FAMILY FIRST: Raising up Boys and Girls

boysgirls

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams.22:6).

Ajarlah seorang anak cara hidup yang patut baginya, maka sampai masa tuanya ia akan hidup demikian. (BIS)

Peran orang tua sangat penting dalam menentukan masa depan anak-anak.

Phase #1: Membangun Kebiasaan (0-1 tahun)

  • Anak belum bisa melakukan apapun sendiri, jadi orang tua yang melakukan semuanya bagi anak.
  • Orang tua membangun dan menetapkan kebiasaan anak
  • Di usia ini anak hanya mengikuti apapun yang kita mau. Itu sebabnya kita harus menanamkan kebiasaan yang baik bagi anak kita, sehingga anak mengerti bahwa itulah yang seharusnya mereka lakukan.
  • Contoh: Makan teratur, Menentukan apa yang dimakan, tidur dengan waktu yang ditentukan  

Phase #2: Menetapkan Otoritas (2-6 tahun)

  • Fase ini adalah fase yang sangat penting, fase ini disebut sebagai “formative years”.
  • Dalam fase inilah pembentukan karakter seorang anak. 
  • Para ahli psikologi mengatakan bahwa karakter /watak seseorang terbentuk di usia 0-6 tahun. 
  • Itulah sebabnya orang tua harus serius memperhatikan fase ini. 
  • Biasanya yang terjadi adalah justru banyak orang tua “miss” di fase ini.
  •  Orangtua berpikir bahwa anak-anak masih terlalu kecil dan kita orangtua tidak bisa berbuat banyak untuk anak seusia ini, sehingga di usia ini sering kali anak diserahkan kepada nenek atau pembantu/baby sitter. 
  • Apalagi ketika anak di usia ini orangtua sedang merintis karir sehingga waktunya lebih banyak digunakan untuk membangun pekerjaannya.
  • Orang tua menegakkan otoritas atas anak, tidak membiarkan anak yang mengendailikan ortu.
  • Jika “tidak”maka orangtua harus tegas mengatakan “tidak,” dan tidak harus selalu memberitahukan alasannya kepada anak.
  • Otoritas ada pada orangtua, bukan nenek atau pembantu/babysitter. 
  • Tidak ada rumah tangga yang lebih lemah dari pada sebuah rumah tangga yang tidak menegakkan otoritas. Kurang otoritas akan menjadi ladang persemaian bagi kesembronoan dan dosa. 
  • Hubungan anak dan orang tua menjadi dasar bagi sikapnya terhadap semua bentuk kekuasaan yang akan ia hadapi kelak (petugas di sekolah, penegak hukum, atasannya, rekan kerja, pasangan hidup.
  •  Persoalan yang dialami di rumah  seringkali terbawa sampai kepada kehidupan di masa dewasa
  • Jika anda ingin anak anda menerima nilai-nilai anda saat ia menginjak masa remaja, maka anda harus mendapatkan rasa hormatnya selama masa kecilnya.
  • Rasa hormat penting untuk meneruskan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya, karena anak-anak kecil biasanya menyamakan orang tua mereka terutama ayah – dengan Allah. 
  • Beberapa contoh:
    • Para orang tua harus memiliki keberanian melakukan apa yang benar bagi bayi mereka, bahkan jika bayi-bayi mereka memprotes dengan keras.
    • Contoh: Orangtua menginstruksikan supaya anak membereskan mainan setelah bermain, harus mandi, mengikuti aturan kapan anak boleh menonton tv
    • Jika makan harus duduk di meja makan, bukannya berlari-larian.
  • Tidak selalu bertanya dan membiarkan anak yang mengendalikan. (kamu mau makan sayur tidak? Kamu mau tidur tidak? Kamu mau berangkat ke sekolah tidak hari ini? Pergi ke gereja)

Mengatasi anak bandel di depan umum

  • Tempat-tempat umum merupakan tempat terbaik bagi seorang anak prasekolah yang suka keributan. 
  • Anda perlu menjelaskan aturannya sebelum memasuki arena publik. 
  • Kemudian jika ia melanggar, bawa saja kembali ke mobil atau ke sudut dan lakukan apa yang akan anda lakukan kalau berada di rumah.

Cara terbaik untuk membuat anak-anak melakukan apa yang anda inginkan adalah meluangkan waktu bersama mereka, menikmati canda serta sukacita bersama-sama sebelum masalah kedisiplinan muncul. 

  • Banyak perselisihan dapat dihindarkan dengan membangun persahabatan dengan abak-anak dan dengan demikian membuat mereka mau bekerja sama di rumah 

Peraturan tanpa jalinan hubungan membawa kepada pemberontakan

  • Membangun hubungan yang baik dengan anak-anak anda sementara mereka masih kecil, adalah kunci untuk melewati masa remaja dengan mulus. 
  • Batasan, larangan, dan ancaman tidak cocok dengan amarah, frustrasi serta kebencian seorang remaja. 

Prinsip Ketaatan

  • Akan ada saat-saatnya di mana anak menolak atau bersikeras menentang instruksi-instruksi anda yang wajar. 
  • Orang tua mengharapkan ketaatan, kenyataannya mereka menghancurkan upaya mereka sendiri ketika sedang membawa anak menuju standar itu:
    • Mengancam dan mengulang-ulang ancaman
    • Menyogok
    • Melakukan negosiasi di tengah konflik

Batasan pendisiplinan:

  • Orang tua harus bisa membedakan antara kesalahan anak-anak dan ketidak-taatan yang disengaja, menguji otoritas.
  • Pastikan  anak tahu akan kesalahan yang dilakukan. Terangkan pelanggarannya dan konsekuensinya
  • Jangan menegur di depan umum
  • Peluk anak setelah kita mendisiplinnya
  • Sebelum mendisiplin, pastikan anda sudah menetapkan aturannya dan anak sudah mengerti.
  •  Anak-anak akan mendesak dan menguji aturan-atuan anda. 
  • Mereka ingin mengetahui bahwa peraturan itu akan bertahan dan bahwa anda akan teguh menetapkannya, itu membuat mereka merasa aman.
  • Perlahan mereka akan bertumbuh melewati setiap tahapan batasan peraturan, dan anda perlu secara berkala mengevaluasi kapan mereka melewati itu. 

Jadi bersiaplah menghadapi konflik, sementara anak-anak menguji batasan-batasan itu. Itu adalah bagian dari pertumbuhan dan perkembangan. 

  • Tetaplah tegas dengan aturan-aturan yang seharusnya berlaku dan bersikaplah fleksible untuk hal-hal yang perlu disesusaikan dengan kematangan anak anda.

Phase #3: “Mengapa?”  (7-12 tahun)

Anak-anak sudah mulai memiliki banyak pertanyaan, dan ketika mereka melakukan sesuatu mereka ingin tahu “mengapa aku harus melakukan hal ini atau mengapa aku tidak boleh melakukan itu?” 

  • Orang tua harus bisa menjadi sumber jawaban bagi anak ketika mereka memiliki pertanyaan, “mengapa melakukan ini…mengapa melakukan itu”. 
  • Karena jika anak tidak memperoleh jawaban dari orangtua maka mereka akan mencari jawabannya di luar, bisa teman, media dsb. 
  • Bahayanya jika mereka mendapatkan jawaban yang salah, dan anak kita tidak mengerti bahwa hal itu salah. 

Contoh praktis:

  • Ketika mereka kita suruh membaca Alkitab setiap hari, maka mereka akan bertanya,”mengapa saya harus membaca Alkitab setiap hari?”
  • mengapa saya tidak boleh berkelahi?
  • Mengapa menonton tv harus ada aturannya?

Phase “mengapa?”

  • Satu alasan utama mengapa anak-anak tidak menyerap nilai-nilai ialah karena perintah orang tua terlalu sering tidak mempunyai alasan moral. 
  • Artinya ayah ibu mengatakan kepada anak-anak apa yang harus dilakukan, tetapi tidak memberitahu mengapa mereka harus melakukannya. 
  • Jadi penting untuk anak di phase ini mengetahui: apa yang harus dilakukan dan mengapa ia harus melakukan yang benar. 
  • Banyak anak tahu bagaimana merespon dalam keadaan yang berbeda hanya karena mereka telah dilatih untuk menghadapi keadaan itu, bukan karena mereka memahami prinsip moral. 
  • Mengetahui motivasi kebajikan mencegah anak untuk tidak berperilaku seperti robot.  Anak-anak yang mengatur perilaku mereka dengan prinsip moral akan bebas secara moral, sambil mengatur perilaku mereka dengn prinsip yang di dalam hatinya, bukan keadaan-keadaan di sekitarnya. 
  • Membuat hati terlibat dalam mengambil pilihan-pilihan kehidupan akan menjadi sebuah aset yang luar biasa berharga setelah mereka menjadi remaja. 
  • Ini merupakan pra-syarat untuk menuntun remana-remaja anda dengan pengaruh anda.
  • Contoh:
    • TV
    • Internet

Phase #4: Mentoring (13-18tahun)

Ketika anak-anak masih kecil, ortu menghabiskan banyak waktu untuk mengoreksi, seperti “jangan sentuh kompor” atau “ayo berbagi mainan” Tapi ketika anak-anak bertumbuh bear, gaya komunikasi kitapun harus bertumbuh juga.

  • Jika anak anda sekarang berusia 13, 14, 15 tahun atau lebih Anda perlu berubah dari terus mengoreksi kepada mentoring– mendorong mereka untuk berpikir mandiri.
  • Kalimat-kalimat singkat dan menuntut, tidak akan membawa hasil yang baik. 
  • Gol anda adalah melatih anak-anak untuk berpikir bagi diri mereka … bertindak dengan bijaksana di tengah-tengah dunia yang kacau. 

Orang tua yang terlalu terlibat (13th ke atas): 

  • Anda membatasi kegiatan anak anda karena takut bahwa dia akan terluka
  • Anda memilihkan pakaian dan keperluan pribadi anak di usia ini
  • Anda secara teratur mengerjakan tugas anak anda
  • Anda tidak memberikan tugas pekerjaan rumah tangga kepada anak sebagai tanggung jawabnya
  • Anda mengerjakan segala sesuatu untuk anak anda
  • Membuat keputusan untuk anak anda padahal dia sudah mampu
  • Di masa ini anak suka melakukan kegiatan-kegiatan, maka orangtua harus bisa mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan memiliki pergaulan yang sehat.
  • Orang tua harus mengerti dengan siapa anak kita bergaul, kegiatan apa yang mereka lakukan. Karena di fase ini anak kita sudah mulai memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Sebagai orang tua kita harus mendampingi  anak kita bukan sebagai diktator tetapi coach. Sebagai coach kita bisa melatih anak-anak kita untuk bisa memiliki standar seperti apakah orang yang layak untuk dicintai anak kita.
  • Terlalu banyak dari kita orangtua terus mendidk remaja kita dalam banyak cara yang sama sebagai balita atau kelas-sekolah dasar. 

Phase #5: Friendship (19 tahun keatas)

  • Transisi dari peran orang tua kepada sahabat tidak mudah. 
  • Perlu diingat bahwa anak-anak tetap membutuhkan figure orang tua. 
  • Jangan terlalu cepat memasuki tahap persahabatan.
  • Pada tahapan ini, orang tua yang tidak fleksibel akan mengalami pemberontakan dari anak-anaknya. 
  • Kita tidak hanya menjadi orang tua di rumah, tapi juga sahabat bagi anak-anak kita. 
  • Menjaga open and honest communication within our family. 
  • Bukan hanya mereka yang harus terbuka, kita juga. 
  • Tetap ada aturan, tapi berikan kelonggaran, lebih banyak mendengarkan dari pada menceramahi. 

Tidak terlalu banyak aturan. 

  • Ketika anak-anak lebih kecil mereka membutuhkan batasan, tapi ketika mereka bertumbuh dan mulai menunjukkan tanda-tanda yang sehat bahwa mereka menunjukkan kemandirian, kita harus lebih flexible. 
  • Tapi bukan berkompromi dengan hal-hal yang prinsip sehubungan dengan kekudusan dan  integritas. 
  • Anak-anak akan kehilangan respek kepada orang tua yang menolak untuk berdiskusi dan tidak mau bernegosiasi dengan aturan.

Yang paling penting:

  1. Kita harus tahu ada di phase mana dari perenting dan menerapkan gaya parenting yang tepat
  2. Mau berubah.

 

Apa yang perlu kita ketahui tentang anak laki-laki?

1. Kompetitif – suka akan tantangan, persaingan dan petualangan

  • Ajar mereka bagaimana meraih kemenangan, dan menerima kekalahan dengan lapang dada
  • Pengendalian diri dalam permainan yang sportif

2. Agresif

  • Mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan seorang laki-laki. Mereka perlu belajar dari kegagalan supaya mereka menjadi orang yang tangguh. Ibu jangan terlalu protektif 
  • Orangtua menanamkan kepada anak laki-laki supaya menjadi anak yang berani. Berani yang dimaksud di sini adalah berani hidup dalam kebenaran firman Tuhan sekalipun hal itu mengandung resiko.

3. Anak laki-laki tidak suka menyimak. 

  • Untuk menarik perhatiannya diperlukan Sentuhan, kontak mata dan kalimat pendek

4. Menyukai permainan outdoor dan kontak fisik

  • Lakukan aktivitas fisik yang  disukai anak laki-laki.

5. Visual 

  • Lebih beresiko untuk kecanduan televisi, video games, dan internet, pornografi
  • Anak laki perlu melihat teladan dari ayahnya bagaimana ia harus menjadi seorang laki-laki

Apa yang perlu kita ketahui tentang anak perempuan?

  • Tokoh apa yang paling digemari oleh anak perempuan? The Princess. Cinderella, the Beauty and the Beast, Snow White, Sleeping Beauty, Jasmine and Aladin, dsb. 
  • Kerinduan yang Tuhan taruh di dalam hati yang terdalam pada wanita sejak mereka anak-anak, sebenarnya menyatakan sesuatu yang special tentang apa artinya menjadi seorang wanita.
  • Dalam sebuah survey, para wanita diminta untuk memberikan pendapat tentang 10 penyebab umum depresi. Dan hasilnya: yang paling sering menjadi sumber depresi di antara wanita adalah rasa rendah diri. 
    • Lebih dari 50% menuliskannya sebagai peringkat no 1
    • 80% memasukkannya dalam kategori 5 peringkat tertinggi. 

Apa yang perlu kita ketahui tentang anak perempuan?

1. Anak perempuan perlu menyadari bahwa dirinya berharga

  • Khusus untuk masalah harga diri seorang anak perempuan, ini sangat bergantung pada hubungan mereka dengan ayah mereka.
  • Ayah adalah pria pertama yang perhatiannya sangat didambakan oleh anak perempuan.
  • Ayah adalah pria pertama yang menghargainya sebagai gadis yang paling spesial di antara gadis-gadis lain.  
  • Apa yang perlu kita ketahui tentang anak perempuan?
  • Luangkan waktu untuk menghadiri acara-acara mereka (konser, pertandingan, performance) 
  • Berikan pujian. Anak perempuan yang tidak pernah dipuji, tapi terus dicela, bikin susah ortu, merepotkan, dsb. akan  menjadi wanita yang menutup diri, membiarkan dirinya ditindas oleh laki-laki, takut ditinggalkan pacar padahal tahu ada yang tidak beres
  • Wanita terhubung secara emosi melalui kata-kata. Anak perempuan akan merasa diabaikan / tertolak oleh ayah yang jarang berkomunikasi dan berinteraksi dengannya
  • Cerita wanita 10 sapi.

2. Anak perempuan merindukan untuk dikasihi dan mengasihi 

Tuhan menciptakan wanita untuk menjadi penolong pria. (Gen.2:18, 20). Itu sebabnya kita sering melihat anak perempuan usia 6,7, or 8 tahun sudah mulai suka bermain pura-pura jadi pengantin. 

  • Keinginan untuk dikasihi dan mengasihi dalam diri seorang wanita merupakan sesuatu yang normal. 

Yang menjadi masalah adalah di mana ia mencari kasih itu. 

  • Jika ia tidak menemukan kasih itu di rumah, maka ia akan terus berusaha mencarinya di luar. 
  • Mereka jadi rentan terhadap hubungan tanpa komitmen dengan para pria yang nampaknya akan memberikan kepada mereka kasih yang sangat mereka rindukan.
  • Ketika seorang gadis menyadari keberhargaanya dan bahwa dirinya dikasihi, maka dia akan memiliki keyakinan diri untuk menantikan sang Pangeran, dan tidak akan settle for second best or a loser, no matter how long it takes
  • Ibu harus meluangkan waktu, jika ibu terlalu sibuk, anak-anak akan berusaha mencari perhatian
  • Ketika anak perempuan tidak merasa dikasihi atau diterima oleh ayahnya, ketika dewasa dia akan menjadi wanita yang insecure, ia akan mencari kasih itu – jatuh dari pelukan satu laki-laki ke laki-laki lain, terlalu cepat berpacaran (wanita Samaria yang memiliki banyak suami)
  • Ketika tidak mendapatkan kasih di rumah, ia bisa menjadi wanita yang keras, dominan

Mereka perlu dipeluk secara teratur, bahkan setiap hari. Adolescent girls are going through a time of great insecurity. Your love now is critical to their ability to cope with the rejection, hurt, and fears that are coming at them form their peers. Hugs are needed now more than ever.

  • Ajak mereka pergi bedua; makan atau a quiet time together when the two of you can sit and talk. Play together, check out a DVD at the library that the two of you can watch at home. 
  • Merasa kesepian merupakan hal yang berbahaya bagi anak gadis. Banyak anak gadis yang kesepian lalu lari kepada ke dunia maya dan menemukan orang asing yang memberikan perhatian kepada mereka. Banyak anak gadis remaja yang memberikan dirinya kepada laki-laki pertama yang memberikan perhatian kepadanya karena mereka rindu untuk  diterima dan diperhatikan
  • Berikan telinga anda ketika anak perempuan anda ingin berbicara, sebab jika tidak maka dia akan merasa tertolak dan berpaling ke tempat lain di mana dia bisa merasa  nyaman

3. Penampilan fisik vs kecantikan yang sejati

  • 93% gadis-gadis melaporkan bahwa mereka merasa stress mengenai salah satu aspek dari penampilan mereka ketika mereka bersiap-siap di pagi hari
  • Lebih dari 75% gadis-gadis melakukan aktivitas yang tidak sehat karena mereka merasa tidak puas dengan penampilan fisik mereka.
  • 58% gadis-gadis merasa buruk tentang dirinya karena penampilan fisik mereka

Kita perlu menerangkan kepada anak-anak kita bahwa standard Tuhan mengenai cantik itu berbeda dengan standard dunia. Apa yang di dalam (karakter) lebih penting dari pada yang  di luar (penampilan fisik)

1 Samuel 16:7 Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. “ 

Amsal 31:30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Oleh sebab itu ortu (terutama ibu) perlu mengajarkan mereka untuk mengembangkan karakter feminin, baik hati, ramah, sopan santun, suka melayani, dan berpakaian yang pantas. 

DECISION

Mengevaluasi cara-cara saya mendidik anak-anak dan memperbaiki yang harus diperbaiki. 

ACTION

Membuat observasi hal-hal khusus apa yang ada pada anak-anak saya, karena masing-masing anak berbeda: usia, karakteristik (kepribadian), jenis kelamin, dan talentanya, agar saya bisa mendidik mereka dengan cara yang sesuai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s