Opening Statement
Hari ini adalah momen yang istimewa. Kita berkumpul bukan hanya untuk meletakkan batu pertama pembangunan rumah tinggal, tetapi juga untuk menyatakan iman kita: bahwa rumah ini akan berdiri dengan pertolongan Tuhan. Hal ini mencerminkan harapan dan keyakinan kita bahwa setiap pendirian rumah bukan sekadar fisik, tetapi juga sebagai simbol perlindungan, kenyamanan, dan kebersamaan.
1. Permulaan yang Kudus
Ezra 3:10–11 “Ketika tukang-tukang bangunan meletakkan dasar bait TUHAN, maka tampillah para imam dengan pakaian mereka masing-masing dengan nafiri dan orang-orang Lewi, bani Asaf, dengan ceracap untuk memuji-muji TUHAN menurut petunjuk Daud, raja Israel. Mereka menyanyi bergantian untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN: ‘Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya atas Israel!’ Dan segenap umat memuji-muji TUHAN dengan suara nyaring, karena dasar bait TUHAN sudah diletakkan.”
Bangsa Israel memulai pembangunan dengan pujian dan penyembahan. Mereka tahu bahwa dasar yang paling penting bukanlah batu, tetapi penyerahan diri kepada Tuhan. Itulah sebabnya hari ini kita tidak hanya meletakkan sebuah batu di tanah, melainkan kita juga meletakkan iman, pengharapan, dan kasih kita kepada Tuhan. Kita percaya, selama rumah ini dibangun dengan doa, syukur, dan penyertaan Allah, maka seluruh pembangunan ini akan berada di bawah naungan kasih setia-Nya, sehingga rumah ini bukan hanya berdiri secara fisik, tetapi juga menjadi tempat di mana hadirat Tuhan tinggal bersama keluarga yang menempatinya.
“Rumah yang dimulai dengan doa akan dipenuhi damai sejahtera; rumah yang dimulai dengan iman akan berdiri dalam pengharapan.”
2. Sadar akan Keterbatasan
Mazmur 127:1 “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”
- Ayat ini menegaskan bahwa sehebat apa pun usaha manusia, tetap ada batasnya. Kita bisa memiliki rancangan arsitektur yang detail, perhitungan biaya yang matang, dan tenaga kerja yang cekatan, namun semua itu tidak menjamin rumah ini akan menjadi tempat yang kokoh, aman, dan penuh sukacita.
- Firman ini mengingatkan kita bahwa tanpa kehadiran dan campur tangan Tuhan, semua usaha manusia akan berakhir dengan kesia-siaan.
- Karena itu, melalui ibadah peletakan batu pertama ini kita dengan rendah hati mengundang berkat Tuhan, penyertaan Tuhan, dan penyediaan Tuhan atas rumah ini.
- Hanya Dialah yang sanggup menjadikan bangunan fisik ini sebuah rumah tangga yang hidup, tempat kasih bersemi, damai berdiam, dan perlindungan-Nya nyata bagi keluarga.
- Dengan berserah kepada Tuhan, kita percaya bahwa rumah ini akan berdiri bukan hanya karena kekuatan manusia, tetapi karena tangan Allah sendiri yang menopang dan memberkati.
3. Tujuan Akhir: Kemuliaan Tuhan dalam Rumah Tangga
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15b)
“Keturunan orang benar akan diberkati.” (Mazmur 112:2a)
- Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat di mana Tuhan dimuliakan.
- Dari sini doa akan dinaikkan, kasih akan dibagikan, anak-anak akan dibentuk dalam iman, dan berkat akan mengalir bagi siapa saja yang masuk.
- Batu pertama ini adalah deklarasi iman bahwa rumah ini akan menjadi pusat ibadah keluarga, tempat pembentukan generasi, dan saluran berkat lintas generasi.
Keindahan sejati sebuah rumah tidak ditentukan oleh luas bangunannya atau kemewahan bahan yang digunakan, melainkan oleh kehadiran Tuhan dan kedamaian keluarga yang tinggal di dalamnya.
Closing Statement
Hari ini kita meletakkan sebuah batu, tetapi sesungguhnya kita sedang menaruh iman dan pengharapan. Kita percaya Tuhan yang memulai, Dialah yang akan menyelesaikan dengan indah pada waktunya.
✝️ “Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan, dan kiranya rumah ini menjadi tanda kasih setia-Nya bagi keluarga ini, dari generasi ke generasi.”
Doa Deklarasi Profetis
“Ya Tuhan, pada hari ini kami meletakkan batu pertama pembangunan rumah ini. Kami menyerahkan seluruh proses, mulai dari awal hingga selesai, ke dalam tangan-Mu. Biarlah rumah ini menjadi tempat kasih-Mu berdiam, tempat doa dinaikkan, tempat generasi dibangun, dan tempat berkat mengalir. Kami percaya, bukan hanya rumah fisik yang Engkau dirikan, tetapi Engkau juga sedang membangun rumah tangga ini di atas dasar Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.”