MENINGKATKAN KINERJA

Selama proses pembangunan gedung gereja, saya cukup frustasi melihat cara kerja para tukang yang bekerja. Secara singkat dapat digambarkan: tidak sistematis, tidak terkoordinasi, skill rendah, motivasi rendah dan standar kualitas rendah.

Saya cukup frustasi melihat hal-hal seperti diatas, terjadi di depan mata saya. Saya menjadi saksi betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, paling tidak di level pekerja bangunan. Namun dari situ saya juga dapat menarik banyak pelajaran yang kita bisa dapatkan.

#1. PERENCANAAN YANG BAIK KUNCI KEBERHASILAN

Sepertinya klise, tetapi saya jumpai seringkali pekerjaan dilakukan tanpa perencanaan yang matang, yang berakibat pada kesalahan ataupun ketidaksempurnaan. Seringkali pekerjaan harus dibongkar atau diulang, yang artinya pemborosan waktu, uang dan tenaga, atau lebih dikenal sebagai inefisiensi atau pemborosan. Banyak orang yang enggan untuk “duduk” merencanakan apa yang akan mereka lakukan, dan memilih untuk segera melakukannya walaupun tanpa perencanaan yang matang.

Kita harus membangun kebiasaan untuk merencanakan segala sesuatu yang akan kita lakukan, sebelum melakukannya. Pepatah mengatakan bahwa “perencanaan yang baik adalah setengah dari keberhasilan.” Artinya melakukan sesuatu tanpa perencanaan sama dengan merencanakan untuk kegagalan.

Perencanaan yang matang akan membuat kita dapat memilih cara yang paling hemat dan paling efektif melakukannya. Pekerjaan akan menjadi lebih ringan, mudah dan produktif, dengan kata lain kita akan memiliki kinerja lebih baik.

#2. QUALITY WORK

Tidak dapat dipungkiri kerja asal-asalan dapat dengan mudah dijumpai melihat hasil pekerjaan. Jauh lebih banyak pekerjaan yang harus diulang atau direvisi dibandingkan dengan pekerjaan yang sekali dikerjakan menghasilkan kualitas yang bagus dan dapat diterima. Sekali lagi ini akan berujung kepada pemborosan dan hasil akhir yang dibawah standar kualitas yang diinginkan.

Karena itu kita harus membangun kebiasaan untuk melakukan segala sesuatu dengan excellent sehingga pekerjaan kita tidak perlu diulang atau direvisi. The spirit of excellency ini harus menjadi kebiasaan dan mewarnai seluruh pekerjaan kita.

#3. ANTISIPASI BUKAN REAKSI

Kadang-kadang saya melihat bahwa kesalahan-kesalahan dalam pekerjaan (dan akibatnya) adalah hal-hal yang seharusnya dapat dihindarkan seandainya ada orang-orang yang mau untuk berpikir “dua langkah ke depan.” Lebih baik mencegah daripada harus menghadapi masalah yang harusnya dapat dicegah.

Intinya kita harus membangun kebiasaan untuk “berpikir dua langkah ke depan.” Bangun kebiasaan untuk mencegak masalah daripada harus menyelesaikan masalah yang harusnya tidak perlu terjadi.

#4. BE A TEAM PLAYER

Sering sekali saya jumpai para pekerja bekerja secara sektoral dan hanya mementingkan pekerjaannya sendiri, tanpa memikirkan pekerjaan orang lain. Sebagai contoh orang yang mengecat plafond tidak menjaga betul-betul (atau melakukan tindakan prefentif) sehingga mengotori dinding. Lalu dinding harus direvisi catnya, dan ketika merevisi cat dinding, si pekerja kembali mengotori plafond. Banyak lagi contoh yang intinya tidak ada pengertian bahwa mereka bekerja dalam satu team untuk membangun gedung bersama-sama.

Dari pengalaman diatas, saya mengajak kita membangun budaya untuk bekerja sebagai sebuah team, dengan satu visi bersama. Kita akan saling menolong, memikirkan bagaimana saya dapat membuat pekerjaan orang lain lebih mudah, terutama bagaimana agar pekerjaan (bersama) dapat kita lakukan dengan lebih efisien dan efektif. Sayang sekali sebagian besar tukang tidak memiliki pemahaman ini, sehingga sering terjadi pemborosan waktu dan uang yang tidak perlu.

#5. KOORDINASI DAN KOMUNIKASI

Entah mengapa koordinasi dan komunikasi menjadi barang yang sangat langka dan rasanya sangat sulit terjadi. Beberapa kalai pekerjaan salah dilakukan karena kurangnya komunikasi dan koordinasi. Karena itu untuk meningkatkan kinerja perlu dibangun budaya untuk melakukan koordinasi dan berkomunikasi dengan baik.

Salah satu kendala dalam koordinasi adalah … sungkan. Sungguh saya tidak dapat mengerti mengapa seseorang harus sungkan untuk bertanya atau meminta sesuatu atau bahkan mempertanyakan pekerjaan seseorang, kalau itu itu dilakukan dengan maksud baik. Kalau sungkan ini adalah “budaya kita” maka ini adalah salah satu budaya yang harus dibuang dari tengah-tengah kita. Lakukan secara professional, dengan cara yang sopan dan dengan maksud yang baik, tentu tidak akan mempermalukan siapapun dan anda tidak perlu sungkan untuk melakukannya.

#6. MANFAATKAN TEKNOLOGI

Saya pernah melihat para tukang di luar negri (contoh di Melbourne) dengan gear mereka, lebih mirip seperti tentara dengan semua peralatan tempur mereka daripada seorang “tukang.” Tapi itulah mereka, diperlengkapi dengan peralatan yang memadai bahkan dengan teknologi yang mutakir, sehingga mereka bisa bekerja dengan produktif. Beda sekali dengan di Indonesia, tukang bekerja hampir tidak punya alat apapun kecuali tangan mereka dan beberapa alat sederhana. Sebaiknya saya melihat tukang mebel yang merakit furniture untuk kantor kami, pabrik mereka memperlengkapi mereka dengan alat-alat yang memadai untuk mereka dapat melakukan pekerjaan mereka dengan cepat, karena sebagian besar pekerjaan dilakukan dengan bantuan alat mekanis maupun elektris.

Pelajaran yang kita bisa dapatkan, belajarlah dan belanjalah. Cari tahu alat-alat atau teknologi apa yang dapat anda manfaatkan untuk membuat anda lebih produktif, dan jangan pelit untuk berinvestasi karena pada akhirnya investasi ini akan memberikan return berupa efisiensi dan produktifitas.

#7. SKILL

Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua tukang tidak memiliki pendidikan formal dalam hal pertukangan. Bahkan saya mendengar bahwa sebenarnya mereka itu adalah para petani yang dalam waktu luang mereka bekerja sebagai tukang di kota. Tidak heran ketrampilan kerja mereka juga pas-pasan; dan juga tercermin dari etos kerja mereka. Sedangkan tukang di negara maju hampir semua lulusan pendidikan teknik baik vocational school maupun politeknik. Dari perbedaan pendidikan ini saja, sebenarnya kita tidak dapat menuntut banyak kepada para tukang kita (dan harus pasrah dengan kualitas kerja mereka.)

Jika anda seorang karyawan atau professional, maka tingkatkan terus skill dan knowledge anda sesuai dengan industri anda, sehingga level world class, artinya anda memilik competence (kompetensi) yang setara dengan pekerja di industri yang sama di negara maju. Jangan pernah berhaneti mencari kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Jika anda pimpinan perusahaan, maka rancanglah program-program pelatihan untuk meningkatkan skill pekerja anda terus menerus. Buatlah ini sebagai investasi dan anda akan menerima return ketika kinerja mereka (karyawan) meningkat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s