Hidup Bijaksana Sebelum Badai Datang
Pendahuluan
Kenapa kita perlu Hikmat?
Karena kita hidup di dunia yang penuh dengan tantangan dan penuh dengan kesulitan. Kita perlu Hikmat Tuhan karena kita hidup di dunia yang sudah terkorupsi, yang sudah mengenal dosa dan kita perlu Hikmat untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kita juga perlu Hikmat untuk membedakan mana yang baik dan mana yang lebih baik, atau mana yang terbaik.
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. Amsal 9:10 TB
Permulaan Hikmat adalah takut akan Tuhan. Jadi, hikmat sebetulnya adalah secondary, akibat yang harus kita usahakan, yang primary dan pertama harus kita buat adalah hidup takut akan Tuhan. Artinya kita akan dikenal sebagai orang yang berhikmat atau disebut orang yang bijaksana kalau hidup kita ini takut akan Tuhan.
Matius 7:24-27 THE BEST IS YET TO COME ”Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Yesus tidak hanya mengajar bagaimana dipulihkan setelah jatuh,
tetapi bagaimana hidup bijaksana agar tidak runtuh sejak awal.
Injil bukan hanya tentang penyembuhan setelah kerusakan,
tetapi tentang kebijaksanaan sebelum kehancuran.
Karena dalam hidup:
- Badai pasti datang
- Krisis tidak bisa dihindari
- Ujian tidak bisa dicegah
Yang membedakan bukan apakah badai datang,
tetapi apakah kita sudah siap sebelum badai itu datang.
Prevention is better than cure.
Yesus menutup Khotbah di Bukit (Matius 5–7) dengan sebuah perumpamaan yang sangat praktis—
bukan tentang apa yang kita dengar,
tetapi apa yang kita bangun dengan apa yang kita dengar.
POINT 1 — Kebijaksanaan Sejati Dibangun Sebelum Krisis Datang
(Matius 7:24–27) Yesus berkata: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”
Perumpamaan ini mengakhiri Khotbah di Bukit (Matius 5-7), di mana Yesus membandingkan dua jenis pendengar firman:
- Orang bijak → membangun rumah di atas batu.
- Orang bodoh → membangun rumah di atas pasir.
Ketika badai datang, hanya rumah di atas batu yang tetap berdiri
Yang membedakan orang bijaksana dan orang bodoh bukan seberapa banyak firman yang didengar,
tetapi apakah firman itu dilakukan.
Fondasi batu bukan pengetahuan firman, tetapi ketaatan kepada firman.
Fondasi Hidup: Mendengar vs. Melakukan
- Bukan sekadar mendengar firman yang membedakan, tetapi melakukannya.
- Fondasi batu = taat dan praktek firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
- Fondasi pasir = hanya pengetahuan atau pengalaman rohani tanpa ketaatan.
Batu vs. Pasir: Karakter yang Kokoh
- Batu = Kristus sendiri (1 Korintus 3:11), kebenaran firman yang tidak berubah, Prinsip Kerajaan Allah yang tak tergoncangkan
- Pasir = pendapat dunia, tren, atau perasaan sesaat yang mudah berubah, cara hidup yang paling mudah dan paling cepat
Membangun di atas batu berarti membangun hidup di atas nilai dan prinsip Alkitab.
Dan Yesus jujur: selalu ada harga yang harus dibayar.
Tidak ada hal yang baik dibangun di atas dasar kenyamanan.
Sebaliknya: Membangun di atas pasir adalah membangun hidup, relasi, atau bisnis dengan cara yang paling mudah.
- Jalan pintas
- Kompromi kecil
- Nilai ditukar dengan kepraktisan
- Prinsip dikorbankan demi hasil cepat
Kelihatannya baik… sampai badai datang.
Yesus menegaskan:
- Kedua orang membangun rumah
- Kedua rumah mengalami badai
- Perbedaannya bukan pada badai, tetapi pada fondasi
“Kamu tidak bisa memilih badai, tapi kamu bisa memilih fondasi.” – Ps Jeffrey Rachmat
Krisis tidak menciptakan kehancuran—krisis hanya menyingkapkan fondasi.
Membangun Proses, Bukan Instan
- Membangun di atas batu butuh usaha lebih keras, waktu, dan konsistensi.
- Membangun di atas pasir lebih cepat dan mudah, tetapi rapuh.
- Hidup Kristen adalah proses pembangunan karakter setiap hari melalui firman dan ketaatan.
Aplikasi Praktis
- Evaluasi fondasi hidup: Apakah keputusan berdasarkan firman Tuhan atau ikut arus dunia?
- Mulai dari hal kecil: Ketaatan dalam perkara kecil menentukan ketahanan dalam ujian besar.
- Komunitas yang mendukung: Ps. Jeffrey menekankan pentingnya gereja dan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebenaran.
Ketika rumah runtuh, sering kali kita datang kepada Tuhan dan berkata: “Tuhan, pulihkan hidupku.”
Apakah Tuhan bisa memulihkan?
Tentu bisa. Tuhan adalah Allah pemulih.
Tetapi pertanyaan yang jarang kita tanyakan:
- Kapan pemulihan itu terjadi?
- Berapa lama prosesnya?
- Berapa banyak kesakitan yang kita alami akibat kebodohan ini, yang seharusnya bisa dicegah.
Apa yang bisa dicegah dengan ketaatan, sering kali harus diperbaiki dengan rasa sakit.
Aplikasi:
- Iman: Jangan hanya tahu firman—hidupi firman
- Pernikahan: Jangan tunggu konflik besar baru belajar komunikasi
- Keluarga: Bangun nilai sejak awal, bukan setelah masalah
- Keuangan & bisnis: Jangan pilih cara tercepat jika mengorbankan integritas
- Pelayanan & kepemimpinan: Karakter dibangun sebelum panggung diperbesar
“Banyak orang Kristen tahu firman, tapi tidak menghidupinya. Mereka seperti arsitek yang punya gambar bagus, tapi fondasinya pasir. Ketika badai masalah datang, semua runtuh. Yang bertahan adalah yang hidup dalam firman, bukan hanya tahu firman.” Ps Jeffrey Rachmat
POINT 2 — Hidup bijaksana artinya menyiapkan diri untuk menghadapi krisis kapanpun krisis datang
Salah satu tanggung jawab atau tugas daripada Roh Kudus adalah memberitahukan kepada kita hal-hal yang akan datang. Jadi, kalau hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus, kita menjadi orang-orang yang berhikmat kalau kita bukan hanya sekedar mendengar tapi juga melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita karena dengan demikian kita tidak hanya sekedar hidup sekarang atau mempersiapkan yang sekarang saja tetapi kita juga mengantisipasi apa yang akan datang. Itulah orang yang berhikmat.
Yesus melanjutkan dengan perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh.
Matius 25:1-10 ”Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Menariknya:
- Sama-sama menunggu
- Sama-sama memegang pelita
- Sama-sama tampak siap
Yang membedakan mereka adalah 5 orang mengantisipasi kemungkinan mempelai itu terlambat, 5 orang tidak. Yang bijaksana membawa minyak cadangan.
Kalau tidak ada krisis, gadis yang membawa minyak justru kelihatan bodoh.
- Terlihat berlebihan
- Terlihat tidak efisien
- Terlihat terlalu hati-hati
Masalahnya satu: Kita tidak pernah tahu kapan krisis datang.
Di mata gadis-gadis yang bodoh, mereka yang bijak kelihatan bodoh. Tetapi sebenarnya gadis yang membawa cadangan minyak ini mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi. Mereka mau repot, mereka mau extra mile, mereka mau keluar uang lebih, mereka mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi.
Kita hidup di zaman dimana semua orang mau yang gampang, tidak suka yang berat-berat, berat sedikit mengalami breakdown, perlu healing, tidak suka disiplin. Mental health issue sekarang jadi ngetren, kita hidup di zaman orang tidak berpikir panjang tetapi mau kelihatan bagus, mau cepat sukses, mau cepat kaya, mau cepat terkenal, punya banyak uang yang bisa pergi jalan-jalan.
Prinsip kunci: Dalam hidup, kita harus punya margin.
- Margin rohani.
- Margin emosi.
- Margin waktu.
- Margin keuangan.
Hidup tanpa margin adalah hidup yang rapuh.
Hidup Bijaksana Memilih Pencegahan, Bukan Penyesalan
Prinsip:
Penyesalan selalu lebih mahal daripada ketaatan.
Perbaikan selalu lebih menyakitkan daripada pencegahan.
Aplikasi lintas area:
- Emosi: Kelola sebelum meledak
- Relasi: Rawat sebelum retak
- Kesehatan: Jaga sebelum sakit
- Karier & bisnis: Bangun integritas sebelum kesempatan besar datang
- Iman: Pelihara api sebelum padam
Tuhan lebih rindu membentuk kita menjadi bijaksana
daripada terus-menerus memperbaiki kehancuran.
Penutup — Ajakan Reflektif
Hari ini Yesus tidak hanya menghibur kita—
Dia mengundang kita untuk memilih dengan sadar.
- Di atas apa saya sedang membangun?
- Apakah hidup saya dibentuk oleh firman atau oleh kenyamanan?
- Apakah hidup saya punya margin?
- Apakah saya sedang mempersiapkan masa depan, atau hanya berharap dipulihkan?
Injil bukan hanya tentang Tuhan yang memulihkan setelah runtuh, tetapi Tuhan yang mengajar kita agar tidak runtuh.
Apa yang dibangun dengan ketaatan akan bertahan, dan apa yang diabaikan akan runtuh—cepat atau lambat.