keadaan tidak seindah yang diharapkan. Namun seperti Allah yang tetap setia kepada umat-Nya, suami dan istri dipanggil untuk membangun pernikahan di atas kesetiaan yang tidak ditentukan oleh keadaan atau emosi sesaat. Kesetiaan menjadi kuat justru ketika kenyamanan menghilang dan kasih harus diwujudkan dalam bentuk komitmen yang terus diperbarui setiap hari.
The strength of a marriage is not measured by how deeply two people fall in love, but by how faithfully they keep their covenant.
Efesus 5:25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”
Standar kasih dalam pernikahan bukanlah perasaan romantis yang selalu menyala, melainkan kasih Kristus yang rela berkorban. Kristus mengasihi jemaat bukan karena jemaat selalu layak dikasihi atau selalu membalas kasih-Nya dengan sempurna. Ia mengasihi sampai menyerahkan diri-Nya di kayu salib. Kasih seperti inilah yang menjadi model bagi pernikahan Kristen. Karena itu, kasih dalam pernikahan bukan pertama-tama soal apa yang kita rasakan, tetapi tentang keputusan untuk terus mengasihi, melayani, mengampuni, dan berkorban demi pasangan kita. Perasaan sering kali berubah, tetapi kasih yang berakar pada covenant memilih untuk tetap setia. Itulah sebabnya kedewasaan pernikahan tidak diukur dari seberapa sering pasangan merasa jatuh cinta, melainkan dari seberapa jauh mereka belajar mencerminkan kesetiaan Allah dan kasih Kristus di tengah perjalanan hidup mereka bersama.
“It is not your love that sustains the marriage, but from now on, the marriage that sustains your love.” – Dietrich Bonhoeffer
4. Kasih Karunia Selalu Tersedia untuk Menolong Kita Menjadi Orang yang Memegang Janji
Salah satu kesalahan terbesar adalah berpikir bahwa kesetiaan dalam pernikahan bergantung sepenuhnya pada kekuatan manusia. Kenyataannya, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan yang cukup untuk selalu mengasihi, mengampuni, dan bertahan dengan kemampuannya sendiri. Itulah sebabnya Injil begitu penting dalam pernikahan. Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk setia; Dia juga memberikan kasih karunia untuk hidup dalam kesetiaan tersebut. Ketika kita lelah, kasih karunia menopang kita. Ketika kita gagal, kasih karunia memulihkan kita. Ketika kita tidak tahu harus melangkah ke mana, kasih karunia memimpin kita. Kesetiaan dalam pernikahan bukanlah hasil dari kekuatan manusia yang luar biasa, melainkan hasil dari anugerah Tuhan yang bekerja setiap hari di dalam hidup orang percaya.
2 Korintus 12:9 “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Banyak orang berpikir bahwa mereka akan mampu memegang janji pernikahan selama mereka cukup kuat, cukup sabar, atau cukup dewasa. Semua itu memang penting, tetapi tidak ada satu pun yang cukup untuk menopang sebuah pernikahan seumur hidup. Cepat atau lambat setiap pasangan akan menemukan batas dirinya. Akan ada musim ketika kesabaran terasa habis, pengampunan terasa berat, harapan terasa pudar, dan masalah yang dihadapi terasa lebih besar daripada kemampuan mereka untuk mengatasinya. Pada saat itulah banyak orang mulai merasa gagal dan berpikir bahwa mereka tidak lagi memiliki apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan pernikahan mereka. Namun Injil memberikan pengharapan. Tuhan tidak berkata, “Jadilah lebih kuat.” Tuhan berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Dengan kata lain, Tuhan tidak meminta kita mengandalkan kekuatan kita sendiri, tetapi belajar bergantung kepada kekuatan-Nya.
Ketika Tuhan berkata, “justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna,” Ia mengajarkan bahwa kelemahan bukanlah sesuatu yang harus selalu kita sembunyikan atau sangkal. Justru ketika kita menyadari keterbatasan kita, kita menjadi lebih terbuka untuk menerima pertolongan Tuhan. Dalam pernikahan, sering kali titik balik yang sesungguhnya terjadi bukan ketika seseorang merasa mampu memperbaiki semuanya sendiri, melainkan ketika ia datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup tanpa Engkau.” Di saat seperti itulah kasih karunia bekerja, bukan sebagai pelengkap usaha manusia, tetapi sebagai sumber kekuatan yang baru.
Kasih karunia memberi kekuatan untuk tetap mengasihi ketika kasih terasa sulit, memberi kesabaran ketika emosi ingin meledak, memberi pengampunan ketika luka masih terasa, dan memberi harapan ketika keadaan tampak tidak berubah. Karena itu, kesetiaan dalam pernikahan bukanlah kisah tentang dua orang yang selalu kuat, melainkan kisah tentang dua orang yang terus-menerus menerima dan mengandalkan kasih karunia Allah. Covenant dapat bertahan bukan karena pasangan itu sempurna, tetapi karena Allah yang menopang mereka adalah Allah yang setia dan kasih karunia-Nya selalu cukup untuk setiap musim kehidupan.
Covenant bertahan bukan karena pasangan itu selalu kuat, tetapi karena kasih karunia Allah selalu cukup. – budihidajat88
5. Jangan Menuntut Pasangan Menjadi Tuhan dalam Hidup Kita
Sering kali masalah terbesar dalam pernikahan bukan karena kita menikah dengan orang yang salah, tetapi karena kita memiliki ekspektasi yang salah. Kita berharap pasangan kita akan memenuhi kebutuhan terdalam jiwa kita. Kita berharap mereka menjadi sumber kebahagiaan, keamanan, identitas, dan kepuasan kita. Ketika mereka gagal memenuhi harapan tersebut, kita kecewa, terluka, bahkan marah. Namun masalahnya bukan terutama pada pasangan kita. Masalahnya adalah kita sedang meminta sesuatu yang tidak pernah dirancang untuk mereka berikan.
Tidak ada manusia yang mampu memikul beban sebesar itu. Tidak ada suami yang cukup kuat untuk selalu menjadi sumber keamanan dan kebahagiaan istrinya. Tidak ada istri yang cukup sempurna untuk selalu memenuhi kebutuhan emosional suaminya. Ketika kita menuntut pasangan menjadi sumber utama sukacita dan kepuasan hidup kita, kita sedang menempatkan mereka pada posisi yang hanya layak ditempati oleh Tuhan. Cepat atau lambat mereka akan mengecewakan kita, bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka manusia.
“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes 6:35)
Alkitab mengajarkan bahwa hanya Tuhan yang dapat memuaskan kebutuhan terdalam jiwa manusia. Pernikahan adalah anugerah yang indah, tetapi pasangan hidup adalah pemberian Tuhan, bukan pengganti Tuhan. Ketika kita menjadikan pasangan sebagai pusat hidup kita, kita akan terus hidup dalam siklus harapan dan kekecewaan. Namun ketika Tuhan menjadi sumber utama sukacita, keamanan, dan identitas kita, kita dibebaskan dari tuntutan yang tidak realistis terhadap pasangan. Kita dapat mengasihi mereka sebagai manusia yang tidak sempurna, sama seperti kita sendiri tidak sempurna.
Ironisnya, pernikahan justru menjadi lebih sehat ketika kita berhenti menuntut pasangan menjadi Tuhan. Ketika hanya Tuhan yang menjadi sumber kepuasan terdalam kita, kita dapat menikmati pasangan sebagai berkat, bukan membebani mereka sebagai penyelamat. Kita tidak lagi datang kepada pasangan dengan tangan yang menuntut, tetapi dengan hati yang penuh syukur. Dan sering kali, salah satu bentuk kasih terbesar dalam pernikahan adalah membebaskan pasangan kita dari beban untuk menjadi sesuatu yang hanya Tuhan dapat lakukan.
“Engkau telah menjadikan kami bagi diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai menemukan perhentiannya di dalam Engkau.” — Augustine of Hippo
6. Covenant Justru Dibutuhkan Saat Tantangan Datang
Sering kali orang baru memahami nilai sebuah covenant ketika badai kehidupan datang. Saat semuanya berjalan baik, covenant hampir tidak terasa diperlukan. Namun ketika konflik muncul, ketika kesehatan terganggu, ketika tekanan keuangan datang, ketika kekecewaan bertumpuk, covenant menjadi jangkar yang menjaga hubungan tetap bertahan. Kita tidak membuat covenant karena kita yakin hidup akan selalu mudah. Kita membuat covenant karena kita tahu suatu hari hidup akan menjadi sulit. Sama seperti jangkar tidak diperlukan saat laut tenang, covenant tidak dibuat untuk musim yang nyaman. Covenant dibuat untuk musim badai. Justru pada saat kita hampir menyerah, covenant mengingatkan kita bahwa kita masih memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada perasaan: sebuah janji yang dibuat di hadapan Tuhan.
Ketika sebuah pernikahan memasuki masa yang sulit, yang menyelamatkannya bukanlah intensitas perasaan, melainkan kekuatan covenant. Perasaan dapat berubah. Emosi dapat naik dan turun. Bahkan pasangan yang saling mengasihi dengan tulus dapat mengalami musim ketika mereka merasa lelah, kecewa, atau tidak dimengerti. Pada saat-saat seperti itu, covenant menjadi pengingat bahwa pernikahan dibangun di atas sesuatu yang lebih kokoh daripada perasaan sesaat. Covenant berkata bahwa komitmen kita tidak ditentukan oleh keadaan hari ini, tetapi oleh janji yang telah kita ucapkan di hadapan Tuhan. Justru ketika kita hampir menyerah, covenant mengingatkan kita bahwa kita masih memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada emosi yang sedang bergejolak: sebuah janji yang tetap berdiri.
“Janji pernikahan tidak dibuat untuk hari-hari terbaik kita; janji itu dibuat untuk hari-hari terburuk kita.”
Ini bukan berarti Tuhan mengabaikan rasa sakit yang nyata dalam pernikahan. Ada pasangan yang sedang berjuang menghadapi konflik berkepanjangan, luka yang belum sembuh, komunikasi yang rusak, tekanan ekonomi yang berat, bahkan pengkhianatan yang menghancurkan kepercayaan. Alkitab tidak meremehkan penderitaan itu. Namun justru di tengah penderitaan itulah covenant menunjukkan nilainya yang sesungguhnya. Covenant tidak menghilangkan badai, tetapi membantu kita bertahan di tengah badai. Covenant tidak membuat perjalanan menjadi mudah, tetapi memberikan alasan untuk tetap berpegang ketika segala sesuatu terasa ingin terlepas. Seperti jangkar yang menjaga kapal agar tidak hanyut saat ombak menghantam, covenant menjaga pernikahan tetap terikat ketika kehidupan menguji segala sesuatu yang pernah dijanjikan.
“Covenant is the anchor that holds when emotions become waves.”
7. Kesetiaan Tuhan Menjadi Pengharapan Saat Kita Hampir Menyerah
Pada akhirnya, covenant pernikahan hanya dapat dipertahankan ketika kita memahami covenant yang lebih besar, yaitu covenant Tuhan dengan kita. Sepanjang Alkitab, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang setia kepada perjanjian-Nya. Bahkan ketika umat-Nya gagal, Tuhan tetap setia. Kesetiaan Allah tidak bergantung pada keadaan yang sedang kita alami, tetapi pada karakter-Nya yang tidak pernah berubah.
2 Timotius 2:13 Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.
Ibrani 10:23 “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia.”
Salah satu kebohongan terbesar yang sering dipercayai pasangan yang sedang terluka adalah bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Ketika doa-doa terasa tidak terjawab, ketika konflik yang sama terus berulang, ketika hati dipenuhi kekecewaan, atau ketika kepercayaan telah rusak, mudah untuk berpikir bahwa tidak ada lagi harapan. Namun kesetiaan Tuhan berarti bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita pada saat-saat tergelap dalam pernikahan kita. Ketika suami dan istri tidak lagi tahu harus melangkah ke mana, Tuhan tetap hadir. Ketika komunikasi terputus, Tuhan tetap bekerja. Ketika hati terluka dan air mata mengalir, Tuhan tetap dekat. Kesetiaan-Nya memastikan bahwa tidak ada satu musim pun dalam pernikahan yang harus kita lalui sendirian.
Tuhan tidak pernah menyerah terhadap keadaan pernikahan kita. Tidak ada pernikahan yang terlalu rusak sehingga berada di luar jangkauan kasih karunia-Nya, tidak ada luka yang terlalu dalam sehingga tidak dapat disembuhkan oleh-Nya, dan tidak ada situasi yang terlalu rumit sehingga membuat-Nya berhenti bekerja. Mungkin ada saat ketika suami dan istri sudah kehilangan harapan, ketika komunikasi telah hancur, ketika kepercayaan telah retak, atau ketika masa depan tampak gelap dan tidak pasti. Namun kesetiaan Tuhan tidak pernah ditentukan oleh seberapa baik kondisi pernikahan kita. Justru di saat-saat yang paling sulit, Dia tetap hadir, tetap bekerja, dan tetap memanggil kita untuk berharap. Tuhan adalah Allah yang memulihkan apa yang retak, menyembuhkan apa yang terluka, dan membangun kembali apa yang runtuh. Selama Tuhan masih bekerja, tidak ada pernikahan yang dapat disebut sebagai kasus yang tanpa harapan.
Lebih dari itu, kesetiaan Tuhan memberi kita pengharapan bahwa tidak ada pernikahan yang terlalu rusak untuk dipulihkan oleh-Nya. Ketika sebuah pernikahan sedang mengalami musim yang berat, pengharapan kita tidak terletak pada kemampuan kita untuk memperbaiki semuanya, melainkan pada kuasa Tuhan yang sanggup melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan. Tidak ada konflik yang terlalu rumit, tidak ada jarak yang terlalu jauh, dan tidak ada kerusakan yang terlalu parah bagi Tuhan. Dia sanggup memulihkan hubungan yang retak, memperbarui kasih yang mulai pudar, dan membangun kembali apa yang tampaknya telah runtuh. Apa yang terlihat mustahil bagi manusia sering kali menjadi tempat di mana kuasa pemulihan Tuhan dinyatakan dengan paling nyata.
Kesetiaan Tuhan juga memberi pengharapan bagi hati yang terluka di dalam pernikahan. Banyak luka dalam pernikahan tidak terlihat oleh orang lain—kata-kata yang menyakitkan, kekecewaan yang berulang, pengkhianatan yang menghancurkan kepercayaan, atau kesedihan yang dipendam selama bertahun-tahun. Namun Tuhan melihat semuanya dan tidak pernah mengabaikannya. Dia sanggup menyembuhkan luka yang paling dalam, melembutkan hati yang telah menjadi keras karena kepahitan, dan menggantikan keputusasaan dengan pengharapan yang baru. Apa yang tidak mampu dilakukan oleh waktu, nasihat, atau usaha manusia, dapat dilakukan oleh kasih karunia Tuhan yang bekerja dengan lembut namun berkuasa di dalam hati kita.
God’s faithfulness is greater than our failures, deeper than our wounds, and stronger than our brokenness
Ketika Anda Hampir Menyerah
Ketika perasaan melemah, covenant tetap ada. Ketika kekuatan kita habis, kasih karunia Tuhan tetap tersedia. Ketika harapan mulai meredup, Tuhan tetap setia kepada janji-Nya. Karena itu pertanyaan terpenting dalam musim yang sulit bukanlah, “Apakah aku masih merasakan hal yang sama seperti dulu?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah aku masih menghormati covenant yang pernah kubuat di hadapan Tuhan?”
Tentu ada situasi-situasi tertentu yang membutuhkan perlindungan, konseling, pertolongan pastoral, dan penanganan yang serius. Artikel ini bukan ajakan untuk mentoleransi kekerasan atau penyalahgunaan. Namun bagi banyak pasangan Kristen yang sedang lelah dan hampir menyerah, mereka perlu kembali mengingat bahwa fondasi pernikahan Kristen bukanlah perasaan, melainkan covenant. Dan sering kali, justru ketika kita memilih berpegang pada covenant di saat-saat paling sulit, Tuhan mulai melakukan pekerjaan pemulihan yang paling dalam.
Pada saat kita merasa tidak sanggup lagi, covenant mengingatkan kita bahwa cinta sejati bukan hanya tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang janji yang kita pegang. Dan sering kali, justru ketika kita memilih tetap setia pada covenant di musim yang paling sulit, Tuhan mulai melakukan pekerjaan pemulihan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Pernikahan yang kuat bukanlah pernikahan yang tidak pernah mengalami konflik, kekecewaan, kelelahan, atau masa-masa ketika salah satu atau kedua pasangan merasa ingin menyerah. Hampir setiap pernikahan akan menghadapi musim-musim seperti itu. Yang membedakan pernikahan yang bertahan dari yang hancur bukanlah absennya masalah, melainkan bagaimana mereka merespons masalah tersebut. Pernikahan yang kuat adalah pernikahan yang, ketika perasaan melemah, ketika harapan mulai pudar, dan ketika jalan keluar tampak lebih mudah daripada bertahan, memilih untuk kembali mengingat covenant yang telah mereka buat di hadapan Tuhan. Mereka mengingat bahwa pernikahan mereka dibangun di atas komitmen, bukan sekadar emosi; di atas janji, bukan sekadar kenyamanan. Justru di saat-saat hampir menyerah itulah covenant menunjukkan nilainya yang sesungguhnya, menjadi jangkar yang menahan mereka tetap berdiri sampai kasih karunia Tuhan kembali memperbarui kekuatan, pengharapan, dan kasih di dalam pernikahan mereka.
Dan ketika kita memilih untuk tetap berpegang pada covenant di musim yang paling sulit, kita tidak berjalan sendirian. Allah yang memanggil kita kepada covenant adalah Allah yang setia kepada covenant-Nya sendiri. Dia tidak pernah menyerah terhadap kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita, dan Dia tidak pernah berhenti bekerja. Karena itu, selama Tuhan masih bekerja, selalu ada alasan untuk berharap. Selalu ada ruang untuk pemulihan. Selalu ada kasih karunia untuk melangkah satu langkah lagi. Dan sering kali, di tempat kita hampir menyerah, Tuhan mulai menulis bab baru yang penuh dengan pemulihan, kesetiaan, dan kasih yang lebih dalam daripada yang pernah kita bayangkan.
“The miracle of marriage is not that two imperfect people never struggle; it is that they keep choosing covenant, again and again, under the grace of God.”