MASIHKAN PENDIDIKAN TINGGI TEOLOGI RELEVAN DENGAN TANTANGAN PELAYANAN MASA KINI?

Oleh:

Budi Hidajat

Regional Director Yayasan World Harvest, Wakil Ketua Umum Sinode IFGF, Gembala Sidang Gereja IFGF Semarang, dosen STT Harvest Semarang

Email: bhidajat88@gmail.com

LATAR BELAKANG

            Penulis berdiri di atas dua kaki, selain sebagai dosen di Sekolah Tinggi Teologi, saya juga menjadi seorang gembala sidang di sebuah gereja lokal.  Privilege ini memberikan kesempatan kepada saya dapat melihat dan merasakan tantangan dalam hubungan antara kompetensi lulusan Sekolah Tinggi Teologi dengan apa yang dibutuhkan gereja dalam melakukan pelayanan di masa kini. Saya menyadari bahwa tidak semua lulusan Sekolah Tinggi Teologi akan berkarya dalam lingkungan gereja lokal, baik sebagai church planter ataupun sebagai staff dan gembala. Sebagian akan berkarya dalam dunia pendidikan dan di organisasi-organisasi para-church lainnya. Namun sebagian besar lulusan Sekolah Tinggi Teologi akan berkarya dalam konteks gereja lokal. Karena itu kesenjangan antara kompensi lulusan Sekolah Tinggi Teologi — termasuk juga Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya — dengan kompetensi sumber daya manusia yang diperlukan oleh gereja lokal untuk menjawab tantangan pelayanan masa kini perlu menjadi perhatian kita semua.

            Dr. James Emery White dalam sebuah artikel “The Real Challenge Facing Seminaries” menuliskan “many seminaries are simply irrelevant to contemporary vocational ministry or, even worse, in an adversarial role toward its mission and theology.” Apa yang disampaikan Dr. James Emery White mengangkat kenyataan yang kita hadapi bersama, bukan hanya dalam konteks di Amerika, tetapi juga di Indonesia. Salah satu tantangan yang kita hadapi adalah lambatnya perubahan baik dari sisi kurikulum maupun kompetensi para dosen dibandingkan dengan cepatnya perubahan jaman yang menyebabkan cepatnya perubahan konteks pelayanan gereja. 

            Carey Nieuwhof dalam artikel “12 Disruptive church Trends that will Rule 2022 (and the Post-Pandemic Era)”membagikan pengamatannya tentang konteks pelayanan gereja di masa kini. Dalam artikel itu Carey Nieuwhof mengemukakan bagaimana pandemi yang sedang kita hadapi mengubah dengan cepat lanskap dunia, termasuk lanskap pelayanan gereja. Kita mengucap syukur untuk teknologi yang tersedia yang memungkinkan kita dapat melakukan pelayanan jarak jauh secara daring, tetapi pada saat yang sama memberikan tantangan baik dari sisi etika dan efektifitas pelayanan. Pada artikel yang sama Carey Nieuwhof mengemukakan bahwa perubahan yang terjadi bukan hanya berbicara tentang perubahan bentuk pelayanan gereja (praxis), misalkan ibadah yang dilakukan secara daring, tetapi lebih mendasar lagi adalah perubahan pola pikir dan gaya hidup generasi digital ini. Perubahan-perubahan ini tentu menantang para pemimpin gereja untuk dapat memimpin gereja melakukan perubahan-perubahan agar tetap menjadi relevan dan dapat menyampaikan pesan Injil kepada semua generasi, termasuk generasi digital. Pertanyaannya tentu apakah para lulusan Sekolah Tinggi Teologi sebagai sumber utama para pemimpin-pemimpin gereja memiliki kompotensi yang cukup dan relevan dengan konteks pelayanan masa kini? Kalau kita membawa satu langkah mundur, apakah Sekolah Tinggi Teologi sudah melakukan cukup untuk membekali para mahasiswa, sehingga para lulusan Sekolah Tinggi Teologi dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang dapat membawa gereja menjawab tantangan perubahan jaman dan tetap relevan dengan masa kini?

PERGUMULAN MASA KINI

            Dalam banyak diskusi internal di STT kami, sebenarnya kami sangat paham dengan semua perubahan yang terjadi “di luar sana,” bagaimana dampaknya kepada pelayanan gereja dan perlunya STT mempersiapkan para mahasiswa untuk memiliki kompetensi yang cukup sehingga pada waktunya mereka terjun ke dunia pelayanan dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang tidak gagap dan dapat memimpin gereja untuk tetap relevan dalam memberitakan Injil kepada semua generasi. Namun setidaknya ada dua tantangan yang kami hadapi dalam hal ini. 

            Pertama, rendahnya sebagian besar kualitas calon mahasiswa yang menjadi “input” Sekolah Tinggi Teologi. Yang saya maksudkan “kualitas” para calon mahasiswa mencakup banyak sisi, seperti pengetahuan dasar alkitab, bekal pengalaman berorganisasi dan kepemimpinan dan bahkan kemampuan akademik yang “pas-pasan.” Di sisi lain, sebenarnya STT sudah memiliki profil ideal alumni – sebagaimana disyaratkan oleh akreditasi – yang dianggap ideal untuk dipersembahkan kepada gereja dan siap melayani. Kami merasa tidak cukup waktu yang diberikan kepada kami untuk memperlengkapi – atau bahkan membangun ulang –para calon mahasiswa untuk mencapai profil ideal alumni. Sebagai contoh dari sisi akademik adalah kemampuan menulis. Seringkali sampai ujian skripsi atau bahkan ujuan thesis, kamu menemukan kualitas penulisan yang dibawah standar, namun kami diperhadapkan pada dilemma apakah akan meminta mahasiswa memperbaiki dan kemungkinan hasilnya tidak signifikan berubah dan dengan konsekuensi mundurnya wisuda, atau meluluskan mahasiswa dengan “menelan” idealisme kami sebagai perguruan tinggi. 

            Pandemi yang tanpa terasa sudah berjalan lebih dari dua tahun, memberikan tantangan tersendiri, karena membatasi interaksi kampus dengan mahasiswa dan antar mahasiswa. Sebagian besar perkuliahan dan interaksi dosen dengan mahasiswa dilakukan secara daring. Walaupun pertemuan secara daring memiliki keuntungan tersendiri, yaitu flexibilitas waktu, namun kita semua menyadari keterbatasan efektifitas pengajaran secara daring. Banyak kegiatan mahasiswa yang dirancang menjadi bagian dari pembetukan kompetensi harus ditunda atau bahwa ditiadakan. Tentu semua batasan-batasan ini berdampak pada proses pembentukan yang seharusnya terjadi kepada para mahasiswa untuk mempersiapkan mereka menjadi para pemimpin di masa depan.

            Kedua, batasan-batasan yang dihadapi dalam penyusunan kurikulum. Dalam proses penyusunan atau evaluasi kurikulum, sebenarnya kami sudah mengidentifikasi hal-hal yang perlu ditambahkan untuk mempersiapkan mahasiswa / alumni untuk pelayanan mereka di masa depan. Namun tuntutan akreditasi membuat banyak hal tidak mudah dihilangkan dari kurikulum, dan tidak menyisakan banyak ruang untuk memasukkan hal-hal baru yang relevan dengan perubahan jaman. Sebagai contoh, setelah memasukkan mata kuliah – mata kuliah yang “wajib” di STT, sering kali kami harus memilih antara mata kuliah kepemimpinan, manajemen gereja, media, atau pelayanan antar generasi, yang di dalamnya sendiri membutuhkan beberapa mata kuliah.

            Dari sisi gereja, sebagai penerima lulusan Sekolah Tinggi Teologi, kami banyak berharap mendapatkan sumber daya manusia yang siap pakai. Namun dalam kenyataan kami menjumpai para alumni lebih banyak memiliki kompetensi dalam teologi dan akademik, dan kurang dalam kompetensi lainnya seperti kepemimpinan, manajemen dan bentuk-bentuk pelayanan praktis yang kontemporer. Dengan kata lain, sebagian besar Sekolah Tinggi Teologi dan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya  telah berhasil dalam memperlengkapi para mahasiswa dari sisi akademik, namun masih kurang berhasil untuk memperlengkapi para mahasiswa dengan kompetensi-kompetensi yang membuat mereka menjadi siap pakai dalam pelayanan di gereja. Kami menyadari bahwa tantangan ini bukan hanya dihadapi oleh Sekolah Tinggi Teologi ataupun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya saja, namun kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan ekspektasi dari dunia industri adalah permasalahan klasik yang dihadapi oleh dunia pendidikan dan industry pada umumnya.

            Pergumulan lain yang dihadapi gereja adalah kurangnya minat dari generasi muda untuk dibekali dalam pelayanan melalui Pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi  atapun di Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya. Saya tidak tahu apakah mereka menggangap Sekolah Tinggi Teologi terlalu menakutkan atau sebaliknya justru menganggap rendah STT. Dalam suatu artikel berjudul “What is the Greatest Challence Facing Seminaries,”  Dr. Ligon Duncan mengemukakan: 

Another crisis in theological education today is just the devaluation of theological education. People don’t have a high regard for what graduate theological education can provide people in preparing for the pastoral ministry. But I would say this: the greatest threat to theological education that we are facing in North America today is that people would think that they can be adequately equipped for a lifetime of gospel ministry without really knowing their Bibles and without really knowing theology.

Saya kira hal ini akan menjadi suatu penelitian yang menarik dalam konteks kita di Indonesia untuk mengetahui hal-hal apa saja yang mempengaruhi minat seseorang untuk diperlengkapi dalam pelayanan melalui Pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Teologi  atapun di Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya.

HARAPAN MASA DEPAN

            Dalam bagian ini saya ingin mengemukakan beberapa harapan yang dapat menjadi sumbangan pemikiran untuk kita diskusikan bersama dalam rangka memperkecil jurang pemisah (gap) antara kompetensi lulusan Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya dengan ekspektasi dari gereja sebagai penerima para alumni. Pertama, kita perlu senantiasa mempertajam bahwa Sekolah Tinggi Teologi perlu mempersiapkan alumni untuk menjadi sumber daya manusia siap pakai dalam pelayanan di gereja dengan kemampuan untuk melakukan pelayanan kontemporer. Keberhasilan Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya bukan hanya Ketika mahasiswa menyelesaikan semua tuntutan akademik dengan baik dan dengan demikian berhak menyandang suatu gelar akademik, melainkan keberhasikan Sekolah Tinggi Teologi  atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya adalah ketika para alumni dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang akan memimpin gereja melakukan perubahan dan dengan demikian akan tetap relevan menjawab kebutuhan masa kini. Saya juga ingin memberikan penekanan pada “kepemimpinan,” artinya tugas Sekolah Tinggi Teologi  atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya adalah menyiapkan pemimpin-pemimpin di masa depan.

            Kedua, secara khusus Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya membawa perspektif mahasiswa menjadi “outward-looking.” Ketika perspektif kita hanya dibatasi oleh empat tembok gereja, maka semua yang kita lakukan selama ini adalah baik-baik saja. Akhirnya gereja hanya sebagai sebuah institusi penerus tradisi, dan Sekolah Tinggi Teologi bertugas mempersiapkan sumber daya manusia penerus-tradisi. Saya ingin mendorong untuk kita mengubah perspektif kita menjadi “outward-looking” untuk dapat melihat bagimana dunia sedang berubah dengan kecepatan perubahan yang semakin tinggi. Hal ini akan mendorong kita menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendobrak tradisi dan membawa gereja terus relevan dengan masa kini dan masa depan.

            Ketiga, untuk menghasilkan sumber daya manusia siap pakai, maka harus terjadi sinergi yang lebih baik antara gereja dengan Sekolah Tinggi Teologi  atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya. Gereja berharap Sekolah Tinggi Teologi  atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainya sebagai penghasil sumber daya manusia yang sangat diperlukan oleh gereja untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan, tetapi sebenarnya gereja juga adalah sumber dari para calon mahasiswa. Gereja harus berperan aktif untuk mengirimkan dan membiayai mahasiswa untuk diperlengkap di Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya. Ada kesan bahwa gereja dan Sekolah Tinggi Teologi  atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen adalah seperti dua orang bersaudara yang memiliki hubungan baik, tetapi tidak banyak berkomunikasi. Seolah-olah masing-masing menghormati privasi satu dengan yang lain, mengijinkan masing-masing sibuk dengan kegiantannya sendiri, dan kita tidak ingin mengusik keasikan saudara kita.

            Saya mendorong untuk terjadinya sinergi yang lebih erat antara gereja dan Sekolah Tinggi Teologi  atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya. Tidak dipungkiri bahwa banyak Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen yang masih memerlukan dukungan keuangan dari gereja. Lebih dari itu, gereja dan Sekolah Tinggi Teologi  perlu membangun suatu komunikasi, sehingga Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen dapat selalu mengerti tantangan yang dihadapi gereja dn melakukan adjustment untuk selalu melahirkan sumber daya manusia yang relevan untuk gereja.

            Harapan saya agar tulisan ini dapat memberikan buah-buah pemikiran yang akan mendorong terjadinya perubahan baik di sisi Sekolah Tinggi Teologi atapun Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen lainnya, sehingga bersama-sama kita dapat mempersiapkan dan melahirkan para pemimpin yang akan membawa gereja terus relevan dengan dunia yang terus berubah dan mengalami kemajuan. Gereja akan tetap dapat menjawab tantangan yang diberikan oleh jaman ini, dan dapat terus memberitakan Injil kepada generasi demi generasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s