Mengelola Kekayaan Bangsa-Bangsa: Perspektif Dominion Mandate

Yesaya 60:5  “Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, hatimu akan berdebar-debar dan meluap, karena kekayaan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.”

Yesaya 61:6 “Kamu akan disebut imam TUHAN, akan dinamakan pelayan Allah kita. Kamu akan menikmati kekayaan bangsa-bangsa dan bermegah dalam kemewahan mereka.”

Sejak awal, Allah memberikan kepada manusia Mandat Budaya (Dominion Mandate)“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28). Mandat ini bukan sekadar kuasa untuk menaklukkan, melainkan tanggung jawab untuk mengelola, mengembangkan, dan mengarahkan ciptaan bagi kemuliaan Allah.

Nabi Yesaya menubuatkan penggenapan janji ini dalam kerangka pemulihan Sion. Ia berkata: “Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, hatimu akan berdebar-debar dan meluap, karena kekayaan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu” (Yesaya 60:5). Bahkan lebih jauh, ia menegaskan: “Kamu akan disebut imam TUHAN, akan dinamakan pelayan Allah kita. Kamu akan menikmati kekayaan bangsa-bangsa dan bermegah dalam kemewahan mereka” (Yesaya 61:6).

Kedua nubuatan ini menyingkapkan bahwa akses kepada kekayaan bangsa-bangsa adalah bagian dari mandat ilahi. Gereja dipanggil untuk berdiri sebagai imam dan pelayan Allah, yang menguduskan, mengarahkan, dan mengelola kekayaan bangsa-bangsa sesuai mandat budaya. Kekayaan itu bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menegakkan Kerajaan Allah di bumi—untuk membawa terang ke bangsa-bangsa, membangun peradaban yang adil, dan mempercepat misi Allah hingga bumi penuh dengan kemuliaan-Nya (Habakuk 2:14).

Karena itu, gereja tidak boleh hanya menunggu aliran berkat, tetapi harus menyiapkan diri sebagai pengelola yang setia, membangun kompetensi, integritas, dan strategi sehingga benar-benar dapat mengakses kekayaan bangsa-bangsa dan mempersembahkannya kembali kepada Sang Raja.

1. Apa itu kekayaan bangsa-bangsa?

Alkitab menegaskan dengan tegas bahwa Allah adalah pemilik segala kekayaan di bumi. Mazmur 24:1 berkata: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Kata “empunya” (Ibrani: lᵉ-YHWH, לַיהוָה) menekankan kepemilikan mutlak Allah. Ini berarti bahwa tidak ada bangsa, sistem ekonomi, atau penguasa politik yang benar-benar berhak atas kekayaannya; mereka hanyalah pengelola sementara dari apa yang sesungguhnya adalah milik Tuhan.

Hagai 2:8 menambahkan: “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” Kata “kepunyaan-Kulah” (Ibrani: li, לי) menegaskan kepemilikan absolut Allah. Konteks Hagai adalah pembangunan kembali Bait Allah, di mana Tuhan mengingatkan umat bahwa Ia berdaulat untuk mengalihkan emas dan perak bangsa-bangsa demi rumah-Nya. Dengan kata lain, Allah bukan hanya pemilik kekayaan, tetapi juga Pengarah aliran kekayaan bangsa-bangsa sesuai maksud-Nya.

Dari sini, kita memahami apa yang dimaksud dengan kekayaan bangsa-bangsa. Dalam pengertian teologis, kekayaan ini tidak terbatas pada materi, melainkan mencakup segala sesuatu yang bernilai di hadapan manusia, tetapi yang pada akhirnya berasal dari Allah:

  • Sumber daya alam – bumi, laut, energi, dan mineral (Mazmur 104:24).
  • Kekayaan budaya – seni, musik, tradisi, dan bahasa (Why. 7:9: “setiap bangsa dan bahasa berdiri di hadapan Anak Domba”).
  • Hasil karya manusia – pengetahuan, teknologi, dan inovasi (Kel. 31:3: hikmat dan keahlian yang Allah berikan pada Bezaleel).
  • Talenta manusia – kapasitas, kreativitas, dan potensi generasi (Matius 25:14–30: talenta sebagai amanat ilahi untuk dikembangkan).

Semua kekayaan ini berada dalam kedaulatan Allah. Artinya, nilai sejatinya tidak terletak pada kepemilikan manusia, tetapi pada tujuan ilahi di baliknya. Kekayaan bangsa-bangsa hanya menemukan arti ketika diarahkan untuk rencana Allah. Bila dipakai untuk kesombongan nasional, akumulasi pribadi, atau eksploitasi, ia kehilangan makna sejati; tetapi bila dipersembahkan bagi Allah, kekayaan itu menjadi sarana misi, pemulihan, dan penyembahan.

Secara teologis, ini menunjukkan dua hal penting:

  1. Allah sebagai Pemilik Mutlak (Divine Ownership). Kepemilikan Allah mendahului dan melampaui semua klaim manusia. Bangsa hanya “menyewa” kekayaan itu sementara, dan suatu hari harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan (Lukas 16:2).
  2. Allah sebagai Pengarah Tujuan (Divine Direction). Kekayaan bangsa-bangsa bukan untuk berhenti pada kebanggaan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi diarahkan untuk kemuliaan Kristus dan penggenapan misi Allah melalui gereja-Nya (Efesus 3:10: “supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah”).

Dengan demikian, kekayaan bangsa-bangsa adalah seluruh potensi berharga yang Allah percayakan kepada bangsa-bangsa, yang berada di bawah kedaulatan-Nya, dan yang pada akhirnya dimaksudkan untuk dipersembahkan kembali bagi kemuliaan Kristus, Sang Raja segala bangsa.

2. Tuhan mengarahkan kekayaan bangsa-bangsa

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa kekayaan bangsa-bangsa akan mengalir ke Rumah Tuhan.

“Kekayaan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan harta benda bangsa-bangsa akan datang kepadamu.” (Yes. 60:5)

Kata “beralih” berasal dari Ibrani haphak (הָפַךְ), yang berarti “berbalik arah, berubah, berpindah tujuan.” Istilah ini sering dipakai untuk menandai transformasi radikal—misalnya ketika kutuk diubah menjadi berkat (Bil. 23:11–12). Dalam konteks nubuat Yesaya, bangsa-bangsa yang dahulu menjauh dari Allah kini berbalik, mengarahkan kekayaan mereka kepada Sion untuk memuliakan Tuhan.

Secara teologis, ini menyatakan bahwa Allah berdaulat penuh atas arus ekonomi dunia. Kekayaan bukan sekadar hasil usaha manusia atau sistem global, melainkan alat dalam tangan Allah untuk menggenapi rencana kekal-Nya. Sama seperti hati raja diibaratkan seperti aliran air yang diarahkan oleh Tuhan (Ams. 21:1), demikian pula aliran kekayaan bangsa-bangsa bisa Ia ubahkan demi kepentingan Kerajaan-Nya.

Artinya, kekayaan bangsa-bangsa mengalami konversi tujuan:

  • Dari alat ambisi duniawi → menjadi sarana penyembahan Allah.
  • Dari sumber penindasan → menjadi alat keadilan dan pemulihan.
  • Dari simbol kesombongan bangsa → menjadi persembahan suci di hadapan Tuhan.

Prinsip rohani yang tersingkap: kekayaan itu sendiri bersifat netral, tetapi arah dan tujuan penggunaannya yang menentukan nilainya di hadapan Allah. Ketika kekayaan dipakai hanya untuk kemuliaan diri, ia melahirkan kesombongan, ketidakadilan, dan penindasan. Namun, ketika diarahkan untuk Allah, kekayaan menjadi alat ibadah, sarana misi, dan instrumen pemulihan bangsa-bangsa.

Sejarah Alkitab pun menegaskan pola ini:

  • Mesir: Pada saat eksodus, bangsa Israel keluar “dengan tangan penuh” karena orang Mesir memberikan emas, perak, dan pakaian (Kel. 12:35–36). Ini menegaskan bahwa Allah sanggup membalik keadaan: dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka yang membawa kekayaan.
  • Persia: Raja Koresh mengeluarkan dekrit agar Bait Allah dibangun kembali, bahkan dengan membiayai dari perbendaharaan kerajaan (Ezra 1:2–4). Ini menunjukkan Allah berdaulat menggerakkan hati raja kafir untuk mendukung pekerjaan-Nya.
  • Nehemia: Raja Artahsasta memberikan izin, surat kuasa, bahkan bahan bangunan bagi Nehemia untuk membangun kembali tembok Yerusalem (Neh. 2:7–8).
  • Para Majus dari Timur: Saat Yesus lahir, mereka membawa persembahan emas, kemenyan, dan mur—sebuah gambaran profetik bahwa bangsa-bangsa akan mempersembahkan kekayaannya untuk Kristus (Mat. 2:11).

Semua ini menunjukkan bahwa Allah sanggup menggerakkan hati bangsa-bangsa dan mengalihkan kekayaan mereka bagi tujuan-Nya yang kekal.


3. Kekayaan Bangsa-Bangsa dalam Perspektif Eskatologis

Wahyu 21:24–26 memberikan gambaran eskatologis yang agung: “Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya, dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka ke dalamnya… dan kekayaan bangsa-bangsa akan dibawa ke dalamnya.”

Kata Yunani yang diterjemahkan “kekayaan” adalah doxa (δόξα). Biasanya, doxa berarti “kemuliaan”—yakni bobot nilai, kehormatan, atau sesuatu yang bernilai tinggi. Dalam konteks ini, maknanya lebih luas daripada sekadar kekayaan materi. Doxa mencakup hasil karya, budaya, hikmat, seni, teknologi, bahkan seluruh pencapaian peradaban manusia. Semua itu, pada puncak sejarah, akan diarahkan kepada Kristus dan dipersembahkan dalam Yerusalem Baru.

Dengan demikian, ayat ini bukan hanya berbicara tentang aliran harta benda, tetapi tentang transformasi total seluruh kebudayaan manusia untuk memuliakan Allah. Apa yang sebelumnya dipakai manusia untuk penyembahan berhala, kesombongan bangsa, atau kebanggaan diri, pada akhirnya akan disucikan, ditebus, dan dikembalikan kepada Anak Domba.

Theological Reflection

  1. Dimensi Kristosentris: Semua sejarah ekonomi, budaya, dan peradaban berakhir dalam Kristus. Ia adalah Alfa dan Omega, dan seluruh “glory” bangsa-bangsa akhirnya bermuara dalam Dia (Kol. 1:16–17).
  2. Redemption of Culture: Eskatologi Alkitab bukanlah pemusnahan karya manusia, melainkan penebusan dan pengudusannya. Seni, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dan ekonomi tidak hilang di langit baru dan bumi baru—melainkan dipersembahkan untuk kemuliaan Allah.
  3. Kemenangan Misi Allah: Visi Wahyu menegaskan bahwa misi Allah (Missio Dei) berakhir dengan semua bangsa datang menyembah Dia. Kekayaan bangsa-bangsa bukan lagi alat dominasi, tetapi ekspresi penyembahan kolektif bagi Sang Raja segala raja.

Implikasi bagi Gereja

  • Gereja masa kini dipanggil untuk menjadi agen penebusan budaya, bukan sekadar menyelamatkan jiwa, tetapi juga menguduskan karya dan struktur dunia untuk Kristus.
  • Gereja harus melatih jemaat untuk menggunakan talenta, kreativitas, dan kekayaan bukan hanya demi dunia sekarang, tetapi dalam terang Yerusalem Baru—supaya setiap hasil kerja mereka menjadi persembahan bagi Sang Anak Domba.

Bagaimana kekayaan Bangsa-bangsa dapat dipergunakan untuk kerajaan allah?

Kita bisa melihat kekayaan bangsa-bangsa dari perspektif Dominion Mandate (Mandat Budaya) yang Tuhan berikan sejak awal kepada manusia di Kejadian 1:28: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Dari mandat ini, kita melihat bahwa manusia (dan bangsa-bangsa) diberi tanggung jawab untuk mengelola ciptaan Allah, termasuk kekayaan alam dan sumber daya, demi memuliakan Tuhan. Mari kita uraikan:


1. Kekayaan Bangsa-Bangsa sebagai Bagian dari Amanat Budaya

Dominion Mandate dalam Kejadian 1:28 sering disalahpahami sekadar sebagai mandat untuk berkuasa, padahal maknanya lebih dalam: penatalayanan (stewardship). Allah menempatkan manusia sebagai wakil-Nya di bumi, bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk merawat dan mengatur ciptaan sesuai dengan kehendak-Nya. Mazmur 24:1 menegaskan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya,” sehingga manusia tidak pernah menjadi pemilik mutlak, melainkan hanya pengelola yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan.  Dengan demikian, dominion berarti mengatur dengan kasih, keadilan, dan hikmat Allah—menghadirkan tatanan yang selaras dengan Kerajaan-Nya.

Kekayaan bangsa-bangsa—baik berupa sumber daya alam, teknologi, ekonomi, maupun kebudayaan—adalah bagian dari ciptaan yang dipercayakan Tuhan untuk mendatangkan kehidupan, keteraturan, dan kesejahteraan. Amsal 8:18,21 menegaskan bahwa hikmat Allah memberikan “kekayaan dan kehormatan… supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi perbendaharaan mereka.” Dengan demikian, kekayaan sejati hanya berbuah ketika dikelola dalam terang hikmat dan kebenaran Allah. Hal ini sejalan dengan visi eskatologis dalam Wahyu 21:24–26, di mana kekayaan bangsa-bangsa akan dipersembahkan kepada Kristus di Yerusalem Baru. Kekayaan bangsa-bangsa bukan sekadar alat pemuasan nafsu duniawi, melainkan sarana membangun peradaban yang memuliakan Kristus dan menghadirkan shalom bagi dunia.

Abraham Kuyper: “There is not a square inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is Sovereign over all, does not cry: Mine!” 

Amsal 8:18,21: “Padaku ada kekayaan dan kehormatan, harta yang tetap dan keadilan… supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi perbendaharaan mereka.”

Ayat ini menegaskan bahwa kekayaan sejati selalu terkait dengan keadilan dan diwariskan dalam bingkai kasih kepada Allah. Dengan demikian, kekayaan bukan tujuan, melainkan sarana. Ia hanya menemukan maknanya yang sejati ketika dipakai untuk membangun peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah—peradaban yang mencerminkan kebenaran, keadilan, belas kasih, dan kemuliaan Kristus—bukan sekadar untuk memenuhi nafsu duniawi atau ambisi pribadi.


2. Kekayaan sebagai Sarana Transformasi Budaya

Alkitab menegaskan bahwa kekayaan bangsa-bangsa bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana yang Tuhan pakai untuk mentransformasi budaya manusia agar selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kejadian 1:28 melalui Amanat Budaya menegaskan bahwa manusia dipanggil untuk mengembangkan ciptaan (cultivate), bukan sekadar menguasainya. Kekayaan dalam bentuk sumber daya alam, teknologi, ilmu pengetahuan, seni, maupun ekonomi menjadi bahan baku bagi manusia untuk membentuk peradaban yang berakar pada kebenaran dan keadilan Allah. Yesaya 60:5–6 memberikan gambaran profetis bagaimana kekayaan bangsa-bangsa akan mengalir kepada umat Tuhan, bukan semata untuk menumpuk harta, melainkan untuk menegakkan penyembahan dan kemuliaan bagi Allah. Dengan demikian, kekayaan menjadi instrumen misi ilahi—mengarahkan budaya dari orientasi kepada diri dan berhala menuju pengakuan kepada Kristus sebagai Raja.

Dalam terang eskatologi, Wahyu 21:24–26 menyingkapkan bahwa pada akhirnya “raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka ke dalamnya” sebagai persembahan di Yerusalem Baru. Ini berarti bahwa segala pencapaian budaya, karya seni, dan kekayaan material yang dikelola dalam kebenaran tidak akan hilang, melainkan dipersembahkan bagi kemuliaan Anak Domba. Transformasi budaya melalui kekayaan bangsa-bangsa bukanlah proyek manusiawi belaka, tetapi bagian dari rencana penebusan Allah, di mana segala aspek hidup—ekonomi, pendidikan, seni, dan politik—ditundukkan kepada Kristus. Seperti dikatakan Lesslie Newbigin: “The Kingdom of God is not the extension of our culture, but the transformation of it by the power of God.” Dengan demikian, kekayaan bangsa-bangsa dipanggil untuk menjadi medium transformasi budaya yang melahirkan masyarakat adil, penuh belas kasih, dan mencerminkan shalom Allah di dunia.


3. Kekayaan sebagai Alat untuk Misi memenuhi panggilan untuk gereja menyatakan kerajaan allah di muka bumi.

Alkitab menegaskan bahwa semua kekayaan pada akhirnya berasal dari Tuhan dan hanya dititipkan kepada manusia untuk dipakai bagi pekerjaan-Nya. Ulangan 8:18 berkata, “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian-Nya.” Dengan demikian, kekayaan tidak netral; ia selalu mengandung tujuan ilahi. Tuhan memberikan kepada umat-Nya sumber daya, keahlian, dan berkat materi agar pekerjaan Tuhan dapat terus maju—baik dalam pemberitaan Injil, pembangunan gereja, pelayanan sosial, maupun pengutusan misi ke bangsa-bangsa. Kekayaan sejati adalah sarana penatalayanan, bukan tujuan kepemilikan pribadi.

Kerajaan Allah bukan hanya konsep rohani, tetapi realitas yang harus dinyatakan dalam seluruh aspek kehidupan di bumi. Kekayaan bangsa-bangsa, ketika ditundukkan kepada Kristus, menjadi instrumen untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah: keadilan, belas kasih, kebenaran, dan kesejahteraan. Yesaya 60:5–6 melukiskan bagaimana kekayaan bangsa-bangsa mengalir masuk untuk memuliakan Tuhan. Ini berarti bahwa ekonomi, teknologi, pendidikan, dan kebudayaan yang dikelola dalam takut akan Tuhan akan menegakkan tatanan ilahi di tengah dunia yang rusak. Dengan kata lain, kekayaan dipakai bukan hanya untuk membangun institusi rohani, tetapi juga untuk mentransformasi masyarakat agar mencerminkan shalom Allah.

Dengan demikian, kekayaan bangsa-bangsa bukanlah tujuan akhir, tetapi alat dalam rencana Allah untuk menghadirkan kerajaan-Nya di bumi. Tuhan tidak memanggil umat-Nya untuk mengejar harta demi ambisi pribadi, melainkan untuk menjadikan kekayaan sebagai medium transformasi, misi, dan penyembahan. Yesus sendiri mengingatkan, “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga” (Matius 6:20), yaitu kekayaan yang bernilai kekal karena dipersembahkan bagi kemuliaan Allah. Dalam perspektif ini, penatalayanan kekayaan bukan sekadar soal mengatur uang atau sumber daya, melainkan bagian dari liturgi hidup yang menegaskan Kristus sebagai Raja. Seperti yang ditegaskan A.W. Tozer, “Anything God has given us can be turned into an idol and it can be turned into worship—depending on how we use it.”Maka, kekayaan bangsa-bangsa dipanggil bukan untuk menjadi berhala, tetapi menjadi instrumen penyembahan yang memuliakan Allah sampai kekekalan.


Framework bagaimana Gereja Mengakses Kekayaan Bangsa-Bangsa

1. Pilar Marketplace Mission: Jemaat yang Unggul di Dunia Profesional

  • Dasar Alkitab“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29)
  • Makna: Gereja memiliki akses melalui orang-orang percaya yang hadir di bisnis, pemerintahan, pendidikan, seni, media, dan teknologi.
  • Praktis: Melatih jemaat untuk menjadi seperti Daniel dan Yusuf—kompeten, berintegritas, dan memengaruhi pusat kekuasaan.

2. Pilar Integrity & Trust: Membangun Kepercayaan Publik

  • Dasar Alkitab“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”(Lukas 16:10)
  • Makna: Kekayaan tidak akan mengalir kepada gereja tanpa integritas dan akuntabilitas.
  • Praktis: Menegakkan transparansi keuangan, akuntabilitas organisasi, dan menjadi teladan etika sehingga dunia melihat gereja sebagai mitra yang dapat dipercaya.

3. Pilar Strategic Partnership: Kolaborasi dengan Bangsa

  • Dasar Alkitab“Carilah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7)
  • Makna: Gereja mendapat akses dengan menjadi mitra solusi bagi bangsa dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
  • Praktis: Membentuk yayasan, sekolah, rumah sakit, pusat pelatihan, dan program pemberdayaan sehingga pemerintah maupun bisnis mau menyalurkan kekayaan kepada gereja.

4. Pilar Kingdom Economics: Teologi Kerja dan Pengelolaan Keuangan

  • Dasar Alkitab“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian-Nya.” (Ulangan 8:18)
  • Makna: Gereja harus mengajarkan prinsip kerja, bisnis, dan ekonomi yang sesuai dengan nilai kerajaan Allah.
  • Praktis: Melatih jemaat dalam entrepreneurship, investasi, literasi keuangan, dan kerja keras, sehingga mereka membangun kekayaan yang menopang misi Allah.

5. Pilar Blessing Channel: Menjadi Saluran, Bukan Penampung

  • Dasar Alkitab“Aku akan memberkati engkau… dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2)
  • Makna: Kekayaan bangsa-bangsa mengalir kepada gereja yang menjadi saluran berkat, bukan yang menimbun untuk diri sendiri.
  • Praktis: Fokus pada impact — membantu orang miskin, mendidik generasi muda, mendukung karya seni, menjaga lingkungan, dan memberkati masyarakat luas.

Kesimpulan

Dengan lima pilar ini, gereja dapat membuka akses nyata kepada kekayaan bangsa-bangsa dan mengarahkannya untuk:

  1. Memuliakan Tuhan dalam penatalayanan ciptaan,
  2. Mentransformasi budaya dengan nilai kerajaan Allah, dan
  3. Mendukung misi global sampai bumi penuh dengan kemuliaan-Nya (Habakuk 2:14).

Closing Statement

Gereja bukan sekadar penonton sejarah. Allah memberi mandat sejak awal agar umat-Nya berkuasa, menaklukkan, dan mengelola bumi bagi kemuliaan-Nya. Nubuatan Yesaya menegaskan bahwa saat pemulihan Sion, “kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu” (Yes. 60:5), dan “kamu akan menikmati kekayaan bangsa-bangsa” (Yes. 61:6). Itu berarti gereja diberikan akses ilahi kepada kekayaan bangsa-bangsa—bukan untuk kesombongan, melainkan untuk satu tujuan: Kerajaan Allah ditegakkan di bumi.

Kekayaan itu akan mengalir bukan kepada gereja yang pasif, melainkan kepada gereja yang hidup sebagai imam dan pelayan, yang setia, berintegritas, dan siap mengelola sumber daya bangsa-bangsa bagi misi Allah. Inilah waktunya bagi gereja untuk bangkit, menggunakan akses itu dengan benar, dan menjadikan kekayaan bangsa-bangsa sebagai persembahan yang memuliakan Kristus, Sang Raja di atas segala raja.

Tinggalkan komentar