TIM KELLER: Loving The City Through Culture

#1. INJIL BUKAN HANYA ADA DI AREA PRIVATE KITA, TAPI PERLU ADA DI PUBLIC SPACE

Act. 17:16 Marketplace = townsquare = media center, financial  center, cultural center, intellectual center

Paulus berdialog = bertanya dan mendengar, lalu berargumentasi menggunakan premises (believes) mereka sendiri:

  • Taking the basic dominant culture ideas of the time in public places and bringing the gospel in a direct conversation with it
  • Membawa iman Kristen kita dari area privat ke public, mengijinkannya berinteraksi dengan dominant culture di situ, dan menjelaskan pandangan dari sisi kekristenan
  • Kita harus melakukannya dengan kreatif sehingga orang tertarik untuk mendengarkan aegumentasi kita.

#2. INjil tidak bermusuhan dengan budaya, tetapi menawarkan jawaban dari apa yang tidak bisa dijawab oleh filosofi dalam budaya tersebut.

Paulus mempresentasikan Injil dengan confident tapi juga patient

  • Mereka menyebut Paulus “babbler” (Kis. 17:18) sebagai olok – olok “this is crazy”
  • Stoic = moralitas, Epicurean = relativists
  • Buat stoics penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan karena itu jangan terikat apapun didunia, sehingga ketika kebahagiaan itu diambil dari anda, anda tidak merasa kehilangan. Karena itu mereka kesulitan menerima argument tadi adanya surga tanpa penderitaan.
  • Epicurean percaya bahwa hidup berakhir ketika kita mati. Maka bersenang – senanglah selama hidup. Sex adalah sarana untuk mendapatkan pleasure. Sedangkan Kekristenan menyatakan bahwa sex adalah sebuah covenant -> memberikan nilai yang jauh lebih tinggi kepad sex.
  • Yang perlu kita lakukan adalah mencari titik lemah dalam suatu culture (orang merasakan ada “kekosongan”) dan budaya / filosofi gagal menjawab kompleksitas kehidupan; dan mempresentasikan bahwa hanya dalam Kristus ada jawaban dari kekosongan di budaya itu.
  • Kekristenan “menghormati” budaya – budaya setempat, dan menawarkan jawaban pada kompleksitas kehidupan yang tidak dapat dijawab sendiri oleh budaya tersebut
  • Karena itulah kekristenan harus engage dengan setiap culture, karena setiap culture punya “kelemahan” dan mempresentasikan Injil dengan cara yang relevant untuk mereka.
  • Kis. 17:18 Paulus mengakhiri dengan kebangkitan Yesus. Paulus menyatakan bahwa kekristenan bukan cuma filosofi (kita tidak bisa diselamatkan hanya dengan pikiran manusia) tapi kebangkitan adalah sebuah fakta dan sejarah. Kita diselamatkan oleh apa yang Yesus sudah lakukan di Salib. Ketika tirai bait suci terbelah, Yesus membawa koneksi antara the ideal (surga) dan the real (dunia/kehidupan)
  • Filosofi hanya bisa menceritakan tentang the ideal (menurut pikiran manusia) dan jurang antara the real ke ideal, tanpa bisa menunjukan cara untuk kita bisa mencapai the ideal
  • Kekuatan kekristenan adalah bahwa kebangkitan Yesus adalah suatu fakta/sejarah, bukan hanya sekedar argumentasi-argumentasi berdasarkan pikiran manusia. Jembatan antara the ideal dan the real adalah diapa yang Yesus lakukan di Salib!

Paulus tidak “bermusuhan” dengan budaya mereka, tetapi mempresentasikan Yesus dengan kasih sebagai jawaban dari apa yang tidak bisa dijawab oleh filosofi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s